Konsep:Hadis Ghamamah
| Nama lain | Bisath • Ghamam • Sahabah • Qaf |
|---|---|
| Tema | Penjelasan perjalanan spiritual ke Malakut |
| Diriwayatkan dari | Imam Ali as |
| Periwayat utama | Salman al-Farisi |
| Validitas hadis | Dhaif |
| Sumber Syiah | Al-Majmu' al-Raiq • Al-Muhtadzar • Bihar al-Anwar |
Hadis Ghamamah (bahasa Arab: حديث الغمامة) merupakan sebuah riwayat yang mengisahkan karamah Imam Ali as serta mendeskripsikan perjalanan syuhudi (penyaksian spiritual) beliau bersama sejumlah sahabat khususnya menuju Gunung Qaf dengan mengendarai awan. Sebagian cendekiawan mengategorikan hadis ini sebagai riwayat yang pelik (musykil) dan asing (gharib), sementara kelompok lainnya memosisikannya sebagai salah satu karya diskursus irfan (mistisisme) Syiah yang paling menakjubkan.
Beberapa pakar ilmu hadis Syiah mengklasifikasikan Hadis Ghamamah sebagai hadis dhaif (lemah) lantaran status sanadnya yang tergolong mursal dan marfu', ketiadaan jejak penukilan dalam literatur hadis yang muktabar (valid), keberadaannya dalam sumber-sumber majhul (tidak dikenal), serta keasingan materi teksnya. Terlepas dari pandangan kritis para ahli hadis tersebut, riwayat ini tetap dianggap memiliki kredibilitas oleh sejumlah tokoh pensyarah yang berafiliasi pada disiplin hikmah (filsafat) dan irfan, seperti Qadhi Sa'id Qumi.
Hadis Ghamamah senantiasa menjadi objek kajian dan perenungan mendalam di kalangan para filsuf (hakim) dan mistikus (arif) Imamiyah dalam ranah keilmuan Tasawuf serta Irfan Syiah; hal ini dibuktikan dengan lahirnya beragam syarah (penjelasan) irfani atas riwayat tersebut. Berpijak pada interpretasi batin Syiah terhadap Hadis Ghamamah, riwayat ini diyakini mendeskripsikan ihwal tasyarruf (penganugerahan kehormatan) menuju pencapaian makrifat Imam (pemahaman akan derajat agung Imam dan institusi Imamah). Realitas ini merepresentasikan rahasia irfan Syiah di mana sosok Imam mewujud dalam maqam manifestasi Insan Kamil.
Kedudukan dan Karakteristik
Hadis Ghamamah dipandang sebagai salah satu manifestasi karamah Imam Ali as[1] sekaligus merupakan penjabaran terkait rekam perjalanan syuhudi Imam Ali as beserta beberapa sahabat eksklusifnya menembus dimensi menuju Gunung Qaf
- ↑ Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 4, hlm. 309.
.[1] Teks riwayat ini juga lazim diidentifikasi dengan pelbagai sebutan lain, seperti Ghamam,[2] Bisath (permadani),[3] Sahabah (awan),[4] dan Qaf.[5] Hadis Ghamamah memiliki struktur narasi yang rinci[6] dan kerap diberi predikat sulit (musykil)[7] serta asing (gharib)[8] akibat muatan peristiwanya yang bernuansa metafisik dan adialami.[9] Menurut sebagian pengkaji, keasingan redaksional hadis ini mendorong beberapa pensyarahnya untuk mengimbau para pembaca agar menghindari sikap apriori atau pengingkaran; sebaliknya, mereka dianjurkan untuk mengakui kedudukan luhur serta karamah agung yang dimiliki oleh Para Imam as.[10] Riwayat ini dinilai beresonansi secara tematis dengan beberapa riwayat gharib lainnya, seperti Khutbah al-Bayan[11] dan Riwayat Pulau Khadhra'.[12] Sejumlah pakar menjadikan riwayat ini sebagai landasan teologis untuk membuktikan jangkauan ilmu Para Imam as terkait Asma dan Sifat Ilahi[13] serta menjustifikasi anugerah Tayy al-Ard dan Tayy al-Zaman yang mereka kuasai berkat wasilah Ism A'zham (Nama Agung).[14]
Meskipun secara metodologi keilmuan hadis dinilai dhaif oleh sebagian peneliti Syiah,[15] Hadis Ghamamah tetap menuai apresiasi dan perenungan intensif dari kalangan hakim dan arif Imamiyah dalam diskursus Tasawuf maupun Irfan Syiah;[16] hal ini terefleksi dari berlimpahnya syarah irfani yang ditujukan untuk mengupas riwayat ini.[17] Henry Corbin, seorang orientalis dan peneliti Syiah kenamaan asal Prancis, meyakini bahwa hadis ini menduduki posisi sebagai salah satu literatur irfan Syiah yang paling luar biasa[18] sekaligus merupakan sebuah representasi tamsil (alegori) irfan yang berbobot.[19] Ia memandang bahwa indikator signifikansi hadis ini terletak pada kenyataan bahwa seorang filsuf berkaliber tinggi seperti Qadhi Sa'id Qumi[20] bersedia menggali rahasia-rahasia transendental serta pancaran pencerahan halus yang terkandung di dalamnya dengan menyusun sebuah syarah khusus.[21]
