Konsep:Ijab dan Qabul
Ijab dan Qabul termasuk rukun dari akad-akad syariat atau kontrak, dan melalui keduanya, maksud serta kehendak para pihak yang berkonstrak untuk melakukan transaksi menjadi jelas. Ijab adalah tawaran untuk melakukan transaksi kepada seseorang, dan qabul adalah penerimaan tawaran tersebut oleh orang tersebut. Hukum dan syarat-syarat ijab serta qabul dalam ilmu Fikih dibahas dalam topik yang berkaitan dengan akad-akad syariat.
Sebagian fakih berdasarkan riwayat-riwayat telah menyebutkan syarat-syarat bagi ijab dan qabul dalam akad-akad lazim; yaitu akad-akad yang tidak dapat dibatalkan oleh para pihak tanpa kerelaan satu sama lain, seperti akad jual beli, akad nikah, dan lain-lain. Di antara syarat-syarat tersebut adalah bahwa ijab dan qabul harus dilakukan dengan mengucapkan lafal-lafal khusus, di mana lafal-lafal ini harus diucapkan dalam bahasa Arab yang benar dan secara tegas menunjukkan pelaksanaan transaksi yang dimaksud. Ijab harus mendahului qabul dan tidak boleh ada jarak waktu yang lama atau hal lain di luar lafal akad di antara keduanya. Selain itu, tidak boleh ada perbedaan antara ijab dan qabul dari segi isi dan kandungan.
Menurut pandangan para fakih ini, dalam akad-akad semacam itu, jika salah satu dari syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi, maka akad tidak dianggap terjadi. Dalam akad-akad lainnya, yaitu akad-akad yang masing-masing pihak dapat membatalkannya kapan saja mereka mau (akad ja'iz) seperti akad Wakalah, Wadiah, dan lain-lain, pemenuhan syarat-syarat ini tidaklah wajib, dan akad atau kontrak tetap sah tanpa syarat-syarat tersebut.
Lafal-lafal ijab dan qabul dalam fikih disebut juga sebagai "shighah" atau "shighah akad".
Konsep dan Kedudukan
"Ijab" adalah tawaran untuk melakukan transaksi kepada seseorang, dan "qabul" adalah penerimaan tawaran tersebut oleh orang tersebut. [1] Templat:Catatan Maksud dan kehendak para pihak yang berkontrak untuk melakukan transaksi menjadi jelas melalui ijab dan qabul; [2] oleh karena itu, dikatakan bahwa ijab dan qabul termasuk rukun dari setiap kontrak atau akad [3] dan tanpanya, kontrak atau akad tidak memiliki dampak maupun otoritas hukum. [4]
Para pihak dalam akad, yaitu penawar (muujib) dan penerima (qabil), serta objek yang ditransaksikan (iwadh) termasuk rukun-rukun lain dari setiap akad dan kontrak. [5] Lafal-lafal ijab dan qabul dalam fikih disebut juga sebagai "shighah" atau "shighah akad". [6]
Ijab dan qabul digunakan dalam kitab-kitab fikih perdagangan (matajir), [7] utang (dain), [8] gadai (rahn), [9] jaminan (dhaman), [10] damai (sulh), [11] Mudharabah, [12] titipan (wadiah), [13] Muzara'ah dan Musaqah, [14] sewa (ijarah), [15] perwakilan (wakalah), [16] wasiat (washaya) [17] dan nikah. [18] Para fakih dalam karya-karya mereka tidak menyajikan definisi yang gamblang dan eksplisit mengenai ijab dan qabul, dan hanya menjelaskan hukum-hukum yang berkaitan dengannya di sela-sela pembahasan fikih. [19]
Syekh Ansari dalam bagian jual beli (bay') di kitab al-Makasib, di bawah pembahasan "Lafal-lafal Akad Jual Beli", telah membahas secara mendalam mengenai syarat dan hukum ijab serta qabul dalam kontrak-kontrak syariat. [20] Dalam hukum perdata negara Republik Islam Iran, beberapa syarat ijab dan qabul telah disebutkan di sela-sela berbagai transaksi. [21]
Ijab dan Qabul dalam Akad-akad Lazim
