Lompat ke isi

Konsep:Jual beli fudhuli

Dari wikishia

Jual beli fudhuli adalah menjual barang atau properti orang lain tanpa izinnya. Terdapat perbedaan pendapat di antara para fukaha muslim mengenai sah atau batilnya jual beli fudhuli. Menurut pandangan masyhur fukaha Syiah dan juga fukaha Hanafi serta Maliki, jual beli fudhuli adalah sah apabila pemilik mengizinkannya. Yang dimaksud dengan izin di sini adalah pernyataan rida pemilik setelah terjadinya akad jual beli. Jual beli fudhuli dibahas dalam bab perdagangan di dalam fikih. Syaikh Anshari menganggapnya sebagai salah satu masalah fikih terpenting dan dalam kitab al-Makasib, di bawah pembahasan mengenai syarat-syarat kedua belah pihak yang berakad (muta'aqidain), beliau mengkaji hukum-hukumnya.

Di antara fukaha Syiah, Syaikh Thusi, Ibnu Zuhrah, Muhaqqiq Ardabili, dan Shahib Hada'iq, menganggap jual beli fudhuli sebagai batil bahkan jika ada izin yang dikeluarkan oleh pemilik. Fukaha Hambali dan Syafi'i juga memiliki pandangan yang sama.

Definisi dan Kedudukan

Jual beli fudhuli berarti menjual barang atau properti orang lain, tanpa izinnya.[1] "Fudhuli" dalam terminologi fikih[2] adalah manusia berakal, memiliki ikhtiar, dan balig yang memikul tanggung jawab akad transaksi, tanpa ia memiliki hak untuk mengelola harta, tanpa memiliki wilayah atas pemilik, atau tanpa menjadi wakil darinya.[3] Berdasarkan klaim Mirza Qumi, masyhur fukaha menganggap metode fudhuli selain pada jual beli juga berlaku pada akad-akad lainnya seperti ijarah, wakalah, nikah, muzara'ah, musaqat, dan mudharabah.[4] Menurut penjelasan Syahid Awwal, para fukaha sepakat atas tidak diterapkannya fudhuli dalam iqa'at.[5]

Hukum-hukum yang berkaitan dengan jual beli fudhuli, telah dibahas dalam bab perdagangan di kitab-kitab fikih.[6] Syaikh Anshari menganggap jual beli fudhuli sebagai salah satu masalah fikih yang paling penting[7] dan dalam kitab al-Makasib di bawah pembahasan syarat-syarat kedua belah pihak yang berakad (muta'aqidain) beliau mengkaji hukum-hukumnya.[8] Mengingat salah satu syarat kedua belah pihak akad transaksi adalah bahwa kedua belah pihak tersebut haruslah pemilik itu sendiri atau telah mendapat izin transaksi dari pemiliknya,[9] apabila syarat ini tidak terpenuhi, maka jual beli hanya dapat dilakukan dengan metode fudhuli dan hukum-hukum untuk itu juga telah dijelaskan.[10]

Bab kelima Hukum Perdata Republik Islam Iran dalam 16 pasal secara khusus membahas transaksi-transaksi fudhuli.[11]

Hukum-hukum

Terdapat perbedaan pendapat di antara para fukaha muslim mengenai hukum keabsahan atau kebatilan jual beli fudhuli:[12]

Pihak yang Menyatakan Sah

Allamah Hilli dalam Tadzkirah al-Fuqaha menganggap jual beli fudhuli adalah jaiz dan sah setelah adanya izin dari pemilik[13] dan beliau mengatakan bahwa para fukaha Syiah memiliki pandangan yang demikian.[14] Muhammad Hasan Najafi, Shahib Jawahir, menganggap penisbatan pandangan ini kepada para fukaha Syiah sebagai tanda bahwa hukum ini bersifat ijmak.[15] Shahib Hada'iq dan Syaikh Anshari menisbatkan pandangan ini kepada masyhur fukaha Syiah.[16] Para fukaha ini bersandar pada dalil-dalil berikut untuk membuktikan klaim mereka:

