Lompat ke isi

Konsep:Argumen Fitrah

Dari wikishia

Argumen Fitrah (Burhan Fitrat) adalah salah satu dari argumen-argumen pembuktian eksistensi Tuhan yang bermakna pembuktian keberadaan Tuhan melalui tertanamnya pencarian Tuhan secara fitrah dalam diri manusia; sebuah perkara yang dapat dipahami dengan mudah dan dianggap sebagai landasan bagi argumen lainnya seperti Siddiqin dan Ontologis. Menurut para mufasir, ungkapan "Fitratullah" dan "Sibghatullah" serta ayat 53 Surah An-Nahl dan ayat 74 hingga 76 Surah Al-An'am, menekankan pada argumen fitrah.

Untuk membuktikan fitrah pencarian Tuhan, dikemukakan dua alasan: 1- Alasan akal: Manusia adalah maujud yang mujarrad (imaterial) dan setiap yang mujarrad secara fitrah mempersepsi penciptanya. 2- Alasan intuitif (syuhud): Pencarian Tuhan adalah sebuah pengalaman batin di mana manusia dengan merujuk pada jiwanya, menyadari hubungan eksistensialnya dengan sang Pencipta.

Argumen fitrah dinyatakan dalam empat formulasi: Mulla Sadra merumuskannya dalam ketawakalan naluriah manusia kepada Musabbib al-Asbab dalam kondisi yang mengerikan; Allamah Thabathaba'i dalam perlindungan manusia (bahkan yang tidak beriman sekalipun) kepada sebuah sebab yang lebih tinggi dari materi saat berputus asa, yang mana itu adalah Tuhan; Imam Khomeini merumuskannya dalam adanya cinta fitrah kepada Kesempurnaan Mutlak yang harus memiliki sumber keberadaan, dan kesalahan tidak berlaku pada fitrah; serta Javadi Amoli dalam hubungan korelatif (tadhayuf) antara Pecinta (manusia) dan Yang Dicintai (Tuhan).

Terhadap argumen ini diajukan keberatan bahwa jika pencarian Tuhan bersifat fitrah, maka semua individu akan menunjukkan minat padanya; dijawab bahwa konsekuensi dari sifat fitrah bukanlah kesibukan yang terus-menerus, dan berbagai keterikatan menyebabkan kelalaian. Selain itu dipermasalahkan bahwa cinta tanpa pihak kedua tidak dapat dibayangkan; Javadi Amoli dalam jawabannya menyatakan bahwa harapan ini berkaitan dengan maujud yang nyata dan eksternal, bukan sekadar khayalan. Menurut para peneliti, di Barat, argumen yang serupa dengan argumen fitrah adalah argumen konsensus umum (Common Consent).

Terminologi

Argumen fitrah adalah salah satu argumen teologi yang berupaya melakukan pembuktian Tuhan melalui keberadaan fitrah pencarian Tuhan dalam sanubari manusia.[1] Dikatakan bahwa karakteristik argumen ini adalah seluruh manusia dapat memahaminya dengan cara yang sederhana tanpa kesulitan.[2] Disebutkan pula bahwa argumen-argumen seperti Argumen Siddiqin, Argumen Ontologis, argumen intuitif, dan moral bersumber dari fitrah dan argumen fitrah berada di baliknya.[3]

Sebagian mufasir dan mutakallim menganggap ayat 53 Surah An-Nahl dan ayat 74 hingga 76 Surah Al-An'am terkait penolakan bulan, matahari, dan bintang sebagai tuhan oleh Nabi Ibrahim (as) juga merupakan bagian dari isyarat Al-Qur'an terhadap argumen fitrah. Dikatakan bahwa ungkapan Qur'ani "Fitratullah", "Sibghatullah", "Hanif", dan "raja'u ila anfusihim" merujuk pada fitrah.[4]

