Lompat ke isi

Konsep:Ayat Izin Jihad

Dari wikishia

|| || || - || || || || || editorial box

Ayat Izin Jihad
Informasi Ayat
NamaIzin Jihad
SurahAL-Hajj
Ayat39
Informasi Konten
Sebab
Turun
Muhajirin, Ahlulbait as
Tempat
Turun
Madinah
TentangFikih
DeskripsiIzin berperang melawan kaum musyrikin
Ayat-ayat terkaitAyat Pedang


Ayat Izin Jihad (bahasa Arab:آية إذن الجهاد) (Surah Al-Hajj: Ayat 39) adalah ayat pertama yang mengizinkan kaum Muslim untuk melakukan jihad melawan kaum musyrik dan dianggap sebagai nasikh (penghapus) ayat-ayat tentang toleransi terhadap kaum musyrik.

Ayat ini turun setelah Hijrah ke Madinah akibat penyiksaan berat yang dilakukan kaum musyrik Mekah terhadap kaum Muslim.

Mufasir dari kalangan Syiah dan Sunni merujuk ayat ini untuk menjelaskan syarat-syarat kewajiban jihad, di antaranya bahwa ayat ini berkaitan dengan jihad defensif, dan jenis jihad ini tidak memerlukan izin imam. Sebagian juga berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan batasan jihad dan menolak tuduhan bahwa Islam menganjurkan kekerasan, karena perang hanya diizinkan setelah terjadi kezaliman dan pengusiran terhadap kaum Muslim.

Dalam riwayat Syiah, ayat ini dikaitkan dengan Ahlulbait as dan Imam Mahdi as. Selain itu, sahabat dan tabiin menggunakan ayat ini untuk melegitimasi tindakan mereka atau berhujah dengannya, seperti yang dilakukan Utsman saat rumahnya dikepung, Imam Ali as dalam Perang Shiffin atau Perang Jamal, serta Ibrahim Imam dalam Pemberontakan Abu Muslim al-Khurasani.

Pemberian Izin Jihad Melawan Kaum Musyrik

Ayat 39 Surah Al-Hajj dinamakan Ayat Izin Jihad.[1] Ayat ini juga dikenal sebagai Ayat Qital[2] atau Izin untuk Berperang.[3] Ayat ini mengizinkan kaum Muslim untuk berjihad melawan kaum musyrik yang menzalimi mereka. Ayat ini termasuk dalam ayat-ayat muhkam Al-Qur'an[4] dan merupakan ayat pertama yang memberikan keabsahan bagi kaum Muslim untuk berjihad melawan kaum musyrik dalam rangka mempertahankan diri dan dakwah Nabi saw.[5]

Ayat Izin Jihad dianggap sebagai nasikh bagi ayat-ayat seperti Ayat 48 Surah Al-Ahzab yang menekankan sikap toleran terhadap kaum musyrik.[6] Disebutkan bahwa dalam Al-Qur'an terdapat lebih dari tujuh puluh ayat tentang sikap toleran Rasulullah saw dan kaum Muslim terhadap kaum musyrik.[7] Selain itu, ayat ini juga dianggap sebagai nasikh bagi Ayat 14 Surah Al-Jatsiyah.[8]

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ [حج:39]

Telah diberikan izin [untuk berjihad] kepada orang-orang yang diperangi, karena mereka telah dizalimi. Dan sesungguhnya Allah Mahakuasa menolong mereka.

Mufasir menafsirkan frasa "أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ" dalam Ayat Izin Jihad sebagai penegasan bahwa Nabi saw[9] dan kaum Muslim sebelum turunnya ayat ini dilarang untuk berjihad melawan kaum musyrik.[10] Dengan turunnya ayat ini, jihad melawan kaum musyrik diizinkan.[11] Juga disebutkan bahwa izin berjihad, bersamaan dengan Hijrah ke Madinah, menjadi faktor kemenangan Islam.[12]

Sebab Turunnya Ayat

Mengenai sebab turunnya Ayat Izin Jihad, disebutkan bahwa kaum musyrik Mekah sering menyiksa para sahabat Nabi saw, sehingga mereka mengadukan hal ini kepada Rasulullah saw. Beliau pun menasihati para sahabat untuk bersabar dan bersikap toleran, seraya berkata, "Aku belum diperintahkan untuk berjihad." Setelah Hijrah ke Madinah, ayat ini pun turun.[13]

Berdasarkan riwayat dari Imam Shadiq as, yang menjadi sasaran ayat ini adalah para muhajirin yang diusir dari Mekah oleh Quraisy.[14]

