Lompat ke isi

Konsep:Hadis Ghamamah

Dari wikishia
Hadis Ghamamah


Templat:Infobox Hadits Hadis Ghamamah (Bahasa Arab: حديث الغمامة) adalah hadis mengenai karamah Imam Ali as dan penjelasan mengenai perjalanan syuhudi (penyaksian spiritual) beliau bersama beberapa sahabat khususnya ke Gunung Qaf dengan mengendarai potongan awan. Sebagian menganggap Hadis ini sebagai hadis yang sulit (musykil) dan asing (gharib), sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai salah satu hadis irfan (mistik) Syiah yang paling luar biasa.

Beberapa peneliti Syiah menganggap Hadis Ghamamah sebagai hadis dhaif (lemah) karena berstatus mursal, marfu', tidak dinukil dalam sumber-sumber riwayat yang muktabar (valid), dinukil dalam kitab-kitab majhul (tidak dikenal), dan keasingan kontennya. Terlepas dari pandangan para peneliti hadis ini, riwayat ini dianggap valid oleh beberapa pensyarah yang memiliki kecenderungan hikmah (filsafat) dan irfan, seperti Qadhi Sa'id Qumi.

Hadis Ghamamah mendapat perhatian dan perenungan dari para hakim (filsuf) dan arif (mistikus) Imamiyah dalam ruang lingkup Tasawuf dan Irfan Syiah; sedemikian rupa sehingga disebutkan adanya berbagai syarah (penjelasan) irfan atas hadis ini. Berdasarkan tafsir batin Syiah terhadap Hadis Ghamamah, dikatakan bahwa hadis ini mengisahkan tentang tasyarruf (kehormatan) menuju Imam-Kognisi (makrifat akan kedudukan Imam dan Imamah), sebagai rahasia irfan Syiah, di mana Imam tampak dalam kedudukan manifestasi Insan Kamil.

Kedudukan dan Karakteristik

Hadis Ghamamah dianggap sebagai salah satu karamah Imam Ali as[1] dan penjelasan perjalanan syuhudi Imam as beserta beberapa sahabat khususnya ke Gunung Qaf

  1. Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 4, hlm. 309.

.[1] Hadis ini juga disebut dengan nama-nama lain seperti Ghamam,[2] Bisath (permadani),[3] Sahabah (awan),[4] dan Qaf.[5] Hadis Ghamamah adalah hadis yang rinci[6] yang disebut sulit (musykil)[7] dan asing (gharib)[8] karena adanya kejadian-kejadian ajaib di dalamnya.[9] Menurut sebagian peneliti, keasingan hadis ini menyebabkan beberapa pensyarahnya menyarankan pembaca untuk menghindari pengingkaran terhadap riwayat semacam ini dengan mengakui kedudukan tinggi dan karamah yang luar biasa dari Para Imam as.[10] Riwayat ini dianggap memiliki tema yang sama dengan beberapa riwayat gharib lainnya seperti Khutbah al-Bayan[11] dan Riwayat Pulau Khadhra'.[12] Sebagian menganggap riwayat ini sebagai dalil atas ilmu Para Imam as terhadap Asma dan Sifat Ilahi[13] dan pembuktian Tayy al-Ard serta Tayy al-Zaman bagi mereka berkat Ism A'zham (Nama Agung).[14]

Hadis Ghamamah, meskipun dari sudut pandang riwayat dianggap dhaif oleh sebagian peneliti Syiah,[15] sangat diperhatikan dan direnungkan oleh para hakim dan arif Imamiyah dalam Tasawuf dan Irfan Syiah;[16] sedemikian rupa sehingga disebutkan adanya banyak syarah irfan atasnya.[17] Henry Corbin, peneliti Syiah asal Prancis, meyakini hadis ini sebagai salah satu hadis irfan Syiah yang paling luar biasa[18] dan sebuah tamsil (alegori) irfan yang valid.[19] Ia menganggap tanda pentingnya hadis ini adalah bahwa hakim yang mendalam seperti Qadhi Sa'id Qumi[20] menganggapnya mengandung rahasia-rahasia luhur dan cahaya-cahaya lembut serta mensyarahinya.[21]

