Konsep:Tawun
Tawun (Saling Tolong-Menolong), bermakna saling membantu satu sama lain, dianggap sebagai salah satu rukun sistem sosial dan prinsip umum Islam. Berdasarkan Ayat 2 Surah al-Ma'idah, kaum Muslim berkewajiban untuk saling bertawun dalam amal kebajikan dan dilarang untuk bekerja sama dalam perbuatan yang salah. Dalam hadis-hadis Maksumin (as), urgensi tawun dan saling menolong ditekankan, bahkan menolong sesama mukmin dianggap lebih baik daripada Puasa dan Itikaf selama satu bulan, Ibadah seumur hidup, dan membebaskan seribu budak. Menurut hadis, efek sosial yang penting dari tawun dalam amal kebajikan adalah datangnya kebaikan dan Berkat bagi umat Islam.
Para pakar fikih dengan bersandar pada Ayat 2 Surah al-Ma'idah, menganggap tawun dalam amal kebajikan sebagai hal yang Wajib atau Mustahab; misalnya jika seseorang menemukan anak yang hilang, merawatnya dihitung sebagai jenis tawun dalam amal kebajikan dan dianggap sebagai Wajib Kifayah, meski sebagian menganggapnya mustahab. Selain itu, para pakar fikih menganggap penjualan anggur kepada seseorang yang akan menjadikannya minuman keras sebagai bantuan untuk melakukan Dosa dan hukumnya adalah Haram.
Tawun materi dan maknawi termasuk di antara jenis-jenis tawun, dan pembayaran dana syariat dianggap sebagai contoh tawun materi. Selain itu, Menjenguk orang sakit, Silaturahmi, upaya untuk perdamaian dan rekonsiliasi, serta Amar Makruf Nahi Mungkar juga digolongkan sebagai contoh dari tawun maknawi.
Tawun sebagai Rukun Sistem Sosial
Tawun berarti bekerja sama dan saling menolong satu sama lain,[1] yang merupakan salah satu rukun sistem sosial[2] dan prinsip umum Islam yang mencakup seluruh persoalan sosial, hukum, moral, dan politik.[3] Sebagian peneliti menyebut tawun semata-mata sebagai prinsip moral,[4] sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai hak wali (penguasa) atas rakyatnya,[5] yang pelaksanaannya menyebabkan solidaritas di antara anggota masyarakat.[6]
Menurut beberapa peneliti, tawun sebagai fondasi banyak agama dan ideologi, khususnya agama-agama samawi, selalu ditekankan, dan agama Islam pun tegak di atas dasar tawun dan kerja sama timbal balik.[7] Para peneliti berkeyakinan bahwa alasan penekanan Islam pada tawun dan partisipasi dalam amal kebajikan adalah kodrat sosial manusia dan kebutuhannya untuk bekerja sama dengan orang lain.[8] Mereka meyakini bahwa terwujudnya partisipasi dan solidaritas ini akan menyebabkan pertumbuhan dan kesempurnaan masyarakat.[9]
Di Iran, untuk menciptakan tawun dan kerja sama dalam urusan ekonomi, Pasal 44 Konstitusi disusun dan rinciannya disahkan oleh parlemen pada 13 Shahrivar 1370 HS, dan hari ini ditetapkan sebagai "Hari Tawun".[10] Selain itu, untuk menjalankan pengawasan pemerintah serta bantuan dan dukungan bagi sektor koperasi, pada tanggal 10 Dey 1370 HS, Kementerian Koperasi, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Sosial dibentuk.[11]
Tawun dalam Amal Kebajikan dan Tidak Bekerja Sama dalam Keburukan