Para fakih berdasarkan riwayat-riwayat telah menyebutkan hukum dan syarat bagi ijab dan qabul dalam akad-akad lazim (akad yang mana tidak satu pun dari para pihak dapat membatalkannya tanpa izin pihak lain), yang beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: [22]
Ijab dan Qabul Secara Lisan
Menurut pernyataan para fakih, usulan pelaksanaan transaksi dan penerimaannya dalam akad-akad lazim seperti akad jual beli (bay') harus dilakukan dengan lafal-lafal khusus yang memiliki karakteristik sebagai berikut: [23]
1. Menurut pernyataan sebagian fakih, lafal ijab dan qabul harus diucapkan dalam bahasa Arab, dikarenakan sifatnya yang tauqifi (bergantung pada penetapan syariat) dan bergantung pada penjelasan Syara', [24] serta untuk mengikuti apa yang tercantum dalam teks riwayat. [25] [26] Sebagian lainnya berkeyakinan bahwa keharusan bahasa Arab bagi lafal ijab dan qabul hanya disyaratkan dalam akad nikah, dikarenakan Syara' memiliki sensitivitas lebih terhadap hukum-hukumnya. [27] Fakih seperti Syekh Ansari, Sayid Abdul A'la Sabzawari dan Sayyid Abul Qasim al-Khu'i berpendapat bahwa seluruh akad bahkan akad nikah sekalipun adalah sah dalam bahasa apa pun. [28]
2. Beberapa fakih yang mensyaratkan penggunaan bahasa Arab bagi lafal ijab dan qabul berpendapat bahwa:
- Lafal-lafal ini harus diucapkan dengan benar baik dari segi harakat (i'rab) maupun bentuk kata (hai'at); [29] maka jika misalnya dalam akad jual beli alih-alih mengucapkan "Bi'tuka: Aku telah menjual kepadamu" diucapkan "Ba'tuka", atau dalam akad nikah alih-alih mengucapkan "Zawwajtuka: Aku telah menikahkanmu" diucapkan "Jawwaztuka", maka akad tidak dianggap sah. [30] Berdasarkan pendapat fakih seperti Sayid Mohammad Kazim Tabataba'i Yazdi dan Sayid Abdul A'la Sabzawari, jika kesalahan ini tidak menyebabkan keluarnya lafal dari makna hakikinya dan lafal yang digunakan memiliki dzuhur (kejelasan makna) pada makna yang dimaksud di mata urf, maka tidak menjadi masalah dan akad tetap sah. [31] Menurut pernyataan Sayyid Abul Qasim al-Khu'i, tindakan hati-hati (ikhtiyat) adalah jika shighah akad diucapkan dalam bahasa Arab, maka harus dibaca dengan bahasa Arab yang benar. [32]
- Harus diucapkan dengan bentuk kata kerja masa lampau (fi'il madhi), [33] dikarenakan hanya kata kerja masa lampau yang secara tegas menunjukkan penciptaan (insya') transaksi [34] dan jika misalnya dalam akad jual beli seseorang berucap dengan kata kerja masa sekarang/depan (fi'il mudhari') "Abi'uka: Aku menjual kepadamu", berdasarkan pandangan masyhur fukaha [35] akad tidak dianggap sah. [36] Sebagian juga meyakini tidak wajib shighah akad berbentuk fi'il madhi secara eksklusif [37] dan jika dilakukan dengan lafal lain yang secara urf menunjukkan terjadinya transaksi [38] atau kedua belah pihak bermaksud menciptakan dan meng-insya' transaksi, maka akad dianggap sah. [39]
3. Lafal-lafal ijab dan qabul untuk melakukan transaksi haruslah tegas (sharih) dan jelas, dan jika menggunakan lafal metaforis (majas) atau kiasan (kinayah), misalnya dalam akad jual beli alih-alih mengatakan "Aku telah menjual kepadamu" ia mengatakan "Aku telah memberikan kekuasaan kepadamu atas barang ini dengan harga sekian", maka akad tidak dianggap terjadi. [40] Menurut pandangan fakih seperti Syekh Ansari dan Sayyid Abul Qasim al-Khu'i, akad dengan lafal apa pun bahkan secara kiasan maupun metaforis yang di mata urf menunjukkan makna yang dimaksud dalam transaksi, maka akad tersebut tetap terjadi. [41]
