Konsep:Abdushamad bin Ali
Abdushamad bin Ali adalah salah seorang sahabat Imam Shadiq as, paman dari Saffah dan Mansyur, sekaligus salah satu pejabat teras dalam struktur pemerintahan Bani Abbasiyah. Figur ini memiliki rekam jejak politik yang sangat menonjol; ia berkontribusi besar dalam membantu Saffah merengkuh pucuk kekuasaan, dan kemudian dipercaya untuk menduduki posisi strategis sebagai gubernur di pelbagai wilayah Islam oleh para khalifah penerusnya, seperti Mansyur, Mahdi, dan Harun al-Rasyid.
Di kalangan pakar ilmu rijal Syiah, tidak terdapat konsensus yang seragam mengenai kredibilitasnya. Sebagian cendekiawan sekadar mendeskripsikannya sebagai murid dari Imam Shadiq as tanpa menyertakan vonis kredibilitas, atau mengategorikannya sebagai figur yang majhul al-hal (kondisinya tidak diketahui secara pasti). Akan tetapi, sebagian ahli rijal lainnya mengambil sikap konfrontatif terhadapnya, berpijak pada sebuah laporan historis yang merekam tindakan penghinaannya kepada Imam Kazhim as. Oleh karenanya, kelompok ini mengklasifikasikan Abdushamad sebagai musuh bagi para Imam as.
Pengenalan
Abdushamad bin Ali merupakan keturunan Abdullah bin Abbas yang juga berkedudukan sebagai paman kandung dari Saffah beserta Mansyur.[1] Ia dikenal sebagai figur yang terpandang dan sangat dihormati di lingkaran istana Harun al-Rasyid.[2] Dalam pelbagai literatur sejarah, namanya kerap disandingkan dengan nisbah seperti al-Qurasyi, al-Hasyimi, al-Abbasi, dan al-Kufi.[3] Adapun kunyah-nya adalah Abu Muhammad,[4] dan ia menyandang sejumlah gelar kehormatan semisal Ibnu Hibr, Amir al-Kabir (Amir Besar),[5] serta Syaikh Al-Abbas.[6] Secara akademik dan nasab, ia diklasifikasikan sebagai tokoh pembesar sekaligus pakar hadis (Muhaddis) dari rahim klan Bani Abbasiyah.[7]
Syaikh Thusi mengidentifikasinya sebagai salah seorang sahabat Imam Shadiq as yang berasal dari kawasan Kufah.[8]
Abdushamad dilahirkan di daerah Humaimah atau Balqa, yang terletak di kawasan TransYordania.[9] Terdapat silang pendapat mengenai eksak tahun kelahirannya; sebagian literatur menyebutkan angka 104/722-23,[10] 105/723-24,[11] atau 106/724-25.[12]
Ia dikaruniai sepuluh orang putra. Meskipun sebagian sejarawan berpandangan bahwa tidak ada satu pun dari keturunannya yang mencapai kemasyhuran historis agung,[13] Ibnu Asakir—mualif kitab Tarikh Dimasyq—mencatat bahwa salah seorang putranya yang bernama Ismail sempat dikenal publik sebagai seorang perawi.[14] Lebih jauh lagi, Ibnu al-'Abbar al-Hasyimi, seorang penyair kenamaan yang juga menduduki posisi sebagai kolega dekat Mutawakkil Abbasi,[15] diidentifikasi sebagai salah satu keturunan dari garis nasab Abdushamad.[16]
Dalam mata rantai periwayatan, Abdushamad bin Ali menukil riwayat secara langsung dari ayahnya. Sebaliknya, tokoh-tokoh prominen seperti Mahdi Abbasi, Muhammad bin Ibrahim al-Imam,[17] dan beberapa cendekiawan lainnya tercatat pernah meriwayatkan pelbagai Hadis bersumber darinya.[18]
Sebagian pakar menyimpulkan bahwa Abdushamad bin Ali mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 185/801-02 di kota Basrah atau Baghdad.[19] Jenazahnya disalatkan secara langsung oleh khalifah Harun al-Rasyid.[20] Sebagai monumen penghargaan, sebuah jalan utama di kawasan timur Baghdad diabadikan dengan nama "Abdushamad".[21]
Riwayat Unik Mengenai Abdushamad
Aneka kisah historis yang unik nan sarat enigma kerap disandarkan pada figur Abdushamad.[22] Di antara narasi tersebut adalah klaim tak lazim yang menyatakan bahwa ia meninggal dunia dengan kondisi gigi susunya yang masih utuh bertahan,[23] atau spekulasi anatomis bahwa seluruh struktur giginya telah menyatu dan menebal membentuk satu gumpalan tulang yang solid tanpa celah.[24]
