Lompat ke isi

Konsep:Hadis Musnad

Dari wikishia

Hadis Musnad merupakan kebalikan dari Hadis Mursal, yaitu hadis-hadis yang sanadnya bersambung dan kontinu hingga mencapai Nabi Muhammad saw atau maksumin as, di mana tidak ada satu pun perawi yang terhapus dari tengah sanadnya. Hadis ini harus disandarkan kepada perawi-perawi yang jelas dan menghindari penggunaan ungkapan-ungkapan ambigu dalam sanadnya. Beberapa ulama membatasi istilah musnad hanya untuk hadis-hadis yang bersumber langsung dari Nabi saw, sementara para ulama Syiah dan Ahlusunah memiliki pandangan yang berbeda mengenai kehujahannya.

Untuk hadis musnad, disebutkan pembagian seperti ali dan nazil. Hadis Ali al-Sanad merujuk pada riwayat-riwayat yang sampai kepada maksum as dengan perantara yang lebih sedikit, sedangkan Nazil al-Sanad ditujukan untuk hadis-hadis yang jumlah perantaranya lebih banyak. Selain itu, hadis mu'an'an dan mu'allaq juga merupakan bagian dari jenis hadis musnad, yang di dalamnya masing-masing menggunakan kata " 'an" untuk menyebutkan para perawi atau tidak menyebutkan beberapa perawi di awal sanad.

Menurut para peneliti, penulisan musnad dimulai setelah perintah Umar bin Abdul Aziz untuk membukukan sunah nabawi dengan tujuan mengumpulkan hadis-hadis Nabi saw. Ahli hadis terkemuka seperti Ishaq bin Rahuyah dan Ahmad bin Hanbal mengikuti metode ini. Kritik utama terhadap metode ini adalah sulitnya menemukan hadis tertentu dalam kitab-kitab musnad, meskipun metode ini memiliki kelebihan seperti mempermudah identifikasi kecenderungan politik dan sosial para perawi.

Terminologi

Hadis musnad dalam Ilmu Hadis[1] dan dirayah[2] sebagai lawan dari Hadis Mursal[3] merujuk pada hadis-hadis yang sanadnya dari perawi hingga Nabi Muhammad saw atau maksumin as[4]Templat:Yad bersambung dan mutasil, tanpa ada seorang pun yang dihapus dari tengah sanadnya.[5] Jenis hadis ini juga dikenal dengan nama muttashil,[6] maushul, dan mu'an'an.[7] Beberapa ulama seperti Ibnu Abdil Bar membatasi musnad hanya pada hadis-hadis yang dinukil langsung dari Nabi saw.[8] Hadis musnad termasuk dalam kategori khabar wahid[9] dan kehujahannya dikaji dalam kerangka pembahasan terkait kehujahan khabar wahid.[10] Sebagian ulama Syiah termasuk Syaikh al-Thusi (w. 460 H) menganggap hadis musnad sebagai hujah, sementara sebagian lainnya seperti Sayid Murtadha menganggapnya tidak valid.[11] Ulama Ahlusunah juga memiliki dua pandangan terkait hal ini, di mana Ashabul Hadis sebagaimana para ulama Akhbari Syiah bersepakat atas kevalidannya.[12]

Sebagian berkeyakinan bahwa latar belakang penamaan musnad kembali pada beberapa riwayat maksumin as dan melalui jalan tersebut istilah ini dikenal sebagai istilah yang populer di kalangan pakar hadis.[13]

Syarat-syarat Hadis Musnad

Agar sebuah hadis terhitung sebagai musnad, sanadnya harus bersambung hingga maksum as dan tidak boleh ada perawi yang terhapus dari tengah sanad. Selain itu, hadis harus disandarkan secara jelas kepada perawi-perawi tertentu dan dalam sanadnya tidak menggunakan ungkapan ambigu seperti "telah sampai kepadaku melalui jalur fulan".[14] Syarat-syarat ini menyebabkan hadis-hadis mursal, mu'allaq, mu'dhal[15], dan munqathi'[16] keluar dari definisi hadis musnad.[17]

Tipologi

Beberapa jenis hadis musnad yang penting adalah sebagai berikut:

