Konsep:Waqifiyyah
WAQIFIYYAH, WAQIFAH, atau MAMTHURAH, merujuk pada sekelompok kaum Syiah yang berhenti pada Imamah Imam Musa al-Kazhim (as), menolak untuk mengakui imamah Imam al-Ridha (as), dan meyakini bahwa Imam al-Kazhim (as) adalah Mahdi yang Dijanjikan yang sedang berada dalam masa ghaibah serta akan melakukan raj'ah. Selain itu, sebutan Waqifah juga ditujukan bagi sekelompok Syiah yang berhenti pada imamah Imam al-Hasan al-Askari (as) dan menganggap beliau sebagai Mahdi yang Dijanjikan. Ali bin Ismail al-Maitsami adalah orang pertama yang menjuluki mereka dengan nama Mamthurah.
Terdapat banyak berita dan teks yang menekankan bahwa penyebab berhentinya kelompok ini pada Imamah Musa bin Jafar (as) adalah karena tergiur oleh harta dan kekayaan melimpah yang terkumpul di tangan mereka. Selain itu, syubhat akidah yang terkadang muncul akibat penyebaran pemikiran baru dan terkadang karena penafsiran yang salah atas beberapa prinsip serta sumber keyakinan, turut berpengaruh dalam pembentukan dan penyediaan landasan bagi gerakan Waqifiyyah.
Orang-orang pertama yang menampakkan keyakinan ini adalah Ali bin Abi Hamzah al-Batha'ini, Ziyad bin Marwan al-Qandi, dan Usman bin Isa al-Ruwasi.
Konsep
Gelar Waqifiyyah telah berulang kali disebutkan dalam buku-buku rijal, sejarah, serta dalam biografi tokoh-tokoh dengan kecenderungan mazhab semacam ini, atau dalam penyebutan mazhab dan sekte Syiah. Istilah ini ditujukan bagi mereka yang di berbagai periode berhenti pada imamah para Imam Syiah, termasuk beberapa pengikut Saba'iyyah, Kaisaniyah, dan Nawusiyyah. Sebagai contoh, Syekh Saduq dalam kitab Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah saat menukil debat antara Ibnu Qubbah al-Razi dan Abu Zaid al-Alawi, menggunakan gelar-gelar seperti "al-Waqifah 'ala Amirul Mukminin", "al-Waqifah 'ala Musa (as)", dan "al-Waqifah 'ala Abi Abdillah" (Imam al-Shadiq).[1] Di bagian lain buku yang sama, ia menyebutkan tentang "al-Waqifah 'ala al-Hasan bin Ali bin Muhammad" yang berkeyakinan bahwa Imam al-Hasan al-Askari (as) telah gaib dan beliau adalah Mahdi al-Qa'im.[2] Naubakhti, selain mengisyaratkan adanya para pengikut yang berhenti (Waqifiyan) bagi masing-masing Imam, menekankan bahwa Waqifiyyah secara mutlak merupakan gelar khusus bagi mereka yang berhenti pada imamah Imam Musa bin Jafar (as). Ia menyatakan: "Setiap dari mereka (para Imam) yang wafat, memiliki Waqifiyyah yang berhenti pada imamahnya, namun gelar ini khusus bagi pengikut Musa bin Jafar (as)".[3]
Jenis-jenis Tawaqquf
Para peneliti dan penulis kontemporer secara umum meyakini bahwa tawaqquf (berhenti) dalam imamah terdiri dari dua jenis:
- Tawaqquf dalam arti umum: Berhentinya sekelompok orang pada imamah salah satu dari Imam Syiah.[4]
- Tawaqquf dalam arti khusus: Berhenti pada imamah Musa bin Jafar (as).[5]
Wahid al-Behbahani meyakini bahwa meskipun gelar Waqifiyyah dapat ditujukan bagi siapa saja yang berhenti pada imamah seluruh Imam, namun jika disebutkan secara mutlak tanpa merujuk pada Imam tertentu, maka yang dimaksud adalah mereka yang berhenti pada imamah Musa bin Jafar (as).[6]
Praktik Waqifi-isme
Pemikiran tawaqquf pertama dalam Islam merujuk pada masa wafatnya Rasulullah (saw). Ketika Nabi (saw) wafat, Umar bin Khattab yang hadir di samping jenazah beliau berseru: "Demi Allah, Muhammad tidak mati, melainkan telah gaib dari kaumnya sebagaimana Nabi Musa dan ia akan segera kembali". Ia terus mengulangi ucapan ini hingga orang-orang mengira ia telah hilang akal.[7] Umar juga mengancam akan memotong tangan dan kaki serta menyiksa bagi siapa pun yang berkeyakinan bahwa Nabi telah wafat lalu hendak melakukan baiat kepada orang lain. Ia mengulangi hal ini dengan sangat keras dan berapi-api hingga menurut laporan yang sampai, mulutnya berbusa.[8]
Berhenti pada Imam Ali (as)
Orang pertama di antara kaum Muslimin yang dijuluki Waqifi adalah Abdullah bin Saba. Abdullah bin Saba, sebagaimana dinyatakan Asy'ari, memiliki pemikiran yang ekstrem dan melampaui batas (ghuluw) sehingga Imam Ali (as) menghukum dia dan para pengikutnya.[9] Namun ketika kabar kesyahidan Ali (as) sampai kepadanya, ia berseru: "Engkau berdusta wahai musuh Allah, demi Allah seandainya engkau membawakan otak kepalanya di dalam wadah kepadaku dan tujuh puluh orang adil memberikan kesaksian atas kematiannya, kami tidak akan menerima ucapanmu dan kami yakin bahwa ia tidak mati, tidak terbunuh, dan tidak akan mati hingga ia menguasai seluruh bumi". Kemudian ia bersama para pengikutnya pergi ke pintu rumah Amirul Mukminin (as) dan meminta izin untuk masuk, dan ketika penghuni rumah menyatakan bahwa beliau telah wafat, ia kembali mengulangi ucapan yang sama.[10]
Naubakhti menyebutkan hal yang sama dengan sedikit lebih ringkas.[11] Menurut penulis Maqalat al-Islamiyyin, kaum Saba'iyyah beranggapan bahwa Ali (as) tidak mati dan akan kembali sebelum kebangkitan (qiyam) serta akan memenuhi bumi dengan keadilan. Pada hakikatnya, mereka meyakini sejenis Raj'ah.[12]
Berhenti pada Imam al-Baqir (as)
Sejumlah Syiah, setelah wafatnya Imam al-Baqir (as), dengan keyakinan bahwa beliau adalah al-Qa'im yang dinantikan, berhenti pada imamah Imam kelima tersebut dan bersandar pada beberapa riwayat dalam hal ini.[13] Sebagaimana ditulis oleh Syahrastani, mereka berhenti pada imamah Hazrat al-Baqir (as) dan berpendapat tentang raj'ah beliau.[14]
Berhenti pada Imam al-Shadiq (as)
Sekelompok Syiah berhenti pada imamah Imam al-Shadiq (as). Mereka berkeyakinan bahwa beliau hidup dan belum wafat serta tidak akan wafat hingga beliau muncul, dan beliau adalah Mahdi yang Dijanjikan. Sekte ini adalah mereka yang dikenal dengan nama Nawusiyyah; karena pemimpin mereka adalah seseorang bernama Nawusi dari penduduk Basra.[15] Syekh Mufid memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai keyakinan mereka dan merujuk pada riwayat-riwayat yang dijadikan sandaran oleh kelompok ini serta menganggapnya batil.[16]
Berhenti pada Imam al-Hasan al-Askari (as)