Dalam kerangka penafsiran esoterik (batin) Syiah, ditegaskan bahwa riwayat ini melukiskan ihwal tasyarruf spiritual[22] demi merengkuh makrifat Imam (pemahaman akan kedudukan hakiki Imam dan entitas Imamah). Konsep ini merupakan misteri inti dalam irfan Syiah di mana sosok Imam mewujud secara paripurna dalam derajat Insan Kamil.[23] Corbin menganalisis riwayat ini melalui pendekatan fenomenologi
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 380.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 190.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 204; Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
- ↑ Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
- ↑ Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 4, hlm. 19.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 190; Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
- ↑ Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 40; Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
- ↑ Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, jld. 1, hlm. 350.
- ↑ Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 54.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 401.
- ↑ Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, jld. 1, hlm. 350.
- ↑ Hamadani, Bahr al-Ma'arif, 1429 H, jld. 2, hlm. 531.
- ↑ Mulla Agha Darbandi, Khazain al-Ahkam, Qom, jld. 1, hlm. 19; Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
- ↑ Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, Catatan kaki peneliti, jld. 1, hlm. 350.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 154.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 204.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 376-377.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 376-377.
- ↑ Qadhi Sa'id Qumi, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah, 1381 HS, hlm. 60.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 376-377.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 445; Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 379.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 431.
sebagai wujud pengalaman syuhudi untuk menyelami hakikat Alam Malakut[1] seraya mendemonstrasikan probabilitas akses temporer bagi kelompok elite khusus (khawas) yang membersamai Imam Maksum untuk menyentuh Alam Malakut.[2] Menurut pandangan Corbin, seluruh rupa dan dinamika peristiwa yang dikisahkan dalam riwayat ini sejatinya merupakan manifestasi aspek malakuti atau mitsali (imajinal) dari realitas alam fisikal.[3] Di ranah diskursus irfan komparatif, Corbin turut mendayagunakan riwayat Ghamamah sebagai medium untuk merajut studi komparatif antara makrifat batin Syiah dengan tradisi filsafat mistik Yunani Kuno,[4] Iran Kuno,[5] Yudaisme,[6] dan Kekristenan.[7]
Hubungan dengan Hadis Bisath dan Sumber
Sebagian pensyarah dan ahli menyimpulkan bahwa Hadis Ghamamah identik dengan Hadis Bisath;[8] namun, kajian yang lebih komprehensif menguraikan bahwa kedua entitas hadis ini berbeda secara substantif.[9] Meskipun Hadis Bisath memiliki sejumlah ekuivalensi dengan Hadis Ghamamah, seperti halnya penjelajahan lintas ruang dan waktu, namun identitas perawi, muatan teks, serta alur kejadiannya menunjukkan divergensi yang nyata.[10] Menurut paparan Henry Corbin, narasi sentral dalam Hadis Bisath berfokus pada perjalanan spiritual Imam Ali as dan para sahabatnya kala menemui Ashabul Kahfi, sementara Hadis Ghamamah menitikberatkan pada rincian perjalanan syuhudi menuju Gunung Qaf.[11]
