Lompat ke isi

Konsep:Hadis Mudallas

Dari wikishia

Hadis Mudallas adalah hadis yang perawinya saat menyampaikan sanadnya, menyembunyikan cacat dan kekurangannya. Hal ini dapat terjadi dalam dua bentuk: pertama adalah perawi menyebutkan orang pertama dalam sanad riwayatnya sedemikian rupa sehingga orang lain menyangka bahwa perawi mendengar langsung hadis tersebut dari orang itu; padahal ia tidak mendengarnya. Bentuk ini disebut sebagai Tadlis Isnad.

Bentuk kedua adalah Tadlis Mashayikh, di mana pelaku tadlis menyebutkan nama guru yang benar-benar ia dengar darinya secara langsung; namun ia mengubah nama guru tersebut sedemikian rupa sehingga tidak mudah dikenali.

Para ulama Islam sangat mencela tadlis. Para pakar hadis berbeda pendapat mengenai apakah hadis dari pelaku tadlis dapat diterima atau tidak. Di kalangan Syiah, sejumlah ulama berpandangan bahwa di antara hadis-hadis perawi pelaku tadlis, hadis-hadis yang terbukti bahwa ia tidak melakukan tadlis di dalamnya dapat dianggap valid. Sejumlah besar ulama Ahlussunnah dalam sumber-sumber mereka dituduh melakukan tadlis. Keberadaan hadis-hadis mudallas dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) telah menjadi salah satu tantangan yang selalu memaksa Ahlussunnah untuk memberikan pembenaran terhadap hal tersebut.

Tadlis dalam Hadis dan Jenis-jenisnya

Tadlis didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh seorang muhaddis atau perawi untuk menutupi cacat dan kelemahan sanad riwayat[1] atau untuk menampilkannya sebagai hadis yang valid dengan cara tertentu.[2] Banyak pakar hadis membagi tadlis menjadi dua jenis:

  1. Tadlis Sanad atau Isnad: Perawi saat menyebutkan sanad riwayatnya, menyebutkan nama seseorang yang tidak ia dengar hadisnya, sedemikian rupa seolah-olah ia mendengar hadis tersebut langsung darinya. Misalnya, seorang perawi bernama Karim, di awal penukilan riwayatnya berkata "Said berkata" (Qala Said), padahal ia tidak mendengar langsung ucapan riwayat tersebut dari Said; namun penyebutan Said dengan cara seperti ini membuat orang lain menyangka bahwa Karim mendengar riwayat tersebut langsung dari Said.[3] Dalam tadlis isnad, pelaku tadlis menggunakan ungkapan seperti "Qala" dan "An" serta menghindari kata-kata seperti "Haddatsana" dan "Akhbarana";[4] karena ungkapan seperti "Haddatsana" menunjukkan secara eksplisit bahwa ia mendengar langsung, dan dalam kondisi tersebut, hal itu bukan lagi "tadlis", melainkan "hadis kadzib" (kebohongan).[5]
  2. Tadlis Syuyukh atau Mashayikh: Pelaku tadlis menyebutkan nama gurunya yang benar-benar ia dengar langsung, namun ia menyebutkan nama guru tersebut dengan cara yang tidak lazim agar tidak mudah dikenali.[6] Misalnya, asumsikan seorang guru biasanya dikenal dengan nama "Muhammad bin Said" dan tidak ada yang tahu bahwa guru tersebut adalah seorang penjual kain (bazzaz). Jika murid dari guru ini menyebutnya dengan ungkapan "Muhammad al-Bazzaz" yang mengakibatkan identitasnya tidak mudah dikenali, maka ini adalah tadlis syuyukh.