Fitrah

Tulisan Utama: Fitrah

Allamah Thabathaba'i meyakini makna fitrah adalah penciptaan dari ketiadaan murni (kemunculan dari ketiadaan mutlak).[5] Murtadha Mutahhari juga memaknai fitrah sebagai karakteristik penciptaan;[6] Javadi Amoli menganggap fitrah sebagai perbedaan antara manusia dan hewan[7] dan realitas manusia,[8] sementara Mohammad Taqi Misbah Yazdi menganggapnya sebagai pemberi hidayah dalam sanubari manusia.[9] Murtadha Mutahhari juga meyakini ketika sebuah kategori disebut fitrah, artinya umat manusia tidak acuh terhadapnya dan dalam sanubari manusia terdapat tuntutan yang mana kategori tersebut memberikan jawaban atasnya, seperti Tauhid.[10]

Konsekuensi niscaya dari fitrah dinamakan fitri atau fitriyah, dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu mengakui keberadaan fitrah melalui jalan ini. Dalam logika dan irfan, fitriyah adalah proposisi yang mana segera setelah dibayangkan dalam pikiran, dalilnya pun ikut hadir dalam pikiran.[11] Kaum rasionalis Eropa dan juga Yunani telah mengisyaratkan pada fitriyah. Descartes menyebut kategori-kategori yang dimiliki pikiran tanpa indra,[12] Kant menyebut proposisi matematika,[13] dan Plato menganggap seluruh maklumat manusia bersifat fitrah.[14]

Pendahuluan Argumen

Dalam argumen fitrah, dikarenakan adanya pengingkaran terhadap Fitrah dan khususnya fitrah pencarian Tuhan dari sisi sebagian ilmuwan, pertama-tama keberadaan fitrah pencarian Tuhan dikaji. Untuk membuktikan fitrah pencarian Tuhan, telah diajukan beberapa dalil yang dua di antaranya disebutkan:

Alasan Akal

Alasan ini dikemukakan dalam bentuk sebuah silogisme:

a. Manusia adalah maujud yang mujarrad (imaterial).

b. Setiap maujud yang mujarrad memahami pelaku (fail) dan penciptanya secara fitrah (tanpa proses belajar).

Kesimpulan: Manusia secara fitrah adalah mengenal Tuhan (Khoda-syenas).[15]

Penjelasan poin (a) adalah bahwa ruh manusia bersifat mujarrad dan dalilnya adalah stabilitas yang digunakan manusia dalam kata "Aku"; dan dari awal kehidupan hingga akhirnya meskipun fisik mengalami perubahan, manusia senantiasa tetap sebagai "Aku".[16] Poin (b) dikarenakan setiap makhluk niscaya selalu terhubung dengan sebabnya dan mengetahui tentang sebabnya sesuai kadar kapasitasnya, oleh karena itu manusia secara fitrah mencari Tuhan.[17]Templat:Catatan

Alasan Intuitif

Mulla Sadra meyakini alasan ini terbentuk dengan kembalinya manusia kepada jiwanya sendiri; karena Fitrah adalah pengalaman batin dalam diri manusia dan setiap manusia merasakannya dengan merujuk ke dalam dirinya sendiri. Pencarian Tuhan oleh manusia pun dengan mudah dapat menjadi pengalaman batin; saat manusia sedang mengenal dirinya, secara fitrah ia menyadari hubungannya dengan Tuhan (Pencipta dan Pendidik dirinya). Mulla Sadra menganggap keterikatan manusia pada perkara materi sebagai penghalang bagi terwujudnya fitrah pencarian Tuhan dalam diri manusia.[18]

Formulasi Argumen

Argumen fitrah dinyatakan dalam beberapa metode yang empat di antaranya dijelaskan:

  • Formulasi Mulla Sadra: Keberadaan Wajib Ta'ala adalah perkara fitrah, karena manusia saat menghadapi kondisi yang mengerikan, sesuai tabiat fitrahnya ia bertawakal kepada Tuhan dan secara naluriah beralih kepada Musabbib al-Asbab dan Dzat yang memudahkan kesulitan; meskipun ia mungkin tidak memperhatikan kecenderungan fitrahnya ini, dan hal ini menunjukkan keberadaan Sang Pencipta.[19]
  • Formulasi Allamah Thabathaba'i: Manusia pada saat berputus asa dari perkara materi, ia berlindung kepada Tuhan; fenomena ini terjadi bahkan pada individu yang tidak beriman sekalipun, tentu jika fitrah mereka tidak ditekan. Harapan dan konsep serupa (seperti cinta, permusuhan, dan kehendak), jika tidak memiliki pihak kedua (objek), maka pencarian harapan dan konsep serupa tidak akan terjadi; oleh karena itu Fitrah manusia melihat sebuah sebab yang lebih tinggi dari sebab-sebab materi yang mana peristiwa materi tidak berpengaruh padanya, dan itulah Kesempurnaan Mutlak dan Tuhan.[20]
  • Formulasi Imam Khomeini: Menurut keyakinan Imam Khomeini, cinta kepada Kesempurnaan Mutlak ada dalam diri manusia dan Kesempurnaan Mutlak tidak diragukan lagi adalah sumber keberadaan dan niscaya ada Objek Cinta (ma'syuq) fitrah agar fitrah manusia mengarah kepadanya. Di sisi lain mustahil fitrah manusia dalam bidang ini sekadar berkhayal dan melakukan kesalahan; karena pertama, khayalan bersifat terbatas sementara wujud pecinta tidak terbatas, dan kedua, Fitrah adalah konsekuensi niscaya wujud dan di dalamnya tidak ada jalan bagi kesalahan.[21]
  • Formulasi Abdullah Javadi Amoli: Dari pandangan Javadi Amoli dua konsep Pecinta dan Yang Dicintai bersifat mutadhayif (korelatif); artinya membayangkan salah satu tanpa yang lain tidaklah mungkin, dan karena manusia (Pecinta) ada, maka secara niscaya Tuhan (Yang Dicintai) juga ada.[22] Javadi Amoli melihat manusia di dunia ini laksana orang haus yang mencari hakikat dan menemukan hakikat di dalam dirinya sendiri, kemudian ia menyadari hakikat seukuran eksistensinya dan menjadi tertarik pada Hakikat Mutlak yang merupakan Tuhan.[23]

Kritik

Terhadap argumen ini telah diajukan beberapa keberatan, di antaranya John Locke menyatakan: Jika pencarian Tuhan berakar pada Fitrah dan sanubari manusia, maka seluruh manusia dalam segala kondisi akan menunjukkan minat pada pembahasan terkait teologi dan pengenalan Tuhan, padahal minat ini tidak nampak.[24] Murtadha Mutahhari menjawabnya, pertama, konsekuensi dari sifat fitrah bukanlah berarti seluruh waktu individu tersita olehnya, sebagaimana tidak ada satu pun minat alami manusia yang seperti itu, seperti minat pada seni dan keindahan; dan kedua, karena perkara yang diminati manusia sangat beragam, maka secara alami kesibukan pada sebagian minat akan mengurangi minat lainnya dan adakalanya menyebabkan terlupakan.[25]

Juga keberatan lainnya yang diajukan adalah bahwa kasih sayang, cinta, dan masalah sejenisnya selalu memiliki sisi kedua dan tanpa itu tidak dapat dibayangkan, namun hal ini tidak menunjukkan keberadaannya di alam eksternal di luar pikiran.[26] Javadi Amoli dalam jawabannya menyatakan bahwa pembicaraan di sini bukan pada nisbah pihak kedua dalam berharap dan mencintai, melainkan pada hakikat yang ada dalam sanubari individu yang mengetahui bahwa harapan ini ditujukan pada maujud yang nyata dan eksternal. Javadi Amoli demi pemahaman yang lebih baik memberikan permisalan rasa haus manusia dan keberadaan air, bahwa rasa haus meskipun tempat kehadirannya berada di dalam diri manusia namun terdapat hubungan di luar pikiran antara rasa haus dan air, dan fakta bahwa seseorang melakukan kesalahan karena fatamorgana adalah kesalahan dalam penerapan (tathbiq) dan tidak akan mengeluarkan hubungan antara rasa haus dan air dari konteksnya.[27]

Argumen Konsensus Umum dalam Pembuktian Eksistensi Tuhan

Dikatakan bahwa dalam dunia pemikiran Barat, argumen yang dekat dengan argumen fitrah dinamakan argumen konsensus umum (Common Consent).[28] Seneca, filsuf Romawi abad pertama masehi, adalah orang pertama yang mengajukan argumen konsensus umum.[29] Formulasi beliau mengenai argumen ini adalah sebagai berikut:

a. Keyakinan bahwa "Tuhan ada" adalah perkara fitrah dan naluriah.

b. Setiap keyakinan yang bersifat fitrah adalah benar dan selaras dengan realitas.

