Lompat ke isi

Konsep:Menjaga Baidzah Islam

Dari wikishia

Menjaga baidhah Islam (mempertahankan eksistensi Islam) adalah sebuah istilah fikih yang ditafsirkan sebagai menjaga pokok agama Islam, masyarakat Islam, jamaah kaum muslimin atau bahkan wilayah geografis negara-negara Islam. Konsep ini termasuk masalah penting dalam jihad dan fikih politik dan dikenal sebagai salah satu kewajiban kifa'i. Dalam berbagai kondisi, khususnya pada masa kegaiban Imam, tugas ini berada di pundak para fakih. Kaidah ini digunakan untuk membuktikan wilayah (otoritas) para fakih dan pembentukan pemerintahan Islam. Para fakih jika terjadi ancaman terhadap baidhah Islam, menganggap perlu untuk mempertahankannya dan dalam hal ini mereka mengajukan beberapa syarat, di antaranya tidak perlunya izin Imam dan keharusan niat membela (mempertahankan) daripada niat jihad.

Menurut para fakih, seseorang harus mengikuti setiap ajakan untuk membela Islam, meskipun orang tersebut tidak saleh. Selain itu, menjaga baidhah Islam bergantung pada keberadaan pasukan keamanan (aparat penegak hukum) dan penyediaan sumber daya internal, oleh karena itu menjaga sistem Islam adalah wajib dan darurat (penting).

Dalam sejarah Islam, perhatian untuk menjaga baidhah Islam dalam menghadapi berbagai ancaman dapat dilihat. Mulai dari diamnya Imam Ali (as) dalam menghadapi ancaman dan menyerahkan pemerintahan kepada Abu Bakar hingga jihad para fakih pada era Qajar melawan serangan asing. Pada masa Konstitusionalisme (Masyrutah), ada berbagai tafsir tentang baidhah Islam; sebagian menganggap membela penguasa Islam sebagai menjaga baidhah Islam dan sebagian lainnya menganggap pendirian majelis nasional (sebagai menjaga baidhah Islam). Pada abad kedua puluh dan dua puluh satu, konsep baidhah Islam juga diperluas ke bidang ekonomi dan politik dan perjanjian-perjanjian yang menyebabkan dominasi asing atas umat Islam, sangat dicegah.

Terminologi dan Hukum Membela Baidhah Islam

Baidhah Islam adalah istilah fikih[1] dan termasuk masalah penting[2] yang dibahas dalam bab jihad dan fikih politik.[3] Baidhah Islam berarti pokok agama Islam,[4] masyarakat Islam,[5] jamaah kaum muslimin[6] atau wilayah geografis Islam dan negara-negara Islam.[7] Farhang Fiqh Farsi menyebut baidhah Islam dengan ungkapan dasar dan eksistensi Islam.[8] Baidhah secara terminologis bermakna pusat, kepentingan, pokok, tengah dan dengan kata lain bagian terbaik dan paling menonjol dari sesuatu.[9]

Menjaga baidhah Islam adalah wajib kifa'i[10] dan dihitung sebagai salah satu kewajiban terpenting,[11] sedemikian rupa sehingga jika seseorang berada di persimpangan jalan antara menjaga baidhah Islam dan mengamalkan kewajiban lain, ia harus memprioritaskan menjaga baidhah Islam;[12] karena pada saat ketakutan akan ancaman terhadapnya, masalah-masalah lain tidak akan penting.[13] Sebagian meyakini bahwa jika yang dimaksud dengan menjaga baidhah Islam adalah menjaga pemerintahan dan politik Islam, konsep ini bisa serupa dengan patriotisme (cinta tanah air) di negara-negara non-Islam.[14]

Para fakih menganggap jihad di jalan Allah wajib hanya jika dengan ajakan Nabi Muhammad (saw), Imam (as) atau wakil Imam dan jika tidak demikian, mereka menganggap jihad boleh (jaiz) hanya ketika baidhah Islam berada dalam bahaya;[15] yang mana dalam keadaan seperti itu, membela (mempertahankan) hal tersebut menjadi wajib bagi setiap orang yang memiliki kemampuan untuk membela[16] untuk hukum ini telah diklaim adanya tawatur.[17]

