Konsep:Tadabur Al-Qur'an
Tadabur Al-Qur'an (Bahasa Persia: تَدَبُّر در قرآن) adalah perenungan terhadap lafaz dan makna ayat-ayat Al-Qur'an serta hubungan antarayat tersebut. Pentingnya "tadabur Al-Qur'an" dinyatakan secara tegas dalam empat ayat Al-Qur'an yang mengajak manusia untuk melakukannya. Selain itu, terdapat berbagai riwayat dari Para Imam as mengenai pentingnya tadabur Al-Qur'an.
Para ulama dan peneliti Muslim, berdasarkan ayat dan riwayat, menjelaskan dampak dan hasil dari tadabur Al-Qur'an. Mengenali keajaiban dan Kemukjizatan Al-Qur'an, memahami makna ayat secara mendalam, mengenal Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta mengetahui perintah Ilahi dan mengamalkannya, dianggap sebagai sebagian dari dampak dan hasil yang dapat diperoleh melalui tadabur Al-Qur'an.
Menurut sebagian peneliti, tadabur memiliki perbedaan dengan tafsir. Tafsir adalah ilmu atau teknik yang lebih banyak membahas penjelasan hal-hal yang sulit, global, dan kerumitan lafaz serta ayat Al-Qur'an, sehingga berada di luar jangkauan masyarakat umum; sedangkan tadabur Al-Qur'an adalah tugas semua orang.
Banyak karya mandiri yang ditulis mengenai "Tadabur Al-Qur'an". Buku "Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an" (Sebuah Penelitian Seputar Tadabur dalam Al-Qur'an) karya Waliullah Naqipurfar adalah salah satu dari karya tersebut.
Pentingnya Tadabur Al-Qur'an
Konsep "tadabur Al-Qur'an" digunakan secara tegas dalam empat ayat Al-Qur'an.[1] Dalam tiga dari empat ayat tersebut; yaitu Ayat 24 Surah Muhammad, Ayat 68 Surah Al-Mu'minun, dan Ayat 82 Surah An-Nisa, Allah menyapa orang-orang munafik dan pengingkar dengan pertanyaan (istifham): "Maka apakah mereka tidak mentadaburi (memperhatikan) Al-Qur'an?".[2] Para mufasir meyakini bahwa gaya bahasa dalam Al-Qur'an yang disertai dengan istifham atau pertanyaan menunjukkan celaan atau dorongan untuk melakukan sesuatu[3] dan dalam ayat-ayat ini Allah mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur'an serta mendorong mereka untuk mentadaburi ayat-ayat-Nya.[4] Oleh karena itu, sebagian fakih Muslim dengan bersandar pada ayat-ayat ini, menganggap tadabur Al-Qur'an sebagai kewajiban (wajib).[5]
Banyak riwayat dari Para Imam as juga dinukil mengenai pentingnya dan keharusan tadabur Al-Qur'an.[6] Sebagai contoh, berdasarkan sebuah riwayat dalam kitab Tuhaf al-Uqul, dinukil dari Imam Ali as bahwa tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur'an tanpa tadabur di dalamnya.[7] Dalam doa memulai membaca Al-Qur'an yang dinukil dari Imam Shadiq as, pada salah satu bagiannya, pembaca (qari) Al-Qur'an memohon kepada Allah agar bacaan Al-Qur'annya disertai dengan tadabur.[8]
Sebagian ulama Muslim dalam karya-karya mereka juga menasihati pembaca dan qari Al-Qur'an untuk mentadaburi ayat-ayatnya.[9] Misalnya, dibahas mengenai "Adab Tilawah Al-Qur'an"[10] dan salah satu adab tersebut dianggap sebagai tilawah yang disertai dengan tadabur.[11]
Dalam kitab fikih "Takmil Masyariq al-Syumus" karya Radhiuddin Muhammad Khansari, putra Agha Husain Khansari, dalam penjelasan adab I'tikaf, pahala tilawah Al-Qur'an dan tadabur ayat-ayatnya dianggap lebih besar daripada pahala Salat Sunah.[12]
Konsep
Tadabur Al-Qur'an, menurut satu definisi, adalah perenungan terhadap lafaz dan makna Al-Qur'an.[13] Juga dikatakan bahwa tadabur Al-Qur'an adalah menelusuri ayat-ayat secara berurutan dan berkesinambungan disertai perenungan di dalamnya dan perenungan terhadap hubungan ayat-ayat ini satu sama lain serta menemukan keterkaitan yang ada di dalamnya.[14]
Dikatakan bahwa tadabur dalam istilah ulama Muslim hanya digunakan dalam kaitannya dengan Al-Qur'an, dan dalam Al-Qur'an sendiri juga digunakan khusus untuk Al-Qur'an dan ayat-ayatnya, sedangkan dalam kaitannya dengan ayat-ayat penciptaan dan perenungan terhadapnya, digunakan kata-kata seperti "ta'aqqul" dan "tafakkur".[15]
Perbedaan Tadabur dengan Tafsir