Ayat Izin Jihad turun tujuh bulan setelah Hijrah.[15] Ayat ini termasuk dalam Surah Madaniyah, meskipun sebagian mufasir berpendapat bahwa hanya beberapa ayat dalam Surah Al-Hajj yang turun di Mekah.[16] Di sisi lain, sebagian ulama meyakini bahwa Surah Al-Hajj adalah [Surah-surah Makkiyah dan Madaniyah|surah Makkiyah]], dan hanya lima ayat—termasuk Ayat Izin Jihad—yang turun di Madinah.[17]

Penetapan Syarat Wajibnya Jihad dalam Ayat

Sejumlah ulama dari kalangan Syiah dan Sunni merujuk Ayat Izin Jihad untuk menetapkan syarat-syarat jihad defensif. Misalnya, Husain Ali Muntazeri, salah seorang marja' Syiah, berpendapat bahwa jihad defensif tidak memerlukan izin dari imam.[18] Sementara itu, Sarakhsi, seorang faqih mazhab Hanafi, berpendapat bahwa kaum Muslim hanya diizinkan berperang jika kaum musyrik lebih dulu menyerang.[19] Namun, Imam Syafi'i dari kalangan Ahlusunah berpendapat bahwa melalui ayat ini, Allah memberikan izin kepada kaum Muslim untuk melakukan jihad ofensif melawan kaum musyrik.[20]

Hasan Jawahiri, seorang faqih dari Hauzah Najaf, berpendapat bahwa Ayat Izin Jihad tidak hanya menetapkan hukum jihad, tetapi juga menjelaskan batasan, konsekuensi, dan syarat-syaratnya.[21] Sebagian ulama Syiah juga menyebutkan dua syarat terkait izin berperang dalam ayat ini:

  1. Orang-orang yang dizalimi.
  2. Mereka yang diusir dari tanah airnya secara tidak adil, sebagaimana disebutkan dalam Ayat 40 Surah Al-Hajj: "Orang-orang yang diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar..."[22]

Jawahiri juga menegaskan bahwa sebagian orang menggunakan ayat ini untuk menggambarkan Islam sebagai agama pedang. Namun, sebenarnya Islam selalu mengedepankan dialog dan argumentasi yang baik sebelum mengizinkan perang. Perang hanya diizinkan ketika kaum Muslim benar-benar dizalimi.[23]

Penerapan Ayat pada Ahlulbait as

Berdasarkan riwayat dari Imam Kazhim as, Ayat Izin Jihad turun berkaitan dengan Keluarga Nabi Muhammad saw.[24] Zaid bin Ali juga berpendapat bahwa ayat ini ditujukan kepada Ahlulbait.[25] Selain itu, dalam riwayat dari Imam Shadiq as, frasa "أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ" dalam ayat ini merujuk kepada Imam Ali as, Ja'far bin Abi Thalib, dan Hamzah bin Abdul Mutthalib.[26] Riwayat lain menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah Imam Ali as, Imam Hasan as, dan Imam Husain as.[27]

Sebagian ulama Syiah merujuk riwayat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang diizinkan berjihad dalam ayat ini,[28] serta orang-orang yang dizalimi, adalah Imam Zaman ajf dan para pengikutnya.[29] Imam Shadiq as juga bersabda: "Kaum awam (Ahlusunah) mengira ayat ini turun tentang Nabi saw saat beliau hijrah dari Mekah, padahal (ta'wil ayat) ini merujuk kepada Imam Zaman ajf ketika beliau bangkit untuk menuntut balas darah Imam Husain as."[30]

Ayat Izin Jihad juga dijadikan dalil untuk melegitimasi konsep raj'ah (kembalinya Ahlulbait di akhir zaman). Dikatakan bahwa raj'ah adalah salah satu keyakinan utama dalam ajaran Syiah,[31] dan berdasarkan riwayat, ini adalah janji Allah kepada Ahlulbait as. Oleh karena itu, mereka pasti akan kembali agar Allah memenangkan mereka.[32]

Penggunaan Ayat dalam Peristiwa-Peristiwa Sejarah

Menurut beberapa laporan sejarah, sejumlah sahabat dan tabi'in merujuk Ayat Izin Jihad untuk membuktikan kebenaran posisi mereka dan memajukan tujuan mereka. Misalnya, disebutkan bahwa ketika rumah Utsman dikepung pada hari-hari terakhir kekhalifahannya, Sha'sha'ah bin Shauhan dipilih untuk berbicara dengannya. Sha'sha'ah membacakan Ayat Izin Jihad di hadapan Utsman, tetapi Utsman menolak bahwa ayat itu turun berkaitan dengan Sha'sha'ah dan para pengikutnya. Ia berkata, "Ayat ini turun tentang aku dan sahabat-sahabatku"—yaitu ketika mereka diusir dari Mekah.[33][34]