Kesimpulan: Kepercayaan bahwa "Tuhan ada" adalah benar dan selaras dengan realitas.[30]

Menurut pernyataan para peneliti, setelah Seneca, Thomas Aquinas,[31] William James, Charles Hodge, James Joyce, dan Paul Tillich telah menggunakan argumen ini dalam pembuktian eksistensi Tuhan.[32]

Catatan Kaki

  1. Mousavi Faraz, "Burhan-e Fitrat", hlm. 38.
  2. Elyasi, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Burhan-e Fitrat", hlm. 75.
  3. Elyasi, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Burhan-e Fitrat", hlm. 75.
  4. Abdoli Mehrjerdi dan Dehqani Mahmoudabadi, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Burhan-e Fitrat wa Ejma'-e Am dar Isbat-e Wujud-e Khoda", hlm. 170-171.
  5. Allamah Thabathaba'i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1391 H, jld. 10, hlm. 299.
  6. Syahid Mutahhari, Majmu'e Atsar, 1374 HS, jld. 3, hlm. 602.
  7. Javadi Amoli, "Fitrat dar Ayine-ye Qur'an", hlm. 7.
  8. Javadi Amoli, Tabyin-e Barahin-e Isbat-e Khoda, 1390 HS, hlm. 59.
  9. Misbah Yazdi, Ma'arif-e Qur'an, 1380 HS, hlm. 26.
  10. Syahid Mutahhari, Majmu'e Atsar, 1374 HS, jld. 3, hlm. 603.
  11. Ibnu Sina, al-Syifa fi al-Mantiq, 1414 H, jld. 3, hlm. 64; Nasafi, al-Insan al-Kamil, 1362 HS, hlm. 60.
  12. Descartes, Principles of Philosophy, 1364 HS, hlm. 44.
  13. Justus, Kant's Theory of Knowledge, 1376 HS, hlm. 93.
  14. Copleston, A History of Philosophy, 1368 HS, jld. 1, hlm. 194.
  15. Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafeh, 1390 HS, jld. 2, hlm. 169.
  16. Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafeh, 1390 HS, jld. 2, hlm. 143.
  17. Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafeh, 1390 HS, jld. 2, hlm. 169.
  18. Mulla Sadra, al-Asfar, 1383 HS, jld. 9, hlm. 124.
  19. Mulla Sadra, al-Mabda' wa al-Ma'ad, 1354 HS, hlm. 23.
  20. Allamah Thabathaba'i, al-Mizan, 1391 H, jld. 7, hlm. 272.
  21. Imam Khomeini, Syarh Chehel Hadits, 1380 HS, hlm. 184.
  22. Javadi Amoli, Tabyin-e Barahin-e Isbat-e Khoda, 1390 HS, hlm. 294-299.
  23. Javadi Amoli, Tabyin-e Barahin-e Isbat-e Khoda, 1390 HS, hlm. 297.
  24. Edwards, Khoda dar Falsafeh, 1371 HS, hlm. 138.
  25. Allamah Thabathaba'i, Ushul-e Falsafeh wa Ravesy-e Realism, 1379 HS, jld. 5, hlm. 41-42.
  26. Rabbani Golpayegani, Fitrat wa Din, 1380 HS, hlm. 149.
  27. Javadi Amoli, Tabyin-e Barahin-e Isbat-e Khoda, 1390 HS, hlm. 289-290.
  28. Abdoli Mehrjerdi dan Dehqani Mahmoudabadi, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Burhan-e Fitrat wa Ejma'-e Am dar Isbat-e Wujud-e Khoda", hlm. 170.
  29. Abdoli Mehrjerdi dan Dehqani Mahmoudabadi, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Burhan-e Fitrat wa Ejma'-e Am dar Isbat-e Wujud-e Khoda", hlm. 181.
  30. Abdoli Mehrjerdi dan Dehqani Mahmoudabadi, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Burhan-e Fitrat wa Ejma'-e Am dar Isbat-e Wujud-e Khoda", hlm. 182.
  31. Mousavi Faraz, "Burhan-e Fitrat", hlm. 40.
  32. Abdoli Mehrjerdi dan Dehqani Mahmoudabadi, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Burhan-e Fitrat wa Ejma'-e Am dar Isbat-e Wujud-e Khoda", hlm. 171.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka

  • Abdoli Mehrjerdi, Hamidreza dan Mohammad Hossein Dehqani Mahmoudabadi. "Barresi-ye Tathbiqi-ye Burhan-e Fitrat wa Ejma'-e Am dar Isbat-e Wujud-e Khoda". Jurnal Al-ahiyat-e Tathbiqi, nomor 11, Musim Semi dan Musim Panas 1393 HS.
  • Allamah Thabathaba'i, Sayyid Mohammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Muasasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1391 H.
  • Allamah Thabathaba'i, Sayyid Mohammad Husain. Ushul-e Falsafeh wa Ravesy-e Realism. Mukadimah dan catatan kaki oleh Murtadha Mutahhari. Teheran: Sadra, cetakan ketujuh, 1379 HS.
  • Copleston, Frederick. A History of Philosophy. Terjemahan: Seyed Jalal-al-Din Mojtabavi. Teheran: Penerbit Soroush, cetakan kedua, 1368 HS.
  • Descartes, Rene. Principles of Philosophy. Terjemahan: Manouchehr Sane'i. Teheran: Nasyre Agah, cetakan kedua, 1364 HS.
  • Edwards, Paul. Khoda dar Falsafeh. Terjemahan: Baha-al-Din Khorramshahi. Teheran: Nasyre Motale'at wa Tahqiqat-e Farhangi, cetakan kedua, 1371 HS.
  • Elyasi. "Barresi-ye Tathbiqi-ye Burhan-e Fitrat". Jurnal Hikmat wa Falsafe-ye Eslami, nomor 32, Musim Panas 1389 HS.
  • Ibnu Manzhur, Jamaluddin. Lisan al-Arab. Beirut: Dar al-Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua puluh dua, 1416 H.
  • Ibnu Sina. al-Syifa fi al-Mantiq. Qom: Penerbit Perpustakaan Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1414 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Syarh Chehel Hadits. Qom: Lembaga Penyusunan dan Penerbitan Karya Imam Khomeini, cetakan kedua puluh lima, 1380 HS.
  • Javadi Amoli, Abdullah. "Fitrat dar Ayine-ye Qur'an". Jurnal Ensan Pezhuhi-ye Dini, nomor 23, Musim Semi dan Musim Panas 1389 HS.
  • Javadi Amoli, Abdullah. Tabyin-e Barahin-e Isbat-e Khoda. Qom: Pusat Penerbitan Isra, cetakan keenam, 1390 HS.
  • Justus, Hartnack. Kant's Theory of Knowledge. Terjemahan: Gholamali Haddad-adel. Teheran: Nasyre Fekre Rooz, 1376 HS.
  • Misbah Yazdi, Mohammad Taqi. Amuzesy-e Falsafeh. Teheran: Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, cetakan keempat, 1390 HS.
  • Misbah Yazdi, Mohammad Taqi. Ma'arif-e Qur'an (Khoda-syenasi, Kaihan-syenasi, Ensan-syenasi). Teheran: Penerbit Lembaga Imam Khomeini, cetakan ketiga, 1380 HS.
  • Mousavi Faraz, Mohammad Reza. "Burhan-e Fitrat". Bulanan Ma'rifat, nomor 62, Bahman 1381 HS.
  • Mulla Sadra, Mohammad bin Ibrahim. al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah. Teheran: Dar al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1383 HS.
  • Mulla Sadra, Mohammad bin Ibrahim. al-Mabda' wa al-Ma'ad. Teheran: Nasyre Anjoman-e Hikmat wa Falsafe-ye Iran, 1354 HS.
  • Nasafi, Azizuddin. al-Insan al-Kamil. Teheran: Penerbit Farhang-e Iran, cetakan kedua, 1362 HS.
  • Syahid Mutahhari, Murtadha. Majmu'e Atsar. Teheran: Sadra, cetakan keempat, 1374 HS.
  • Towaijri, Mohammad bin Ibrahim. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami. Kairo: Bait al-Afkar al-Dawliyyah, cetakan kelima, 1430 H.