Lompat ke isi

Konsep:Ayat 122 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 122 Surah Al-Baqarah
Ayat 122 Surah Al-Baqarah
Ayat 122 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
SurahAl-Baqarah
Ayat122
Juz1
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangKeunggulan Bani Israil atas seluruh alam di masa mereka
DeskripsiPengingatan akan nikmat-nikmat Allah atas Bani Israil
Ayat-ayat terkaitAyat 40 Surah Al-BaqarahAyat 47 Surah Al-Baqarah


Ayat 122 Surah Al-Baqarah merupakan peringatan yang menyoroti ragam nikmat Allah yang dianugerahkan kepada Bani Israil, sekaligus menjadi penegasan atas keunggulan yang diberikan kepada mereka melampaui seluruh alam dari sisi Allah. Para mufasir berpandangan bahwa maksud dari "keunggulan atas seluruh alam" tersebut merujuk secara spesifik pada keunggulan mereka dibandingkan umat-umat lain yang eksis pada zaman (kurun waktu) kaum itu sendiri. Manifestasi dari kenikmatan-kenikmatan ini mencakup diturunkannya Manna dan Salwa (madu dan burung puyuh panggang), diutusnya para rasul as., diturunkannya kitab-kitab samawi sebagai pijakan hidayah, peristiwa ditenggelamkannya Firaun, serta peragaan berbagai tanda kekuasaan (mukjizat) yang berfungsi mempertebal keyakinan mereka terhadap eksistensi dan kemahakuasaan Sang Pencipta.

Dalam sebuah riwayat, Imam Hasan al-Askari as menegaskan bahwa penerimaan atas wilayah Nabi Muhammad saw dan keluarga Nabi Muhammad saw merupakan faktor hakiki yang mendasari keunggulan para pendahulu kaum tersebut. Di sisi lain, penulis tafsir Majma' al-Bayan mengemukakan bahwa alasan di balik pengulangan frasa pembuka ayat ini—yang juga termaktub dalam Ayat 40 Surah Al-Baqarah—adalah untuk menggarisbawahi urgensi pesan yang dikandungnya serta memberikan penekanan ekstra akan keharusan bersyukur atas segala limpahan nikmat Tuhan.

Teks dan Terjemahan Ayat

Teks dan terjemahan ayat 122 Surah Al-Baqarah, yang memiliki redaksi identik dengan ayat 47, adalah sebagai berikut:

Wahai Bani Israil! Kenangkanlah nikmat-nikmatKu yang Aku telah kurniakan kepada kamu, dan (ingatlah) bahawasanya Aku telah melebihkan (nenek moyang) kamu (yang taat dahulu) atas orang-orang (yang ada pada zamannya).


Nikmat-Nikmat Allah kepada Bani Israil

Sejumlah pakar tafsir (mufasir) meyakini bahwa keunggulan Bani Israil termanifestasi dalam serangkaian keistimewaan khusus. Keistimewaan tersebut meliputi pengutusan para rasul as. di tengah-tengah mereka, pewahyuan kitab-kitab samawi sebagai landasan hidayah, penganugerahan hidangan Manna dan Salwa (madu dan burung puyuh panggang), pembinasaan Firaun dengan cara ditenggelamkan, serta penampakan tanda-tanda kebesaran yang dapat memperdalam makrifat mereka akan wujud dan kuasa Sang Pencipta.[1] Fadhl bin Hasan Thabarsi, sang penulis tafsir Majma' al-Bayan, mengategorikan seluruh anugerah tersebut, ditambah dengan preseden pemilihan penguasa dari kalangan mereka sendiri pada era Nabi Sulaiman as, sebagai wujud nyata dari curahan nikmat Allah atas Bani Israil.[2] Di dalam Tafsir al-Tibyan, Syaikh Thusi mengidentifikasi pengutusan nabi-nabi as. dalam jumlah yang tak terbilang sebagai salah satu karunia eksklusif bagi Bani Israil. Beliau juga menukil pandangan sebagian ulama yang memfokuskan definisi "nikmat" dalam ayat ini secara spesifik pada banyaknya figur nabi as. yang dibangkitkan dari tengah kaum tersebut.[3]