Menurut sebuah riwayat dari Imam Ridha (as), jika seseorang karena alasan menjaga baidhah Islam terpaksa bekerja sama dengan para khalifah zalim, ia harus menetapkan niatnya untuk menjaga Islam dan bukan jihad; serta membela eksistensi Islam dan menghadapi musuh-musuh[18] Imam menganggap alasan hukum ini adalah untuk mencegah lenyapnya Islam dan nama Nabi Muhammad (saw).[19] Sebagian orang menganggap hadis ini menunjukkan kewajiban berperang untuk menjaga baidhah Islam, meskipun di bawah panji para penguasa zalim, karena keberadaan sistem Islam lebih baik daripada ketiadaannya.[20]

Syarat-syarat Membela Baidhah Islam

Membela baidhah Islam menurut sebagian orang, memiliki seluruh hukum jihad,[21] meskipun tidak disebut jihad syar'i.[22] Sejumlah fakih terkait dengan menjaga baidhah Islam telah mengingatkan beberapa syarat: pertama, untuk membelanya tidak memerlukan izin Imam[23] kedua, pembelaan ini adalah wajib, meskipun jumlah kaum muslimin sedikit.[24] ketiga, pembelaan harus dengan niat menjaga Islam dan kaum muslimin, bukan dengan niat jihad.[25] Selain itu, mengikuti siapa saja yang mengajak untuk membela Islam adalah wajib, meskipun orang tersebut tidak saleh.[26] Seseorang harus bergerak dengan niat membela dan tidak dapat berpartisipasi dalam pertempuran dengan niat membantu orang zalim atau mengajak orang kafir kepada Islam.[27] Orang yang terbunuh di jalan ini, memiliki hukum syahid dan menguburkannya tanpa memandikan dan mengafani adalah diperbolehkan.[28] Sebagian juga meyakini bahwa dalam pembelaan ini, meminta izin kepada orang tua tidak menjadi syarat,[29] meskipun ada perbedaan pendapat mengenai hal ini.[30]

Hubungan Baidhah Islam dan Pemerintahan Islam

Menjaga baidhah Islam, yang berarti menjaga masyarakat Islam, pemerintahan, politik dan melindunginya dari musuh-musuh,[31] merupakan tanggung jawab Imam Maksum atau wakil Imam.[32] Pada masa kegaiban Imam, tugas ini diserahkan kepada para fakih dan wakil umum (nawab am) pada era kegaiban[33] dan sebagian menganggapnya sebagai salah satu hal yang pasti dalam mazhab Syiah.[34] Kaidah ini telah digunakan untuk membuktikan wilayah (otoritas) dan perwakilan para fakih serta pembentukan pemerintahan Islam[35] dan menjaga baidhah Islam diakui sebagai salah satu tugas wali fakih[36] dan bahkan disebut sebagai satu-satunya cara untuk menjaganya.[37] Hukum ini juga masuk dalam kerangka kaidah urgensi menjaga ketertiban umum (hifzh an-nizham),[38] sedemikian rupa sehingga menjaga baidhah Islam bergantung pada keberadaan aparat penegak hukum, bakat-bakat internal dan penerimaan kharaj (pajak)[39] oleh karena itu, menjaga ketertiban (sistem) adalah wajib dan salah satu kewajiban Islam yang mana mempersiapkan dan menyediakan pendahuluannya juga akan menjadi wajib.[40]

