Hadis Makarim Akhlak: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
Baris 20: | Baris 20: | ||
==Kedudukan== | ==Kedudukan== | ||
{{Akhlak-Vertikal}} | {{Akhlak-Vertikal}} | ||
Hadis {{ia|إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَکَارِمَ الْاَخْلَاق }} “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak [dan mengajarkannya]”. | Hadis {{ia|إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَکَارِمَ الْاَخْلَاق }} “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak [dan mengajarkannya]”.<ref>Hakimi & tim, ''al-Hayāh'', penerjemah: Ahmad Aram, jld. 6, hlm. 675.</ref> Hadis ini dikenal dengan hadis Makarim al-Akhlak<ref>Aref Niya & Muhammadi, ''Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq'', majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 128.</ref> atau Hadis Tatmim.<ref>Hadi, ''Makārim al-Akhlāq: Pazuhesyi Peiramun-e Rewayat-e Tatmim-e Makarem-e Akhlak'', jurnal Akhlak, vol. 5-6, hlm. 314.</ref> Hadis ini diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw.<ref>Thabrasi, ''Majma' al-Bayān'', jld. 10, hlm. 500.</ref> Mengacu pada hadis ini, Salah satu tujuan utama pengutusan Nabi saw adalah menyempurnakan dan mengajarkan Makarim al-Akhlak.<ref>Narraqi, ''Mi'rāj as-Sa'ādah'', hlm. 107; Makarim Syirazi, ''Tafsir-e Nemune'', jld. 24, hlm. 379.</ref> Selain itu, hadis ini juga mengungkapkan pentingnya masalah moral dalam Islam.<ref>Ali Nezad, ''Tafawut-e Makarem-e Akhlaq Ba Mahasen-e Akhlaq'', majalah Yayasan Tabligh-e Hauze-e Ilmiye-e Qom, hlm. 6.</ref> | ||
==Tafsir Hadis yang Berbeda-beda== | ==Tafsir Hadis yang Berbeda-beda== | ||
Berikut adalah beberapa penafsiran terkait hadis Makarim al-Akhlak: | Berikut adalah beberapa penafsiran terkait hadis Makarim al-Akhlak: | ||
Murtadha Mutthahhari, seorang ulama Islam dan penulis Syiah, berpendapat bahwa dapat dipahami dari hadis ini bahwa misi Nabi saw adalah membentuk spirit, akhlak, dan pendidikan umat, serta memiliki aspek emosional, dan menggerakkan, bukan hanya aspek ilmiah dan keilmuan saja. Berbeda dengan akhlak Socrates yang bertumpu pada kebajikan dan kaidah akal serta hanya mempertimbangkan dimensi rasional. Karena alasan ini, ia kering, dan tetap tak bergerak. | Murtadha Mutthahhari, seorang ulama Islam dan penulis Syiah, berpendapat bahwa dapat dipahami dari hadis ini bahwa misi Nabi saw adalah membentuk spirit, akhlak, dan pendidikan umat, serta memiliki aspek emosional, dan menggerakkan, bukan hanya aspek ilmiah dan keilmuan saja. Berbeda dengan akhlak Socrates yang bertumpu pada kebajikan dan kaidah akal serta hanya mempertimbangkan dimensi rasional. Karena alasan ini, ia kering, dan tetap tak bergerak.<ref>Mutahhari, ''Yad Dasytha-e Ustad'', jld. 6, hlm. 478.</ref> | ||
Menurut Ibnu Arabi seorang ‘arif dan mufasir Ahlusunah (560-638 H), di antara para nabi, masing-masing mempunyai kapasitas yang lebih besar dalam menerima keutamaan | Menurut Ibnu Arabi seorang ‘arif dan mufasir Ahlusunah (560-638 H), di antara para nabi, masing-masing mempunyai kapasitas yang lebih besar dalam menerima keutamaan<ref>Ibn Arabi, ''Tafsīr Ibn 'Arabī'', jld. 2, hlm. 84.</ref> dan nabi-nabi yang diutus setelahnya memiliki semua sifat dan kesempurnaan nabi-nabi terdahulu. Oleh karena itu, Nabi saw memiliki kapasitas untuk menyempurnakan Makarim al-Akhlak.<ref>Ibn Arabi, ''Tafsīr Ibn 'Arabī'', jld. 1, hlm. 395.</ref> | ||