Mengenai para Imam setelah Musa bin Jafar (as) pun dilaporkan adanya praktik Waqifi; termasuk mengenai Imam al-Hasan al-Askari (as) di mana sejumlah orang berpendapat tentang ghaibah beliau dan Syekh Saduq menyatakan: "Mereka yang berhenti pada al-Hasan bin Ali bin Muhammad, mengklaim bahwa telah terjadi kegaiban padanya, karena mereka mengimani kegaiban namun tidak mengetahui sosok dan subjeknya serta meyakini bahwa beliau adalah Mahdi al-Qa'im."[17] Naubakhti menyatakan: "Para pengikut beliau (Imam al-Askari) setelah beliau terbagi menjadi 14 sekte; satu sekte berkata: al-Hasan bin Ali tidak mati dan masih hidup, melainkan ia telah gaib dan ia adalah al-Qa'im yang tidak akan mati, karena ia tidak memiliki anak dan bumi pun tidak akan kosong dari keberadaan Imam dan hujah Allah. Mereka menyampaikan banyak perkataan Waqifiyyah Musa bin Jafar dan ketika ditanya apa perbedaan antara kalian dan Waqifiyyah, mereka menjawab bahwa Waqifiyyah salah dalam berhenti pada Musa bin Jafar, karena beliau saat wafatnya memiliki anak yang kepadanya beliau berwasiat, yaitu Imam al-Ridha (as)...". Kelompok lain dari Waqifiyyah Imam al-Askari berpendapat tentang raj'ah beliau.[18]
Berhenti pada Anak-anak Imam (as)
Selain mereka yang berhenti pada para Imam (as), terdapat sekte lain yang berhenti pada imamah salah satu putra para Imam. Kelompok pertama dari para Waqifiyan ini adalah Kaisaniyah yang berpendapat tentang imamah Muhammad bin Hanafiyah serta Mahdiisme dan status al-Qa'im baginya. Sekelompok dari mereka setelah wafatnya Muhammad bin Hanafiyah, berhenti pada imamahnya dan berkeyakinan bahwa ia telah gaib dan akan segera keluar (khuruj).[19] Sekelompok dari Kaisaniyah ini yang merupakan pengikut seseorang bernama Ibnu Karb dikenal dengan nama Karbiyyah.[20]
Kelompok lain dari para penganut imamah Muhammad Hanafiyah, menerima imamah putranya Abu Hasyim dan setelah kematiannya terbagi menjadi berbagai kelompok di mana satu kelompok berhenti pada imamah Abu Hasyim dan berpendapat tentang Mahdiisme, status al-Qa'im, serta Raj'ah beliau.[21] Sekte lainnya dari Kaisaniyah berhenti pada imamah dan Mahdiisme Abdullah bin Muawiyah—bin Abdullah bin Jafar. Mereka berkata bahwa ia hidup dan menetap di sebuah gunung di Isfahan, beliau adalah Al-Mahdi yang akan memenuhi bumi dengan keadilan.[22]
Di antara sekte berhenti yang paling penting adalah sekelompok dari Zaidiyyah yang berhenti pada imamah Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang dikenal sebagai Nafs al-Zakiyyah dan menganggapnya sebagai Imam yang hidup dan gaib.[23] Selain itu sekelompok Syiah juga setelah wafatnya Imam al-Baqir (as), condong pada keyakinan ini; di antaranya adalah pengikut Mughirah bin Said yang berpendapat tentang imamah Muhammad Nafs al-Zakiyyah dan ketika ia terbunuh mereka berhenti pada imamahnya.[24]
Ismailiyah, sekte yang berpendapat tentang imamah Ismail putra Imam al-Shadiq (as), terbagi menjadi dua kelompok; satu kelompok menerima imamah Muhammad putra Ismail, namun kelompok lainnya berhenti pada imamah Ismail dan berpendapat tentang Mahdiisme beliau. Mereka berkeyakinan bahwa Ismail tidak mati, melainkan ayahnya Imam al-Shadiq (as) telah menyembunyikannya dari pandangan masyarakat agar tidak celaka. Dan ia akan tetap hidup hingga hari di mana ia menguasai seluruh bumi. Kelompok ini adalah Ismailiyah Khalishah.[25] Namun dari pengikut Muhammad bin Ismail juga ada sekelompok yang berpendapat tentang Mahdiisme beliau dan berhenti pada imamahnya.[26]
Berhenti pada Imamah Orang Lain
Fenomena tawaqquf juga terdapat di tengah sekte non-Syiah, antara lain sekelompok pengikut Abu Muslim al-Khurasani yang mengimani imamahnya dan mengklaim bahwa ia tidak mati, melainkan hidup.[27] Dari para pengikut Abbasiyah juga terdapat sekelompok bernama Rawandiyyah yang memiliki keyakinan serupa dengan kelompok tersebut yang secara bertahap mengklaim Kenabian dan ketuhanan bagi Abu Muslim, lalu Mansyur—khalifah Abbasiyah—membunuh sejumlah dari mereka.[28]
Waqifiyyah Setelah Syahadah Imam al-Kazhim (as)
Setelah syahadah Hazrat Musa bin Jafar (as) Imam ketujuh Syiah, dengan memperhatikan kondisi dan situasi khusus yang mendominasi periode ini, kaum Syiah dan para sahabat beliau dalam masalah imamah dan suksesi beliau terbagi menjadi dua kategori:
- Satu kelompok yang mencakup bagian terbesar kaum Syiah, dengan memperhatikan wasiat Imam (as) serta dalil dan bukti yang cukup, menerima imamah putra beliau, Ali bin Musa al-Ridha (as), dan mengonfirmasi beliau sebagai Imam kedelapan. Kelompok ini, yang juga mencakup para tokoh besar sahabat Imam al-Kazhim (as), dikenal dengan nama Qath'iyyah.[29]
- Namun kelompok lain dari sahabat Imam ketujuh (as) dikarenakan beberapa alasan, menolak untuk mengakui imamah Ali bin Musa al-Ridha (as) atau siapa pun yang lain, dan berhenti pada imamah Hazrat Musa bin Jafar (as). Mereka menyatakan bahwa Musa bin Jafar (as) adalah Imam terakhir dan beliau tidak menentukan siapa pun sebagai Imam, atau setidaknya kami tidak mengetahuinya. Kelompok ini, yang karena pengajuan berbagai keyakinan dapat terbagi menjadi beberapa cabang, dinamakan Waqifiyyah atau Waqifah. Gelar ini meskipun ditujukan pula bagi sekte lain dengan keyakinan serupa, namun tampaknya dengan memperhatikan perluasan kerja mereka dan keberlangsungannya hingga jangka waktu hampir satu abad, gelar Waqifiyyah secara mutlak—setiap kali disebutkan tanpa batasan khusus—dikhususkan bagi sekte ini—yakni Waqifiyyah Musa bin Jafar (as).Templat:M
Nama Lain Waqifiyyah
Kaum Waqifiyan juga dikenal dengan nama Mamthurah. Gelar ini pada asalnya diambil dari susunan kata kilab mamthurah—anjing-anjing yang kehujanan—yang menunjukkan keburukan dan kerendahan para pemimpin kelompok ini. Penyebab mereka dinamakan dengan julukan ini adalah karena dalam sebuah debat antara para pemimpin Waqifiyyah dengan beberapa tokoh besar Syiah seperti Ali bin Ismail al-Maitsami dan Yunus bin Abdurrahman, saat diskusi di antara mereka memanas dan kaum Waqifiyan menolak untuk menerima dalil dan bukti para ulama Syiah, Ali bin Ismail al-Maitsami (atau Yunus bin Abdurrahman) berseru kepada mereka: "Kalian menurut pandanganku lebih rendah daripada anjing-anjing yang kehujanan (kilab mamthurah)".[30] Oleh karena itu, di kalangan Syiah Qath'iyyah, kelompok ini masyhur dengan nama Mamthurah, namun gelar Waqifiyyah lebih mendominasi dan kemasyhuran mereka dengan nama ini lebih besar.