Tafsir Keunggulan Bani Israil atas Seluruh Alam

Merujuk pada paparan dalam Tafsir Majma' al-Bayan, Ibnu Abbas menafsirkan keunggulan Bani Israil atas seluruh alam sebagai keunggulan komparatif terhadap umat manusia yang hidup sezaman dengan mereka. Interpretasi ini bersandar pada konsensus (ijmak) yang menetapkan bahwa umat Islam menempati derajat tertinggi di atas seluruh umat, dan Nabi Pamungkas saw memiliki kedudukan yang paling mulia melampaui seluruh para nabi as.[4] Dalam kitab Tafsir Tasnim, Abdullah Jawadi Amuli memberikan argumentasi bahwa hegemoni materiil maupun spiritual Bani Israil sejatinya terbatas secara temporal pada satu epos (periode sejarah) tertentu; mengingat berdasarkan narasi sejarah di dalam Al-Qur'an, kaum ini justru tertimpa nista dan kehinaan pada fase-fase berikutnya.[5] Senada dengan pemikiran tersebut, Nashir Makarim Syirazi sebagai mufasir kenamaan Syiah turut menyokong pandangan bahwa klaim keunggulan Bani Israil—dengan mengomparasikannya terhadap ayat-ayat Al-Qur'an lain seperti Ayat 137 Surah Al-A'raf—dimaknai secara restriktif sebagai supremasi mereka atas penduduk bumi di lingkungan geografis dan rentang waktu era mereka sendiri.[6]

Berdasarkan sebuah riwayat, Imam Hasan al-Askari as menetapkan aspek kepatuhan terhadap wilayah Nabi Muhammad saw dan keluarga Nabi Muhammad saw sebagai fondasi keunggulan religius yang dianugerahkan kepada para pendahulu Bani Israil.[7] Relevan dengan konsepsi ini, Imam Shadiq as dalam proses takwil ayat tersebut merepresentasikan term Bani Israil sebagai kiasan yang merujuk pada keagungan Keluarga Nabi Muhammad saw.[8]

Dalam sebuah riwayat, saat Imam Ali as ditanya perihal diskursus lafal umum (am) dan khusus (khash) di dalam Al-Qur'an, beliau menjadikan ayat ini sebagai rujukan. Beliau menyatakannya sebagai prototipe ayat yang menggunakan term bermakna luas (universal) seperti "al-'Alamin", namun makna hakikinya bersifat terikat (partikular), yakni sebatas keunggulan atas penduduk dunia di masa Bani Israil itu sendiri.[9]

Pengulangan Ayat dan Alasan Pengulangan

Segmen awal dari ayat 122 Surah Al-Baqarah yang berbunyi "yā banī isrā'īla udzkurū ni'matiyal-latī an'amtu 'alaikum" turut mengalami repetisi pada dua ayat lainnya dalam surah yang sama, yakni pada Ayat 47 dan Ayat 40. Kalangan mufasir menyodorkan tiga argumen rasional yang melatarbelakangi pengulangan tersebut:

  1. Penegasan dan penekanan mendalam terkait signifikansi dan urgensi bersyukur atas segala karunia Tuhan.[10]
  2. Pendekatan retoris yang memaparkan spektrum nikmat secara global (ijmal) pada fase pembuka, untuk kemudian menjabarkannya secara komprehensif (tafshil) pada tahapan berikutnya.[11]
  3. Kerangka pedagogis yang berfokus pada pemaparan limpahan nikmat kepada audiens secara langsung di awal penyampaian, lalu dilanjutkan dengan penjabaran riwayat nikmat Allah kepada generasi pendahulu (nenek moyang) mereka pada tahapan selanjutnya.[12]

Catatan Kaki

  1. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 1, hal. 221.
  2. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 1, hal. 207.
  3. Thusi, al-Tibyan, jld. 1, hal. 209.
  4. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 1, hal. 221.
  5. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1381 HS, jld. 14, hal. 206.
  6. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 221.
  7. Bahrani, al-Burhan, 1416 H, jld. 1, hal. 210-211.
  8. Bahrani, al-Burhan, 1416 H, jld. 1, hal. 210.
  9. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 90, hal. 23.
  10. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 1, hal. 199; Thusi, al-Tibyan, jld. 1, hal. 209.
  11. Thusi, al-Tibyan, tanpa tahun, jld. 1, hal. 209.
  12. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 1, hal. 221.

Daftar Pustaka

  • Bahrani, Sayid Hashem. al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bi'tsat, 1416 H.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Markaz-e Nasyr-e Esra, 1381 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Mohammad Javad Balaghi. Teheran, Nasir Khosrow, Cetakan Ketiga, 1372 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. at-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Ahmad Qashir Amili. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Cetakan Kedua, 1403 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.