Lompat ke isi

Konsep:Penyembahan Berhala

Dari wikishia

Penyembahan Berhala atau Pemujaan Berhala merujuk pada penyembahan kepada selain Allah. Di dalam Al-Qur'an, terdapat banyak ayat mengenai larangan tersebut, kecaman terhadap penyembah berhala, serta konsekuensi-konsekuensinya. Contoh penyembahan berhala juga dilaporkan terjadi di kalangan kaum para Nabi, termasuk Kaum Nuh, era Ibrahim, pengikut Musa dan Isa, serta masyarakat Arab pada masa Nabi Islam. Faktor-faktor seperti ketidaktahuan agama dan mengikuti tradisi nenek moyang disebutkan sebagai alasan kecenderungan terhadap penyembahan berhala.

Dalam sumber-sumber Islam, disebutkan nama-nama berhala seperti Latta, Uzza, Manat, Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr. Berdasarkan laporan sejarah, berhala-berhala yang ditempatkan di Ka'bah dihancurkan oleh Imam Ali (as) dan para sahabat Nabi (saw) setelah Penaklukan Mekah.

Dalam tafsir-tafsir Islam, di antara cara untuk menghadapi penyembahan berhala adalah penekanan pada keesaan Tuhan, dakwah para nabi, dan pengingatan akan konsekuensi-konsekuensinya. Selain itu, dalam beberapa pandangan teologi Syiah, dibahas mengenai Ketauhidan Leluhur Nabi serta keimanan Abu Thalib.

Konsep dan Kedudukan Penyembahan Berhala

Penyembahan berhala berarti menyembah "berhala" alih-alih menyembah Allah.[1] Berhala adalah patung atau simbol yang dibuat oleh tangan manusia, dan para penyembahnya memuja benda tersebut sebagai tuhan mereka.[2] Di dalam Al-Qur'an[3] dan riwayat,[4] disebutkan mengenai penyembahan berhala. Sekitar seperempat ayat Al-Qur'an dianggap berkaitan dengan perjuangan melawan penyembahan berhala.[5]


Dari perspektif Teologi Islam, penyembahan berhala termasuk salah satu contoh dari Syirik. Para penyembah berhala terjerumus ke dalam syirik dalam ibadah (menyembah selain Allah) serta syirik dalam rububiyah. Menurut Ja'far Subhani, penyembahan berhala, sebelum sekadar menjadi syirik dalam ibadah, merupakan bentuk syirik dalam Rububiyah, dan pemujaan berhala adalah hasil dari keyakinan tersebut.[6]

Penyembahan berhala bukan sekadar pembahasan teologis atau historis, melainkan memiliki dampak praktis dan hukum. Para fakih dalam berbagai bab seperti perdagangan, jaminan (dhamman), dan sumpah, membahas mengenai keharaman pembuatan, jual beli, atau penyimpanan berhala serta masalah-masalah terkait lainnya.[7]

Hubungan Penyembahan Berhala dengan Masalah Syafaat

Kaum Wahabi meyakini bahwa meminta Syafaat dari manusia mana pun tidak diperbolehkan, bahkan jika itu adalah Nabi (saw). Menurut keyakinan mereka, permintaan semacam itu tidak ada bedanya dengan penyembahan berhala, karena dianggap sebagai bentuk pengabdian kepada selain Allah.[8] Sebagai jawabannya, dikatakan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara meminta syafaat dari para kekasih Allah (awliya) dengan meminta kepada berhala. Para penyembah berhala menganggap berhala memiliki semacam independensi dan kekuatan zat, bukannya meyakini bahwa Allah memberikan izin syafaat kepada mereka. Namun dalam keyakinan umat Islam, syafaat hanya terwujud dengan izin Ilahi, dan Nabi atau para wali Allah tidak memiliki independensi sendiri, melainkan mereka adalah perantara yang telah Allah izinkan untuk memberi syafaat.[9] Selain itu, kaum Syiah dan sekelompok Ahlusunnah meyakini bahwa ayah, ibu, dan nenek moyang para nabi adalah kaum monoteis (muwahid).[10] Berdasarkan riwayat, Abu Thalib pun tidak pernah menyembah berhala.[11]

Sejarah Penyembahan Berhala

Al-Qur'an berbicara mengenai maraknya penyembahan berhala di kalangan berbagai kaum. Dalam tafsir-tafsir, penyebaran terang-terangan penyembahan berhala dinisbatkan pada masa Nuh,[12] dan setelah itu kaum-kaum seperti 'Ad[13] dan Tsamud juga beralih menyembah berhala serta membangun banyak kuil dan patung berhala untuk diri mereka sendiri.[14]