Pada eranya, ia diyakini sebagai satu-satunya individu dengan garis nasab genealogis terdekat yang merujuk lurus pada entitas Abdu Manaf bin Qushay.[25] Melalui kalkulasi genetis ini, jenjang generasi leluhurnya hingga sampai ke akar Abdu Manaf dihitung setara persis dengan jarak nasab Yazid bin Muawiyah, yakni memakan lima putaran generasi. Fenomena ini memicu takjub tersendiri, mengingat terbentang defisit waktu kematian lebih dari rentang satu abad penuh antara dirinya dengan masa eksistensi Yazid.[26]
Anomali kronologis lainnya terekam pada jurang perbedaan usia sejauh 44 tahun antara dirinya dengan saudara kandung laki-lakinya, Muhammad bin Ali (yakni ayahanda dari khalifah Saffah dan Mansyur).[27] Lantaran anugerah umurnya yang berumur panjang menembus palagan rezim Harun al-Rasyid, secara konstelasi kekerabatan, ia memangku takhta genealogis ekstrem sebagai paman langsung dari Saffah dan Mansyur, paman dari ayahanda Mahdi Abbasi, paman dari kakek Hadi Abbasi, sekaligus di waktu yang sama merupakan paman buyut bagi Harun al-Rasyid.[28] Sejarawan papan atas al-Dzahabi membukukan realitas silsilah lintas generasi ini sebagai salah satu kejadian demografis yang amat teramat langka sepanjang sejarah klan Quraisy.[29]
Aktivitas Politik
Abdushamad bin Ali meretas jalannya ke puncak sebagai salah seorang pilar penyokong Saffah Abbasi dalam memuluskan hegemoni suksesi kekuasaan, di mana kiprahnya sarat akan rekam jejak kampanye penaklukan militer.[30] Namun demikian, pasca-mangkatnya Saffah, eskalasi politik kian meruncing tatkala ia berkoalisi bersama saudara-saudaranya—Abdullah dan Shalih—demi mengobarkan kudeta perampasan takhta. Panji pasukan mereka sanggup mendobrak dan mengepung ketat kota Damaskus, memberikan Abdushamad pijakan emas di mana ia sempat mengklaim posisi gubernur di wilayah tersebut. Namun, pendulum takdir segera berbalik pada tahun 137/754-55; gempuran balasan dahsyat dari Mansyur Abbasi menumpas perlawanannya di medan Nashibin, melucuti gelarnya dan menjebloskannya ke dalam rantai pasungan sebagai tawanan imperium.[31] Untungnya, atas pertimbangan politik internal, khalifah Mansyur kelak memberikan pengampunan total dan membebaskannya dari belenggu.[32]
Karier birokratisnya pun mengalami restorasi. Tepat pada gejolak tahun 147/764-65, atas titah legal Mansyur Abbasi, ia dilantik kembali menduduki jabatan strategis sebagai wali wilayah regional Mekah dan Thaif,[33] yang berlanjut mulus mengantarkannya pada kursi kegubernuran bergengsi di Madinah serta Damaskus. Gejolak mutasi sempat menghampirinya tatkala ia dicopot paksa dari status penguasa Madinah di tahun 159/775-76. Kendati demikian, manuver politik di tahun 162/778-79 kembali mendongkrak statusnya sebagai wali imperium atas wilayah otonom Jazirah.[34] Imbas dari friksi tajam berkelanjutan dengan pilar pemerintahan pusat memaksanya kembali merasakan dinginnya jeruji penjara hingga tahun 166/782-83.[35] Namun, fajar kebebasan kembali merekah merangkulnya sewaktu tampuk khilafah diwarisi Harun al-Rasyid, yang merestorasi status elitenya dan menganugerahkannya kebebasan mutlak.[36]
Dalam ranah pelayanan suci, Abdushamad mendedikasikan dirinya saat terpilih sebagai Amirul Haji (Pemimpin Otoritas Jemaah Haji) pada deretan tahun-tahun penting 150/767-68, 155/771-72, dan pamungkasnya di 171/787-88.[37] Ia turut menunaikan kapasitas keagungan yuridis dengan merangkap posisi sentral selaku saksi pengesah di momen krusial kala Harun al-Rasyid menjaminkan pakta perlindungan serta keamanan utuh kepada ulama vokal, Yahya bin Abdullah al-Mahdh, pada kisaran 176/792-93.[38]
Kredibilitas