Melacak akar historisnya, penelusuran para peneliti menunjukkan bahwa Hadis Ghamamah terlacak pada dua sumber literatur peninggalan pasca-abad ke-7 Hijriah/ke-13 M:[12] Pertama, kitab Al-Majmu' al-Raiq min Azhar al-Hadaiq (ditulis 703/1303-04) karya Hibatullah bin Hasan al-Musawi, di mana ia menukil riwayat ini dengan sanad marfu' dari Salman al-Farisi;[13] Kedua, kitab Al-Muhtadzar susunan Hasan bin Sulaiman al-Hilli (wafat setelah 802/1399-1400) yang menyalinnya dari sebuah manuskrip anonim[14] bertajuk Manhaj al-Tahqiq ila Sawa' al-Thariq.[15] Mengadopsi literatur tersebut, Allamah Majlisi mengompilasikan teks khabar Ghamamah dari kitab Al-Muhtadzar dan menyisipkannya dalam suatu bab bertajuk "Annahum alaihimussalam sakhkhara lahum al-sahab wa yassara lahum al-asbab" (Bahwasanya awan telah ditundukkan bagi mereka as dan segenap sebab dimudahkan bagi mereka)[16] tanpa membubuhkan elaborasi analisis apa pun seputar silsilah sumbernya.[17]
Validitas
Di kalangan muhadis, kredibilitas Hadis Ghamamah kerap dipertanyakan hingga dikategorikan sebagai dhaif (lemah). Kelemahan ini berpangkal dari klasifikasi hadisnya yang mursal dalam Al-Muhtadzar,[18] berstatus marfu' dalam Al-Majmu' al-Raiq,[19] serta ketidakberadaannya dalam khazanah kitab-kitab riwayat yang muktabar.[20] Ditambah lagi, riwayat ini dicuplik dari kompendium majhul (tidak dikenal)[21] dengan muatan eskatologis yang dipandang teramat asing.[22]
Kendati mendapatkan sorotan tajam dari para kritikus hadis, validitas riwayat ini kukuh dipertahankan oleh beberapa pensyarah yang menapaki diskursus hikmah dan irfan. Sebagai representasi, Qadhi Sa'id Qumi meyakini bahwa hadis ini telah mencapai tingkatan mustafidh sehingga otomatis menihilkan urgensi investigasi analitis terhadap silsilah sanad maupun kajian rijal-nya, persis sebagaimana perlakuan akademis yang diberikan terhadap kedudukan Shahifah Sajjadiyah.[23] Menurut argumentasi Qadhi Sa'id, riwayat Ghamamah sejatinya telah ditransmisikan oleh mayoritas tokoh ulama Syiah melalui jalur riwayat yang valid di beragam literatur mereka; hal ini terlegitimasi dari fakta bahwa Syaikh Shaduq menukilnya dalam karyanya yang termasyhur, Al-Majmu' al-Raiq.[24] Epistemologi yang diutarakan Qadhi Sa'id ini lantas direplikasi oleh sejumlah cendekiawan Syiah untuk memperkukuh landasan validitas Hadis Ghamamah.[25] Turut mengamini argumen Qadhi Sa'id, Corbin menegaskan bahwa wacana kritik historis (kritik keilmuan hadis) tidaklah relevan manakala diaplikasikan pada narasi mukasyafah ini beserta riwayat-riwayat sejenis lainnya. Pasalnya, rentetan kejadian tersebut bereksistensi di luar parameter kausalitas waktu kalender profan.[26] Corbin memperingatkan bahwa jika riwayat ini dipreteli dengan pisau bedah ilmu hadis konvensional, maka esensi tekstualnya akan tereduksi sebatas cangkang luar semata, menanggalkan hakikat malakuti yang teramat fundamental.[27]
Namun, premis validasi yang dipertahankan Qadhi Sa'id Qumi tidak luput dari gugatan akademis. Sayid Muhammad Ali Raudhati, seorang pakar biografi dan bibliografer terkemuka Syiah, menilai klaim kemustafidhan riwayat ini—serta asumsi penjabarannya dalam kompilasi kitab-kitab Syiah bersanad valid—mengandung unsur hiperbolis yang dilebih-lebihkan.[28] Lebih jauh, Raudhati membantah keras penisbatan kitab Al-Majmu' al-Raiq kepada otoritas Syaikh Shaduq;[29] penolakan senada atas penisbatan karya ini sebelumnya juga telah disuarakan oleh para ulama kaliber berat seperti Al-Hurr al-Amili,[30] Shahib Riyadhi al-Ulama,[31] dan Muhaddits Nuri.[32]
Menariknya, sebagian ulama Syiah memilih sikap moderat. Meskipun mengakui terdapat kerentanan sanad dan materi teks yang sarat akan enigma adialami, mereka enggan merestrukturisasinya sebagai narasi tertolak. Sebagai contoh, tatkala tidak mendapati riwayat ini dalam referensi literatur yang kredibel, Allamah Majlisi tidak lantas memvonisnya batal, melainkan merekomendasikan penyerahan kemutlakan ilmunya kembali ke pangkuan Para Imam as secara langsung.[33]