Kredibilitas Riwayat
Menurut perkataan Syekh Thusi dalam kitab al-'Uddah fi Ushul al-Fiqh, jika perawi berasal dari sekte-sekte Syiah seperti Fathiyah, Nawusiyyah, dan Waqifah namun ia tepercaya dalam hal amanah, maka dalam kondisi tidak adanya riwayat yang bertentangan dengan riwayatnya dan kaum Imamiyah tidak mengamalkan yang sebaliknya, maka riwayatnya harus diamalkan. Karena alasan inilah kaum Imamiyah mengamalkan riwayat-riwayat Abdullah bin Bukair dan lain-lain dari Fathiyah, serta riwayat-riwayat Sama'ah bin Mehran, Ali bin Abi Hamzah, Usman bin Isa al-Ruwasi, dan lain-lain dari Waqifah, serta riwayat-riwayat Bani Fadhdhal dan sejenisnya.[31]
Pendapat Berbagai Kelompok Waqifiyyah
Penganut Raj'ah
Dengan syahadah Musa bin Jafar (as), selain Syiah Qath'iyyah yang meyakini wafatnya beliau dan mengakui imamah Ali bin Musa al-Ridha (as), sekelompok Waqifiyan juga menerima wafatnya Imam ketujuh (as) namun karena meyakini beliau adalah sosok yang akan bangkit dari Ahlulbait (al-Qa'im Al-Muhammad), maka mereka menyatakan bahwa beliau akan melakukan raj'ah dan dalam raj'ah tersebut beliau akan bangkit melawan kezaliman dan penindasan. Kelompok ini terbagi menjadi dua kategori:
- Kelompok yang meyakini Imam ketujuh (as) telah mencapai syahadah dan telah wafat, namun beliau adalah Mahdi Qa'im bagi umat dan ketika waktu kebangkitannya tiba beliau akan melakukan raj'ah serta akan memenuhi bumi yang telah dipenuhi kezaliman dengan keadilan. Mereka berargumen dengan ucapan yang dinisbatkan kepada Imam al-Shadiq (as) yang beliau sampaikan mengenai putranya: "Ia memiliki kemiripan dengan Nabi Isa bin Maryam dan akan dibunuh oleh tangan Bani Abbas".[32]
- Namun kelompok lain dari para Waqifiyan ini mengingkari kesyahidan beliau dan berkeyakinan bahwa beliau wafat secara alami lalu Allah mengangkatnya ke langit dan saat kebangkitannya kelak Allah akan menurunkannya ke bumi.[33] Dengan demikian, mereka berbeda pendapat mengenai kualitas wafat dan raj'ah beliau dengan kelompok pertama.
Penganut Ghaibah
Kelompok lain dari Waqifiyan sejak awal dan saat syahadah Musa bin Jafar (as) mengingkari masalah wafatnya beliau dan menyatakan bahwa beliau belum wafat serta masih hidup. Kelompok ini juga di tengah mereka sendiri berselisih mengenai bagaimana ghaibah beliau dan masalah imamah kaum Syiah.Templat:M
- Satu kelompok berkata Musa bin Jafar (as) hidup, belum wafat, dan tidak akan wafat hingga ia menaklukkan seluruh timur dan barat bumi serta memberlakukan keadilan di sana, dan beliau adalah Al-Mahdi serta al-Qa'im Al-Muhammad. Mereka beranggapan bahwa beliau secara rahasia, dengan cara tidak ada orang yang melihatnya, keluar dari penjara kemudian gaib dari pandangan masyarakat serta bersembunyi, namun Sultan dan orang-orang istana mengklaim beliau telah wafat dan membuat masyarakat berhalusinasi. Mereka dalam hal ini bersandar pada sebuah riwayat dari Imam al-Shadiq (as) yang bersabda: "Ia adalah Mahdi Qa'im bagi umat, dan bahkan jika kepalanya yang terpotong dijatuhkan dari puncak gunung maka janganlah percaya karena ia adalah sosok yang akan bangkit dari Ahlulbait".[34]
- Kelompok lain dari kategori yang sama yang mengingkari wafatnya Imam ketujuh (as) berkeyakinan bahwa beliau bahkan tidak dipenjara, melainkan pada hari-hari tersebut beliau menjadi gaib dan saat ini pun beliau hidup serta beliau adalah Mahdi yang Dijanjikan dan al-Qa'im Al-Muhammad. Menurut keyakinan mereka, Musa bin Jafar (as) saat kegaibannya menjadikan salah satu sahabatnya bernama Muhammad bin Bashir sebagai penggantinya dalam urusan-urusannya dan menjadikannya washi beliau serta memberikan cincinnya kepadanya, lalu mengajarkan kepada Muhammad bin Bashir apa-apa yang dibutuhkan masyarakat serta menyerahkan urusan kepadanya. Muhammad bin Bashir juga saat kematiannya menunjuk putranya, Sami' bin Muhammad, sebagai penggantinya dan ia adalah pemimpin masyarakat, dan kemudian siapa pun yang ditunjuk oleh Sami' akan menjadi pemimpin, dan situasi ini akan terus berlanjut hingga Musa bin Jafar (as) muncul dan bangkit.[35] Kelompok ini yang merupakan pengikut keyakinan Muhammad bin Bashir juga dikenal dengan nama Basyiriyyah.[36]
La-Adriyyun (Agnotisisme)
Kelompok ketiga memberikan pendapat yang lebih moderat. Mereka menyatakan bahwa dengan memperhatikan banyaknya berita mengenai bahwa Musa bin Jafar (as) adalah Al-Mahdi dan al-Qa'im sehingga kami tidak dapat mendustakannya di satu sisi, dan di sisi lain adanya berita-berita yang sampai mengenai wafatnya ayah dan leluhur beliau yakni para Imam terdahulu yang semuanya mengonfirmasi kebenaran berita wafatnya Musa bin Jafar (as) serta kami pun tidak dapat mendustakan hal ini, oleh karena itu kami tidak tahu apakah beliau telah wafat atau masih hidup dan kami tidak dapat menegaskan salah satunya serta tidak dapat melampaui imamah beliau pula, maka kami berhenti (tawaqquf) pada masalah ini hingga saat kebangkitan beliau kelak masalah ini menjadi jelas bagi kami.[37] Tampaknya kelompok ini bersikap lebih realistis terhadap masalah tersebut. Namun harus diperhatikan bahwa penyandaran mereka pada riwayat yang datang mengenai status al-Qa'im bagi Imam ketujuh (as) bertentangan dengan spektrum luas riwayat shahih serta mutawatir dalam bab Mahdiisme, sehingga argumentasi mereka menjadi batil. Kelompok ini dikarenakan menyatakan ketidaktahuannya dalam masalah ini dan berkata: "Kami tidak tahu" (La nadri), maka dikenal dengan sekte "La-Adriyyun".[38]
Penganut Ghaibah Pasca Raj'ah
Kelompok keempat menyampaikan keyakinan yang berbeda dari yang lain; mereka di samping menerima bahwa Imam ketujuh (as) telah wafat, mereka juga mengimani kegaibannya. Menurut keyakinan mereka, Musa bin Jafar (as) yang merupakan Mahdi Qa'im telah wafat namun imamah bukanlah jatah dan bagian bagi orang lain hingga saat beliau melakukan raj'ah, dan saat itulah beliau akan muncul serta bangkit. Mereka beranggapan bahwa beliau setelah wafatnya melakukan raj'ah—kembali ke dunia—namun beliau berada di sebuah tempat rahasia (ghaibah) dan para sahabatnya bertemu dengannya serta melihatnya, lalu beliau memberikan perintah-perintah yang diperlukan kepada mereka. Mereka pun dalam hal ini bersandar pada riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa beliau dinamakan al-Qa'im karena beliau bangkit setelah wafatnya.[39]
