Lompat ke isi

Konsep:Qahthaniyun

Dari wikishia
Qahthaniyun
NamaQahthaniyun
NasabQahthan bin Abar dari keturunan perantara Nabi Nuh (as)
RasArab Qahthani
Nama pemerintahanQataban "Abad keenam SM", Hadhramaut, Himyariyun dan Saba'iyun


Qahthaniyun (bahasa Arab: قحطانیان) atau Arab Qahthani, adalah salah satu nasab jauh orang Arab selain Adnaniyun. Mereka juga disebut Arab 'Aribah dan asli. Leluhur besar mereka adalah Qahthan bin Abar dari keturunan Nabi Nuh (as); sebagaimana beberapa orang menganggapnya dari keturunan Nabi Ibrahim (as) atau Nabi Hud (as) atau Nabi Hud itu sendiri.

Qahthan beserta kaumnya, dari wilayah Babilonia atau utara Jazirah, pergi ke wilayah Yaman. Kabilah-kabilah Qahthani di wilayah ini membentuk pemerintahan-pemerintahan seperti Ma'in, Qataban, Himyariyun dan Saba'iyun, dan peradaban-peradaban Yaman serta kegiatan-kegiatan pembangunan sebelum Islam, berkaitan dengan Qahthaniyun.

Beberapa kabilah Qahthani setelah kemunduran negara-negara selatan dan hancurnya Bendungan Ma'rib beremigrasi dari Yaman dan menyebar di berbagai wilayah Jazirah Arab, di antaranya kabilah Khuza'ah yang beremigrasi ke wilayah Makkah dan Aus dan Khazraj ke Yatsrib.

Sejumlah kabilah Qahthani yang berada di Yaman, pada awal Islam menjadi muslim di tangan Imam Ali (as) dan selalu dianggap sebagai para pecinta beliau. Setelah Wafat Nabi (saw) mayoritas pendukung Ali (as) berasal dari kabilah-kabilah Qahthani; sebagaimana mereka juga memiliki peran dalam menyertai Imam Husain (as) pada peristiwa Asyura.

Pengenalan Singkat

Qahthaniyun atau Arab Qahthani[1] adalah salah satu nasab jauh orang Arab[2] dan dari kabilah-kabilah Arab yang berbeda dengan Arab Ba'idah Templat:Note berhasil mempertahankan keberadaan mereka di samping Adnaniyun di Jazirah Arab dan seluruh orang Arab kembali pada dua asal ini dan dinamakan Arab Baqiyah.[3] Mereka hidup bersamaan dengan kemunculan Islam di Jazirah Arab.[4]

Qahthaniyun sebagai Arab 'Aribah dikenal sebagai lapisan kedua dari lapisan-lapisan Arab setelah Arab Ba'idah dan sebelum Arab Musta'ribah.[5] Mereka disebut Arab Baqiyah sebagai perbandingan dengan Arab Ba'idah;[6] sebagaimana mereka juga dikenal sebagai Arab Selatan atau Yamani karena tinggal di selatan Jazirah dan di Yaman serta sebagai perbandingan dengan Adnaniyun yang memiliki latar belakang non-Arab dan dianggap sebagai keturunan Nabi Ibrahim (as), mereka juga terkenal sebagai Arab 'Aribah atau Arab asli;[7] meskipun beberapa orang menganggap Arab Ba'idah sebagai Arab 'Aribah dan asli, serta Qahthaniyun dan Adnaniyun sebagai Arab Musta'ribah.[8]

Beberapa peneliti meyakini bahwa pembagian Arab menjadi dua cabang utama Qahthani dan Adnani untuk pertama kalinya muncul pada masa khalifah kedua untuk pembayaran tunjangan; meskipun dasar dari pembagian ini adalah prinsip kuno;[9] namun pembagian ini tidak terlihat dalam karya-karya ahli nasab pada masa Jahiliyah dan merupakan hasil dari tantangan kepartaian Arab pada masa Islam di mana beberapa orang berusaha mengembalikan latar belakangnya ke masa sebelum Islam.[10]

