Lompat ke isi

Konsep:Waraqah bin Naufal

Dari wikishia
Waraqah bin Naufal
Pemberi kabar gembira atas kenabian Nabi Muhammad saw
Nama lengkapWaraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushayi
Garis keturunanKabilah Quraisy
Kerabat termasyhurSepupu Sayidah Khadijah sa
Tempat tinggalMekah


Waraqah bin Naufal adalah sepupu Sayidah Khadijah sa yang pada masa Jahiliah pergi dari Mekah ke Syam untuk mencari agama yang benar dan kemudian memilih agama Kristen. Sebelum Islam, ia meramalkan kemunculan seorang nabi dari Mekah dan setelah Bi'tsah Nabi saw, ia membenarkan kenabian beliau.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai nasib akhir Waraqah; sebagian meyakini ia meninggal sebagai seorang Muslim, sementara yang lain menganggapnya tetap beragama Kristen hingga akhir hayatnya. Ia dikenal sebagai saksi sebagian mukjizat Nabi saw dan perantara dalam peminangan Sayidah Khadijah sa. Beberapa sumber Ahli Sunah mengeklaim adanya keraguan pada diri Nabi saw saat menerima wahyu serta peran Waraqah dalam menenangkan beliau. Namun, para peneliti Syiah, dengan bersandar pada riwayat-riwayat Ahlulbait as, menolak klaim tersebut dan menganggapnya sebagai bagian dari distorsi Ahli Kitab, karena mereka meyakini bahwa Nabi saw telah diutus dengan keyakinan penuh atas risalahnya sejak awal.

Biografi

Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushayi[1] berasal dari Kabilah Quraisy.[2] Ia adalah paman[3] atau sepupu Sayidah Khadijah sa, istri Nabi Muhammad saw,[4] yang sempat menjumpai awal masa Kenabian Rasulullah saw.[5] Menurut sebuah pendapat, ia memberikan kabar gembira mengenai kenabian Nabi saw kepada beliau dan istrinya, Khadijah,[6] serta membenarkannya.[7] Pada saat Bi'tsah Nabi, ia adalah seorang pria tua yang buta.[8] Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah ia termasuk bagian dari sahabat.[9] Beberapa sejarawan menganggapnya sebagai sahabat Nabi saw yang memberikan nasihat kepada beliau.[10]

Waraqah bin Naufal dianggap sebagai seorang bijak (hakim)[11] dan termasuk orang yang berilmu di kalangan Arab.[12] Ia diklaim sebagai orang yang paling berilmu di Mekah[13] dan paling alim di zamannya,[14] serta mengenal banyak ulama dari kalangan Ahli Kitab.[15] Ia mempelajari kitab-kitab agama[16] dan selain menguasai bahasa Ibrani,[17] ia juga memiliki kemampuan menulis bahasa Arab[18] ke dalam aksara Ibrani,[19] serta menulis Injil dalam bahasa Ibrani[20] dan Arab.[21]

Waraqah disebut sebagai salah satu orang yang sebelum Bi'tsah Nabi saw mendengar suara gaib (hatif) yang menyebutkan bahwa manusia terbaik di bumi adalah Bahira sang Rahib dan seseorang yang belum datang (yakni Nabi Muhammad saw).[22] Sebagian meyakini bahwa Waraqah mahir dalam ilmu perdukunan.[23] Wasiat-wasiat moralnya kepada Sayidah Khadijah sa juga terekam dalam berbagai sumber.[24]

Wafat

Terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu wafatnya Waraqah bin Naufal:

  • Sebelum Bi'tsah: Sebagian meragukan apakah ia masih hidup saat Bi'tsah Nabi saw[25] dan meyakini bahwa ia meninggal sebelum datangnya wahyu dan dakwah Nabi saw.[26]
  • Sebelum Dakwah Nabi saw: Beberapa pihak meyakini bahwa Waraqah bin Naufal meninggal pada masa Bi'tsah[27] dan sebelum dimulainya dakwah Nabi saw secara terang-terangan, yaitu pada tahun 12 sebelum Hijrah.[28]
  • Masih Hidup saat Masa Dakwah Nabi saw: Sebagian menganggap pertemuannya dengan Bilal al-Habsyi yang sedang disiksa oleh kaum musyrik sebagai bukti bahwa ia masih hidup pada masa dakwah Nabi saw.[29]
  • Setelah Hijrah: Waraqah bertemu Nabi saw dalam perjalanan menuju Syam setelah Hijrah, dan Nabi memintanya untuk ikut serta dalam salah satu peperangan. Waraqah menerima permintaan tersebut dan pergi ke wilayah Lakhm dan Judzam, di mana ia terbunuh di sana, dan Nabi saw memohonkan rahmat untuknya.[30]