Mengenai perbedaan tafsir dengan tadabur Al-Qur'an dikatakan bahwa tafsir adalah ilmu atau teknik yang lebih banyak membahas penjelasan hal-hal yang sulit, global, dan kerumitan lafaz serta ayat Al-Qur'an, sehingga berada di luar jangkauan masyarakat umum; tetapi tadabur Al-Qur'an adalah tugas semua orang, dan Allah dalam Al-Qur'an tidak hanya menyeru para fakih dan mufasir, tetapi menyeru semua orang untuk melakukannya.[16]
Juga dikatakan bahwa tadabur adalah proses yang muncul dari interaksi pikiran dan hati terhadap ayat-ayat Al-Qur'an; sedemikian rupa sehingga pikiran dan hati terlibat bersama dalam proses tersebut; sedangkan tafsir adalah proses pemikiran yang bisa jadi tidak disertai dengan aliran hati.[17] Sebagian berpendapat bahwa tujuan utama tafsir adalah menjelaskan makna firman Ilahi; sedangkan tujuan utama tadabur Al-Qur'an adalah mengambil nasihat dan pelajaran (ibrah) darinya.[18]
Dampak Tadabur Al-Qur'an
Para ulama dan peneliti dengan memperhatikan ayat dan riwayat yang menjelaskan tentang "tadabur Al-Qur'an", menyebutkan dampak-dampak baginya.[19] Beberapa dampak tersebut adalah sebagai berikut:
- Berdasarkan Ayat 82 Surah An-Nisa, dengan tadabur Al-Qur'an dapat dibenarkan bahwa Al-Qur'an diturunkan dari sisi Allah; karena tadabur Al-Qur'an membuat pembaca akrab dengan struktur Al-Qur'an dan dalam naungan tadabur, keselarasan dan keharmonisan yang menakjubkan dari Al-Qur'an, dan secara ringkas kemukjizatannya, menjadi tampak, dan melalui jalan ini ia menyadari bahwa ayat-ayat ini tidak mungkin berasal dari manusia.[20]
- Berdasarkan ayat «أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (Maka apakah mereka tidak mentadaburi (memperhatikan) Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?)»,[21] sebagian mufasir seperti Sayid Muhammad Taqi Modarresi, menganggap terbukanya kunci hati dan pikiran untuk memahami makna dan keajaiban Al-Qur'an sebagai dampak dari tadabur Al-Qur'an.[22]
- Berdasarkan ayat «كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ (Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadaburi (memperhatikan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran)»,[23] Al-Qur'an dianggap sebagai peringatan (tadzakkur) dan pengingat (dzikr) dalam naungan tadabur pada ayat-ayatnya.[24]
- Dalam sebuah hadis yang dinukil dari Imam Ali as, Al-Qur'an dianggap sebagai pelajaran (ibrah) yang paling baligh, di mana pengambilan pelajaran darinya diperoleh melalui tadabur pada ayat-ayatnya.[25]
- Dikatakan bahwa tadabur Al-Qur'an adalah jalan untuk mengenal Allah, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya, serta pendahuluan untuk memahami perintah-perintah Ilahi, mengamalkan kewajiban, dan menahan diri dari melakukan larangan-Nya.[26]
Metode Tadabur Al-Qur'an
Menurut sebagian peneliti, tadabur Al-Qur'an diperoleh melalui dua cara: sama' (mendengarkan) dan qira'ah (membaca) Al-Qur'an.[27] Tadabur melalui sama Al-Qur'an dilakukan dengan cara istima (mendengarkan dengan penerimaan hati) dan inshat (diam disertai konsentrasi pikiran dan ketenangan), sedangkan melalui qira'ah dilakukan dengan cara Tartil.[28]
Syarat Tadabur Al-Qur'an
Dikatakan bahwa tadabur Al-Qur'an memerlukan landasan dan kondisi yang sesuai agar tadabur dapat terlaksana di dalamnya.[29] Beberapa syarat tersebut adalah sebagai berikut:
- Syarat Umum Tadabur Al-Qur'an: Syarat minimal yang diinginkan untuk tadabur Al-Qur'an adalah mengetahui makna lafaz-lafaznya atau mengetahui terjemahan lafaznya atau menggunakan terjemahan yang tepercaya.[30] Selain itu, bagi sebagian orang yang mampu merujuk ke karya tafsir, disarankan juga untuk merujuk ke kitab-kitab tafsir yang muktabar.[31]
- Syarat Khusus Tadabur Al-Qur'an: Maksudnya adalah penguasaan terhadap ilmu-ilmu dan prasyarat yang diperlukan untuk tafsir Al-Qur'an. Syarat ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin mencapai pemahaman yang tepat dan teknis secara spesialis mengenai makna lafaz dan ayat Al-Qur'an dan menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan untuk tafsir Al-Qur'an.[32]
Catatan Kaki
- ↑ Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 32.