4. Shighah akad harus bersifat munajjaz; artinya kedua belah pihak tidak menggantungkan (mual-laq) akad pada syarat tertentu, [42] maka jika misalnya dalam akad jual beli, penjual berkata "Aku telah menjual barang ini kepadamu dengan harga sekian, dengan syarat anakku telah kembali dari perjalanannya", maka akad tidak dianggap sah. [43] Sebagian meyakini jika akad digantungkan pada sesuatu di masa sekarang atau masa depan yang mana kedua belah pihak mengetahui waktu terjadinya hal tersebut, maka akad adalah sah. [44]
Menurut pandangan para fakih jika para pihak yang bertransaksi atau salah satu dari mereka tidak mampu berbicara seperti orang bisu, baik ia mampu mewakilkan orang lain maupun tidak, maka dalam kondisi ini isyarat menggantikan posisi lafal. [45]
Urutan Ijab dan Qabul
Mayoritas fukaha Syiah [46] berpendapat bahwa ijab harus mendahului qabul. [47] Menurut pandangan mereka, qabul adalah turunan (far'u) dari ijab, dan turunan tidak dapat mendahului asalnya. [48] Sekelompok fakih mengatakan dalam akad nikah diperbolehkan qabul mendahului ijab [49] dan hal itu dikarenakan adanya riwayat-riwayat [50] yang mengizinkan qabul mendahului ijab. [51] Tentu saja sebagian mengatakan jika qabul dilakukan dengan lafal "qabiltu" (aku telah menerima), maka tidak boleh mendahului ijab dalam akad nikah. [52] Kelompok lainnya menganggap boleh mendahulukan qabul atas ijab dalam seluruh jenis akad. [53]
Kesesuaian Antara Ijab dan Qabul
Antara ijab dan qabul tidak boleh ada perbedaan dari segi isi dan kandungan. [54] Perbedaan ini misalnya dalam akad jual beli berbentuk:
- Terkadang dari segi barangnya, seperti di mana pembeli berkata kepada penjual misalnya "Aku telah menjual kemeja ini kepadamu dengan harga sekian" dan pembeli dalam qabulnya berkata "Aku membeli karpet ini dengan harga tersebut";
- Terkadang dari segi harga barangnya, misalnya penjual berkata "Aku telah menjual kemeja ini kepadamu seharga 100 Tuman" dan pembeli berkata "Aku membeli kemeja ini seharga 50 Tuman";
- Terkadang pula dari segi penjual dan pembelinya, misalnya penjual berkata "Aku telah menjual barang anu kepadamu dengan harga sekian" dan pembeli dalam qabulnya berkata "Aku membeli barang ini untuk orang lain". [55]
Berdasarkan pendapat fakih seperti Sayyid Abul Qasim al-Khu'i dan Mirza Jawad Tabrizi, transaksi dan akad tidak berlaku pada satu pun dari kasus-kasus tersebut. [56]
Muwalat Antara Ijab dan Qabul
Berdasarkan pendapat para fakih, antara ijab dan qabul harus ada kesinambungan (muwalat); artinya tidak ada jarak waktu maupun lafal-lafal di luar lafal akad di antara keduanya; jika tidak demikian, maka akad tidak terjadi; [57] dikarenakan akad yang tersusun dari ijab dan qabul dianggap sebagai satu ucapan tunggal yang sebagian bagiannya berkaitan dengan bagian lainnya, dan jika terdapat jarak di antara bagian-bagian tersebut, maka ucapan tersebut tidak dianggap tercipta. [58]
Menurut pandangan para fakih, tolok ukur untuk mendiagnosis seberapa besar jarak yang menyebabkan rusaknya hubungan antara ijab dan qabul adalah urf. [59]
Ijab dan Qabul dalam Akad-akad Ja'iz
Para fukaha tidak mewajibkan pemenuhan syarat-syarat yang telah disebutkan untuk ijab dan qabul dalam akad-akad lazim bagi akad-akad ja'iz. [60] Akad ja'iz adalah akad di mana masing-masing pihak dapat membatalkannya kapan saja mereka mau. [61]
Sekelompok fakih menganggap beberapa akad seperti akad gadai (rahn) bersifat lazim (mengikat) bagi pemberi gadai (rahin) dan ja'iz bagi penerima gadai (murtahin), [62] oleh karena itu sebagian pihak tidak mewajibkan satu pun dari syarat ijab dan qabul pada Akad Lazim untuknya [63] dan sebagian lainnya hanya mensyaratkan beberapa syarat saja seperti sifat lisan, bentuk masa lampau (madhi), dan urutan dalam ijab serta qabul. [64]