  • Riwayat-riwayat: Menurut penjelasan Syaikh Anshari, dalil yang paling masyhur dari mereka yang menganggap sah jual beli fudhuli adalah Riwayat Urwah al-Bariqi.[17] Berdasarkan riwayat ini, Urwah (salah seorang sahabat Nabi) dengan uang satu dinar yang diberikan oleh Nabi saw kepadanya untuk membeli seekor domba, atas keputusannya sendiri ia membeli dua ekor domba dan menjual salah satunya seharga satu dinar, lalu ia kembali kepada Nabi saw dengan membawa uang satu dinar dan seekor domba, dan tindakan ini mendapat persetujuan serta pujian dari Nabi saw.[18] Para fukaha juga bersandar pada riwayat-riwayat lain seperti "Sahih Muhammad bin Qais"Templat:Yad untuk membuktikan keabsahan jual beli fudhuli.[19]
  • Kaidah-kaidah umum yang diambil dari Al-Qur'an dan riwayat-riwayat yang menunjukkan kehalalan jual beli dan keabsahan akad-akad,[20] seperti Aufû bil 'Uqûd[21] dan Ahallallâhul Bai'[22]. Dengan demikian, menurut sebagian fukaha, dalam jual beli fudhuli semata-mata karena tidak adanya rida pemilik, status akad dan jual beli tidak dicabut darinya, melainkan jual beli dan akad yang digunakan dalam keumuman Al-Qur'an dan sunah, juga berlaku pada jual beli fudhuli, dan kelak ketika izin dikeluarkan oleh pemilik, maka akibat-akibat jual beli lainnya akan berlaku padanya.[23]

Pihak yang Menyatakan Batil

Fukaha seperti Syaikh Thusi,[24] Ibnu Zuhrah,[25] Muhaqqiq Ardabili,[26] dan Shahib Hada'iq[27] menganggap jual beli fudhuli sebagai batil. Mereka bersandar pada dalil-dalil untuk membuktikan klaim mereka, yang sebagian di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Ayat 29 Surah An-Nisa yang melarang pengelolaan harta orang lain tanpa rida mereka.[28]
  • Riwayat-riwayat yang di dalamnya terdapat larangan atas jual beli harta yang tidak berada dalam kepemilikan kedua belah pihak.[29] Syaikh Anshari menganggap riwayat-riwayat ini sebagai riwayat mustafidh.[30]
  • Syaikh Thusi dalam Al-Khilaf[31] dan Ibnu Zuhrah dalam Ghunyah an-Nuzu'[32] mengklaim adanya ijmak atas kebatilan jual beli fudhuli.
  • Dengan bersandar pada dalil akal, telah didalilkan sebagai berikut: 1. Tidak diragukan lagi bahwa mengelola harta orang lain secara akal adalah buruk (qabih), 2. Jual beli fudhuli merupakan pengelolaan atas harta orang lain tanpa rida mereka, karenanya ia adalah buruk dan haram, 3. Larangan dan keharaman dalam transaksi-transaksi menunjukkan kebatilannya.[33]

Pandangan Fukaha Ahlusunah

Menurut pandangan fukaha Hanafi dan Maliki, keabsahan jual beli fudhuli bergantung pada izin pemilik, dan jika pemilik tidak mengizinkan, maka jual beli fudhuli adalah batil.[34] Menurut fukaha Hambali dan Syafi'i, jual beli fudhuli adalah batil dan bahkan jika di kemudian hari pemilik mengizinkannya, hal itu tidak akan berubah menjadi jual beli yang sah.[35]

Izin Pemilik

Yang dimaksud dengan "izin" (ijazah) di sini adalah pernyataan rida pemilik setelah terjadinya akad; kebalikan dari "izin" (idzn) yang merupakan pernyataan rida pemilik sebelum terjadinya akad.[36] Menurut pandangan mereka yang menyatakan sah jual beli fudhuli, jual beli ini adalah sah apabila diikuti dengan izin dari pemilik.[37] Beberapa hukum yang disebutkan oleh para fukaha untuk izin pemilik adalah sebagai berikut:

  • Izin yang bersifat naqil (memindahkan) berarti bahwa akibat-akibat dari akad jual beli berlaku padanya sejak saat pemilik memberikan izin, dan izin yang bersifat kasyif (menyingkap) berarti bahwa jual beli telah terjadi sebelum izin pemilik dan akibat-akibat jual beli telah berlaku padanya.[38]
  • Menurut Syaikh Anshari, sebagian besar fukaha Syiah berpandangan bahwa izin tersebut bersifat kasyif.[39]
  • Dengan demikian, jika harta atau barang yang ditransaksikan dalam jual beli fudhuli, pada selang waktu antara akad jual beli dan izin pemilik mengalami penambahan secara kuantitas atau kualitas, seperti domba yang menjadi gemuk atau beranak, dalam hal izin yang bersifat kasyif, penambahan ini adalah milik pembeli, dan jika izin dianggap bersifat naqil, penambahan yang terjadi pada barang tersebut adalah milik penjual.[40]
  • Pemberi izin pada saat memberikan izin haruslah berstatus ja'iz at-tasharruf; yaitu berakal, balig, dan rasyid, serta tidak dalam keadaan mahjur.[41]

Catatan Kaki

  1. Bahrani, Al-Hada'iq an-Nadhirah, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, jld. 18, hlm. 378.
  2. Sekelompok Penulis, Farhang-e Fiqh Farsi (Kamus Fikih Persia), 1387 HS, jld. 5, hlm. 696.
  3. Syahid Awwal, Ghayah al-Murad, 1414 H, jld. 3, hlm. 37; Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 346.
  4. Mirza Qumi, Jami' asy-Syatat, 1375 HS, jld. 2, hlm. 305.
  5. Syahid Awwal, Ghayah al-Murad, 1414 H, jld. 3, hlm. 37.
  6. Sekelompok Penulis, Farhang-e Fiqh Farsi (Kamus Fikih Persia), 1387 HS, jld. 1, hlm. 259.
  7. Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 345.
  8. Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 345.
  9. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 10, hlm. 14; Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 345; Makarem Syirazi, Anwar al-Faqahah (Kitab al-Bai'), 1425 H, hlm. 243.
  10. Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 345; Makarem Syirazi, Anwar al-Faqahah (Kitab al-Bai'), 1425 H, hlm. 243.
  11. "Qanun-e Madani", Situs Pusat Penelitian Parlemen Dewan Syura Islam.
  12. Bahrani, Al-Hada'iq an-Nadhirah, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, jld. 18, hlm. 376; Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 345.
  13. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 10, hlm. 215.
  14. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 10, hlm. 215; Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 349.
  15. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 273.
  16. Bahrani, Al-Hada'iq an-Nadhirah, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, jld. 18, hlm. 377; Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 349.
  17. Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 351.
  18. Ibnu Abi Jumhur, Awali al-La'ali, 1403 H, jld. 3, hlm. 205; Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 350-351.
  19. Sebagai contoh lihat: Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 353; Hurr Amili, Wasa'il asy-Syi'ah, 1412 H, jld. 21, hlm. 203; Sekelompok Penulis, Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah, 1423 H, jld. 5, hlm. 18.
  20. Sekelompok Penulis, Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah, 1423 H, jld. 5, hlm. 16.
  21. Surah Al-Ma'idah, ayat 1.
  22. Surah Al-Baqarah, ayat 275.
  23. Thabathaba'i, Riyadh al-Masa'il, 1419 H, jld. 8, hlm. 120; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 22, hlm. 274; Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 350.
  24. Syaikh Thusi, Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah, 1387 H, jld. 2, hlm. 158; Syaikh Thusi, Al-Khilaf, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, jld. 3, hlm. 168.
  25. Ibnu Zuhrah, Ghunyah an-Nuzu', Mu'assasah al-Imam ash-Shadiq (as), hlm. 207-208.
  26. Muhaqqiq Ardabili, Majma' al-Fa'idah wa al-Burhan, 1379 HS, jld. 8, hlm. 158.
  27. Bahrani, Al-Hada'iq an-Nadhirah, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, jld. 18, hlm. 378.
  28. Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 364.
  29. Sebagai contoh lihat: Hurr Amili, Wasa'il asy-Syi'ah, jld. 18, hlm. 47; Thabarsi, Al-Ihtijaj, 1403 H, jld. 2, hlm. 480; Bahrani, Al-Hada'iq an-Nadhirah, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, jld. 18, hlm. 379.
  30. Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 365.
  31. Syaikh Thusi, Al-Khilaf, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, jld. 3, hlm. 168.
  32. Ibnu Zuhrah, Ghunyah an-Nuzu', Mu'assasah al-Imam ash-Shadiq (as), hlm. 207.
  33. Sekelompok Penulis, Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah, 1423 H, jld. 5, hlm. 23.
  34. Sekelompok Penulis, Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 1427 H, jld. 32, hlm. 172.
  35. Sekelompok Penulis, Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 1427 H, jld. 32, hlm. 172.
  36. Sekelompok Penulis, Farhang-e Fiqh Farsi (Kamus Fikih Persia), 1387 HS, jld. 1, hlm. 259.
  37. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 10, hlm. 215.
  38. Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 399.
  39. Syaikh Anshari, Kitab al-Makasib, 1418 H, jld. 3, hlm. 399.
  40. Sekelompok Penulis, Farhang-e Fiqh Farsi (Kamus Fikih Persia), 1387 HS, jld. 1, hlm. 259-260.
  41. Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, Dar at-Tafsir, jld. 16, hlm. 328.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka

  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Tadzkirah al-Fuqaha. Qom, Mu'assasah Alu al-Bait, 1414 H.
  • Bahrani, Syaikh Yusuf. Al-Hada'iq an-Nadhirah fi Ahkam al-'Itrah ath-Thahirah. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, Bita.
  • Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Wasa'il asy-Syi'ah. Qom, Mu'assasah Alu al-Bait, 1412 H.
  • Ibnu Abi Jumhur, Muhammad bin Zainuddin. Awali al-La'ali al-'Aziziyyah fi Ahadits ad-Diniyyah. Qom, Mu'assasah Sayyid asy-Syuhada' (as), 1403 H.
  • Ibnu Zuhrah, Hamzah bin Ali. Ghunyah an-Nuzu' ila 'Ilmai al-Ushul wa al-Furu'. Qom, Mu'assasah al-Imam ash-Shadiq (as), Bita.
  • Makarem Syirazi, Nashir. Anwar al-Faqahah (Kitab al-Bai'). Qom, Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1425 H.
  • Mirza Qumi, Abul Qasim. Jami' asy-Syatat. Teheran, Intisyarat-e Kayhan, 1375 HS.
  • Muhaqqiq Ardabili, Ahmad bin Muhammad. Majma' al-Fa'idah wa al-Burhan fi Syarh Irsyad al-Adzhan. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Islami, 1379 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1362 HS.
  • Sabzawari, Sayyid Abdul A'la. Muhadzdzab al-Ahkam fi Bayan al-Halal wa al-Haram. Qom, Dar at-Tafsir, Bita.
  • Sekelompok Penulis. Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah. Kuwait, Wizarah al-Auqaf wa asy-Syu'un al-Islamiyyah, 1427 H.
  • Sekelompok Penulis. Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah. Qom, Mu'assasah Da'iratul Ma'arif al-Fiqh al-Islami, Cetakan Pertama, 1423 H.
  • Sekelompok Penulis. Farhang-e Fiqh Farsi (Kamus Fikih Persia). Qom, Mu'assasah Da'iratul Ma'arif al-Fiqh al-Islami, 1387 HS.
  • Syaikh Anshari, Murtadha. Kitab al-Makasib. Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, 1418 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Khilaf. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, Bita.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah. Teheran, Al-Maktabah al-Murtadhawiyyah li Ihya' al-Atsar al-Ja'fariyyah, Cetakan Ketiga, 1387 H.
  • Syahid Awwal, Muhammad bin Makki. Ghayah al-Murad fi Syarh Nukat al-Irsyad. Qom, Daftar-e Tablighat-e Islami, Cetakan Pertama, 1414 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Ali. Riyadh al-Masa'il. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, Cetakan Pertama, 1412 H.
  • Thabarsi, Ahmad bin Ali. Al-Ihtijaj. Masyhad, Nasyr Murtadha, Cetakan Pertama, 1403 H.
  • "Qanun-e Madani", Situs Pusat Penelitian Parlemen Dewan Syura Islam, Tanggal Akses: 16 Tir 1401 HS.