Pada periode Ibrahim, kota Babilonia termasuk salah satu pusat penyembahan berhala yang paling penting.[15] Selain itu, dari ayat-ayat Al-Qur'an dapat dipahami[16] bahwa kaum Yusuf membuat berhala dari batu dan kayu[17] dan kaum Syuaib pun terjerat dalam penyimpangan akidah yang sama.[18]

Di era Musa, manifestasi penyembahan berhala masih tetap ada[19] dan Al-Qur'an memperkenalkan kaum Ilyas sebagai masyarakat penyembah berhala[20] yang mana beliau mengajak mereka untuk meninggalkan tradisi tersebut.[21] Penduduk kota Antiokhia pada masa Isa cenderung pada penyembahan berhala[22] dan utusan-utusannya dihadapi dengan pendustaan oleh masyarakat.[23] Al-Qur'an juga memperkenalkan masyarakat pada masa Ashabulkahfi sebagai penyembah berhala.[24] Pada masa bi'tsah Nabi Islam, sebagian besar masyarakat Arab terjerat dalam penyembahan berhala, dan banyak ayat Al-Qur'an dikhususkan untuk mengkritik dan menolak keyakinan ini.[25] Setelah itu pada periode-periode berikutnya, kecenderungan paganistik tetap bertahan di beberapa wilayah dunia—terutama di sebagian Asia Timur dan India—dan contoh-contohnya bahkan teramati di beberapa kota Barat.[26]

Berhala-Berhala Masyhur

Ibnu al-Kalbi dalam kitab al-Ashnam menyebutkan beberapa berhala masyhur dan masalah di sekitarnya, yaitu: Suwa', Wadd, Yaghuts, Ya'uq, Nasr, Manat, Latta, Uzza, Hubal, Isaf dan Na'ilah, Manaf, Dzul Khalashah, Sa'ad, Dzul Kaffain, Dzu al-Syara, Aqayshir, Naham, 'A'im, Sa'ir, 'Umyanis, Fals, Ya'bub, Bajir.[27] Nama tujuh berhala secara khusus disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu: "Latta" dan "Uzza" (ayat 19 Surah An-Najm), "Manat" (ayat 20 Surah An-Najm), serta "Wadd", "Suwa'", "Yaghuts", "Ya'uq", dan "Nasr" (ayat 23 Surah Nuh). Lima berhala terakhir termasuk berhala yang namanya terjaga sepanjang sejarah hingga berpindah kepada orang-orang Arab; dan sebagian orang Arab dipanggil dengan nama Abdul Wadd dan Abdul Yaghuts.[28]

Penghancuran Berhala oleh Nabi (saw) dan Imam Ali (as)

Setelah Penaklukan Mekah, Nabi (saw) bertindak menghancurkan berhala-berhala di atas atap Ka'bah.[29] Nama beberapa berhala yang dihancurkan antara lain: Berhala Isaf dan Na'ilah yang dihancurkan oleh Nabi (saw) pada Tahun 8 Hijriah saat Penaklukan Mekah.[30] Atas saran Nabi (saw), Ali (as) naik ke pundak Nabi dan melemparkan berhala-berhala ke tanah.[31] Berhala Manat, Hubal, dan Fals dihancurkan oleh Sayyidina Ali (as).[32]

Faktor-Faktor Penyembahan Berhala

Dalam tafsir-tafsir disebutkan beberapa hal sebagai faktor penyebab penyembahan berhala, seperti mencari pertolongan,[33] taklid buta,[34] mencari kemuliaan,[35] meminta rezeki,[36] syafaat,[37] menarik manfaat dan menolak bahaya, serta kejahilan.