Dalam Al-Qur'an, Ayat 2 Surah al-Ma'idah mengacu pada tema tawun;[12] "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat Dosa dan pelanggaran."[13] Para mufasir meyakini bahwa dalam ayat ini, penggunaan bentuk perintah (amr) untuk tawun merupakan tanda nilai dan urgensinya,[14] dan menurut ayat tersebut, kaum Muslim berkewajiban untuk bertawun dan bekerja sama dalam amal kebajikan, namun kerja sama dalam tujuan yang batil, perbuatan salah, dan kezaliman dilarang secara mutlak.[15] Selain itu, maksud dari "birr" (kebajikan) dan "itsm" (dosa) di sini bersifat umum, mencakup setiap perbuatan baik (Wajib dan mustahab)[16] dan setiap dosa.[17] Sebenarnya, kebajikan dan takwa adalah dua kata komprehensif yang digunakan Al-Qur'an untuk menjelaskan poros utama dan mendasar dari tawun dan partisipasi.[18]
Dalam hadis-hadis Maksumin (as) juga ditekankan urgensi tawun dan saling menolong dalam menegakkan kebenaran.[19] Syekh Hurr al-Amili, salah satu ahli hadis abad ke-11 Hijriah, dalam kitab Wasa'il al-Syiah mengkhususkan satu bagian untuk tema tawun dan menganggap memberikan bantuan dalam amal kebajikan sebagai hal yang mustahab.[20] Dalam bagian ini, ia menukil sebuah hadis dari Nabi Muhammad (saw) yang menyatakan bahwa di antara orang-orang, menolong ayah dan ibu, anak-anak, tetangga, dan teman-teman memiliki kepentingan yang lebih besar.[21]
Jenis-jenis dan Contoh Tawun
Berbagai dimensi telah diajukan untuk tawun: dimensi sosial dan politik seperti Haji dan Jihad, dimensi ekonomi seperti Khums dan Zakat, serta dimensi moral seperti menjaga hak-hak orang tua dan tetangga.[22]
Tawun materi dan maknawi dianggap sebagai jenis-jenis dari tawun.[23] Beberapa peneliti menyebutkan pembayaran wajib (seperti khums dan zakat) serta mustahab (seperti utang dan infak) sebagai contoh tawun materi,[24] yang juga diperintahkan dalam Al-Qur'an.[25] Contoh nyata tawun materi dalam sejarah Islam dianggap sebagai pertolongan dan kerja sama antara kaum Ansar dan Muhajirin pada awal hijrah Nabi (saw) ke Madinah.[26] Menurut para sejarawan, pada tahun pertama hijrah, kaum Muhajirin berhasil memperoleh pekerjaan dan fasilitas hidup melalui bantuan ekonomi kaum Ansar dalam bentuk perjanjian persaudaraan.[27]
Berdasarkan sebuah penelitian, para pemimpin agama menyeru kaum Muslim untuk bertawun dan saling menolong dalam memenuhi kebutuhan satu sama lain, serta menciptakan ikatan emosional dan maknawi melalui cara ini.[28] Memberi hadiah, Menjenguk orang sakit, Silaturahmi, upaya perdamaian dan rekonsiliasi, Amar Makruf Nahi Mungkar, berpartisipasi dalam Salat Jumat, dan kehadiran dalam berbagai pemilihan umum dianggap sebagai contoh tawun maknawi.[29]
Nilai dan Efek Tawun
Mengenai nilai dan keutamaan tawun serta menolong sesama mukmin, terdapat banyak riwayat yang dinukil dari Imam Maksum (as);[30] di antaranya dikatakan bahwa menolong sesama mukmin lebih baik daripada puasa (mustahab) dan Itikaf satu bulan,[31] Ibadah seumur hidup[32] dan membebaskan seribu budak.[33] Selain itu, dalam sumber-sumber hadis, kehormatan dan kebesaran di dunia[34] dan bertambahnya Rezeki,[35] disebutkan sebagai efek individu dan duniawi dari membantu orang lain.[36] Mengenai efek ukhrawi-nya, dikatakan pula bahwa tawun dan empati terhadap sesama menyebabkan kesedihan bagi Setan,[37] kedekatan kepada Allah[38] dan dicintai di sisi-Nya,[39] dijauhkan dari Azab Ilahi[40] serta masuk ke dalam Surga.[41]
