Lompat ke isi

Konsep:Taklid kepada A'lam

Dari wikishia

Templat:Hukum Taklid kepada A'lam (Paling Alim) bermakna mengikuti mujtahid yang paling berilmu dalam Hukum-hukum Praktis. Hal ini merupakan fatwa yang masyhur di kalangan para fakih Syiah dan sekelompok mufti Ahlusunnah. Berdasarkan Fatwa ini, dalam hukum-hukum fikih yang mana para Mujtahid memiliki perbedaan pandangan fikih, masyarakat umum Syiah harus melakukan taklid kepada fakih yang a'lam. A'lam adalah orang yang dalam proses mengistimbat (menyimpulkan) hukum-hukum dari teks-teks agama lebih mumpuni daripada para fakih lainnya. Sebagian berpendapat bahwa salah satu syarat ke-a'lam-an adalah pemahaman yang memadai mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada subjek-subjek fikih seiring berjalannya waktu.

Persoalan taklid kepada a'lam telah dikemukakan sejak periode awal Islam dan tahun-tahun pertama masa Ghaibah Kubra, namun pembahasannya meluas pada abad ketujuh melalui Madrasah Fikih Hillah. Banyak fakih Syiah menganggap taklid kepada a'lam adalah Wajib, sementara kelompok kecil lainnya menganggapnya sebagai pilihan (ikhtiyari). Perluasan teori taklid kepada a'lam setelah abad ke-13 H menyebabkan pemusatan otoritas marjaiyah Syiah di hauzah-hauzah ilmiah besar.

Untuk mengenali mujtahid yang a'lam, telah dijelaskan beberapa jalan, dan berdasarkan apa yang tercantum dalam risalah-risalah praktis, kesaksian (bayyinah) dua orang yang mampu mendiagnosis ke-a'lam-an dianggap sudah cukup. Dalam sejarah fikih Syiah, sejumlah marja' taklid telah memperkenalkan fakih yang a'lam setelah mereka, dan dalam beberapa kasus, sekelompok mujtahid Syiah memperkenalkan para fakih a'lam kepada masyarakat.

Kewajiban Taklid kepada A'lam

Teori kewajiban taklid kepada mujtahid yang a'lam dan paling berilmu merupakan teori yang dikenal dalam fikih Syiah sejak awal Ghaibah Kubra[1] dan menurut pernyataan Jannati Syaharudi, pembahasan ini sudah dikemukakan oleh para fakih sebelumnya pada masa kehadiran para Imam Syiah.[2] Mayoritas mutlak fakih Syiah meyakini kewajiban ini.[3] Kedudukan strategis teori ini menyebabkan ia dianggap sebagai peletak dasar terbentuknya institusi terpusat marjaiyah dalam Syiah.[4] Teori ini, bersandingan dengan teori Wilayah Umum, juga menjadi landasan peningkatan kedudukan para fakih dari sekadar mufti (pemberi fatwa) menjadi Hakim Syar'i.[5]

Dalam risalah-risalah praktis disebutkan bahwa jika para mujtahid Syiah memiliki perbedaan pendapat dalam suatu hukum, maka para mukalaf harus mengamalkan pandangan mujtahid yang a'lam.[6] Syarat ini dianggap wajib oleh mayoritas fakih dalam memilih marja' taklid.[7] Jannati Syaharudi, seorang mujtahid dan peneliti sejarah fikih, dalam artikelnya menyebutkan lebih dari 30 fakih yang menerima teori kewajiban taklid kepada a'lam.[8] Beberapa fakih menekankan bahwa bahkan jika mukalaf memiliki kemungkinan (ihtimal) akan ke-a'lam-an seseorang, ia harus bertaklid kepadanya.[9]

