Lompat ke isi

Konsep:Ali bin Ghurab

Dari wikishia
Ali bin Ghurab
Nama lengkapAli bin Abdul Aziz al-Fazari al-Kufi
KunyahAbu al-Hasan
Tempat tinggalBaghdad, Kufah
Wafat184/800, setelah Imam Shadiq as
MazhabImamiyah
Perawi dari Ma'shumImam Shadiq as
Para perawi darinyaAbdullah bin Muskan, Muhammad bin Abi Umair, Aban bin Utsman, dan Shafwan bin Yahya
KredibilitasTsiqah
Jumlah riwayat18 riwayat
KaryaKitab al-Hadits dalam bidang Fikih
Terkenal denganIbnu Ghurab


Ali bin Ghurab (bahasa Arab: علی بن غراب) atau Ali bin Abdul Aziz al-Fazari adalah salah seorang sahabat Imam Shadiq as, sekaligus tokoh terkemuka dan pakar hadis (muhaddits) Syiah pada abad ke-2/8 M. Berbagai sumber Syiah dan Ahlusunah telah merekam sejumlah riwayat yang dinukil darinya. Ia juga diyakini sebagai penulis salah satu kitab ushul hadis di bidang Fikih. Ia meyakini bahwa perkataan Imam Shadiq as bersumber langsung dari Allah, dan menjuluki beliau sebagai "sebaik-baik Ja'far".

Dalam literatur rijal, terdapat beberapa perawi bernama "Ali bin Abdul Aziz" dengan julukan (nisbah) yang beragam. Keragaman ini memicu silang pendapat di kalangan pakar ilmu rijal, sehingga sebagian cendekiawan bahkan turut memosisikannya sebagai sahabat Imam Baqir as.

Ibnu Nadim, yang mengidentifikasinya sebagai penganut Syiah, menyatakan bahwa ia banyak menukil riwayat fikih dari para Imam as. Ulama Syiah semisal Abdullah Mamaqani mengategorikannya sebagai penganut Syiah Imamiyah yang majhul al-hal (kondisinya tidak diketahui secara pasti). Para ulama Ahlusunah turut mengakui afiliasi Syiahnya, namun sebagian dari mereka tetap menilainya sebagai perawi yang Tsiqah (tepercaya) dan menghukumi sanad hadisnya sebagai sahih, kendati terdapat segelintir ulama lain yang melontarkan celaan akibat identitas kesyiahannya tersebut.

Pengenalan Singkat

Ali bin Ghurab al-Fazari al-Kufi[1] al-Muharibi[2] atau Ali bin Abdul Aziz al-Fazari,[3] yang lebih populer dengan sebutan Ibnu Ghurab,[4] diakui sebagai seorang mualif (penulis), pakar hadis atau Muhaddits,[5] sekaligus tokoh pembesar Syiah[6] pada abad ke-2/8 M. Sejumlah referensi juga menyebutkan variasi nama lainnya, seperti Ali bin Abi al-Walid[7] dan Ibnu Abi al-Mughirah al-Azdi.[8] Mengenai kuniyah-nya, para sejarawan berbeda pendapat antara Abu al-Hasan,[9] Abu al-Walid,[10] ataupun Abu Yahya.[11]

Syekh Thusi[12] beserta barisan ulama yang mengikuti pandangannya,[13] mengklasifikasikan Ibnu Ghurab sebagai salah seorang sahabat Imam Shadiq as dan penyusun salah satu kitab ushul hadis[14] bertajuk "Al-Hadits"[15] di ranah Fikih.[16] Mereka turut menobatkannya sebagai salah satu muhadis unggulan di lingkungan penganut Imamiyah.[17] Ia memiliki keyakinan teguh bahwa setiap perkataan Imam Shadiq as bersumber langsung dari Allah.[18] Bahkan dalam beberapa kesempatan, sebelum merawikan sebuah riwayat dari sang Imam, ia menyematkan gelar "sebaik-baik Ja'far" kepada beliau.[19]

Dalam perjalanan hidupnya, Ali bin Ghurab berhijrah dari Kufah menuju Baghdad guna meriwayatkan pelbagai Hadis,[20] serta pernah memegang amanah di bidang peradilan (qadha).[21] Ibnu Sa'ad, mualif kitab al-Thabaqat al-Kubra,[22] bersama beberapa sejarawan lainnya,[23] mencatat bahwa ia wafat pada tahun 184/800 di kota Kufah.