  • Taklid Buta: Allamah Thabathaba'i menganggap motivasi penyembahan berhala adalah taklid para penyembahnya kepada nenek moyang mereka.[41] Allah dalam banyak ayat[42] membahas mengenai taklid para penyembah berhala kepada ayah-ayah mereka dan mengecam mereka dengan keras.[43]

Solusi Al-Qur'an untuk Memberi Hidayah kepada Penyembah Berhala

Al-Qur'an menawarkan solusi terbaik dan utama untuk memberi hidayah kepada para penyembah berhala, yaitu:

  • Mengarahkan perhatian pada Tauhid dan Keesaan: Allah menekankan dalam Al-Qur'an bahwa tidak ada pencipta selain Tuhan yang Esa, dan rezeki langit serta bumi berada di tangan-Nya; maka ibadah haruslah hanya ditujukan kepada-Nya.[44]
  • Mengarahkan perhatian pada Kepemilikan Hakiki: Allah berkata kepada kaum Nasrani yang berpendapat pada ketuhanan Nabi Isa (as) bahwa Nabi Isa (as) tidak memiliki manfaat maupun bahaya bagi orang lain. Jika seseorang menganggap Nabi Isa (as) sebagai tuhannya maka ia telah melakukan kesalahan besar, apalagi jika menganggap patung-patung buatan tangannya sendiri memiliki kedudukan ketuhanan.[45]
  • Mengarahkan perhatian pada Dakwah para Rasul: Allah berfirman kepada Nabi Islam (saw): "Dan tanyalah kepada utusan-utusan Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: 'Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?'"[46] Artinya jika engkau menanyakan pertanyaan ini kepada mereka, maka mereka akan menjawab: Kami tidak pernah memberikan perintah (penyembahan berhala) semacam itu kepada mereka, dan tidak memaksa mereka menyembah tuhan-tuhan tersebut.[47] Karena dakwah pertama dan utama seluruh nabi adalah ajakan kepada Tauhid, dan perintah lainnya kembali pada tauhid.[48]
  • Mengarahkan perhatian pada Akhir Penyembahan Berhala: Para penyembah berhala memiliki akhir yang menyakitkan yaitu Neraka yang menyala-nyala. Mereka berharap agar berhala-berhala memberi syafaat bagi mereka di sisi Allah, namun berlawanan dengan bayangan mereka, Allah melemparkan para penyembah berhala beserta berhala-berhala mereka ke dalam api neraka.[49]

Akhir dari Penyembahan Berhala

Para mufasir menganggap salah satu konsekuensi penyembahan berhala adalah menzalimi diri sendiri.[50] Konsekuensi lainnya adalah azab Ilahi.[51] Para mufasir menganggap konsekuensi lain adalah tidak layaknya penyembah berhala untuk jabatan imamah dan kepemimpinan masyarakat.[52] Dalam riwayat dinukil bahwa Nabi Ibrahim (as) bertanya kepada Allah mengenai siapa orang zalim dari keturunannya yang tidak mendapatkan janji-Nya. Allah menjawab: Orang yang melakukan sujud di hadapan berhala. Orang semacam itu tidak memiliki kompetensi untuk memimpin masyarakat dan mengimami umat.[53] Para mufasir juga menganggap dampak lain penyembahan berhala adalah kesesatan dan penyimpangan.[54] Dampak lainnya adalah kecaman dari Allah dan para nabi.[55] Menurut pernyataan Thabarsi, para penyembah berhala beserta berhala-berhalanya adalah kayu bakar neraka dan akan dicampakkan ke neraka laksana kerikil serta kekal di dalamnya.[56] Para mufasir juga menjelaskan mengenai kehancuran Kaum Nuh, Kaum 'Ad, dan Kaum Tsamud karena penyembahan berhala setelah diberikan argumen yang tuntas (itmamul hujjah) kepada mereka.[57]

Bibliografi

Banyak buku telah ditulis dan diterbitkan mengenai penyembahan berhala dan masalah di sekitarnya. Beberapa di antaranya adalah:

  • Pezhuhesyi Piramun-e Syerk wa Bot-parasti dar Qur'an, karya Abbas Sayyid Karimi Hosseini dengan kata pengantar dari Mohammad Hadi Ma'rifat yang diterbitkan oleh Penerbit Kawsar-e Adab pada tahun 1385 HS. Buku ini merupakan riset Qur'ani dan tafsir dalam menganalisis hakikat syirik dan penyembahan berhala yang disusun dalam 11 bab dengan bersandar pada pendapat para mufasir dan analisis banyak ayat.[58]
  • Bot-parasti-ye Arab-e Jaheli az Manzhar-e Qur'an, karya Qasim Fa'ez yang diterbitkan oleh Penerbit Mafaz pada tahun 1385 HS. Dalam buku ini dikaji mengenai akar penyembahan berhala dan pengenalan berhala-berhala Arab Jahiliah.[59]
  • Kitab al-Ashnam, karya Ibnu al-Kalbi yang diterbitkan oleh Penerbit Dar al-Kutub al-Mishriyyah pada tahun 2000 M. Buku ini membahas mengenai berhala-berhala Arab Jahiliah dan kabilah-kabilah yang menyembahnya serta tata cara penyembahan, nama, dan lokasi mereka.[60]