Baghdadi dalam al-Farqu baina al-Firaq di samping merujuk pada prinsip akidah Waqifah yakni hidupnya Musa bin Jafar (as) dan Mahdiisme beliau, menyebut mereka sebagai Musawiyyah.[40] Dengan demikian, kaum Waqifiyan dengan menyebarkan pendapat-pendapat ini menutupi motivasi asli mereka dalam praktik Waqifi-isme, sedemikian rupa sehingga gerakan Waqifiyyah bertahan selama sekitar satu abad dan tentu saja banyak pendapat serta ucapan tersebut selama masa ini dikemukakan di hadapan para pemimpin dan pendukung Waqifiyyah sebagai dalil serta bukti atas kebenaran mazhab mereka.
Sebab dan Faktor Munculnya Waqifiyyah
Para fukaha dan ulama Syiah menyebutkan berbagai sebab dan faktor mengenai bagaimana munculnya Waqifiyyah; termasuk faktor material dan spiritual. Beberapa analisis tersebut antara lain:
Faktor Material
Syekh Thusi menganggap penyebab berhenti (tawaqquf) pada imamah Musa bin Jafar (as) adalah karena tergiur oleh harta dan kekayaan melimpah yang terkumpul di tangan mereka. Sebagaimana ditulis Syekh Thusi dalam kitab al-Ghaibah, orang-orang pertama yang berhenti pada imamah Imam ketujuh Syiah adalah Ali bin Abi Hamzah al-Batha'ini, Ziyad bin Marwan al-Qandi, dan Usman bin Isa al-Ruwasi yang "tamak pada harta dunia dan menambatkan hati pada remeh-temehnya".[41]
Orang-orang ini yang dianggap Syekh Thusi sebagai para peletak dasar Waqifiyyah, merupakan para wakil Imam ketujuh (as) yang kepadanya kaum Syiah menyerahkan kewajiban finansial mereka agar sampai ke tangan Imam (as), namun dengan wafatnya Imam (as) mereka menahan harta tersebut di tangan mereka sendiri dan menolak menyerahkannya kepada pengganti Imam al-Kazhim (as).Templat:M
Menurut perkataan Yunus bin Abdurrahman, setelah wafatnya Imam al-Kazhim (as), seluruh wakilnya memiliki harta yang banyak dan dikarenakan alasan inilah mereka berhenti pada imamah Imam ketujuh serta menolak menerima imamah Imam al-Ridha (as). Berdasarkan laporan sejarah, Ziyad bin Marwan al-Qandi memiliki delapan puluh ribu dinar, dan Ali bin Abi Hamzah al-Batha'ini memiliki tiga puluh ribu dinar dari kewajiban finansial masyarakat di tangan mereka.[42] Kedua orang ini adalah wakil Imam ketujuh di Irak. Usman bin Isa al-Ruwasi adalah wakil Imam di Mesir yang menurut perkataan Ahmad bin Hammad memiliki harta yang melimpah.[43] Harta-harta ini adalah harta yang terkumpul selama masa panjang pemenjaraan Imam ketujuh dan tidak adanya akses para wakil kepada beliau,[44] sehingga mereka tidak mampu menyerahkannya kepada Imam (as). Setelah wafatnya Imam Musa al-Kazhim, keterikatan pada harta-harta tersebut menyebabkan para wakil Imam mengingkari wafat beliau dan mengklaim bahwa beliau hidup agar dengan cara ini mereka dapat menyimpan harta tersebut bagi diri mereka sendiri.[45] Al-Kasyi dalam biografi Manshur bin Yunus, salah satu wakil Imam (as) lainnya, menyatakan: "Manshur bin Yunus al-Buzurj mengingkari nas (pernyataan) imamah al-Ridha (as) dikarenakan harta yang ada di tangannya".[46] Menurut perkataan al-Najasyi, Yunus bin Abdurrahman juga termasuk orang yang ditawari bahwa jika ia menjadi Waqifi, maka akan diberikan harta yang banyak kepadanya; namun ia menolak tawaran tersebut.[47]
Syubhat Akidah
Syubhat-syubhat akidah yang terkadang muncul akibat penyebaran pemikiran baru dan terkadang karena penafsiran yang salah atas beberapa prinsip serta sumber keyakinan, turut berpengaruh dalam pembentukan dan penyediaan landasan bagi gerakan Waqifiyyah. Di antara syubhat-syubhat terpenting tersebut adalah:
Masalah Usia Imam
- Masalah usia Imam khususnya setelah Imam al-Ridha (as) memicu munculnya syubhat di tengah kaum Syiah, karena pada periode khusus ini, para Imam mencapai imamah pada usia yang muda dan terkadang pada usia kanak-kanak, sehingga hal ini memicu keraguan mengenai imamah mereka. Hal ini menjadi sangat bermasalah khususnya setelah wafatnya Imam al-Ridha (as) dan menjadi salah satu faktor kecenderungan sekelompok kaum Syiah pada pemikiran Waqifiyyah. Apa yang semakin memperparah masalah ini adalah bahwa sejumlah besar sahabat Imam al-Ridha (as) merupakan tokoh-tokoh besar dan sesepuh yang telah mendapati masa Imam ketujuh dan terkadang era Imam al-Shadiq (as), sehingga saat ini sulit bagi mereka untuk menerima imamah putra Imam al-Ridha (as) yang baru berusia tujuh tahun. Beberapa sahabat besar Imam kedelapan (as) terjebak dalam keraguan mengenai masalah imamah Hazrat al-Jawad (as).[48] Bagaimanapun, masalah ini memicu kecenderungan sejumlah Syiah pasca wafatnya Imam kedelapan (as) kepada Waqifiyyah. Mereka dengan merujuk pada usia muda Hazrat al-Jawad (as) menolak imamahnya, kemudian mereka mengingkari imamah Hazrat al-Ridha (as) dengan bersandar pada alasan bahwa beliau tidak memiliki pengganti dan putra yang balig, lalu kembali pada keyakinan Waqifiyyah serta berhenti pada imamah Musa bin Jafar (as). Mereka berargumen bahwa tidak boleh seorang anak kecil yang belum balig menjadi Imam, dan mereka menyatakan jika diperbolehkan bagi Allah untuk memerintahkan ketaatan pada Imam yang belum balig maka diperbolehkan bagi anak kecil yang belum balig untuk dibebani taklif, dan sebagaimana tidak masuk akal jika anak kecil yang belum balig dibebani taklif maka tidak boleh anak kecil yang belum balig menjadi Imam, dan Imam haruslah seorang yang telah balig.[49]
Dengan demikian sekelompok Syiah bertahun-tahun setelah wafatnya Imam Musa bin Jafar (as) berhenti pada imamah beliau. Tentu saja syubhat usia Imam juga telah dikemukakan di tengah para sahabat Imam al-Ridha (as) sebelum wafatnya beliau, dan Imam menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dalam bab ini.[50] Meskipun demikian, hal ini tidak menghalangi kecenderungan orang-orang kepada Waqifiyyah.