Dalam kitab al-'Urwatul Wutsqa dan risalah-risalah praktis setelahnya, kewajiban taklid kepada a'lam sering kali dibatasi pada kemungkinan (imkan) yang ada, dan biasanya dianggap sebagai kehati-hatian wajib (ihtiyat wajib);[10] meskipun terkadang juga disebutkan tanpa batasan tersebut.[11] Banyak fakih juga membatasi keharusan taklid kepada a'lam pada kasus-kasus di mana fatwa para mujtahid berbeda satu sama lain, dan jika dalam suatu masalah tidak terdapat perbedaan, mereka tidak menganggap taklid kepada a'lam sebagai hal yang niscaya.[12]

Dalam masalah tetap bertaklid kepada mujtahid yang telah wafat (baqa' 'ala taklidil mayyit), sekelompok fakih meyakini bahwa jika fakih yang hidup adalah a'lam, maka mukalaf tidak dapat tetap bertaklid kepada mujtahid yang telah wafat.[13] Beberapa ulama Syiah dan Ahlusunnah telah mengemukakan wacana Syura-ye Ifta (Dewan Fatwa),[14] dan dalam kondisi terjadi pertentangan antara pandangan Dewan Fatwa dengan fatwa mujtahid yang a'lam, mereka berpendapat untuk mendahulukan fatwa mujtahid a'lam, namun tentu saja sebagian pihak lainnya mendahulukan pandangan Dewan Fatwa.[15]

Kriteria dan Standar Ke-a'lam-an

Mengenai definisi tepat tentang a'lam dan kriteria ke-a'lam-an seorang fakih dibandingkan yang lain, tidak ada poin yang dilaporkan dari karya para fakih Syiah terdahulu (mutaqaddimin), namun para fakih periode belakangan (muta'akhkhirin) telah memberikan berbagai pandangan.[16]

Syaikh al-Anshari, fakih abad ke-13 H, menganggap a'lam adalah orang yang memiliki malakah istimbat (kecakapan menyimpulkan hukum) yang lebih kuat daripada yang lain,[17] dan beliau sendiri dalam kitab Shirath al-Najat mengatakan bahwa a'lam bermakna orang yang paling ahli dalam mengeluarkan hukum Ilahi dan memahaminya dari dalil-dalil syar'i.[18] Pernyataan Syaikh al-Anshari ini ditafsirkan bahwa sosok a'lam haruslah lebih kuat dalam memahami hadis-hadis serta ayat-ayat Al-Qur'an, lebih kuat dalam mengukuhkan prinsip-prینsip serta kaidah-kaidah fikih dan usul, serta lebih unggul dalam menerapkan kaidah-kaidah umum pada misdaq-misdaq eksternal.[19]

Sayid Mohammad Kazem Yazdi, penulis al-'Urwatul Wutsqa, menganggap a'lam adalah orang yang lebih mengenal kaidah-kaidah serta dokumen-dokumen masalah fikih dibandingkan yang lain, pengetahuannya tentang hadis-hadis dan masalah-masalah serupa juga lebih banyak, dan singkatnya, dari sisi istimbat serta penarikan hukum dari sumber-sumbernya, ia lebih ahli daripada yang lain.[20] Banyak fakih setelah Yazdi juga menerima definisi yang sama.[21]

Mohammad Ebrahim Jannati meyakini bahwa a'lam adalah orang yang dalam proses ijtihad memiliki kesalahan yang lebih sedikit dibandingkan yang lain.[22] Sayid Ali Khamenei, fakih abad ke-15 H, menganggap salah satu syarat ke-a'lam-an adalah adanya pengetahuan yang lebih banyak mengenai situasi zaman dalam mendiagnosis subjek-subjek (maudhu'at) hukum.[23] Dikatakan bahwa teori ini diambil dari pandangan-pandangan Imam Khomeini yang telah mengemukakan peran zaman dan tempat dalam ijtihad sebagai faktor yang berpengaruh dalam mengistimbat hukum-hukum.