Penulis buku Ansab al-Asyraf menyebutkan dua pendapat mengenai lokasi wafatnya Waraqah. Ia meninggal dalam perjalanannya ke Syam dan dimakamkan di sana, atau ia meninggal di Mekah setelah Bi'tsah dan dimakamkan di kota tersebut.[31]

Kerabat Terkenal

Waraqah bin Naufal juga disebut berasal dari keluarga Sayidah Aminah sa, ibu Nabi Muhammad saw.[32] Sebuah kisah tentang saudara perempuannya yang bernama Ummu Qittal diriwayatkan pada saat pernikahan Abdullah bin Abdul Mutthalib dan Aminah, orang tua Nabi saw. Ummu Qittal yang melihat cahaya di dahi Abdullah memintanya untuk menikahinya,[33] karena ia telah mendengar dari saudaranya, Waraqah, bahwa seorang nabi akan dipilih dari kaum ini. Namun Abdullah menolak permintaannya dan pergi meminang Aminah.[34] Meskipun demikian, sebagian sejarawan menduga bahwa Ummu Qittal adalah istri pertama Abdullah.[35] Adi, saudara laki-laki Waraqah, juga disebutkan menjabat sebagai gubernur Hadramaut pada masa pemerintahan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.[36]

Agama Waraqah bin Naufal

Waraqah bin Naufal dianggap sebagai Ahli Kitab[37] dan termasuk di antara orang-orang yang mendapat petunjuk pada masa Jahiliah.[38] Ia menentang agama kaumnya[39] serta menjauhi Syirik dan penyembahan berhala.[40] Ia memilih ajaran Hanif[41] atau agama Kristen.[42] Sebagian meyakini bahwa Waraqah adalah seorang pendeta.[43] Ia tidak menerima penyembelihan hewan pada masa Jahiliah[44] serta mengharamkan Khamar[45] dan undian nasib dengan anak panah.[46]

Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah Waraqah bin Naufal memeluk Islam[47] atau tetap memegang teguh agama Kristen.[48] Sebagian meyakini bahwa ia membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad saw setelah Bi'tsah;[49] namun ia meninggal dalam keadaan telah mendapat petunjuk sebelum dimulainya dakwah Nabi saw secara terbuka.[50] Beberapa pihak menganggapnya beriman dan menyebutnya sebagai penghuni Surga.[51]

Berdasarkan beberapa riwayat, Nabi saw melarang orang lain untuk mencaci atau melaknat Waraqah.[52] Terdapat pula riwayat mengenai pembenaran kenabian Muhammad saw dan wafatnya Waraqah sebelum ia sempat menampakkan keislamannya secara terang-terangan,[53] yang oleh sebagian dianggap sebagai bukti keimanan Waraqah.[54] Bait-bait syair yang dinisbatkan kepada Waraqah bin Naufal menunjukkan pembenarannya atas kenabian Nabi saw.[55] Sebagian sejarawan menggunakan syair-syair ini untuk menyebutnya sebagai seorang Muslim.[56] Penulis buku Subul al-Huda merujuk pada sebuah pendapat lemah yang menyebut Waraqah sebagai orang laki-laki pertama yang memeluk Islam, namun ia sendiri meyakini bahwa Waraqah hanya membenarkan risalah Nabi saw.[57]

Di sisi lain, sebagian meyakini bahwa Waraqah meninggal dalam agama Kristen.[58] Dinukil dari Ibn Asakir bahwa ia tidak mengenal seorang pun yang meyakini keimanan (keislaman) Waraqah.[59]

Ramalan-ramalan

Waraqah bin Naufal telah mendengar informasi lisan mengenai nabi masa depan dari kalangan Yahudi dan Nasrani.[60] Dengan menggunakan sejarah, kisah-kisah para nabi, pengenalan atas ciri-ciri sebagian para nabi Allah, kitab-kitab samawi, dan berita-berita mengenainya,[61] ia meramalkan munculnya seorang nabi baru dari bangsa Arab[62] di Mekah[63] melalui Kabilah Quraisy.[64]

Sebagian meyakini bahwa ia mengetahui waktu kemunculan Nabi saw sudah dekat dan ia sedang menantikan hari tersebut. Ia percaya bahwa informasi mengenai Nabi tersebut telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu.[65] Dinukil darinya bahwa pada masa ini akan muncul seorang nabi yang akan menjadi penutup para rasul. Banyak ulama telah memberikan kabar gembira mengenai hal ini, dan jika ia muncul, maka wajib untuk beriman kepadanya.[66]