Dalam konteks tafsir batin Syiah terhadap Hadis Ghamamah, dikatakan bahwa hadis ini adalah kisah tasyarruf (kehormatan) spiritual[22] menuju Imam-Kognisi (makrifat akan kedudukan Imam dan Imamah) sebagai rahasia irfan Syiah di mana Imam tampak dalam kedudukan manifestasi Insan Kamil.[23] Corbin menganggap riwayat ini sebagai sejenis fenomenologi

  1. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 380.
  2. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 190.
  3. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 204; Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
  4. Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
  5. Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 4, hlm. 19.
  6. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 190; Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
  7. Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
  8. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 40; Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
  9. Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, jld. 1, hlm. 350.
  10. Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 54.
  11. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 401.
  12. Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, jld. 1, hlm. 350.
  13. Hamadani, Bahr al-Ma'arif, 1429 H, jld. 2, hlm. 531.
  14. Mulla Agha Darbandi, Khazain al-Ahkam, Qom, jld. 1, hlm. 19; Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
  15. Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, Catatan kaki peneliti, jld. 1, hlm. 350.
  16. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 154.
  17. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 204.
  18. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 376-377.
  19. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 376-377.
  20. Qadhi Sa'id Qumi, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah, 1381 HS, hlm. 60.
  21. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 376-377.
  22. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 445; Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 379.
  23. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 431.

pengalaman syuhudi untuk memahami Alam Malakut[1] dan menunjukkan kemungkinan akses sementara orang-orang khusus (khawas) Imam Maksum ke Alam Malakut.[2] Menurut Corbin, bentuk-bentuk dan kejadian-kejadian yang berlangsung dalam riwayat ini adalah aspek malakut atau mitsali (imaginal) dari realitas alam indrawi.[3] Dalam bidang studi irfan komparatif, Corbin juga menggunakan riwayat Ghamamah untuk menyajikan tafsir komparatif antara makrifat batin Syiah dan makrifat filsafat serta mistik Yunani Kuno,[4] Iran Kuno,[5] Yudaisme[6] dan Kekristenan.[7]

Hubungan dengan Hadis Bisath dan Sumber

Sebagian pensyarah dan peneliti menganggap Hadis Ghamamah sama dengan Hadis Bisath;[8] namun dikatakan bahwa kedua hadis ini berbeda satu sama lain.[9] Hadis Bisath adalah hadis yang meskipun dalam beberapa hal, seperti perjalanan waktu dan tempat, memiliki kesamaan dengan Hadis Ghamamah, namun perawi, konten, dan alur kejadiannya berbeda dengan Hadis Ghamamah.[10] Menurut laporan Henry Corbin, dalam Hadis Bisath dibahas mengenai bagaimana Imam Ali as dan para sahabatnya pergi menemui Ashabul Kahfi, sedangkan dalam Hadis Ghamamah diriwayatkan penjelasan perjalanan syuhudi ke Gunung Qaf.[11]

Menurut laporan sebagian peneliti, Hadis Ghamamah terdapat dalam dua sumber dari sumber-sumber setelah abad ke-7 Hijriah:[12] Pertama, Al-Majmu' al-Raiq min Azhar al-Hadaiq (ditulis tahun 703 H) karya Hibatullah bin Hasan al-Musawi yang menukil riwayat ini secara marfu' dari Salman al-Farisi;[13] Kedua, Al-Muhtadzar karya Hasan bin Sulaiman al-Hilli (wafat setelah 802 H) yang menukilnya dari sebuah kitab tak dikenal[14] berjudul Manhaj al-Tahqiq ila Sawa' al-Thariq.[15] Allamah Majlisi dalam sebuah bab berjudul "Annahum alaihimussalam sakhkhara lahum al-sahab wa yassara lahum al-asbab" (Bahwa awan ditundukkan bagi mereka as dan sebab-sebab dimudahkan bagi mereka)[16] memuat teks khabar Ghamamah dari kitab Al-Muhtadzar tanpa penjelasan atau tafsir apapun mengenai sumber-sumbernya.[17]