Meskipun Wakalah termasuk dalam akad ja'iz, [65] namun para fukaha Syiah [66] mensyaratkan tidak adanya ketergantungan (mu'al-laq) akad pada terjadinya sesuatu (=sifat munajjaz) yang mana merupakan syarat akad lazim, dalam akad wakalah dikarenakan adanya dalil khusus seperti riwayat dan Ijmak. [67]
Ijab dan Qabul Secara Perbuatan
Ijab dan qabul secara perbuatan (fi'li) bermakna masing-masing pihak dalam akad melakukan transaksi tanpa mengucapkan lafal tertentu. Misalnya dalam akad muzara'ah, di sela-sela transaksi, tanpa dibacakannya shighah tertentu pemilik tanah menyerahkan tanahnya dengan maksud untuk dikerjakan di atasnya dan petani atau orang yang ingin mengerjakannya menerima penyerahan tanah tersebut. [68] Para fukaha menyebut jenis transaksi semacam ini dengan istilah Ma'athat. [69] Templat:Catatan
Fukaha telah mengeluarkan Fatwa mengenai kebolehan ijab dan qabul secara perbuatan dalam akad-akad ja'iz. [70] Shahib al-Jawahir mengisyaratkan sebuah pandangan bahwa berdasarkan hal itu, ijab dan qabul dalam seluruh jenis akad (baik akad ja'iz maupun akad lazim) dapat dilakukan secara perbuatan. [71] Beliau menganggap pandangan ini aneh dan berkata bahwa seseorang yang telah merasakan lezatnya fikih tidaklah layak mengeluarkan fatwa semacam itu. [72] Beberapa fakih juga berpendapat bahwa "qabul" dalam akad musaqah (meskipun termasuk akad lazim) dapat dilakukan secara perbuatan. [73]
Catatan Kaki
- ↑ Yousefi Badaf, Baba'i, "Naqsy-e Ijab wa Qabul dar Ijad-e Ta'ahhodat", hlm. 2.
- ↑ Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 13, hlm. 91.
- ↑ Syahid Awwal, al-Qawa'id wa al-Fawa'id, Penerbit Mofid, jld. 2, hlm. 271; Amuli, Miftah al-Karamah, 1419 H, jld. 12, hlm. 475; Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 2, hlm. 164.
- ↑ Haeri, Ansari Haqiqi, "Pezhuhesy-e Tathbiqi dar Didgah-e Imam Khomeini dar Mahiyyat-e Ijab wa Qabul wa Atsar-e Fiqhi wa Hoquqi-ye an", hlm. 108.
- ↑ Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 2, hlm. 164.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqashid, 1408 H, jld. 4, hlm. 57; Bahrani, al-Hada'iq al-Nadhirah, Muasasah al-Nasyr al-Islami, jld. 18, hlm. 348; Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, Qom, Penerbit Dar al-Tafsir, jld. 24, hlm. 214.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 93.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 114.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 117.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 123.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 127.
- ↑ Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1434 H, jld. 1, hlm. 646.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 132.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 136-138.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 140.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 144.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 153.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, hlm. 161.
- ↑ Haeri, Ansari Haqiqi, "Pezhuhesy-e Tathbiqi dar Didgah-e Imam Khomeini dar Mahiyyat-e Ijab wa Qabul wa Atsar-e Fiqhi wa Hoquqi-ye an", hlm. 110-111.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 117.
- ↑ "Qanun-e Madani", Situs Pusat Riset Parlemen Majelis Permusyawaratan Islam.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 244-257.