Sebagian peneliti juga berpendapat bahwa mencapai keutamaan akhlak bukanlah satu-satunya tujuan pengutusan Nabi saw. | Sebagian peneliti juga berpendapat bahwa mencapai keutamaan akhlak bukanlah satu-satunya tujuan pengutusan Nabi saw.<ref>Aref Niya & Muhammadi, ''Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq'', majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 141.</ref> Karena pengutusan Nabi saw, memiliki banyak tujuan lainnya seperti berpolitik, memimpin masyarakat serta menyelesaikan masalah-masalah mereka.<ref>Hadi, ''Makārim al-Akhlāq: Pazuhesyi Peiramun-e Rewayat-e Tatmim-e Makarem-e Akhlak'', jurnal Akhlak, vol. 5-6, hlm. 322; Aref Niya & Muhammadi, ''Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq'', majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 141.</ref> | ||
Mengingat hal tersebut, berikut adalah beberapa kemungkinan yang disebutkan dalam memaknai hadis tersebut: | Mengingat hal tersebut, berikut adalah beberapa kemungkinan yang disebutkan dalam memaknai hadis tersebut: | ||
*Hadis ini menjelaskan bahwa menyempurnakan akhlak hanyalah tugas Nabi saw dan tidak ada nabi lain yang diutus untuk hal ini. Dengan kata lain diantara para nabi hanya Nabi Muhammad saw yang diutus untuk menyempurnakan akhlak. | *Hadis ini menjelaskan bahwa menyempurnakan akhlak hanyalah tugas Nabi saw dan tidak ada nabi lain yang diutus untuk hal ini. Dengan kata lain diantara para nabi hanya Nabi Muhammad saw yang diutus untuk menyempurnakan akhlak.<ref>Aref Niya & Muhammadi, ''Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq'', majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 141.</ref> | ||
*Hal ini dimaksudkan untuk membedakan makarim al-akhlak dengan keutamaan akhlak lainnya; Artinya, Nabi saw diutus untuk melengkapi keutamaan akhlak, yaitu sifat akhlak yang paling tinggi. | *Hal ini dimaksudkan untuk membedakan makarim al-akhlak dengan keutamaan akhlak lainnya; Artinya, Nabi saw diutus untuk melengkapi keutamaan akhlak, yaitu sifat akhlak yang paling tinggi.<ref>Hadi, ''Makārim al-Akhlāq: Pazuhesyi Peiramun-e Rewayat-e Tatmim-e Makarem-e Akhlak'', jurnal Akhlak, vol. 5-6, hlm. 333.</ref> | ||
*Sebab dan tujuan utama pengutusan adalah menyempurnakan akhlak, dan alasan ini menjadi landasan sebab-sebab dan aspek-aspek lain dari pengutusan tersebut. | *Sebab dan tujuan utama pengutusan adalah menyempurnakan akhlak, dan alasan ini menjadi landasan sebab-sebab dan aspek-aspek lain dari pengutusan tersebut.<ref>Aref Niya & Muhammadi, ''Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq'', majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 143.</ref> | ||
==Jalur Periwayatan== | ==Jalur Periwayatan== | ||
Hadits Makaram al-Akhlaq diriwayatkan dalam sumber Syiah dan Sunni: | Hadits Makaram al-Akhlaq diriwayatkan dalam sumber Syiah dan Sunni: | ||
Di antara sumber-sumber Syiah, ''al-Risalah al-Alawiyyah'' | Di antara sumber-sumber Syiah, ''al-Risalah al-Alawiyyah''<ref>Karaji, ''ar-Risālah al-'Alawiyyah'', hlm. 11.</ref> yang ditulis oleh Muhammad bin Ali Karajaki (w. 449 H) dan ''Tafsir Majma’ al-Bayan''<ref>Thabrasi, ''Majma' al-Bayān'', jld. 10, hlm. 500.</ref> yang ditulis oleh Fadhl bin Hasan Thabarsi (w. 548 H) dianggap sebagai sumber tertua yang meriwayatkan hadis Makarim al-Akhlak.<ref>Aref Niya & Muhammadi, ''Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq'', majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 105.</ref> Selain itu, Hasan bin Fadhl Thabarsi dalam pendahuluan kitab Makarim al-Akhlaq menjelaskan hadis ini tanpa menyebutkan jalur periwayatannya.<ref>Thabrasi, ''Makārim al-Akhlāq'', hlm. 8.</ref> | ||