Dalam laporan lain, disebutkan bahwa selama Perang Shiffin,[35] atau Perang Jamal, Imam Ali as—dengan mengenakan pakaian Abbas bin Rabi'ah agar tidak dikenali—masuk ke medan perang untuk berduel satu lawan satu. Beliau membaca ayat "أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ..." sebelum bertarung melawan beberapa orang yang menantang duel.[36]

Selain itu, disebutkan bahwa Ibrahim al-Imam (keturunan Abdullah bin Abbas dan saudara Saffah serta Al-Mansur dari khalifah Abbasiyah) mendukung pemberontakan Abu Muslim al-Khurasani dengan mengikat bendera bertuliskan Ayat Izin Jihad.[37] Namun, sumber lain menyebutkan bahwa Ibrahim membacakan ayat ini setelah mengikat bendera.[38]

Catatan Kaki

  1. Khurasani, Ayat-e Namdar hlm. 368.
  2. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 H, jil. 21, hlm. 57; Sabzawari, Muhadzab al-Ahkam, 1416 H, jil. 15, hlm. 119.
  3. Thabathaba'i, Tafsir al-Mizan, 1412 H, jil. 14, hlm. 384.
  4. Ibn al-Jauzi, Nawasikh al-Qur'an, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 225.
  5. Shan'ani, Al-Mushannaf, Mansyurat al-Majlis al-Ilmi, jil. 5, hlm. 397; Syekh Thusi, Al-Tibyan, 1409 H, jil. 7, hlm. 321; Hakim Naisyaburi, Al-Mustadrak, Dar al-Ma'rifah, jil. 2, hlm. 246; Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, 1397 H, jil. 2, hlm. 620; Hasani, Tarikh al-Fiqh al-Ja'fari, Dar al-Nasyr lil-Jami'iyyin, hlm. 56.
  6. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 H, jil. 21, hlm. 57; Sabzewari, Muhadzab al-Ahkam, 1416 H, jil. 15, hlm. 119; Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1405 H, jil. 12, hlm. 68.
  7. Syafi'i al-Baidhawi, Anwar al-Tanzil (Tafsir al-Baidhawi), 1418 H, jil. 4, hlm. 73.
  8. Syekh Thusi, Al-Tibyan, 1409 H, jil. 9, hlm. 252; Ibn al-Jauzi, Nawasikh al-Qur'an, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 225.
  9. Syekh Thusi, Al-Tibyan, 1409 H, jil. 1, hlm. 407.
  10. Sa'di, Taisir al-Karim, 1421 H, hlm. 539.
  11. Ibn al-Jauzi, Nawasikh al-Qur'an, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 225.
  12. Al-'Aini, 'Umdat al-Qari, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jil. 1, hlm. 17.
  13. Wahidi Naisaburi, Asbabun Nuzul al-Ayat, 1388 H, hlm. 208; Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, Dar Shadir, jil. 1, hlm. 216; Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 1403 H, jil. 5, hlm. 7.
  14. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 19, hlm. 183.
  15. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib, 1376 H, jil. 1, hlm. 161.
  16. Sam'ani, Tafsir Sam'ani, 1418 H, jil. 3, hlm. 416.
  17. Fairuzabadi, Tanwir al-Miqbas, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 276.
  18. Muntazeri, Dirasat fi Wilayah al-Faqih, 1408 H, jil. 1, hlm. 121.
  19. Sarakhsi, al-Mabsuth, 1406 H, jil. 10, hlm. 2.
  20. Syafi'i, Al-Umm, 1403 H, hlm. 169.
  21. Jawahiri,Buhuts fi Fiqh al-Mu'ashir, 1429 H, jil. 6, hlm. 232.
  22. Faidh Kasyani, Al-Wafi, 1411 H, jil. 15, hlm. 70; Majlisi, Raudhat al-Muttaqin, Bunyad Farhang Islami, jil. 3, hlm. 164.
  23. Jawahiri,Buhuts fi Fiqh al-Mu'ashir, 1429 H, jil. 6, hlm. 239.
  24. Qummi, Tafsir Kanz al-Daqa'iq, 1411 H, jil. 9, hlm. 102.
  25. Haskani, Syawahid al-Tanzil, 1411 H, jil. 1, hlm. 520.
  26. Qummi, Tafsir al-Qummi, 1387 H, jil. 2, hlm. 84.
  27. Ibnu Qulawaih, Kamil al-Ziyarah, 1417 H, hlm. 135.
  28. Nu'mani, Al-Ghaibah, 1422 H, hlm. 248; Nuri, Khatimah al-Mustadrak, 1415 H, jil. 1, hlm. 125.
  29. Kurani, Mu'jam Ahadits al-Imam al-Mahdi, 1411 H, jil. 5, hlm. 264.
  30. Qummi, Tafsir al-Qummi, 1387 H, jil. 2, hlm. 84.
  31. Gulpaygani, Irsyad al-Sa'il, 1403 H, hlm. 203.
  32. Quthaifi, Rasa'il Al Thawq, 1422 H, jil. 1, hlm. 126.
  33. Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, 1409 H, jil. 8, hlm. 585 & 681.
  34. Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, 1409 H, jil. 2, hlm. 470–471; Ibnu 'Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jil. 24, hlm. 88.
  35. 'Ayyasyi, Tafsir al-'Ayyasyi, al-Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyyah, jil. 2, hlm. 79–82.
  36. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib, 1376 H, jil. 2, hlm. 359.
  37. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib, 1376 H, jil. 3, hlm. 86; Nuri, Mustadrak al-Wasa'il, 1408 H, jil. 3, hlm. 328.
  38. Thabari, Tarikh Thabari, Mu'assasah al-A'lami, jil. 6, hlm. 25; Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, 1386 H, jil. 5, hlm. 358.