Laporan Irfan atas Konten
Menjadikan syarah-syarah irfan riwayat Ghamamah—secara khusus manuskrip karya Qadhi Sa'id Qumi—sebagai rujukan utama, Henry Corbin merekonstruksi paparan laporannya yang sarat akan dimensi irfani.[34] Laporannya mengindikasikan bahwa inti pengisahan riwayat ini tak lain merupakan dokumentasi sebuah petualangan spiritual tak terperi[35] dan penembusan dimensi syuhudi menuju keagungan Gunung Qaf.[36] Alur kejadiannya bermula manakala enam sosok sahabat intim Imam Ali as tengah berhimpun di kediaman sang Imam sembari memusatkan atensi pada diskusi rohani dengan beliau.[37] Merespons sebuah permohonan spesifik dari Imam Hasan as, Imam Ali as menginisiasi sebuah inagurasi lintas alam bagi para sahabat elite tersebut dengan berwahana pada formasi awan yang membelah ruang. Ekspedisi metafisis ini bermula dari level malakut vegetatif (tumbuhan), menanjak melewati malakut satwa, hingga bereskalasi pada derajat malakut kemanusiaan.[38]
Corbin menyoroti fragmen terpenting dari riwayat Ghamamah: sebuah momen krusial tatkala Imam Hasan as melemparkan konfirmasi teologis kepada ayahandanya terkait hegemoni eksklusif Sulaiman as yang berhasil memperoleh legitimasi kerajaan tanpa tanding pasca masanya atas anugerah Ilahi; "Apakah engkau memiliki percikan keistimewaan dari kerajaan Sulaiman as?".[39] Mengonfirmasi hal itu, Imam Ali as lantas mendayagunakan kapabilitas Ilahi yang bersemayam dalam dirinya untuk mengomandoi perjalanan malakuti nirtempoh dan nirspasial bagi para pendampingnya. Sebuah eskalasi yang berpuncak di zenit Gunung Qaf secara anfus (spiritual personal) maupun afaq (kosmis), tempat di mana segenap regulasi kalkulasi waktu kalender runtuh, sehingga membebaskan para salik (pejalan rohani) untuk bercengkerama intim dengan esensi alam gaib yang nyaris tak terjangkau oleh batas kesadaran rasionalitas manusia pada umumnya.[40]
Dalam penelusurannya atas Hadis Ghamamah, Corbin menyimpulkan bahwa keseluruhan fase mobilitas spiritual para sahabat yang dikoordinasikan Imam Ali as di alam malakut waktu dan ruang tersebut[41] merangkum lima tahap paripurna. Sekembalinya dari pengembaraan roh lintas galaksi spiritual itu, para pendamping Imam as telah berevolusi menjadi pakar-pakar yang meresapi alam malakut.[42] Di ujung konklusinya, Qadhi Sa'id membubuhkan afirmasi, "Telah kuungkapkan semua diktum wacana ini setransparan mungkin, demi memfasilitasi Anda agar berkesempatan duduk berdampingan di sisi para sahabat Imam as di atas awan malakut guna mendaki cakrawala tertinggi Alam Malakut."[43]

Syarah dan Terjemahan
Tinjauan kepustakaan merekam hadirnya aneka syarah (kitab penjelasan)[44] serta teks terjemahan berbahasa Persia bagi Hadis Ghamamah yang termanifestasi baik melalui format *nazham* (bait-bait puisi)[45] maupun literatur prosa.[46] Arti krusial dari penulisan ragam syarah yang bergenre monograf atas beberapa khabar partikular populer semacam Hadis Ghamamah dan Hadis Haqiqat terletak pada nilai historisnya. Karya-karya monumental ini mengemban fungsi dokumenter yang melestarikan rupa-rupa hipotesis dari para ulama Syiah, menghimpun percikan wacana teologis lintas dimensi ilmu—mulai dari ilmu kalam, filsafat murni, hingga irfan esoterik.[47] Di antara perbendaharaan tersebut, eksistensi syarah gubahan Qadhi Sa'id Qumi[48] dan karya bedah intelektual oleh Fakhruddin Mawara al-Nahri Turkestani tercatat di garda terdepan repurtasinya.[49]
Syarah Qadhi Sa'id Qumi