Nasab

Qahthan bin AbarTemplat:Note adalah leluhur besar Qahthaniyun dari keturunan Sam bin Nuh yang memiliki jarak sekitar empat generasi dengan Nabi Nuh (as);[11] oleh karena itu, Qahthaniyun juga dianggap sebagai Arab Samiyah.[12] Beberapa orang menganggap Qahthan adalah Yaqthan yang disebutkan dalam Taurat di mana orang-orang Arab melafalkannya dalam bahasa Arab sebagai Qahthan.[13]

Beberapa orang menganggap Qahthan sebagai bapak orang-orang Yaman[14] Templat:Note dan menganggap nasab lengkapnya adalah Qahthan bin Abar bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh[15] yang mana terkadang ayah Qahthan juga disebut dengan nama Faligh.[16] Sebagian orang menganggapnya dari keturunan Nabi Hud (as)[17] dan bahkan ada yang menganggapnya sebagai saudara atau Nabi Hud (as) itu sendiri.[18]

Qahthan di samping Nabi Ismail (as) dianggap sebagai leluhur seluruh orang Arab[19] dan beberapa orang menganggap Qahthan dari keturunan Nabi Ismail (as) dan menganggap Ismail sebagai leluhur seluruh orang Arab.[20]

Sejumlah peneliti terkait dengan keragaman nasab Qahthan, menganggap beberapa penisbahan ini bersifat emosional dan psikologis dan meyakini bahwa para ahli nasab yang berafiliasi dengan Qahthaniyun menciptakan penisbahan-penisbahan ini untuk bersaing dengan Adnaniyun dalam kebanggaan kabilah yang dengan kemunculan Islam dan Nabi (saw) dari kalangan mereka, mencapai kedudukan tinggi, agar mereka dapat menghubungkan diri dengan beberapa nabi.[21] Qahthan memiliki 31 putra di mana di antara mereka Ya'rub dan keturunannya mendapatkan ketenaran yang lebih besar.[22]

Latar Belakang

Para peneliti telah menyebutkan berbagai tempat sebagai asal-usul Qahthaniyun seperti tepi Sungai Efrat,[23] wilayah Babilonia[24] dan utara Jazirah.[25] Setelah tersebarnya anak-anak Nuh (as)[26] Qahthan beserta kaumnya datang ke wilayah-wilayah ini[27] dan kemungkinan dengan bantuan Namrud bin Kan'an berhasil meraih kekuasaan di kawasan Yaman.[28]

Arab Ba'idah sebagai kaum-kaum Arab sebelum Qahthaniyun dengan kepemimpinan Kaum 'Ad di selatan dan Kaum Tsamud di utara bersama dengan kaum-kaum seperti Thasm, Jadis dan Amaliqah hidup di kawasan selatan Jazirah.[29] Dalam Al-Qur'an telah disinggung tentang nasib 'Ad dan Tsamud serta nabi-nabi mereka.[30] Seluruh kaum Arab ini, sebelum kedatangan anak-anak Qahthan, telah musnah.[31]

Bahasa pertama Qahthaniyun dianggap sebagai bahasa Suryani dan orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab adalah Ya'rub bin Qahthan,[32] karena ibu Ya'rub berasal dari Qutsam 'Ad atau Amaliqah, mereka perlahan-lahan berbicara dengan bahasa Arab.[33]

Pemerintahan

Qahthan atau putranya Ya'rub pasca Topan Nuh dan sekitar milenium kedua Sebelum Masehi[34] adalah orang-orang pertama yang membentuk pemerintahan di wilayah Yaman.[35] Tentu saja sebagian pihak meyakini bahwa Ya'rub adalah anak perantara Qahthan; sebagaimana saudara-saudaranya seperti Uman dan Hadhramaut juga mendirikan pemerintahan-pemerintahan di kawasan yang sama;[36] bagaimanapun seluruh peradaban Yaman dan semua kegiatan pembangunan kawasan ini sebelum Islam berkaitan dengan Qahthaniyun[37] yang mana dapat merujuk pada pemerintahan-pemerintahan seperti Ma'in "1400 hingga 850 SM" sebagai pemerintahan tertua, Qataban "abad keenam SM", Hadhramaut dan Himyariyun serta Saba'iyun.[38]