Dalam salah satu perjalanan dagang Nabi saw ke Syam dengan membawa harta milik Sayidah Khadijah sa, Maisarah, pelayan Sayidah Khadijah, mendengar perkataan dari seorang rahib Kristen mengenai Muhammad saw. Ia juga mengamati awan yang terus-menerus menaungi kepala Nabi saw. Hal ini dilaporkan kepada Sayidah Khadijah sa, yang kemudian menyampaikannya kepada Waraqah. Waraqah berkata: "Jika apa yang kau katakan benar, maka Muhammad saw adalah nabi umat ini. Aku tahu bahwa umat ini sedang menantikan seorang nabi dan sekarang waktunya telah tiba."[67]

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa setelah melihat beberapa tanda pada diri Nabi saw, ia berkata: "Demi Allah, aku tidak ragu bahwa dialah nabi yang dinanti-nantikan."[68]

Saksi Sebagian Mukjizat Nabi saw

Dalam sumber-sumber sejarah, disebutkan beberapa mukjizat Nabi saw yang disaksikan oleh Waraqah bin Naufal, antara lain:

  • Saat Nabi saw masih kecil, keluarganya sempat kehilangan beliau dalam suatu kejadian. Waraqah menemukan Muhammad saw di bawah sebuah pohon yang sebelumnya tidak ada pohon di tempat itu.[69]
  • Waraqah bertemu Nabi saw di jalanan Mekah dan memintanya untuk menunjukkan tanda kenabiannya. Nabi saw kemudian meminta sebuah pohon yang ada di lembah tersebut untuk datang ke arah mereka, dan pohon itu pun bergerak mendekat.[70]

Kehadiran dalam Acara Peminangan Nabi saw

Sayidah Khadijah sa berkonsultasi dengan Waraqah bin Naufal mengenai rencana pernikahannya dengan Nabi Muhammad saw. Berbeda dengan paman Khadijah, Amru bin Asad, Waraqah segera menyetujui pernikahan ini setelah mendengar deskripsi tentang Nabi saw dari lisan Sayidah Khadijah.[71]

Ia hadir dalam majelis peminangan Nabi saw dan bahkan disebutkan bahwa ia bertindak sebagai wakil Sayidah Khadijah sa.[72] Abu Thalib beserta keluarganya dan beberapa orang Quraisy pergi menemui Waraqah bin Naufal untuk melamar Khadijah sa.[73] Dalam majelis tersebut, Waraqah menyatakan bahwa menjalin ikatan kekeluargaan dengan keluarga Nabi saw merupakan kebanggaan bagi keluarganya.[74]

Sebagian peneliti meyakini bahwa peminangan Khadijah dilakukan kepada Amru bin Asad.[75]

Kisah Waraqah bin Naufal

Peran terpenting Waraqah bin Naufal dalam sejarah yang sering disebutkan dalam sumber-sumber Islam dengan berbagai versi penukilan adalah pembenarannya atas Kenabian Nabi Muhammad saw pada awal masa Bi'tsah. Hal ini diklaim sebagai riwayat yang mutawatir dan masyhur.[76] Masalah ini dikenal sebagai kisah atau hadis Waraqah.[77]

Dalam sebuah riwayat dari Aisyah yang banyak dikutip oleh sumber-sumber Ahli Sunah[78] dan bahkan beberapa sumber Syiah,[79] disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw setelah turunnya wahyu di Gua Hira dan bertemu Jibril, pulang ke rumah dalam keadaan gemetar dan gelisah.[80] Beliau mengungkapkan kekhawatirannya kepada istrinya, Khadijah sa, akan kemungkinan beliau menjadi gila.[81] Sayidah Khadijah sa kemudian pergi menemui Waraqah bin Naufal, baik sendirian maupun bersama Nabi saw, untuk menceritakan kejadian tersebut.[82]

Setelah mendengar cerita itu, Waraqah bin Naufal memberi kabar gembira bahwa Muhammad saw adalah seorang nabi dan yang mendatanginya adalah Jibril, yang juga pernah turun kepada Nabi Musa as.[83] Nabi saw merasa tenang setelah mendengar perkataan Waraqah dan kekhawatirannya pun hilang.[84]

Terdapat perbedaan riwayat mengenai bagaimana Waraqah bertemu dengan Nabi saw. Sebagian meyakini Nabi saw pergi menemui Waraqah bersama Sayidah Khadijah setelah menerima wahyu.[85] Riwayat lain menyebutkan pertemuan terjadi saat Nabi saw sedang melakukan Tawaf di Kakbah, di mana Waraqah menghampiri beliau dan menanyakan kejadian tersebut.[86]

