Konsep:Menjaga Baidzah Islam
Menjaga Baidzah Islam (Bahasa Arab: حفظ بیضة الإسلام) adalah sebuah istilah fikih yang ditafsirkan sebagai menjaga asal agama Islam, masyarakat Islam, jamaah kaum Muslimin, atau bahkan wilayah geografis negara-negara Islam. Konsep ini merupakan salah satu masalah penting dalam Jihad dan Fikih Politik serta dikenal sebagai salah satu kewajiban kifayah. Dalam berbagai kondisi, khususnya pada masa keghaiban Imam, tugas ini berada di pundak para fakih. Kaidah ini telah digunakan untuk membuktikan wilayah (otoritas) para fakih dan pembentukan pemerintahan Islam. Para fakih menganggap pertahanan darinya adalah hal yang darurat jika Baidzah Islam terancam, dan dalam hal ini mereka mengemukakan beberapa syarat, di antaranya tidak dibutuhkannya izin dari para Imam dan keharusan niat untuk bertahan sebagai ganti dari niat jihad.
Menurut para fakih, seseorang harus mengikuti setiap seruan untuk membela Islam, meskipun orang tersebut bukan orang yang saleh. Selain itu, menjaga Baidzah Islam bergantung pada keberadaan kekuatan ketertiban dan penyediaan sumber daya internal, oleh karena itu menjaga tatanan (nizham) Islam adalah wajib dan darurat.
Dalam sejarah Islam, perhatian terhadap upaya menjaga Baidzah Islam terlihat dalam menghadapi berbagai ancaman. Mulai dari sikap diam Imam Ali as dalam menghadapi ancaman dan menyerahkan pemerintahan kepada Abu Bakar bin Abi Quhafah, hingga jihad para fakih pada Era Qajar melawan serangan pihak asing. Pada masa Konstitusi (Masyruthah), terdapat berbagai tafsiran mengenai Baidzah Islam; sebagian menganggap membela penguasa Islam sebagai bentuk menjaga Baidzah Islam, sementara sebagian lainnya menganggap pendirian parlemen nasional (Majelis Milli) sebagai bentuk menjaganya. Pada abad ke-20 dan ke-21, konsep Baidzah Islam juga meluas ke bidang ekonomi dan politik, dan perjanjian-perjanjian yang menyebabkan dominasi pihak asing atas kaum Muslimin sangat dilarang.
Terminologi dan Hukum Membela Baidzah Islam
Baidzah Islam adalah istilah fikih[1] dan termasuk masalah yang penting[2] yang dibahas dalam bab Jihad dan Fikih Politik.[3] Baidzah Islam bermakna asal agama Islam,[4] masyarakat Islam,[5] jamaah kaum Muslimin[6] atau wilayah geografis Islam dan negara-negara Islam.[7] Farhang-e Feqh-e Farsi menyebut Baidzah Islam dengan ungkapan asas dan eksistensi Islam.[8] Secara terminologi, Baidzah bermakna sentralitas, kepentingan, asal, pertengahan, dan dengan kata lain bagian terbaik dan terkemuka dari sesuatu.[9]
Menjaga Baidzah Islam adalah Wajib Kifayah[10] dan termasuk di antara kewajiban yang paling penting,[11] sedemikian rupa sehingga jika seseorang berada di antara pilihan menjaga Baidzah Islam atau menjalankan kewajiban lainnya, ia harus mengutamakan penjagaan Baidzah Islam;[12] karena saat muncul ketakutan akan ancaman terhadapnya, masalah lain tidak akan memiliki kepentingan lagi.[13] Sebagian berpendapat bahwa jika yang dimaksud dengan menjaga Baidzah Islam adalah menjaga pemerintahan dan politik Islam, maka konsep ini bisa serupa dengan patriotisme di negara-negara non-Islam.[14]
Para fakih menganggap jihad di jalan Allah hanya wajib jika atas seruan Nabi saw, Imam as, atau wakil Imam, dan jika tidak demikian, jihad hanya dibolehkan ketika Baidzah Islam dalam bahaya;[15] yang mana dalam kondisi seperti itu, membela darinya menjadi wajib bagi setiap orang yang memiliki kemampuan untuk membela[16] dan telah diklaim adanya tawatur untuk hukum ini.[17]
Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Ridha as, jika seseorang terpaksa bekerja sama dengan para khalifah zalim demi menjaga Baidzah Islam, maka ia harus meniatkan tujuannya untuk menjaga Islam dan bukan jihad; serta melakukan pembelaan terhadap eksistensi Islam dan menghadapi musuh-musuh[18]. Imam menyebutkan alasan hukum ini adalah untuk mencegah musnahnya Islam dan nama Nabi saw.[19] Sebagian menganggap hadis ini menunjukkan kewajiban berperang untuk menjaga Baidzah Islam meskipun di bawah bendera penguasa zalim, karena keberadaan tatanan (nizham) Islam lebih baik daripada ketiadaannya.[20]
Syarat-syarat Membela Baidzah Islam
Membela Baidzah Islam menurut sebagian ulama memiliki seluruh hukum jihad,[21] meskipun tidak disebut sebagai jihad syar'i.[22] Sejumlah fakih menyebutkan syarat-syarat terkait menjaga Baidzah Islam: Pertama, untuk membela darinya tidak diperlukan izin Imam.[23] Kedua, pembelaan ini wajib meskipun jumlah kaum Muslimin sedikit.[24] Ketiga, pembelaan harus diniatkan untuk menjaga Islam dan kaum Muslimin, bukan dengan niat jihad.[25] Selain itu, wajib mengikuti siapa pun yang menyeru untuk membela Islam, meskipun orang tersebut tidak saleh.[26] Seseorang harus bergerak dengan niat bertahan dan tidak boleh berpartisipasi dalam pertempuran dengan niat membantu orang zalim atau mengajak orang kafir masuk Islam.[27] Orang yang terbunuh di jalan ini memiliki hukum syahid dan pemakamannya dibolehkan tanpa dimandikan dan dikafani.[28] Sebagian juga berpendapat bahwa dalam pembelaan ini, meminta izin dari orang tua bukan syarat,[29] meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini.[30]
Hubungan Baidzah Islam dan Pemerintahan Islam
Menjaga Baidzah Islam, yang bermakna menjaga masyarakat Islam, pemerintahan, politik dan melindunginya dari musuh,[31] berada di pundak Imam maksum atau wakil Imam.[32] Pada masa keghaiban Imam, tugas ini diserahkan kepada para fakih dan wakil umum pada era keghaiban[33] dan sebagian menganggapnya sebagai hal yang pasti dalam mazhab Syiah.[34] Kaidah ini digunakan untuk membuktikan wilayah (otoritas) dan perwakilan para fakih serta pembentukan pemerintahan Islam[35] dan menjaga Baidzah Islam dikenal sebagai salah satu tugas wali fakih[36] bahkan disebut sebagai satu-satunya jalan untuk menjaganya.[37] Hukum ini juga termasuk dalam kerangka kaidah kedaruratan menjaga tatanan (nizham),[38] sedemikian rupa sehingga menjaga Baidzah Islam digantungkan pada keberadaan kekuatan ketertiban, potensi internal, dan penerimaan kharaj.[39] Oleh karena itu, menjaga tatanan adalah wajib dan salah satu kewajiban Islam yang mana mempersiapkan dan menyediakan pendahuluannya juga akan menjadi wajib.[40]
Sejarah Menjaga Baidzah Islam Melawan Ancaman
Perhatian terhadap upaya menjaga Baidzah Islam terlihat jelas dalam sejarah Islam. Sebagian meyakini bahwa Imam Ali as dikarenakan tidak memiliki penolong dan demi menjaga Baidzah Islam, terpaksa memilih untuk diam dan menyerahkan pemerintahan kepada Abu Bakar bin Abi Quhafah.[41] Pada era abad pertengahan, para ulama Syiah lebih memperhatikan nyawa orang-orang Syiah serta menjaga syiar dan hukum Syiah, dan mendefinisikan Baidzah Islam sebagai asal agama atau mazhab dan masyarakat Islam.[42] Pada masa Qajar, dengan adanya serangan pihak asing khususnya bangsa Rusia, upaya menjaga Baidzah Islam menjadi semakin penting. Pada periode ini, sebagian fakih mengeluarkan hukum jihad dan menyatakan tujuan mereka adalah untuk memelihara Baidzah Islam[43] serta menganggap pahalanya setara dengan Para Syuhada Karbala.[44] Beberapa mujtahid juga mengeluarkan surat izin dalam mendukung sultan sebagai pelaksana perang dan memperkenalkan raja sebagai misdaq (manifestasi) dari Baidzah Islam[45] serta menganggap kepatuhan kepadanya adalah wajib.[46]