Saba'iyun

Saba'iyun, berasal dari kaum Qahthan serta pemilik kekuasaan dan pemerintahan[39] yang memiliki peradaban kaya dan provinsi-provinsi maju.[40] Al-Qur'an telah menyebutkan kaum ini terkait dengan hancurnya Bendungan Ma'rib dan Banjir 'Arim[41] serta penyebutan Ratu Saba' dan surat Nabi Sulaiman (as) kepadanya.[42][43] Leluhur besar pemerintahan-pemerintahan Saba' di wilayah Yaman disebut-sebut sebagai seseorang dengan nama yang sama yang merupakan keturunan perantara Qahthan dan kemudian Ya'rub.[44] Templat:Note Sebagian orang meyakini bahwa pemerintahan-pemerintahan pertama di Yaman dibentuk oleh Saba'iyun dan tidak harus oleh Qahthan dan anak-anaknya;[45] setelah Saba', Himyar dan Kahlan, putra-putranya memegang kekuasaan;[46] sejumlah orang meyakini bahwa seluruh orang Arab Selatan kembali kepada dua tokoh ini.[47] Kabilah-kabilah terkenal mereka dari marga Himyar, Qudha'ah dan Zaid al-Jumhur, sedangkan Hamdan, Thayyi', Madzhij, Kindah, Lakhm, Judzam, Azd, Aus dan Khazraj adalah dari keturunan Kahlan.[48]

Dari Saba'iyun telah disebutkan sebanyak 23 raja[49] yang memerintah di kawasan ini dan sekitar 700 tahun, dari 850 tahun Sebelum Masehi hingga 115 tahun Sebelum Masehi.[50]

Di abad-abad modern dan melalui penggalian "Ur", sedikit banyak peradaban Saba'iyun yang maju telah terungkap, di mana para sejarawan menganggap era Saba'iyun sebagai era peradaban yang paling gemilang dan menganggap pengaruh kekuasaan serta perluasan wilayah kekuasaan mereka sekitar sebelas abad Sebelum Masehi.[51]

Migrasi

Sekelompok Qahthaniyun setelah kemunduran pemerintahan-pemerintahan selatan serta hancurnya Bendungan Ma'rib dan Banjir 'Arim serta hilangnya kemakmuran dan kesejahteraan hidup, beremigrasi dari Yaman dan menyebar ke seluruh Jazirah, di mana di antaranya kabilah Khuza'ah pergi ke wilayah Makkah dan kabilah-kabilah Aus dan Khazraj ke wilayah Yatsrib serta satu cabang dari kabilah Azd pergi ke kawasan Hirah di Irak dan mendirikan negara Lakhm, lalu kabilah Ali Jafnah pergi ke wilayah Syam dan di kawasan timur Yordania, mendirikan dinasti Ghassaniyun.[52] Beberapa pihak juga telah menyebutkan alasan-alasan lain untuk migrasi sebagian kabilah lainnya, termasuk perselisihan yang terjadi di antara putra-putra Qahthan yang menyebabkan Jurhum dan Mu'tamar dikeluarkan dari Yaman dan mereka masing-masing pergi ke Makkah dan Hijaz.[53]

Alasan migrasi menurut beberapa sejarawan selain Banjir 'Arim dan kemunduran pemerintahan-pemerintahan,[54] disebutkan karena tekanan eksternal oleh negara Romawi, khususnya di bidang perdagangan maritim dan penciptaan masalah di darat serta terhentinya urusan perdagangan dan jatuhnya Mesir serta Syam oleh pasukan Romawi.[55] Himyariyun tetap tinggal di wilayah Yaman dan membentuk pemerintahan-pemerintahan yang kuat;[56] sedemikian rupa sehingga beberapa orang menganggap seluruh penduduk Yaman adalah dari Himyariyun.[57]