Dalam membedah neraca kredibilitas Abdushamad, pakar disiplin rijal Syiah memperlihatkan respons yang kian polar. Faksi netral memilih bersikap dingin dengan mengabaikan kalkulasi penilaian kualitatif kredibilitasnya dan hanya sekadar melegitimasi posisinya sebatas audiens murid dari perkumpulan rohani Imam Shadiq as.[39] Bertolak belakang dari kelompok pertama, aliran ahli rijal puritan mengambil manuver ofensif, yang diilhami oleh bocornya dokumen sejarah terkait laporan dugaan verbal penghinaannya merendahkan integritas Imam Kazhim as.[40] Alhasil, dari rahim polemik ini, Abdushamad kerap dilabeli vonis ekskomunikasi kultural secara tak tertulis sebagai perpanjangan musuh para Imam as.[41]
Lebih jauh, preseden friksi tersebut dipantik dari sebuah leksikon riwayat yang merekam narasi kala ia tengah bertamasya menyusuri koridor bersama laskar lingkar sirkelnya, dan tanpa sengaja berpapasan silang dengan Imam Kazhim as yang sedang memacu perlahan seekor bighal (bagal). Tabiat arogansinya meledak melalui bisikan verbal ke arah rombongan koncinya: "Nantikanlah sejenak, aku berjanji akan menyuguhkan pentas komedi murahan bagi kalian sembari memperolok Musa bin Ja'far di muka umum." Sewaktu jarak di antara mereka menipis dan terpangkas, caciannya pun menghantam, "Demi apa gerangan entitas kendaraan kerdil macam ini? Mengandalkan hewan rapuh ini niscaya engkau takkan punya gurat kesempatan melesat menancapkan kejaran terhadap musuh-musuhmu, maupun tak kuasa unjuk nyali bertarung membelah medan palagan peperangan!" Mendapatkan serbuan sarkas tersebut, dengan karisma surgawi Imam Kazhim as membalas setenang telaga: "Ketahuilah, pijakan kakinya menapak sedikit lebih rendah menyentuh tanah ketimbang congkak liarnya arogansi seekor kuda, namun kemuliaan wibawanya bertengger lebih luhur dari kehinaan seekor keledai; lalu renungkanlah bahwasanya pedoman kaidah rasional yang paripurna senantiasa menegaskan bahwa kompromi terbaik adalah dengan memeluk titik tengahnya (Khair al-umur ausathuha)." Tertikam tusukan filsafat kalam sang Imam, Abdushamad terpaku dan dibungkam sepenuhnya secara mental.[42]
Meski narasi anekdot ini sarat akan gesekan psikologis, sebagian pengulas kontemporer menganalisis bahwa secara metodologis, riwayat spontan semacam ini terlampau dangkal untuk direduksi menjadi acuan yuridis pembebanan cacat karakter (dzamm) yang absolut, maupun terlalu hambar untuk dipelintir sebagai klaim pujian terselubung (madh).[43] Namun demikian, ahli ilmu rijal karismatik sekaliber Mamagani melangkah lebih progresif dengan mendudukkannya bersisian dalam barisan kelompok pembangkang politik ideologis yang terang-terangan mendelegitimasi asas kesucian Imamah dari pilar keturunan sakral Imam Husain as.[44] Di kubu yang tak kalah radikal, Muhammad Taqi Syusytari secara gamblang menjabarkan anatomi mental Abdushamad sebagai tiruan persona despotik nan busuk yang mengakar seirama dengan tipikal watak kelam famili kerabat dinastinya.[45] Pada waktu yang sama, sekelompok perumus lain memilih zona aman dengan mengklasifikasikan jejak entitas dan posisinya ke dalam daftar abu-abu sebagai majhul al-hal.[46]
Catatan Kaki
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 9, hlm. 130; Syabastari, al-Faiq fi Ruwah wa Ashhab al-Imam al-Shadiq as, 1418 H, jld. 2, hlm. 236.
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 9, hlm. 130.
- ↑ Syabastari, al-Faiq fi Ruwah wa Ashhab al-Imam al-Shadiq as, 1418 H, jld. 2, hlm. 236.
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 9, hlm. 130.
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 9, hlm. 130.
- ↑ Ibnu al-'Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 11, hlm. 323.
- ↑ Syabastari, al-Faiq fi Ruwah wa Ashhab al-Imam al-Shadiq as, 1418 H, jld. 2, hlm. 236.
- ↑ Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 241.