  • Ali dan Nazil: Jika riwayat sampai kepada maksum as dengan perantara yang lebih sedikit, maka disebut hadis Ali al-Sanad. Sebaliknya, jika jumlah perantaranya lebih banyak, disebut Nazil al-Sanad.[18] Ulama terdahulu melakukan perjalanan jauh untuk mengumpulkan hadis-hadis ali al-sanad.[19] Beberapa ahli hadis Imamiyah menulis kitab-kitab seperti Qurb al-Isnad untuk menghimpun hadis-hadis jenis ini.[20]
  • Mu'an'an:' Hadis yang di dalamnya menggunakan kata " 'an" (dari) untuk menyebutkan para perawi, dan ungkapan seperti "akhbarani" (mengabarkan kepadaku) atau "sami'tu" (aku mendengar) tidak muncul dalam sanad.[21] Beberapa ahli hadis menganggapnya serupa dengan hadis mursal dan munqathi.[22]
  • Mu'allaq: Hadis yang di awal sanadnya tidak disebutkan satu atau beberapa perawi, dan hanya tercantum di akhir sanad.[23] Metode ini digunakan untuk meringkas panjang sanad dalam kitab-kitab seperti Man La Yahdhuruhu al-Faqih dan Al-Tahdzib.[24]

Abdullah Mamaqani dalam kitabnya Miqbas al-Hidayah menganggap jenis-jenis ini independen dari hadis musnad dan tidak menghitungnya sebagai bagian dari sub-kategori hadis musnad.[25]

Penulisan Musnad dalam Sejarah

Setelah perintah Umar bin Abdul Aziz mengenai pembukuan sunah nabawi, upaya luas untuk mengumpulkan hadis pun dimulai dan berbagai kumpulan hadis segera berada di tangan masyarakat. Pada awalnya, naskah-naskah ini mencakup hadis Nabi saw bersama dengan perkataan para sahabat dan tabiin.[26] Kemudian, beberapa orang memutuskan untuk memisahkan perkataan Nabi dari yang lainnya, sehingga musnad-musnad pun disusun. Tokoh terkemuka seperti Asad bin Musa al-Umawi dan Ubaidillah bin Musa al-Abasi menyusun musnad pada masa ini, dan ahli hadis seperti Ishaq bin Rahuyah dan Ahmad bin Hanbal mengikuti metode tersebut.[27] Tujuan utama para penulis musnad ini adalah mengumpulkan seluruh sanad Nabi saw, tanpa memperhatikan keshahihan atau kelemahan hadis tersebut. Namun pada periode-periode berikutnya, ahli hadis seperti Bukhari dan Muslim hanya mengumpulkan riwayat-riwayat shahih dalam kitab mereka yang dikenal sebagai Shahihain.[28] Mengenai penulis musnad pertama terdapat perbedaan pendapat; sebagian menganggap Abu Dawud Sulaiman bin Jarud sebagai orang yang pertama kali melakukannya.[29]