Kandungan riwayat ini juga dinukil dari tokoh lain seperti Abdullah bin Abbas[87] dan Abu Maisarah.[88]

Evaluasi Kisah

Poin yang dipetik dari riwayat semacam ini adalah adanya keraguan pada diri Nabi saw mengenai kenabian dan turunnya wahyu, rasa takut akan menjadi gila, serta peran Waraqah bin Naufal dalam memberikan ketenangan dan keyakinan kepada beliau.[89] Sejumlah orientalis menggunakan riwayat-riwayat ini untuk menyebut Waraqah sebagai salah satu pendorong utama Nabi saw dalam melanjutkan jalan kenabian setelah diutus.[90]

Sebagian meyakini bahwa konten seperti ini tidak dinukil melalui jalur Imamiyah.[91] Para pemimpin Syiah secara tegas menentang riwayat semacam ini.[92] Peneliti Syiah, dengan bersandar pada hadis-hadis Ahlulbait as, berbicara tentang ketenangan hati Nabi saw pada awal Bi'tsah, kegembiraannya atas kemuliaan Ilahi, dan keimanan segera dari keluarganya.[93] Mereka meyakini bahwa Allah mewahyukan kepada nabi-Nya dengan argumen dan tanda-tanda yang jelas sehingga beliau yakin bahwa itu berasal dari Allah,[94] dan beliau tidak membutuhkan penguat lain serta tidak takut pada apa pun.[95] Oleh karena itu, kegelisahan Nabi saw dan niat untuk menjatuhkan diri dari gunung adalah bagian dari khurafat dan distorsi Ahli Kitab yang menyusup ke dalam kitab sejarah dan hadis.[96]

Dalam sebuah riwayat dari Zurarah bin A'yan, ia bertanya kepada Imam Shadiq as: "Mengapa Nabi saw tidak merasa takut saat Jibril turun kepadanya dan tidak menganggapnya sebagai godaan setan?" Imam Shadiq as menjawab: "Allah menurunkan ketenangan (sakinah) kepada nabi-Nya, dan apa yang datang dari Allah nampak jelas bagi beliau."[97]

Beberapa ulama terdahulu dari kalangan Ahli Sunah juga mengisyaratkan ketenangan Nabi saw saat menerima wahyu dari Jibril.[98] Syekh Abdussalam Muhammad, seorang peneliti Ahli Sunah dan profesor ilmu hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir, menyatakan bahwa kisah Waraqah bin Naufal sepenuhnya dusta dan buatan.[99]

Evaluasi Sayid Ja'far Murtadha Amili

Sayid Ja'far Murtadha Amili dalam bukunya Al-Shahih min Sirat al-Nabi al-A'dzam, setelah memaparkan beberapa riwayat yang bertentangan dalam hal ini,[100] mengalokasikan sebagian bukunya untuk mengkritik dan meninjau riwayat-riwayat tersebut.[101] Ia menganggap sanad terpenting riwayat ini—yang ada dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan koleksi hadis lainnya dari Zuhri, Urwah bin Zubair, dan Aisyah—adalah lemah.[102] Ia juga menunjukkan kontradiksi nyata dalam konten riwayat tersebut sebagai tanda adanya pemalsuan dan distorsi yang disengaja.[103]

Sayid Ja'far Murtadha mempertanyakan bagaimana mungkin Allah mengutus seseorang tetapi orang itu sendiri tidak tahu bahwa dirinya adalah nabi, sehingga terpaksa meminta bantuan kepada seorang wanita atau seorang Nasrani.[104] Ia juga merujuk pada beberapa ayat Al-Qur'an yang menunjukkan ketenangan hati Rasulullah saw.[105]

Ia menyebutkan beberapa faktor penyebab munculnya kisah-kisah semacam ini, antara lain:

Evaluasi Ja'far Subhani

Ja'far Subhani dalam buku Furugh-e Abadiyat setelah meninjau kisah tersebut, menganggap riwayat-riwayat ini sebagai buatan[110] dan termasuk legenda sejarah yang tidak sejalan dengan kehidupan para nabi Allah.[111]

Ia menyebutkan beberapa alasan untuk menolak riwayat ini, antara lain:

  • Dalam kehidupan nabi mana pun, tidak pernah terlihat kejadian memalukan seperti ini.[112]
  • Jiwa nabi harus benar-benar siap menerima rahasia Ilahi sebelum dipilih oleh Allah menjadi nabi.[112]
  • Dalam Al-Qur'an, Nabi Musa as merasa yakin saat mendengar seruan Ilahi. Apakah Nabi Islam saw yang memiliki derajat lebih tinggi akan berada dalam keraguan sampai Waraqah meyakinkannya?[113]
  • Mengapa Waraqah yang Kristen hanya menyebutkan nama Nabi Musa as? Ada kemungkinan hal ini termasuk Israiliyat yang menyusup ke dalam sejarah dan riwayat Islam.[114]

Catatan Kaki

  1. Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 4, hlm. 671; Ibn Qutaibah Dinawari, Al-Ma'arif (Pengetahuan), 1992, hlm. 59; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 15, hlm. 204.
  2. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 1, hlm. 257; Zarkali, Al-A'lam (Tokoh-tokoh Terkemuka), 1989, jld. 8, hlm. 115.
  3. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 374; Musawi, Iman Abi Thalib, 1410 H, hlm. 314; Faidh Kasyani, Al-Wafi, 1406 H, jld. 21, hlm. 387.
  4. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 1, hlm. 87; Zarkali, Al-A'lam, 1989, jld. 8, hlm. 115.
  5. Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 2, hlm. 120.
  6. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 1, hlm. 87; Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 4, hlm. 671; Ibn Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 6, hlm. 475.
  7. Zindani, Bayyinat al-Rasul wa Mu'jizatuhu (Bukti-bukti Rasul dan Mukjizatnya), Kairo, hlm. 23.
  8. Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1410 H, jld. 8, hlm. 84; Muslim, Shahih Muslim, 1412 H, jld. 1, hlm. 142.
  9. Ibn Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 6, hlm. 475; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 3, hlm. 203.
  10. Zarkali, Al-A'lam, 1989, jld. 8, hlm. 115.
  11. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 9, hlm. 457; Bahrani, Hilyah al-Abrar, 1411 H, jld. 1, hlm. 56.
  12. Subhani, Furugh-e Abadiyat (Cahaya Keabadian), 1385 HS, hlm. 222.
  13. Mustaufi Qazwini, Tarikh-e Gozideh (Sejarah Pilihan), 1364 HS, hlm. 136.
  14. Astarabadi, Atsar-e Ahmadi, 1374 HS, hlm. 80.
  15. Ibn Ishaq, Sirah Ibn Ishaq, 1410 H, hlm. 116; Ibn Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 238; Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 2, hlm. 181.
  16. Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 2, hlm. 120; Zarkali, Al-A'lam, 1989, jld. 8, hlm. 115.
  17. Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 6, hlm. 82; Ibn Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 3, hlm. 3; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 18, hlm. 228.
  18. Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 1, hlm. 118.
  19. Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 2, hlm. 120.
  20. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, Mukadimah, 1414 H, hlm. 15.
  21. Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1410 H, jld. 8, hlm. 84; Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 2, hlm. 139.
  22. Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 122.
  23. Astarabadi, Atsar-e Ahmadi, 1374 HS, hlm. 80.
  24. Sebagai contoh lihat: Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 302.
  25. Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 3, hlm. 203.
  26. Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, tanpa tahun, jld. 4, hlm. 143 menukil dari Zuhri.
  27. Zarkali, Al-A'lam, 1989, jld. 8, hlm. 115.
  28. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 1, hlm. 115; Bahrani, Hilyah al-Abrar, 1411 H, jld. 1, hlm. 56.
  29. Ibn Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 6, hlm. 476.
  30. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 107 menukil dari Waqidi.
  31. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 106.
  32. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 2, hlm. 126.
  33. Ibn Ishaq, Sirah Ibn Ishaq, 1410 H, hlm. 42-43; Bal'ami, Tarikhnama-ye Thabari (Buku Sejarah Thabari), 1373 HS, jld. 3, hlm. 19.
  34. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 243.
  35. Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 1, hlm. 103.
  36. Ibn Abd al-Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 1061.
  37. Zindani, Bayyinat al-Rasul wa Mu'jizatuhu, hlm. 23.
  38. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 1, hlm. 257; Ibn Hazm, Jamharat Ansab al-Arab, 1403 H, hlm. 491.
  39. Ibn Ishaq, Sirah Ibn Ishaq, 1410 H, hlm. 115; Ibn Thawus, Sa'd al-Su'ud, Qom, hlm. 215.
  40. Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 2, hlm. 120; Zarkali, Al-A'lam, 1989, jld. 8, hlm. 115; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 15, hlm. 204.
  41. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 2, hlm. 126; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 15, hlm. 118.
  42. Ibn Qutaibah Dinawari, Al-Ma'arif, 1992, hlm. 59; Ibn Hazm, Jamharat Ansab al-Arab, 1403 H, hlm. 491; Mawardi, A'lam al-Nubuwwah, 1409 H, hlm. 238; Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 2, hlm. 120.
  43. Maqrizi, Imta' al-Asma (Kesenangan Pendengaran), 1420 H, jld. 1, hlm. 34; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 106 menukil dari Waqidi.
  44. Zarkali, Al-A'lam, 1989, jld. 8, hlm. 115.
  45. Ibn Abd al-Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 2, hlm. 819; Maqrizi, Imta' al-Asma, 1420 H, jld. 1, hlm. 365.
  46. Ibn Habib, Al-Muhabbar, Beirut, hlm. 237; Baghdadi, Al-Munammaq, 1405 H, hlm. 422.