Tentu saja hadis ini juga disebutkan dalam sumber lain dengan ungkapan dan kutipan yang berbeda: dalam ''Fiqh al-Ridha'' dengan kalimat {{ia| بُعِثتُ بِمَکارِمِ الاَخلاق}} | Tentu saja hadis ini juga disebutkan dalam sumber lain dengan ungkapan dan kutipan yang berbeda: dalam ''Fiqh al-Ridha'' dengan kalimat {{ia| بُعِثتُ بِمَکارِمِ الاَخلاق}}<ref>Dinisbatkan ke Imam Ali ar-Ridha (as), ''Fiqh ar-Ridhā (as)'', hlm. 353.</ref> dan dalam kitab ''Amali'' yang ditulis oleh Syekh Thusi (460- 385 H) dengan kalimat {{ia| بُعِثتُ بِمَکارِمِ الاَخلاقِ و مَحَاسِنِها}}.<ref>Thusi, ''al-Āmālī,'' hlm. 596.</ref> | ||
Di antara sumber Sunni, Baihaqi (w. 458 H) meriwayatkan riwayat ini dalam kitab ''Sunan al-Kubro'' dengan menyebutkan rantai sanad dari Abu Hurairah dari Nabi saw. | Di antara sumber Sunni, Baihaqi (w. 458 H) meriwayatkan riwayat ini dalam kitab ''Sunan al-Kubro'' dengan menyebutkan rantai sanad dari Abu Hurairah dari Nabi saw.<ref>Baihaqi, ''as-Sunan al-Kubrā,'' jld. 10, hlm. 323.</ref> Juga, Malik bin Anas (93-179 H),<ref>Malik bin Anas, ''al-Muwattha','' jld. 5, hlm. 1330.</ref> Ahmad bin Hanbal (164-241 H)<ref>Ahmad bin Hanbal, ''Musnad Ahmad,'' jld. 14, hlm. 512-513.</ref> dan Muhammad bin Ismail Bukhari (194-256 H),<ref>Al-Bukhari, ''al-Adab al-Mufrad,'' hlm. 104.</ref> menyebutkan hadis ini dengan kata-kata serupa dalam kitab-kitab mereka. | ||
Beberapa peneliti, mengingat banyaknya riwayat hadis ini dengan kata-kata dan sanad yang berbeda dalam sumber Syiah dan Sunni, menganggapnya sebagai mutawatir maknawi atau setidaknya memiliki istifadhah maknawi dan diterima di kalangan ulama. | Beberapa peneliti, mengingat banyaknya riwayat hadis ini dengan kata-kata dan sanad yang berbeda dalam sumber Syiah dan Sunni, menganggapnya sebagai mutawatir maknawi atau setidaknya memiliki istifadhah maknawi dan diterima di kalangan ulama.<ref>Aref Niya & Muhammadi, ''Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq'', majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 120.</ref> | ||
==Contoh-contoh Makarim al-Akhlak== | ==Contoh-contoh Makarim al-Akhlak== | ||
Makarim, bentuk jamak dari “makramah” yang berarti keagungan dan kemurahan hati | Makarim, bentuk jamak dari “makramah” yang berarti keagungan dan kemurahan hati <ref>Bustani, ''Farhangg-e Abjadi,'' hlm. 588.</ref> dan makarim al-akhlak berarti akhlak yang mulia.<ref>Hadi, ''Makārim al-Akhlāq: Pazuhesyi Peiramun-e Rewayat-e Tatmim-e Makarem-e Akhlak'', jurnal Akhlak, vol. 5-6, hlm. 327.</ref> Dalam sumber-sumber hadis diriwayatkan beberapa hadis dari para maksum as tentang makarim al-akhlak.<ref>Lihat: Kulaini, ''al-Kāfī,'' jld. 2, hlm. 55; Majlisi, ''Bihār al-Anwār,'' jld. 67, hlm. 367-375.</ref> Beberapa di antaranya menggambarkan beberapa sifat sebagai contoh makarim al-akhlak. | ||
Dalam kitab ''al-Kafi'', Kulalini meriwayatkan hadis dari Imam Shadiq as yang mengenalkan keutamaan akhlak sebagai perhiasan para nabi dan menganjurkan untuk memilikinya. Kemudian, ia menyebutkan sepuluh sifat sebagai contoh akhlak yang baik: yakin, kepuasan, kesabaran, rasa syukur, pengendalian diri, akhlak yang baik, kemurahan hati, semangat, keberanian dan kebajikan. | Dalam kitab ''al-Kafi'', Kulalini meriwayatkan hadis dari Imam Shadiq as yang mengenalkan keutamaan akhlak sebagai perhiasan para nabi dan menganjurkan untuk memilikinya. Kemudian, ia menyebutkan sepuluh sifat sebagai contoh akhlak yang baik: yakin, kepuasan, kesabaran, rasa syukur, pengendalian diri, akhlak yang baik, kemurahan hati, semangat, keberanian dan kebajikan.<ref>Kulaini, ''al-Kāfī,'' jld. 2, hlm. 56.</ref> | ||