Khatib al-Baghdadi menyebutkan motivasi-motivasi tadlis syuyukh sebagai berikut:

  • Syekh tidak tsiqah
  • Wafatnya yang belakanganTemplat:Yad
  • Syekh lebih kecil dan lebih muda dari muridnya
  • Banyaknya hadis-hadis yang didengar murid dari syekh ini dan keengganan murid agar banyaknya riwayatnya dari guru ini diketahui publik[7]

Hukum Tadlis dan Pengaruhnya dalam Kredibilitas Hadis

Secara umum, tadlis dalam pandangan ulama Muslim dianggap sebagai tindakan yang salah dan tercela, bahkan sebagian dari mereka menganggap tadlis sebagai saudara dari kebohongan.[8] Namun di antara dua jenis tadlis, jenis pertama yaitu tadlis isnad dianggap sangat buruk,[9] hingga terjadi perbedaan pendapat mengenai penerimaan riwayat orang yang melakukan tadlis tersebut; bahkan ada yang tidak menerima riwayat apa pun dari pelaku tadlis, sekalipun dalam kasus-kasus di mana ia tidak melakukan tadlis.[10] Sedangkan mengenai tadlis mashayikh, dinyatakan bahwa keburukannya lebih ringan dibandingkan tadlis isnad dan biasanya kurang dicela[11] serta beberapa ulama juga menyatakan bahwa tadlis mashayikh tidak merusak kredibilitas hadis[12]; tentu saja kecuali dalam hal di mana ia mengubah identitas perawi lemah menjadi perawi tsiqah atau dengan cara lain menampilkan sanad yang sangat lemah dalam bentuk sanad yang shahih.[13]

Khatib al-Baghdadi, salah seorang ulama Ahlussunnah, berpendapat mengenai perawi yang terbiasa melakukan tadlis dalam riwayat bahwa riwayatnya hanya diterima dalam kondisi ia menegaskan pendengarannya dari gurunya (menggunakan ungkapan seperti "haddatsana") dan tidak menggunakan ungkapan seperti "qala" yang di dalamnya terdapat kemungkinan ia telah melakukan tadlis.[14]

Sejumlah ulama Imamiyah membenarkan pendapat Khatib al-Baghdadi dalam bidang ini.[15] Menurut Sayid Hasyim Ma'ruf Hasani, kaum Syiah memiliki kesepakatan pendapat bahwa tadlis menyebabkan kelemahan dan ketidakabsahan hadis; meskipun perawi hadis tersebut termasuk dari sahabat dan thabaqat pertama tabi'un.[16]

Tadlis dalam Shahihain

Keberadaan hadis-hadis mudallas (yang memiliki tadlis dalam sanadnya) dalam Shahihain dan pemberian pembenaran oleh para ulama mutaakhirin Ahlussunnah terhadapnya, selalu menjadi salah satu tantangan penting mengenai fenomena tadlis.[17]

Beberapa peneliti dengan mempelajari sanad-sanad Shahihain sampai pada kesimpulan bahwa keberadaan tadlis dalam sanad-sanad riwayat kedua kitab ini menunjukkan bahwa klaim ijma' atas keshahihan riwayat-riwayat Shahihain bukanlah klaim yang benar dan pada dasarnya tidak dikemukakan di kalangan mutaqaddimin Ahlussunnah serta baru muncul sejak abad ketujuh dan setelahnya.[18]

Juga sejumlah muhaddis dan ulama Ahlussunnah dituduh melakukan tadlis dalam sumber-sumber mereka, seperti Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abu Ishaq as-Sabi'i, al-A'masy, Qatadah, Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah.[19] Bahkan Ibnu Abdil Barr al-Andalusi, salah seorang ulama Ahlussunnah, berpendapat bahwa kecuali dua orang, tidak ada seorang pun dari para ulama yang dapat ditemukan yang tidak terjebak dalam semacam tadlis.[20]