Alur Historis Masalah Taklid kepada A'lam

Beberapa pihak menganggap latar belakang sejarah pembahasan taklid kepada a'lam bermula dari era Syaikh Ja'far Kasyif al-Ghitha' (wafat 1128 H) atau Syaikh al-Anshari (wafat 1281 H),[24] namun Jannati Syaharudi, mujtahid dan peneliti periode fikih, meyakini bahwa diskusi mengenai taklid a'lam sudah dikemukakan baik pada masa kehadiran para Imam maupun pada masa Ghaibah Kubra.[25] Sebagaimana Sayid al-Murtadha yang wafat pada 436 H telah membahas hal ini dalam kitabnya adz-Dzari'ah.[26]

Pembahasan mengenai taklid kepada a'lam mulai mendapat perhatian serius di kalangan Imamiyah melalui Madrasah Fikih Hillah. Muhaqqiq al-Hilli (wafat 676 H) sembari mengesampingkan opsi takhyir (memilih bebas) dan dengan menetapkan dasar "balad" (kota), mewajibkan upaya untuk menemukan mujtahid yang paling utama (afdal) di dalam kota.[27] Allamah al-Hilli, tanpa menyinggung masalah kota, menganggap merujuk kepada a'lam sebagai hal yang Wajib, dan mendahulukannya di atas sosok yang aura' (paling saleh).[28]

Dalam fikih era Safawi, pendapat tentang taklid kepada a'lam menjadi dominan[29] dan bahkan dibicarakan pula mengenai pengutamaan a'lam pada masa kehadiran Imam.[30] Dengan transisi menuju abad ke-13 H dan dominasi kembali kaum Ushuliyyun, urgensi taklid kepada a'lam juga memperoleh kepentingan yang lebih dari sebelumnya[31] dan bahkan diklaim adanya Ijmak atas kewajiban taklid kepada a'lam.[32]

Mengenali A'lam

Dalam risalah-risalah praktis, disebutkan tiga jalan untuk mengenali mujtahid yang a'lam:

  • Individu itu sendiri merupakan ahli ilmu dan mampu mengenali mujtahid yang a'lam.
  • Dua orang alim yang adil yang mampu mengenali mujtahid a'lam memperkenalkan sosok tersebut; tentu saja dengan syarat dua orang alim adil lainnya tidak menentang pernyataan mereka.
  • Sekelompok ahli ilmu yang mampu mendiagnosis mujtahid a'lam memberikan kesaksian (tashdiq) atas ke-mujtahid-an atau ke-a'lam-an seseorang, sehingga dari pernyataan mereka diperoleh keyakinan (ithmi'nan).[33]

Jannati Syaharudi telah menyusun daftar 13 nama marja' taklid yang sebelum wafatnya telah menentukan sosok a'lam setelah mereka.[34] Pada tahun 1349 HS setelah wafatnya Sayid Mohsen Hakim, dua belas orang profesor Hauzah Qom dalam berbagai pernyataan menegaskan marjaiyah Imam Khomeini.[35] Begitu pula pada tahun 1373 HS setelah wafatnya Mohammad-Ali Araki, beberapa organisasi ulama seperti Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom dan Jami'ah Ruhaniyat-e Mobarez Tehran memperkenalkan sejumlah fakih Syiah sebagai mujtahid jami'us syarait.[36]

Dalil-dalil Keharusan Taklid kepada A'lam

Beberapa dalil disebutkan dalam kitab-kitab fikih mengenai keharusan taklid kepada a'lam.[37] Di antaranya adalah penyandaran pada hadis-hadis yang berkaitan dengan solusi perbedaan pandangan di antara para hakim,[38] seperti Maqbulah Umar bin Hanzhalah di mana para Imam Syiah menganjurkan untuk merujuk kepada sosok yang "afqah" (paling fakih).[39] Penyandaran pada Ijmak juga termasuk di antara dalil yang dijadikan sandaran bagi keharusan taklid kepada a'lam dan beberapa fakih telah menukilnya.[40] Beberapa pihak juga berpendapat bahwa mengamalkan fatwa fakih adalah untuk mencapai hukum yang sesungguhnya (riil), dan fatwa a'lam karena lebih kuat serta lebih teliti, maka ia lebih dekat kepada realitas daripada fatwa non-a'lam, sehingga lebih wajib untuk dilaksanakan.[41]