Validitas

Sebagian peneliti hadis menganggap Hadis Ghamamah dhaif (lemah) karena berstatus mursal dalam Al-Muhtadzar,[18] marfu' dalam Al-Majmu' al-Raiq,[19] tidak dinukil dalam sumber-sumber riwayat yang muktabar,[20] dinukil dalam kitab-kitab majhul (tidak dikenal)[21] dan keasingan kontennya.[22]

Meskipun khabar Ghamamah dilemahkan oleh sejumlah peneliti hadis, riwayat ini dianggap valid oleh sebagian pensyarahnya yang memiliki kecenderungan hikmah dan irfan; sebagai contoh, Qadhi Sa'id Qumi menganggap hadis ini sebagai mustafidh yang tidak memerlukan penelitian dalam silsilah sanad dan rijal-nya, sebagaimana hal tersebut tidak diperlukan untuk Shahifah Sajjadiyah.[23] Menurut Qadhi Sa'id, khabar Ghamamah telah dinukil oleh mayoritas ulama Syiah dengan sanad-sanad yang valid dalam banyak kitab mereka; sebagaimana Syaikh Shaduq menukilnya dalam kitabnya yang masyhur Al-Majmu' al-Raiq.[24] Pendapat Qadhi Sa'id ini diulangi secara persis oleh beberapa ulama Syiah dan menjadi dasar bagi validitas Hadis Ghamamah.[25] Corbin juga mendukung pendapat Qadhi Sa'id Qumi: menurutnya, pembicaraan mengenai kritik historis (kritik hadis) atas riwayat mukasyafah ini dan hadis-hadis serupa tidaklah relevan; karena kejadian ini tidak terjadi dalam konteks waktu kalender biasa.[26] Menurutnya, jika kita membahas riwayat ini dengan gaya para ahli hadis, tidak ada yang tersisa kecuali kulit luar dari hakikat malakutnya yang mendalam.[27]

Pendapat Qadhi Sa'id Qumi mengenai validitas riwayat Ghamamah telah dikritik; sebagai contoh Sayid Muhammad Ali Raudhati, penulis biografi dan bibliografer Syiah, menganggap klaimnya mengenai kemustafidhan riwayat dan penukilannya di sebagian besar kitab Syiah dengan sanad-sanad yang valid sebagai "mengandung beberapa bentuk melebih-lebihkan (agragh)".[28] Penisbatan kitab Al-Majmu' al-Raiq kepada Syaikh Shaduq juga dianggap tidak benar oleh Raudhati;[29] penisbatan kitab ini kepada Syaikh Shaduq telah ditolak oleh ulama seperti Al-Hurr al-Amili,[30] Shahib Riyadhi al-Ulama[31] dan Muhaddits Nuri.[32]

Sebagian ulama Syiah, meskipun mengakui kelemahan sanad dan keasingan konten Hadis Ghamamah, tidak menolaknya; sebagai contoh, Allamah Majlisi meskipun tidak melihat riwayat ini dalam sumber-sumber muktabar, tidak menolaknya dan menyerahkan ilmunya kepada Para Imam as sendiri.[33]

Laporan Irfan atas Konten

Henry Corbin, dengan bersandar pada syarah-syarah irfan riwayat Ghamamah, khususnya syarah Qadhi Sa'id Qumi, memberikan laporan irfan mengenai riwayat ini.[34] Menurut laporannya, hadis ini adalah penjelasan perjalanan yang penuh misteri[35] dan syuhudi menuju Gunung Qaf.[36] Awal kejadian menurut laporannya adalah ketika enam orang sahabat Imam Ali as berada di rumah Imam as dan sibuk berbincang-bincang rohani dengan beliau.[37] Atas permintaan Imam Hasan as, Imam Ali as membawa sahabat-sahabat khususnya dalam perjalanan menaiki potongan-potongan awan; sebuah perjalanan yang dimulai dari malakut tumbuhan dan setelah melewati malakut hewan sampai ke malakut manusia.[38]