Kesamaan Nama pada Beberapa Orang

Terdapatnya beberapa figur historis yang berbagi identitas nama "Ali bin Abdul Aziz"[24] telah memicu silang pendapat yang cukup kompleks di jajaran pakar ilmu rijal.

Tokoh seperti Najasyi,[25] Barqi,[26] dan Syekh Shaduq secara ringkas menyebutkan nama Ali bin Abdul Aziz tanpa mengimbuhkan julukan (nisbah). Di sisi lain, dalam kitab Rijal al-Thusi, nama ini muncul bergantian dengan beragam nisbah. Pada satu kesempatan, ia disematkan nisbah al-Kufi dan dikategorikan sebagai sahabat Imam Baqir as.[27] Namun pada pemaparan lain, muncul nisbah seperti al-Fazari,[28] al-Muzani al-Kufi,[29] hingga al-Umawi al-Kufi,[30] bahkan pernah pula disebutkan tanpa nisbah sama sekali,[31] di mana keseluruhan profil tersebut dihukumi sebagai sahabat Imam Shadiq as.[32] Fenomena ini mendorong sejumlah peneliti untuk mengasimilasikan seluruh nisbah tersebut ke dalam profil satu individu tunggal,[33] yang berujung pada konklusi bahwa ia juga berstatus sebagai sahabat Imam Baqir as.[34]

Merespons hal tersebut, Syusytari, selaku penulis Qamus al-Rijal, menegaskan bahwa himpunan nisbah yang sedemikian beragam tersebut mustahil terpusat pada diri satu entitas tunggal, melainkan merepresentasikan beberapa individu yang berbeda;[35] sebuah pandangan yang selaras dengan temuan beberapa cendekiawan lain yang telah menelaah nama-nama tersebut secara terpisah.[36]

Ambiguitas eksistensi dari figur-figur "Ali bin Abdul Aziz" ini berujung pada keputusan sejumlah pakar rijal yang melabelinya sebagai sosok yang majhul al-hal.[37] Sebagai contoh, Mamaqani berpendapat bahwa siapa pun perawi yang bernaung di bawah identitas nama ini tidak dapat dinilai Tsiqah (tepercaya) dan harus diposisikan sebagai figur yang muhmal (diabaikan), dilandasi oleh asumsi bahwa kerancuan identitas di antara mereka mustahil untuk diurai secara presisi.[38]

Mazhab

Dalam catatan historisnya, Ibnu Nadim mendaftar nama Ibnu Ghurab sebagai salah seorang pembesar Syiah yang berperan aktif meriwayatkan hadis-hadis fikih dari para Imam as.[39] Banyak di kalangan ulama Ahlusunah yang mengidentifikasinya sebagai penganut Syiah,[40] bahkan menudingnya berafiliasi dengan aliran Syiah Ghali (ekstrem).[41] Mualif kitab Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits menggarisbawahi bahwa ia merupakan salah satu sosok yang paling gencar menerima sasaran celaan dari kalangan Ahlusunah, semata-mata karena komitmen kesyiahannya.[42]

Dari perspektif internal Syiah, Mamaqani meyakini bahwa makna lahiriah (zhahir) dari pernyataan Najasyi dan Syekh Thusi mengisyaratkan secara kuat bahwa ia menganut mazhab Imamiyah.[43] Sebaliknya, sebagian kalangan yang menyoroti corak beberapa riwayatnya justru berspekulasi bahwa ia bermazhab Ahlusunah.[44] Namun, spekulasi ini ditepis oleh Mamaqani. Dengan mempertimbangkan posisi Ibnu Nadim sebagai cendekiawan mutakadimin (terdahulu) dibandingkan yang lain, Mamaqani menilai bahwa pengakuan Ibnu Nadim atas kesyiahannya sudah cukup menjadi argumen kuat yang melegitimasi identitas mazhabnya, atau paling tidak menjadi validasi atas integritas kebaikannya (husn).[45]

Sejumlah pakar turut merujuk pada kompilasi riwayat lain yang diriwayatkannya sebagai justifikasi yang mengukuhkan kesyiahan dirinya, sekaligus menjadikannya sebagai manifestasi dari derajat kebaikan dan kesempurnaan imannya.[46]