Dalam hadis lain dalam kitab yang sama, ciri-ciri makarim al- akhlak adalah: tidak menginginkan (terhadap apa yang ada pada orang lain), berkata jujur, memberi amanah, menyambung tali persaudaraan, menyambut tamu, memberi makan kepada fakir miskin, membalas kebaikan, menghormati hak tetangga, dan menghormati hak teman. Kemudian dikatakan bahwa prinsip dari segala kemuliaan adalah rasa malu. | Dalam hadis lain dalam kitab yang sama, ciri-ciri makarim al- akhlak adalah: tidak menginginkan (terhadap apa yang ada pada orang lain), berkata jujur, memberi amanah, menyambung tali persaudaraan, menyambut tamu, memberi makan kepada fakir miskin, membalas kebaikan, menghormati hak tetangga, dan menghormati hak teman. Kemudian dikatakan bahwa prinsip dari segala kemuliaan adalah rasa malu.<ref>Kulaini, ''al-Kāfī,'' jld. 2, hlm. 55.</ref> | ||
==Perbedaan Makarim dan Mahasin Akhlak== | ==Perbedaan Makarim dan Mahasin Akhlak== | ||
Dalam beberapa riwayat hadis tentang Makarim al-Akhlak, termasuk riwayat Syekh Thusi, selain Makarim juga disebutkan mahasin akhlak. Menurut Muhammad Taqi Falsafi, seorang penceramah, di dalam riwayat tidak dijelaskan tolok ukur untuk membedakan antara makarim dan mahasin akhlak. | Dalam beberapa riwayat hadis tentang Makarim al-Akhlak, termasuk riwayat Syekh Thusi, selain Makarim juga disebutkan mahasin akhlak.<ref>Thusi, ''al-Āmālī,'' hlm. 596.</ref> Menurut Muhammad Taqi Falsafi, seorang penceramah, di dalam riwayat tidak dijelaskan tolok ukur untuk membedakan antara makarim dan mahasin akhlak.<ref>Falsafi, ''Syarh-e Du'a-e Makārim al-Akhlāq,'' jld. 1, hlm. 197.</ref> | ||
Namun menurut contoh dalam hadis-hadis yang disebutkan untuk kedua hal tersebut, dapat dikatakan bahwa sifat-sifat moral seperti bersikap baik kepada orang lain, yang diinginkan dari sudut pandang syariah, yang juga dapat dikombinasikan dengan nafsu manusia, | Namun menurut contoh dalam hadis-hadis yang disebutkan untuk kedua hal tersebut, dapat dikatakan bahwa sifat-sifat moral seperti bersikap baik kepada orang lain, yang diinginkan dari sudut pandang syariah, yang juga dapat dikombinasikan dengan nafsu manusia,<ref>Falsafi, ''Syarh-e Du'a-e Makārim al-Akhlāq,'' jld. 1, hlm. 198.</ref> dan lebih berkaitan dengan hubungan sosial dan cara bersosialisasi dengan orang lain <ref>Ali Nezad, ''Tafawut-e Makarem-e Akhlaq Ba Mahasen-e Akhlaq'', majalah Yayasan Tabligh-e Hauze-e Ilmiye-e Qom, hlm. 8.</ref> adalah mahasin akhlak. | ||
Sedangkan etika seperti meredam amarah, yang bila ingin ditaati seseorang harus melawan egonya, atau setidak-tidaknya mengabaikannya, termasuk makarim akhlak. | Sedangkan etika seperti meredam amarah, yang bila ingin ditaati seseorang harus melawan egonya, atau setidak-tidaknya mengabaikannya, termasuk makarim akhlak.<ref>Falsafi, ''Syarh-e Du'a-e Makārim al-Akhlāq,'' jld. 1, hlm. 198.</ref> | ||
==Catatan Kaki== | ==Catatan Kaki== |
Revisi per 22 Desember 2023 02.10
Innama Bu'itstu li Utammima Makarim al-Akhlak (bahasa Arab: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَکَارِمَ الْأَخْلَاق) atau Hadis Makarim al-Akhlak adalah sebuah hadis Nabi saw yang menjelaskan bahwa tujuan pengutusan Nabi saw adalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak. Disebutkan dalam hadis ini: "Sesunguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Riwayat ini dikenal dengan nama "Hadis Makarim al-Akhlak". Merujuk pada hadis ini, akhlak dianggap sebagai salah satu persoalan penting dalam Islam dan menganggap penyempurnaan dan pengajaran keutamaan akhlak sebagai salah satu tujuan utama dakwah Nabi saw.
