Lompat ke isi

Konsep:Iqa'at

Dari wikishia

Iqa'at atau Iqa' sebagai lawan dari aqad, berarti mengangkat atau menghilangkan sesuatu yang hanya dilakukan dengan keputusan satu pihak dan tidak membutuhkan persetujuan pihak lain. Sebagai contoh, dalam talak atau pemaafan utang yang hanya terjadi dengan kehendak satu pihak dan memiliki akibat hukumnya sendiri. Berbeda dengan aqad yang membutuhkan kesepakatan dan persetujuan kedua belah pihak.

Dalam fikih, iqa'at dikenal sebagai salah satu kategori fikih dan dibahas dalam buku-buku fikih sebagai hukum-hukum non-ibadah yang membutuhkan sighat khusus. Cakupan iqa'at meliputi berbagai bab seperti talak, khulu', zhihar, ila', dan itq (pemerdekaan budak). Beberapa masalah seperti mu'athat di mana tindakan dilakukan sebagai pengganti lafaz; secara umum tidak berlaku dalam iqa'at, karena perbuatan-perbuatan ini membutuhkan lafaz khusus. Dalam iqa'at juga dibahas prinsip-prinsip seperti tidak berlakunya hukum-hukum fudhuli dan tidak berlakunya khiyar syarat. Khususnya bahwa dalam iqa', karena ia hanya diciptakan dengan kehendak satu pihak, tidak ada konsep untuk faskh (pembatalan) atau khiyar syarat.

Terminologi dan Kedudukan

Iqa', berbeda dengan aqad yang membutuhkan kesepakatan dua belah pihak,[1] berarti mengangkat atau menghilangkan sesuatu yang hanya dilakukan dengan kehendak satu pihak dan tidak membutuhkan persetujuan pihak lain.[2] Sebagai contoh, dalam ibra', kreditur dengan melepaskan haknya, membebaskan debitur dari utang tanpa membutuhkan penerimaan dari pihak debitur.[3] Demikian pula dalam talak, ikatan perkawinan diputus hanya dengan kehendak satu pihak dan tidak membutuhkan penerimaan pihak lain.[4]

Iqa'at mencakup sebelas bab dari bab-bab fikih. Bab-bab ini adalah: talak, khulu' dan mubarat, zhihar, ila', li'an, itq, tadbir dan mukatabah serta istilad, ikrar, ju'alah, aiman (sumpah), nazar.[5] Tentu saja dikatakan bahwa terdapat perselisihan di antara para fukaha mengenai apakah ju'alah, wasiat[6] dan wakaf termasuk iqa' atau aqad.[7]

Muhaqqiq Hilli dalam kitab Syara'i' al-Islam, membagi fikih menjadi empat kategori:[8] Ibadat (masalah-masalah yang tujuannya hanya akhirat), Ahkam (masalah-masalah duniawi yang tidak membutuhkan sighat khusus), Uqud (masalah-masalah duniawi yang membutuhkan kontrak dua belah pihak) dan Iqa'at (masalah-masalah duniawi yang tidak membutuhkan kesepakatan dua belah pihak dan hanya diciptakan dengan kehendak satu pihak).[9]

Hukum-hukum

Beberapa hukum iqa'at adalah:

Ketidakberlakuan Mu'athat

Dalam iqa'at seperti talak, zhihar, li'an, ila', itq, nazar, ahd dan yamin, mu'athat tidak berlaku; karena:

  1. Para fukaha memiliki ijmak bahwa dalam iqa'at tersebut, disyaratkan lafaz atau sighat khusus dan mu'athat tidak memiliki lafaz dan sighat.
  2. Pada dasarnya hal-hal tersebut tidak menimbulkan akibat; yaitu mengusir istri dari rumah atau membebaskan budak dari pelayanan; jika tanpa lafaz khusus, tidak dianggap sebagai talak dan itq.[10]

Terdapat perselisihan mengenai berlakunya mu'athat terhadap iqa'at lainnya, seperti syuf'ah, ibra' dan faskh.[11] Yang dimaksud dengan mu'athat -dalam jual beli- adalah bahwa sebagai ganti dari ijab dan kabul secara lafaz, perbuatan; yaitu a'tha' (memberi dan menerima) telah terjadi.[12]

Ketidakberlakuan Hukum-hukum Fudhuli

Dalam iqa'at, berbeda dengan uqud,[13] hukum-hukum fudhuli tidak berlaku dan untuk masalah ini, telah diklaim adanya ijmak.[14] Namun sebagian ulama menganggap hukum-hukum fudhuli juga berlaku dalam iqa'at; kecuali apa yang dikecualikan dengan dalil khusus, seperti: itq dan talak di mana sebagian ulama mengklaim adanya ijmak atas ketidakberlakuan hukum-hukum fudhuli pada keduanya.[15]