Sejarah Menjaga Baidhah Islam dalam Menghadapi Ancaman

Perhatian terhadap menjaga baidhah Islam dalam sejarah Islam terlihat dengan jelas. Sebagian meyakini bahwa Imam Ali (as) karena tidak memiliki penolong dan demi menjaga baidhah Islam, terpaksa memilih untuk diam dan menyerahkan pemerintahan kepada Abu Bakar.[41] Pada Abad Pertengahan, para ulama Syiah lebih memperhatikan nyawa orang-orang Syiah serta menjaga syiar-syiar dan hukum-hukum Syiah, dan mereka mendefinisikan baidhah Islam dengan arti pokok agama atau mazhab dan masyarakat Islam.[42] Pada masa Qajar, dengan adanya serangan-serangan asing, khususnya Rusia, menjaga baidhah Islam mendapatkan urgensi yang lebih besar. Pada periode ini, beberapa fakih mengeluarkan fatwa jihad dan menyatakan tujuan mereka adalah untuk menjaga baidhah Islam[43] dan menganggap pahalanya setara dengan Syuhada Karbala.[44] Beberapa mujtahid juga dalam mendukung sultan sebagai pelaksana perang, mengeluarkan surat izin dan memperkenalkan raja sebagai misdak (manifestasi) dari baidhah Islam[45] dan menganggap ketaatan kepadanya adalah wajib.[46]

Pada era Masyrutah (Konstitusionalisme), dua tafsiran yang berbeda tentang baidhah Islam diangkat. Sebagian orang dengan bersandar pada pendapat bahwa menjaga baidhah Islam berarti mendukung penguasa dalam sistem Islam, memposisikan diri mereka berhadapan dengan kaum konstitusionalis,[47] sementara kelompok lainnya menganggap pendirian majelis nasional sebagai penyebab terjaganya baidhah Islam[48] dan memandang pembelaan terhadap Masyrutah sejalan dengan menjaganya.[49] Di abad kedua puluh satu, konsep baidhah Islam tidak hanya terbatas pada pertahanan Islam dalam menghadapi penjajah asing, melainkan juga telah meluas ke bidang ekonomi dan politik.[50] Sebagai contoh, jika sebuah perjanjian politik atau komersial menyebabkan orang-orang kafir mendominasi kaum muslimin, perjanjian ini haram hukumnya karena melemahkan baidhah Islam dan para pejabat negara tidak diizinkan untuk menandatanganinya; rakyat juga harus bangkit untuk melawannya jika perjanjian semacam itu disusun.[51] Bahkan konsep ini tidak terbatas pada Iran saja dan jika salah satu negara Islam diserang, maka wajib bagi semua kaum muslimin untuk membelanya.[52]

Alasan Perbedaan dalam Misdak (Manifestasi)

Tidak ada perbedaan pendapat tentang makna baidhah Islam yang berarti pokok, dasar, dan akar Islam; namun, terdapat perbedaan pendapat tentang misdak-misdak (manifestasi)nya.[53] Alasan perbedaan dalam misdak baidhah Islam adalah karena kebutuhan-kebutuhan khusus kaum Syiah di berbagai periode yang berbeda; sebagaimana pada Abad Pertengahan, nyawa kaum Syiah atau masyarakat Islam menjadi pusat perhatian[54] dan setelah Syiah diakui secara resmi pada era Safawiyah dan Qajar serta semakin kuatnya para ulama di lembaga kesultanan, pribadi sultan yang menjadi tumpuan otoritas masyarakat Syiah, ditetapkan sebagai misdak baidhah Islam. Di periode lainnya dengan memuncaknya Revolusi Masyrutah, revolusi ini diperkenalkan sebagai sebuah keniscayaan (darurat) mazhab.[55] Pada periode-periode berikutnya, sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan-kebutuhan baru masyarakat muslim, ruang lingkup konsep baidhah Islam menjadi lebih luas.[56]

