Konsep:Ayat 7 Surah Muhammad
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Muhammad |
| Ayat | 7 |
| Juz | 26 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Jihad |
| Deskripsi | Saling menolong antara Allah dan orang-orang mukmin |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 40 Surah Al-Hajj |
Ayat 7 Surah Muhammad (bahasa Arab:آیة ۷ سورة المحمد) menjanjikan kepada orang-orang mukmin jika mereka menolong Allah, maka Allah juga akan menolong mereka. Ayat ini turun mengenai jihad di jalan Allah, namun sebagian mufasir mengambil makna yang lebih luas dan memasukkan contoh-contoh lain seperti jihad melawan hawa nafsu, upaya untuk meraih iman, dan menjaga nilai-nilai Ilahi ke dalam cakupannya. Meskipun Allah tidak membutuhkan bantuan orang lain, menolong Allah dalam ayat ini ditafsirkan sebagai menolong agama Allah, mendukung Nabi Muhammad saw, Wilayah Imam Ali as, dan berusaha dalam menyebarkan kebenaran.
Sebagai balasan atas pertolongan ini, Allah juga memberikan pertolongan-Nya dalam bentuk penguatan iman, keteguhan tekad, turunnya para malaikat, serta bantuan maknawi dan materi kepada para penolong-Nya. Sebagian mufasir menganggap ayat ini sebagai dalil atas hukum pahala dan siksa Ilahi yang sesuai dengan perbuatan manusia, serta memperkenalkannya sebagai cerminan dari keadilan Allah.
Ali bin Ibrahim al-Qummi, mufasir Syiah, dalam tafsirnya meyakini bahwa ayat ini turun ditujukan kepada Imam Ali as dan pertolongan Allah terwujud melalui pertolongan kepadanya dan wilayahnya.
Kandungan Umum Ayat
Para mufasir menganggap ayat ini sebagai kelanjutan dari pesan-pesan awal Surah Muhammad yang turun dengan tujuan mendorong orang-orang mukmin untuk berjihad di jalan Allah[1] dan mengandung janji yang jelas dari Allah akan kemenangan dan keteguhan mereka.[2]
Templat:Quran NewTemplat:Quran New
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad : 7)
Muhammad Jawad Mughniyah dalam Tafsir al-Kasyif menilai ayat ini sebagai tanda dukungan Ilahi bagi para pencari kebenaran dan keadilan, serta menegaskan bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang melangkah di jalan kebenaran.[3] Pertolongan Ilahi ini pada hakikatnya adalah salah satu sunah dan hukum Allah yang tidak dapat dilanggar, yang bekerja sesuai dengan perilaku manusia; jika manusia menolong Allah, maka Allah pun sebagai gantinya akan menolongnya.[4]
Ayat 40 Surah Al-Hajj juga memiliki pesan serupa dan berbicara mengenai kepastian pertolongan Allah bagi orang-orang yang melangkah di jalan-Nya.[5]
Dalam riwayat dan tafsir Syiah juga terlihat refleksi khusus dari ayat ini. Ali bin Ibrahim al-Qummi dalam Tafsir al-Qummi mengisyaratkan bahwa ayat ini secara khusus turun mengenai Imam Ali as.[6] Menurut riwayat lain, Imam Ali as dengan bersandar pada ayat ini, menganggap meninggalkan jihad sebagai bentuk meninggalkan pertolongan Ilahi dan hal itu menyebabkan kemurkaan Allah.[7]
Menolong Allah
Pada bagian awal ayat, disebutkan tentang orang-orang mukmin yang menolong Allah:[8] Mengingat bahwa Allah tidak membutuhkan bantuan apa pun dari hamba dan makhluk-Nya,[9] para mufasir Al-Qur'an menafsirkan konsep "menolong Allah" dengan makna menolong manifestasi dan jalan-jalan Ilahi, di antaranya:
- Menolong agama Allah dan Nabi Muhammad saw dalam jalur dakwah dan mewujudkan ajaran-ajaran Ilahi.[10]
- Menolong Imam Ali as sebagai penerus Nabi dan kelanjutan wilayah Ilahi.[11]
- Mendukung para wali Allah dan orang-orang mukmin sejati.[12]
- Menjaga segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Allah, seperti menjaga syiar-syiar Ilahi.[13]
Sebagian mufasir juga mengemukakan konsep-konsep irfani dan batiniah lainnya, seperti: menolong akal untuk memahami Allah, membantu hati untuk menerima ayat-ayat Al-Qur'an, dan menolong pikiran untuk mengenal Allah lebih dalam; juga memperkuat manusia dalam berjuang melawan hawa nafsu dianggap sebagai contoh dari menolong Allah.[14]
Imam Ali as juga dalam sebuah khotbah di Nahj al-Balaghah, dengan mengisyaratkan pada ketidakbutuhan Allah terhadap bantuan hamba-Nya, menjelaskan bahwa perintah Al-Qur'an mengenai menolong Allah pada hakikatnya adalah ujian untuk mengukur keikhlasan, keimanan, dan kesiapan orang-orang mukmin di medan amal.[15]
Pertolongan Allah kepada Hamba
Ayat 7 Surah Muhammad menekankan bahwa pertolongan Allah kepada orang-orang mukmin bersyarat pada pertolongan mereka kepada Allah:[16] Prinsip ini merupakan salah satu sunah Ilahi yang tidak dapat diganggu gugat, yang mana perilaku hamba menjadi landasan bagi turunnya pertolongan Ilahi.
