Konsep:Hadis Mudhtharib
Hadis Mudhtharib adalah hadis yang memiliki perbedaan dan kerancuan pada sanad atau matannya, atau pada keduanya. Kerancuan (idhthirab) pada matan terjadi ketika sebuah riwayat dinukil dalam berbagai sumber dengan bentuk yang berbeda-beda. Dalam idhthirab sanad, perawi terkadang menukil riwayat dari satu individu dan terkadang dari individu lainnya. Sebagian berpendapat bahwa dalam hadis mudhtharib, asal riwayat tidak dapat diidentifikasi.
Dalam hadis mudhtharib, riwayat-riwayat tersebut berada pada tingkat yang sama dari sisi kredibilitas matan dan keabsahan sanad, sehingga salah satunya tidak dapat diunggulkan di atas yang lain. Idhthirab dikenal sebagai salah satu sebab kelemahan (dha'if) hadis, dengan syarat riwayat-riwayat tersebut tidak memiliki keunggulan (tarjih) satu sama lain. Di antara faktor terpenting idhthirab dalam hadis adalah kelalaian dan campur tangan para perawi, kesalahan para penyalin (nasikh), taqthi' yang tidak tepat, dan penukilan secara makna (naql bil ma'na).
Definisi
Hadis mudhtharib adalah hadis yang memiliki perbedaan dan kerancuan pada sanad atau matannya, atau pada keduanya.[1] Istilah ini berasal dari ilmu dirayah dan dianggap sebagai salah satu bagian dari Khabar Wahid.[2] Dalam hadis mudhtharib, riwayat mungkin dinukil satu kali dengan bentuk khusus dan di tempat lain dengan bentuk yang lain,[3] sedemikian rupa sehingga kedua riwayat ini tidak selaras satu sama lain[4] dan tidak dapat dikompromikan.[5]
Berdasarkan pendapat para peneliti ilmu dirayah, idhthirab terkadang terjadi pada sanad hadis, misalnya ketika perawi terkadang menukil riwayat dengan perantara dan terkadang tanpa perantara, atau dengan sanad yang berbeda-beda. Terkadang pula idhthirab ditemukan pada matan hadis, sedemikian rupa sehingga matannya diriwayatkan dalam berbagai bentuk. Perbedaan-perbedaan ini mungkin berupa perbedaan antara matan satu perawi dengan perawi lainnya, seperti satu kali matan lebih panjang dan kali lain lebih pendek, atau menukil riwayat yang bertentangan dengan laporan sebelumnya.[6]
Karakteristik
Perbedaan dalam cara periwayatan dan kesamaan derajat kredibilitas dua riwayat adalah karakteristik utama hadis mudhtharib.[7] Dalam jenis hadis ini, riwayat-riwayat berada pada tingkat yang sama dari sisi keabsahan, kredibilitas, kekuatan, dan kelemahan sanad,[8] sehingga tidak dapat mengunggulkan salah satunya di atas yang lain.[9] Sebagian berpendapat bahwa dalam hadis mudhtharib, asal riwayat tidak dapat diidentifikasi[10] dan berbagai versinya terkadang berada dalam kontradiksi yang nyata satu sama lain.[11] Perbedaan dalam versi (naskhah) dianggap sebagai bagian dari idhthirab[12] dan dalam kondisi ini, tidak ada satu pun dari sanad riwayat mudhtharib yang berbeda memiliki keunggulan atas yang lain.[13]
Para peneliti hadis menyatakan bahwa perubahan dan perbedaan dalam penukilan hadis mudhtharib sedemikian rupa sehingga tidak dapat dicapai solusi dengan mengumpulkan berita-berita yang bertentangan (jam'ul akhbar), dan tidak dapat membandingkannya seperti khas dan am atau mutlak dan muqayyad. Dalam hadis-hadis mudhtharib, para perawi setara dalam hal keadilan dan kedisiplinan (dhabit) dan tidak ada yang lebih unggul dari yang lain.[14]
Kelemahan Hadis Mudhtharib
