Lompat ke isi

Konsep:Tadabur Al-Qur'an

Dari wikishia

Tadabur Al-Qur'an (Bahasa Persia: تَدَبُّر در قرآن) adalah perenungan terhadap lafaz dan makna ayat-ayat Al-Qur'an serta hubungan antarayat tersebut. Pentingnya "tadabur Al-Qur'an" dinyatakan secara tegas dalam empat ayat Al-Qur'an yang mengajak manusia untuk melakukannya. Selain itu, terdapat berbagai riwayat dari Para Imam as mengenai pentingnya tadabur Al-Qur'an.

Para ulama dan peneliti Muslim, berdasarkan ayat dan riwayat, menjelaskan dampak dan hasil dari tadabur Al-Qur'an. Mengenali keajaiban dan Kemukjizatan Al-Qur'an, memahami makna ayat secara mendalam, mengenal Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta mengetahui perintah Ilahi dan mengamalkannya, dianggap sebagai sebagian dari dampak dan hasil yang dapat diperoleh melalui tadabur Al-Qur'an.

Menurut sebagian peneliti, tadabur memiliki perbedaan dengan tafsir. Tafsir adalah ilmu atau teknik yang lebih banyak membahas penjelasan hal-hal yang sulit, global, dan kerumitan lafaz serta ayat Al-Qur'an, sehingga berada di luar jangkauan masyarakat umum; sedangkan tadabur Al-Qur'an adalah tugas semua orang.

Banyak karya mandiri yang ditulis mengenai "Tadabur Al-Qur'an". Buku "Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an" (Sebuah Penelitian Seputar Tadabur dalam Al-Qur'an) karya Waliullah Naqipurfar adalah salah satu dari karya tersebut.

Pentingnya Tadabur Al-Qur'an

Konsep "tadabur Al-Qur'an" digunakan secara tegas dalam empat ayat Al-Qur'an.[1] Dalam tiga dari empat ayat tersebut; yaitu Ayat 24 Surah Muhammad, Ayat 68 Surah Al-Mu'minun, dan Ayat 82 Surah An-Nisa, Allah menyapa orang-orang munafik dan pengingkar dengan pertanyaan (istifham): "Maka apakah mereka tidak mentadaburi (memperhatikan) Al-Qur'an?".[2] Para mufasir meyakini bahwa gaya bahasa dalam Al-Qur'an yang disertai dengan istifham atau pertanyaan menunjukkan celaan atau dorongan untuk melakukan sesuatu[3] dan dalam ayat-ayat ini Allah mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur'an serta mendorong mereka untuk mentadaburi ayat-ayat-Nya.[4] Oleh karena itu, sebagian fakih Muslim dengan bersandar pada ayat-ayat ini, menganggap tadabur Al-Qur'an sebagai kewajiban (wajib).[5]

Banyak riwayat dari Para Imam as juga dinukil mengenai pentingnya dan keharusan tadabur Al-Qur'an.[6] Sebagai contoh, berdasarkan sebuah riwayat dalam kitab Tuhaf al-Uqul, dinukil dari Imam Ali as bahwa tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur'an tanpa tadabur di dalamnya.[7] Dalam doa memulai membaca Al-Qur'an yang dinukil dari Imam Shadiq as, pada salah satu bagiannya, pembaca (qari) Al-Qur'an memohon kepada Allah agar bacaan Al-Qur'annya disertai dengan tadabur.[8]

Sebagian ulama Muslim dalam karya-karya mereka juga menasihati pembaca dan qari Al-Qur'an untuk mentadaburi ayat-ayatnya.[9] Misalnya, dibahas mengenai "Adab Tilawah Al-Qur'an"[10] dan salah satu adab tersebut dianggap sebagai tilawah yang disertai dengan tadabur.[11]

Dalam kitab fikih "Takmil Masyariq al-Syumus" karya Radhiuddin Muhammad Khansari, putra Agha Husain Khansari, dalam penjelasan adab I'tikaf, pahala tilawah Al-Qur'an dan tadabur ayat-ayatnya dianggap lebih besar daripada pahala Salat Sunah.[12]

Konsep

Tadabur Al-Qur'an, menurut satu definisi, adalah perenungan terhadap lafaz dan makna Al-Qur'an.[13] Juga dikatakan bahwa tadabur Al-Qur'an adalah menelusuri ayat-ayat secara berurutan dan berkesinambungan disertai perenungan di dalamnya dan perenungan terhadap hubungan ayat-ayat ini satu sama lain serta menemukan keterkaitan yang ada di dalamnya.[14]

