Lompat ke isi

Konsep:Abu Ishaq al-Fazari

Dari wikishia
Abu Ishaq al-Fazari
Nama lengkapIbrahim bin Muhammad bin al-Harith al-Fazari
KunyahAbu Ishaq
GelarKufi, Mashshishi, Syaikhul Islam
Tempat tinggalKufah, Baghdad, Syam
Wafat185/801, setelah Imam Shadiq as
Tempat dikuburkanSyam
Kerabat terkenalMarwan bin Muawiyah bin Harith (perawi terkenal)
MazhabTidak diketahui
Perawi dari Ma'shumImam Shadiq as
Para perawi darinyaSufyan al-Tsauri, Abdurrahman al-Auza'i
KredibilitasMajhulul Hal (Status tidak diketahui)
KaryaKitab al-Siyar, fi al-Akhbar wa al-Ahdats


Abu Ishaq al-Fazari adalah salah seorang perawi dan bagian dari sahabat Imam Shadiq as serta seorang mufasir terkenal pada abad kedua Hijriah. Kalangan Ahlusunah menganggapnya sebagai salah satu ulama besar agama dan pemimpin kaum Muslim. Abu Ishaq, selain mahir dalam bidang Fikih, juga menguasai ilmu-ilmu lain seperti Hadis, sejarah, dan khususnya Maghazi (historiografi peperangan). Dikatakan bahwa ia adalah salah satu arifin ternama pada masanya dan merupakan teman dekat Ibrahim bin Adham. Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa ia pernah berguru kepada Sufyan al-Tsauri dan Abdurrahman al-Auza'i.

Setelah beberapa lama tinggal di Baghdad, Abu Ishaq al-Fazari bermigrasi ke Al-Massisa, salah satu wilayah perbatasan di Syam, dan menetap di sana hingga akhir hayatnya untuk memperkenalkan Islam kepada penduduk setempat. Tujuan perjalanannya ke Al-Massisa disebutkan untuk menjaga perbatasan wilayah-wilayah Islam. Ia menukil banyak riwayat dari para Tabiin dan generasi setelahnya seperti Malik bin Anas, Abdurrahman al-Auza'i, Sufyan al-Tsauri, dan Walid bin Muslim, serta menukil beberapa riwayat melalui perantara dari Imam Shadiq as. Ia merupakan penulis kitab sejarah dengan judul "Kitab al-Siyar fi al-Akhbar wa al-Ahdats".

Beberapa ulama Ilmu Rijal Syiah, mengingat ketiadaan informasi mengenai hubungannya dengan Tasyayyu', menganggapnya sebagai sosok yang tidak dikenal atau termasuk ulama Ahlusunah. Ibnu Nadim, ahli bibliografi Syiah, sembari menyinggung keutamaannya, berpendapat bahwa ia melakukan banyak kesalahan dalam penukilan Hadis. Meskipun demikian, kalangan Ahlusunah menganggapnya sebagai perawi yang tsiqah dan dapat dipercaya.

Pengenalan

Ibrahim bin Muhammad bin al-Harits al-Fazari, yang dalam riwayat-riwayat lebih dikenal dengan nama Abu Ishaq al-Fazari,[1] adalah salah seorang fakih dan ahli hadis pada abad kedua Hijriah. Syekh Thusi, yang kemudian diikuti oleh ulama lainnya, memperkenalkan Ibrahim sebagai bagian dari sahabat Imam Shadiq as.[2] Dalam sumber-sumber Syiah, terdapat riwayat-riwayat yang dinukil darinya,[3] yang mana beberapa di antaranya bersambung melalui perantara kepada Imam Shadiq as.[4] Ia juga dikenal dengan gelar Kufi dan Mashshishi.[5]

Abu Ishaq dianggap sebagai penulis beberapa buku[6] dalam bidang Sirah[7] dengan judul "Kitab al-Siyar fi al-Akhbar wa al-Ahdats".[8] Ia mulai menulis hadis sejak usia 28 tahun.[9]

Ulama Ahlusunah memperkenalkannya dengan gelar Syaikhul Islam,[10] Shahibu Sunnah,[11] Imam al-Hujjah,[12] dan Imam al-Kabir.[13] Mereka menganggapnya sebagai salah satu ulama besar[14] Agama[15] dan bahkan salah seorang pemimpin umat Muslim[16] di wilayah Syam[17] serta meyakini bahwa ia memiliki kemasyhuran tinggi dalam Islam.[18]