Syekh Muhammad Taqi Syusytari mengambil sikap analitis dengan tidak memukul rata bahwa setiap nama "Ali bin Abdul Aziz" yang tercantum dalam kitab rijal Thusi secara otomatis adalah perawi Syiah. Beliau berargumen bahwa eksistensi nama tersebut di dalam kompendium Rijal Syekh Thusi tidak lantas menjadi stempel kesyiahan mutlak, mengingat kitab tersebut dihimpun dengan cakupan luas (umum) yang merangkum seluruh jejaring sahabat para Imam dari lintas mazhab.[47]

Perawi Hadis

Rekam jejaknya sebagai perawi Hadis terabadikan dengan jelas dalam kitab Rijal al-Najasyi[48] dan Rijal al-Barqi.[49] Riwayat-riwayat yang berpangkal darinya tersebar luas, baik di dalam pusaka literatur Syiah[50] maupun kompilasi Kutubus Sittah milik Ahlusunah.[51] Fakta lintas sektarian ini secara khusus turut menuai atensi dari Khalil bin Aibak al-Shafadi, sang mualif kitab al-Wafi bi al-Wafayat.[52]

Di samping mendedikasikan penukilan riwayat dari Imam Shadiq as, jejak transmisinya juga terdeteksi melalui sebuah riwayat yang dinisbatkan langsung kepada Imam Ridha as.[53] Melalui kalkulasi presisi, sebagian pengkaji menyimpulkan bahwa kuantitas riwayatnya menyentuh angka 18 buah.[54] Prestisenya semakin mapan tatkala deretan ulama elite dari kalangan Ashab al-Ijma', semisal Abdullah bin Muskan, Muhammad bin Abi Umair, Aban bin Utsman, hingga Shafwan bin Yahya, tercatat secara akademik pernah meriwayatkan hadis dari sisinya.[55]

Validitas (Watsaqah)

Syekh Shaduq secara terbuka memberikan legitimasi bahwa Ibnu Ghurab adalah sosok yang terandalkan (mu'tamad)[56] dan mahakaryanya layak dijadikan rujukan yang tepercaya.[57] Indikator lain yang memperkokoh derajat ketsiqahannya adalah fakta penukilan riwayat oleh figur-figur selektif sekelas Ahmad bin Muhammad bin Isa al-Asy'ari, yang dikenal menerapkan standar ketat dengan hanya bersedia menukil dari jajaran perawi Tsiqah.[58]

Di ranah akademik Ahlusunah, parameter ketsiqahannya memicu dialektika yang tajam. Mayoritas ulama Ahlusunah menjunjungnya sebagai muhadis yang jujur (shaduq), tsiqah, serta berintegritas tinggi, sekaligus mengklasifikasikan sanad hadisnya sebagai sahih. Sebaliknya, sebagian kalangan memanipulasi identitas kesyiahannya sebagai dalih untuk mendelegitimasi kapasitasnya, bahkan melontarkan tudingan bahwa ia mempraktikkan manipulasi (tadlis) dalam periwayatan hadis. Meskipun demikian, tetap terdapat segelintir ulama konservatif Ahlusunah yang bersikap objektif; kendati menyadari afiliasi Syiahnya, mereka secara ksatria tetap memosisikan Ibnu Ghurab sebagai figur yang tsiqah dan muhadis yang jujur.[59]