Catatan Kaki

  1. Mirza Qomi, Jami' asy-Syatat, 1413 H, jld. 1, hlm. 376.
  2. Husaini Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hlm. 24.
  3. Sekelompok Peneliti, Farhang Fiqh, 1426 H, jld. 2, hlm. 162.
  4. Astarabadi, Syari' an-Najah, 1426 H, hlm. 317.
  5. Ibnu Idris al-Hilli, As-Sara'ir al-Hawi, 1410 H, jld. 2, hlm. 4; Amili, Ad-Durus asy-Syari'yyah, 1417 H, jld. 2, hlm. 30.
  6. Amili, Al-Ishthilahat al-Fiqhiyyah, 1413 H, hlm. 35; Shahib bin Abbad, Al-Muhith fi al-Lughah, 1414 H, jld. 8, hlm. 55; Himyari, Syams al-'Ulum, 1420 H, jld. 1, hlm. 675; Ibnu Manzhur, Lisan al-'Arab, 1414 H, jld. 7, hlm. 127; Thuraihi, Majma' al-Bahrain, 1416 H, jld. 4, hlm. 198; Zubaidi, Taj al-'Arus, 1414 H, jld. 10, hlm. 20.
  7. Muntazhari, Mabani Fiqhi Hukumah Islami, 1409 H, jld. 8, hlm. 395.
  8. Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang Fiqh Muthabiq Mazhab Ahlulbait (as), jld. 2, hlm. 162.
  9. Hatami, "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam", 1393 HS.
  10. Syahid al-Awwal, Al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah, 1410 H, hlm. 81; Faiz Kasyani, An-Nukhbah fi al-Hikmah al-'Amaliyyah, 1418 H, hlm. 175.
  11. Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hlm. 39, 40, 81; Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hlm. 24; Amid Zanjani, Fiqh Siyasi, 1421 H, jld. 2, hlm. 74.
  12. Sekelompok Peneliti, Farhang Fiqh, 1426 H, jld. 2, hlm. 162.
  13. Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hlm. 24; Farahani, Risalah Jahadiyyah, 1426 H, hlm. 543.
  14. Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hlm. 24; Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hlm. 40; Amid Zanjani, Fiqh Siyasi, 1421 H, jld. 2, hlm. 74.
  15. Amili, Ad-Durus asy-Syari'yyah, 1417 H, jld. 2, hlm. 30; Syahid al-Awwal, Al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah, 1410 H, hlm. 81; Hilli, Ar-Risalah al-Fakhriyyah, 1411 H, hlm. 83; Farahani, Risalah Jahadiyyah, 1426 H, hlm. 543; Shadr, Ma Wara' al-Fiqh, 1420 H, jld. 1, hlm. 202; Hilli, Al-Jami' li asy-Syara'i', 1405 H, hlm. 234.
  16. Allamah al-Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 14, hlm. 68; Sabzawari, Kifayah al-Ahkam, 1423 H, jld. 1, hlm. 368; Farahani, Risalah Jahadiyyah, 1426 H, hlm. 548; Shaimari, Kasyf al-Iltibas, 1417 H, hlm. 274; Allamah al-Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1417 H, jld. 9, hlm. 451; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 21, hlm. 14.
  17. Majlisi al-Awwal, Lawami' Shahibqarani, 1414 H, jld. 7, hlm. 131.
  18. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 21; Shaduq, Ilal asy-Syara'i, 1386 H, jld. 2, hlm. 604; Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 125.
  19. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 21; Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 125; Hurr al-Amili, Wasa'il asy-Syi'ah, 1409 H, jld. 15, hlm. 30; Himyari, Qurb al-Isnad, 1413 H, hlm. 346; Majlisi al-Awwal, Lawami' Shahibqarani, 1414 H, jld. 7, hlm. 132.
  20. Sekelompok Penulis, Majallah Fiqh Ahlulbait (as), jld. 11-12, hlm. 103-104.
  21. Syahid al-Awwal, Al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah, 1410 H, hlm. 81; Faiz Kasyani, An-Nukhbah fi al-Hikmah al-'Amaliyyah, 1418 H, hlm. 175.
  22. Hilli, Idhah Taraddudat, 1428 H, jld. 1, hlm. 240.