Bagian terpenting dari riwayat Ghamamah menurut Corbin adalah ketika Imam Hasan as bertanya kepada ayahnya bahwa Sulaiman as memperoleh kerajaan yang tidak pantas bagi seorang pun setelahnya dan Allah memberikan kerajaan ini kepadanya; apakah engkau memiliki sesuatu dari kerajaan Sulaiman as. [39] Sebagai jawaban, Imam Ali as dengan kekuatan Ilahinya mengatur perjalanan malakut tanpa gerakan dalam waktu dan tempat bagi para sahabatnya, yang akhirnya adalah sampai ke puncak Gunung Qaf anfus (jiwa) dan afaq (kosmis) di mana hukum-hukum waktu kalender dibatalkan dan para salik (penempuh jalan spiritual) menjadi akrab dengan hakikat alam gaib yang jauh dari persepsi manusia biasa.[40]

Menurut laporan Corbin dalam Hadis Ghamamah, total perjalanan para sahabat Imam Ali as bersamanya di malakut waktu dan tempat[41] adalah lima tahap, dan ketika para pendamping Imam as kembali dari perjalanan roh ini, mereka telah menjadi ahli malakut;[42] oleh karena itu Qadhi Sa'id di akhir syarahnya berkata: Saya telah menjelaskan semua materi ini sejauh mungkin agar engkau juga dapat duduk di samping para sahabat Imam as di atas awan malakut dan naik hingga Alam Malakut.[43]

Syarah Qadhi Sa'id Qumi atas Hadis Ghamamah

Syarah dan Terjemahan

Dalam beberapa sumber bibliografi, disebutkan adanya banyak syarah[44] dan terjemahan bahasa Persia baik dalam bentuk nazham (puisi)[45] maupun prosa[46] untuk Hadis Ghamamah. Sebagian peneliti menganggap pentingnya syarah-syarah yang ditulis sebagai monograf atas beberapa riwayat masyhur, seperti Hadis Ghamamah dan Hadis Haqiqat, terletak pada kenyataan bahwa teori-teori ulama Syiah mengenai hadis-hadis tersebut terdapat dalam syarah-syarah ini; pendapat-pendapat dalam berbagai bidang ilmu seperti kalam, filsafat, dan irfan.[47] Di antara syarah Hadis Ghamamah yang masyhur disebutkan syarah Qadhi Sa'id Qumi[48] dan syarah Fakhruddin Mawara al-Nahri Turkestani.[49]

Syarah Qadhi Sa'id Qumi

Syarah sastra, irfan, dan dzauqi (rasa)[50] Qadhi Sa'id Qumi atas Hadis Ghamamah disebut sebagai syarah yang sangat penting[51] dan luas.[52] Qadhi Sa'id mencatat waktu penulisan syarahnya pada tahun 1099 Hijriah di Isfahan.[53] Menurut laporan Corbin, syarah Qadhi Sa'id adalah sejenis syarah berdasarkan konsep Wilayah dalam Irfan Nazhari dan Hikmah Muta'aliyah.[54] Menurutnya, Qadhi Sa'id selain menggunakan hadis-hadis Ahlulbait as dan kitab-kitab sastra, berulang kali menyebut pandangan Ibnu Arabi dengan hormat dan menggunakan syair-syair Maulavi (Rumi) di pinggiran syarahnya.[55] Menurut Raudhati, syarah Qadhi Sa'id adalah syarah hadis gharib dengan selera yang jauh dari kebiasaan.[56]

Henry Corbin mendedikasikan sebagian besar jilid keempat kitab Islam-e Irani (En Islam iranien) untuk menjelaskan Hadis Ghamamah dari sudut pandang Qadhi Sa'id Qumi.[57] Menurut Corbin, kunci utama syarah Qadhi Sa'id adalah semacam penggalian dalam filsafat waktu malakut.[58] Menurut laporannya, Qadhi Sa'id menafsirkan sebagian besar ungkapan riwayat ini secara filosofis dan irfan; sebagai contoh warna kuning mahkota Imam Ali as dianggap sebagai tanda kedekatannya dengan alam yang lebih tinggi.[59] Corbin menganggap pentingnya syarah Qadhi Sa'id adalah bahwa ia dapat menciptakan pengantar untuk menjelaskan keseluruhan kisah-kisah semacam ini.[60] Corbin menganggap teoretisasi para hakim Mazhab Filsafat Isfahan, termasuk Qadhi Sa'id, seputar Hadis Ghamamah sebagai upaya untuk memahami kejadian-kejadian yang bukan historis maupun mitologis, melainkan sejenis tamsil irfan;[61] ia menganggap keberadaan pendekatan semacam ini di antara mereka sebagai pintu masuk ke dialog filosofis dan spiritual zaman modern.[62]