  47. Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 4, hlm. 671.
  48. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 1, hlm. 87-88.
  49. Maqrizi, Imta' al-Asma, 1420 H, jld. 1, hlm. 34; Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 3, hlm. 207.
  50. Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 122.
  51. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 2, hlm. 126.
  52. Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 4, hlm. 672; Ibn Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 6, hlm. 477.
  53. Ibn Hanbal, Musnad, 1416 H, jld. 40, hlm. 430; Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 4, hlm. 672.
  54. Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 4, hlm. 671-672.
  55. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 1, hlm. 88; Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, tanpa tahun, jld. 4, hlm. 143; Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 2, hlm. 150-151.
  56. Ayati, Tarikh-e Payambar-e Eslam (Sejarah Nabi Islam), 1378 HS, hlm. 13.
  57. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 2, hlm. 304.
  58. Ibn Habib, Al-Muhabbar, Beirut, hlm. 171.
  59. Ibn Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 6, hlm. 475.
  60. Ibn Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut, jld. 1, hlm. 238.
  61. Hesyemati, penerjemah buku Armstrong, Muhammad, 1425 H, hlm. 88.
  62. Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 3, hlm. 207.
  63. Heshmati, hlm. 88.
  64. Ibn Hayyun, Syarh al-Akhbar, 1409 H, jld. 3, hlm. 16.
  65. Bal'ami, Tarikhnama-ye Thabari, 1373 HS, jld. 3, hlm. 34.
  66. Mustaufi Qazwini, Tarikh-e Gozideh, 1364 HS, hlm. 136.
  67. Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 2, hlm. 127; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 1, hlm. 124.
  68. Ibn Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut, jld. 1, hlm. 167; Ibn Hayyun, Syarh al-Akhbar, 1409 H, jld. 3, hlm. 16.
  69. Majlisi, Hayat al-Qulub (Kehidupan Hati), 1384, jld. 3, hlm. 187.
  70. Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, tanpa tahun, jld. 5, hlm. 34.
  71. Mehrpuya, Muhammad saw dar Orupa (Muhammad saw di Eropa), 1382 HS, hlm. 63.
  72. Mirsyarifi, Payam-avar-e Rahmat (Pembawa Rahmat), 1385 HS, hlm. 15.
  73. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 374; Faidh Kasyani, Al-Wafi, 1406 H, jld. 21, hlm. 387; Majlisi, Mir'at al-'Uqul, 1404 H, jld. 20, hlm. 98.
  74. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 375; Ibn Abi Jumhur, Awali al-La'ali, 1405 H, jld. 3, hlm. 298.
  75. Ja'far Murtadha Amili, Al-Shahih, jld. 2, hlm. 108-109.
  76. Subhani, Furugh-e Abadiyat, 1385 HS, hlm. 222; Maqrizi, Imta' al-Asma, 1420 H, jld. 10, hlm. 323.
  77. Ibn Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 6, hlm. 476; Heykal, Hayat Muhammad, hlm. 96.
  78. Sebagai contoh lihat: Bukhari, Shahih al-Bukhari, jld. 1, 1410 H, hlm. 5, jld. 5, hlm. 364; Muslim, Shahih Muslim, 1412 H, jld. 1, hlm. 139-142; Ibn Hanbal, Musnad, 1416 H, jld. 43, hlm. 53.
  79. Ibn Syahrasyub, Manaqib Alu Abi Thalib, 1379 H, jld. 1, hlm. 44; Hilli, Al-Adad al-Qawiyyah, 1408 H, hlm. 341; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 18, hlm. 194.
  80. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 298.
  81. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 301; Ibn Hanbal, Musnad, 1416 H, jld. 5, hlm. 44.
  82. Ibn Atsir, Asad al-Ghabah, 1409 H, jld. 6, hlm. 82.
  83. Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, jld. 4, hlm. 141; Ibn Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 1, hlm. 315.
  84. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 302; Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, hlm. 23.
  85. Ibn Atsir, jld. 1, hlm. 25.
  86. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 2, hlm. 233-234.
  87. Ibn Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 1, hlm. 153.
  88. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 105.
  89. Arabi, Tarikh-e Tahqiqi-ye Eslam (Sejarah Investigasi Islam), 1383 HS, jld. 1, hlm. 316.
  90. Armstrong, Muhammad, 1425 H, hlm. 88.
  91. Arabi, jld. 1, hlm. 316.
  92. Subhani, Furugh-e Abadiyat, 1385 HS, hlm. 225.
  93. Murtadha Amili, Al-Shahih, 1426 H, jld. 2, hlm. 307.
  94. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 10, hlm. 579-580.
  95. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 307.
  96. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 311.
  97. Saffar, Bashair al-Darajat, 1404 H, jld. 1, hlm. 318; Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 201.
  98. Ibn Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, jld. 1, hlm. 238-239.
  99. Untuk informasi lebih lanjut rujuk ke: "Kisah Waraqah bin Naufal adalah buatan dan dusta", Situs Jaringan Al-Kawthar.
  100. Murtadha Amili, Al-Shahih, 1426 H, jld. 2, hlm. 288-292.
  101. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 292-315.
  102. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 292-295.
  103. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 295-298.
  104. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 298.
  105. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 299.
  106. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 309.
  107. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 312.
  108. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 313.
  109. Murtadha Amili, jld. 2, hlm. 313.
  110. Subhani, Furugh-e Abadiyat, 1385 HS, hlm. 224.
  111. Subhani, hlm. 223.
  112. 112,0 112,1 Subhani, hlm. 224.
  113. Subhani, hlm. 225.
  114. Subhani, hlm. 225.