Dalil Akal

Salah satu dalil keharusan taklid kepada a'lam dijelaskan demikian bahwa kemungkinannya adalah antara Fatwa mujtahid a'lam dan non-a'lam keduanya sama-sama merupakan hujah secara opsional, atau hanya fatwa mujtahid a'lam saja yang merupakan hujah syar'i. Dalam analisis ini, jelas bahwa kehujahan fatwa a'lam bersifat meyakinkan (yaqini) sementara kehujahan fatwa non-a'lam bersifat meragukan (masykuk). Maka akal menghukumi bahwa taklid kepada a'lam adalah wajib dan merujuk kepada selainnya tidak diperbolehkan.[42]

Lainnya adalah argumen bahwa dalil-dalil legitimasi taklid tidak mencakup kasus-kasus kontradiksi dan perbedaan pendapat, maka seseorang haruslah melakukan ikhtiyat (kehati-hatian) atau bertaklid kepada a'lam. Dikarenakan ikhtiyat tidak mungkin dilakukan oleh mukalaf dalam semua kasus, maka satu-satunya jalan di hadapannya adalah taklid kepada a'lam. Selain itu, alasan utama legitimasi prinsip taklid adalah sirah uqala (tradisi orang-orang berakal), dan sirah uqala dalam seluruh profesi serta seni dalam kasus perbedaan para ahli adalah dengan merujuk kepada yang paling ahli (a'lam).[43]

Kebolehan Taklid kepada Non-A'lam dan Dalilnya

Di samping banyaknya monograf yang ditulis mengenai kewajiban taklid a'lam, hanya terdapat beberapa kasus terbatas seperti karya Mohammad bin Sulaiman Tonkaboni (wafat: 1302 H) berjudul Taqlid al-A'lam dan Mohammad Ali Arani (wafat: 1325 H) berjudul al-Ijtihad wa al-Taqlid yang disusun untuk menafikan kewajiban tersebut.[44]


Mereka yang menganggap taklid kepada non-a'lam diperbolehkan berpendapat bahwa dalam ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang dijadikan sandaran dalam subjek taklid, tidak disebutkan kriteria ke-a'lam-an. Sebagai jawaban atas argumen ini dikatakan bahwa dalil-dalil tersebut hanya mencakup kasus-kasus kesepakatan pandangan para mujtahid dan tidak mencakup kasus perbedaan pendapat, karena jika demikian maka akan berujung pada pengumpulan dua hal yang kontradiktif (jam'u al-naqidhain).[45] Beberapa pihak juga menganggap kewajiban taklid kepada a'lam menyebabkan usr wa haraj (kesulitan yang berat) bagi para mukalaf, karena menentukan konsep a'lam serta mendiagnosis misdaq-nya maupun mempelajari pandangan-pandangan serta fatwa-fatwanya akan mendatangkan kesulitan. Namun dikatakan bahwa mengenali misdaq a'lam dapat diperoleh melalui rujukan kepada para ahli khibrah dan kemasyhuran yang mendatangkan ketenangan, serta mempelajari fatwa-fatwa pun tidaklah terlalu sulit.[46]