Pada masa Konstitusi (Masyruthah), muncul dua tafsiran berbeda mengenai Baidzah Islam. Sebagian dengan berdalih bahwa menjaga Baidzah Islam berarti mendukung penguasa dalam sistem Islam, berdiri menentang kaum konstitusionalis,[47] sementara yang lain menganggap pendirian parlemen nasional (Majelis Milli) sebagai faktor penjaga Baidzah Islam[48] dan memandang pembelaan terhadap konstitusi sebagai upaya memelihara Baidzah Islam.[49] Pada abad ke-21, konsep Baidzah Islam tidak hanya terbatas pada pembelaan Islam melawan penyerang asing, melainkan meluas ke bidang ekonomi dan politik.[50] Sebagai contoh, jika sebuah perjanjian politik atau perdagangan menyebabkan dominasi kaum kafir atas kaum Muslimin, maka perjanjian ini haram dikarenakan melemahkan Baidzah Islam dan para negarawan tidak diizinkan untuk menandatanganinya; rakyat pun harus melakukan perlawanan jika perjanjian semacam itu disusun.[51] Bahkan konsep ini tidak terbatas pada Iran, dan jika salah satu negara Islam diserang, maka membelanya adalah wajib bagi seluruh kaum Muslimin.[52]
Alasan Perbedaan pada Misdaq-misdaq
Dalam makna Baidzah Islam yang bermakna asal, asas, dan akar Islam, tidak ada perbedaan pendapat; namun dalam misdaq-misdaq (penerapannya) terdapat perbedaan.[53] Alasan perbedaan pada misdaq Baidzah Islam adalah kebutuhan khusus kaum Syiah pada periode yang berbeda; sebagaimana pada abad pertengahan nyawa kaum Syiah atau masyarakat Islam yang menjadi perhatian[54] dan setelah pengakuan resmi terhadap Syiah pada era Safawiyah dan Qajariyah serta menguatnya kekuasaan ulama dalam struktur kesultanan, sosok sultan yang mana masyarakat Syiah tegak di atas otoritasnya menjadi misdaq dari Baidzah Islam. Pada periode lain dengan memuncaknya revolusi Konstitusi, revolusi ini diperkenalkan sebagai kedaruratan mazhab.[55] Pada periode-periode selanjutnya, sesuai tuntutan zaman dan kebutuhan baru masyarakat Muslim, cakupan konsep Baidzah Islam menjadi lebih luas.[56]
Catatan Kaki
- ↑ Mirzaye Qumi, Jami' al-Syatat, 1413 H, jld. 1, hal. 376.
- ↑ Husseini Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hal. 24.
- ↑ Tim Peneliti, Farhang-e Feqh, 1426 H, jld. 2, hal. 162.
- ↑ Astarabadi, Syari' al-Najat, 1426 H, hal. 317.
- ↑ Ibnu Idris al-Hilli, al-Sarair al-Hawi, 1410 H, jld. 2, hal. 4; Amili, al-Durus al-Syari'iyyah, 1417 H, jld. 2, hal. 30.
- ↑ Amili, al-Istilahat al-Feqhiyyah, 1413 H, hal. 35; Shahib bin 'Abbad, al-Muhith fi al-Lughah, 1414 H, jld. 8, hal. 55; Himyari, Syams al-'Ulum, 1420 H, jld. 1, hal. 675; Ibnu Manzhur, Lisan al-'Arab, 1414 H, jld. 7, hal. 127; Tharihi, Majma' al-Bahrain, 1416 H, jld. 4, hal. 198; Zabidi, Taj al-'Arus, 1414 H, jld. 10, hal. 20.
- ↑ Montazeri, Mabani-ye Feqhi-ye Hukumat-e Eslami, 1409 H, jld. 8, hal. 395.
- ↑ Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Feqh Mathabiq-e Madzhab-e Ahlulbait as, jld. 2, hal. 162.
- ↑ Hatami, Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam, 1393 HS.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, hal. 81; Faidh Kasyani, al-Nukhbah fi al-Hikmah al-'Amaliyyah, 1418 H, hal. 175.
- ↑ Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hal. 39, 40, 81; Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hal. 24; Amid Zanjani, Feqh-e Siyasi, 1421 H, jld. 2, hal. 74.
- ↑ Tim Peneliti, Farhang-e Feqh, 1426 H, jld. 2, hal. 162.