Masalah Memandikan Jenazah (Ghusl) Imam
Salah satu dalil kuat di sisi beberapa Waqifiyan adalah riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Imam Maksum setelah wafatnya hanya boleh dimandikan (dimandikan jenazahnya) oleh Imam Maksum yang lain. Oleh karena itu, karena Musa bin Jafar (as) berada di penjara selama bertahun-tahun dan saat wafatnya Hazrat al-Ridha (as) tidak hadir untuk memandikan jenazahnya, maka Ali bin Musa (as) tidak bisa menjadi Imam Maksum dan pengganti Musa bin Jafar (as). Riwayat dengan kandungan "Innal Imama la yaghsiluhu illal Imam" (Sesungguhnya Imam tidak dimandikan kecuali oleh Imam) disebutkan berulang kali dalam sumber-sumber riwayat.[51] Syekh Saduq membawakan beberapa berita ini dalam kitab Uyun Akhbar al-Ridha yang dinukil dari Imam kedelapan, kemudian ia berkata mengenai kebatilan keyakinan dan argumentasi Waqifiyyah:
- "Berita-berita ini aku bawakan dalam buku ini dengan tujuan menolak keyakinan Waqifiyyah Musa bin Jafar (as) yang beranggapan bahwa beliau hidup serta mereka mengingkari Imam al-Ridha (as) dan para Imam setelahnya. Kebenaran wafatnya Musa bin Jafar sudah cukup untuk membatalkan keyakinan mereka. Mereka memiliki perkataan mengenai riwayat-riwayat ini dan berkata bahwa Imam al-Shadiq (as) bersabda: Imam tidak dimandikan kecuali oleh Imam, dan jika Ali bin Musa al-Ridha (as) adalah Imam maka seharusnya ia memandikan jenazah Musa bin Jafar. Tentu saja pada kenyataannya dimandikannya jenazah Musa bin Jafar oleh orang lain tidak menjadi dalil dan hujah bagi mereka, karena Imam al-Shadiq (as) melarang jenazah Imam dimandikan oleh siapa pun selain Imam berikutnya, dan jika orang lain ikut campur dalam memandikan jenazah Imam yang wafat maka imamah Imam berikutnya tidak menjadi batal, dan beliau pun tidak bersabda: Tidak ada Imam kecuali orang yang telah memandikan jenazah Imam sebelumnya, maka argumentasi mereka pada berita-berita ini adalah batil. Selain itu, dalam beberapa berita dinukil bahwa Ali bin Musa memandikan jenazah ayahnya Musa bin Jafar sedemikian rupa hingga tertutup dari pandangan mereka yang hadir".[52]
Syekh Saduq mengemukakan kemungkinan lain bahwa riwayat-riwayat yang disebutkan dalam bab ini yang dinukil dari Imam al-Shadiq (as) semata-mata dikeluarkan oleh beliau khusus mengenai wafatnya Ismail putra beliau dan untuk menunjukkan bahwa Ismail tidak berada dalam derajat imamah.[53]
Syekh Mufid juga memiliki ulasan dalam hal ini yang di dalamnya ia mengisyaratkan bahwa riwayat-riwayat yang datang mengenai hal ini merujuk pada kondisi normal dan alami, bukan dalam keadaan darurat dan mendesak; seperti posisi sulit dan berat yang dipaksakan oleh kaum Abbasiyah pada Imam ketujuh (as) sehingga tidak memungkinkan kehadiran Hazrat al-Ridha (as) di samping ayahnya dan memandikan jenazahnya.[54] Dalam tahun-tahun terakhir, telah dilakukan penelitian-penelitian mengenai makna riwayat memandikan jenazah Imam dan syubhat Waqifiyyah serta penafsiran mereka atas hadis-hadis ini telah ditolak secara terperinci.[55]
Masalah Putra Imam al-Ridha (as)
Termasuk keyakinan niscaya kaum Syiah adalah bahwa imamah berpindah melalui nas ilahi dari seorang Imam ke Imam berikutnya yang merupakan salah satu putranya. Batasan terakhir ini dikarenakan imamah tidak diperbolehkan berada pada dua saudara—kecuali bagi Imam Hasan (as) dan Imam Husain (as). Masalah yang muncul pada masa Imam al-Ridha (as) adalah beliau tidak memiliki anak dalam waktu yang lama, sehingga hal ini menjadi alasan di tangan kaum Waqifiyan. Mereka yang meragukan imamah Hazrat al-Ridha (as), melayangkan protes kepada beliau tentang bagaimana beliau mengklaim imamah sementara beliau tidak memiliki pengganti. Salah satu pemimpin Waqifiyyah bernama Ibnu Qiyama al-Wasithi dalam sepucuk surat kepada Imam al-Ridha (as) menulis: "Bagaimana engkau menjadi Imam sementara engkau tidak memiliki anak?" Imam menulis dalam jawabannya: "Bagaimana engkau tahu bahwa aku tidak memiliki anak, Allah tidak akan mengakhiri malam dan siang—kiasan bagi berakhirnya dunia—hingga Ia menganugerahiku seorang putra yang memisahkan antara yang hak dan batil".[56] Ibnu Qiyama yang sama berkata bahwa ketika Abu Jafar—Imam al-Jawad (as)—lahir, ia pergi menemui Imam al-Ridha (as) dan beliau bersabda kepadanya: "Allah menganugerahiku seorang putra yang mewarisi dariku dan dari keluarga Dawud".[57]
Keyakinan pada Status al-Qa'im
Keyakinan pada kemunculan Mahdi al-Qa'im yang akan menumbangkan kezaliman dan kecurangan dari bumi serta menjadi penegak Keadilan dan kesetaraan merupakan keyakinan asasi kaum Syiah dan bersumber pada penegasan serta pernyataan melimpah dari Rasulullah (saw) dan para Imam (as). Namun beberapa riwayat pada penggalan waktu tertentu mengalami penafsiran yang pada akhirnya berujung pada terciptanya syubhat pemikiran dan akidah, sebagaimana banyak sekte Syiah, khususnya mereka yang berhenti pada imamah, bersandar pada beberapa riwayat yang sama ini. Waqifiyyah Musa bin Jafar (as) juga termasuk kelompok ini yang secara sadar maupun tidak sadar menyajikan penafsiran khusus dari riwayat-riwayat tersebut dan terkadang menyajikan contoh-contoh palsu (j'al) darinya.Templat:M
Salah satu penyebab asasi dalam kemajuan kerja Waqifiyyah dan meluasnya klaim mereka adalah adanya riwayat-riwayat yang dalam satu sisi selaras dengan pendapat mereka atau para pemimpin Waqifiyyah menafsirkannya sedemikian rupa agar membuat klaim mereka tampak benar. Beberapa riwayat ini digunakan oleh para pemimpin Waqifiyyah dalam argumentasi mereka dan bahkan mereka menyebutkannya dalam buku-buku yang sebagian mereka tulis untuk membuktikan keyakinan mereka, di antaranya dalam kitab Nusrah al-Waqifah yang ditulis oleh salah satu tokoh besar Waqifiyyah bernama al-Musawi, ia menukil sebuah riwayat dari salah seorang sahabat Imam al-Shadiq (as) bahwa: "Ketika Abul Hasan putra Imam al-Shadiq (as) lahir, aku membawakan hadiah-hadiah ke hadapan Imam al-Shadiq (as), beliau bersabda kepadaku: Demi Allah sesungguhnya engkau telah menghadiahkannya kepada al-Qa'im Al-Muhammad".[58] Sebagaimana diperhatikan, dalam riwayat ini ditegaskan bahwa Musa bin Jafar (as) adalah al-Qa'im Al-Muhammad.