Dalil lain dari para pendukung kebolehan taklid non-a'lam adalah bersandar pada Sirah Mutasyarri'ah dan kaum mukminin; mereka berpendapat bahwa jika taklid kepada a'lam adalah sebuah keharusan, maka pada masa kehadiran para maksum seharusnya tidak ada seorang pun yang merujuk kepada orang lain untuk meminta fatwa (istifta) dan bertanya, sementara para Imam sendiri merujuk orang-orang kepada beberapa sahabat mereka.[47] Sebagaimana meskipun terdapat ke-a'lam-an dari beberapa Sahabat, masyarakat tetap merujuk kepada mereka semua.[48] Sebagai jawaban atas dalil ini dikatakan bahwa kewajiban taklid kepada a'lam dikhususkan untuk kasus-kasus perselisihan, sementara keberadaan perselisihan antara para Imam dan para sahabat mereka tidaklah diketahui.[49] Juga dikatakan bahwa sirah mutasyarri'ah adalah bahwa mereka menanyakan hukum-hukum syar'i yang dihadapi kepada setiap alim mana pun dan tidak berkomitmen untuk hanya bertanya kepada a'lam.[50]

Taklid kepada A'lam dalam Fikih Ahlusunnah

Dalam Ahlusunnah, masalah taklid kepada a'lam dikemukakan bersamaan dengan penyusunan pembahasan-pembahasan awal taklid pada abad keempat Hijriah. Sekelompok ulama Ahlusunnah berpandangan bahwa dalam kondisi terdapat banyak mujtahid, orang-orang memiliki pilihan (mukhayyar) untuk merujuk kepada yang mana saja, dan sekelompok lainnya menganggap taklid kepada a'lam sebagai hal yang darurat.[51] Para fakih Hanafi, Maliki, Ahmad bin Hanbal, dan mayoritas Syafi'iyah telah menerima syarat ke-a'lam-an.[52] Namun Qadhi Abu Bakar Baqillani dan sekumpulan fakih Hanbali menganggap taklid kepada non-a'lam diperbolehkan.[53]