Menurut hadis, efek sosial penting dari tawun dalam amal kebajikan adalah tersampaikannya kebaikan dan Berkat kepada umat Islam, dan di antara efek dari tidak adanya tawun adalah dominasi individu atas satu sama lain dan hilangnya keberkahan.[42] Selain itu, penguatan keterikatan, komitmen, dan keyakinan terhadap nilai-nilai masyarakat serta berkurangnya penyimpangan dan kejahatan dianggap sebagai efek sosial dari tawun dan empati dalam masyarakat.[43]
Hukum Fikih Tawun
Berdasarkan sebuah penelitian, para pakar fikih dengan bersandar pada Ayat 2 Surah al-Ma'idah, menganggap tawun dalam amal kebajikan (dengan memperhatikan urgensi pekerjaan tersebut) terkadang Wajib dan terkadang Mustahab.[44] Misalnya jika seseorang menemukan anak yang hilang, merawatnya dianggap sebagai jenis tawun dalam amal kebajikan.[45] Mayoritas pakar fikih[46] seperti Syekh Thusi (w. 460 H),[47] Allamah Hilli (w. 726 H)[48] dan Fadhil Miqdad (w. 826 H)[49] dengan bersandar pada ayat tawun, menganggap pekerjaan ini (sampai ditemukannya kerabat si anak) sebagai Wajib Kifayah. Pakar fikih seperti Muhaqqiq al-Hilli (w. 676 H)[50] dan Sayid Muhammad Shadiq Ruhani (w. 1401 HS)[51] menganggapnya sebagai mustahab.[52]
Dalam tema tawun dalam dosa, para pakar fikih menganggap penjualan anggur kepada orang yang akan membuat khamar darinya sebagai bantuan dalam melakukan dosa dan hukumnya adalah Haram.[53] Tentu saja, sekelompok orang menyatakan bahwa untuk terwujudnya bantuan dalam melakukan dosa, penjual anggur tersebut juga harus memiliki maksud untuk pembuatan khamar.[54] Sebagian juga berkeyakinan bahwa tawun, berbeda dengan "ia'anah" (bantuan searah), adalah kerja sama dua orang atau lebih, sehingga bantuan yang dilakukan satu orang tidak bisa disebut sebagai tawun.[55]
Catatan Kaki
- ↑ Dehkhoda, Loghatnameh, di bawah kata Ta'awun.
- ↑ Rashid Ridha, Tafsir al-Qur'an al-Hakim, 1393 H, jld. 6, hlm. 131.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan), 1374 HS, jld. 4, hlm. 253.
- ↑ Behrouz-moqaddam, "Tahlil-e Akhlaqi-ye Asl-e Ta'awun bar Niki wa Kheyr dar Qur'an wa Ravayat...", hlm. 30.
- ↑ Hosseini Tehrani, Velayat-e Faqih dar Hokumat-e Eslam (Wilayah Faqih dalam Pemerintahan Islam), 1421 H, jld. 4, hlm. 199.
- ↑ Thaleb, Oshul wa Andisheh-haye Ta'awun, 1376 HS, hlm. 4.
- ↑ Zahedi Asl, Moqaddameh-i bar Khadamat-e Ejtema'i dar Eslam, 1378 HS, hlm. 15.
- ↑ Taj-khorasani dkk, "Naqsy-e Akhlaqi-ye Ta'awun wa Hemayat dar Amuzeh-haye Eslam...", hlm. 1299.
- ↑ Taj-khorasani dkk, "Naqsy-e Akhlaqi-ye Ta'awun wa Hemayat dar Amuzeh-haye Eslam...", hlm. 1301.
- ↑ "13 Shahrivar; Ruz-e Ta'awun", Kantor Berita IRIB.
- ↑ "13 Shahrivar; Ruz-e Ta'awun", Kantor Berita IRIB.
- ↑ Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Eslami, Farhang-e Fiqh (Kamus Fikih), 1387 HS, jld. 1, hlm. 171.