Mahakarya penjabaran bergenre sastrawi, irfani, dan *dzauqi* (pancaran intuisi spiritual)[50] gubahan Qadhi Sa'id Qumi yang menyoroti Hadis Ghamamah mendapat atensi ekstensif sebagai figur tafsir yang krusial[51] nan berlapis makna luas.[52] Pada kolofonnya, Qadhi Sa'id mengafirmasi tahun penulisan syarah ini direalisasikan di kota Isfahan pada kisaran 1099/1687-88.[53] Menurut kesimpulan empiris Corbin, struktur argumentasi Qadhi Sa'id ini diimplementasikan dengan memanfaatkan matriks konsepsi Wilayah (otoritas spiritual) yang menjejak kuat di dasar ilmu Irfan Nazhari (mistisisme teoretis) dan sistem pemikiran teosofis Hikmah Muta'aliyah.[54] Melengkapi khazanah referensi dari riwayat korpus Ahlulbait as serta diksi pustaka sastra yang brilian, Qadhi Sa'id tanpa sungkan mendemonstrasikan respek mendalam melalui penukilan postulat Ibnu Arabi sembari menghias margin pembahasannya dengan lanskap puitis karya Maulavi (Jalaluddin Rumi).[55] Di mata Raudhati, gaya retorika syarah Qadhi Sa'id atas hadis *gharib* ini seolah melampaui konvensi tradisi dengan menyuguhkan perpaduan keilmuan yang radikal secara estetika.[56]
Dalam kerangka kajian literatur raksasa, Henry Corbin bahkan mendedikasikan fragmen proporsional dalam volume keempat buku ensiklopedisnya yang masyhur, Islam-e Irani (*En Islam iranien*), khusus untuk menginvestigasi Hadis Ghamamah murni melalui corong mikroskop pemikiran Qadhi Sa'id Qumi.[57] Menurut tesis utamanya, kunci hermeneutis dari tafsir elaborasi Qadhi Sa'id bersandar secara fundamental pada penyelidikan terstruktur terkait ontologi dan filosofi dimensi waktu malakut.[58] Fakta analitis menyebut bahwa rentetan frase riwayat ini ditransmutasikan secara filosofis dan mistik oleh Qadhi Sa'id; salah satu indikatornya terlihat tatkala deskripsi warna kekuningan pada mahkota Imam Ali as disejajarkan dengan simbolisme ekuilibrium kedekatan intensitas Ilahiah ke dimensi kosmis tertinggi.[59] Corbin membubuhkan garansi pentingnya syarah ini lantaran potensinya memformulasikan prolog pembuka yang dapat mendekripsi kompilasi literatur alegoris serupa dalam mazhab batin.[60] Dedikasi teoretisasi ekstensif yang dicetuskan para filsuf Mazhab Filsafat Isfahan—termasuk di dalamnya sumbangsih Qadhi Sa'id terkait pusaka Ghamamah—dievaluasi Corbin sebagai ikhtiar berharga guna mendemonstrasikan paradigma membaca epik yang tidak terkotakkan dalam parameter historis positivistik maupun mitologi, melainkan harus diproyeksikan sebagai instrumen tamsil irfan suci.[61] Oleh karenanya, pendekatan multidisiplin tersebut sangat krusial dalam menstimulasi dialog berkelanjutan antara pijakan filosofis tradisional dengan tendensi spiritualisme di abad modern.[62]
Syarah Fakhruddin Mawara al-Nahri Turkestani
Jejak akademis syarah lain untuk riwayat Ghamamah direpresentasikan oleh warisan Fakhruddin Mawara al-Nahri Turkestani, salah seorang figur ulama Mustabshir (yang beralih mazhab) yang hidup sezaman dengan pamor kejayaan Dinasti Shafawiyah.[63] Karya cemerlang ini dikompilasikan beliau di pusat intelektual Qom[64] atas instruksi khusus dari Murtadha Quli Khan, Gubernur teritori Ardabil, sebelum dipersembahkan secara protokoler kepada pemegang kuasa monarki, Syah Abbas II Shafawi.[65] Metodologi penulisan naskah ini dikonsep dengan mentransliterasikan sekuens-sekuens hadis berbahasa Arab seraya meresensinya secara apik menyajikan penafsiran komprehensif dalam bahasa Persia.[66]
Teks dan Terjemahan
Catatan Kaki
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 379.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 376; Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 379.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 379.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 414.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 427.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 443.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 417-418; Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 461.