Para mufasir Al-Qur'an menyebutkan berbagai contoh untuk pertolongan Ilahi, yang beberapa di antaranya yang terpenting adalah:
- Peningkatan iman dan takwa di dalam hati orang-orang mukmin.
- Penguatan tekad, ketenangan hati, keberanian, dan kekuatan hati.
- Menanamkan rasa takut di hati orang-orang kafir.
- Mengirim para malaikat untuk mendukung di medan perang.
- Menentukan kejadian-kejadian yang menguntungkan orang-orang mukmin dalam arus jihad.
- Membuat hati manusia condong kepada orang-orang mukmin dan popularitas mereka.
- Memberikan pengaruh pada ucapan dan keberkahan pada usaha orang-orang mukmin.[17]
Di antara manifestasi lain pertolongan Allah adalah azab bagi orang-orang kafir melalui bencana alam, kemenangan orang-orang mukmin dalam debat akidah, nama baik di masyarakat, pertolongan di akhirat, dan bantuan untuk mengalahkan hawa nafsu.[18]
Sayid Muhammad Taqi al-Mudarrisi dengan bersandar pada ayat ini juga meyakini bahwa kadar dan kualitas pertolongan Allah kepada hamba bergantung pada kadar usaha mereka dalam mendukung jalan Ilahi; dan hubungan timbal balik ini merupakan tanda interaksi yang adil dan mendidik dari Allah terhadap manusia.[19]
Keteguhan Langkah
Ayat 7 Surah Muhammad, setelah menjanjikan pertolongan Allah kepada orang-orang mukmin yang menolong-Nya, memperkenalkan "keteguhan langkah" (tsabat al-qadam) sebagai hasil kedua dari pertolongan Ilahi ini.[20] Para mufasir Al-Qur'an mengemukakan pandangan yang beragam mengenai konsep "keteguhan langkah". Sekelompok mufasir mengartikannya sebagai menjaga orang-orang mukmin agar tetap kokoh di jalan iman dan jihad; semacam kekuatan hati dan ketahanan dalam menghadapi ketakutan dan ancaman musuh yang menyebabkan keteguhan mereka di medan perjuangan.[21]
Sebagian lainnya menafsirkan bagian ayat ini dalam dua tingkatan dunia dan akhirat: di dunia diartikan sebagai keteguhan dalam mengamalkan perintah agama, dan di akhirat diartikan sebagai keberhasilan melewati jembatan shirath.[22]
Muhammad Shadiqi Tehrani dalam tafsirnya memperkenalkan keteguhan langkah sebagai menjaga pencapaian kemenangan melawan musuh; artinya usaha untuk melestarikan kesuksesan dan mencegah kembalinya bahaya.[23] Dalam tafsir lain, Sulthan Muhammad Gunabadi dalam kitab Bayan al-Sa'adah menganggap keteguhan langkah sebagai tetap berada dalam agama Islam melalui penerimaan Wilayah Imam Ali as; artinya ia memperkenalkan wilayah sejati sebagai faktor utama ketahanan dan kelanggengan di jalan kebenaran.[24]
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1371 HS, jld. 21, hlm. 425.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 18, hlm. 229.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 63.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 7, hlm. 212.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 63–64; Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1371 HS, jld. 14, hlm. 117.