Catatan Kaki

  1. Husaini, Al-Tadzkirah bi Ma'rifah Rijal al-Kutub al-'Asyarah, 1418 H, jld. 2, hlm. 1207; Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 5, hlm. 423.
  2. Najaf, Al-Jami' li Ruwat Ashab al-Imam al-Ridha (as), 1407 H, jld. 1, hlm. 456.
  3. Syekh Thusi, Al-Rijal, 1373 HS, hlm. 245; Mazandarani Ha'eri, Muntaha al-Maqal, 1416 H, jld. 5, hlm. 48.
  4. Thusi, Al-Fihrist, Beirut, hlm. 280; Ibnu Syahrasyub, Ma'alim al-Ulama, 1380 H, hlm. 142–143; Quhpa'i, Majma' al-Rijal, 1384 HS, jld. 4, hlm. 213.
  5. Najaf, Al-Jami' li Ruwat Ashab al-Imam al-Ridha (as), 1407 H, jld. 1, hlm. 457.
  6. Kelompok Ilmiah Muassasah Imam Shadiq (as), Mausu'ah Thabaqat al-Fuqaha, 1418 H, jld. 2, hlm. 399.
  7. Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, 1325 H, jld. 7, hlm. 362.
  8. Syekh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hlm. 516.
  9. Kelompok Ilmiah Muassasah Imam Shadiq (as), Mausu'ah Thabaqat al-Fuqaha, 1418 H, jld. 2, hlm. 398.
  10. Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 21, hlm. 380.
  11. Syabestari, Al-Faiq, 1418 H, jld. 2, hlm. 411.
  12. Syekh Thusi, Al-Rijal, 1373 HS, hlm. 245.
  13. Sebagai contoh lihat: Tafresyi, Naqd al-Rijal, 1377 HS, jld. 3, hlm. 276; Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, Bagian Pertama, hlm. 351; Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 7, hlm. 530.
  14. Thusi, Al-Fihrist, Beirut, hlm. 280; Astarabadi, Manhaj al-Maqal, 1422 H, jld. 7, hlm. 432; Ardabili, Jami' al-Ruwat, 1403 H, jld. 1, hlm. 589; Khuddamian Arani, Faharis al-Syi'ah, 1431 H, jld. 1, hlm. 572; Tafresyi, Naqd al-Rijal, 1377 HS, jld. 3, hlm. 276.
  15. Agha Bozorg Tehrani, Adz-Dzari'ah, 1403 H, jld. 6, hlm. 350.
  16. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, Beirut, hlm. 308.
  17. Syabestari, Al-Faiq, 1418 H, jld. 2, hlm. 411.
  18. Syekh Shaduq, Ilal al-Syarayi', 1385 HS, jld. 1, hlm. 234; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 47, hlm. 18.
  19. Syekh Shaduq, Ma'ani al-Akhbar, 1403 H, hlm. 250, 291; Burujerdi, Jami' Ahadits al-Syi'ah, 1386 HS, jld. 22, hlm. 710.
  20. Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 12, hlm. 45; Syabestari, Al-Faiq, 1418 H, jld. 2, hlm. 411; Najaf, Al-Jami' li Ruwat Ashab al-Imam al-Ridha (as), 1407 H, jld. 1, hlm. 457.
  21. Syabestari, Al-Faiq, 1418 H, jld. 2, hlm. 411; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 21, hlm. 380.
  22. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 6, hlm. 363.
  23. Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 21, hlm. 380; Ibnu al-Imad al-Hanbali, Syadzarah al-Dzahab, 1406 H, jld. 2, hlm. 382; Syabestari, Al-Faiq, 1418 H, jld. 2, hlm. 411.
  24. Murtadha, Zubdah al-Maqal, 1426 H, jld. 2, hlm. 63.
  25. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 276.
  26. Barqi, Al-Rijal, 1342 HS, hlm. 25.
  27. Syekh Thusi, Al-Rijal, 1373 HS, hlm. 141.
  28. Syekh Thusi, Al-Rijal, 1373 HS, hlm. 245.
  29. Syekh Thusi, Al-Rijal, 1373 HS, hlm. 245.
  30. Syekh Thusi, Al-Rijal, 1373 HS, hlm. 246.
