Prioritas: b, Kualitas: a

Padang Arafah

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Arafah)
Lompat ke: navigasi, cari
Padang Arafah di sore hari

Padang Arafah (bahasa Arab: عرفات) merupakan daerah kawasan suci di timur Mekah yang mana para jemaah haji di hari Arafah, sembilan Dzulhijjah, harus hadir di tempat kawasan tersebut. Kehadiran atau yang dikenal dengan nama Wukuf ini, termasuk salah satu rukun untuk haji Tamattu'.

Konsep Pemahaman

  • Kata Arafat, berasal dari kata bahasa Arab yang terbentuk dari huruf "ain, ra dan fa". Gabungan dari huruf-huruf tersebut berarti pengenalan, pengetahuan dan pelajaran dan kata "Ma'rifat" juga dari huruf-huruf tersebut.
  • Dalam karya-karya kuno pengenalan Mekah, seperti buku Akhbar Makkah tulisan Fakihi (Abad 2 Hijriah) pada daerah kawasan ini mereka juga menyebutnya dengan Arafah. Sakhawi penulis sejarah abad sepuluh hijriah penduduk Mekah, menjelaskan bahwa kata Arafat seperti kata Qashabat dan dari setiap sudut/titik kawasan tersebut dinamakan Arafah dan nama keseluruhan kawasan adalah Arafat. [1]
  • Adapun mengapa daerah kawasan tersebut dikatakan Arafat atau Arafah, mengenai hal ini ada beberapa pandangan diantaranya:
  1. Menurut beberapa riwayat, ketika malaikat Jibril mengajarkan manasik haji kepada Nabi Ibrahim as di Arafat, ia berkata kepadanya: "Wahai Ibrahim, apakah engkau telah mengerti dari manasik yang aku ajarkan?" Dan Ibrahim menjawab: "Ya." Dengan demikian, daerah kawasan itu dinamakan Arafat. [2]
  2. Adam dan Hawa, di tempat kawasan ini saling mengenal dan bertemu. [3]
  3. Muslimin di daerah kawasan ini mereka mengakui kesalahan-kesalahan mereka dan memohon ampun di hadapan Allah swt. [4]
  • Dalam Alquran ketika hukum-hukum dan ritual haji Arafat disebutkan, Allah swt berfirman:

«لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُناحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلاً مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرامِ وَ اذْكُرُوهُ كَما هَداكُمْ وَ إِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّين» Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. [5]

Lokasi Geografi

  • Arafat adalah sebuah daerah padang sahara dengan luas kira-kira 18 kilo meter persegi, terletak di timur Mekah, sedikit condong ke selatan, diantara jalan Thaif dan Mekah. Di sekitar kawasan ini terdapat gunung-gunung berbentuk setengah lingkaran.
Panorama Jabal Rahmah di padang Arafah
  • Jabal Rahmah terletak di timur laut Arafat. Gunung ini terpisah dari pegunungan yang ada sehingga daerah kawasan tersebut seakan-akan memagarinya. [6] Gunung ini juga dinamakan dengan nama Jabal Arafat. [7]
  • Dilihat secara hukum fikih, Arafat tidak termasuk bagian dari tanah haram. [8]
  • Dalam beberapa periode sejarah yang berbeda sampai sekarang batasan-batasan Arafat ditandai dengan alamat-alamat dan papan-papan yang jelas. [9]
  • Semenjak dulu batasan-batasan Arafat telah ditetapkan dengan jelas dalam sumber-sumber geografi[10] dan riwayat-riwayat keagamaan kaum muslimin. [11]
  • Semenjak dahulu, Arafat adalah salah satu dari jalan-jalan yang dilalui menuju Thaif dan sebuah air sungai yang mengalir dari Thaif dan sampai ke Mekah lewat melalui Arafat. [12] Sungai kecil ini mereka namakan dengan mata air Zubaidah karena yang membangunnya adalah Zubaidah Khatoon istri Harun al-Rasyid. [13] Dikatakan bahwa seorang bernama Jawad Isfahani yang berasal dari Iran dalam beberapa periode memiliki peran dalam membawa air dari jalan Arafat ke Mekah dan juga membuat beberapa pelayanan di Arafat. [14]