Tulisan dan Penelitian tentang Tadlis

Menurut laporan Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H), orang-orang pertama yang mengumpulkan nama-nama pelaku tadlis dalam sebuah kitab adalah Husain bin Ali Karabisi (wafat 245 H), Nasai (wafat 303 H), dan Daruquthni (wafat 385 H).[21] Beberapa peneliti juga menyebutkan kitab-kitab lain tentang tadlis; seperti Ta'rif Ahl at-Taqdis bi Maratib al-Maushufin bi at-Tadlis karya Ibnu Hajar al-Asqalani dan at-Tabyin li Asma al-Mudallisin karya Burhanuddin Halabi (wafat 841 H).[22] Di antara penelitian abad kelima belas juga dapat merujuk pada disertasi doktor berjudul Penyebab Tadlis dalam Hadis karya Parviz Rastegar Jazi. Berbagai artikel juga telah ditulis mengenai fenomena tadlis dan analisisnya dari berbagai sisi, seperti:

  • "Perkembangan Historis Istilah Tadlis dalam Hadis" karya Majid Ma'aref dan Sayid Mahdi Luthfi.
  • "Analisis Riwayat Para Mudallis dalam Shahihain" karya Sayid Hasan Mutahajjid Askari dan Sayid Syafi' Hasyimi.
  • "Analisis Motivasi Politik Tadlis dalam Hadis" karya Akram Haidari dan Parviz Rastegar.
  • Entri "Tadlis" oleh Mortaza Kariminia dalam Ensiklopedi Dunia Islam.

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Lihat: Kariminia, "Tadlis", jld. 6, hlm. 745; Shafi, az-Zubad fi Mushthalah al-Hadits, 1442 H, hlm. 30.
  2. Lihat: Utsaimin, Fatawa Nur 'ala ad-Darb, 1431 H, jld. 6, hlm. 2.
  3. Untuk contoh, lihat: Ibnu ash-Shalah, Muqaddimah Ibni ash-Shalah, 1406 H, hlm. 73; Nawawi, at-Taqrib wa at-Taisir, 1405 H, hlm. 39.
  4. Ibnu Sa'ad, at-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 7, hlm. 227; Ibnu ash-Shalah, Muqaddimah Ibni ash-Shalah, 1406 HS, hlm. 73; Dzahabi, al-Muqizhah fi Ilm Mushthalah al-Hadits, 1412 H, hlm. 47; Ibnu Hajar al-Asqalani, Ta'rif Ahl at-Taqdis, 1403 H, hlm. 13.
  5. Untuk contoh, lihat: Ibnu Daqiq al-'Id, al-Iqtirah, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 20.
  6. Untuk contoh, lihat: Ibnu ash-Shalah, Muqaddimah Ibni ash-Shalah, 1406 H, hlm. 74; Nawawi, at-Taqrib wa at-Taisir, 1405 H, hlm. 39.
  7. Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah fi Ilm ar-Riwayah, al-Maktabah al-Ilmiyyah, hlm. 365. Untuk mengetahui motivasi tadlis dalam pandangan ulama lain, lihat: Ibnu Abdil Barr, at-Tamhid, 1439 H, jld. 1, hlm. 206.
  8. Ibnu Adi al-Jurjani, al-Kamil fi Dhu'afa ar-Rijal, 1418 H, jld. 1, hlm. 107.
  9. Untuk contoh, lihat: Abu Hafsh al-Qazwini, Masyikhah al-Qazwini, 1426 H, hlm. 102.
  10. Lihat: Ibnu ash-Shalah, Muqaddimah Ibni ash-Shalah, 1406 H, hlm. 76; Nawawi, at-Taqrib wa at-Taisir, 1405 H, hlm. 39; Ibnu Katsir, al-Ba'its al-Hatsits, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 54.
  11. Untuk contoh, lihat: Dzahabi, al-Muqizhah fi Ilm Mushthalah al-Hadits, 1412 H, hlm. 48, 49
  12. Abu Hafsh al-Qazwini, Masyikhah al-Qazwini, 1426 H, hlm. 102.
  13. Untuk contoh, lihat: Afi Khorasani dan Shahidi, "Metode Penyingkapan Tadlis dan Motivasinya dalam Hubungan Riwayat Islam; Contoh: Periwayatan Daruquthni dari Ju'abi", hlm. 106.
  14. Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah, al-Maktabah al-Ilmiyyah, hlm. 362.
  15. Lihat: Syahid Tsani, ar-Ri'ayah, 1408 H, hlm. 145; Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, hlm. 381; Mar'i, Muntaha al-Maqal, 1417 H, hlm. 75.
  16. Hasani, al-Maudhu'at fi al-Atsar wa al-Akhbar, 1407 H, hlm. 61 dan 65.
  17. Lihat: Kariminia, "Tadlis", jld. 6, hlm. 746. Untuk mengetahui beberapa pembenaran dalam bidang ini, lihat: Ibnu Hajar al-Asqalani, an-Nukat 'ala Kitab Ibni ash-Shalah, 1404 H, jld. 2, hlm. 634-635; Subhi Shalih, Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, 1984 M, hlm. 178.
  18. Mutahajjid Askari dan Hasyimi, "Analisis Riwayat Para Mudallis dalam Shahihain", hlm. 55.
  19. Ka'bi Balkhi, Qabul al-Akhbar wa Ma'rifah ar-Rijal, 1421 H, jld. 2, hlm. 402. Lihat juga: Nasai, Dzikr al-Mudallisin, 1423 H, hlm. 121-124; Mu'afa bin Zakaria, al-Jalis as-Shalih al-Kafi, 1426 H, hlm. 393.
  20. Ibnu Abdil Barr, at-Tamhid, 1439 H, jld. 1, hlm. 206.
  21. Ibnu Hajar al-Asqalani, Ta'rif Ahl at-Taqdis, hlm. 14.
  22. Lihat: Kariminia, "Tadlis", jld. 6, hlm. 745.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka

  • Abu Hafsh al-Qazwini, Umar bin Ali, Masyikhah al-Qazwini, riset oleh Amir Hasan Sabri, Beirut, Penerbit Dar al-Basya'ir al-Islamiyyah, 1426 H.
  • Afi Khorasani, Muhammad dan Ruhullah Shahidi, "Metode Penyingkapan Tadlis dan Motivasinya dalam Hubungan Riwayat Islam; Contoh: Periwayatan Daruquthni dari Ju'abi", dalam Majalah Muthala'at-e Tarikhi-ye Qur'an wa Hadits, no. 69, Musim Semi dan Musim Panas 1400 HS.
  • Amili, Husain bin Abdus Shamad, Wushul al-Akhyar ila Ushul al-Akhbar, Qom, Majma' Dzakhair al-Islami, 1360 HS.
  • Baha'i, Muhammad bin Husain, al-Wajizah fi Ilm ad-Dirayah, Qom, Bashirat, 1390 HS.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad, al-Muqizhah fi Ilm Mushthalah al-Hadits, riset oleh Abdulfattah Abu Ghuddah, Aleppo, Penerbit Maktabah al-Mathbu'at al-Islamiyyah, 1412 H.
  • Haidari, Akram dan Parviz Rastegar, "Analisis Motivasi Politik Tadlis dalam Hadis", dalam Majalah Hadits-Pazhuhi, no. 26, Musim Gugur dan Musim Dingin 1400 HS.
  • Hasani, Hasyim Ma'ruf, al-Maudhu'at fi al-Atsar wa al-Akhbar, Beirut, Penerbit Dar al-Ta'aruf li al-Mathbu'at, 1407 H.
  • Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah, at-Tamhid, riset oleh Basyar Awad Ma'ruf dkk, London, Muassasah al-Furqan li al-Turats al-Islami, 1439 H.
  • Ibnu Adi, Abdullah bin Adi, al-Kamil fi Dhu'afa ar-Rijal, riset oleh Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu'awwadh, Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H.
  • Ibnu ash-Shalah, Utsman bin Abdurrahman, Muqaddimah Ibni ash-Shalah, riset oleh Nuruddin 'Itr, Damaskus dan Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, 1406 H.
  • Ibnu Daqiq al-'Id, Muhammad bin Ali, al-Iqtirah fi Bayan al-Ishthilah, Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tanpa tahun.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali, an-Nukat 'ala Kitab Ibni ash-Shalah, riset oleh Rabi' bin Hadi 'Umair al-Madkhali, Madinah Munawwarah, 'Imadah al-Bahtsi al-'Ilmi bi al-Jamiah al-Islamiyyah, 1404 H.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali, Ta'rif Ahl at-Taqdis bi Maratib al-Maushufin bi at-Tadlis/ Thabaqat al-Mudallisin, riset oleh Ashim al-Qaryuti, Amman, Penerbit Maktabah al-Manar, 1403 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, al-Ba'its al-Hatsits ila Ikhtishar Ulum al-Hadits, riset oleh Ahmad Muhammad Syakir, Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tanpa tahun.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad, at-Thabaqat al-Kubra, riset oleh Muhammad Abdul Qadir Atha, Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