- ↑ Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqashid, 1411 H, jld. 4, hlm. 59-60; Bahrani, al-Hada'iq al-Nadhirah, Muasasah al-Nasyr al-Islami, jld. 23, hlm. 159; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 118.
- ↑ Tabataba'i, Riyadh al-Masail, 1412 H, jld. 11, hlm. 17; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 127.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 135.
- ↑ Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqashid, 1411 H, jld. 4, hlm. 59; Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, jld. 3, hlm. 225; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 250.
- ↑ Bahrani, al-Hada'iq al-Nadhirah, Muasasah al-Nasyr al-Islami, jld. 23, hlm. 158; Tabataba'i, Riyadh al-Masail, 1412 H, jld. 11, hlm. 17; Naraghi, Mustanad al-Syiah, 1415 H, jld. 16, hlm. 93; Gharawi, al-Tanqih fi Syarh al-Makasib (Catatan Pelajaran Kharij Fikih Ayatullah Khoe'i), 1440 H, jld. 1, hlm. 198; Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, Dar al-Irsyad, jld. 24, hlm. 215.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Nikah, 1430 H, hlm. 79; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 135; Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, Dar al-Irsyad, jld. 16, hlm. 215 dan jld. 24, hlm. 215; Khoe'i, Kitab al-Nikah, Dar al-Ilm, jld. 2, hlm. 164.
- ↑ Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqashid, 1411 H, jld. 4, hlm. 59-60; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 244.
- ↑ Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqashid, 1411 H, jld. 4, hlm. 59-60; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 135-136.
- ↑ Tabataba'i Yazdi, Hasyiyah al-Makasib, 1370 HS, jld. 1, hlm. 87; Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, Dar al-Irsyad, jld. 16, hlm. 216.
- ↑ Tohidi Tabrizi, Misbah al-Faqahah (Catatan Pelajaran Kharij Fikih Ayatullah Khoe'i), 1417 H, jld. 3, hlm. 38.
- ↑ Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqashid, 1411 H, jld. 4, hlm. 59; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 244.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 138; Iravani, Hasyiyah al-Makasib, 1384 HS, jld. 1, hlm. 89; Mirza Na'ini, Munyah al-Thalib fi Hasyiyah al-Makasib, 1373 H, jld. 1, hlm. 108-109.
- ↑ Muhaqqiq Ardebili, Majma' al-Faidah wa al-Burhan, Muasasah al-Nasyr al-Islami, jld. 8, hlm. 145.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 252-253.
- ↑ Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, Dar al-Irsyad, jld. 16, hlm. 216.
- ↑ Gharawi, al-Tanqih fi Syarh al-Makasib (Catatan Pelajaran Kharij Fikih Ayatullah Khoe'i), 1440 H, jld. 1, hlm. 202.
- ↑ Muhaqqiq Ardebili, Majma' al-Faidah wa al-Burhan, Muasasah al-Nasyr al-Islami, jld. 8, hlm. 145; Makarem Shirazi, Anwar al-Faqahah (Kitab al-Bay'), 1425 H, hlm. 113.
- ↑ Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1423 H, jld. 3, hlm. 406; Amuli, Miftah al-Karamah, 1419 H, jld. 12, hlm. 483-484; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 247-249; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 119.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 120; Tohidi Tabrizi, Misbah al-Faqahah (Catatan Pelajaran Kharij Fikih Ayatullah Khoe'i), 1417 H, jld. 3, hlm. 17.
- ↑ Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1423 H, jld. 5, hlm. 357; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 253-254; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 162.
- ↑ Tabrizi, Irsyad al-Thalib ila Ta'liq al-Makasib, 1399 HS, jld. 2, hlm. 119-120.
- ↑ Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1423 H, jld. 5, hlm. 276; Tabrizi, Irsyad al-Thalib ila Ta'liq al-Makasib, 1399 HS, jld. 2, hlm. 119-120.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 117-118.
- ↑ Allamah Hilli, Mukhtalif al-Syiah, 1413 H, jld. 5, hlm. 52.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 254; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 140.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 140-141; Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, Dar al-Tafsir, jld. 16, hlm. 217.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 143.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Hurr Amuli, Wasail al-Syiah, 1413 H, jld. 21, hlm. 43; Ibn Abi al-Jumhur, Awali al-La'ali, 1403 H, jld. 2, hlm. 263.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 143.