Catatan Kaki

  1. Nafisi, Farhang-e Nafisi, 1342 H, jld. 1, hlm. 529.
  2. Parousyani, "Bot/Bot-parasti", jld. 2, hlm. 215.
  3. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 20, hlm. 34; Surah Nuh, ayat 23; Surah Al-An'am, ayat 74; Surah Yusuf, ayat 40; Surah Hud, ayat 87 dan 88.
  4. Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 145; Qomi, Tafsir al-Qomi, 1404 H, jld. 1, hlm. 206; Bahrani, al-Burhan, 1374 HS, jld. 2, hlm. 432.
  5. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 381.
  6. Subhani, Asynayi ba Aqa'id wa Madzahib-e Eslami, 1396 HS, jld. 1, hlm. 277.
  7. Najafi, Jawahir al-Kalam, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 22, hlm. 25-27; Syahid Awwal, al-Durus al-Syar'iyyah, Muasasah al-Nasyr al-Islami, jld. 2, hlm. 161.
  8. Mughniyah, Hadzihi Hiya al-Wahhabiyyah, 1408 H, hlm. 75.
  9. Taheri Khorramabadi, Syafa'at, Muasasah Bustan-e Ketab, hlm. 54.
  10. Syekh Saduq, al-I'tiqadat, 1414 H, hlm. 110; Allamah Hilli, Nahj al-Haqq wa Kasyf al-Shidq, 1982 M, hlm. 159-160; Alusi, Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Adzim, 1415 H, jld. 10, hlm. 135.
  11. "Nam-e Ashli wa Din-e Hazrat Abu Thalib (as) Cyih Bud?", Kantor Berita Resmi Hauzah.
  12. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 1, hlm. 455; Bahrani, al-Burhan, 1415 H, jld. 5, hlm. 499.
  13. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 4, hlm. 673-686; Surah Al-A'raf, ayat 65, 70, dan 71; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 264-258; Surah Hud, ayat 50, 53, dan 59; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 6, hlm. 469-476; Surah Ibrahim, ayat 9 dan 10; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 9, hlm. 142-146; Surah Al-Ahqaf, ayat 21 dan 22.
  14. Najjar, Qashash al-Anbiya, 1431 H, hlm. 110.
  15. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 9, hlm. 90.
  16. Sebagai contoh: "...manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu..." Surah Yusuf, ayat 39.
  17. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 358.
  18. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 12, hlm. 383.
  19. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 4, hlm. 76; Surah Al-A'raf, ayat 138.
  20. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 8, hlm. 713; Surah Ash-Shaffat, ayat 123-126.
  21. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 23, hlm. 59-60; Tsa'labi, Qashash al-Anbiya, al-Maktabah al-Tsaqafiyyah, hlm. 223.
  22. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 8, hlm. 658; Surah Yasin, ayat 20, 22, dan 23.
  23. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 8, hlm. 655; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 348.
  24. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 6, hlm. 706-712; Surah Al-Kahf, ayat 9 dan 15.
  25. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 3, hlm. 355; Surah Al-Ma'idah, ayat 76; Surah Al-An'am, ayat 56; Surah Yunus, ayat 104; Surah Hud, ayat 109.
  26. "Alamat-e Syerk Cyigoune-and?", Situs Jawaban atas Syubhat dan Pertanyaan.
  27. Ibn al-Kalbi, Kitab al-Ashnam, 2000 M, hlm. 9-63.
  28. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 10, hlm. 548; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 25, hlm. 83.
  29. Ibn Thawus, al-Thara'if, 1400 H, jld. 1, hlm. 80.
  30. Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldan, 1995 M, jld. 1, hlm. 171.
  31. Ibnu Syahrasyub, al-Manaqib, 1379 H, jld. 2, hlm. 135.