  • Ka'bi Balkhi, Abdullah bin Ahmad, Qabul al-Akhbar wa Ma'rifah ar-Rijal, riset oleh Abu Amr al-Husaini bin Umar bin Abdurrahim, Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1421 H.
  • Kariminia, Mortaza, "Tadlis", Ensiklopedi Dunia Islam (jld. 6), di bawah pengawasan Gholamali Haddad-Adel, Teheran, Bonyad-e Da'erat al-Ma'aref-e Eslami, 1380 HS.
  • Ma'aref, Majid dan Sayid Mahdi Luthfi, "Perkembangan Historis Istilah Tadlis dalam Hadis", dalam Majalah Pazhuhesh-e Dini, no. 12, Musim Dingin 1384 HS.
  • Mamaqani, Abdullah dan Mohammad Reza Mamaqani, Miqbas al-Hidayah fi Ilm ad-Dirayah, Qom, Lembaga Al al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1411 H.
  • Mar'i, Husain Abdullah, Muntaha al-Maqal, Beirut, Lembaga al-'Urwah al-Wutsqa, 1417 H.
  • Mu'afa bin Zakaria, al-Jalis as-Shalih al-Kafi wa al-Anis an-Nashih as-Syafi, riset oleh Abdul Karim Sami al-Jundi, Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1426 H.
  • Mu'addab, Reza, Ilm ad-Dirayah Tathbiqi, Qom, Penerbit Nashr al-Mustafa, 1391 HS.
  • Mutahajjid Askari, Sayid Hasan dan Sayid Syafi' Hasyimi, "Analisis Riwayat Para Mudallis dalam Shahihain", dalam Majalah Shirat, no. 23, Musim Gugur 1399 HS.
  • Nasai, Ahmad bin Syu'aib, Dzikr al-Mudallisin, riset oleh as-Syarif Hatim bin Arif al-Auni, Makkah Mukarramah, Penerbit Dar 'Alam al-Fawa'id, 1423 H.
  • Nawawi, Yahya bin Syaraf, at-Taqrib wa at-Taisir, riset oleh Muhammad Utsman al-Khasyt, Beirut, Penerbit Dar al-Kitab al-Arabi, 1405 H.
  • Rastegar Jazi, Parviz, Penyebab Tadlis dalam Hadis, Disertasi Doktor Ilmu Al-Qur'an dan Hadis, Universitas Tarbiat Modares, 1381 HS.
  • Shafi, Fadhlurrahman Abdul 'Alim, az-Zubad fi Mushthalah al-Hadits, Amman Yordania, Penerbit Dar Ammar li al-Nasyr wa al-Tauzi', 1442 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali, ar-Ri'ayah fi Ilm ad-Dirayah, riset oleh Abdul Husain Muhammad Ali Baqqal, Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'ashi Najafi, 1408 H.
  • Utsaimin, Muhammad bin Shalih, Fatawa Nur 'ala ad-Darb, dalam perangkat lunak al-Maktabah al-Syamilah, 1431 H.