Ia dihormati oleh Harun al-Rasyid[19] dan interaksinya dengan Harun al-Rasyid tercermin dalam berbagai sumber.[20] Dalam klasifikasi ulama dan penyebutan biografi mereka, Abu Ishaq dianggap sebagai salah satu guru (masyaikh) awal.[21]

Ahli dalam Berbagai Ilmu

Dikatakan bahwa Abu Ishaq al-Fazari adalah sosok yang saleh[22] dan seorang fakih yang mulia;[23] sedemikian hingga ia dianggap sebagai orang paling fakih di zamannya.[24] Ia juga dikenal sebagai sejarawan dan mufasir terkemuka[25] yang produktif (katsir al-hadits)[26] dan banyak ahli hadis yang menukil riwayat darinya.[27] Bahkan dikatakan bahwa ia ahli dalam bidang historiografi perang (Maghazi)[28] dan orang pertama yang menggunakan astrolab.[29]

Abu Ishaq al-Fazari juga dianggap sebagai salah satu arifin dan ahli ibadah,[30] namanya sering disebut berdampingan dengan Ibrahim bin Adham.[31] Bahkan dikatakan bahwa ia adalah teman karib Ibrahim bin Adham.[32] Ia merupakan sezaman dengan Auza'i, ulama dan arif Ahlusunah, dan dianggap sebagai bagian dari sahabatnya.[33] Ibnu Asakir merujuk pada sebuah laporan di mana Abdurrahman al-Nasa'i mencantumkan nama Abu Ishaq sebagai salah satu murid Sufyan al-Tsauri.[34] Fudhail bin Iyadh juga menyebutkan beberapa poin mengenai keutamaannya.[35]

Tinggal di Syam

Abu Ishaq al-Fazari lahir di Kufah.[36] Setelah menetap beberapa lama di Kufah, ia pergi ke Baghdad dan mendapat penghormatan dari Harun al-Rasyid.[37] Di akhir hayatnya ia pergi ke Syam dan menetap di kota Damaskus[38] atau di wilayah perbatasan Al-Massisa[39] untuk menyebarkan Hadis. Kehadirannya di wilayah perbatasan disebut-sebut bertujuan untuk menjaga kedaulatan wilayah Islam.[40] Oleh karena itu, ia juga dimasukkan dalam golongan mujahidin.[41] Ibnu Asakir menyebutkan bahwa Abu Ishaq menjadi sebab masyarakat di wilayah tersebut mengenal ajaran Islam dan mempelajari Sunnah.[42]

Wafatnya Abu Ishaq terjadi pada masa kekhalifahan Harun al-Rasyid[43] di wilayah perbatasan Al-Massisa, Syam.[44] Tahun wafatnya tercatat dalam rentang 185/801,[45] 186/802,[46] dan 188/804.[47]

Guru dan Murid

Disebutkan bahwa Ibrahim bin Muhammad menukil riwayat dari para Tabiin dan generasi setelahnya.[48] Ia menukil riwayat dari Khalid al-Haddza', Humaid al-Thawil, Malik bin Anas, Musa bin Uqbah,[49] Abdul Malik bin Umair, Abdurrahman al-Auza'i,[50] Muawiyah bin Amru al-Rumi,[51] Sufyan al-Tsauri, Walid bin Muslim,[52] Al-A'masy, Abi Ishaq al-Syaibani, Sulaiman al-Taimi, Musa bin Abi Aisyah, Yahya bin Sa'id al-Anshari, Hisyam bin Urwah, Yunus bin Ubaid, Abdullah bin Aun, Aban bin Abi Ayyasy, dan lainnya.[53]

Sufyan al-Tsauri dan Abdurrahman bin Amru al-Auza'i, meskipun secara usia lebih tua dari Abu Ishaq, namun mereka menukil riwayat darinya. Marwan bin Muawiyah al-Fazari, Isa bin Yunus al-Sabi'i, Baqiyyah bin al-Walid, Muhammad bin Salamah al-Harrani, Muawiyah bin Amru, Amru bin Muhammad al-Naqid, Hasan bin al-Rabi', Walid bin Muslim, dan lainnya juga menukil riwayat dari Abu Ishaq.[54]