Dikatakan bahwa tadabur dalam istilah ulama Muslim hanya digunakan dalam kaitannya dengan Al-Qur'an, dan dalam Al-Qur'an sendiri juga digunakan khusus untuk Al-Qur'an dan ayat-ayatnya, sedangkan dalam kaitannya dengan ayat-ayat penciptaan dan perenungan terhadapnya, digunakan kata-kata seperti "ta'aqqul" dan "tafakkur".[15]

Perbedaan Tadabur dengan Tafsir

Mengenai perbedaan tafsir dengan tadabur Al-Qur'an dikatakan bahwa tafsir adalah ilmu atau teknik yang lebih banyak membahas penjelasan hal-hal yang sulit, global, dan kerumitan lafaz serta ayat Al-Qur'an, sehingga berada di luar jangkauan masyarakat umum; tetapi tadabur Al-Qur'an adalah tugas semua orang, dan Allah dalam Al-Qur'an tidak hanya menyeru para fakih dan mufasir, tetapi menyeru semua orang untuk melakukannya.[16]

Juga dikatakan bahwa tadabur adalah proses yang muncul dari interaksi pikiran dan hati terhadap ayat-ayat Al-Qur'an; sedemikian rupa sehingga pikiran dan hati terlibat bersama dalam proses tersebut; sedangkan tafsir adalah proses pemikiran yang bisa jadi tidak disertai dengan aliran hati.[17] Sebagian berpendapat bahwa tujuan utama tafsir adalah menjelaskan makna firman Ilahi; sedangkan tujuan utama tadabur Al-Qur'an adalah mengambil nasihat dan pelajaran (ibrah) darinya.[18]

Dampak Tadabur Al-Qur'an

Para ulama dan peneliti dengan memperhatikan ayat dan riwayat yang menjelaskan tentang "tadabur Al-Qur'an", menyebutkan dampak-dampak baginya.[19] Beberapa dampak tersebut adalah sebagai berikut:

  • Berdasarkan Ayat 82 Surah An-Nisa, dengan tadabur Al-Qur'an dapat dibenarkan bahwa Al-Qur'an diturunkan dari sisi Allah; karena tadabur Al-Qur'an membuat pembaca akrab dengan struktur Al-Qur'an dan dalam naungan tadabur, keselarasan dan keharmonisan yang menakjubkan dari Al-Qur'an, dan secara ringkas kemukjizatannya, menjadi tampak, dan melalui jalan ini ia menyadari bahwa ayat-ayat ini tidak mungkin berasal dari manusia.[20]
  • Berdasarkan ayat «أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (Maka apakah mereka tidak mentadaburi (memperhatikan) Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?)»,[21] sebagian mufasir seperti Sayid Muhammad Taqi Modarresi, menganggap terbukanya kunci hati dan pikiran untuk memahami makna dan keajaiban Al-Qur'an sebagai dampak dari tadabur Al-Qur'an.[22]
  • Berdasarkan ayat «كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ (Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadaburi (memperhatikan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran)»,[23] Al-Qur'an dianggap sebagai peringatan (tadzakkur) dan pengingat (dzikr) dalam naungan tadabur pada ayat-ayatnya.[24]
  • Dalam sebuah hadis yang dinukil dari Imam Ali as, Al-Qur'an dianggap sebagai pelajaran (ibrah) yang paling baligh, di mana pengambilan pelajaran darinya diperoleh melalui tadabur pada ayat-ayatnya.[25]
  • Dikatakan bahwa tadabur Al-Qur'an adalah jalan untuk mengenal Allah, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya, serta pendahuluan untuk memahami perintah-perintah Ilahi, mengamalkan kewajiban, dan menahan diri dari melakukan larangan-Nya.[26]

Metode Tadabur Al-Qur'an

Menurut sebagian peneliti, tadabur Al-Qur'an diperoleh melalui dua cara: sama' (mendengarkan) dan qira'ah (membaca) Al-Qur'an.[27] Tadabur melalui sama Al-Qur'an dilakukan dengan cara istima (mendengarkan dengan penerimaan hati) dan inshat (diam disertai konsentrasi pikiran dan ketenangan), sedangkan melalui qira'ah dilakukan dengan cara Tartil.[28]

Syarat Tadabur Al-Qur'an

Dikatakan bahwa tadabur Al-Qur'an memerlukan landasan dan kondisi yang sesuai agar tadabur dapat terlaksana di dalamnya.[29] Beberapa syarat tersebut adalah sebagai berikut:

  • Syarat Umum Tadabur Al-Qur'an: Syarat minimal yang diinginkan untuk tadabur Al-Qur'an adalah mengetahui makna lafaz-lafaznya atau mengetahui terjemahan lafaznya atau menggunakan terjemahan yang tepercaya.[30] Selain itu, bagi sebagian orang yang mampu merujuk ke karya tafsir, disarankan juga untuk merujuk ke kitab-kitab tafsir yang muktabar.[31]
  • Syarat Khusus Tadabur Al-Qur'an: Maksudnya adalah penguasaan terhadap ilmu-ilmu dan prasyarat yang diperlukan untuk tafsir Al-Qur'an. Syarat ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin mencapai pemahaman yang tepat dan teknis secara spesialis mengenai makna lafaz dan ayat Al-Qur'an dan menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan untuk tafsir Al-Qur'an.[32]

Catatan Kaki

  1. Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 32.
  2. Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 32.
  3. Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 1, hlm. 4-5; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 18, hlm. 241; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 32.
  4. Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 1, hlm. 4-5; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 9, hlm. 174; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 18, hlm. 241; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 32.
  5. Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 59-61.
  6. Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 92, hlm. 106-107; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 42.
  7. Ibnu Syu'bah Harrani, Tuhaf al-Uqul, 1404 H, hlm. 204.
  8. Thabarsi, Makarim al-Akhlaq, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, hlm. 343.
  9. Sebagai contoh lihat: Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Dar al-Kitab al-Arabi, jld. 3, hlm. 122; Imam Khomeini, Adab al-Shalat, Muassasah Tanzim va Nasyr-e Atsar-e Emam Khomeini, hlm. 243.
  10. Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Dar al-Kitab al-Arabi, jld. 3, hlm. 105.
  11. Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Dar al-Kitab al-Arabi, jld. 3, hlm. 122.
  12. Khansari, Takmil Masyariq al-Syumus, 1311 H, hlm. 503.
  13. Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 2, hlm. 87.
  14. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 26.
  15. Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an-e Karim, 1398 HS, hlm. 18.
  16. Muthahhari, Majmu'eh Atsar, 1391 HS, jld. 1, hlm. 460; Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 51; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 24-25.
  17. Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 51; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 26.
  18. Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 51.
  19. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 7, hlm. 167; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 34.
  20. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 7, hlm. 167; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 34.
  21. Surah Muhammad: 24.
  22. Modarresi, Min Huda al-Quran, 1429 H, jld. 1, hlm. 37; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 35.
  23. Surah Shad: 29.
  24. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 17, hlm. 197; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 38.
  25. Amidi, Ghurar al-Hikam, 1410 H, hlm. 318; Moradi Zanjani, Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an, 1398 HS, hlm. 42.
  26. Al-Sabt, Al-Khulashah fi Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1437 H, hlm. 23-25.
  27. Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 34.
  28. Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 34.
  29. Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 37.
  30. Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 105.
  31. Tuwaijiri, Tadabbur al-Qur'an al-Karim, 1436 H, hlm. 77.
  32. Naqipurfar, Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an, 1381 HS, hlm. 179-180.

Daftar Pustaka

  • Al-Sabt, Khalid bin Utsman. Al-Khulashah fi Tadabbur al-Qur'an al-Karim. Riyadh, Tanpa Penerbit, Cetakan Pertama, 1437 H.
  • Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
  • Ghazali, Abu Hamid. Ihya' Ulum al-Din. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Tanpa Tahun.
  • Ibnu Syu'bah Harrani, Hasan bin Ali. Tuhaf al-Uqul. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1404 H.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Adab al-Shalat. Tehran, Muassasah Tanzim va Nasyr-e Atsar-e Emam Khomeini, Tanpa Tahun.
  • Khansari, Radhiuddin Muhammad bin Husain. Takmil Masyariq al-Syumus. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, 1311 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Muassasah Dar al-Wafa, 1403 H.
  • Modarresi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Quran. Beirut, Dar al-Qari', 1429 H.
  • Moradi Zanjani, Hossein. Ravesy-ha va Syiveh-ha-ye Tadabbur dar Qur'an-e Karim. Qom, Pazhuhesygah-e Hozeh va Daneshgah, 1398 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar. Tehran, Entisyarat-e Sadra, 1391 HS.
  • Naqipurfar, Valiullah. Pazhuhesyi Piramun-e Tadabbur dar Qur'an. Tehran, Entisyarat-e Oswah, 1381 HS.
  • Tamimi Amidi, Abdul Wahid bin Muhammad. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, Cetakan Kedua, 1410 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1393 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1415 H.
  • Thabarsi, Hasan bin Fadhl. Makarim al-Akhlaq. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, Tanpa Tahun.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Tanpa Tahun.
  • Tuwaijiri, Abdullathif bin Abdullah. Tadabbur al-Qur'an al-Karim. Riyadh, Maktabah Dar al-Minhaj, 1436 H.