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 9, hlm. 130.
- ↑ Ibnu al-Jauzi, al-Muntazham, 1412 H, jld. 9, hlm. 104.
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 9, hlm. 130.
- ↑ Syabastari, al-Faiq fi Ruwah wa Ashhab al-Imam al-Shadiq as, 1418 H, jld. 2, hlm. 236.
- ↑ Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-Arab, 1418 H, hlm. 37.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 9, hlm. 17.
- ↑ Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-Arab, 1418 H, hlm. 37.
- ↑ Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 5, hlm. 243.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 36, hlm. 240.
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 9, hlm. 130.
- ↑ Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 6, hlm. 171; Namazi Syahrudi, Mustadrakat 'Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 4, hlm. 435.
- ↑ Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 11, hlm. 39.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 4, hlm. 11.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hlm. 273.
- ↑ Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 9, hlm. 130; Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 6, hlm. 170.
- ↑ Ibnu 'Inabah, Umdah al-Thalib, 1417 H, hlm. 24.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 9, hlm. 417; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 12, hlm. 273.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 HS, jld. 6, hlm. 169.
- ↑ Safadi, al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 18, hlm. 449.
- ↑ Amiri Hardhi, Ghirbal al-Zaman, 1405 H, hlm. 169.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 12, hlm. 272.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 7, hlm. 440.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 7, hlm. 478.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 12, hlm. 270.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 4, hlm. 11.
- ↑ Ibnu Syaddad, al-A'laq al-Khathirah, 1953 M, jld. 3, hlm. 653.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 4, hlm. 11.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 12, hlm. 272.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 36, hlm. 246.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hlm. 243.
- ↑ Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 241; Nuri, Mustadrak al-Wasa'il, 1429 H, jld. 26, hlm. 134.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 6, hlm. 540.
- ↑ Mamagani, Tanqih al-Maqal, t.t., jld. 2, bag. 1, hlm. 153.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 6, hlm. 540.
- ↑ Namazi Syahrudi, Mustadrakat 'Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 4, hlm. 435.
- ↑ Mamagani, Tanqih al-Maqal, t.t., jld. 2, hlm. 153.
- ↑ Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 6, hlm. 170.
- ↑ Syabastari, al-Faiq fi Ruwah wa Ashhab al-Imam al-Shadiq as, jld. 2, hlm. 236.
Daftar Pustaka
- Amiri Hardhi, Yahya bin Abi Bakar. Ghirbal al-Zaman fi Wafayat al-A'yan. Damaskus: Dar al-Khair, 1405 H.
- Baladzuri, Ahmad bin Yahya bin Jabir. Ansab al-Asyraf. Riset: Suhail Zakkar. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
- Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Siyar A'lam al-Nubala. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1414 H.
- Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Riset: Umar Abdussalam Tadmuri. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1413 H.
- Ibnu al-'Imad al-Hanbali, Abdul Hay bin Ahmad. Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar Man Dzahab. Riset: al-Arna'uth. Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1406 H.
- Ibnu al-Jauzi, Abdurrahman bin Ali. al-Muntazham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1412 H.
- Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H.
- Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad. Jamharah Ansab al-Arab. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H.
- Ibnu 'Inabah, Ahmad bin Ali. Umdah al-Thalib fi Ansab Ali Abi Thalib. Qom: Muassasah Anshariyan, 1417 H.
- Ibnu Katsir, Ali bin Abi al-Karam. al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Dar Sadir, 1385 HS.
- Ibnu Syaddad, Muhammad bin Ali. al-A'laq al-Khathirah. Damaskus: al-Ma'had al-Ilmi, 1953 M.
- Khatib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1417 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
- Mamagani, Abdullah. Tanqih al-Maqal fi 'Ilm al-Rijal. t.p, t.t.
- Namazi Syahrudi, Ali. Mustadrakat 'Ilm Rijal al-Hadits. Tehran: t.p, 1414 H.
- Nuri, Husain bin Muhammad Taqi. Mustadrak al-Wasa'il wa Mustanbath al-Masail. Beirut: Muassasah Al al-Bait as, 1429 H.
- Safadi, Khalil bin Aybak. al-Wafi bi al-Wafayat. Beirut: Dar al-Nasyr, 1401 H.
- Syabastari, Abdul Husain. al-Faiq fi Ruwah wa Ashhab al-Imam al-Shadiq as. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1418 H.
- Syusytari, Muhammad Taqi. Qamus al-Rijal. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1410 H.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Rijal al-Thusi. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1373 HS.
- Zirikli, Khairuddin. al-A'lam. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1989 M.