Mazhab dan Kredibilitas

Mamagani, pakar rijal Syiah, menganggap Abu Ishaq sebagai salah seorang ahli hadis dan fakih yang dipercaya oleh kalangan Ahlusunah di Kufah.[55] Menurut keyakinannya, dalam kitab-kitab rijal Syiah, tidak ditemukan keterangan mengenai kredibilitas atau ketidakkredibilitasannya; oleh karena itu statusnya dianggap sebagai sosok Muhmal (terabaikan).[56]

Ulama Ahlusunah memperkenalkan Abu Ishaq sebagai sosok yang tsiqah,[57] utama (fadhil),[58] saleh, dan tepercaya dalam urusan Hadis.[59] Hal inilah yang menyebabkan sebagian pakar rijal menggolongkannya sebagai mufasir Ahlusunah.[60] Auza'i menyebut Abu Ishaq dalam penukilan hadis sebagai "Shadiq al-Mashduq" (yang benar dan dibenarkan).[61] Beberapa peneliti menganggap pujian dan penukilan hadis Auza'i darinya sebagai tanda keagungan dan kebesarannya.[62]

Ibnu Nadim dan lainnya, meskipun menyebut Abu Ishaq sebagai sosok yang utama, berpendapat bahwa ia melakukan banyak kesalahan dalam penukilan hadis.[63]