Kepentingan-kepentingan

  • Arafat dengan kewajiban penting haji memiliki jalinan-jalinan dan termasuk dari situs-situs suci Islam. Wukuf di Arafat adalah salah satu rukun haji Tamattu' dan tanpanya haji tidak dapat dilaksanakan. Menurut ajaran Fikih Syiah, para jemaah haji diharuskan menetap di hari kesembilan Dzulhijjah dari mulai zuhur sampai maghrib yang mana amalan ini dinamakan wukuf. [15]
  • Ada riwayat-riwayat hadis yang dinukil dari pemimpin-pemimpin agama yang menegaskan kepentingan Arafat dan wukuf di Arafat dalam kewajiban Haji; seperti «الحَجُّ عرفات؛.» : Haji adalah wukuf di Arafat. Sebelum Islam, penduduk Mekah mereka menganggap bahwa diri mereka adalah ahli tanah haram dan masyarakat yang terpilih dan merasa bahwa mereka tidak dianjurkan untuk melakukan sebagan amalan seperti wukuf di Arafat. [16] Setelah Islam datang, Nabi yang mulia memperkenalkan wukuf sebagai salah satu rukun Haji untuk semua jemaah haji dan dia sendiri melakukan wukuf di Arafat pada haji Wada.
  • Mengingat bahwa pentingnya Arafat dan wukuf di dalamnya, banyak riwayat hadis yang menukil tentang praktek keagamaan ini, salah satunya adalah istighfar dan doa yang mana keduanya termasuk dari amalan-amaln yang memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
  • Menurut beberapa riwayat, menetapnya para jemaah haji di padang Arafat, dapat menyebabkan terampuninya dosa-dosanya, sebagai contoh: Dikatakan dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as yang menjelaskan bahwa: "Orang yang paling berdosa adalah orang yang keluar dari Arafat namun menyangka bahwa ia belum terampuni." [17]
  • Menurut sebagian riwayat bahwa Nabi saw menyampaikan pidato haji Wada'nya di atas gunung Jabal Rahmah yang terletak di Arafat.
  • Arafat dalam beberapa riwayat berkaitan dengan Dahw al-Ardh, di samping Kabah dan padang Mina, dari tempat-tempat yang mana bumi dari situ melebar dan menjadi luas. [18]

Sejarah Singkat

Menurut tradisi lokal, di zaman Nabi Ibrahim dan peristiwa hijrah yang dilakukan oleh istrinya Hajar ke tanah suci Mekah, ada sekelompok kaum Jurhum yang tinggal dan bermukim di Arafat. [19] Sebagain para wartawan geografi lama, menjelaskan bahwa Arafat adalah sebuah desa yang kecil. [20]

Catatan Kaki

  1. Sakhawi, Al-Buldaniyat, hlm.225.
  2. Azraqi, Akhbār Makkah wa ma Jaa Fiha min al-Ātsār, jld.1, hlm.67; Fakihi, Akhbār Makkah fi Qadim al-Dahr wa haditsih, jld.5, hlm. 240.
  3. Sakhawi, Al-Buldaniyat, hlm.225; Bi Azar Syirazi, Bastan Syenasi wa Jugrafiyae Tarikhi Qashash Quran, hlm.240.
  4. Sakhawi, Al-Buldaniyat, hlm.225.
  5. Q.S. Al-Baqarah, 198.
  6. Brusawi, Audhah al-Masalik ila Ma'rifati al-Buldān wa al-Mamalik', hlm.131.
  7. Kurdi, Al-Tarikh al-Qawim li Makkah wa Baitillah al-Karim, jld.1, hlm. 492.
  8. al-Shaduq, Man La yahdhuruhu al-Faqih, jld.2, hlm.464; al-Harawi, al-Isyārāt ila Ma'rifati al-Ziyārāt, hlm. 74.
  9. Ja'fariyan, Ātsār Islami Makkah wa Madinah, hlm. 129 dan 130.
  10. Untuk percontohan, lihat: Ibnu Faqih, al-Buldān, hlm.78; Brusawi, Audhah al-Masālik ila Ma'rifati al-Buldan wa al-Mamalik, hlm.468.
  11. Lihat: al-Shaduq, Man La yahdhuruhu al-Faqih, jld.2, hlm.463.
  12. Syirwani, Bustan al-Siyahah, hlm.463.
  13. Kurdi,al-Tarikh al-Qawim li Makkah wa Baitillah al-Karim, jld.3-5, hlm. 326.
  14. Amini, Baqi' al-Gharqad fi Dirastin Syamilah, Kurdi, al-Tarikh al-Qawim li Makkah wa Baitillah al-Karim, jld.3-5, hlm. 326.
  15. Lihat: Al-Musawi al-Syahrudi, Jami' al-Fatawa Manasik Haj, hlm.173-174.
  16. Al-Thabathabai, Tafsir al-Mizan (terjemahan), jld.1, hlm.241 dan jld.2, hlm.117.
  17. Al-Shaduq, Man La yahdhuruhu al-Faqih, jld.2, hlm.211.
  18. ibid, hlm.241.
  19. Al-Thabathabai, Tafsir al-Mizan (terjemahan), jld.1, hlm.241.
  20. penulis tidak diketahui, (abad 6 H.), Al-Istibshār fi 'Ajaib al-Amshār, hlm.35.


