Konsep:Ayat Karamat
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat Karamat |
| Surah | Surah Al-Isra' |
| Ayat | 70 |
| Juz | 15 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Makkah |
| Tentang | Karamah Insani |
| Deskripsi | Keunggulan manusia di atas semua makhluk |
| Ayat-ayat terkait | Surah Al-Baqarah, ayat 29 dan 30; Surah Al-Mukminun, ayat 14; Surah Al-Hujurat, ayat 13 |
Ayat Karamat (bahasa Arab: آیه کَرامَت) adalah ayat ke-70 dari Surah Al-Isra' yang mengisyaratkan kedudukan tinggi manusia dalam penciptaan dan keunggulannya di atas makhluk-makhluk lain serta nikmat-nikmat Allah baginya.[1] Allamah Thabathaba'i dalam kitab Al-Mizan menganggap keistimewaan ini mencakup semua manusia (baik Kafir maupun bukan); karena jika tidak demikian, Allah seharusnya merujuk kepada orang-orang beriman dalam ayat tersebut, bukan semua manusia.[2]
۞وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
(Terjemahan: Dan sungguh, Kami telah memuliakan Bani Adam (manusia), Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.) [ Isra-70 ]
Menurut para mufasir, yang dimaksud dengan pemuliaan manusia dalam Ayat Karamat adalah keistimewaan dan karakteristik yang ada pada manusia dan tidak ada pada makhluk lain. Karakteristik eksklusif manusia tersebut adalah Akal yang dengannya ia membedakan antara yang baik dan buruk, yang hak dan batil, serta yang bermanfaat dan berbahaya.[3] Berbeda dengan tafdhil (pengutamaan/melebihkan) yang disertai dengan perbandingan; artinya, apa yang diberikan kepada makhluk lain, manusia diberi bagian yang lebih besar darinya, dan ini dapat dipahami dengan membandingkan kehidupan manusia dengan makhluk lain dalam hal makanan, pakaian, pernikahan, tempat tinggal, serta keteraturan dan perencanaan dalam kehidupan sosialnya; karena manusia dalam bidang-bidang ini senantiasa berusaha, maju, dan mencapai tujuan-tujuan yang jauh, sedangkan hewan dan tumbuhan hanya menikmati pemanfaatan yang sederhana dan mendasar.[4]
Terdapat perbedaan pendapat mengenai jenis kemuliaan (karamah) yang dimaksud dalam Ayat Karamat. Sebagian mufasir meyakini adanya kemuliaan zati (inheren) pada manusia dan menganggapnya sebagai makhluk yang lebih unggul dari ciptaan lainnya, serta menganggap kemutlakan kemuliaan dalam ayat ini sebagai dalil atas klaim mereka.[5] Sebagian lain meyakini adanya kemuliaan iktisabi (yang diperoleh melalui usaha) yang dihasilkan dari penggunaan bakat dan kekuatan positif dalam diri manusia serta usahanya di jalan pertumbuhan dan kesempurnaan.[6] Muhammad Taqi Ja'fari, seorang filsuf Syiah, menganggap jenis kemuliaan ini bagi manusia bersifat ikhtiari (pilihan) dan menyebutnya kemuliaan nilai (karamat-e arzesyi).[7] Dan mungkin saja seorang manusia kehilangan keunggulan ini dengan melakukan perbuatan-perbuatan tercela.[8] Menurut Abdullah Jawadi Amuli, seorang mufasir Al-Qur'an, terdapat tiga jenis kemuliaan dalam penciptaan: supranatural atau malakuti, alami, dan insani. Kemuliaan malakuti khusus bagi Malaikat Allah, Arasy Ilahi, dan para pemikul Arasy. Kemuliaan alami khusus bagi makhluk alami seperti tumbuhan. Sedangkan kemuliaan insani yang luhur diperoleh dari perpaduan antara alam dan supranatural, serta didapat dari penggabungan yang sehat antara kemuliaan malakuti dan kemuliaan alami.[9]

Catatan Kaki
- ↑ Sulthani, Karamat-e Ensan az Negah-e Qur'an, hlm. 30; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 196.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 13, hlm. 155.
