Lompat ke isi

Konsep:Ayat 106 Surah An-Nahl

Dari wikishia
Ayat 106 Surah An-Nahl
Informasi Ayat
SurahAn-Nahl
Ayat106
Juz14
Informasi Konten
Sebab
Turun
Tentang Ammar bin Yasir
Tempat
Turun
Makkah
TentangAkidah dan Fikih


Ayat 106 Surah An-Nahl (bahasa Arab: آیه ۱۰۶ سوره النحل) berbicara tentang dua kelompok yang setelah beriman, menampakkan kekufuran; orang-orang yang di bawah siksaan dan tekanan, berlepas diri dari imannya secara lahiriah, dan orang-orang yang beralih kepada kekufuran secara bebas. Berdasarkan ayat ini, kelompok pertama mendapatkan ampunan Ilahi; namun kelompok kedua tertimpa murka Ilahi dan azab-Nya yang dahsyat.

Para mufasir Al-Qur'an berpendapat bahwa ayat ini turun mengenai Ammar bin Yasir. Ammar di bawah siksaan kaum musyrikin, secara terpaksa mengucapkan kata-kata berlepas diri dari Islam dan Nabi saw. Karena alasan inilah, sebagian orang mengira dia telah menjadi kafir. Ketika Nabi saw mengetahui peristiwa tersebut, beliau bersabda bahwa Ammar, dari ujung rambut hingga ujung kaki dipenuhi oleh Iman dan Tauhid telah bercampur dengan daging dan darahnya.

Para fukaha dan mufasir Syiah bersandar pada ayat ini untuk membuktikan legitimasi Taqiyah dan kaidah ikrah (paksaan).

Pengenalan

Ayat 106 Surah An-Nahl mengisyaratkan kepada dua kelompok dari orang-orang yang telah memeluk Islam kemudian menempuh jalan kekufuran:[1]

  • Kelompok yang tertangkap oleh musuh-musuh Islam dan di bawah tekanan serta siksaan mengucapkan kata-kata berlepas diri dari Islam, sementara hati mereka dipenuhi oleh Iman. Kelompok ini melakukan hal tersebut demi menjaga nyawa dan menyimpan kekuatan untuk memperkuat agama, dan mereka mendapatkan ampunan.[2]
  • Orang-orang yang mengubah haluan keyakinan mereka secara total dan beralih kepada kekufuran. Kelompok ini tertimpa murka Ilahi dan azab-Nya yang dahsyat.[3]

Teks dan Terjemahan

۞مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

 (Terjemahan: Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.) [ A-Nahl-106 ]

Terjemahan Nashir Makarim Syirazi

Sebab Turun

Banyak dari mufasir Syiah dan Ahlusunah menganggap sebab turun ayat 106 Surah An-Nahl ini berkaitan dengan Ammar bin Yasir.[4] Ammar di bawah siksaan kaum musyrikin terpaksa mengucapkan kata-kata berlepas diri dari Islam dan Nabi saw, sehingga sebagian orang mengira bahwa Ammar telah menjadi Kafir. Nabi saw sebagai reaksi atas desas-desus ini bersabda: "Ammar dari ujung rambut hingga ujung kaki dipenuhi oleh Iman dan Tauhid telah bercampur dengan daging dan darahnya". Juga setelah bertemu dengan Ammar, beliau bersabda kepadanya: "Jika engkau berada dalam kesulitan lagi, engkau boleh menampakkan berlepas diri", dan kemudian ayat ini turun.[5]

Sebagian juga mengatakan ayat ini turun mengenai sebagian penduduk Makkah yang setelah beriman kepada Nabi saw hendak berhijrah ke Madinah; namun mereka tertangkap oleh musyrikin Quraisy dan dipaksa untuk mengucapkan kekufuran dan menampakkan berlepas diri dari Nabi (saw).[6]

Dalil Legitimasi Taqiyah

Ulama Syiah bersandar pada ayat ini untuk legitimasi dan kebolehan Taqiyah.[7] Dengan penjelasan bahwa di mana pun terdapat bahaya yang mengancam nyawa manusia, dalam kondisi darurat, menampakkan kekufuran tanpa niat irtidad (keluar dari agama) adalah diperbolehkan.[8] Dalam sebagian riwayat yang datang dari Para Imam Syiah mengenai taqiyah, ayat ini telah disinggung.[9]

Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa Syari' (Pembuat Hukum) tidak memiliki tujuan selain menghidupkan kebenaran. Terkadang taqiyah dan bertindak sesuai keinginan musuh serta penentang kebenaran, menjamin kemaslahatan agama dan kehidupan sedemikian rupa sehingga meninggalkan taqiyah tidak dapat menjaminnya.[10]

Dalil Penetapan Kaidah Ikrah

Ayat 106 Surah An-Nahl termasuk dalil yang dijadikan sandaran oleh para fukaha untuk menetapkan kaidah ikrah (paksaan) atau mengangkat tanggung jawab dari individu yang dipaksa (mukrah).[11] Dikatakan bahwa berdasarkan ayat ini, mengucapkan ungkapan-ungkapan yang mengandung kekufuran dan mengagungkan manifestasi kesyirikan dalam kondisi terpaksa dan ikrah adalah boleh. Maka melalui thariq aula (prioritas logis), dalam kasus-kasus lain juga diperbolehkan dan tanggung jawab terangkat dari individu yang dipaksa.[12]

Catatan Kaki

  1. Fakhrur Razi, at-Tafsir al-Kabir, 1420, jld.20, hlm.273; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld.11, hlm.419.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld.11, hlm.419.
  3. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld.11, hlm.419.
  4. Sebagai contoh lihat: Syekh Thusi, at-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld.6, hlm.428; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415, jld.6, hlm.203; Thabathaba'i, al-Mizan, 1363 HS, jld.12, hlm.358; Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 1384, jld.10, hlm.180; Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran al-Azhim, 1419, jld.4, hlm.520; Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, 1418, jld.3, hlm.422.
  5. Syekh Thusi, At-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld.6, hlm.428; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415, jld.6, hlm.203; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1363 HS, jld.12, hlm.358; Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 1384, jld.10, hlm.180; Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran al-Azhim, 1419, jld.4, hlm.520; Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, 1418, jld.3, hlm.422.
  6. Wahidi, Asbab Nuzul Al-Quran, 1411, hlm.289.
  7. Sebagai contoh lihat: Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393, jld.3, hlm.153; Makarim Syirazi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyyah, 1416, jld.1, hlm.392-393; Ruhani, Fiqh ash-Shadiq, 1413, jld.11, hlm.396.
  8. Makarim Syirazi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyyah, 1416, jld.1, hlm.393.
  9. Sebagai contoh lihat: Hurr Amili, Wasa'il asy-Syi'ah, 1416, jld.16, hlm.225-227 dan 230.
  10. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran, 1393, jld.3, hlm.153.
  11. Muhaqqiq Damad, Qawa'id Fiqh, 1406, jld.4, hlm.97.
  12. Muhaqqiq Damad, Qawa'id Fiqh, 1406, jld.4, hlm.97-98.

Daftar Pustaka

  • Baidhawi, Abdullah bin Umar. Tafsir al-Baidhawi (Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta'wil). Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1418.
  • Fakhrur Razi, Muhammad bin Umar. At-Tafsir al-Kabir. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1420.
  • Himyari, Abul Abbas. Qurb al-Isnad. Qom, Muassasah Al al-Bait as, 1413.
  • Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Wasa'il asy-Syi'ah. Qom, Muassasah Al al-Bait, 1416.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Quran al-Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1419.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Al-Qawa'id al-Fiqhiyyah. Qom: Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, Cetakan ketiga, 1370 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
  • Muhaqqiq Damad, Musthafa. Qawa'id Fiqh. Teheran: Markaz-e Nashr-e Ulum-e Eslami, Cetakan kedua belas, 1406.
  • Qurthubi, Syamsuddin. Tafsir al-Qurthubi. Kairo, Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1384.
  • Ruhani, Sayid Muhammad Shadiq. Fiqh ash-Shadiq. Qom: Penerbit Dar al-Fikr, 1413.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir Al-Quran. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Tanpa Tanggal.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut: Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan pertama, 1415.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran. Beirut: Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1393.
  • Wahidi, Ali bin Ahmad. Asbab Nuzul Al-Quran. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1411.