- ↑ Untuk contoh lihat: Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 190.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 380.
- ↑ Jalali dan Sadeghi, "Arzyabi-ye Hadis-e Bisat-e Farsh-e Parandeh", hlm. 154.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 380.
- ↑ Untuk contoh lihat: Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50-51.
- ↑ Al-Musawi, Al-Majmu' al-Raiq, 1417 H, jld. 2, hlm. 327.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 23, hlm. 184.
- ↑ Al-Hilli, Al-Muhtadzar, 1424 H, hlm. 129-137.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 33-40.
- ↑ Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 54.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, Catatan kaki peneliti, jld. 27, hlm. 33.
- ↑ Al-Musawi, Al-Majmu' al-Raiq, 1417 H, jld. 2, hlm. 327.
- ↑ Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, Catatan kaki peneliti, jld. 1, hlm. 350.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, Catatan kaki peneliti, jld. 27, hlm. 33.
- ↑ Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, Catatan kaki peneliti, jld. 1, hlm. 350.
- ↑ Qadhi Sa'id Qumi, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah, 1381 HS, hlm. 89.
- ↑ Qadhi Sa'id Qumi, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah, 1381 HS, hlm. 89.
- ↑ Untuk contoh lihat: Mulla Agha Darbandi, Khazain al-Ahkam, Qom, jld. 1, hlm. 19.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 446.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 446.
- ↑ Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 52.
- ↑ Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 52.
- ↑ Al-Hurr al-Amili, Amal al-Amil, Baghdad, jld. 2, hlm. 341.
- ↑ Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 5, hlm. 305.
- ↑ Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 5, hlm. 305.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 40.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 377-465.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 381.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 380.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 390.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 381.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 381.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 204; Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 3, hlm. 64; Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 4, hlm. 311.
- ↑ Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 3, hlm. 171; Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 5, hlm. 396.
- ↑ Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 3, hlm. 64.
- ↑ Shadraei Khoei dan Mahmudi, "Hadits-e Syiah dar Arseh-ye Nuskhe-haye Khatthi", hlm. 22-23.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 16, hlm. 340; Shadraei Khoei, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi, 1384 HS, jld. 3, hlm. 171.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 5, hlm. 433.
- ↑ Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 50.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 349.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 13, hlm. 190.
- ↑ Qadhi Sa'id Qumi, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah, 1381 HS, hlm. 61.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 390.
- ↑ Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 52.
- ↑ Raudhati, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", hlm. 54.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, Mukadimah Penerjemah, jld. 4, bag. 1, hlm. 98.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 382.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 400.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 352.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 154.
- ↑ Corbin, Islam-e Irani, 1398 HS, jld. 4, bag. 1, hlm. 154-155.
- ↑ Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 4, hlm. 331-332.
- ↑ Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 4, hlm. 331-332.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 5, hlm. 433.
- ↑ Ra'iszadeh, "Turkestani, Fakhruddin", hlm. 148.
Daftar Pustaka
- Afandi, Abdullah bin Isa Beg, Riyadh al-Ulama wa Hiyadh al-Fudhala, Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1401 H.
- Agha Buzurg Tehrani, Muhammad Muhsin, Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, Tahkik: Sayid Ahmad Husaini Isykavari, Beirut, Dar al-Adhwa', 1403 H.
