Lompat ke isi

Konsep:Uqbah bin Abi Mu'ayt

Dari wikishia

Templat:Infobox biografi Uqbah bin Abi Mu'ayt (terbunuh pada 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah) adalah salah satu musuh paling keras bagi Nabi saw dan kaum Muslim di Makkah. Ia merupakan salah satu bangsawan Quraisy dan termasuk pemuka kabilah Bani Umayyah. Uqbah dianggap sebagai salah satu perencana dan penyerang rumah Nabi saw pada malam Lailat al-Mabit.

Menurut para mufasir, Uqbah adalah salah satu orang yang diutus oleh Suku Quraisy menemui kaum Kristiani Najran, dan menurut sebagian lainnya menemui kaum Yahudi Madinah, untuk mempelajari pertanyaan-pertanyaan tentang klaim Kenabian guna menyudutkan Nabi saw dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Beberapa mufasir berpendapat bahwa ayat 27 dan 28 Surah Al-Furqan serta Ayat 9 Surah Al-Kahf turun berkaitan dengan Uqbah.

Uqbah bin Abi Mu'ayt termasuk salah satu pemicu Perang Badar dan menjadi tawanan dalam perang tersebut. Atas perintah Nabi saw, Uqbah dieksekusi karena permusuhannya yang sangat besar terhadap kaum Muslim dan Nabi saw. Putranya, Walid bin Uqbah, merupakan salah satu musuh Imam Ali(as). Walid diangkat sebagai gubernur Kufah pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, namun ia dipecat dari jabatan tersebut setelah meminum khamar dan melakukan salat di Masjid Kufah dalam keadaan mabuk, kemudian Imam Ali(as) menjalankan had minum khamar kepadanya.

Pengenalan

Uqbah bin Abi Mu'ayt bin Abi Amru bin Umayyah adalah salah satu musuh paling keras bagi Islam serta termasuk orang yang sering mengganggu Nabi saw dan kaum Muslim di Makkah.[1] Ia adalah salah satu bangsawan dan orang kaya Quraisy di Makkah yang berperan dalam pengambilan keputusan para musyrikin melawan kaum Muslim.[2]

Menurut sebagian mufasir, sesuai dengan Ayat 9 Surah Al-Kahf, Uqbah bin Abi Mu'ayt bersama dua orang lainnya pergi menemui kaum Kristiani Najran mewakili Quraisy untuk menyelidiki tentang Nabi saw dan ucapan-ucapannya. Mereka mengajukan tiga pertanyaan yang jika Nabi saw dapat menjawabnya maka ia benar dan berada di jalan yang hak, dan jika tidak maka ia adalah seorang pembohong.[3]

Putranya, Walid bin Uqbah, juga termasuk musuh Imam Ali(as).[4] Walid bin Uqbah adalah gubernur Kufah pada masa Utsman bin Affan yang dipecat karena meminum khamar dan melakukan salat dalam keadaan mabuk, lalu Imam Ali(as) menjalankan had kepadanya.[5]

Gangguan terhadap Nabi saw dan Kaum Muslim di Makkah

Uqbah bin Abi Mu'ayt termasuk musuh kaum Muslim dan orang yang sering menyakiti Nabi saw di Makkah. Ia mengganggu Nabi saw dan kaum Muslim dalam berbagai kesempatan dan waktu.[6] Berdasarkan laporan para sejarawan, Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya aku tinggal di Makkah di antara dua tetangga yang jahat; Uqbah bin Abi Mu'ayt dan Abu Lahab." Kedua orang ini senantiasa menyakiti Nabi saw dengan tindakan-tindakan mereka.[7] Di antara tindakan Uqbah dalam melawan kaum Muslim dan Nabi saw adalah sebagai berikut:

  • Uqbah menemani Abu Jahal, Abu Lahab, dan beberapa pemuka Quraisy lainnya dalam penyerangan ke rumah Nabi saw pada malam Lailat al-Mabit.[8]
  • Mendorong kaum kafir Quraisy untuk ikut serta dalam Perang Badar.[9]
  • Menyerang Nabi saw dan kaum Muslim saat mereka sedang melakukan salat di sekitar Makkah.[10]
  • Menghina Nabi saw: Uqbah termasuk orang yang mengejek Nabi saw dan menyakitinya secara lisan.[11]
  • Meletakkan kotoran isi perut domba di punggung Nabi saw: Menurut para sejarawan, ketika Nabi saw sedang salat di samping Ka'bah dan dalam keadaan sujud,[12] Uqbah bersama beberapa pemuka Quraisy atas hasutan Abu Jahal, melemparkan isi perut domba yang baru disembelih ke punggung Nabi saw saat beliau sedang sujud.[13] Tindakan menghina ini mendapat reaksi dari Fatimah sa, putri Nabi saw. Setelah itu Nabi saw melaknat mereka semua termasuk Uqbah dan bersabda bahwa beliau akan melihat mereka semua terbunuh di luar Makkah. Akhirnya beberapa dari orang-orang ini termasuk Uqbah bin Abi Mu'ayt terbunuh dalam Perang Badar dan sebagian lainnya terbunuh dalam Perang Uhud.[14]
  • Mencekik leher Nabi saw: Menurut laporan Ibnu Atsir, Uqbah atas hasutan Abu Jahal saat Nabi saw sedang salat di Masjidil Haram, melilitkan kain di leher Nabi saw dan menariknya dengan keras hingga hampir saja Nabi saw kehilangan nyawanya sampai kemudian Abu Bakar menjauhkan Uqbah dari Nabi saw.[15]

