Konsep:Ayat 102 Surah At-Taubah
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat 102 Surah At-Taubah |
| Surah | At-Taubah |
| Ayat | 102 |
| Juz | 11 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Kelompok yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk, kemudian menyesal dan bertobat, dan Allah menerima tobat mereka. |
Ayat 102 Surah At-Taubah (bahasa Arab:آیة ۱۰۲ سورة التوبه) berkisah tentang Abu Lubabah al-Anshari dan beberapa orang sahabat Nabi saw yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk, namun kemudian menyesal dan bertobat, lalu Allah menerima tobat mereka. Menurut para mufasir, Ayat ini menunjukkan bahwa pengakuan yang tepat waktu menjadi landasan bagi tobat. Struktur ayat ini menunjukkan penguatan harapan bagi mereka yang mengakui Dosanya.
Penguatan Harapan bagi Pengaku Dosa
Ayat 102 Surah At-Taubah turun mengenai sekelompok muslim yang mengabaikan perintah Nabi saw untuk pergi ke Perang Tabuk. Kelompok ini juga memiliki amal saleh dan mereka mengakui kesalahannya; oleh karena itu tobat mereka diterima.[1]
"Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang." (QS. At-Taubah : 102)
Menurut Abdullah Jawadi Amuli, mufasir Syiah, struktur ayat 102 Surah At-Taubah serta kata kerja dan sifat yang digunakan di dalamnya, mengarah pada penguatan jiwa harapan (raja') bagi mereka yang mengakui dosa dan memberi harapan akan pengampunan:[2]
- Mendahulukan pengakuan atas dosa dalam Ayat «وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ» (Dan ada (pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka).
- Menyebutkan amal saleh sebelum amal buruk: «خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا» (mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk).
- Penggunaan kata kerja «عَسَى» ('asa/mudah-mudahan) untuk menghidupkan harapan di dalam hati dan menempatkan seseorang di antara khauf dan raja (takut dan harap).[3]
- Menguatkan sisi harapan (raja') dengan menggunakan huruf penegas «إِنَّ» (sesungguhnya) dan dua sifat Ghafur (Maha Pengampun) dan Rahim (Maha Penyayang): «إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ».[4]
Asbabun Nuzul
Asbabun Nuzul Ayat ini dianggap berkaitan dengan Abu Lubabah al-Anshari dan beberapa orang sahabat Nabi saw lainnya yang menahan diri untuk tidak ikut serta dalam Perang Tabuk. Namun ketika mereka mendengar ayat-ayat kecaman terhadap orang-orang yang tidak ikut perang, mereka menyesal dan mengikat diri mereka di salah satu tiang Masjid Nabawi serta bersumpah tidak akan melepaskan diri dari tiang tersebut sampai Nabi saw yang melepaskan mereka. Rasulullah saw bersabda: "Aku pun bersumpah tidak akan melakukan hal itu (melepaskan mereka) kecuali Allah mengizinkanku." Maka turunlah ayat 102 Surah At-Taubah dan Allah menerima tobat mereka, lalu Nabi saw melepaskan ikatan mereka dari tiang masjid.[5]
Berdasarkan sebagian riwayat lain, kisah ini berkaitan dengan peran Abu Lubabah al-Anshari dalam peristiwa Bani Quraizhah. Bani Quraizhah yang merupakan sekelompok Yahudi bermusyawarah dengannya apakah mereka harus menyerah pada keputusan Nabi saw atau tidak? Ia berkata (memberi isyarat): "Jika kalian menyerah, kalian semua akan disembelih!" Kemudian ia menyesali perkataannya ini dan bertobat, lalu mengikat dirinya di tiang masjid, dan turunlah ayat 102 Surah At-Taubah dan Allah menerima tobatnya.[6] Tiang ini dikenal sebagai Tiang Taubat dan memiliki keutamaan serta kedudukan khusus di kalangan muslim.[7]
Catatan Kaki
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1394 HS, jld. 35, hlm. 209.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1394 HS, jld. 35, hlm. 212.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 377.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 377.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 100; Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1371 HS, jld. 8, hlm. 114–115.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 101; Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1371 HS, jld. 8, hlm. 115.
- ↑ Mohri, Ahsan al-Qashash, 1391 HS, hlm. 469.
Daftar Pustaka
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom: Asra', cetakan pertama, 1394 HS.
- Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Namunah. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Mohri, Muhammad Jawad. Ahsan al-Qashash. Qom: Intisharat-e Ayin-e Danesy, cetakan kedua, 1391 HS.
- Sayid bin Thawus, Ali bin Musa. Al-Iqbal bi al-A'mal al-Hasanah. Riset dan koreksi: Jawad Qayyumi Isfahani. Qom: Daftar-e Tablighat-e Eslami, cetakan pertama, 1376 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Quran. Lebanon: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Koreksi: Hasyim Rasuli dan Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i. Teheran: Nashir Khusro, cetakan ketiga, 1372 HS.