- ↑ Syekh Thusi, Al-Tibyan, t.t., jld. 6, hlm. 503; Ibnu Arabi, Tafsir Ibn Arabi, 1422 H, jld. 1, hlm. 383; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 13, hlm. 155-156; Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 15, hlm. 118; Al-Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, 1418 H, jld. 15, hlm. 121; Tsa'alibi, Tafsir al-Tsa'alibi, 1418 H, jld. 3, hlm. 486.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 13, hlm. 155-156.
- ↑ Fadhlullah, Tafsir min Wahyu al-Qur'an, 1419 H, jld. 14, hlm. 179-180; Ibnu Asyur, Al-Tahrir wa al-Tanwir, 1420 H, jld. 14, hlm. 130-131; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 13, hlm. 155-156.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 6, hlm. 273; Syekh Thusi, Al-Tibyan, t.t., jld. 6, hlm. 503; Zamakhsyari, Al-Kasyyaf, 1407 H, jld. 2, hlm. 681; Ja'fari, Payam-e Kherad, 1377 HS, hlm. 107-108.
- ↑ Ja'fari, Payam-e Kherad, 1377 HS, hlm. 107.
- ↑ Ja'fari, Payam-e Kherad, 1377 HS, hlm. 108; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 6, hlm. 273-274.
- ↑ Jawadi Amoli, Shurat wa Sirat-e Ensan dar Qur'an, 1397 HS, hlm. 327.
- ↑ Tharrahi-ye Jaleb-e Logo-ye Hoquq-e Basyar ba Khatt-e Mikhi va Aye-ye Qur'an, Paygah-e Khabari-ye Asre Hamoon.
Daftar Pustaka
- Al-Zuhaili, Wahbah. Al-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari'ah wa al-Manhaj. Beirut: Dar al-Fikr al-Mu'ashir, 1418 H.
- Alusi, Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Azhim wa al-Sab' al-Matsani. Riset: Ali Abdul Bari Athiyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H.
- Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir min Wahyu al-Qur'an. Beirut: Dar al-Malak lil-Thiba'ah wa al-Nasyr, 1419 H.
- Ibnu Arabi, Muhammad bin Ali. Tafsir Ibn Arabi. Riset: Samir Musthafa Rabab. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1422 H.
- Ibnu Asyur, Muhammad Thahir. Al-Tahrir wa al-Tanwir. Beirut: Muassasah al-Tarikh al-Arabi, 1420 H.
- Ja'fari, Muhammad Taqi. Payam-e Kherad. Teheran: Muassasah-ye Karamat, cetakan pertama, 1377 HS.
- Jawadi Amoli, Abdullah. Shurat va Sirat-e Ensan dar Qur'an. Qom: Markaz-e Nasyr-e Asra, cetakan kesepuluh, 1397 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 HS.
- Sulthani, Muhammad Ali. Karamat-e Ensan az Negah-e Qur'an, dalam Majalah Ayine-ye Pazhuhesy, No. 102, Bahman dan Esfand 1385 HS.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan mukadimah Muhammad Muhsin Agha Buzurg Tehrani dan tashih Ahmad Habib Amili. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.t.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, cetakan ketiga, 1393 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, cetakan pertama, 1415 H.
- Tharrahi-ye Jaleb-e Logo-ye Hoquq-e Basyar ba Khatt-e Mikhi va Aye-ye Qur'an. Paygah-e Khabari-ye Asre Hamoon, tanggal posting: 15 Murdad 1393 HS, tanggal kunjungan: 14 Aban 1403 HS.
- Tsa'alibi, Abdurrahman bin Muhammad. Tafsir al-Tsa'alibi. Riset: Ali Muhammad Mu'awwadh, Adil Ahmad Abdul Maujud, dan Abdulfattah Abu Sunnah. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
- Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasyyaf. Tashih: Musthafa Husain Ahmad. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H.