Catatan Kaki

  1. Hajiali, "A'lam: Tabyin-e Mafhum, Ta'yin-e Misdaq", hal. 58.
  2. Jannati, "Seir-e Tarikhi-ye Taqlid az A'lam", hal. 18.
  3. Jannati, "Seir-e Tarikhi-ye Taqlid az A'lam", hal. 20.
  4. Sabourian, Takvin-e Nahad-e Marja'iyat-e Taqlid-e Syiah, 1398 HS, hal. 101.
  5. Sabourian, Takvin-e Nahad-e Marja'iyat-e Taqlid-e Syiah, 1398 HS, hal. 101-102.
  6. Taudhih al-Masail al-Maraji', bagian Taklid, masalah 2.
  7. Pusat Informasi dan Dokumentasi Islam, Farhang-nameh Ushul Feqh, 1389 HS, hal. 349; Hakim, Mustamsak al-'Urwah al-Wutsqa, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 1, hal. 25.
  8. Jannati, "Seir-e Tarikhi-ye Taqlid az A'lam", hal. 20-22.
  9. Taudhih al-Masail al-Maraji', bagian Taklid, masalah 4.
  10. Yazdi, al-'Urwatul Wutsqa, 1417 H, jld. 1, hal. 6; Khoei, al-Ijtihad wa al-Taqlid, 1410 H, hal. 134; Khomeini (Imam), Tahrir al-Wasilah, 1407 H, jld. 1, hal. 8.
  11. Taudhih al-Masail Ayatullah Sayid Husain Borujerdi, bagian Taklid, masalah 1.
  12. Zahiri, "Naqd-e Nazhariyeh-ye 'Adam-e Ta'ayyun-e Taqlid az A'lam", hal. 55.
  13. Bani-Hashemi, Taudhih al-Masail al-Maraji', 1381 HS, jld. 1, hal. 21-23.
  14. Thaleqani, "Tamarkuz wa 'Adam-e Tamarkuz-e Marja'iyat wa Fatwa", hal. 277; Jaza'iri, "Taqlid-e A'lam ya Syura-ye Fatwa", hal. 283.
  15. "Nazharkhahi az Fuqaha Piramun-e Masayel-e Feqhi wa Hoquqi", hal. 116-122.
  16. Hajiali, "A'lam: Tabyin-e Mafhum, Ta'yin-e Misdaq", hal. 60.
  17. Anshari, Matharih al-Anzhar, 1404 H, hal. 277.
  18. Anshari, Shirath al-Najat, 1373 HS, hal. 31.
  19. Zahiri, "Naqd-e Nazhariyeh-ye 'Adam-e Ta'ayyun-e Taqlid az A'lam", hal. 52.
  20. Tabatabaei Yazdi, al-'Urwatul Wutsqa, 1409 H, jld. 1, hal. 7-8.
  21. Zahiri, "Naqd-e Nazhariyeh-ye 'Adam-e Ta'ayyun-e Taqlid az A'lam", hal. 52.
  22. Jannati, "Nazhariyeh-ye Ta'ayyun-e Taqlid az A'lam", hal. 102.
  23. Khamenei, Risalah Ajwibah al-Istifta'at, 1424 H, hal. 3-4.
  24. Jannati, "Seir-e Tarikhi-ye Taqlid az A'lam", hal. 18.
  25. Jannati, "Seir-e Tarikhi-ye Taqlid az A'lam", hal. 18.
  26. Sayid al-Murtadha, adz-Dzari'ah ila Ushul al-Syari'ah, 1376 HS, jld. 2, hal. 325.
  27. Muhaqqiq al-Hilli, Ma'arij al-Ushul, 1403 H, hal. 201.
  28. Allamah al-Hilli, Qawa'id al-Ahkam, 1413 H, jld. 3, hal. 420; Allamah al-Hilli, Irsyad al-Adzhan ila Ahkam al-Iman, 1410 H, jld. 2, hal. 138; Allamah al-Hilli, Mabadi al-Wushul ila 'Ilm al-Ushul, 1403 H, hal. 248.