Syarah Fakhruddin Mawara al-Nahri Turkestani

Syarah lain atas Hadis Ghamamah ditulis oleh Fakhruddin Mawara al-Nahri Turkestani, salah seorang ulama Mustabshir pada masa Dinasti Shafawiyah.[63] Ia menulis syarah ini di Qom[64] atas saran Murtadha Quli Khan, Gubernur Ardabil, dan mendedikasikannya kepada Syah Abbas II Shafawi.[65] Dikatakan bahwa dalam syarah ini ia menukil hadis tersebut bagian per bagian dalam bahasa Arab dan mensyarahinya dalam bahasa Persia.[66]

Teks dan Terjemahan

Templat:Kutipan

Catatan Kaki

  1. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 379.
  2. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 376; Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 379.
  3. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 379.
  4. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 414.
  5. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 427.
  6. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 443.
  7. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 417-418; Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 461.
  8. Untuk contoh lihat: Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 190.
  9. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 380.
  10. Jalali dan Sadeghi, "Arzyabi-ye Hadis-e Bisat-e Farsh-e Parandeh", hlm. 154.
  11. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 380.
  12. Untuk contoh lihat: Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50-51.
  13. Al-Musawi, Al-Majmu' al-Raiq, 1417 H, jld. 2, hlm. 327.
  14. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 23, hlm. 184.
  15. Al-Hilli, Al-Muhtadzar, 1424 H, hlm. 129-137.
  16. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 33-40.
  17. Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 54.
  18. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, Catatan kaki peneliti, jld. 27, hlm. 33.
  19. Al-Musawi, Al-Majmu' al-Raiq, 1417 H, jld. 2, hlm. 327.
  20. Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, Catatan kaki peneliti, jld. 1, hlm. 350.
  21. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, Catatan kaki peneliti, jld. 27, hlm. 33.
  22. Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, Catatan kaki peneliti, jld. 1, hlm. 350.
  23. Qadhi Sa'id Qumi, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah, 1381 HS, hlm. 89.
  24. Qadhi Sa'id Qumi, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah, 1381 HS, hlm. 89.
  25. Untuk contoh lihat: Mulla Agha Darbandi, Khazain al-Ahkam, Qom, jld. 1, hlm. 19.
  26. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 446.
  27. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 446.
  28. Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 52.
  29. Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 52.
  30. Al-Hurr al-Amili, Amal al-Amil, Baghdad, jld. 2, hlm. 341.
  31. Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 5, hlm. 305.
  32. Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 5, hlm. 305.
  33. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 40.
  34. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 377-465.
  35. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 381.
  36. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 380.
  37. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 390.
  38. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 381.
  39. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 381.
  40. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
  41. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
  42. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
  43. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
  44. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 204; Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 3, hlm. 64; Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 4, hlm. 311.
  45. Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 3, hlm. 171; Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 5, hlm. 396.
  46. Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 3, hlm. 64.
  47. Shadraei Khoei dan Mahmudi, "Hadits-e Syiah dar Arseh-ye Nuskhe-haye Khatthi", hlm. 22-23.
  48. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 16, hlm. 340; Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 3, hlm. 171.
  49. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 5, hlm. 433.
  50. Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
  51. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 349.
  52. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 190.
  53. Qadhi Sa'id Qumi, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah, 1381 HS, hlm. 61.
  54. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 390.
  55. Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 52.
  56. Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 54.
  57. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, Mukadimah Penerjemah, jld. 4, bag. 1, hlm. 98.
  58. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
  59. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 400.
  60. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 352.
  61. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 154.
  62. Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 154-155.
  63. Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 4, hlm. 331-332.
  64. Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 4, hlm. 331-332.
  65. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 5, hlm. 433.
  66. Ra'iszadeh, "Turkestani, Fakhruddin", hlm. 148.