- ↑ Surah al-Ma'idah, ayat 2.
- ↑ Jorjani, Tafsir Syahi, 1404 H, jld. 2, hlm. 187.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan), 1374 HS, jld. 4, hlm. 253.
- ↑ Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Eslami, Farhang-e Fiqh (Kamus Fikih), 1387 HS, jld. 1, hlm. 171.
- ↑ Thabrasi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1412 HS, jld. 1, hlm. 310; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 603; Tabataba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 5, hlm. 163; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan), 1374 HS, jld. 4, hlm. 253.
- ↑ Amid Zanjani, Fiqh-e Siyasi (Fikih Politik), 1421 H, jld. 3, hlm. 457.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1402 H, jld. 8, hlm. 354; Nahjul Balaghah, riset Subhi Shalih, khotbah 216, hlm. 334.
- ↑ Syekh Hurr al-Amili, Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 16, hlm. 377.
- ↑ Syekh Hurr al-Amili, Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 16, hlm. 378, hadis 3.
- ↑ Zahedi Asl, Moqaddameh-i bar Khadamat-e Ejtema'i dar Eslam, 1378 HS, hlm. 15.
- ↑ Taj-khorasani dkk, "Naqsy-e Akhlaqi-ye Ta'awun wa Hemayat dar Amuzeh-haye Eslam...", hlm. 1301 dan 1307.
- ↑ Taj-khorasani dkk, "Naqsy-e Akhlaqi-ye Ta'awun wa Hemayat dar Amuzeh-haye Eslam...", hlm. 1302-1306.
- ↑ Surah al-Mukminun, ayat 4; Surah al-Anfal, ayat 41; Surah al-Baqarah, ayat 245; Surah at-Taubah, ayat 104.
- ↑ Taj-khorasani dkk, "Naqsy-e Akhlaqi-ye Ta'awun wa Hemayat dar Amuzeh-haye Eslam...", hlm. 1301.
- ↑ Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 3, hlm. 345.
- ↑ Hashemi, "Ta'awun", hlm. 3613.
- ↑ Taj-khorasani dkk, "Naqsy-e Akhlaqi-ye Ta'awun wa Hemayat dar Amuzeh-haye Eslam...", hlm. 1307.
- ↑ Naraqi, Jami' al-Sa'adat, A'lami, jld. 2, hlm. 233-234; Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 3, hlm. 20; Javadi Zaviyeh, "Ta'awun", Situs web Pazhuhesykadeh Baqirul Ulum.
- ↑ Kufi Ahwazi, Al-Mukmin, 1404 H, hlm. 47, hadis 111; Syekh Hurr al-Amili, Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 12, hlm. 292, hadis 4.
- ↑ Syekh Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 481, hadis 20; Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 16, hlm. 361, hadis 11.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1402 H, jld. 2, hlm. 193, hadis 3; Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 16, hlm. 363, hadis 1.
- ↑ Ali bin Musa, Shahifah al-Imam al-Ridha (as), 1406 H, hlm. 86, hadis 198; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 68, hlm. 350, hadis 1.
- ↑ Barqi, Al-Mahasin, 1371 HS, jld. 2, hlm. 390, hadis 23; Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 16, hlm. 331, hadis 8.
- ↑ Javadi Zaviyeh, "Ta'awun", Situs web Pazhuhesykadeh Baqirul Ulum.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1402 H, jld. 2, hlm. 207, hadis 9; Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 16, hlm. 377, hadis 2.
- ↑ Dinisbatkan kepada Imam Shadiq (as), Misbah al-Syari'ah, 1400 H, hlm. 83; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 70, hlm. 308, hadis 37.
- ↑ Ibnu Hayyun, Da'aim al-Islam, 1385 HS, jld. 2, hlm. 320, hadis 1207; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 71, hlm. 316, hadis 73.
- ↑ Syekh Mufid, Al-Ikhtishash, 1413 H, hlm. 253; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 68, hlm. 354, hadis 16.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1402 H, jld. 2, hlm. 196, hadis 14; Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 16, hlm. 357, hadis 3.