Kritik dan Evaluasi Metode Penulisan Musnad

Kritik terbesar terhadap metode penulisan musnad adalah sulitnya menemukan hadis tertentu dalam jenis penulisan ini, karena untuk menemukan satu hadis seseorang harus membaca keseluruhan isi buku.[30] Meskipun demikian, metode ini memiliki kelebihan, termasuk independensi hadis dari fikih, kemudahan akses terhadap jumlah hadis setiap sahabat, serta kemungkinan untuk mengidentifikasi kecenderungan politik, partai, dan kesukuan para perawi.[31]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Thabathaba'i, Musnad-nevisi dar Tarikh-e Hadits, 1377 HS, hlm. 35.
  2. Hashemi Shahroudi, Farhang-e Feqh mothabiq Madzhab-e Ahlulbait as, 1426 H, jld. 3, hlm. 271.
  3. Markaz Itthila'at va Madarik-e Islami, Farhang-nameh Ushul-e Feqh, 1389 HS, hlm. 445.
  4. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 169; Mar'i, Muntaha al-Maqal fi al-Dirayah va al-Rijal, 1417 H, hlm. 45; Hashemi Shahroudi, Farhang-e Feqh mothabiq Madzhab-e Ahlulbait as, 1426 H, jld. 3, hlm. 271.
  5. Naraqi, Anis al-Mujtahidin fi 'Ilm al-Ushul, 1388 HS, jld. 1, hlm. 266; Hashemi Shahroudi, Farhang-e Feqh mothabiq Madzhab-e Ahlulbait as, 1426 H, jld. 3, hlm. 271.
  6. Sadr, Nihayah al-Dirayah, Teheran, hlm. 48.
  7. Hashemi Shahroudi, Farhang-e Feqh mothabiq Madzhab-e Ahlulbait as, 1426 H, jld. 3, hlm. 271.
  8. Ibnu Abdil Bar al-Qurthubi, Al-Tamhid lima fi al-Muwaththa' min al-Ma'ani va al-Asanid, jld. 1, hlm. 21.
  9. Hashemi Shahroudi, Farhang-e Feqh mothabiq Madzhab-e Ahlulbait as, 1426 H, jld. 3, hlm. 271.
  10. Markaz Itthila'at va Madarik-e Islami, Farhang-nameh Ushul-e Feqh, 1389 HS, hlm. 445.
  11. Markaz Itthila'at va Madarik-e Islami, Farhang-nameh Ushul-e Feqh, 1389 HS, hlm. 445.
  12. Markaz Itthila'at va Madarik-e Islami, Farhang-nameh Ushul-e Feqh, 1389 HS, hlm. 445.
  13. Mokhtari, Musnad va Musnad-nevisi, 1376 HS.
  14. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 170.
  15. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 169.
  16. Naraqi, Anis al-Mujtahidin fi 'Ilm al-Ushul, 1388 HS, jld. 1, hlm. 266.
  17. Mar'i, Muntaha al-Maqal fi al-Dirayah va al-Rijal, 1417 H, hlm. 45; Naraqi, Anis al-Mujtahidin fi 'Ilm al-Ushul, 1388 HS, jld. 1, hlm. 266.
  18. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 190; Syahid Tsani, Al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah, 1408 H, hlm. 112-113.
  19. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 190.
  20. Qurb al-Isnad Himyari, jurnal Ofuq-e Hauzah, nomor 296, Dey 1389 HS.
  21. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 173.
  22. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 174.
  23. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 176.
  24. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 176.
  25. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 176.
  26. Thabathaba'i, Musnad-nevisi dar Tarikh-e Hadits, 1377 HS, hlm. 73-74.
  27. Thabathaba'i, Musnad-nevisi dar Tarikh-e Hadits, 1377 HS, hlm. 73-74.
  28. Thabathaba'i, Musnad-nevisi dar Tarikh-e Hadits, 1377 HS, hlm. 74-75.
  29. Thabathaba'i, Musnad-nevisi dar Tarikh-e Hadits, 1377 HS, hlm. 80-81.
  30. Thabathaba'i, Musnad-nevisi dar Tarikh-e Hadits, 1377 HS, hlm. 59-60.
  31. Thabathaba'i, Musnad-nevisi dar Tarikh-e Hadits, 1377 HS, hlm. 61-62.

Daftar Pustaka

  • Hashemi Shahroudi, Mahmoud. Farhang-e Feqh mothabiq Madzhab-e Ahlulbait as (Kamus Fikih Sesuai Mazhab Ahlulbait as). Qom, Muassasah Da'irah al-Ma'arif Feqh-e Islami bar Madzhab-e Ahlulbait as, 1426 H.
  • Ibnu Abdil Bar al-Qurthubi. Al-Tamhid lima fi al-Muwaththa' min al-Ma'ani va al-Asanid. Maroko, Wizarah 'Umum al-Awqaf wa al-Syu'un al-Islamiyyah, 1387 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Peneliti: Ali Akbar Ghaffari dan Mohammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Mamaqani, Abdullah. Miqbas al-Hidayah. Qom, Penerbit Dalil-e Ma, 1385 HS.
  • Mar'i, Husain Abdullah. Muntaha al-Maqal fi al-Dirayah va al-Rijal. Beirut, Muassasah al-'Urwah al-Wutsqa, 1417 H.
  • Markaz Itthila'at va Madarik-e Islami. Farhang-nameh Ushul-e Feqh. Qom, Daftar-e Tablighat-e Islami Hauzah Ilmiah, 1389 HS.
  • Mokhtari, Ali. Musnad va Musnad-nevisi. Jurnal Ulum-e Hadits, nomor empat, 1376 HS.
  • Naraqi, Muhammad Mahdi bin Abi Dzar. Anis al-Mujtahidin fi 'Ilm al-Ushul. Qom, 1388 HS.
  • Sadr, Sayid Hasan. Nihayah al-Dirayah. Teheran, Penerbit Masyr, tanpa tahun.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah. Peneliti: Muhammad Ali Baqqal. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi, 1408 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Kazim. Musnad-nevisi dar Tarikh-e Hadits. Qom, Markaz Intisyarat Daftar Tablighat Islami, 1377 HS.
  • Zamakhsyari, Mahmoud bin Umar. Asas al-Balaghah. Beirut, Dar Sadir, 1399 H.


Templat:Pemeringkatan