- ↑ Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hal. 24; Farahani, Risalah-ye Jihadiyyah, 1426 H, hal. 543.
- ↑ Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hal. 24; Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hal. 40; Amid Zanjani, Feqh-e Siyasi, 1421 H, jld. 2, hal. 74.
- ↑ Amili, al-Durus al-Syari'iyyah, 1417 H, jld. 2, hal. 30; Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, hal. 81; Hilli, al-Risalah al-Fakhriyyah, 1411 H, hal. 83; Farahani, Risalah-ye Jihadiyyah, 1426 H, hal. 543; Shadr, Ma Wara' al-Feqh, 1420 H, jld. 1, hal. 202; Hilli, al-Jami' lil-Syara'i, 1405 H, hal. 234.
- ↑ Allamah Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 14, hal. 68; Sabzwari, Kifayah al-Ahkam, 1423 H, jld. 1, hal. 368; Farahani, Risalah-ye Jihadiyyah, 1426 H, hal. 548; Shaimari, Kasyaf al-Iltibas, 1417 H, hal. 274; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1417 H, jld. 9, hal. 451; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 21, hal. 14.
- ↑ Majlisi Awwal, Lawami' Shahib-Qarani, 1414 H, jld. 7, hal. 131.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hal. 21; Shaduq, Ilal al-Syara'i, 1386 H, jld. 2, hal. 604; Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hal. 125.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hal. 21; Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hal. 125; Hurr al-Amili, Wasail al-Syiah, 1409 H, jld. 15, hal. 30; Himyari, Qurb al-Isnad, 1413 H, hal. 346; Majlisi Awwal, Lawami' Shahib-Qarani, 1414 H, jld. 7, hal. 132.
- ↑ Tim Penulis, Majallah Feqh Ahlulbait as, jld. 11-12, hal. 103-104.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, hal. 81; Faidh Kasyani, al-Nukhbah fi al-Hikmah al-'Amaliyyah, 1418 H, hal. 175.
- ↑ Hilli, Idhah Taraddudat al-Syara'i, 1428 H, jld. 1, hal. 240.
- ↑ Allamah Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 14, hal. 68; Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 1, hal. 411.
- ↑ Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 9, hal. 48.
- ↑ Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 2, hal. 8; Ibnu Idris al-Hilli, al-Sarair al-Hawi, 1410 H, jld. 2, hal. 4; Abi, Kasyaf al-Rumuz, 1417 H, jld. 1, hal. 416.
- ↑ Allamah Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 14, hal. 28.
- ↑ Ibnu Idris al-Hilli, al-Sarair al-Hawi, 1410 H, jld. 2, hal. 4; Khurasani, Syarh Tabshirah al-Muta'allimin, Qom, jld. 1, hal. 342.
- ↑ Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 1, hal. 411; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 5, hal. 338; Shadr, Ma Wara' al-Feqh, 1420 H, jld. 1, hal. 202.
- ↑ Golpaygani, Majmu' al-Masail, 1409 H, jld. 1, hal. 540.
- ↑ Faidh Kasyani, al-Nukhbah fi al-Hikmah al-'Amaliyyah, 1418 H, hal. 175.
- ↑ Tehrani, Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam, 1418 H, jld. 2, hal. 24; Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hal. 40; Amid Zanjani, Feqh-e Siyasi, 1421 H, jld. 2, hal. 74.
- ↑ Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, hal. 81; Hilli, al-Risalah al-Fakhriyyah, 1411 H, hal. 83; Hilli, al-Jami' lil-Syara'i, 1405 H, hal. 234.
- ↑ Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 9, hal. 452.
- ↑ Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hal. 76.
- ↑ Nujumi, al-Risail al-Feqhiyyah, Qom, hal. 205.
- ↑ Nujumi, al-Risail al-Feqhiyyah, Qom, hal. 206.
- ↑ Montazeri, Mabani-ye Feqhi-ye Hukumat-e Eslami, 1409 H, jld. 2, hal. 208.
- ↑ Untuk informasi lebih lanjut rujuk: Ja'fari Harandi, Muhammad; Aliyah Arab, Hukm-sazi-ye Dharurat-e Hefzh-e Nezham dar Qalamraw-e Ahkam-e Syar'i az Didgah-e Feqhi-ye Madzahib-e Eslami, 1392 HS.
- ↑ Naini, Tanbih al-Ummah, 1424 H, hal. 127.