  31. Syekh Thusi, Al-Rijal, 1373 HS, hlm. 266.
  32. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, Bagian Pertama, hlm. 295.
  33. Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 7, hlm. 492.
  34. Tafresyi, Naqd al-Rijal, 1377 HS, jld. 3, hlm. 276; Naraqi, Sya'b al-Maqal, 1422 H, hlm. 290.
  35. Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 7, hlm. 492.
  36. Ardabili, Jami' al-Ruwat, 1403 H, jld. 1, hlm. 589; Tafresyi, Naqd al-Rijal, 1377 HS, jld. 3, hlm. 276; Nuri, Mustadrak al-Wasa'il, 1408 H, jld. 26, hlm. 223; Quhpa'i, Majma' al-Rijal, 1384 HS, jld. 4, Al-Fihris, hlm. 15, jld. 4, hlm. 213.
  37. Murtadha, Zubdah al-Maqal, 1426 H, hlm. 63, 70; Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, Al-Fihrist, jld. 1, hlm. 107.
  38. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, Bagian Pertama, hlm. 295.
  39. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, Beirut, hlm. 308.
  40. Untuk informasi lebih lanjut lihat: Muzhaffar, Al-Ifshah, 1426 H, jld. 3, hlm. 198–201.
  41. Ibnu al-Imad al-Hanbali, Syadzarah al-Dzahab, 1406 H, jld. 2, hlm. 382.
  42. Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 5, hlm. 423.
  43. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, Bagian Pertama, hlm. 295, 301.
  44. Mazandarani Ha'eri, Muntaha al-Maqal, 1416 H, jld. 5, hlm. 49.
  45. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, Bagian Pertama, hlm. 301.
  46. Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 5, hlm. 423.
  47. Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 7, hlm. 492–493.
  48. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 276.
  49. Barqi, Al-Rijal, 1342 HS, hlm. 25.
  50. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 4, hlm. 12, jld. 5, hlm. 72; Syekh Shaduq, Ilal al-Syarayi', 1385 HS, jld. 1, hlm. 234; Syekh Shaduq, Ma'ani al-Akhbar, 1403 H, hlm. 250, 291; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 47, hlm. 18; Burujerdi, Jami' Ahadits al-Syi'ah, 1386 HS, jld. 22, hlm. 710.
  51. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, 1418 H, jld. 2, hlm. 303, jld. 4, hlm. 109; Nasa'i, Sunan Nasa'i, Amman, jld. 3, 284, jld. 5, hlm. 439, 468.
  52. Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 21, hlm. 380.
  53. Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 5, hlm. 423 dari Tarikh Baghdad; Najaf, Al-Jami' li Ruwat Ashab al-Imam al-Ridha (as), 1407 H, jld. 1, hlm. 456.
  54. Murtadha, Zubdah al-Maqal, 1426 H, jld. 2, hlm. 63.
  55. Mazhahiri, Al-Thiqat al-Akhyar, 1428 H, hlm. 264–265.
  56. Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 5, hlm. 423. Mengutip dari Syekh Shaduq.
  57. Nuri, Mustadrak al-Wasa'il, 1408 H, jld. 26, hlm. 224. Mengutip dari Syekh Shaduq.
  58. Mazhahiri, Al-Thiqat al-Akhyar, 1428 H, hlm. 264–265.
  59. Untuk informasi lebih lanjut lihat: Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 12, hlm. 45–47; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 12, hlm. 305–306; Muzhaffar, Al-Ifshah, 1426 H, jld. 3, hlm. 198–201.

