Konsep:Ninawa
Templat:Kotak info Kota Nainawa (bahasa Arab: نینویٰ) adalah salah satu nama bersejarah Karbala dan juga nama sebuah wilayah di timur laut Karbala. Berdasarkan sumber sejarah, ketika kafilah Imam Husain as memasuki Nainawa setelah dari Qashr Bani Muqatil, Hurr bin Yazid al-Riyahi atas perintah Ubaidillah bin Ziyad mencegah Imam berhenti di wilayah ini. Ia ditugaskan untuk menghentikan Kafilah Imam Husain as di padang pasir yang terbuka dan tanpa air.
Menurut beberapa laporan, Imam Husain as membeli tanah Karbala dari penduduk Nainawa dan Ghadhiriyah dan memberikannya kembali kepada mereka dengan syarat mereka melayani para peziarah makamnya.
Setelah kesyahidan Imam Husain dalam Peristiwa Karbala, Nainawa menjadi tempat pemberhentian para peziarah makam Imam Husain as.
Lokasi
Nainawa adalah bagian dari wilayah Babilonia kuno (sekarang Provinsi Babil) yang terletak di wilayah tengah Irak[1] dan di sebelah timur Sungai Efrat.[2] Beberapa juga menyebut Nainawa sebagai kelanjutan dari tanah subur di Kufah.[3] Sejumlah sejarawan menganggap Karbala sebagai bagian dari Nainawa.Templat:Butuh Rujukan Nainawa terletak di bagian timur Karbala.[4]
Beberapa sejarawan menganggap bukit-bukit bersejarah yang terletak di dekat Saddat al-Hindiyah, sebuah wilayah di timur laut Provinsi Karbala di Irak, sebagai sisa-sisa dari Nainawa.[5] Usia Nainawa sudah ada sejak masa pra-Islam.
Selain itu, Nainawa juga merupakan nama sebuah kota di Irak utara dan dekat dengan kota bersejarah Mosul. Wilayah ini merupakan salah satu pusat utama bangsa Asiria.[6] Nainawa adalah nama sebuah provinsi di barat laut negara Irak dengan ibu kotanya Mosul.
Pada 780 SM, Nabi Yunus as tinggal dan diutus di Nainawa—sebuah kota yang terletak dekat Mosul, di wilayah Irak utara.[7]
Dalam Peristiwa Karbala
Templat:Rute Perjalanan Imam Husain Berdasarkan laporan sejarah, kafilah Imam Husain as memasuki Nainawa setelah bergerak dari Qashr Bani Muqatil. Setelah kafilah berhenti, seorang utusan yang membawa surat Ubaidillah bin Ziyad datang kepada Hurr bin Yazid al-Riyahi. Perintah Ubaidillah adalah agar Imam diturunkan di daerah tanpa air. Oleh karena itu, kafilah Imam Husain keluar dari Nainawa dan berhenti di Karbala.[8]
Pembelian Tanah Karbala dari Penduduk Nainawa
Berdasarkan riwayat sejarah, Imam Husain as setelah berhenti di Karbala, membeli tanah yang kemudian menjadi makam beliau dan daerah sekitarnya dari penduduk Nainawa dan Ghadhiriyah seharga enam puluh ribu dirham dan memberikan tanah yang dibeli itu kepada mereka dengan syarat penduduk kedua wilayah ini melayani para peziarah Karbala.[9]
Pencabutan Kepemilikan Tanah Karbala dari Penduduk Nainawa
Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa penduduk Nainawa tidak memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Imam Husain as untuk memberikan tanah Karbala. Sayid Ibnu Thawus dengan merujuk pada sebuah riwayat di mana Imam Shadiq as menganggap Haram Imam Husain as Halal bagi keturunan dan pengikut Imam Husain dan Haram bagi para penentangnya, meyakini bahwa meskipun tanah Haram Imam Husain diberikan oleh Imam Husain kepada penduduk wilayah Ghadhiriyah dan Nainawa, namun ketidakpatuhan mereka terhadap syarat Imam menyebabkan pencabutan kepemilikan bagi penduduk Nainawa dan Ghadhiriyah.[10]
Penggunaan Nainawa dalam Maqtal
Kata Nainawa sering digunakan sebagai ganti Karbala. Oleh karena itu, dalam beberapa laporan sejarah dan sumber Maqtal, Nainawa disebutkan sebagai tempat kesyahidan Imam Husain dan para sahabatnya dalam Peristiwa Karbala sebagai ganti Karbala.[11] Salah satu alasan penggunaan ini adalah karena Karbala merupakan bagian dari Nainawa.[12]
Dalam Sastra
Dalam sastra dan puisi ritual juga sering disinggung nama Nainawa.