- ↑ Montazeri, Mabani-ye Feqhi-ye Hukumat-e Eslami, 1409 H, jld. 4, hal. 305.
- ↑ Ja'farian, Davazdah Risalah-ye Feqhi, 1423 H, hal. 47.
- ↑ Hatami, Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam, 1393 HS, hal. 77.
- ↑ Rahimi, Tarikh al-Harakah al-Islamiyyah fi al-'Iraq, 1380 HS, hal. 126; Hatami, Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam, 1393 HS, hal. 72.
- ↑ Farahani, Risalah-ye Jihadiyyah, 1426 H, hal. 553.
- ↑ Mirzaye Qumi, Jami' al-Syatat, 1413 H, jld. 1, hal. 376; Farahani, Risalah-ye Jihadiyyah, 1426 H, hal. 555; Tim Penulis, Majallah Feqh Ahlulbait as, Qom, jld. 34, hal. 160.
- ↑ Farahani, Risalah-ye Jihadiyyah, 1426 H, hal. 555; Tim Penulis, Majallah Feqh Ahlulbait as, jld. 34, hal. 160.
- ↑ Hatami, Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam, 1393 HS, menukil dari Risail-e Masyrothiyat.
- ↑ Hatami, Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam, 1393 HS, menukil dari Hayat al-Islam.
- ↑ Hatami, Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam, 1393 HS, menukil dari Hayat al-Islam.
- ↑ Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hal. 486.
- ↑ Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hal. 486.
- ↑ Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hal. 486.
- ↑ Hatami, Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam, 1393 HS.
- ↑ Hatami, Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam, 1393 HS, hal. 77.
- ↑ Hatami, Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam, 1393 HS, hal. 77.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 1, hal. 486.
Daftar Pustaka
Abi, Fadhil Hasan bin Abi Thalib Yusufi. Kasyaf al-Rumuz fi Syarh Mukhtashar al-Nafi'. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Ketiga, 1417 H. Amili, Muhammad bin Makki. al-Durus al-Syari'iyyah fi Feqh al-Imamiyyah. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kedua, 1417 H. Amili, Yasin Isa. al-Istilahat al-Feqhiyyah fi al-Risail al-'Amaliyyah. Beirut, Dar al-Balaghah li al-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi', 1413 H. Astarabadi, Mir Damad Muhammad Baqir Husseini. Syari' al-Najat fi Ahkam al-'Ibadat. Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam sesuai Mazhab Ahlulbait as, 1426 H. Faidh Kasyani, Muhammad Muhsin bin Syah Murtadha. al-Nukhbah fi al-Hikmah al-'Amaliyyah wa al-Ahkam al-Syari'iyyah. Teheran, Markaze Chap wa Nasyr Sazmane Tablighate Eslami, Cetakan Kedua, 1418 H. Farahani, Mirza Abu al-Qasim Qaim Maqam bin Mirza Isa Sayid al-Wuzara. Risalah Jihadiyyah. Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam sesuai Mazhab Ahlulbait as, 1426 H. Farahidi, Khalil bin Ahmad. Kitab al-'Ain. Qom, Nasyr Hejrat, Cetakan Kedua, t.t. Hatami, Hossein; Seyed Hashem Aghajari. Kawosyi Tarikhi dar Mafhum wa Tathawwur-e Ma'nayi-ye Baidzah-ye Eslam. Majalah Studi Sejarah Islam, Tahun Keenam, Nomor 21, Musim Panas 1393 HS. Hilli, Ja'far bin Zuhdari. Idhah Taraddudat al-Syara'i'. Qom, Penerbit Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, Cetakan Kedua, 1428 H. Hilli, Muhammad bin Hasan bin Yusuf. al-Risalah al-Fakhriyyah fi Ma'rifah al-Niyyah. Masyhad, Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, 1411 H. Hilli, Yahya bin Said. al-Jami' lil-Syara'i'. Qom, Muassasah Sayidus Syuhada al-'Ilmiyyah, 1405 H. Himyari, Abdullah bin Jafar. Qurb al-Isnad. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, 1413 H. Himyari, Nasywan bin Said. Syams al-'Ulum wa Dawa' Kalam al-'Arab min al-Kulum. Beirut, Dar al-Fikr al-Mu'ashir, 1420 H. Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syiah. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, 1409 H. Husseini Tehrani, Seyed Muhammad Hossein. Wilayah al-Faqih fi Hukumah al-Islam. Beirut, Dar al-Hujjah al-Baidha, 1418 H. Ibnu Idris al-Hilli, Muhammad bin Manshur. al-Sarair al-Hawi li Tahrir al-Fatawa. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kedua, 1410 H. Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-'Arab. Beirut, Dar al-Fikr li al-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi', 1414 H. Imam Khomeini, Seyed Ruhullah Musawi. Tahrir al-Wasilah. Qom, Muassasah Mathbu'at Dar al-'Ilm, t.t. Ja'fari Harandi, Muhammad; Aliyah Arab. Hukm-sazi-ye Dharurat-e Hefzh-e Nezham dar Qalamraw-e Ahkam-e Syar'i az Didgah-e Feqhi-ye Madzahib-e Eslami. Studi Pendekatan Mazhab Islam, Nomor 33, Musim Gugur 1392 HS. Ja'farian, Rasul. Davazdah Risalah-ye Feqhi darbar-ye Namaz-e Jom'eh. Qom, Muassasah Anshariyan, 1423 H. Khurasani, Ali Muhammadi. Syarh Tabshirah al-Muta'allimin. Qom, t.p., t.t. Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Tahqiq: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam. Farhang-e Feqh Mathabiq-e Madzhab-e Ahlulbait as. Qom, Muassasah Dairah al-Ma'arif-e Feqh-e Eslami bar Madzhab-e Ahlulbait as, 1426 H. Majlisi Awwal, Muhammad Taqi. Lawami' Shahib-Qarani. Qom, Muassasah Isma'iliyan, Cetakan Kedua, 1414 H. Mirzaye Qumi, Abu al-Qasim bin Muhammad Hasan. Jami' al-Syatat fi Ajwibah al-Sualat. Teheran, Muassasah Keyhan, 1413 H. Montazeri Najafabadi, Hossein Ali. Mabani-ye Feqhi-ye Hukumat-e Eslami. Terjemahan: Salawati. Qom, Muassasah Keyhan, 1409 H. Naini, Mirza Muhammad Hossein Gharawi. Tanbih al-Ummah wa Tanzih al-Millah. Qom, Penerbit Daftare Tablighate Eslami, 1424 H. Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i al-Islam. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-Arabi, Cetakan Ketujuh, 1404 H. Nujumi, Seyed Murtadha Hosseini. al-Risail al-Feqhiyyah. Qom, t.p., t.t. Rahimi, Abdul Halim. Tarikh al-Harakah al-Islamiyyah fi al-'Iraq. Terjemahan: Jafar Delshad. Isfahan, Chaharbagh, 1380 HS. Sabzwari, Muhammad Baqir bin Muhammad Mumin. Kifayah al-Ahkam. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, 1423 H. Shadr, Seyed Muhammad. Ma Wara' al-Feqh. Beirut, Dar al-Adhwa li al-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi', 1420 H. Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. Ilal al-Syara'i'. Qom, Kitabforosyi-ye Davari, 1386 H. Shahib bin Abbad, Ismail bin Abbad. al-Muhith fi al-Lughah. Beirut, 'Alam al-Kitab, 1414 H. Shaimari, Muflih bin Hasan. Kasyaf al-Iltibas 'an Mujaz Abi al-'Abbas. Qom, Muassasah Shahib al-Amr as, 1417 H. Syahid Awwal, Muhammad bin Makki Amili. al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah fi Feqh al-Imamiyyah. Beirut, Dar al-Turats, 1410 H. Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali Amili. al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah. Qom, Kitabforosyi-ye Davari, 1410 H. Tharihi, Fakhruddin. Majma' al-Bahrain. Teheran, Kitabforosyi-ye Murtadhawi, Cetakan Ketiga, 1416 H. Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Mabsuth fi Feqh al-Imamiyyah. Teheran, al-Maktabah al-Murtadhawiyyah li Ihya al-Atsar al-Ja'fariyyah, Cetakan Ketiga, 1387 H. Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Tahqiq: Hasan al-Musawi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H. Tim Penulis. Majallah Feqh Ahlulbait as (Bahasa Arab). Qom, Muassasah Dairah al-Ma'arif-e Feqh-e Eslami bar Madzhab-e Ahlulbait as, t.t. Zabidi, Muhibbuddin. Taj al-'Arus min Jawahir al-Qamus. Beirut, Dar al-Fikr li al-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi', 1414 H. Zargari-Nejad, Gholamhossein. Risail-e Masyrothiyat. Teheran, Penerbit Kavir, 1374 HS.