Daftar Pustaka

  • Ayati, Muhammad Ibrahim. Tarikh-e Payambar-e Eslam (Sejarah Nabi Islam). Tehran: Daneshgah-e Tehran, cetakan ke-6, 1378 HS.
  • Armstrong, Karen. Muhammad: Biografi Nabi Islam. Terj. Kiyanush Heshmati. Tehran: Hikmat, 1425 H.
  • Astarabadi, Ahmad bin Tajuddin. Atsar-e Ahmadi: Tarikh-e Zandegani-ye Payambar-e Eslam va Aimmeh Athar (Karya Ahmad: Sejarah Kehidupan Nabi Islam dan Para Imam Suci). Tehran: Miras-e Maktub, 1374 HS.
  • Baghdadi, Muhammad bin Habib. Al-Munammaq fi Akhbar Quraisy. Riset: Khursyid Ahmad Faruq. Beirut: Alam al-Kutub, 1405 H.
  • Bahrani, Sayid Hasyim. Hilyah al-Abrar fi Ahwal Muhammad wa Alih al-Athar. Qom: Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1411 H.
  • Bal'ami (Atribusi). Tarikhnama-ye Thabari. Riset: Muhammad Roshan. Tehran: Alborz, cetakan ke-3, 1373 HS.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Riset: Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Baihaqi, Abu Bakar. Dalail al-Nubuwwah wa Ma'rifah Ahwal Shahib al-Syari'ah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1405 H.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Kairo: Wizarat al-Awqaf, cetakan ke-2, 1410 H.
  • Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Riset: Umar Abdussalam Tadmuri. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan ke-2, 1413 H.
  • Faidh Kasyani, Muhammad Muhsin. Al-Wafi. Isfahan: Kitabkhana-ye Imam Amirul Mukminin Ali as, 1406 H.
  • Hilli, Ali bin Yusuf bin al-Mutahhar. Al-Adad al-Qawiyyah li Daf' al-Makha-if al-Yawmiyyah. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1408 H.
  • Ibn Abi Jumhur, Muhammad bin Zainuddin. Awali al-La'ali al-Aziziyyah fi al-Ahadiis al-Diniyyah. Qom: Dar Sayyid al-Syuhada, 1405 H.
  • Ibn Atsir, Ali bin Muhammad al-Jazari. Asad al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H.
  • Ibn Abd al-Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashab. Riset: Ali Muhammad al-Bijawi. Beirut: Dar al-Jil, 1412 H.
  • Ibn Habib, Muhammad bin Habib. Al-Muhabbar. Riset: Ilse Lichtenstädter. Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, tanpa tahun.
  • Ibn Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali. Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Riset: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu'awwadh. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
  • Ibn Hanbal, Ahmad bin Muhammad. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1416 H.
  • Ibn Hayyun, Nu'man bin Muhammad. Syarh al-Akhbar fi Fadhail al-Aimmah al-Athar. Qom: Jami'ah-ye Mudarrisin, 1409 H.
  • Ibn Hazm, Ali bin Ahmad. Jamharat Ansab al-Arab. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1403 H.
  • Ibn Hisyam al-Himyari, Abd al-Malik. Al-Sirah al-Nabawiyyah. Riset: Mushtafa al-Saqa dkk. Beirut: Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Ibn Ishaq, Muhammad bin Ishaq. Sirah Ibn Ishaq (Buku Al-Siyar wa al-Maghazi). Qom: Daftar-e Mutala'at-e Tarikh va Ma'arif-e Eslami, 1410 H.
  • Ibn Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibn Qutaibah Dinawari, Abdullah bin Muslim. Al-Ma'arif. Riset: Tsarwat Ukasyah. Kairo: Al-Hai'ah al-Mishriyyah al-Ammah li al-Kitab, cetakan ke-2, 1992.