Hubungan dengan Adnaniyun

Adnaniyun atau kelompok Ismailiyah atau Arab Utara dari keturunan Nabi Ismail (as) bersama Qahthaniyun sebagai dua asal usul dalam kabilah-kabilah Jazirah Arab,[58] memiliki hubungan yang baik;Templat:Note sedemikian rupa sehingga beberapa peneliti meyakini bahwa hubungan semacam ini menyebabkan stabilitas dan perluasan negara Nabi Muhammad (saw) di Madinah dan bahkan dari satu sisi, puncak memburuknya hubungan mereka menyebabkan pertumbuhan dan perluasan Abbasiyah serta jatuhnya negara Umayyah.[59]

Ikatan dan kepentingan keagamaan bersama serta penyucian Kakbah dianggap sebagai salah satu alasan hubungan persahabatan antara kedua kelompok ini; meskipun di antara mereka terdapat persaingan dalam hal kebanggaan kabilah[60] dan perselisihan serta peperangan juga dilaporkan terjadi di antara mereka; termasuk konflik antara kabilah Khuza'ah dengan Qushay bin Kilab dari Quraisy untuk merebut kekuasaan di Makkah yang berujung pada kekalahan kabilah Khuza'ah dan kekuasaan orang-orang Quraisy atas Makkah[61] dan juga perang Khazaz sebagai salah satu peperangan besar dan penting di masa Jahiliyah juga terjadi antara Qahthaniyun dan Adnaniyun.[62]

Islam dan Syiah

Beberapa kabilah Yaman di awal Islam mengenal agama Islam melalui Imam Ali (as) dan tanpa perang maupun pertumpahan darah, mereka memeluk agama Islam[63] dan menurut beberapa peneliti, mereka selalu menjadi pecinta beliau dan dianggap sebagai Syiah yang tulus baginya.[64] Kabilah-kabilah Qahthani dan Yamani memiliki kehadiran yang luas dalam penaklukan di masa awal Islam dan sebagian besar penduduk Kufah sebagai sebuah kamp militer di front timur, dibentuk oleh kabilah-kabilah Qahthani.[65]

Setelah Wafat Nabi (saw) mayoritas pendukung Ali (as) terdiri dari Anshar yang pada dasarnya adalah kaum Qahthani.[66] Beberapa pihak meyakini bahwa jumlah pengikut beliau di antara kaum Qahthaniyun lebih banyak daripada Adnaniyun dan mayoritas Syiah serta tentara Imam Ali (as) pada masa kekhalifahannya, berasal dari kabilah-kabilah Qahthani.[67]

Di antara kabilah-kabilah Qahthani, rekam jejak Syiah pada kabilah-kabilah seperti Hamdaniyun yang masuk muslim secara langsung di tangan beliau dan juga Kabilah Rabi'ah adalah lebih besar daripada kabilah-kabilah lainnya.[68] Al-Mas'udi, penulis buku Muruj adz-Dzahab, meyakini bahwa bahkan tidak ada satupun orang dari kabilah Hamdan yang hadir dalam pasukan Muawiyah;[69] meskipun di antara beberapa kabilah Qahthani, ada orang-orang yang menentang Imam; seperti Asy'ats bin Qais salah seorang pemuka kabilah Kindah[70] atau beberapa kabilah Qahthani yang mendukung Khawarij.[71]

Pada peristiwa Karbala juga Ibnu Abbas dalam sebuah surat kepada Imam Husain (as) dengan menyinggung keberadaan kaum Syiah yang sangat banyak di wilayah Yaman, memintanya untuk pergi menuju Yaman alih-alih pergi ke Kufah.[72] Pada peristiwa Asyura empat orang dari sahabat Rasulullah (saw) yang kesemuanya berasal dari Anshar, mati syahid.[73]