  29. Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqashid fi Syarh al-Qawa'id, 1414 H, jld. 2, hal. 76; Muqaddas Ardabili, Majma' al-Faidah wa al-Burhan, 1403 H, jld. 12, hal. 20 dan 95.
  30. Syahid Tsani, Masalik al-Afham ila Tanqih Syara'i' al-Islam, 1413 H, jld. 13, hal. 343; Naraqi, Mustanad al-Syiah fi Ahkam al-Syari'ah, 1415 H, jld. 17, hal. 46.
  31. Sebagai contoh lihat: Wahid Behbahani, Hasyiyah Majma' al-Faidah, 1417 H, hal. 753.
  32. Akhund Khorasani, Kifayah al-Ushul, 1409 H, hal. 475.
  33. Bani-Hashemi, Taudhih al-Masail al-Maraji', 1381 HS, jld. 1, hal. 15, masalah 3.
  34. Jannati, "Seir-e Tarikhi-ye Taqlid az A'lam", hal. 27-28.
  35. Rouhani (Ziarati), Nahdhat-e Imam Khomeini, 1364 HS, jld. 27, hal. 569-571.
  36. Surat Kabar Ettela'at, No. 20359, 12 Azar 1373 HS, hal. 1.
  37. Khoei, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 158.
  38. Khoei, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 158-159.
  39. Hurr al-Amili, Wasail al-Syiah, 1374 H, jld. 27, hal. 106-107.
  40. Akhund Khorasani, Kifayah al-Ushul, 1409 H, hal. 475.
  41. Khoei, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 159.
  42. Khoei, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 163-164.
  43. Khoei, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 162-163.
  44. Agha Bozorg Tehrani, adz-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, 1408 H, jld. 4, hal. 390 dan jld. 1, hal. 272; Hakim, Mustamsak al-'Urwah al-Wutsqa, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 1, hal. 25.
  45. Khoei, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 136.
  46. Khoei, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 139-140.
  47. Khoei, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 140-141.
  48. Husseini Hanafi, Taisir al-Tahrir, jld. 4, hal. 251.
  49. Khoei, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 141.
  50. Khoei, al-Tanقih fi Syarh al-'Urwatul Wutsqa, 1407 H, jld. 1, hal. 140-141.
  51. Jashshash, al-Fushul fi al-Ushul, 1420 H, jld. 2, hal. 372; Abu Ya'la, al-'Uddah fi Ushul al-Feqh, 1410 H, jld. 4, hal. 1226; Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, 1375 H, jld. 1, hal. 186; Qurthubi, al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1972 M, jld. 2, hal. 211.
  52. Ghazali, jld. 2, hal. 404; Husseini Hanafi, Taisir al-Tahrir, 1403 H, jld. 4, hal. 251.
  53. Husseini Hanafi, Taisir al-Tahrir, 1403 H, jld. 4, hal. 251; Hakim, al-Ushul al-'Ammah lil-Feqh al-Muqaran, 1418 H, hal. 637.