Puisi terkenal Syahriyar berjudul "Kafilah Karbala" adalah salah satu puisi ini:
[از غزل]
شيعيان! ديگر هواى نينوا دارد حسين
روى دل با كاروان كربلا دارد حسين
از حريم كعبۀ جدّش به اشكى شُست دست
مروه پشت سر نهاد امّا صفا دارد حسين
مىبرد در كربلا هفتاد و دو ذبح عظيم
...بيش از اينها حرمت كوى منا دارد حسين
او وفاى عهد را با سر كند سودا ولى
...خون به دل از كوفيان بیوفا دارد حسين
آب را با دشمنان تشنه قسمت مىكند
...عزّت و آزادگى بين تا كجا دارد حسين
دست آخر كز همه بيگانه شد، ديدم هنوز
با دم خنجر نگاهى آشنا دارد حسين
شمر گويد گوش كردم تا چه خواهد از خدا
جاى نفرين هم به لب ديدم دعا دارد حسين
"اشک خونين، گو بيا بنشين به چشم "شهريار
Terjemahan: Wahai Syiah! Husain kini menuju Nainawa Hati tertuju bersama kafilah Karbala
Dari haram Ka'bah kakeknya ia membasuh tangan dengan air mata Marwah ditinggalkan, namun Husain memiliki Shafa
Ia membawa tujuh puluh dua kurban agung di Karbala Husain memiliki kehormatan lebih dari sekadar Mina...
Ia menukar kepala demi memenuhi janji, namun Hati berdarah karena warga Kufah yang tak setia...
Ia membagi air dengan musuh yang dahaga Lihatlah sampai di mana kemuliaan dan kebebasan Husain...
Di akhir ketika semua menjadi asing, aku masih melihat Dengan mata belati, tatapan yang akrab dari Husain
Syamr berkata aku mendengar apa yang ia minta dari Tuhan Di tempat kutukan pun, aku melihat doa di bibir Husain
Air mata darah, biarkanlah duduk di mata "Syahriyar" Karena di sudut ini, Husain memiliki duka tanpa riya[13]"
Tempat Pemberhentian Peziarah Imam Husain as
Berdasarkan laporan sejarah, Nainawa adalah tempat pemberhentian para peziarah Imam Husain. Para peziarah setelah Mandi Ziarah di kegelapan malam, baik secara individu maupun kelompok dari Ghadhiriyah atau Nainawa, pergi menuju makam Imam Husain as, dan sebelum matahari terbit, karena takut kepada petugas yang ditugaskan Bani Umayyah, mereka kembali ke Nainawa atau Ghadhiriyah.[14] Berhenti di Nainawa dianggap oleh petugas Bani Umayyah bahwa tujuan orang-orang yang datang ke wilayah ini bukanlah ziarah Karbala melainkan tujuannya adalah wilayah Nainawa.[15] Cara ini juga disebutkan dalam rekomendasi para Imam Maksum khususnya Imam Shadiq as kepada Syiah untuk menziarahi makam Imam Husain.[16]
Catatan Kaki
- ↑ Syirwani, Bustan al-Siyahah, jld. 1, hlm. 596; Khalili, Mawsu'ah al-'Atabat al-Muqaddasah, 1407 H, jld. 12, hlm. 110.
- ↑ Qazwini, Al-Mazar, 1426 H, jld. 1, hlm. 101.
- ↑ Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldan, 1995 M, jld. 5, hlm. 339; Ibnu Abdul Haq Baghdadi, Marashid al-Ithla', 1412 H, jld. 3, hlm. 1414.