- Al-Hilli, Hasan bin Sulaiman, Al-Muhtadzar, Tahkik: Sayid Ali Asyraf, Qom, Al-Maktabah al-Haidariyah, 1424 H.
- Al-Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan, Amal al-Amil fi Ulama Jabal Amil, Tahkik: Sayid Ahmad Husaini Isykavari, Baghdad, Maktabah al-Andalus, tanpa tahun.
- Al-Musawi, Sayid Hibatullah bin Hasan, Al-Majmu' al-Raiq min Azhar al-Hadaiq, Tahkik: Husain Dargahi, Teheran, Muassasah Chap va Nasyr-e Vezarat-e Farhang va Ershad-e Eslami va Bonyad-e Da'irat al-Ma'arif Eslami, 1417 H.
- Corbin, Henry, Chashm-andaz-haye Ma'navi va Falsafi-ye Eslam-e Irani (Jilid 4, Bagian Pertama: Maktab Isfahan, Maktab Syaikhiyah), Terjemahan (ke Persia): Insyaallah Rahmati, Teheran, Nasyr-e Sophia, 1398 HS.
- Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha, Ilm al-Yaqin fi Ushul al-Din, Tahkik: Muhsin Bidarfar, Qom, Entisharat-e Bidar, 1418 H.
- Hamadani, Abdush-Shamad bin Muhammad, Bahr al-Ma'arif, Tahkik dan Terjemahan: Husain Ostadvali, Teheran, Entisharat-e Hekmat, 1429 H.
- Jalali, Mahdi dan Ali Sadeghi, "Arzyabi-ye Hadis-e Bisat-e Farsh-e Parandeh", dalam Majalah Hadits Pajuhi, Nomor 5, Musim Semi dan Panas 1390 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami'ah li-Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar, Beirut, Muassasah al-Wafa, 1403 H.
- Mulla Agha Darbandi, Agha Ibnu Abid, Khazain al-Ahkam, Qom, Tanpa Penerbit, Tanpa Tahun.
- Nuri, Husain bin Muhammad Taqi, Mustadrak al-Wasail wa Mustanbath al-Masail, Beirut, Muassasah Alu al-Bait (as) li-Ihya al-Turats, 1408 H.
- Qadhi Sa'id Qumi, Muhammad Sa'id bin Muhammad Mufid, Syarh Hadits Bisath ya Hadits Ghamamah (Sahabah), Teheran, Entisharat-e Ketabkhaneh-ye Malek, 1381 HS.
- Ra'iszadeh, Muhammad, "Turkestani, Fakhruddin", dalam Daneshnameh-ye Jahan-e Eslam (Ensiklopedia Dunia Islam), Jld. 7, Teheran, Bonyad-e Da'irat al-Ma'arif Eslami, 1393 HS.
- Raudhati, Sayid Muhammad Ali, "Piramun-e Ahval va Atsar-e Muhammad Sa'id Qadhi va Muhammad Sa'id Hakim Do Daneshmand-e Qom", dalam Dovvomin Dogoftar, Isfahan, Markaz-e Tahqiqat-e Rayaneh-i Hauzah Ilmiyah Isfahan dan Muassasah Farhangi Muthala'ati Al-Zahra, 1386 HS.
- Rezanejad, Elham, "Padidarshenasi Chist va Cheguneh Mitavan An ra dar Zendegi-ye Ruzmareh Karbordpazir Kard?", Situs Pusat Pendidikan Bebas Spesialis Ilmu Humaniora, Tanggal posting: 26 Aban 1400 HS, Tanggal kunjungan: 26 Khordad 1403 HS.
- Shadraei Khoei, Ali, Fehrestgan-e Nuskhe-haye Khatthi-ye Hadis va Ulum-e Hadis-e Syiah (Jilid 4: Mutun Hadis Syiah), Qom, Muassasah Elmi Farhangi Darul Hadits, 1384 HS.
- Shadraei Khoei, Ali dan Abbas Mahmudi, "Hadits-e Syiah dar Arseh-ye Nuskhe-haye Khatthi", dalam Majalah Ulum va Ma'arif Qur'an va Hadis, Nomor 7, Musim Panas 1395 HS.