Syekh Thusi menukil riwayat lain dari mereka bahwa seseorang datang menemui Imam al-Baqir (as) dan bertanya: "Apakah Anda tidak meriwayatkan bahwa Amirul Mukminin (as) di atas mimbar Kufah berkata seandainya dunia hanya tersisa satu hari saja maka Allah akan memperpanjangnya hingga Ia membangkitkan seorang pria dari keluargaku yang akan memenuhi dunia dengan keadilan dan kesetaraan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman dan kecurangan?" Imam al-Baqir (as) menjawab: "Iya". Pria itu berkata: "Apakah ia adalah Anda?" Imam menjawab: "Bukan, melainkan ia memiliki nama yang sama dengan pembelah lautan (Hazrat Musa)".[59] Riwayat ini pun menegaskan bahwa Musa bin Jafar—yang memiliki nama yang sama dengan Hazrat Musa pembelah lautan—adalah al-Qa'im Al-Muhammad.
Waqifiyyah dengan berpegang pada riwayat-riwayat ini dan keyakinan umum kaum Syiah terhadap status al-Qa'im, mulai mempromosikan pendapat serta keyakinan mereka. Mereka membawa sejumlah besar Syiah bersama mereka dan secara bertahap memberikan bentuk serta corak akidah pada tujuan-tujuan mereka, dan hal inilah yang menyebabkan keberlanjutan serta keberlangsungan gerakan dan keyakinan mereka selama sekitar satu abad serta lahirnya para pemikir besar di tengah mereka dan mereka menulis beberapa buku dalam bab mazhab mereka. Sebagian dari riwayat-riwayat ini adalah buatan para pemimpin Waqifiyyah yang mana melalui kontradiksinya dengan riwayat shahih serta prinsip dan landasan Tasyayyu' dapat diketahui kepalsuannya, dan Imam al-Ridha (as) pun dengan keras menghadapi kategori riwayat ini.[60] Kategori riwayat lainnya juga secara sadar maupun tidak sadar telah mengalami distorsi atau diambil penafsiran lain darinya, yang mana Imam (as) di hadapan riwayat-riwayat ini mulai melakukan koreksi dan pembersihan.[61]
Penantian Munculnya al-Mahdi (afj)
Kaum Syiah selama bertahun-tahun telah menanggung banyak kesulitan dan musibah dari pihak penguasa serta khalifah, dan dengan memperhatikan kabar gembira serta janji-janji para Imam (as) mengenai munculnya Mahdi yang Dijanjikan yang akan menumbangkan tatanan kezaliman dan penindasan, mereka senantiasa menantikan kemunculan sang penyelamat ilahi ini. Namun terkadang penantian dan harapan yang bersumber dari akidah yang suci serta murni ini justru berujung pada munculnya kelompok-kelompok dari kaum Syiah.Templat:M
Sejalan dengan hal ini, banyak pula riwayat yang dinukil dari para Imam (as) yang mengajak untuk menantikan kemunculan serta kebangkitan al-Qa'im dan mendorong kaum Syiah pada perkara tersebut. [62] Namun di tengah-tengah ini terkadang mereka mengalami masalah dalam penyelarasan riwayat-riwayat tersebut pada sosoknya (mishdaq), dan inilah masalah yang terjadi mengenai Waqifiyyah. Masa sulit imamah Hazrat Musa bin Jafar (as) yang bersamaan dengan kekhalifahan beberapa khalifah Abbasiyah yang keras, telah membuat kaum Syiah sangat lelah serta tersiksa dan mereka mengharapkan adanya kelapangan dalam urusan serta kemunculan Mahdi yang Dijanjikan. Situasi ini di samping keberadaan banyak hadis mengenai kemunculan Al-Mahdi telah menyiapkan landasan bagi aktivitas para pemimpin Waqifiyyah, pada kenyataannya mereka memanfaatkan situasi ini secara maksimal.
Dengan demikian di bawah pengaruh faktor serta motivasi ini Waqifiyyah terbentuk dan meluas, dan dengan memperhatikan posisi sulit serta berat kaum Syiah dan para Imam (as) yang berlanjut hingga akhir abad ketiga Hijriah yakni masa Ghaibah Shughra, kita menyaksikan adanya perdebatan antara para pemimpin Waqifiyyah dengan para ulama Syiah di mana saat ini kedua kelompok berpendapat tentang kegaiban Al-Mahdi (as) namun mereka berselisih dalam sosoknya.