  23. Allamah al-Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 14, hlm. 68; Syahid ats-Tsani, Ar-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 1, hlm. 411.
  24. Allamah al-Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 9, hlm. 48.
  25. Thusi, Al-Mabsuth, 1387 H, jld. 2, hlm. 8; Ibnu Idris al-Hilli, As-Sara'ir al-Hawi, 1410 H, jld. 2, hlm. 4; Abi, Kasyf ar-Rumuz, 1417 H, jld. 1, hlm. 416.
  26. Allamah al-Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 14, hlm. 28.
  27. Ibnu Idris al-Hilli, As-Sara'ir al-Hawi, 1410 H, jld. 2, hlm. 4; Khorasani, Syarh Tabsyirah al-Muta'allimin, Qom, jld. 1, hlm. 342.
  28. Syahid ats-Tsani, Ar-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 1, hlm. 411; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 5, hlm. 338; Shadr, Ma Wara' al-Fiqh, 1420 H, jld. 1, hlm. 202.
  29. Golpayegani, Majma' al-Masa'il, 1409 H, jld. 1, hlm. 540.
  30. Faiz Kasyani, An-Nukhbah fi al-Hikmah al-'Amaliyyah, 1418 H, hlm. 175.
  31. Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hlm. 24; Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hlm. 40; Amid Zanjani, Fiqh Siyasi, 1421 H, jld. 2, hlm. 74.
  32. Syahid al-Awwal, Al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah, 1410 H, hlm. 81; Hilli, Ar-Risalah al-Fakhriyyah, 1411 H, hlm. 83; Hilli, Al-Jami' li asy-Syara'i', 1405 H, hlm. 234.
  33. Allamah al-Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 9, hlm. 452.
  34. Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hlm. 76.
  35. Nujumi, Ar-Rasa'il al-Fiqhiyyah, Qom, hlm. 205.
  36. Nujumi, Ar-Rasa'il al-Fiqhiyyah, Qom, hlm. 206.
  37. Muntazhari, Mabani Fiqhi Hukumah Islami, 1409 H, jld. 2, hlm. 208.
  38. Untuk informasi lebih lanjut, lihat: Ja'fari Harandi, Mohammad, Aliyeh Arab, "Hukmsazi Dharurat Hifzh Nizham dar Qalamraw Ahkam Syar'i az Didgah Fiqhi Mazhahib Islami", 1392 HS.
  39. Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hlm. 127.
  40. Muntazhari, Mabani Fiqhi Hukumah Islami, 1409 H, jld. 4, hlm. 305.
  41. Ja'fariyan, Dawazdah Risaleh Fiqhi Darbareh Namaz Jum'ah, 1423 H, hlm. 47.
  42. Hatami, "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam", 1393 H, hlm. 77.
  43. Rahimi, Tarikh al-Harakah al-Islamiyyah fi al-'Iraq, 1380 HS, hlm. 126; Hatami, "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam", 1393 HS, hlm. 72.
  44. Farahani, Risalah Jahadiyyah, 1426 H, hlm. 553.
  45. Mirza Qomi, Jami' asy-Syatat, 1413 H, jld. 1, hlm. 376; Farahani, Risalah Jahadiyyah, 1426 H, hlm. 555; Sekelompok Penulis, Majallah Fiqh Ahlulbait (as), Qom, jld. 34, hlm. 160.
  46. Farahani, Risalah Jahadiyyah, 1426 H, hlm. 555; Sekelompok Penulis, Majallah Fiqh Ahlulbait (as), jld. 34, hlm. 160.
  47. Hatami, "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam", 1393 H, menukil dari Rasa'il Masyrutiyyat.
  48. Hatami, "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam", 1393 H, menukil dari Hayat al-Islam.
  49. Hatami, "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam", 1393 H, menukil dari Hayat al-Islam.
  50. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hlm. 486.
  51. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hlm. 486.
  52. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hlm. 486.
  53. Hatami, "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam", 1393 H.