  • Ibn Sa'ad, Muhammad. Al-Thabaqat al-Kubra. Riset: Muhammad Abdul Qadir Ata. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
  • Ibn Syahrasyub Mazandarani, Muhammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib. Qom: Nasyr-e Allamah, 1379 H.
  • Ibn Thawus, Ali bin Musa. Sa'd al-Su'ud li al-Nufus al-Mandhud. Qom: Dar al-Dzakha-ir, tanpa tahun.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan ke-4, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ke-2, 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Hayat al-Qulub (Kehidupan Hati). Qom: Nasyr-e Sorur, cetakan ke-6, 1384 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'at al-Uqul fi Syarh Akhbar Alu al-Rasul. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan ke-2, 1404 H.
  • Maqdisi, Muthahhar bin Thahir. Al-Bad' wa al-Tarikh. Port Said: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, tanpa tahun.
  • Maqrizi, Ahmad bin Ali. Imta' al-Asma' bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata'. Riset: Muhammad Abdul Hamid al-Namisi. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1420 H.
  • Mas'udi, Ali bin al-Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jawhar. Riset: As'ad Daghir. Qom: Dar al-Hijrah, cetakan ke-2, 1409 H.
  • Mawardi. A'lam al-Nubuwwah. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1409 H.
  • Mehrpuya, Abbas. Muhammad saw dar Orupa (Muhammad saw di Eropa). Tehran: Intisyarat-e Ittila'at, 1382 HS.
  • Mirsyarifi, Sayid Ali. Payam-avar-e Rahmat (Pembawa Rahmat). Tehran: Samt, 1385 HS.
  • Murtadha Amili, Sayid Ja'far. Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'dzam. Qom: Dar al-Hadits, 1426 H.
  • Musawi, Fakkhar bin Ma'ad. Iman Abi Thalib. Qom: Dar Sayyid al-Syuhada, 1410 H.
  • Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Kairo: Dar al-Hadits, 1412 H.
  • Mustaufi Qazwini, Hamdullah bin Abi Bakar. Tarikh-e Gozideh. Riset: Abdul Husain Nawai. Tehran: Amir Kabir, cetakan ke-3, 1364 HS.
  • Saffar, Muhammad bin Hasan. Bashair al-Darajat fi Fadhail Alu Muhammad. Qom: Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi, cetakan ke-2, 1404 H.
  • Shalihi al-Syami, Muhammad bin Yusuf. Subul al-Huda wa al-Rasyad fi Sirah Khair al-Ibad. Riset: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu'awwadh. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1414 H.
  • Subhani, Ja'far. Furugh-e Abadiyat. Qom: Bustan-e Ketab, cetakan ke-21, 1385 HS.
  • Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tehran: Intisyarat-e Naser Khusru, 1372 HS.
  • Thusi, Muhammad bin al-Hasan. Al-Amali. Qom: Dar al-Tsaqafah, 1414 H.
  • Arabi, Husain Ali. Tarikh-e Tahqiqi-ye Eslam (Sejarah Investigasi Islam). Qom: Muassasah-ye Imam Khomeini, cetakan ke-4, 1383 HS.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Tehran: Al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, 1380 H.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Sadir, tanpa tahun.
  • Zarkali, Khairuddin. Al-A'lam. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, cetakan ke-8, 1989.
  • Zindani, Abd al-Majid. Bayyinat al-Rasul wa Mu'jizatuhu. Kairo: Dar al-Iman, tanpa tahun.