Catatan

Templat:Catatan

Catatan Kaki

  1. Husaini, Badeh Nab, 1382 HS, hlm. 24.
  2. Ajjaj Karami, Al-Idarah fi 'Ashr ar-Rasul (saw), 1427 H, hlm. 29.
  3. Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 9, hlm. 66.
  4. Khoeizadeh, Daramadi bar Tarikh Islam, 1382 HS, hlm. 36.
  5. Ali, Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, 1976 H, hlm. 354.
  6. Ibrahimi Warkiyani, Tarikh Tahlili Islam, 1390 HS, hlm. 29.
  7. Ayati, Tarikh Payambar Islam, 1378 HS, hlm. 2; Irsyadi, Tarikh Tahlili Shadr Islam, 1384 HS, hlm. 50.
  8. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Beirut, jld. 2, hlm. 156; Thabari, Tarikh ath-Thabari, 1387 HS, jld. 1, hlm. 207.
  9. Ali, Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, 1976 H, hlm. 472; Ja'fariyan, Sirah Rasul Khuda (saw), 1383 H, hlm. 164.
  10. Untuk informasi lebih lanjut, lihat: Ali, Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, 1976 H, hlm. 493-507.
  11. Diyarbakri, Tarikh al-Khamis, Beirut, jld. 1, hlm. 98; Yusufi Gharawi, Tarikh Tahqiqi Islam, 1383 HS, jld. 1, hlm. 125.
  12. Yusufi Gharawi, Tarikh Tahqiqi Islam, 1383 HS, jld. 1, hlm. 97.
  13. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 4.
  14. Mas'udi, Muruj adz-Dzahab, 1409 H, jld. 1, hlm. 54; Suhaili, Ar-Raudh al-Unuf, 1412 H, jld. 1, hlm. 85.
  15. Ibnu Sa'd, Ath-Thabaqat al-Kubra, 1418 H, jld. 1, hlm. 37.
  16. Dinawari, Akhbar ath-Thiwal, 1368 HS, hlm. 6.
  17. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 4; Farahidi, Kitab al-'Ain, Qom, jld. 3, hlm. 39.
  18. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Beirut, jld. 2, hlm. 156.
  19. Himyari Kala'i, Al-Iktifa', 1420 H, jld. 1, hlm. 8.
  20. Mawardi, A'lam an-Nubuwwah, 1409 H, hlm. 185; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Beirut, jld. 2, hlm. 156, menukil dari Ibnu Ishaq.
  21. Ali, Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, 1976 H, hlm. 356.
  22. Yusufi Gharawi, Tarikh Tahqiqi Islam, 1383 HS, jld. 1, hlm. 128.
  23. Waliyan, Rezaei, Negaresyi No beh Tarikh Tahlili Shadr Islam, 1390 HS, hlm. 36.
  24. Ayati, Tarikh Payambar Islam, 1378 HS, hlm. 2.
  25. Yusufi Gharawi, Tarikh Tahqiqi Islam, 1383 HS, jld. 1, hlm. 125.
  26. Ayati, Tarikh Payambar Islam, 1378 HS, hlm. 2.
  27. Ayati, Tarikh Payambar Islam, 1378 HS, hlm. 2.
  28. Dinawari, Akhbar ath-Thiwal, 1368 HS, hlm. 7.
  29. Ayati, Tarikh Payambar Islam, 1378 HS, hlm. 3.
  30. Kisah Nabi Hud (as) dalam surah Al-A'raf, ayat 60-72, Hud, ayat 50-60, 89. Asy-Syu'ara, ayat 123-140. Kisah Nabi Saleh (as) dalam surah Al-A'raf, ayat 73-79, Hud, ayat 61-68, Asy-Syu'ara, ayat 141-159.
  31. Yusufi Gharawi, Tarikh Tahqiqi Islam, 1383 HS, jld. 1, hlm. 127.
  32. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 5.
  33. Dinawari, Akhbar ath-Thiwal, 1368 HS, hlm. 7; Untuk informasi lebih lanjut mengenai asal mula bahasa Arab, lihat: Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 5.
  34. Yusufi Gharawi, Tarikh Tahqiqi Islam, 1383 HS, jld. 1, hlm. 125.
  35. Dinawari, Akhbar ath-Thiwal, 1368 HS, hlm. 7.
  36. Ayati, Tarikh Payambar Islam, 1378 HS, hlm. 2.