Teman yang Menurut Al-Qur'an Menyebabkan Penyesalan di Hari Kiamat

Kemurtadan Uqbah dan meludahi wajah Nabi: Dikatakan bahwa Uqbah bin Abi Mu'ayt pernah mengundang Nabi saw untuk makan, dan Nabi saw mensyaratkan untuk menyantap makanan tersebut jika Uqbah bersaksi atas keesaan Allah (Syahadat). Uqbah pun mengucapkan syahadat agar Nabi saw bersedia memakan makanannya. Setelah Ubay bin Umayyah mengetahui hal ini, ia mencela Uqbah, dan Uqbah menyatakan bahwa syahadat tersebut hanya bersifat lahiriah dan terpaksa dilakukan demi menjamu tamunya. Setelah itu Ubay meminta Uqbah untuk meludahi wajah Nabi saw jika tidak ingin persahabatan mereka berakhir.[16] Saat Uqbah melihat Nabi saw sedang salat di Masjidil Haram, ia menginjak punggung Nabi saw dan meludahi wajah beliau.[17] Menurut beberapa sejarawan, ludah tersebut kembali ke wajah Uqbah dan menyebabkan luka bakar di wajahnya yang bekasnya masih ada hingga ia terbunuh di Perang Badar.[18] Berdasarkan beberapa laporan tafsir, ayat 27 dan 28 Surah Al-Furqan turun mengenai Uqbah bin Abi Mu'ayt, dan maksud dari "fulanan khalilan" dalam Ayat 28 Surah Al-Furqan adalah Uqbah yang karena pertemanannya dengan Ubay bin Khalaf, telah menyakiti Nabi saw.[19]

Penangkapan dan Eksekusi Uqbah dalam Perang Badar

Uqbah bin Abi Mu'ayt termasuk salah satu pemicu dan pembawa bendera Quraisy dalam Perang Badar.[20] Ia bersama Abu Jahal dan Nadhir bin Harits mendorong orang-orang yang ragu untuk ikut berperang seperti Harits bin Amir, Umayyah bin Khalaf, Utbah dan Syaibah putra-putra Rabi'ah, Hakim bin Hizam, Abu al-Bakhtari, Ubay bin Umayyah bin Khalaf, dan Ash bin Munabbih dengan menuduh mereka pengecut.[21]

Uqbah ditawan dalam Perang Badar oleh Abdullah bin Salamah bin Malik al-Ajlani.[22] Uqbah dibunuh atas perintah Nabi saw di tangan Amir bin Tsabit[23] atau menurut sebagian sejarawan di tangan Ashim bin Tsabit al-Anshari,[24] dari Suku Aus, karena tindakannya dalam memusuhi Islam dan Nabi saw.[25] Menurut para sejarawan, Uqbah dibunuh dengan cara Qatl Shabr di wilayah Safra' dan menurut satu pendapat di wilayah 'Irq al-Zhubyah.[26] Beberapa sumber melaporkan bahwa ia memohon pengampunan kepada Nabi saw saat akan dieksekusi, namun tidak dikabulkan.[27] Dikatakan juga bahwa Uqbah adalah orang pertama dalam Islam yang setelah terbunuh, jasadnya digantung di pohon.[28] Menurut Al-Waqidi, sejarawan Muslim, Nabi saw setelah terbunuhnya Uqbah menyebutnya sebagai orang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya serta pengganggu utusan Allah, dan beliau menganggap terbunuhnya Uqbah sebagai penyejuk hatinya serta bersyukur kepada Allah.[29]