Daftar Pustaka

  • Al-Thabathabai, Muhammad Husain, al-Mizan fi Tafsir Al-Quran, Jamiah Mudarrisin, Qum, 1417 H.
  • Al-Kulaini, Al-Kafi, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Tehran, 1406 H.
  • Al-Musawi al-Syahrudi, Sayid Murtadha, Jami al-Fatawa Manasik Haj(dengan metode baru sesuai dengan fatwa-fatwa sepuluh marja taklid agung) penerbit Masy'ar, Tehran, 1428 H.
  • Al-Thabathabai, Muhammad Husain, Tafsir al-Mizan, terjemahan.
  • Al-Harawi, Ali bin Abu Bakr, al-Isyārāt ila Ma'rifati al-Ziyarāt, riset: Umar Ali, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyah, Cairo, 1423 H.
  • Al-Shaduq, Man La yahdhuruhu al-Faqih, penerbitan: Jamiah Mudarrisin, Qum, 1413 H.
  • Amini, Muhammad Amin, Baqi al-Gharqad fi Dirastin Syamilah, Masy'ar, Tehran, 1428 H.
  • Azraqi, Abu al-Walid, Akhbār Makkah wa ma Jaa Fiha min al-Ātsār, riset: Majlis, Rusydi Shaleh, Beirut, 1416 H.
  • Bi Azar Syirazi, Abdul Karim, Jugrafiyae Qashash Quran, Kantor penerbitan Farhange Islami, cetakan ketiga, Tehran, 1319 H.
  • Brusawi, Muhammad bin Ali, Audhah al-Masalik ila Ma'rifati al-Buldān wa al-Mamalik, Dar al-Gharb al-Islami, Beirut, cetakan pertama, 1427 H.
  • Fakihi, Muhammad bin Ishaq, Akhbār Makkah fi Qadim al-Dahr wa Haditsih, Maktabah al-Asadi-Makkah Mukarramah, cetakan keempat, 1424 H.
  • Ibnu Faqih, Ahmad bin Muhamad, Al-Buldān, editor dan riset: Yusuf A-al-Hadi, Alam al-Kutub, beirut, 1416 H.
  • Kurdi, Muhammad Thair, al-Tarikh al-Qawim li Makkah wa Baitillah al-Karim, Dar Khadhr, Beirut, 1420 H
  • penulis tidak diketahui, al-Istibshār fi 'Ajaib al-Amshār, riset: Abdul Hamid, Sa'ad Zaghlul, dar al-Syu'un al-Tsaqafah, Baghdad, 1986 M.
  • Sakhawi, Muhammad bin Abdurrahman, al-Buldāniyāt, riset: Hisam bin Muhammad Qathan, Dar al-'Atha, Riyadh, 1422 H.
  • Syirwani, Zainal Abidin bin Iskandar, Bustan al-Siyahah, penerbit Sina'i, cetakan pertama, Tehran, tanpa tanggal.