Daftar Pustaka

  • 'Ayyasyi, Muhammad. Tafsir al-'Ayyasyi. tahqiq Sayid Hasyim Rasyidi, Teheran: Al-Maktabah al-Ilmiyah al-Islamiyah, tanpa tahun.
  • Al-Aini, Mahmud. Umdat Al-Qari. Beirut: Dar Ihya Al-Turats Al-Arabi, tanpa tahun.
  • Baihaqi, Ahmad bin Husain. Ma'rifah Al-Sunan wa Al-Atsar. tahqiq Hasan Kasrawi, Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, tanpa tahun.
  • Faidh Kasyani, Muhammad Mahsin. Al-Wafi. tahqiq Ziya al-Din Husaini, Isfahan: Maktabah al-Imam Amir al-Mu'minin, 1411 H.
  • Firuzabadi, Muhammad bin Ya'qub. Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn Abbas. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tanpa tahun.
  • Gulpaygani, Muhammad Ridha Irsyad al-Sail. Beirut: Dar al-Shafa, 1403 H.
  • Hakim Naisyaburi, Abu Abdullah. Al-Mustadrak Ala al-Sahihain. tahqiq Yusuf Abdul Rahman, Beirut: Dar Al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Hasani, Hasyim Ma'ruf. Tarikh al-Fiqh al-Ja'fari. tahqiq Muhammad Jawad Maghniah, tanpa tempat, Dar al-Nasyr Lil-Jami'iyyin, tanpa tahun.
  • Haskani, Ubaidullah bin Ahmad. Syawahid al-Tanzil li Qawa'id Al-Tafdhil. tahqiq Muhammad Baqir Mahmudi, Teheran: Lembaga Penerbitan Kementerian Irshad, 1411 H.
  • Ibnu Abi Syaibah, Abdullah. Al-Mushannaf fi Al-Ahadits wa Al-Atsar. tahqiq Said Al-Lahham, Beirut: Dar Al-Fikr, 1409 H.
  • Ibnu Arabi, Muhammad. Ahkam Al-Qur'an. Beirut: Dar Al-Fikr, tanpa tahun.
  • Ibnu Asakir, Ali. Tarikh Madinah Dimasyq. tahqiq Ali Shirri, Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H.
  • Ibnu Atsir, Ali. al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Dar Sadir, 1386 H.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad. Musnad Ahmad. Beirut: Dar Sadir, tanpa tahun.
  • Ibnu Jauzi, Abdul Rahman. Nawasikh al-Qur'an. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, tanpa tahun.
  • Ibnu Qulawaih, Muhammad. Kamil al-Ziyarah. tahqiq Nasyr Al-Fiqhah, Qom: Al-Nasyr Al-Islami, 1417 H.
  • Ibnu Syahr Asyub, Muhammad. Manaqib Al Abi Talib. tahqiq Komite dari para ulama Najaf Al-Asyraf, Najaf Al-Asyraf: Al-Haidariyah, 1376 H.
  • Jawahiri, Hasan. Buhuts fi Al-Fiqh Al-Mu'ashir. Beirut: Dar Al-Dzakha'ir, 1429 H.
  • Khurasani, Ali. Ayat-e Namdar. dalam Dairatul Ma'arif Qur'an Karim, Qom: Bustan Kitab, 1382 Sy.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Ushul al-Kafi. takhrij Ali Akbar Ghaffari, tanpa tempat, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1367 Sy.
  • Kurani, Ali. Mu'jam Ahadits al-Imam al-Mahdi. Qom: Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyah, 1411 H.
  • Majlisi, Muhammad Taqi. Raudhat al-Muttaqin fi Syarh Man La Yahduruhu al-Faqih. tahqiq Husain Musawi dan Ali Panah Isytahardi, tanpa tempat, Baniad Farhang Islam, tanpa tahun.