  37. Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 9, hlm. 66.
  38. Ibnu Syubhah, As-Sirah an-Nabawiyyah, 1427 H, jld. 1, hlm. 47.
  39. Husaini, Badeh Nab, 1382 HS, hlm. 31.
  40. Yusufi Gharawi, Tarikh Tahqiqi Islam, 1383 HS, jld. 1, hlm. 93.
  41. Surah Saba', ayat 15-19.
  42. Surah An-Naml, ayat 22-23.
  43. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Beirut, jld. 2, hlm. 158.
  44. Yusufi Gharawi, Tarikh Tahqiqi Islam, 1383 HS, jld. 1, hlm. 128.
  45. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, Beirut, jld. 1, hlm. 195.
  46. Ayati, Tarikh Payambar Islam, 1378 HS, hlm. 2.
  47. Yusufi Gharawi, Tarikh Tahqiqi Islam, 1383 HS, jld. 1, hlm. 129.
  48. Husaini, Badeh Nab, 1382 HS, hlm. 24.
  49. Ayati, Tarikh Payambar Islam, 1378 HS, hlm. 2.
  50. Pisywaei, Tarikh Islam, 1397 HS, hlm. 26.
  51. Husaini, Badeh Nab, 1382 HS, hlm. 31.
  52. Pisywaei, Tarikh Islam, 1397 HS, hlm. 31.
  53. Dinawari, Akhbar ath-Thiwal, 1368 HS, hlm. 8.
  54. Pisywaei, Tarikh Islam, 1397 HS, hlm. 31.
  55. Husaini, Badeh Nab, 1382 HS, hlm. 24.
  56. Husaini, Badeh Nab, 1382 HS, hlm. 24.
  57. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Beirut, jld. 2, hlm. 156.
  58. Ali, Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, 1976 H, hlm. 354.
  59. Husainian Muqaddam, Munasabat Makkah wa Madinah Pisy az Islam dar Cyesym Andaz Rawabith Qahthani - Adnani, Musim Dingin 1381 HS, hlm. 45.
  60. Ali, Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, 1976 H, hlm. 356.
  61. Husainian Muqaddam, Munasabat Makkah wa Madinah Pisy az Islam dar Cyesym Andaz Rawabith Qahthani - Adnani, Musim Dingin 1381 HS.
  62. Untuk informasi lebih lanjut, lihat: Husainian Muqaddam, Munasabat Makkah wa Madinah Pisy az Islam dar Cyesym Andaz Rawabith Qahthani - Adnani, Musim Dingin 1381 HS.
  63. Thabari, Tarikh ath-Thabari, 1387 HS, jld. 3, hlm. 132.
  64. Muharrami, Tarikh Tasyayyu' az Aghaz ta Payan 'Ashr Ghaibat Sughra, 1378 HS, hlm. 192.
  65. Muharrami, Tarikh Tasyayyu' az Aghaz ta Payan 'Ashr Ghaibat Sughra, 1378 HS, hlm. 175.
  66. Muharrami, Tarikh Tasyayyu' az Aghaz ta Payan 'Ashr Ghaibat Sughra, 1378 HS, hlm. 191.
  67. Muharrami, Tarikh Tasyayyu' az Aghaz ta Payan 'Ashr Ghaibat Sughra, 1378 HS, hlm. 191.
  68. Muharrami, Tarikh Tasyayyu' az Aghaz ta Payan 'Ashr Ghaibat Sughra, 1378 HS, hlm. 135, 194.
  69. Muharrami, Tarikh Tasyayyu' az Aghaz ta Payan 'Ashr Ghaibat Sughra, 1378 HS, hlm. 194 menukil dari Mas'udi.
  70. Untuk informasi lebih lanjut, lihat: Muntazharul Qa'im, Jostari dar Tarikh Qabileh Kindah wa Naqsy Nokhbegan An, Musim Gugur 1377 HS; Abdi, Siyawash, Qabileh Kindah Qabl az Islam, Musim Dingin 1385 HS.
  71. Pazhouhesykadeh Tahqiqat Islami, Muroori bar Zendegani Farmandehan Islam, Teheran, hlm. 71; Kordi, Posytibani Barkhi az Saran Siyasi Arab Qahthani az Khawarij dar Sadeh Awwal wa Dowwom Hejri, Musim Gugur dan Musim Dingin 1384 HS.
  72. Muharrami, Tarikh Tasyayyu' az Aghaz ta Payan 'Ashr Ghaibat Sughra, 1378 HS, hlm. 191.
  73. Muharrami, Tarikh Tasyayyu' az Aghaz ta Payan 'Ashr Ghaibat Sughra, 1378 HS, hlm. 192.