Penulisan buku-buku mengenai Al-Mahdi (afj) dari pihak Waqifiyyah
Beberapa buku ditulis oleh para pemimpin Waqifiyyah untuk membuktikan pendapat serta ucapan mereka, yang mana meskipun tidak ada satu pun yang tersisa, namun nama-namanya disebutkan dalam sumber-sumber lama. Di antaranya Syekh Thusi menyebutkan kitab Nusrah al-Waqifah yang ditulis oleh salah satu pemimpin Waqifiyyah bernama Ali bin Ahmad al-Musawi al-Alawi.[63] Namun poin yang lebih patut diperhatikan adalah penulisan buku-buku oleh mereka dalam subjek ghaibah Al-Mahdi. Pada kenyataannya para pemimpin Waqifiyyah untuk membuktikan klaim mereka mengenai Mahdiisme dan kegaiban Musa bin Jafar (as) pertama-tama harus membuktikan subjek-subjek ini secara mendasar dan prinsipil kemudian baru membahas mengenai sosoknya—yang menurut klaim mereka adalah Imam ketujuh (as). Oleh karena itu beberapa tokoh besar kelompok ini menyusun buku-buku dalam bab ghaibah di mana waktu penulisan mayoritas buku-buku tersebut merujuk pada masa sebelum kegaiban Imam kedua belas (as). Mereka dalam buku-buku tersebut secara umum menyebutkan riwayat-riwayat yang dinukil dari Rasulullah (saw) dan para Imam (as) mengenai Al-Mahdi serta al-Qa'im Al-Muhammad (afj) kemudian mereka menyelaraskannya pada Imam ketujuh (as) serta memperkenalkan beliau sebagai Mahdi dan al-Qa'im yang dijanjikan tersebut.
Di antara buku yang paling penting adalah kitab al-Ghaibah karya Hasan bin Muhammad bin Sama'ah al-Kufi. Ibnu Sama'ah adalah salah satu pemimpin Waqifiyyah yang paling terkenal yang memiliki karya tulis yang baik dan juga terpelajar dalam Fikih, ia wafat pada tahun 263 H. Ia telah menulis banyak buku, di antaranya adalah kitab al-Ghaibah yang bertemakan kegaiban.[64] al-Najasyi menukil berita-berita mengenai permusuhannya dengan Syiah dan para Imam setelah Musa bin Jafar (as).[65] Termasuk dalam kategori yang sama adalah Ali bin Hasan al-Tathiri yang memiliki kefanatikan keras dalam mazhabnya sendiri dan melakukan permusuhan sengit dengan kaum Syiah Imami. Ia menulis banyak buku dalam mendukung Waqifiyyah, jumlah bukunya yang mayoritas bertemakan fikih dianggap lebih dari tiga puluh buku, [66] di antaranya juga terdapat buku bernama al-Ghaibah.[67]
Karya-karya tulis ini menunjukkan bahwa para pemimpin Waqifiyyah telah memulai aktivitas yang luas untuk menyebarluaskan mazhab mereka. Meskipun demikian, gerakan perpecahan ini tidak bertahan lebih lama dari itu dan setelah ghaibah shughra Imam kedua belas tidak terlihat kehadiran aktif dari kelompok ini, namun perhatian besar para ulama besar Imami seperti Syekh Saduq, Syekh Mufid, dan Syekh Thusi dalam mengkritik serta menolak ucapan dan pendapat Waqifiyyah—yang jika dibandingkan dengan perlakuan mereka terhadap pendapat sekte Syiah lainnya telah mengambil porsi yang cukup besar—menunjukkan urgensi serta sensitivitas arus ini dalam sejarah Tasyayyu'.[68]
Bibliografi
- Barresi-ye Tarikhi-ye Zamine-haye E'teqadi-ye Peydayesy-e Waqifiyyah ditulis oleh Abdul Karim Hassan-pour. Karya ini dengan metode studi dokumen di samping meneliti keyakinan agama serta ajaran akidah masyarakat Syiah pada zaman munculnya Waqifiyyah, berupaya membuktikan klaim bahwa pemikiran Waqifiyyah kontemporer Imam al-Ridha (as) merupakan kelanjutan dan versi yang telah terevolusi dari penyimpangan awal yang terbentuk di pinggiran dua prinsip Syiah "Imamah" dan "Mahdiisme" serta memiliki kemunculan yang bersifat situasional pada berbagai penggalan waktu.[69]
- Waqifah va Hadits-e Imamiyah (ba Ta'kid bar Mafahim-e Imamah, Ghaibah, Raj'ah) ditulis oleh Saeedeh Sadat Mousavi-nia, Muassasah Farhangi Honari Ayandeh Roshan, Qom 1402 H.[70]
- Man Khab Dide-am (Aku Telah Bermimpi), ditulis oleh Fatima Elyasi, Syerkat-e Cyap va Nasyr-e Beinolmelal, Teheran 1400 HS. Buku ini memberikan pandangan fiksi terhadap arus penyimpangan sekelompok Syiah pada masa "Imam al-Kazhim (as)" yang dikenal dengan nama Waqifiyyah dan menolak untuk berbaiat kepada "Imam al-Ridha (as)".[71]
Catatan Kaki
- ↑ Shaduq, Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah, 1416 H, hlm. 101-103.
- ↑ Shaduq, Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah, 1416 H, hlm. 40.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 82.
- ↑ Sobhani, Buhuts al-Milal wa al-Nihal, 1428 H, jld. 8, hlm. 377.
- ↑ Sobhani, Jafar, Buhuts al-Milal wa al-Nihal, 1428 H, jld. 8, hlm. 377.
- ↑ Wahid al-Behbahani, Fawa'id al-Wahid, 1404 H; Rijal Khaqani, hlm. 40.
- ↑ Shaduq, Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah, 1416 H, hlm. 30; Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 2, hlm. 323; Thabari, Tarikh al-Thabari, Mansyurat Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at Beirut, jld. 2, hlm. 442.
- ↑ Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, Penerbit: Dar Shadir - Beirut, jld. 2, hlm. 267.
- ↑ Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 20.
- ↑ Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 20.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 22.
- ↑ Asy'ari, Maqalat al-Islamiyyin, 1405 H, jld. 1, hlm. 85.
- ↑ Baghdadi, al-Farqu baina al-Firaq, 1978 M, hlm. 59.
- ↑ Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, 1956 M, hlm. 147.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 67.
- ↑ Mufid, al-Fushul al-Mukhtarah, 1411 H, hlm. 250.
- ↑ Muhammad bin Ali bin Babawayh, Shaduq, hlm. 40.
- ↑ Naubakhti, 1355 HS, hlm. 96; Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, 1956 M, hlm. 151.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 28; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 26.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 26-27.
- ↑ Naubakhti, 1355 HS, hlm. 34; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 44.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 25; Asy'ari, 1362 HS, hlm. 44.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 62.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 61-62.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 67-68.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 73.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 47; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, 69-70.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 52-53; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 69-70.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 79; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 87.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 239, 92, 81; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 91.
- ↑ Thusi, al-'Uddah, 1417 H, jld. 1, hlm. 150.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 80; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 90.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 81; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 90.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 80; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 89.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 82; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 91.
- ↑ Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 91.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 82; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 91.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 82.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 80; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1362 HS, hlm. 90.
- ↑ Baghdadi, al-Farqu baina al-Firaq, 1978 M, hlm. 46.
- ↑ Thusi, al-Ghaibah, 1417 H, hlm. 42.
- ↑ Shaduq, Ilal al-Syara'i, Maktabah al-Haidariyyah, hlm. 235.
- ↑ Shaduq, Ilal al-Syara'i, Maktabah al-Haidariyyah, hlm. 236.
- ↑ Thabrasi, I'lam al-Wara, 1417 H, hlm. 303.
- ↑ Thabrasi, I'lam al-Wara, 1417 H, hlm. 303.
- ↑ Thusi, Ikhtiyar Ma'rifat al-Rijal, 1348 HS, hlm. 768.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 446.