Catatan Kaki

  1. Mamagani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 4, hlm. 293.
  2. Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 457; Mamagani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 4, hlm. 293.
  3. Syekh Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 312.
  4. Sebagai contoh lihat: Syekh Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 566; Syekh Hurr al-Amili, Itsbat al-Hudah, 1425 H, jld. 3, hlm. 72.
  5. Syabastari, Al-Fa'iq fi Ruwat wa Ash-hab al-Imam al-Shadiq (as), 1418 H, jld. 1, hlm. 60.
  6. Daraquthni, Dzikr Asma' al-Tabi'in, 1406 H, jld. 1, hlm. 56.
  7. Ibnu Qutaibah, Al-Ma'arif, 1992 M, hlm. 514.
  8. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, Beirut, hlm. 135; Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 1, hlm. 59; Kahhalah, Mu'jam al-Muallifin, 1376 H, jld. 1, hlm. 91.
  9. Ibnu Hibban, Al-Thiqat, 1393 H, jld. 6, hlm. 23.
  10. Ibnu al-Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 2, hlm. 383; Dzahabi, Tadzkirah al-Huffazh, 1428 H, jld. 1, hlm. 200.
  11. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 126.
  12. Dzahabi, Tadzkirah al-Huffazh, 1428 H, jld. 1, hlm. 200.
  13. Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1405 H, jld. 8, hlm. 539.
  14. Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 1, hlm. 59; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 6, hlm. 104.
  15. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 119.
  16. Ibnu Qani' al-Baghdadi, Mu'jam al-Shahabah, 1424 H, jld. 3, hlm. 908.
  17. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 122.
  18. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 127.
  19. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 119-133; Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 1, hlm. 59.
  20. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 130.
  21. Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 1, hlm. 269.
  22. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 126.
  23. Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-Arab, 1418 H, hlm. 257.
  24. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 124.
  25. Sezgin, Tarikh al-Turats al-Arabi, 1412 H, bagian 2, jld. 1, hlm. 95.
  26. Suyuthi, Thabaqat al-Huffazh, 1403 H, jld. 1, hlm. 123.
  27. Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 6, hlm. 104.
  28. Syabastari, Al-Fa'iq fi Ruwat wa Ash-hab al-Imam al-Shadiq (as), 1418 H, jld. 1, hlm. 60.
  29. Kahhalah, Mu'jam al-Muallifin, 1376 H, jld. 1, hlm. 90.
  30. Ibnu Hibban, Al-Thiqat, 1393 H, jld. 6, hlm. 23; Abu Makhramah, Qaladah al-Nahr, 1428 H, jld. 2, hlm. 286.
  31. Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 3, hlm. 332.
  32. Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 1, hlm. 269.
  33. Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 1, hlm. 59.
  34. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 122.
  35. Ibnu al-Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 2, hlm. 383.
  36. Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 1, hlm. 59; Sezgin, Tarikh al-Turats al-Arabi, 1412 H, bagian 2, jld. 1, hlm. 95.
  37. Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 1, hlm. 59.
  38. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 119; Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 1, hlm. 59.
  39. Mamagani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 4, hlm. 293; Syabastari, Al-Fa'iq fi Ruwat wa Ash-hab al-Imam al-Shadiq (as), 1418 H, jld. 1, hlm. 60.
  40. Dzahabi, Tadzkirah al-Huffazh, 1428 H, jld. 1, hlm. 200.
  41. Abu Makhramah, Qaladah al-Nahr, 1428 H, jld. 2, hlm. 286; Dzahabi, Al-Ibar fi Khabar Man Ghabar, Beirut, jld. 1, hlm. 224; Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 1, hlm. 269.
  42. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 7, hlm. 126.
  43. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 7, hlm. 339.
  44. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, hlm. 135; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, jld. 7, hlm. 339; Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, jld. 1, hlm. 269; Ibnu Hibban, Al-Thiqat, jld. 6, hlm. 23.
  45. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, jld. 7, hlm. 130-131; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 12, hlm. 17.
  46. Syabastari, Al-Fa'iq, jld. 1, hlm. 60; Suyuthi, Thabaqat al-Huffazh, jld. 1, hlm. 123.
  47. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, hlm. 135; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, jld. 7, hlm. 339.
  48. Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 1, hlm. 269.
  49. Abu Makhramah, Qaladah al-Nahr, jld. 2, hlm. 287.
  50. Ibnu al-Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, jld. 2, hlm. 383.
  51. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, hlm. 135.
  52. Syabastari, Al-Fa'iq, jld. 1, hlm. 60.
  53. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, jld. 7, hlm. 119.
  54. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, jld. 7, hlm. 119.
  55. Mamagani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 4, hlm. 293-294.
  56. Mamagani, Tanqih al-Maqal, jld. 4, hlm. 294.
  57. Ibnu Qani' al-Baghdadi, Mu'jam al-Shahabah, jld. 3, hlm. 908.
  58. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, jld. 7, hlm. 339.
  59. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, jld. 7, hlm. 122.
  60. Syabastari, Al-Fa'iq, jld. 1, hlm. 60.
  61. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, jld. 7, hlm. 124.
  62. Ibnu al-Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, jld. 2, hlm. 383; Dzahabi, Al-Ibar, jld. 1, hlm. 224.
  63. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, hlm. 135; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, jld. 7, hlm. 339; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, jld. 7, hlm. 121.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Atsir, Mubarak bin Muhammad. Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar. Emirat, Markaz Zayed li al-Turats wa al-Tarikh, 1424 H.
  • Ibnu al-Imad al-Hanbali, Abdul Hayy bin Ahmad al-Akari. Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar Man Dzahab. Riset: Al-Arna'uth. Beirut, Dar Ibnu Katsir, 1406 H.
  • Ibnu Hibban, Muhammad. Al-Thiqat. Hyderabad, Dairat al-Ma'arif al-Utsmaniyyah, 1393 H.
  • Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad. Jamharah Ansab al-Arab. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad. Al-Thabaqat al-Kubra. Riset: Muhammad Abdul Qadir Ata. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
  • Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut, Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Ibnu Nadim, Muhammad bin Ishaq. Al-Fihrist. Beirut, Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tadzkirah al-Huffazh. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1428 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Siyar A'lam al-Nubala. Beirut, Muassasah al-Risalah, 1405 H.
  • Zirikli, Khairuddin. Al-A'lam. Beirut, Dar al-Ilm li al-Malayin, cetakan kedelapan, 1989 M.
  • Syabastari, Abdul Husain. Al-Fa'iq fi Ruwat wa Ash-hab al-Imam al-Shadiq (as). Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1418 H.
  • Syekh Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Itsbat al-Hudah bi al-Nushush wa al-Mu'jizat. Beirut, Al-A'lami, 1425 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Teheran, Kitabchi, 1376 HS.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Rijal al-Thusi. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan ketiga, 1373 HS.
  • Mamagani, Abdullah. Tanqih al-Maqal fi 'Ilm al-Rijal. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as) li Ihya al-Turats, 1431 H.