Idhthirab dalam hadis dianggap menyebabkan kelemahannya (dha'if),[15] karena hal itu menunjukkan kurangnya ketelitian perawi dalam menghafal matan riwayat atau nama-nama perawi dengan benar dan lengkap.[16] Terkadang hadis mudhtharib menjadi tidak bernilai sama sekali karena bertentangan dengan riwayat lain, aksioma fikih dan akidah, atau laporan sejarah dan rijal yang kredibel.[17] Sebagian faqih secara umum tidak mengamalkan riwayat mudhtharib,[18] sementara sebagian lainnya meyakini bahwa di antara dua riwayat mudhtharib harus mencari poin-poin pengunggulan (murajjihat) dan mendahulukan hadis yang memiliki murajjih.[19]
Kelemahan hadis mudhtharib menjadi jelas ketika kedua riwayat setara dari sisi keabsahan dan kredibilitas serta tidak ada yang lebih unggul dari yang lain. Jika ada keunggulan (tarjih), seperti ketika salah satu perawi lebih teliti dari yang lain, maka riwayat yang lebih teliti didahulukan. Jika idhthirab tidak menyebabkan perbedaan dalam hukum atau cacat pada sanad riwayat, maka hadis tersebut keluar dari kategori dha'if.[20] Sebagian juga berpandangan bahwa jika perbedaan tersebut merusak makna atau sanad riwayat, maka riwayat tersebut gugur dari derajat keabsahan (shahih), namun jika tidak demikian, maka tetap diamalkan.[21]
Faktor Idhthirab Hadis
Di antara faktor terpenting idhthirab dalam hadis adalah hal-hal seperti pelarangan penukilan dan kodifikasi hadis, kelalaian serta toleransi perawi, taqthi' yang tidak tepat, dan penukilan secara makna (naql bil ma'na). Selain itu, terkadang kurangnya penguasaan perawi terhadap bahasa Arab menyebabkan munculnya idhthirab dalam hadis-hadis yang ia nukil, seperti riwayat-riwayat Ammar Sabathi yang memiliki matan-matan mudhtharib karena ke-ajam-annya (non-Arab).[22]
Faktor-faktor lain idhthirab dalam hadis mencakup campur tangan para perawi, ketiadaan penjelasan sebab keluarnya hadis (sabab wurud), kesalahan para penyalin (nasikh)[23], adanya suasana Taqiyyah, dan kurangnya ketelitian dalam pencatatan (dhabth) hadis oleh perawi.[24]
Catatan Kaki
- ↑ Sadr, Nihayah al-Dirayah, Nasyr Masy'ar, hlm. 224; Mamaqani, Miqbas al-Hidayah fi 'Ilm al-Dirayah, 1411 H, hlm. 386.
- ↑ "Hadis Mudhtharib", jil. 3, hlm. 272.
- ↑ Subhani, Ushul al-Hadits wa Ahkamuhu fi 'Ilm al-Dirayah, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, hlm. 117.
- ↑ Mas'udi, Asib Syinakht Hadits, 1389 HS, hlm. 91 dan 92.
- ↑ Jadidinezhad, Danesy Rejal az Didgah Ahlussunnah, 1381 HS, hlm. 160.
- ↑ Delbari, Asib-syenasi Fahm Hadits, 1391 HS, hlm. 358 dan 359.
- ↑ Delbari, dkk, "Tahlil Idhthirab dar Matn Ahadits Fiqhi az Nigah Sahibi Jawahir", hlm. 54.
- ↑ Mirdamad, al-Rawasyih al-Samawiyyah, 1422 H, hlm. 273.
- ↑ Ma'ruf al-Hasani, Dirasat fil Hadits wal Muhadditsin, Beirut, hlm. 55 dan 56; Syahid Tsani, al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah, 1408 H, hlm. 146; Syahid Tsani, Syarh al-Bidayah fi 'Ilm al-Dirayah, Dhiya Firuzabadi, hlm. 149.
- ↑ Mu'addab, 'Ilm al-Dirayah Tathbiqi, 1391 HS, hlm. 263.
- ↑ Mirjalili, "Bazkhwani Naresayi Idhthirab Hadits, Hukm wa Cigunegi Ta'amul ba an", hlm. 130.
- ↑ Delbari, Asib-syenasi Fahm Hadits, 1391 HS, hlm. 358.
- ↑ Mas'udi, Asib Syinakht Hadits, 1389 HS, hlm. 91.
- ↑ Mas'udi, Asib Syinakht Hadits, 1389 HS, hlm. 90.
- ↑ Mirdamadi, 'Ilm Rejal wa Dirayeh Barresi wa Naqd, 1396 HS, hlm. 28.
- ↑ Delbari, Asib-syenasi Fahm Hadits, 1391 HS, hlm. 363.
- ↑ Mas'udi, Asib Syinakht Hadits, 1389 HS, hlm. 91 dan 92.
- ↑ Mirdamad, al-Rawasyih al-Samawiyah, 1405 H, hlm. 191; Muhaqqiq Hilli, al-Mu'tabar, 1407 H, jil. 1, hlm. 199.