- ↑ Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1412 H, jld. 3, hlm. 154; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 143.
- ↑ Syahid Awwal, Ghayah al-Murad, jld. 2, 1411 H, hlm. 216; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 148; Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, Dar al-Irsyad, jld. 16, hlm. 217-218.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 255; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 175.
- ↑ Gharawi, al-Tanqih fi Syarh al-Makasib (Catatan Pelajaran Kharij Fikih Ayatullah Khoe'i, 1440 H, jld. 1, hlm. 221.
- ↑ Gharawi, al-Tanqih fi Syarh al-Makasib (Catatan Pelajaran Kharij Fikih Ayatullah Khoe'i), 1440 H, jld. 1, hlm. 222; Tabrizi, Irsyad al-Thalib ila Ta'liq al-Makasib, 1399 HS, jld. 2, hlm. 127.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 158-159.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 158-159.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 159; Tabataba'i Yazdi, Hasyiyah al-Makasib, 1370 HS, jld. 1, hlm. 90.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, jld. 4, hlm. 54; Amuli, Miftah al-Karamah, 1419 H, jld. 17, hlm. 202-203; Hosseini, al-Anawin al-Fiqhiyyah, 1417 H, jld. 2, hlm. 161; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 27, hlm. 348.
- ↑ Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, jld. 4, hlm. 443; Mughniyah, Fiqh al-Imam Ja'far al-Shadiq, 1421 H, jld. 3, hlm. 16.
- ↑ Allamah Hilli, 1414 H, Tadzkirah al-Fuqaha, jld. 13, hlm. 89.
- ↑ Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, jld. 4, hlm. 54-55.
- ↑ Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 13, hlm. 92; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 25, hlm. 97.
- ↑ Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqashid, 1411 H, jld. 8, hlm. 178-179; Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1423 H, jld. 5, hlm. 237.
- ↑ Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1423 H, jld. 5, hlm. 239; Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1430 H, jld. 3, hlm. 162.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 27, hlm. 352.
- ↑ Khomeini, Taudhih al-Masail, 1372 HS, hlm. 72; Sistani, Taudhih al-Masail, 1415 H, hlm. 463; Fazel Lankarani, Taudhih al-Masail, 1374 HS, hlm. 429.
- ↑ Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, jld. 3, hlm. 222.
- ↑ Hosseini, al-Anawin al-Fiqhiyyah, 1417 H, jld. 2, hlm. 161.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 244.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 244.
- ↑ Tabataba'i Yazdi, Urwah al-Wutsqa, 1417 H, jld. 5, hlm. 348; Hakim, Mustamsak al-Urwah, Penerbit: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 13, hlm. 158.
Catatan
Daftar Pustaka
- Bahrani, Syekh Yusuf, al-Hada'iq al-Nadhirah, Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
- Gharawi, Mirza Ali, al-Tanqih fi Syarh al-Makasib (Catatan Pelajaran Kharij Fikih Ayatullah Khoe'i), Qom, Muasasah al-Khoe'i al-Islamiyah, 1440 H.
- Haeri, Mohammad Hasan dan Mohammad Hossein Ansari Haqiqi, "Pezhuhesy-e Tathbiqi dar Didgah-e Imam Khomeini dar Mahiyyat-e Ijab wa Qabul wa Atsar-e Fiqhi wa Hoquqi-ye an", Jurnal Amuzesy-ha-ye Fiqh-e Madani, nomor 5, Musim Semi dan Panas 1391 HS.
- Hakim, Sayyid Mohsen, Mustamsak al-Urwah, Qom, Muasasah Dar al-Tafsir, 1416 H.
- Hosseini, Sayid Mir-abdulfattah, al-Anawin al-Fiqhiyyah, Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1417 H.
- Hurr Amuli, Mohammad bin Hasan, Wasail al-Syiah ila Tahshil Masa'il al-Syari'ah, Qom, Muasasah Alu al-Bait alaihissalam li Ihya al-Turats, 1413 H.
- Ibn Abi al-Jumhur, Mohammad bin Zainul Abidin, Awali al-La'ali al-Aziziyyah fi al-Ahhadits al-Diniyyah, Qom, Muasasah Sayyid al-Syuhada (as), 1403 H.