- ↑ al-Nashiri, al-Waqifiyyah dirasah tahliliyah, 1409 H, jld. 1, hlm. 85.
- ↑ Naubakhti, Firaq al-Syiah, 1355 HS, hlm. 97; Mufid, al-Fushul al-Mukhtarah, 1411 H, hlm. 256.
- ↑ Arbili, Kasyf al-Ghummah, 1364 HS, jld. 2, hlm. 353; Kulaini, al-Kafi, 1362 HS, jld. 2, hlm. 106.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Alu Abi Thalib, jld. 3, 1412 H, hlm. 324; Kulaini, al-Kafi, 1362 HS, hlm. 224-225. Untuk mengetahui seluruh riwayat yang datang mengenai hal ini serta pemeriksaan sanad dan dhalalahnya, lihat: al-Khurasani, "Taghsil al-Imam ka-'alamatin lil-Imamah; dirasah fi al-riwayat al-Imamiyyah".
- ↑ Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, 1404 H, hlm. 105.
- ↑ Shaduq, Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah, 1416 H, jld. 1, hlm. 71.
- ↑ Mufid, al-Irsyad, 1376 HS, hlm. 249.
- ↑ Afi Khurasani, "Vakavi-ye Ehtemal-haye Ma'nayi dar Riwayat al-Imam la Yaghsiluhu illal Imam".
- ↑ Mohammad bin Ya'qub al-Kulaini, al-Kafi, 1362 HS, jld. 1, hlm. 320; Mufid, al-Irsyad, 1376 HS, hlm. 298.
- ↑ Saffar, Basha'ir al-Darajat, 1404 H, hlm. 138.
- ↑ Thusi, Ikhtiyar Ma'rifat al-Rijal, 1348 HS, hlm. 30.
- ↑ Thusi, Ikhtiyar Ma'rifat al-Rijal, 1348 HS, hlm. 33.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1376 HS, jld. 3, hlm. 215.
- ↑ Thusi, Ikhtiyar Ma'rifat al-Rijal, 1348 HS, hlm. 774.
- ↑ Shaduq, Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah, 1416 H, hlm. 286 dan 644; Nu'mani, al-Ghaibah, 1422 H, hlm. 198 dan 200.
- ↑ Thusi, al-Ghaibah, 1417 H, hlm. 30.
- ↑ Thusi, al-Fihrist, 1420 H, hlm. 134.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 41.
- ↑ Thusi, al-Fihrist, 1420 H, hlm. 273.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 255.
- ↑ Thusi, al-Ghaibah, 1417 H, jld. 1, hlm. 43.
- ↑ Situs Alefbalib
- ↑ Situs Ketab.ir
- ↑ Situs Ketab.ir; Situs Mizan Online
Daftar Pustaka
- Afi Khurasani, Mohammad. "Vakavi-ye Ehtemal-haye Ma'nayi dar Riwayat 'al-Imam la Yaghsiluhu illal Imam'". Jurnal Imamat-pajushi, nomor 28, musim gugur dan dingin 1399 HS.
- Al-Nashiri, Riyadh Mohammad Habib. al-Waqifiyyah dirasah tahliliyah. Masyhad, al-Mu'tamar al-Alami li al-Imam al-Ridha (as), 1409 H.
- Arbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah. Qom, Islamiyyah, 1364 HS.
- Asy'ari, Abul Hasan. Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. Beirut, tanpa penerbit, 1405 HS.
- Asy'ari, Sa'ad bin Abdullah. al-Maqalat wa al-Firaq. Teheran, Penerbit Entesyarat-e Elmi va Farhangi, 1362 HS.
- Baghdadi, Abdul Qahir bin Thahir. al-Farqu baina al-Firaq. Beirut, Dar al-Afaq al-Jadidah, 1978 M.
- Ibnu Atsir, Ali bin Mohammad. al-Kamil fi al-Tarikh. Penerbit: Dar Shadir, Dar Beirut, cetakan pertama, 1385 H.
- Ibnu Babawayh al-Saduq, Mohammad bin Ali. Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah. Qom, Daftare Entesyarat-e Islami, 1416 H.
- Ibnu Dawud, Taqiuddin. al-Rijal. Najaf, Nasyr-e Haidariyah, tanpa tahun.
- Ibnu Sa'ad. al-Thabaqat al-Kubra. Penerbit: Dar Shadir - Beirut, tanpa tahun.
- Ibnu Syahr Asyub, Mohammad bin Ali. Ma'alim al-Ulama. Najaf, Haidariyah, 1380 H.
- Ibnu Syahr Asyub. Manaqib Alu Abi Thalib. Beirut, Dar al-Adhwa', 1412 H.
- Khurasani, Mohammad. "Taghsil al-Imam ka-'alamatin lil-Imamah, dirasah fi al-riwayat al-Imamiyyah". Bagian 1 dan 2. Jurnal al-Ijtihad wa al-Tajdid, nomor 53 dan 54, dingin dan semi 2020 M.
- Kulaini, Mohammad bin Ya'qub. al-Kafi. Teheran, Islamiyyah, 1362 HS.
- Mufid, Mohammad bin Mohammad bin Nu'man. al-Irsyad. Teheran, Islamiyyah 1376 HS.
- Mufid, Mohammad bin Mohammad bin Nu'man. al-Fushul al-Mukhtarah fi al-Uyun wa al-Mahasin. Qom, Setad Kongre-ye Syekh Mufid, 1411 H.
- Najasyi, Ahmad bin Ali. Rijal al-Najasyi. Tanpa tempat, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1418 H.
- Naubakhti, al-Hasan bin Musa. Firaq al-Syiah. Najaf, Haidariyah, 1355 HS.
- Nu'mani, Mohammad bin Ibrahim. al-Ghaibah. Qom, Anwar al-Mahdi, 1422 H.
- Saffar, Mohammad bin Hasan. Basha'ir al-Darajat. Qom, Perpustakaan Mar'asye, 1404 H.
- Shaduq, Mohammad bin Ali. Ilal al-Syara'i. Najaf, Maktabah al-Haidariyyah, tanpa tahun.
- Shaduq, Mohammad bin Ali. Uyun Akhbar al-Ridha. Beirut, Nasyr al-A'lami, 1404 H.
- Syahrastani, Mohammad bin Abdul Karim. al-Milal wa al-Nihal. Kairo, Maktabah Anglo, 1956 M.
- Thabari, Mohammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Mansyurat Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at Beirut, tanpa tahun.
- Thabrasi, Fadhl bin al-Hasan. I'lam al-Wara. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), 1417 H.
- Thusi, Mohammad bin al-Hasan. Ikhtiyar Ma'rifat al-Rijal. Masyhad, Fakultas Teologi, 1348 HS.
- Thusi, Mohammad bin al-Hasan. al-'Uddah fi Ushul al-Fiqh. Qom, Setareh, 1417 H.
- Thusi, Mohammad bin al-Hasan. al-Ghaibah. Qom, Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1417 H.
- Thusi, Mohammad bin al-Hasan. al-Fihrist. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), 1420 H.
- Wahid al-Behbahani, Mohammad Baqir. Fawa'id al-Wahid. Qom, Maktab al-A'lam al-Islamiyyah, 1404 H.