Fudhuliyyat dalam terminologi, adalah tindakan terhadap hak orang lain, tanpa izin syar'i. Dengan kata lain; setiap kali seseorang campur tangan atau bertindak dalam urusan yang berkaitan dengan orang lain, tanpa izin dan wilayah, maka hal itu disebut fudhuli.[16]

Ketidakberlakuan Khiyar Syarat

Terdapat perselisihan tentang apakah dalam iqa'at seperti uqud, khiyar syarat itu sah atau tidak. Fukaha seperti Syaikh Thusi, Muhaqqiq Hilli, Syahid Tsani[17] dan Imam Khomeini[18] tidak mengesahkan khiyar syarat dalam iqa'at seperti talak, itq dan ibra'. Shahib Jawahir tidak membatasi ketidaksahan khiyar syarat pada tiga hal ini dan menganggapnya mencakup iqa'at lainnya juga.[19] Syaikh Anshari mengatakan: "Tampaknya tidak ada perselisihan tentang tidak berlakunya khiyar syarat dalam iqa'at."[20] dan menganggap ijmak fukaha sebagai salah satu dalil ketidakberlakuan khiyar syarat dalam iqa'at.[21]

Sifat dari sebagian besar khiyar, bergantung pada adanya pertukaran dan kedua belah pihak dalam transaksi dan kontrak, dan karena iqa' bersifat satu pihak dan diciptakan hanya dengan kehendak pelaku iqa', berlakunya khiyar tidak sesuai dengan iqa'at; karena dua dasar utama khiyar yaitu "pelanggaran dari keridaan kedua belah pihak" dan "menimbulkan kerugian yang tidak wajar" tidak terwujud dalam iqa' dan jika ada kerugian yang terjadi, hal itu adalah akibat dari tindakan pelaku iqa'.[22]

Yang dimaksud dengan khiyar syarat dalam uqud dan iqa'at, adalah pilihan yang diberikan kepada pelakunya di dalam aqad atau iqa', sehingga ia dapat membatalkan aqad atau iqa' tersebut dalam waktu tertentu.[23]

Faskh dalam Iqa'at

Hukum-hukum faskh tidak berlaku dalam iqa'at karena yang dimaksud dengan faskh adalah pemutusan kontrak dua belah pihak dengan pengadaan kehendak satu pihak. Perbuatan ini dalam iqa'at yang bersifat satu pihak, tidak memiliki relevansi objek.[24] Faskh berarti membatalkan transaksi atau kontrak oleh kedua belah pihak.[25]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Mu'assasah Da'iratul Ma'arif Fiqh Syi'ah, Farhang-e Fiqh Farsi, 1387 HS, jld. 4, hlm. 60.
  2. Mu'assasah Da'iratul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1378 HS, jld. 5, hlm. 71; Muthahhari, Ushul Fiqh, Fiqh, 1394 HS, hlm. 121.
  3. Zehni Tehrani, Anawin al-Ahkam, 1373 HS, jld. 2, hlm. 107.
  4. Khui, Mishbah al-Faqahah, 1417 H, jld. 6, hlm. 270.
  5. Muthahhari, Ushul Fiqh, Fiqh, 1394 HS, hlm. 121.
  6. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 28, hlm. 391; Khui, Mishbah al-Faqahah, 1417 H, jld. 4, hlm. 5.
  7. Mu'assasah Da'iratul Ma'arif Fiqh Islami, Fiqh Ahlulbait (as), 1374 HS, jld. 18, hlm. 292.
  8. Muhaqqiq Hilli, Syara'i' al-Islam, 1408 H, jld. 1, hlm. 2.
  9. Syahid Tsani, Hasyiyah Syara'i' al-Islam, 1422 H, hlm. 20.
  10. Husaini, Al-'Anawin al-Fiqhiyyah, 1417 H, jld. 2, hlm. 96.
  11. Mu'assasah Da'iratul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh Farsi, 1378 HS, jld. 1, hlm. 370.
  12. Zehni Tehrani, Anawin al-Ahkam, 1373 HS, hlm. 125.
  13. Mu'assasah Da'iratul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh Farsi, 1378 HS, jld. 5, hlm. 697.
  14. Hakim, Mustamsak al-'Urwah al-Wutsqa, 1391 H, jld. 10, hlm. 301; Khui, Mishbah al-Faqahah, 1417 H, jld. 4, hlm. 5.
  15. Mu'assasah Da'iratul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh Farsi, 1378 HS, jld. 1, hlm. 370.
  16. Izadifard dan Taqipur, Imkan Wuqu' Iqa'at bi Nahw Fudhuli ba Ruykardi bar Nazhar Imam Khomeini, hlm. 2.
  17. Kasyif al-Ghitha, Mawrid al-Anam fi Syarh Syara'i' al-Islam, jld. 4, hlm. 60.
  18. Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1390 H, jld. 1, hlm. 520.
  19. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 23, hlm. 64.
  20. Syaikh Anshari, Makasib, 1390 HS, jld. 5, hlm. 148.
  21. Tabrizi, Irsyad ath-Thalib ila at-Ta'liq 'ala al-Makasib, 1425 H, jld. 4, hlm. 150.
  22. Muhammadi dan Abdulkarimi, Barrasi Jarayan Khiyarat dar Iqa'at, hlm. 166.
  23. Zehni Tehrani, Anawin al-Ahkam, 1373 HS, hlm. 223; Asghari dan Manshuri, Barrasi Fiqhi, Huquqi Khiyar Syarat dar Iqa', hlm. 34.
  24. Amirkhani dan Baqiri, Imkan Sanji Jarayan Iqalah dar Iqa'at, hlm. 38.
  25. Mu'assasah Da'iratul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh Farsi, 1386 HS, jld. 5, hlm. 688.