Hadis ini diriwayatkan dalam sumber Syiah dan Ahlusunah. Narasi dengan tema yang sama, namun dengan kata-kata yang sedikit berbeda, juga terdapat dalam beberapa sumber hadis lainnya. Beberapa peneliti menganggap hadis ini mutawatir maknawi karena banyaknya riwayat hadis ini.
Mereka mengatakan bahwa Makarim al-Akhlak adalah sesuatu yang khusus dan berbeda dari kebajikan-kebajikan akhlak lainnya bahkan lebih unggul darinya. Dalam hadis, sifat-sifat seperti kesabaran, rasa syukur, semangat, rasa puas diri, keberanian, belas kasihan, kesopanan, dan budi pekerti yang baik merupakan salah satu contoh Makarim al-Akhlak.
Kedudukan
Hadis إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَکَارِمَ الْاَخْلَاق “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak [dan mengajarkannya]”.[1] Hadis ini dikenal dengan hadis Makarim al-Akhlak[2] atau Hadis Tatmim.[3] Hadis ini diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw.[4] Mengacu pada hadis ini, Salah satu tujuan utama pengutusan Nabi saw adalah menyempurnakan dan mengajarkan Makarim al-Akhlak.[5] Selain itu, hadis ini juga mengungkapkan pentingnya masalah moral dalam Islam.[6]
Tafsir Hadis yang Berbeda-beda
Berikut adalah beberapa penafsiran terkait hadis Makarim al-Akhlak:
Murtadha Mutthahhari, seorang ulama Islam dan penulis Syiah, berpendapat bahwa dapat dipahami dari hadis ini bahwa misi Nabi saw adalah membentuk spirit, akhlak, dan pendidikan umat, serta memiliki aspek emosional, dan menggerakkan, bukan hanya aspek ilmiah dan keilmuan saja. Berbeda dengan akhlak Socrates yang bertumpu pada kebajikan dan kaidah akal serta hanya mempertimbangkan dimensi rasional. Karena alasan ini, ia kering, dan tetap tak bergerak.[7]
Menurut Ibnu Arabi seorang ‘arif dan mufasir Ahlusunah (560-638 H), di antara para nabi, masing-masing mempunyai kapasitas yang lebih besar dalam menerima keutamaan[8] dan nabi-nabi yang diutus setelahnya memiliki semua sifat dan kesempurnaan nabi-nabi terdahulu. Oleh karena itu, Nabi saw memiliki kapasitas untuk menyempurnakan Makarim al-Akhlak.[9]
Sebagian peneliti juga berpendapat bahwa mencapai keutamaan akhlak bukanlah satu-satunya tujuan pengutusan Nabi saw.[10] Karena pengutusan Nabi saw, memiliki banyak tujuan lainnya seperti berpolitik, memimpin masyarakat serta menyelesaikan masalah-masalah mereka.[11]
Mengingat hal tersebut, berikut adalah beberapa kemungkinan yang disebutkan dalam memaknai hadis tersebut:
- Hadis ini menjelaskan bahwa menyempurnakan akhlak hanyalah tugas Nabi saw dan tidak ada nabi lain yang diutus untuk hal ini. Dengan kata lain diantara para nabi hanya Nabi Muhammad saw yang diutus untuk menyempurnakan akhlak.[12]
- Hal ini dimaksudkan untuk membedakan makarim al-akhlak dengan keutamaan akhlak lainnya; Artinya, Nabi saw diutus untuk melengkapi keutamaan akhlak, yaitu sifat akhlak yang paling tinggi.[13]
- Sebab dan tujuan utama pengutusan adalah menyempurnakan akhlak, dan alasan ini menjadi landasan sebab-sebab dan aspek-aspek lain dari pengutusan tersebut.[14]
Jalur Periwayatan
Hadits Makaram al-Akhlaq diriwayatkan dalam sumber Syiah dan Sunni:
Di antara sumber-sumber Syiah, al-Risalah al-Alawiyyah[15] yang ditulis oleh Muhammad bin Ali Karajaki (w. 449 H) dan Tafsir Majma’ al-Bayan[16] yang ditulis oleh Fadhl bin Hasan Thabarsi (w. 548 H) dianggap sebagai sumber tertua yang meriwayatkan hadis Makarim al-Akhlak.[17] Selain itu, Hasan bin Fadhl Thabarsi dalam pendahuluan kitab Makarim al-Akhlaq menjelaskan hadis ini tanpa menyebutkan jalur periwayatannya.[18]
Tentu saja hadis ini juga disebutkan dalam sumber lain dengan ungkapan dan kutipan yang berbeda: dalam Fiqh al-Ridha dengan kalimat بُعِثتُ بِمَکارِمِ الاَخلاق[19] dan dalam kitab Amali yang ditulis oleh Syekh Thusi (460- 385 H) dengan kalimat بُعِثتُ بِمَکارِمِ الاَخلاقِ و مَحَاسِنِها.[20]
Di antara sumber Sunni, Baihaqi (w. 458 H) meriwayatkan riwayat ini dalam kitab Sunan al-Kubro dengan menyebutkan rantai sanad dari Abu Hurairah dari Nabi saw.[21] Juga, Malik bin Anas (93-179 H),[22] Ahmad bin Hanbal (164-241 H)[23] dan Muhammad bin Ismail Bukhari (194-256 H),[24] menyebutkan hadis ini dengan kata-kata serupa dalam kitab-kitab mereka.
Beberapa peneliti, mengingat banyaknya riwayat hadis ini dengan kata-kata dan sanad yang berbeda dalam sumber Syiah dan Sunni, menganggapnya sebagai mutawatir maknawi atau setidaknya memiliki istifadhah maknawi dan diterima di kalangan ulama.[25]
Contoh-contoh Makarim al-Akhlak
Makarim, bentuk jamak dari “makramah” yang berarti keagungan dan kemurahan hati [26] dan makarim al-akhlak berarti akhlak yang mulia.[27] Dalam sumber-sumber hadis diriwayatkan beberapa hadis dari para maksum as tentang makarim al-akhlak.[28] Beberapa di antaranya menggambarkan beberapa sifat sebagai contoh makarim al-akhlak.
Dalam kitab al-Kafi, Kulalini meriwayatkan hadis dari Imam Shadiq as yang mengenalkan keutamaan akhlak sebagai perhiasan para nabi dan menganjurkan untuk memilikinya. Kemudian, ia menyebutkan sepuluh sifat sebagai contoh akhlak yang baik: yakin, kepuasan, kesabaran, rasa syukur, pengendalian diri, akhlak yang baik, kemurahan hati, semangat, keberanian dan kebajikan.[29]
Dalam hadis lain dalam kitab yang sama, ciri-ciri makarim al- akhlak adalah: tidak menginginkan (terhadap apa yang ada pada orang lain), berkata jujur, memberi amanah, menyambung tali persaudaraan, menyambut tamu, memberi makan kepada fakir miskin, membalas kebaikan, menghormati hak tetangga, dan menghormati hak teman. Kemudian dikatakan bahwa prinsip dari segala kemuliaan adalah rasa malu.[30]
Perbedaan Makarim dan Mahasin Akhlak
Dalam beberapa riwayat hadis tentang Makarim al-Akhlak, termasuk riwayat Syekh Thusi, selain Makarim juga disebutkan mahasin akhlak.[31] Menurut Muhammad Taqi Falsafi, seorang penceramah, di dalam riwayat tidak dijelaskan tolok ukur untuk membedakan antara makarim dan mahasin akhlak.[32]
Namun menurut contoh dalam hadis-hadis yang disebutkan untuk kedua hal tersebut, dapat dikatakan bahwa sifat-sifat moral seperti bersikap baik kepada orang lain, yang diinginkan dari sudut pandang syariah, yang juga dapat dikombinasikan dengan nafsu manusia,[33] dan lebih berkaitan dengan hubungan sosial dan cara bersosialisasi dengan orang lain [34] adalah mahasin akhlak.