  54. Hatami, "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam", 1393 H, hlm. 77.
  55. Hatami, "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam", 1393 H, hlm. 77.
  56. Sebagai contoh lihat: Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hlm. 486.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Idris al-Hilli, Muhammad bin Manshur. As-Sara'ir al-Hawi li Tahrir al-Fatawa. Qom, Daftar Intisyarat Islami, Cetakan Kedua, 1410 H.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-'Arab. Beirut, Dar al-Fikr li ath-Thiba'ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi', 1414 H.
  • Astarabadi, Mir Damad, Muhammad Baqir Husaini. Syari' an-Najah fi Ahkam al-'Ibadat. Qom, Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as), Qom, 1426 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah Musawi. Tahrir al-Wasilah. Qom, Muassasah Mathbu'at Dar al-'Ilm, T.t.
  • Abi, Fadhil Hasan bin Abu Thalib Yusufi. Kasyf ar-Rumuz fi Syarh Mukhtashar an-Nafi'. Qom, Daftar Intisyarat Islami, Cetakan Ketiga, 1417 H.
  • Ja'fari Harandi, Mohammad, Aliyeh Arab. "Hukmsazi Dharurat Hifzh Nizham dar Qalamraw Ahkam Syar'i az Didgah Fiqhi Mazhahib Islami". Muthala'at Taqrib Mazhahib Islami, Nomor 33, Musim Gugur 1392 HS.
  • Ja'fariyan, Rasul. Dawazdah Risaleh Fiqhi Darbareh Namaz Jum'ah. Qom, Muassasah Ansariyan, 1423 H.
  • Sekelompok Peneliti di bawah pengawasan Syahrudi, Sayyid Mahmud Hasyimi. Farhang Fiqh Muthabiq Mazhab Ahlulbait (as). Qom, Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as), 1426 H.
  • Sekelompok Penulis. Majallah Fiqh Ahlulbait (as) (dalam bahasa Arab). Qom, Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as), T.t.
  • Hatami, Hossein, Sayyid Hasyim Aghajari. "Kavoshi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur Ma'nayi Baidhah Islam". Majalah Muthala'at Tarikh Islam, Tahun Keenam, Nomor 21, Musim Panas 1393 HS.
  • Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Wasa'il asy-Syi'ah. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), 1409 H.
  • Husaini Tehrani, Sayyid Muhammad Husain. Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam. Beirut, Dar al-Hujjah al-Baidha', 1418 H.
  • Hilli, Ja'far bin Zuhdari. Idhah Taraddudat asy-Syara'i'. Qom, Intisyarat Kitabkhaneh Ayatullah Mar'asyi Najafi, Cetakan Kedua, 1428 H.
  • Hilli, Muhammad bin Hasan bin Yusuf. Ar-Risalah al-Fakhriyyah fi Ma'rifah an-Niyyah. Masyhad, Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, 1411 H.
  • Hilli, Yahya bin Sa'id. Al-Jami' li asy-Syara'i'. Qom, Muassasah Sayyidusy Syuhada al-'Ilmiyyah, 1405 H.
  • Himyari, Abdullah bin Ja'far. Qurb al-Isnad. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), Qom, 1413 H.
  • Himyari, Nasywan bin Sa'id. Syams al-'Ulum wa Dawa' Kalam al-'Arab min al-Kulum. Beirut, Dar al-Fikr al-Mu'ashir, 1420 H.
  • Khorasani, Ali Muhammadi. Syarh Tabsyirah al-Muta'allimin. Qom, Tanpa Tempat, Tanpa Tahun.
  • Rahimi, Abdul Halim. Tarikh al-Harakah al-Islamiyyah fi al-'Iraq. Terjemah: Ja'far Dilsyad. Isfahan, Chaharbagh, 1380 HS.
  • Zubaidi, Muhibbuddin. Taj al-'Arus min Jawahir al-Qamus. Beirut, Dar al-Fikr li ath-Thiba'ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi', 1414 H.
  • Zargarinezhad, Gholamhussein. Rasa'il Masyrutiyyat. Teheran, Intisyarat Kavir, 1374 HS.