  32. Momtahan, Nahdhat-e Syu'ubiyyah, 1385 HS, hlm. 62; Yousefi Gharawi, Mausu'ah al-Tarikh al-Islami, 1417 H, jld. 3, hlm. 228; Amin, A'yan al-Syiah, 1403 H, jld. 1, hlm. 414.
  33. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 17, hlm. 110.
  34. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 16, hlm. 120; Surah Al-Anbiya, ayat 52; Surah Asy-Syu'ara, ayat 74.
  35. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 14, hlm. 107-108.
  36. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 16, ayat 115.
  37. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 10, hlm. 34.
  38. Sadeqi Tehrani, al-Furqan, 1365 HS, jld. 11, hlm. 268.
  39. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 8, hlm. 239.
  40. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 371.
  41. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 6, hlm. 159.
  42. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 6, hlm. 158; Surah Al-Ma'idah, ayat 104; Surah Hud, ayat 62 dan 109; Surah Ibrahim, ayat 10; Surah Al-Anbiya, ayat 53.
  43. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 1, ayat 419; Surah Al-Baqarah, ayat 170.
  44. Gonabadi, Tafsir Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-Ibadah, 1408 H, jld. 3, hlm. 274.
  45. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 5, hlm. 38-40.
  46. Surah Az-Zukhruf, ayat 45.
  47. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 9, hlm. 76.
  48. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 12, hlm. 36.
  49. Thabarsi, Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 3, hlm. 29; Surah Al-Anbiya, ayat 98.
  50. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 14, hlm. 301; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 439; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 7, hlm. 86; Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 338; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 12, hlm. 268.
  51. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 8, hlm. 179; Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 4, hlm. 674; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 230.
  52. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hlm. 443.
  53. Thusi, al-Amali, 1414 H, jld. 1, hlm. 379; Huwaizi, Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 1, hlm. 121.
  54. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 5, hlm. 302; Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 12, hlm. 69; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 7, hlm. 120.
  55. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 14, hlm. 274; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 7, hlm. 71; Thabarsi, Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 3, hlm. 9; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1439 H, jld. 12, hlm. 234.
  56. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 7, hlm. 102; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 506-507.
  57. Thabathaba'i, al-Mizan, 1352 HS, jld. 12, hlm. 23; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 286; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 6, hlm. 489; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1439 H, jld. 10, hlm. 118; Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hlm. 382.
  58. "Pezhuhesyi Piramun-e Syerk wa Bot-parasti dar Qur'an", Situs Jaringan Buku Gisoom.
  59. "Bot-parasti-ye Arab-e Jaheli az Manzhar-e Qur'an", Situs Jaringan Buku Gisoom.
  60. Bagian Bibliografi Kitab al-Ashnam dalam Software Jami' Manabi' Tarikh Pusat Riset Noor.