Catatan Kaki

  1. Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jil. 2, hlm. 74; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, 1410 H, jil. 1, hlm. 399.
  2. Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jil. 2, hlm. 74; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, 1410 H, jil. 1, hlm. 399.
  3. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jil. 13, hlm. 278; Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jil. 3, hlm. 234.
  4. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jil. 6, hlm. 101; Thaqafi, Al-Gharat, 1373 HS, hlm. 581.
  5. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, jil. 1, hlm. 337; Ibnu Hajar, Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, jil. 4, hlm. 44.
  6. Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jil. 2, hlm. 74; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, 1410 H, jil. 1, hlm. 399.
  7. Al-Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1394 H, jil. 1, hlm. 131; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jil. 1, hlm. 157.
  8. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jil. 1, hlm. 176.
  9. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, 1410 H, jil. 1, hlm. 363.
  10. Al-Baladzuri, Jumal min Ansab al-Asyraf, 1417 H, jil. 4, hlm. 424.
  11. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, 1410 H, jil. 1, hlm. 226.
  12. Ibnu Ishaq, Sirah Ibnu Ishaq, hlm. 210; Ansab al-A'yan, jil. 1, hlm. 125; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jil. 3, hlm. 44.
  13. Ibnu Ishaq, Sirah Ibnu Ishaq, hlm. 210; Ansab al-A'yan, jil. 1, hlm. 125; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jil. 3, hlm. 44.
  14. Ibnu Ishaq, Sirah Ibnu Ishaq, hlm. 210; Ansab al-A'yan, jil. 1, hlm. 125; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jil. 3, hlm. 44.
  15. Ibnu Atsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jil. 1, hlm. 208; Ibnu Atsir, Usud al-Ghabah, 1409 H, jil. 3, hlm. 215.
  16. Al-Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1394 H, jil. 1, hlm. 138; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jil. 15, hlm. 207; Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jil. 24, hlm. 454; As-Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jil. 5, hlm. 68.
  17. Al-Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1394 H, jil. 1, hlm. 138; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jil. 15, hlm. 207; Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jil. 24, hlm. 454; As-Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jil. 5, hlm. 68.
  18. Al-Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1394 H, jil. 1, hlm. 138; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jil. 15, hlm. 207; Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jil. 24, hlm. 454; As-Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jil. 5, hlm. 68.
  19. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jil. 15, hlm. 207; Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jil. 24, hlm. 454; As-Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jil. 5, hlm. 68.
  20. Al-Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jil. 1, hlm. 88; Al-Baladzuri, Jumal min Ansab al-Asyraf, 1397 H, jil. 1, hlm. 349; Al-Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jil. 1, hlm. 58.
  21. Al-Baladzuri, Jumal min Ansab al-Asyraf, 1417 H, jil. 1, hlm. 292; Al-Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jil. 1, hlm. 88.
  22. Al-Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1394 H, jil. 1, hlm. 147; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jil. 2, hlm. 13; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, 1410 H, jil. 1, hlm. 644.
  23. Ibnu Atsir, Usud al-Ghabah, 1409 H, jil. 3, hlm. 15.
  24. Ibnu Atsir, Usud al-Ghabah, 1409 H, jil. 3, hlm. 7; Ibnu Hajar al-Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jil. 1, hlm. 533; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, 1410 H, jil. 1, hlm. 644.
  25. Al-Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jil. 1, hlm. 148; Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jil. 4, hlm. 1905; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, 1410 H, jil. 1, hlm. 644; Al-Baladzuri, Jumal min Ansab al-Asyraf, 1417 H, jil. 1, hlm. 355.
  26. Al-Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jil. 1, hlm. 148; Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jil. 4, hlm. 1905; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, 1410 H, jil. 1, hlm. 644; Al-Baladzuri, Jumal min Ansab al-Asyraf, 1417 H, jil. 1, hlm. 355.
  27. Al-Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1394 H, jil. 1, hlm. 147; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jil. 2, hlm. 13; Al-Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jil. 1, hlm. 114.
  28. Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jil. 2, hlm. 74.
  29. Al-Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jil. 1, hlm. 114.

Daftar Pustaka

  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Kairo, Dar al-Ma'arif, 1394 H.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Jumal min Ansab al-Asyraf. Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Al-Maqrizi, Ahmad bin Ali. Imta' al-Asma'. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1420 H.
  • Al-Waqidi, Muhammad bin Umar. Al-Maghazi. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1409 H.
  • As-Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut, Dar al-Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Tafsir al-Shafi. Tehran, Maktabah al-Sadr, 1415 H.
  • Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ab. Beirut, Shubh Piruzi, 1412 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, Dar Sadir, 1385 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usud al-Ghabah. Beirut, Dar al-Fikr, 1409 H.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Malik bin Hisyam. Al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1410 H.
  • Ibnu Ishaq. Sirah Ibnu Ishaq. Qom, Kantor Studi Sejarah dan Pengetahuan Islam, 1368 HS.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad. Al-Thabaqat al-Kubra. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1352 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Kairo, Dar al-Turats, 1407 H.
  • Thaqafi, Ibrahim bin Muhammad. Al-Gharat. Tehran, Atharid, 1373 HS.