Sedangkan etika seperti meredam amarah, yang bila ingin ditaati seseorang harus melawan egonya, atau setidak-tidaknya mengabaikannya, termasuk makarim akhlak.[35]
Catatan Kaki
- ↑ Hakimi & tim, al-Hayāh, penerjemah: Ahmad Aram, jld. 6, hlm. 675.
- ↑ Aref Niya & Muhammadi, Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq, majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 128.
- ↑ Hadi, Makārim al-Akhlāq: Pazuhesyi Peiramun-e Rewayat-e Tatmim-e Makarem-e Akhlak, jurnal Akhlak, vol. 5-6, hlm. 314.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayān, jld. 10, hlm. 500.
- ↑ Narraqi, Mi'rāj as-Sa'ādah, hlm. 107; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemune, jld. 24, hlm. 379.
- ↑ Ali Nezad, Tafawut-e Makarem-e Akhlaq Ba Mahasen-e Akhlaq, majalah Yayasan Tabligh-e Hauze-e Ilmiye-e Qom, hlm. 6.
- ↑ Mutahhari, Yad Dasytha-e Ustad, jld. 6, hlm. 478.
- ↑ Ibn Arabi, Tafsīr Ibn 'Arabī, jld. 2, hlm. 84.
- ↑ Ibn Arabi, Tafsīr Ibn 'Arabī, jld. 1, hlm. 395.
- ↑ Aref Niya & Muhammadi, Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq, majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 141.
- ↑ Hadi, Makārim al-Akhlāq: Pazuhesyi Peiramun-e Rewayat-e Tatmim-e Makarem-e Akhlak, jurnal Akhlak, vol. 5-6, hlm. 322; Aref Niya & Muhammadi, Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq, majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 141.
- ↑ Aref Niya & Muhammadi, Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq, majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 141.
- ↑ Hadi, Makārim al-Akhlāq: Pazuhesyi Peiramun-e Rewayat-e Tatmim-e Makarem-e Akhlak, jurnal Akhlak, vol. 5-6, hlm. 333.
- ↑ Aref Niya & Muhammadi, Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq, majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 143.
- ↑ Karaji, ar-Risālah al-'Alawiyyah, hlm. 11.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayān, jld. 10, hlm. 500.
- ↑ Aref Niya & Muhammadi, Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq, majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 105.
- ↑ Thabrasi, Makārim al-Akhlāq, hlm. 8.
- ↑ Dinisbatkan ke Imam Ali ar-Ridha (as), Fiqh ar-Ridhā (as), hlm. 353.
- ↑ Thusi, al-Āmālī, hlm. 596.
- ↑ Baihaqi, as-Sunan al-Kubrā, jld. 10, hlm. 323.
- ↑ Malik bin Anas, al-Muwattha', jld. 5, hlm. 1330.
- ↑ Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 14, hlm. 512-513.
- ↑ Al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, hlm. 104.
- ↑ Aref Niya & Muhammadi, Barresi-e Dalali-e Hadis-e Makārim al-Akhlāq, majalah Hadis Wa Andisye, vol. 30, hlm. 120.
- ↑ Bustani, Farhangg-e Abjadi, hlm. 588.
- ↑ Hadi, Makārim al-Akhlāq: Pazuhesyi Peiramun-e Rewayat-e Tatmim-e Makarem-e Akhlak, jurnal Akhlak, vol. 5-6, hlm. 327.
- ↑ Lihat: Kulaini, al-Kāfī, jld. 2, hlm. 55; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 67, hlm. 367-375.
- ↑ Kulaini, al-Kāfī, jld. 2, hlm. 56.
- ↑ Kulaini, al-Kāfī, jld. 2, hlm. 55.
- ↑ Thusi, al-Āmālī, hlm. 596.
- ↑ Falsafi, Syarh-e Du'a-e Makārim al-Akhlāq, jld. 1, hlm. 197.
- ↑ Falsafi, Syarh-e Du'a-e Makārim al-Akhlāq, jld. 1, hlm. 198.
- ↑ Ali Nezad, Tafawut-e Makarem-e Akhlaq Ba Mahasen-e Akhlaq, majalah Yayasan Tabligh-e Hauze-e Ilmiye-e Qom, hlm. 8.
- ↑ Falsafi, Syarh-e Du'a-e Makārim al-Akhlāq, jld. 1, hlm. 198.