Daftar Pustaka

  • Akhund Khorasani, Muhammad Kazem bin Husain. Kifayah al-Ushul. Qom, Muassasah Alu al-Bait as li-Ihya al-Turats, 1409 H.
  • Agha Bozorg Tehrani, Mohammad Mohsen. adz-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah. Beirut, 1403 H/1983 M.
  • Abu Ya'la, Muhammad bin Husain. al-'Uddah fi Ushul al-Feqh. Riset: Ahmad bin Ali Seir Mubaraki. Riyadh, tanpa penerbit, 1410 H/1990 M.
  • Anshari, Murtadha bin Muhammad Amin. Shirath al-Najat. Qom, Kongres Peringatan Syaikh al-Anshari, 1373 HS.
  • Anshari, Murtadha bin Muhammad Amin. Matharih al-Anzhar. Disusun oleh Abolqasem Kalantari. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, 1404 H.
  • Bani-Hashemi, Sayid Mohammad Hossein. Taudhih al-Masail al-Maraji'. Daftar-e Entesyarat-e Eslami, Qom, 1381 HS.
  • Risalah Taudhih al-Masail Ayatullah Sayid Husain Borujerdi. Teheran, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, tanpa tahun.
  • Jaza'iri, Sayid Murtadha. "Taqlid-e A'lam ya Syura-ye Fatwa". Dalam Bahtsi darbareh Marja'iyat wa Ruhaniyat. Teheran, Sadra, 1397 HS.
  • Jashshash, Ahmad bin Ali. al-Fushul fi al-Ushul. Riset: Mohammad Mohammad Tamer. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1420 H/2000 M.
  • Jannati, Mohammad Ebrahim. "Seir-e Tarikhi-ye Taqlid az A'lam". Keihan-e Andisheh, No. 6, Khordad dan Tir 1365 HS.
  • Jannati, Mohammad Ebrahim. "Nazhariyeh-ye Ta'ayyun-e Taqlid az A'lam". Keihan-e Andisheh, No. 51, Azar dan Dey 1372 HS.
  • Hajiali, Fariba. "A'lam: Tabyin-e Mafhum, Ta'yin-e Misdaq". Dalam Feqh wa Hoquq-e Khanevadeh, No. 37-38, Musim Semi dan Musim Panas 1384 HS.
  • Husseini Hanafi, Muhammad Amin. Taisir al-Tahrir. Beirut, tanpa penerbit, 1403 H/1983 M.
  • Hakim, Sayid Mohsen. Mustamsak al-'Urwah al-Wutsqa. t.p., Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Hakim, Sayid Mohammad Taqi. al-Ushul al-'Ammah lil-Feqh al-Muqaran. Qom, Majma' Jahani Ahlulbait as, 1418 H/1997 M.
  • Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syiah. Qom, Muassasah Alu al-Bait as li-Ihya al-Turats, 1374 HS/1416 H.
  • Khamenei, Sayid Ali. Risalah Ajwibah al-Istifta'at. Qom, Kantor Pemimpin Besar, 1424 H.
  • Khomeini (Imam), Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Beirut, tanpa penerbit, 1407 H/1987 M.
  • Khoei, Sayid Abul Qasim. al-Tanqih fi Syarh al-'Urwah al-Wutsqa. Disusun oleh Ali Gharavi Tabrizi. Qom, Lutfi, 1407 H.
  • Khoei, Sayid Abul Qasim. al-Ijtihad wa al-Taqlid. Qom, tanpa penerbit, 1410 H.
  • Rouhani (Ziarati), Sayid Hamid. Nahdhat-e Imam Khomeini - Jilid 2. Organisasi Publikasi dan Pendidikan Revolusi Islam. Teheran, 1364 HS.
  • Sayid al-Murtadha, Ali bin Husain. adz-Dzari'ah ila Ushul al-Syari'ah. Koreksi: Abolqasem Gorji. Universitas Teheran, Teheran, 1376 HS.
  • Sistani, Sayid Ali. Minhaj al-Shalihin. Qom, Kantor Ayatullah Sayid Sistani, 1416 H.
  • Syahrastani, Muhammad. al-Milal wa al-Nihal. Riset: Mohammad Badran. Kairo, tanpa penerbit, 1375 H/1956 M.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham ila Tanqih Syara'i' al-Islam. Qom, Muassasah al-Ma'arif al-Islami, 1413 H.
  • Sabourian, Mohsen. Takvin-e Nahad-e Marja'iyat-e Taqlid-e Syiah. Lembaga Riset Budaya, Seni dan Komunikasi. Teheran, 1398 HS.
  • Thaleqani, Sayid Mahmoud. "Tamarkuz wa 'Adam-e Tamarkuz-e Marja'iyat wa Fatwa". Dalam Bahtsi darbareh Marja'iyat wa Ruhaniyat. Teheran, Sadra, 1397 HS.
  • Tabatabaei Yazdi, Sayid Mohammad Kazem. al-'Urwatul Wutsqa. Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, Beirut, 1409 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Qawa'id al-Ahkam. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1413-1419 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Irsyad al-Adzhan ila Ahkam al-Iman. Riset: Fares Hassoun. Qom, Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, 1410 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Mabadi al-Wushul ila 'Ilm al-Ushul. Riset: Abdul Hossein Mohammad Ali Baqqal. Qom, al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, 1404 H/1984 M.
  • Pusat Informasi dan Dokumentasi Islam. Farhang-nameh Ushul Feqh. Lembaga Riset Ilmu dan Budaya Islam. Qom, 1389 HS.
  • Qurthubi, Muhammad. al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Riset: Ahmad Abdul Alim Barduni. Kairo, tanpa penerbit, 1972 M.
  • Muhaqqiq al-Hilli, Ja'far bin Hasan. Ma'arij al-Ushul. Riset: Mohammad Hossein Radhawi. Qom, Muassasah Alu al-Bait as li-Ihya al-Turats, 1403 H.
  • Muhaqqiq Karaki, Ali bin Husain. Jami' al-Maqashid fi Syarh al-Qawa'id. Qom, Muassasah Alu al-Bait as li-Ihya al-Turats, 1414 H.
  • Muqaddas Ardabili. Majma' al-Faidah wa al-Burhan. Riset: Ali Panah Esytehardi dkk. Qom, 1403 H.
  • Naraqi, Ahmad bin Mohammad-Mahdi. Mustanad al-Syiah fi Ahkam al-Syari'ah. Qom, 1415 H.
  • Wahid Behbahani, Mohammad Baqer. Hasyiyah Majma' al-Faidah wa al-Burhan. Qom, Muassasah al-Allamah al-Mujaddid al-Wahid al-Behbahani, 1417 H.