- ↑ Syahid Tsani, al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah, 1408 H, hlm. 147-149.
- ↑ "Hadis Mudhtharib", jil. 3, hlm. 272; Mu'addab, 'Ilm al-Dirayah Tathbiqi, 1391 HS, hlm. 263.
- ↑ Mudir Shanechi, 'Ilm al-Hadits wa Dirayah al-Hadits, 1378 HS, hlm. 163.
- ↑ Delbari, Asib-syenasi Fahm Hadits, 1391 HS, hlm. 363.
- ↑ Delbari, dkk, "Tahlil Idhthirab dar Matn Ahadits Fiqhi az Nigah Sahibi Jawahir", hlm. 59-62.
- ↑ Mirjalili, "Bazkhwani Naresayi Idhthirab Hadits, Hukm wa Cigunegi Ta'amul ba an", hlm. 131-134.
Daftar Pustaka
- Delbari, Ali. Asib-syenasi Fahm Hadits (Patologi Pemahaman Hadis). Masyhad, Universitas Ilmu Islam Razavi, 1391 HS.
- Delbari, Sayid Ali, dkk. "Tahlil Idhthirab dar Matn Ahadits Fiqhi az Nigah Sahibi Jawahir" (Analisis Idhthirab pada Matan Hadis Fikih dari Sudut Pandang Shahib al-Jawahir). Fiqh wa Ushul, No. 3, No. Seri 130, Tahun 54, 1401 HS.
- "Hadis Mudhtharib". Dalam Farhang-e Fiqh-e Farsi, di bawah pengawasan Sayid Mahmud Hashemi Shahroudi. Jil. 3. Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, 1387 HS.
- Jadidinezhad, Muhammad Ridha. Danesy Rejal az Didgah Ahlussunnah (Ilmu Rijal dari Sudut Pandang Ahlusunah). Qom, Lembaga Ilmiah Budaya Dar al-Hadits, 1381 HS.
- Mamaqani, Abdullah. Miqbas al-Hidayah fi 'Ilm al-Dirayah. Qom, Muassasah Alu al-Bait(as) li Ihya al-Turats, 1411 H.
- Ma'ruf al-Hasani, Hashem. Dirasat fil Hadits wal Muhadditsin (Studi tentang Hadis dan Ahli Hadis). Beirut, Dar al-Ta'aruf lil Mathbu'at.
- Mas'udi, Abdul Hadi. Asib Syinakht Hadits (Patologi Mengenal Hadis). Qom, Penerbit Zaer, 1389 HS.
- Mu'addab, Ridha. 'Ilm al-Dirayah Tathbiqi (Ilmu Dirayah Komparatif). Qom, Pusat Internasional Penerjemahan dan Penerbitan al-Mustafa(saw), 1391 HS.
- Mudir Shanechi, Kazim. 'Ilm al-Hadits wa Dirayah al-Hadits. Qom, Kantor Penerbit Islam, 1378 HS.
- Muhaqqiq Hilli, Jafar bin Hasan. al-Mu'tabar. Qom, Muassasah Sayid al-Syuhada(as), 1407 H.
- Mirdamad, Mir Muhammad Baqir bin Muhammad. al-Rawasyih al-Samawiyyah. Qom, Dar al-Hadits, 1422 H.
- Mirdamad, Mir Muhammad Baqir bin Muhammad. al-Rawasyih al-Samawiyyah. Qom, Publikasi Perpustakaan Ayatullah al-Uzhma al-Mar'asyi al-Najafi, 1405 H.
- Mirdamadi, Mujtaba. 'Ilm Rejal wa Dirayeh Barresi wa Naqd (Ilmu Rijal dan Dirayah: Tinjauan dan Kritik). Teheran, Mirats-e Farhikhtegan, 1396 HS.
- Mirjalili, Ali Muhammad. "Bazkhwani Naresayi Idhthirab Hadits, Hukm wa Cigunegi Ta'amul ba an" (Membaca Ulang Kekurangan Idhthirab Hadis, Hukum dan Cara Interaksi dengannya). Hadis Pazyuhesy, No. 1, Tahun 1, 1388 HS.
- Sadr, Hasan. Nihayah al-Dirayah fi Syarh al-Risalah al-Maushumah bil Wajizah lil Baha'i. Masy'ar.
- Subhani, Jafar. Ushul al-Hadits wa Ahkamuhu fi 'Ilm al-Dirayah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah. Qom, Perpustakaan Ayatullah al-Mar'asyi al-'Ammah, 1408 H.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Syarh al-Bidayah fi 'Ilm al-Dirayah. Qom, Dhiya Firuzabadi.