Daftar Pustaka

  • Amirkhani, Syakiba, dan Ahmad Baqiri. Imkan Sanji Jarayan Iqalah dar Iqa'at (Studi Kelayakan Berlakunya Iqalah dalam Iqa'at). Faslnameh Kawesy Nu dar Fiqh, nomor 3, musim gugur 1396 HS.
  • Anshari, Murtadha. Makasib. Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, cetakan ke-11, 1390 HS.
  • Hakim, Sayyid Muhsin. Mustamsak al-'Urwah al-Wutsqa. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1391 H.
  • Husaini, Sayyid Mir Abdulfattah. Al-'Anawin al-Fiqhiyyah. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1417 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Najaf, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, cetakan kedua, 1390 H.
  • Izadifard, Ali Akbar, dan Muhammad Husain Taqipur Darzi. Imkan Wuqu' Iqa'at bi Nahw Fudhuli ba Ruykardi bar Nazhar Imam Khomeini (Kemungkinan Terjadinya Iqa'at secara Fudhuli dengan Pendekatan pada Pandangan Imam Khomeini). Pazhuhesynameh Matin, nomor 66, musim semi 1394 HS.
  • Kasyif al-Ghitha, Syaikh Mahdi. Mawrid al-Anam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Mu'assasah Kasyif al-Ghitha', Bita.
  • Khui, Sayyid Abulqasim. Mishbah al-Faqahah. Qom, Ansariyan, cetakan pertama, 1417 H.
  • Mu'assasah Da'iratul Ma'arif Fiqh Islami. Farhang-e Fiqh Muthabiqa Mazhab Ahlulbait (as) (Kamus Fikih Menurut Mazhab Ahlulbait (as)). Di bawah pengawasan: Sayyid Mahmud Hasyimi Syahrudi, Qom, Mu'assasah Da'iratul Ma'arif Fiqh Islami, 1378 HS.
  • Muhaqqiq Hilli, Ja'far bin Hasan. Syara'i' al-Islam. Qom, Mu'assasah Isma'iliyan, cetakan kedua, 1408 H.
  • Muhammadi, Sam dan Hiwa Abdulkarimi. Barrasi Jarayan Khiyarat dar Iqa'at (Tinjauan tentang Berlakunya Khiyar dalam Iqa'at). Faslnameh Pazhuhesy Huquq Khususi, nomor 17, musim dingin 1395 HS.
  • Mu'in, Muhammad. Farhang-e Farsi (Kamus Bahasa Persia). Teheran, Amir Kabir, 1371 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Ushul Fiqh, Fiqh. Qom, Shadra, cetakan ke-43, 1394 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Koreksi Abbas Qucani dan Ali Akhundi, Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, cetakan ketujuh, 1362 HS.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Hasyiyah Syara'i' al-Islam. Qom, Daftar Tablighat Islami, cetakan pertama, 1422 H.
  • Tabrizi, Jawad. Irsyad ath-Thalib ila at-Ta'liq 'ala al-Makasib. Qom, Dar ash-Shiddiqah asy-Syahidah, cetakan keempat, 1425 H.
  • Zehni Tehrani, Sayyid Muhammad Jawad. Anawin al-Ahkam. Qom, Kitabfurusi Wijdani, cetakan pertama, 1373 HS.