Daftar Pustaka

  • Abdi, Siyawash. "Qabileh Kindah Qabl az Islam", Majalah Tarikh Islam, Nomor 28, Musim Dingin 1385 HS.
  • Abu Syubhah, Muhammad bin Muhammad. As-Sirah an-Nabawiyyah 'ala Dhau' al-Qur'an wa as-Sunnah. Damaskus, Penerbit al-Qalam, Cetakan Kedelapan, 1427 H.
  • Ajjaj Karami, Ahmad. Al-Idarah fi 'Ashr ar-Rasul (saw). Kairo, Penerbit al-Islam, 1427 H.
  • Ali, Jawad. Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam. Beirut, Penerbit al-'Ilm li al-Malayin, 1976 H.
  • Ayati, Muhammad Ibrahim. Tarikh Payambar Islam (Sejarah Nabi Islam). Teheran, Universitas Teheran, Cetakan Keenam, 1378 HS.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Beirut, Penerbit al-Fikr, 1417 H.
  • Dinawari, Abu Hanifah. Akhbar ath-Thiwal. Qom, Nasyr Radhi, 1368 HS.
  • Diyarbakri, Syaikh Husain. Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfas an-Nafis. Beirut, Penerbit ash-Shadir, T.t.
  • Farahidi, Khalil bin Ahmad. Kitab al-'Ain. Qom, Nasyr Hijrat, Cetakan Kedua, T.t.
  • Himyari Kala'i, Abu ar-Rabi'. Al-Iktifa' bima Tadhammanahu min Maghazi Rasulullah (saw) wa ats-Tsalatsah al-Khulafa'. Beirut, Penerbit al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1420 H.
  • Husaini, Muhammad Bahauddin. Badeh Nab. Sanandaj, Penerbit Kurdistan, 1382 HS.
  • Husainian Muqaddam, Husain. "Munasabat Makkah wa Madinah Pisy az Islam dar Cyesym Andaz Rawabith Qahthani - Adnani", Majalah Nameh Ulum Insani, Nomor 6 & 7, Musim Dingin 1381 HS.
  • Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, Ismail. Al-Bidayah wa an-Nihayah. Beirut, Penerbit al-Fikr, T.t.
  • Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Diwan al-Mubtada' wa al-Khabar fi Tarikh al-'Arab wa al-Barbar wa.... Riset: Khalil Syahadah. Beirut, Penerbit al-Fikr, Cetakan Kedua, 1408 H.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-'Arab. Beirut, Penerbit ash-Shadir, Cetakan Ketiga, 1414 H.
  • Ibnu Sa'd, Muhammad. Ath-Thabaqat al-Kubra. Beirut, Penerbit al-Kutub al-'Ilmiyyah, Cetakan Kedua, 1418 H.
  • Ibrahimi Warkiyani, Muhammad. Tarikh Tahlili Islam az Aghaz ta Waqi'ah Thaff (Sejarah Analitik Islam dari Awal Hingga Peristiwa Thaff). Qom, Daftar Nasyr Ma'arif, 1390 HS.
  • Irsyadi, Ainullah. Tarikh Tahlili Shadr Islam (Sejarah Analitik Awal Islam). Teheran, Syokoufeh-haye Danesy, 1384 HS.
  • Ja'fariyan, Rasul. Sirah Rasul Khuda (saw) (Tarikh Siyasi Islam) (Sirah Rasulullah saw (Sejarah Politik Islam)). Qom, Dalil-e Ma, Cetakan Ketiga, 1383 H.