- ↑ Al-Qummi, Tafsir al-Qummi, 1363 HS, jld. 2, hlm. 302.
- ↑ Al-Bahrani, Al-Burhan, 1415 H, jld. 5, hlm. 57.
- ↑ Fadhullah, Min Wahy Al-Quran, 1419 H, jld. 17, hlm. 188.
- ↑ Ya'qubi, Min Nur Al-Quran, 1442 H, jld. 4, hlm. 337.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 149; Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1371 HS, jld. 21, hlm. 425.
- ↑ Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 5, hlm. 22.
- ↑ Fadhullah, Min Wahy Al-Quran, 1419 H, jld. 21, hlm. 56; Amin, Makhzan al-'Irfan, jld. 12, hlm. 163.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 12, hlm. 169; Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 27, hlm. 91.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 27, hlm. 91; Sulami, Haqa'iq al-Tafsir, 1369 HS, jld. 1, hlm. 185.
- ↑ Nahj al-Balaghah, cet. Shubhi Shalih, Khotbah 183, hlm. 268.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 9, hlm. 67.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 18, hlm. 229; Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1371 HS, jld. 21, hlm. 426.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 63–64; Sulami, Haqa'iq al-Tafsir, 1369 HS, jld. 1, hlm. 185.
- ↑ Al-Mudarrisi, Min Huda Al-Quran, 1419 H, jld. 13, hlm. 217.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 27, hlm. 93.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, jld. 27, hlm. 92; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 18, hlm. 229; Fadhullah, Min Wahy Al-Quran, 1419 H, jld. 21, hlm. 56.
- ↑ Kasyani, Manhaj al-Shadiqin, 1336 HS, jld. 8, hlm. 333; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 149.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 27, hlm. 93.
- ↑ Sulthan 'Ali Syah, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 4, hlm. 83.
Daftar Pustaka
- Al-Amin, Nushrat Begum. Makhzan al-'Irfan fi Tafsir Al-Quran. Isfahan: Anjoman-e Hemayat az Khanewadeh-haye Bi-sarparast-e Isfahan, cetakan pertama, tanpa tahun.
- Al-Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir Al-Quran. Riset: Bunyad-e Be'tsat. Qom: Muassasah al-Bi'tsat, cetakan pertama, 1415 H.
- Fadhullah, Muhammad Husain. Min Wahy Al-Quran. Beirut: Dar al-Malak, cetakan pertama, 1419 H.
- Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Tafsir al-Shafi. Teheran: Maktabah al-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
- Kasyani, Fathullah bin Syukrullah. Manhaj al-Shadiqin fi Ilzam al-Mukhalifin. Teheran: Kitabfurughi va Chapkhaneh Muhammad Hasan Ilmi, cetakan pertama, 1336 HS.
- Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Namunah. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Al-Mudarrisi, Muhammad Taqi. Min Huda Al-Quran. Teheran: Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Qom: Dar al-Kitab al-Islami, cetakan pertama, 1424 H.
- Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran: Markaz-e Farhangi-ye Dars-hai az Quran, cetakan pertama, 1388 HS.
- Al-Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Qom: Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1363 HS.
- Shadiqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir Al-Quran bi Al-Quran wa al-Sunnah. Qom: Farhang-e Eslami, cetakan kedua, 1406 H.
- Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah (Li al-Shubhi Shalih). Qom: Nashr-e Hejrat, cetakan pertama, 1414 H.
- Sulami, Muhammad bin Husain. Haqa'iq al-Tafsir. Riset: Nashrullah Purjavadi. Teheran: Markaz-e Nashr-e Daneshgahi, cetakan pertama, 1369 HS.
- Sulthan 'Ali Syah, Sulthan Muhammad bin Haidar. Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-'Ibadah. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan kedua, 1408 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Muhammad. Majma' al-Bayan fi Tafsir Al-Quran. Koreksi: Fadhlullah Yazdi dan Hasyim Rasuli. Teheran: Nashir Khusro, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir Al-Quran. Teheran: Islam, pertama, 1378 HS.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir Al-Quran. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan pertama, tanpa tahun.
- Ya'qubi, Muhammad. Min Nur Al-Quran. Najaf: Dar al-Shadiqin, cetakan keempat, 1442 H.