Daftar Pustaka

  • Agha Bozorg Tehrani, Muhammad Muhsin. Adz-Dzari'ah ila Tashanif asy-Syi'ah. Beirut: Dar al-Adhwa', cetakan ketiga, 1403 H.
  • Ardabili, Muhammad bin Ali. Jami' al-Ruwat wa Izahah al-Isytibahat 'an al-Thuruq wa al-Asnad. Beirut: Dar al-Adhwa', 1403 H.
  • Astarabadi, Muhammad bin Ali. Manhaj al-Maqal fi Tahqiq Ahwal al-Rijal. Qom: Muassasah Aal al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1422 H.
  • Barqi, Ahmad bin Muhammad. Kitab al-Rijal. Teheran: Universitas Teheran, 1342 HS.
  • Burujerdi, Agha Husain. Jami' Ahadits al-Syi'ah. Teheran: Intisharat-e Farhang-e Sabz, 1386 HS.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Tahkik: Umar Abdussalam Tadmuri. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1413 H.
  • Husaini, Muhammad bin Ali. Al-Tadzkirah bi Ma'rifah Rijal al-Kutub al-'Asyarah. Kairo: Maktabah al-Khanji, 1418 H.
  • Ibnu al-Imad al-Hanbali, Abu al-Falah Abdul Hayy bin Ahmad al-'Ukari. Syadzarah al-Dzahab fi Akhbar man Dzahab. Tahkik: Al-Arnauth. Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1406 H.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Tahdzib al-Tahdzib. Beirut: Dar Shadir, 1325 H.
  • Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid al-Qazwini. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar al-Jil, 1418 H.
  • Ibnu Nadim, Muhammad bin Ishaq. Al-Fihrist. Beirut: Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad. Al-Thabaqat al-Kubra. Tahkik: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1410 H.
  • Ibnu Syahrasyub, Muhammad bin Ali. Ma'alim al-Ulama fi Fihrist Kutub asy-Syi'ah wa Asma' al-Mushannifin Minhum.... Najaf: Al-Mathba'ah al-Haidariyah, 1380 H.
  • Khathib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1417 H.
  • Khoei, Abu al-Qasim. Mu'jam Rijal al-Hadits wa Tafshil Thabaqat al-Ruwat. Tanpa penerbit, tanpa tempat, cetakan kelima, 1413 H.
  • Khuddamian Arani, Mahdi. Faharis al-Syi'ah. Qom: Muassasah Turats al-Syi'ah, 1431 H.
  • Kelompok Ilmiah Muassasah Imam Shadiq (as). Mausu'ah Thabaqat al-Fuqaha. Di bawah pengawasan Ja'far Subhani. Qom: Muassasah al-Imam al-Shadiq (as), 1418 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Tahkik: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Mamaqani, Abdullah. Tanqih al-Maqal fi Ilm al-Rijal. Ukuran folio, tanpa penerbit, tanpa tempat, tanpa tahun.
  • Mazandarani Ha'eri, Muhammad bin Ismail. Muntaha al-Maqal fi Ahwal al-Rijal. Qom: Muassasah Aal al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1416 H.
  • Mazhahiri, Husain. Al-Thiqat al-Akhyar min Ruwat al-Akhbar. Qom: Muassasah al-Zahra (as) al-Tsaqafiyah al-Dirasiyah, 1428 H.
  • Murtadha, Bassam. Zubdah al-Maqal min Mu'jam al-Rijal. Beirut: Dar al-Mahajjah al-Baidha', 1426 H.
  • Muzhaffar, Muhammad Hasan. Al-Ifshah 'an Ahwal Ruwat al-Shihah. Qom: Muassasah Aal al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1426 H.
  • Najaf, Muhammad Mahdi. Al-Jami' li Ruwat Ashab al-Imam al-Ridha (as). 2 Jilid. Masyhad: Al-Mu'tamar al-'Alami lil-Imam al-Ridha (as), 1407 H.
  • Najasyi, Ahmad bin Ali. Rijal al-Najasyi. Qom: Jama'ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-Ilmiyah bi-Qum, cetakan keenam, 1365 HS.
  • Namazi Syahrudi, Ali. Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits. Teheran: Anak Penulis, 1414 H.
  • Naraqi, Abu al-Qasim bin Muhammad. Sya'b al-Maqal fi Darajat al-Rijal. Qom: Kongres Peringatan Peneliti Mullah Mahdi dan Mullah Ahmad Naraqi, cetakan kedua, 1422 H.
  • Nasa'i, Ahmad bin Ali. Al-Mujtaba min al-Sunan (Al-Masyhur bi Sunan al-Nasa'i). Amman: Bait al-Afkar al-Dauliyah, tanpa tahun.
  • Nuri, Husain bin Muhammad Taqi. Mustadrak al-Wasa'il wa Mustanbath al-Masa'il. Qom: Muassasah Aal al-Bayt (as), 1408 H.
  • Quhpa'i, Inayatullah. Majma' al-Rijal. Qom: Ismailiyan, cetakan kedua, 1364 HS.
  • Shafadi, Khalil bin Aibak. Al-Wafi bi al-Wafayat. Beirut: Dar al-Nasyr, cetakan kedua, 1401 H.
  • Syabestari, Abdul Husain. Al-Faiq fi Ruwat wa Ashab al-Imam al-Shadiq (as). Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1418 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Ilal al-Syarayi'. Qom: Kitabfurusyi Davari, 1385 HS.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Ma'ani al-Akhbar. Qom: Daftar-e Intisharat-e Eslami vabasteh be Jame'eh Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qom, 1403 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Qom: Daftar-e Intisharat-e Eslami vabasteh be Jame'eh Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qom, cetakan kedua, 1413 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Fihrist. Najaf Asyraf: Maktabah al-Murtadhawiyah, tanpa tahun.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Rijal. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan ketiga, 1373 HS.
  • Syusytari, Muhammad Taqi. Qamus al-Rijal. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Tafresyi, Mushthafa bin Husain. Naqd al-Rijal. Qom: Muassasah Aal al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1377 HS.