- ↑ Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 32.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 1, hlm. 4-5; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 18, hlm. 241; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 32.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 1, hlm. 4-5; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 9, hlm. 174; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 18, hlm. 241; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 32.
- ↑ Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 59-61.
- ↑ Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 92, hlm. 106-107; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 42.
- ↑ Ibnu Syu'bah Harrani, Tuhaf al-Uqul, 1404 H, hlm. 204.
- ↑ Thabarsi, Makarim al-Akhlaq, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, hlm. 343.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Dar al-Kitab al-Arabi, jld. 3, hlm. 122; Imam Khomeini, Adab al-Shalat, Muassasah Tanzim va Nasyr-e Atsar-e Emam Khomeini, hlm. 243.
- ↑ Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Dar al-Kitab al-Arabi, jld. 3, hlm. 105.
- ↑ Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Dar al-Kitab al-Arabi, jld. 3, hlm. 122.
- ↑ Khansari, Takmil Masyariq al-Syumus, 1311 H, hlm. 503.
- ↑ Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 2, hlm. 87.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 26.
- ↑ Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an-e Karim, 1398 HS, hlm. 18.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh Atsar, 1391 HS, jld. 1, hlm. 460; Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 51; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 24-25.
- ↑ Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 51; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 26.
- ↑ Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 51.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 7, hlm. 167; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 34.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 7, hlm. 167; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 34.
- ↑ Surah Muhammad: 24.
- ↑ Modarresi, Min Huda al-Quran, 1429 H, jld. 1, hlm. 37; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 35.
- ↑ Surah Shad: 29.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 17, hlm. 197; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 38.
- ↑ Amidi, Ghurar al-Hikam, 1410 H, hlm. 318; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 42.
- ↑ Al-Sabt, Al-Khulashah fi Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1437 H, hlm. 23-25.
- ↑ Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 34.
- ↑ Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 34.
- ↑ Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 37.
- ↑ Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 105.
- ↑ Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 77.
- ↑ Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 179-180.
Daftar Pustaka
- Al-Sabt, Khalid bin Utsman. Al-Khulashah fi Tadabbur al-Qur'an al-Karim. Riyadh, Tanpa Penerbit, Cetakan Pertama, 1437 H.
- Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
- Ghazali, Abu Hamid. Ihya' Ulum al-Din. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Tanpa Tahun.
- Ibnu Syu'bah Harrani, Hasan bin Ali. Tuhaf al-Uqul. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1404 H.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Adab al-Shalat. Tehran, Muassasah Tanzim va Nasyr-e Atsar-e Emam Khomeini, Tanpa Tahun.
- Khansari, Radhiuddin Muhammad bin Husain. Takmil Masyariq al-Syumus. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, 1311 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Muassasah Dar al-Wafa, 1403 H.
- Modarresi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Quran. Beirut, Dar al-Qari', 1429 H.
- Moradi Zanjani, Hossein. Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an-e Karim. Qom, Pazhuhesygah-e Hozeh va Daneshgah, 1398 HS.
- Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar. Tehran, Entisyarat-e Sadra, 1391 HS.
- Naqipurfar, Valiullah. Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an. Tehran, Entisyarat-e Oswah, 1381 HS.
- Tamimi Amidi, Abdul Wahid bin Muhammad. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, Cetakan Kedua, 1410 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1393 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1415 H.
- Thabarsi, Hasan bin Fadhl. Makarim al-Akhlaq. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, Tanpa Tahun.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Tanpa Tahun.
- Tuwaijiri, Abdullathif bin Abdullah. Tadabbur al-Qur'an al-Karim. Riyadh, Maktabah Dar al-Minhaj, 1436 H.