- ↑ Qazwini, Al-Mazar, 1426 H, jld. 1, hlm. 101.
- ↑ Khalili, Mawsu'ah al-'Atabat al-Muqaddasah, 1407 H, jld. 12, hlm. 110.
- ↑ Khalili, Mawsu'ah al-'Atabat al-Muqaddasah, 1407 H, jld. 8, hlm. 15.
- ↑ Himyari, Al-Raudh al-Mi'thar, 1984 M, hlm. 585; Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 1, hlm. 237.
- ↑ Khalili, Mawsu'ah al-'Atabat al-Muqaddasah, 1407 H, jld. 8, hlm. 51.
- ↑ Kalidar, Tarikh-e Karbala va Ha'ir-e Hosseini, 1389 S, hlm. 55 dan 56.
- ↑ Kalidar, Tarikh-e Karbala va Ha'ir-e Husaini, 1389 S, hlm. 55 dan 56.
- ↑ Bursawi, Audhah al-Masalik ila Ma'rifah al-Buldan, 1427 H, jld. 1, hlm. 634; Syirwani, Bustan al-Siyahah, jld. 1, hlm. 596; Numairi, Tarikh Madinah Munawwarah, 1380 S, jld. 1, hlm. 150.
- ↑ Khalili, Mawsu'ah al-'Atabat al-Muqaddasah, 1407 H, jld. 8, hlm. 197.
- ↑ Syahriyar, Divan-e Syahriyar, 1385 S, jld. 1, hlm. 70.
- ↑ Kalidar, Tarikh-e Karbala va Ha'ir-e Hosseini, 1389 S, hlm. 104 dan 105.
- ↑ Kalidar, Tarikh-e Karbala va Ha'ir-e Hosseini, 1389 S, hlm. 141 dan 142.
- ↑ Kalidar, Tarikh-e Karbala va Ha'ir-e Hosseini, 1389 S, hlm. 105.
Daftar Pustaka
- Bursawi, Muhammad bin Ali. Audhah al-Masalik ila Ma'rifah al-Buldan wa al-Mamalik, korektor: Mahdi Abdurrawadhiyah. Beirut, Dar al-Gharb al-Islami, 1427 H.
- Himyari, Muhammad bin Abdul Mun'im. Al-Raudh al-Mi'thar fi Khabar al-Aqthar. Beirut, Maktabah Lubnan, Cetakan Kedua, 1984 M.
- Ibnu Abdul Haq Baghdadi, Shafiuddin Abdul Mukmin. Marashid al-Ithla' 'ala Asma' al-Amkinah wa al-Biqa'. Tahqiq dan Koreksi: Ali Muhammad Bajawi. Beirut, Dar al-Jil, Cetakan Pertama, 1412 H.
- Kalidar, Abdul Jawad. Tarikh-e Karbala va Ha'ir-e Hosseini. Penerjemah: Moslem Sahebi. Teheran, Nasyr-e Masya'ar, 1389 S.
- Khalili, Ja'far. Mawsu'ah al-'Atabat al-Muqaddasah. Beirut, Mu'assasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan Kedua, 1407 H.
- Mas'udi, Ali bin Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Qom, Dar al-Hijrah, cetakan kedua, 1409 H.
- Naraqi, Ahmad. Matsnavi-ye Taqdis. Qom, Nasyr-e Nahawandi, 1381 S.
- Numairi, Umar bin Syabbah. Tarikh Madinah Munawwarah. Penerjemah: Hossein Saberi. Teheran, Nasyr-e Masya'ar, Cetakan Pertama, 1380 S.
- Qazwini, Mahdi. Al-Mazar. Tahqiq: Judat Qazwini. Beirut, Dar al-Rafidain, Cetakan Pertama, 1426 H.
- Syahriyar, Muhammad Husain. Divan-e Asy'ar. Teheran, Entesharat-e Negah, 1385 S.
- Syirwani, Zainul Abidin bin Iskandar. Bustan al-Siyahah. Teheran, Sanayi, t.t.
- Yaqut al-Hamawi, Yaqut bin Abdullah. Mu'jam al-Buldan. Beirut, Dar Shadir, Cetakan Kedua, 1995 M.