Daftar Pustaka

  • Al-Alusi, Mohammad Syukri. Bulugh al-Arab fi Ma'rifati Ahwal al-Arab. Beirut: cetakan Mohammad Bahjah Atsari, tanpa tahun.
  • Al-Alusi, Sayyid Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Adzim. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet. 1, 1415 H.
  • Al-Ayyasyi, Mohammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Koreksi: Hashem Rasouli. Teheran: Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyyah, cet. 1, 1380 H.
  • Al-Fakhr al-Razi, Mohammad bin Umar. al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cet. 3, 1420 H.
  • Ali, Jawad. al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam. Beirut: Dar al-Ilm lil Malayin, cet. 2, 1391 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Nahj al-Haqq wa Kasyf al-Shidq. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani, cet. 1, 1982 M.
  • Amin, Mohsen. A'yan al-Syiah. Beirut: Dar al-Ta'aruf lil Mathbu'at, cet. 1, 1403 H.
  • Bahrani, Hashem bin Sulaiman. al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Muasasah al-Ba'tsat, 1416 H.
  • Dahlan, Ahmad Zaini. al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Fikr, cet. 1, 1421 H.
  • Dayarbakri, Hossein bin Mohammad. Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfasi Nafis. Beirut: Dar Sadir, cet. 1, tanpa tahun.
  • Fadhlullah, Mohammad Hossein. Min Wahy al-Qur'an. Beirut: Dar al-Malak, cet. 3, 1439 H.
  • Gonabadi, Sultan Mohammad. Tafsir Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-Ibadah. Beirut: Muasasah al-A'lami, cet. 2, 1408 H.
  • Hosseini Hamadani, Sayyid Mohammad Hossein. Anwar-e Derakhsyan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Mohammad Baqer Behboudi. Teheran: Toko Buku Lutfi, cet. 1, 1404 H.
  • Huwaizi, Abd-Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Koreksi: Hashem Rasouli. Qom: Isma'iliyyan, cet. 4, 1415 H.
  • Ibn al-Atsir, Ali bin Mohammad. al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Dar Sadir, cet. 1, 1385 H.
  • Ibn al-Kalbi, Hisham bin Mohammad. Kitab al-Ashnam. Riset: Ahmad Zaki Safwat. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet. 4, 2000 M.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad bin Mohammad. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Beirut: Muasasah al-Risalah, cet. 1, 1416 H.
  • Ibnu Syahrasyub, Mohammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib (as). Qom: Allamah, 1379 H.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. al-Thara'if fi Ma'rifati Madzahib al-Thawa'if. Qom: Khayyam, 1400 H.
  • Ibnu 'Arabi. Muhadharah al-Abrar wa Musamarah al-Akhyar. Riset: Mohammad Abdul Karim Namari. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet. 1, 1422 H.
  • Jafari Langroudi, Mohammad Jafar. Mabsuth dar Terminology-ye Hoquq. Teheran: Nasyre Amirkabir, 1395 HS.
  • Javadi Amoli, Abdullah. Adab-e Fanaye Moqarraban. Riset: Qanbar-ali Samadi dan Ehsan Ebrahimi. Qom: Isra, cet. 1, 1393 HS.
  • Majlisi, Mohammad Baqer. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cet. 2, 1403 H.
  • Makarem Shirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. 32, 1374 HS.
  • Modarresi, Mohammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran: Dar Muhibbi al-Husain (as), cet. 1, 1419 H.
  • Momtahan, Hossein-Ali. Nahdhat-e Syu'ubiyyah. Teheran: Entesyarat-e Elmi Farhangi, cet. 3, 1385 HS.
  • Mughniyah, Mohammad Javad. Hadzihi Hiya al-Wahhabiyyah. Teheran: Munadzdzamah al-I'lam al-Islami, cet. 1, 1408 H.
  • Najjar, Abdul Wahhab. Qashash al-Anbiya. Qom: Madin, cet. 1, 1431 H.
  • Najafi, Mohammad Hasan. Jawahir al-Kalam. Riset: Jafar bin Hasan Hilli. Qom: Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, cet. 1, 1421 H.
  • Parousyani, Iraj. "Bot/Bot-parasti". Dalam Danisy-nameh-ye Jahan-e Eslami, jld. 2. Teheran: Bonyad-e Dairat al-Ma'arif-e Eslami, cet. 2, 1375 HS.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir-e Nur. Teheran: Pusat Budaya Dars-ha-yi az Qur'an, cet. 1, 1388 HS.
  • Qomi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qomi. Koreksi: Thayyib Jazairi. Qom: Dar al-Kitab, cet. 3, 1404 H.
  • Raghib al-Isfahani, Hossein bin Mohammad. al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an. Tanpa tempat: Daftar-e Nasyr al-Kitab, cet. 2, 1404 H.
  • Sadeqi Tehrani, Mohammad. al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Farhang-e Eslami, cet. 2, 1365 HS.
  • Syahid Awwal, Mohammad bin Makki. al-Durus al-Syar'iyyah fi Fiqh al-Imamiyyah. Qom: Muasasah al-Nasyr al-Islami, 1412 H.
  • Syekh Saduq, Mohammad bin Ali. al-I'tiqadat. Qom: al-Mu'tamar al-Alami lil Syaikh al-Mufid, cet. 2, 1414 H.
  • Subhani, Ja'far. Asynayi ba Aqa'id wa Madzahib-e Eslami. Qom: Muasasah Imam Shadiq (as), 1396 HS.
  • Taheri Khorramabadi, Sayyid Hasan. Syafa'at. Qom: Muasasah Bustan-e Ketab, cet. 1, 1385 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Koreksi: Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i dan Hashem Rasouli. Beirut: Dar al-Ma'rifah, cet. 2, 1408 H.
  • Thabari, Mohammad bin Jarir. Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an. Riset: Abdullah bin Abdul Muhsin Turki. Kairo: Hajar, cet. 1, 1422 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Mohammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muasasah al-A'lami lil Mathbu'at, cet. 3, 1352 HS.
  • Thayyib, Abdul Hossein. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Islam, cet. 1, 1378 HS.
  • Thusi, Mohammad bin Hasan. al-Amali. Riset dan koreksi: Muasasah al-Ba'tsat. Qom: Dar al-Tsaqafah, cet. 1, 1414 H.
  • Yaqut al-Hamawi, Yaqut bin Abdullah. Mu'jam al-Buldan. Beirut: Dar Sadir, cet. 2, 1995 M.