Daftar Pustaka

  • Afandi, Abdullah bin Isa Beg, Riyadh al-Ulama wa Hiyadh al-Fudhala, Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1401 H.
  • Agha Buzurg Tehrani, Muhammad Muhsin, Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, Tahkik: Sayid Ahmad Husaini Isykavari, Beirut, Dar al-Adhwa', 1403 H.
  • Al-Hilli, Hasan bin Sulaiman, Al-Muhtadzar, Tahkik: Sayid Ali Asyraf, Qom, Al-Maktabah al-Haidariyah, 1424 H.
  • Al-Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan, Amal al-Amil fi Ulama Jabal Amil, Tahkik: Sayid Ahmad Husaini Isykavari, Baghdad, Maktabah al-Andalus, tanpa tahun.
  • Al-Musawi, Sayid Hibatullah bin Hasan, Al-Majmu' al-Raiq min Azhar al-Hadaiq, Tahkik: Husain Dargahi, Teheran, Muassasah Chap va Nasyr-e Vezarat-e Farhang va Ershad-e Eslami va Bonyad-e Da'irat al-Ma'arif Eslami, 1417 H.
  • Corbin, Henry, Chashm-andaz-haye Ma'navi va Falsafi-ye Eslam-e Irani (Jilid 4, Bagian Pertama: Maktab Isfahan, Maktab Syaikhiyah), Terjemahan (ke Persia): Insyaallah Rahmati, Teheran, Nasyr-e Sophia, 1398 HS.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha, Ilm al-Yaqin fi Ushul al-Din, Tahkik: Muhsin Bidarfar, Qom, Entisharat-e Bidar, 1418 H.
  • Hamadani, Abdush-Shamad bin Muhammad, Bahr al-Ma'arif, Tahkik dan Terjemahan: Husain Ostadvali, Teheran, Entisharat-e Hekmat, 1429 H.
  • Jalali, Mahdi dan Ali Sadeghi, "Arzyabi-ye Hadis-e Bisat-e Farsh-e Parandeh", dalam Majalah Hadits Pajuhi, Nomor 5, Musim Semi dan Panas 1390 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami'ah li-Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar, Beirut, Muassasah al-Wafa, 1403 H.
  • Mulla Agha Darbandi, Agha Ibnu Abid, Khazain al-Ahkam, Qom, Tanpa Penerbit, Tanpa Tahun.
  • Nuri, Husain bin Muhammad Taqi, Mustadrak al-Wasail wa Mustanbath al-Masail, Beirut, Muassasah Alu al-Bait (as) li-Ihya al-Turats, 1408 H.
  • Qadhi Sa'id Qumi, Muhammad Sa'id bin Muhammad Mufid, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah (Sahabah), Teheran, Entisharat-e Ketabkhaneh-ye Malek, 1381 HS.
  • Ra'iszadeh, Muhammad, "Turkestani, Fakhruddin", dalam Daneshnameh-ye Jahan-e Eslam (Ensiklopedia Dunia Islam), Jld. 7, Teheran, Bonyad-e Da'irat al-Ma'arif Eslami, 1393 HS.
  • Raudhati, Sayid Muhammad Ali, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", dalam Dovvomin Dogoftar, Isfahan, Markaz-e Tahqiqat-e Rayaneh-i Hauzah Ilmiyah Isfahan dan Muassasah Farhangi Muthala'ati Al-Zahra, 1386 HS.
  • Rezanejad, Elham, "Padidarshenasi Chist va Cheguneh Mitavan An ra dar Zendegi-ye Ruzmareh Karbordpazir Kard?", Situs Pusat Pendidikan Bebas Spesialis Ilmu Humaniora, Tanggal posting: 26 Aban 1400 HS, Tanggal kunjungan: 26 Khordad 1403 HS.
  • Shadraei Khoei, Ali, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi-ye Hadis va Ulum-e Hadis-e Syiah (Jilid 4: Mutun Hadis Syiah), Qom, Muassasah Elmi Farhangi Darul Hadits, 1384 HS.
  • Shadraei Khoei, Ali dan Abbas Mahmudi, "Hadits-e Syiah dar Arseh-ye Nuskhe-haye Khatthi", dalam Majalah Ulum va Ma'arif Qur'an va Hadis, Nomor 7, Musim Panas 1395 HS.