- ↑ Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 181, hadis 22; Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 16, hlm. 123, hadis 18.
- ↑ Taj-khorasani dkk, "Naqsy-e Akhlaqi-ye Ta'awun wa Hemayat dar Amuzeh-haye Eslam...", hlm. 1310.
- ↑ Hashemi, "Ta'awun", hlm. 3613.
- ↑ Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Eslami, Mausu'ah al-Fiqh al-Islami, 1389 HS, jld. 3, hlm. 424.
- ↑ Anshari Shirazi, Mausu'ah Ahkam al-Atfal wa Adillatuha, 1429 H, jld. 3, hlm. 201.
- ↑ Syekh Thusi, Al-Mabsuth, 1387 H, jld. 3, hlm. 336.
- ↑ Allamah Hilli, Tabshirah al-Muta'allimin, 1411 H, hlm. 111.
- ↑ Kanz al-'Irfan, 1425 H, jld. 2, hlm. 83.
- ↑ Muhaqqiq al-Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jld. 3, hlm. 226.
- ↑ Hosseini Ruhani, Fiqh al-Shadiq (as), 1412 H, jld. 19, hlm. 367.
- ↑ Syekh Thusi, Al-Mabsuth, 1387 H, jld. 3, hlm. 336.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Syekh al-Anshari, Kitab al-Makasib, 1415 H, jld. 1, hlm. 132; Montazeri, Dirasat fi al-Makasib al-Muharramah, 1415 H, jld. 2, hlm. 379.
- ↑ Syekh al-Anshari, Kitab al-Makasib, 1415 H, jld. 1, hlm. 132-135; Naraqi, 'Awa'id al-Ayyam, 1417 H, hlm. 80; Montazeri, Dirasat fi al-Makasib al-Muharramah, 1415 H, jld. 2, hlm. 379.
- ↑ Khoei, Misbah al-Fiqahah, 1417 H, jld. 1, hlm. 180.
Daftar Pustaka
- Amid Zanjani, Abbas-ali. Fiqh-e Siyasi (Fikih Politik). Tehran, Penerbit Amir Kabir, cetakan keempat, 1421 H.
- Amili, Jafar Murtadha. Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham. Qom, Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1426 H.
- Anshari Shirazi, Qodratullah. Mausu'ah Ahkam al-Atfal wa Adillatuha. Riset: Kelompok peneliti. Qom, Markaz Fiqhi Aimmah Ath-har (as), cetakan pertama, 1429 H.
- Barqi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mahasin. Riset: Jalaluddin Muhaddits. Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1371 HS.
- Behrouz-moqaddam, Hamideh. "Tahlil-e Akhlaqi-ye Asl-e Ta'awun bar Niki wa Kheyr dar Qur'an wa Ravayat...". Fasynamah Rahyaft-haye Novin-e Modiriyat-e Jihadi wa Hokumatarani-ye Eslami, nomor 1, musim semi 1400 HS.
- Dehkhoda, Ali-akbar. Loghatnameh Dehkhoda. Tehran, Muassasah Entesharat wa Chap Danesy-gah Tehran, 1379 HS.
- Haddad-Adel, Gholam-ali. Danisynamah-ye Jahan-e Eslam (Ensiklopedi Dunia Islam). Jilid 11, Tehran, Bonyad-e Da'irat al-Ma'arif-e Eslami, 1386 HS.
- Hashemi, Sayid Reza. "Ta'awun". Danisynamah Bozorg-e Eslami. Tehran, Markaz Da'irat al-Ma'arif Bozorg-e Eslami, tanpa tahun.
- Hosseini Tehrani, Sayid Muhammad Husain. Velayat-e Faqih dar Hokumat-e Eslam (Wilayah Faqih dalam Pemerintahan Islam). Masyhad, Entesharat Allamah Tabataba'i, cetakan kedua, 1421 H.