- Iravani, Mirza Ali, Hasyiyah al-Makasib, Teheran, Penerbit Kya, 1384 HS.
- Khoe'i, Sayyid Abul Qasim, Kitab al-Nikah, Qom, Dar al-Ilm, tanpa tahun.
- Khomeini, Sayyid Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, Teheran, Lembaga Penyusunan dan Penerbitan Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1434 H.
- Khomeini, Sayid Ruhullah, Taudhih al-Masail, Teheran, Penerbit Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, 1372 HS.
- Muhaqqiq Ardebili, Molla Ahmad, Majma' al-Faidah wa al-Burhan, Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
- Muhaqqiq Karaki, Ali bin Husain, Jami' al-Maqashid, Qom, Muasasah Alu al-Bait (as), 1411 H.
- Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, Farhang-e Fiqh Mutabiq-e Madzhab-e Ahlulbait (as), di bawah pengawasan: Sayid Mahmud Hashemi Shahroudi, Qom, Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, 1387 HS.
- Mughniyah, Mohammad Javad, Fiqh al-Imam Ja'far al-Shadiq, Qom, Muasasah Anshariyan, 1421 H.
- Makarem Shirazi, Naser, Anwar al-Faqahah (Kitab al-Bay'), Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1425 H.
- Mirza Na'ini, Munyah al-Thalib fi Hasyiyah al-Makasib, Teheran, Percetakan Haidari, 1373 H.
- Najafi, Mohammad Hasan, Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarayi' al-Islam, koreksi Abbas Quchani dan Ali Akhundi, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1362 HS.
- Naraghi, Molla Ahmad, Mustanad al-Syiah fi Ahkam al-Syari'ah, Qom, Muasasah Alu al-Bait (as), cetakan pertama, 1415 H.
- "Qanun-e Madani", Situs Pusat Riset Parlemen Majelis Permusyawaratan Islam.
- Sabzawari, Sayid Abdul A'la, Muhadzdzab al-Ahkam fi Bayan al-Halal wa al-Haram, Suriah, Dar al-Irsyad, tanpa tahun.
- Sistani, Sayyid Ali, Taudhih al-Masail, Qom, Penerbit Mehr, 1415 H.
- Syahid Awwal, Mohammad bin Makki, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, Qom, Dar al-Fikr, 1411 H.
- Syahid Awwal, Mohammad bin Makki, al-Qawa'id wa al-Fawa'id, Qom, Toko Buku Mofid, cetakan pertama, tanpa tahun.
- Syahid Awwal, Mohammad bin Makki, Ghayah al-Murad fi Syarh Nukat al-Irsyad, Qom, Kantor Dakwah Islam Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1414 H.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali, al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, Qom, Penerbit Davari, cetakan pertama, 1410 H.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali, Masalik al-Afham, Qom, Muasasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1423 H.
- Syekh Ansari, Murtadha, Kitab al-Makasib, Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, 1430 H.
- Syekh Ansari, Murtadha, Kitab al-Nikah, Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, 1430 H.
- Tabataba'i Yazdi, Sayid Mohammad Kazim, Hasyiyah al-Makasib, Qom, Isma'iliyyan, cetakan keempat, 1370 HS.
- Tabataba'i Yazdi, Sayid Mohammad Kazim, Urwah al-Wutsqa, Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, cetakan pertama, 1417 H.
- Tabataba'i, Sayyid Ali, Riyadh al-Masail, Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, cetakan pertama, 1412 H.
- Tohidi Tabrizi, Mohammad Ali, Misbah al-Faqahah (Catatan Pelajaran Kharij Fikih Ayatullah Khoe'i), Qom, Anshariyan, 1417 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Mukhtalif al-Syiah, Qom, Kantor Penerbitan Islami, 1413 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Tadzkirah al-Fuqaha, Qom, Muasasah Alu al-Bait (as), 1414 H.
- Yousefi Badaf, Sayid Mohsen dan Dariush Baba'i, "Naqsy-e Ijab wa Qabul dar Ijad-e Ta'ahhodat", Konferensi Nasional Kedua Charsu-ye Ulum-e Ensani, 1395 HS.