  • Sabzawari, Muhammad Baqir bin Muhammad Mu'min. Kifayah al-Ahkam. Qom, Daftar Intisyarat Islami, 1423 H.
  • Syahid al-Awwal, Muhammad bin Makki al-Amili. Ad-Durus asy-Syari'yyah fi Fiqh al-Imamiyyah. Qom, Daftar Intisyarat Islami, Cetakan Kedua, 1417 H.
  • Syahid al-Awwal, Muhammad bin Makki al-Amili. Al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah fi Fiqh al-Imamiyyah. Beirut, Dar at-Turats, 1410 H.
  • Syahid ats-Tsani, Zainuddin bin Ali al-Amili. Ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah. Qom, Toko Buku Davari, 1410 H.
  • Shahib bin Abbad, Ismail bin Abbad. Al-Muhith fi al-Lughah. Beirut, 'Alam al-Kitab, 1414 H.
  • Shadr, Sayyid Muhammad. Ma Wara' al-Fiqh. Beirut, Dar al-Adhwa' li ath-Thiba'ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi', 1420 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih. Ilal asy-Syara'i'. Qom, Toko Buku Davari, 1386 H.
  • Shaimari, Muflih bin Hasan. Kasyf al-Iltibas 'an Mujaz Abi al-Abbas. Qom, Muassasah Shahib al-Amr (as), 1417 H.
  • Thuraihi, Fakhruddin. Majma' al-Bahrain. Teheran, Toko Buku Murtadhawi, Cetakan Ketiga, 1416 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah. Teheran, Al-Maktabah al-Murtadhawiyyah li Ihya' al-Atsar al-Ja'fariyyah, Cetakan Ketiga, 1387 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Riset: Hasan al-Musawi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Amili, Yasin Isa. Al-Ishthilahat al-Fiqhiyyah fi ar-Rasa'il al-'Amaliyyah. Beirut, Dar al-Balaghah li ath-Thiba'ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi', 1413 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf bin Muthahhar al-Asadi. Tadzkirah al-Fuqaha. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), 1414 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf bin Muthahhar al-Asadi. Muntaha al-Mathlab fi Tahqiq al-Mazhab. Masyhad, Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, 1412 H.
  • Amid Zanjani, Abbas Ali. Fiqh Siyasi. Teheran, Intisyarat Amirkabir, Cetakan Keempat, 1421 H.
  • Farahani, Mirza Abu al-Qasim Qa'im Maqam bin Mirza Isa Sayyid al-Wuzara'. Risalah Jahadiyyah. Qom, Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as), 1426 H.
  • Farahidi, Khalil bin Ahmad. Kitab al-'Ain. Qom, Nasyr Hijrat, Cetakan Kedua, T.t.
  • Faiz Kasyani, Muhammad Muhsin bin Syah Murtadha. An-Nukhbah fi al-Hikmah al-'Amaliyyah wa al-Ahkam asy-Syar'iyyah. Teheran, Markaz Chap wa Nasyr Sazman Tablighat Islami, Cetakan Kedua, 1418 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Riset: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Golpayegani, Sayyid Muhammad Reza. Majma' al-Masa'il lil Golpayegani. Qom, Dar al-Qur'an al-Karim, Cetakan Kedua, 1409 H.
  • Majlisi al-Awwal, Muhammad Taqi. Lawami' Shahibqarani. Qom, Muassasah Isma'iliyan, Cetakan Kedua, 1414 H.
  • Muntazhari Najafabadi, Husain Ali. Mabani Fiqhi Hukumah Islami. Terjemah: Salawati. Qom, Muassasah Kayhan, 1409 H.
  • Mirza Qomi, Abu al-Qasim bin Muhammad Hasan. Jami' asy-Syatat fi Ajwibah as-Su'alat. Teheran, Muassasah Kayhan, 1413 H.
  • Naini, Mirza Muhammad Husain Gharawi. Tanbih al-Ummah wa Tanzih al-Millah. Qom, Intisyarat Daftar Tablighat Islami, 1424 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, Cetakan Ketujuh, 1404 H.
  • Nujumi, Sayyid Murtadha Husaini. Ar-Rasa'il al-Fiqhiyyah. Qom, Tanpa Penerbit, T.t.