Konsep:Hadits mu'an'an
Hadits mu'an'an adalah hadits yang di seluruh silsilah sanadnya hanya diulang kata "'an" (yang dalam bahasa Indonesia berarti "dari") [cite: 20] dan tidak menggunakan ungkapan seperti "akhbarana" (mengabarkan kepada kami), "haddatsana" (menceritakan kepada kami), atau "sami'tu" (saya mendengar)[cite: 20]. Dikatakan bahwa penggunaan kata "'an" saja tidak menunjukkan pertemuan langsung perawi dengan orang yang ia riwayatkan darinya, sehingga ada kemungkinan perawi mengambil riwayat dari perantara yang tidak disebutkan[cite: 20].
Menurut para peneliti ilmu hadits, al-Kulaini menukil sanad riwayat-riwayat al-Kafi secara mu'an'an karena menjaga ringkasan[cite: 20]. Menurut keyakinan al-Kulaini, penukilan hadits secara mu'an'an adalah metode yang lazim dalam isnad dan dengan memperhatikan kewibawaan serta kredibilitas penulis, hal itu tidak mencederai kredibilitas dan sanad hadits[cite: 20]. Sesuai perkataan al-Kulaini, hadits mu'an'an diterima oleh para muhaddits Syiah[cite: 20].
Masyhur fukaha Syiah menyebutkan syarat-syarat terkait kredibilitas hadits mu'an'an[cite: 20]:
- Para perawi harus pernah bertemu satu sama lain agar kemungkinan penukilan langsung hadits ada[cite: 20].
- Para perawi hadits tidak boleh melakukan kecurangan (tadlis) atau distorsi[cite: 20].
- Seluruh perawi dalam silsilah sanad harus adil dan terpercaya[cite: 20].
Tentu sebagian peneliti ilmu hadits meyakini bahwa kata "'an" termasuk lafaz paling lemah dalam penukilan riwayat; sebab dengan lafaz "'an", metode transmisi riwayat tetap tersembunyi, karena itu mereka menghitung hadits mu'an'an sebagai bagian dari riwayat-riwayat dhaif[cite: 20].
Berbagai faktor dianggap berpengaruh dalam menentukan kredibilitas hadits mu'an'an, di antaranya[cite: 20]:
- Kredibilitas perawi: Kredibilitas para perawi yang disebutkan dalam silsilah sanad adalah faktor terpenting penentu kredibilitas hadits[cite: 20].
- Multiplisitas jalan (thuruq): Semakin banyak jumlah berbagai jalan penukilan sebuah hadits, semakin tinggi kredibilitas hadits tersebut[cite: 20].
- Kesesuaian dengan riwayat lain: Pencocokan hadits mu'an'an dengan riwayat-riwayat lain dan prinsip-prinsip agama dapat membantu menentukan kredibilitas hadits tersebut[cite: 20].
Catatan Kaki
Daftar Pustaka
- Amili, Husain bin Abdus Shamad. Wushul al-Akhyar ila Ushul al-Akhbar. Qom, Majma' ad-Dzakhair al-Islamiyyah, tanpa tahun[cite: 20].
- Hafizian, Abolfazl. Rasail fi Dirayah al-Hadits (Risalah-risalah tentang Dirayah Hadits). Qom, Penerbit Darul Hadits, cetakan pertama, 1384 HS[cite: 20].
- Hakim Naisyaburi, Muhammad bin Abdullah. Ma'rifah Ulum al-Hadits. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1397 H[cite: 20].
- Hujjat, Hadi. Jawami' Haditsi Syiah (Kumpulan Hadits Syiah). Tehran, Penerbit Universitas Ilmu Al-Quran dan Hadits, cetakan ketiga belas, 1402 HS[cite: 20].
- al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H[cite: 20].
- Muhaqqiq Garafmi, Alborz dan Sayid Ali Dilbari. "Tipologi Kriteria Berbasis Sejarah dalam Validasi Konten Hadits". dalam Majalah Amuzehhaye Haditsi, nomor 9, Musim Semi dan Musim Panas 1400 HS[cite: 20].
- Subhi, Shalih. Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (Ilmu Hadits dan Istilah-istilahnya). Tehran, Penerbit Uswah, cetakan pertama, 1376 HS[cite: 20].