  • Muttaqi Hindi, Ala al-Din. Kanz Al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af'al. tashih Bakri Hayani Sahwah al-Safa, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1409 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarayi' al-Islam. tahqiq Mahmud Quchani, Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. kedua, 1366 Sy.
  • Nu'mani, Muhammad bin Abi Zainab. Al-Ghaibah. tahqiq Fares Hasan, Qom: Anwar al-Huda, 1422 H.
  • Nuri, Husain. Khathimah Al-Mustadrak. tahqiq Muassasah Al al-Bayt, Qom: Muassasah Al al-Bayt, 1415 H.
  • Nuri, Husain. Mustadrak al-Wasail wa Mustanbath al-Masail. tahqiq Muassasah Al al-Bayt, Beirut: Muassasah Al al-Bayt, cet. kedua, 1408 H.
  • Qathif, Ahmad bin Syekh. Rasa'il Al Thawq. tahqiq Syarikah Dar al-Mustafa, Damaskus: Syarikah Dar al-Mustafa li Ihya al-Turats, 1422 H.
  • Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. tahqiq Taib Musawi Jazairi, Qom: Dar al-Kitab, cet. keempat, 1387 Sy.
  • Qummi, Muhammad bin Muhammad Ridha. Tafsir Kanz al-Daqaiq wa Bahr al-Gharib. tahqiq Husain Durgahi, Teheran: Muassasah al-Thab' wa al-Nasyr Wizarah al-Tsaqafah, 1411 H.
  • Qurthubi, Muhammad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. tahqiq Ahmad Abdul A'lim, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1405 H.
  • Sa'di, Abdul Rahman bin Nashir.Taysir Al-Karim Al-Rahman fi Kalam Al-Mannan. tahqiq Ibn Utsaimin, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1421 H.
  • Sabzewari, Abdul Ali. Muhadzab Al-Ahkam fi Bayan Al-Halal wa Al-Haram. tanpa tempat, Maktab Ayatullah Al-Uzma al-Sayyid al-Sabzewari, 1416 H.
  • Sama'ani, Manshur. Tafsir Sama'ani. tahqiq Yasser bin Ibrahim dan Ghanim bin Abbas, Riyadh: Dar Al-Wathan, 1418 H.
  • San'ani, Abdul Razzaq. Al-Mushannaf. tahqiq Habiburrahman al-A'zhami, tanpa tempat, Majlis al-Ilmi, tanpa tahun.
  • Sarkhasi, Syamsuddin. al-Mabsuth. Beirut: Dar Al-Ma'rifah, 1406 H.
  • Sayid Sabiq. Fiqh al-Sunnah. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, cet. ketiga, 1397 H.
  • Syafi'i Baidhawi, Abdullah bin Muhammad. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil (Tafsir Baidhawi). Beirut: Dar al-Fikr, 1418 H.
  • Syafi'i, Muhammad bin Idris. Al-Umm. Beirut: Dar al-Fikr, 1403 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. tahqiq Ahmad Habib Qasir Amili, tanpa tempat, Maktab al-I'lam al-Islami, 1409 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad. Tahdzib al-Ahkam fi Syarh al-Muqni'ah li al-Syekh al-Mufid. tahqiq Hasan Musawi, Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. keempat, 1365 Sy.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh al-Tabari). Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, tanpa tahun.
  • Thabathabai, Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1412 H.
  • Tirmidzi, Muhammad. Sunan Al-Tirmidzi. tahqiq Abdul Rahman Muhammad Utsman, Beirut: Dar Al-Fikr, cet. kedua, 1403 H.
  • Wahidi Nisyaburi, Ali bin Ahmad. Asbab Nuzul al-Ayat. Kairo: Muassasah al-Halabi wa Syarikah, 1388 H.