  • Khoeizadeh, Bahman. Daramadi bar Tarikh Islam (Pengantar Sejarah Islam). Karaj, Sarafraz, 1382 HS.
  • Kordi, Reza. "Posytibani Barkhi az Saran Siyasi Arab Qahthani az Khawarij dar Sadeh Awwal wa Dowwom Hejri", Majalah Tarikh wa Tamaddon Islami, Nomor Dua, Musim Gugur dan Musim Dingin 1384 HS.
  • Maqrizi, Taqiuddin. Imta' al-Asma' bima li an-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata'. Beirut, Penerbit al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1420 H.
  • Mas'udi, Ali bin Husain. Muruj adz-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Qom, Penerbit al-Hijrah, Cetakan Kedua, 1409 H.
  • Mawardi, Ali bin Muhammad. A'lam an-Nubuwwah. Beirut, Dar wa Maktabah al-Hilal, 1409 H.
  • Muharrami, Gholamhasan. Tarikh Tasyayyu' az Aghaz ta Payan 'Ashr Ghaibat Sughra (Sejarah Syiah dari Awal Hingga Akhir Era Kegaiban Kecil). Qom, Muassasah Amuzyesyi Pazhouhesyi Imam Khomeini (ra), Cetakan Ketujuh, 1378 HS.
  • Muntazharul Qa'im, Ali Asghar. "Jostari dar Tarikh Qabileh Kindah wa Naqsy Nokhbegan An", Danesykadeh Adabiyat wa Ulum Insani (Universitas Isfahan), Nomor 13 & 14, Musim Gugur 1377 HS.
  • Pazhouhesykadeh Tahqiqat Islami. Muroori bar Zendegani Farmandehan Islam (Tinjauan Kehidupan Para Komandan Islam). Teheran, Markaz Tahqiqat Sepah, T.t.
  • Pisywaei, Mahdi. Tarikh Islam, az Jahiliyyat ta Rehlat Payambar Islam (Sejarah Islam, dari Jahiliyah hingga Wafatnya Nabi Islam). Qom, Daftar Nasyr Ma'arif, 1397 HS.
  • Suhaili, Abdurrahman. Ar-Raudh al-Unuf fi Syarh as-Sirah an-Nabawiyyah. Beirut, Penerbit Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1412 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim. Beirut, Penerbit at-Turats, Cetakan Kedua, 1387 HS.
  • Waliyan, Hamid & Rezaei, Qasim. Negaresyi No beh Tarikh Tahlili Shadr Islam (Pandangan Baru pada Sejarah Analitik Awal Islam). Qaem Shahr, Mab'ats, 1390 HS.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abu Ya'qub. Tarikh Ya'qubi. Beirut, Penerbit ash-Shadir, T.t.
  • Yaqut al-Hamawi, Yaqut bin Abdullah. Mu'jam al-Buldan. Beirut, Penerbit ash-Shadir, Cetakan Kedua, T.t.
  • Yusufi Gharawi, Muhammad Hadi. Mausu'ah at-Tarikh al-Islami. Qom, Majma' Andisyeh Islami, 1417 H.
  • Yusufi Gharawi, Muhammad Hadi. Tarikh Tahqiqi Islam (Sejarah Penelitian Islam). Qom, Muassasah Imam Khomeini (ra), Cetakan Keempat, 1383 HS.