- Hosseini Ruhani, Sayid Muhammad Shadiq. Fiqh al-Shadiq (as). Qom, Dar al-Kitab, cetakan pertama, 1412 H.
- Hilli, Miqdad bin Abdullah Siyuri. Kanz al-'Irfan fi Fiqh al-Qur'an. Qom, Penerbit Mortadhawi, cetakan pertama, 1425 H.
- Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad al-Maghribi. Da'aim al-Islam. Riset: Ashif Faidhi. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), cetakan kedua, 1385 HS.
- Jorjani, Abu al-Futuh. Tafsir Syahi. Riset: Mirza Vali-ullah Isyraqi Sarabi. Tehran, Penerbit Navid, cetakan pertama, 1404 H.
- Khoei, Sayid Abu al-Qasim. Misbah al-Fiqahah (al-Mu'amalat). Pencatat: Muhammad Ali Tauhidi. Qom, Ansariyan, 1417 H.
- Kufi Ahwazi, Hossein bin Sa'id. Al-Mukmin. Qom, Muassasah al-Imam al-Mahdi (as), 1404 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Riset: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1402 H.
- Makarem Shirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan ke-32, 1374 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Montazeri, Hossein-ali. Dirasat fi al-Makasib al-Muharramah. Qom, Nasyr Tafakkur, cetakan pertama, 1415 H.
- Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Eslami. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami thibqan li-Madzhab Ahli al-Bait (as). Di bawah pengawasan: Mahmoud Hashemi Shahroudi. Qom, Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Eslami, cetakan pertama, 1389 HS.
- Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Eslami. Farhang-e Fiqh (Kamus Fikih). Qom, Muassasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Eslami, 1387 HS.
- Muhaqqiq al-Hilli, Najmuddin Jafar bin Hasan. Syarayi' al-Islam. Riset: Abdul Husain Muhammad Ali Baqqal. Qom, Muassasah Isma'iliyan, cetakan kedua, 1408 H.
- Naraqi, Mulla Muhammad Mahdi. Jami' al-Sa'adat. Riset: Muhammad Kalantar. Beirut, A'lami, cetakan keempat, tanpa tahun.
- Naraqi, Mulla Ahmad bin Muhammad Mahdi. Awa'id al-Ayyam. Qom, Penerbit Daftar Tablighat-e Eslami, cetakan pertama, 1417 H.
- Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Tehran, Markaz-e Farhangi Dars-haye az Qur'an, cetakan ke-11, 1383 HS.
- Rashid Ridha, Muhammad. Tafsir al-Qur'an al-Hakim. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1393 H.
- Syekh al-Anshari, Murtadha. Kitab al-Makasib. Qom, Kongres Internasional Peringatan Syekh A'zham al-Anshari, cetakan pertama, 1415 H.
- Syekh Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Wasa'il al-Syiah. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1409 H.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyah. Riset: Sayid Muhammad Taqi Kasyfi. Tehran, Al-Maktabah al-Murtadhawiyah, cetakan ketiga, 1387 H.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Riset: Hasan Musawi Kharsan. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Qom, Dar al-Tsaqafah, cetakan pertama, 1414 H.
- Taj-khorasani, Samira dkk. "Naqsy-e Akhlaqi-ye Ta'awun wa Hemayat dar Amuzeh-haye Eslam...". Fasynamah Elmi Jame'eh-syinasi-ye Siyasi-ye Iran, nomor 11, musim gugur 1399 HS.
- Thaleb, Mahdi. Oshul wa Andisheh-haye Ta'awun. Tehran, Universitas Tehran, 1376 HS.
- Tabataba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Entesharat-e Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
- Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Riset: Abu al-Qasim Gorji. Qom, Markaz Modiriyat Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1412 HS.
- Zahedi Asl, Muhammad. Moqaddameh-i bar Khadamat-e Ejtema'i dar Eslam. Tehran, Penerbit Universitas Allamah Tabataba'i, cetakan kedua, 1378 HS.
- Zamakhsyari, Mahmoud. Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.