Konsep:Ayat 33 Surah Al-Isra
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Al-Isra' |
| Ayat | 33 |
| Juz | 15 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Ada |
| Tempat Turun | Mekkah |
| Tentang | Akhlak, Fikih |
| Deskripsi | Qisas dan keharaman membunuh serta mutilasi |
Ayat 33 Surah Al-Isra menguraikan tentang keharaman menghilangkan nyawa manusia serta tata cara pelaksanaan Qisas.[1] Menurut para mufasir, ayat ini terletak di antara rangkaian ayat yang membahas persoalan fundamental dalam ranah akhlak dan syariat, seperti larangan membunuh anak-anak, keharaman Zina, kecurangan dalam mengurangi timbangan, urgensi menjaga harta anak yatim, serta kewajiban menepati janji.[2] Nashir Makarim Syirazi memandang bahwa rangkaian ayat tersebut menggarisbawahi enam hukum syar'i krusial.[3] Sejalan dengan itu, Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i meyakini bahwa ayat-ayat ini memaparkan prinsip-prinsip universal terkait akhlak dan syariat Islam.[4]
Melalui frasa "Faqad ja'alna liwaliyyihi sulthana" (Maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya), para mufasir menjelaskan bahwa Allah Swt. memberikan hak qisas kepada ahli waris korban. Hak ini memberikan legitimasi bagi mereka untuk mengeksekusi pelaku pembunuhan, menerima diat (tebusan ganti rugi), ataupun memberikan pemaafan.[5]
Adapun frasa "La yusrif fi al-qatl" (Janganlah ia melampaui batas dalam membunuh) ditafsirkan sebagai bentuk intervensi Al-Qur'an terhadap tradisi balas dendam yang berlaku pada masa Jahiliah. Pada era tersebut, keluarga korban kerap membunuh banyak individu dari kabilah pelaku sebagai bentuk pembalasan. Melalui penggalan ayat ini, Al-Qur'an secara tegas melarang praktik balas dendam yang zalim dan eksesif tersebut.[6] Lebih lanjut, Imam Shadiq as menafsirkan frasa ini sebagai larangan keras terhadap metode pembalasan yang keji, seperti praktik Mutsla (mutilasi atau pemotongan anggota tubuh) terhadap pelaku pembunuhan.[7]
| “ | وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا
|
” |
Dan janganlah kamu membunuh diri seseorang manusia yang diharamkan oleh Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar. Dan sesiapa yang dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan warisannya berkuasa menuntut balas. Dalam pada itu, janganlah ia melampau dalam menuntut balas bunuh itu, kerana sesungguhnya ia adalah mendapat sepenuh-penuh pertolongan (menurut hukum Syarak).
Berdasarkan landasan ayat 33 Surah Al-Isra', penumpahan darah manusia hanya diizinkan dalam kondisi-kondisi khusus yang dibenarkan oleh syariat, seperti pelaksanaan Qisas, eksekusi terhadap pezina muhshan, serta hukuman bagi pelaku tindak pidana Murtad.[8][9]
Dalam khazanah literatur hadis Syiah, sebagian riwayat mengkorelasikan ayat ini dengan peristiwa kebangkitan Imam Mahdi as serta penuntutan qisas atas darah para Syuhada Karbala. Imam Baqir as menafsirkan term "Wali" dalam ayat tersebut sebagai representasi dari Imam Mahdi as,[10] sementara Imam Shadiq as menafsirkannya dalam konteks kedudukan Imam Husain as.[11] Selain itu, ketika menjawab pertanyaan seputar pelaksanaan qisas terhadap keturunan para pembunuh Imam Husain as, Imam Ridha as menegaskan bahwa apabila keturunan tersebut rida (menyetujui) perbuatan keji leluhur mereka, maka status hukum mereka disamakan dengan para pelaku kejahatan itu sendiri.[12]
Lihat Pula
Catatan Kaki
- ↑ Qummi Masyhadi, Tafsir Kanz ad-Daqa'iq, 1367 HS, jld. 7, hlm. 403; 'Ayyashi, Tafsir al-'Ayyashi, 1381 H, jld. 2, hlm. 291.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 12, hlm. 90-111.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 12, hlm. 90.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, Beirut, jld. 13, hlm. 78.
- ↑ Thusi, At-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, jld. 6, hlm. 475; Qummi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jld. 2, hlm. 19.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 12, hlm. 108.
- ↑ Hurr Amili, Tafshil Wasa'il asy-Syi'ah, 1416 H, jld. 29, hlm. 127.
- ↑ Abu as-Su'ud, Tafsir Abi as-Su'ud, Beirut, jld. 5, hlm. 170.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 12, hlm. 105.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1368 HS, jld. 44, hlm. 218.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1389 H, jld. 8, hlm. 255.
- ↑ Syekh Shaduq, Ilal asy-Syara'i, Maktabah ad-Dawari, jld. 1, hlm. 229.
Daftar Pustaka
- Abu as-Su'ud, Muhammad bin Muhammad. Tafsir Abi as-Su'ud. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
- 'Ayyashi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-'Ayyashi. Teheran, Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyyah, 1381 H.
- Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Tafshil Wasa'il asy-Syi'ah ila Tahshil Masa'il asy-Syari'ah. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as), 1416 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1348-1367 HS/1389 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1368 HS / 1403-1413 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
- Qummi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Ridha. Tafsir Kanz ad-Daqa'iq. Teheran, Vezarat-e Farhang va Ersyad-e Eslami, 1367 HS.
- Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
- Suyuthi. Tafsir Durr al-Mantsur. Qom, Maktabah Ayatullah al-Uzhma al-Mar'asyli an-Najafi (ra), 1404 H.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Ilal asy-Syara'i. Qom, Maktabah ad-Dawari, tanpa tahun.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
- Thabathaba'i, Muhammad Husain. Al-Mizan. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, tanpa tahun.