Shahib Fakh (bahasa Arab:صاحب فخّ) adalah lakab Husain bin Ali salah seorang keturunan Imam Hasan Mujtaba as dan pemimpin kebangkitan Fakh. Ia melakukan kebangkitan pada tahun 169 H di masa Imam Kazhim as melawan Hadi Abbasiyah dan syahid di wilayah Fakh. Berdasarkan riwayat dari Imam Jawad as, setelah peristiwa Karbala, peristiwa Fakh adalah cobaan terberat bagi Ahlulbait as. Dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh Abu al-Faraj Isfahani, Nabi saw dan Imam Shadiq as telah meramalkan terbunuhnya Husain bin Ali di Fakh dan memberikan kabar gembira bahwa ia termasuk ahli surga.

Shahib Fakh
Nama LengkapHusain bin Ali bin Hasan bin Hasan bin Hasan bin Ali as
Sahabat dariImam Shadiq as
GelarShahib Fakh
Kerabat termasyhurNafs Zakiyah * Ibrahim bin Abdullah (Qatil Bakhamra]]
LahirSekitar tahun 128 H
Wafat/Syahadah8 Dzulhijjah 169 H, di Fakh, sebuah daerah di dekat Makkah
Penyebab
Wafat / Syahadah
Peristiwa Fakh
AktivitasMelakukan perlawanan melawan pemerintahan Abbasiyah


Aktivitas politik terpenting Shahib Fakh adalah Kebangkitannya. Tetapi, beberapa penelaah berpendapat bahwa ia juga memiliki aktivitas politik lain sebelum kebangkitan ini. Husain Fakhkhi melakukan kebangkitan di Madinah pada bulan Dzulqa'dah tahun 169 H dan setelah menguasai Madinah, ia bergerak menuju Makkah dengan 300 pasukan. Pada tanggal 8 Dzulhijjah, ia berperang melawan pasukan Abbasiyah di sebuah tempat yang disebut "Fakh". Akibat peperangan ini, Husain dan banyak dari pengikutnya terbunuh. Sebagian lainnya ditawan dan sebagian berhasil melarikan diri.

Allamah Majlisi memuji kepribadian Husain Fakhkhi, tetapi ia mengatakan bahwa ada juga kritikan terhadap kepribadiannya. Beberapa penelaah berpendapat bahwa meskipun ada riwayat-riwayat yang mendukung kepribadian Shahib Fakh, kita tidak bisa menggunakannya sebagai bukti bahwa kebangkitannya didukung oleh para imam Syiah.

Husain bin Ali dimakamkan di daerah Fakh dan Imam Kazhim as melaksanakan salat jenazah atas jenazahnya. Daerah Fakh terletak empat kilometer dari Masjidil Haram, di mana sekarang dikenal dengan nama daerah Syuhada.

Pengenalan dan Urgensi Pembahasan

Husain bin Ali dikenal dengan sebutan Shahib Fakh, di mana dari pihak ayah dan ibu berasal dari keturunan Imam Hasan as.[1] Berdasarkan syahidnya pada tahun 169 H di usia 41 tahun,[2] para penelaah memperkirakan ia lahir pada tahun 128 H.[3] Tetapi, dalam laporan lain disebutkan bahwa usia kematiannya adalah 57 tahun[4] Ayahnya adalah Ali (terkenal dengan sebutan Ali yang mulia dan berbudi luhur) dan ibunya adalah Zainab, putri Abdullah Mahdh, di mana terkenal sebagai pasangan saleh karena banyaknya ibadah mereka.[5] Ayah Shahib Fakh, yaitu Ali, ditangkap atas perintah Manshur Abbasi saat bergabung dalam kebangkitan Nafs Zakiyyah bersama sekelompok orang Alawi lainnya dan meninggal tidak lama kemudian di dalam penjara.[6]

Shahib Fakh diperkenalkan sebagai seorang yang berani dan dermawan[7] dan terdapat berbagai riwayat yang menjelaskan tentang kedermawanannya.[8] Syekh Thusi, salah seorang fukaha Syiah pada abad keempat dan kelima, memasukkannya sebagai salah satu sahabat Imam Shadiq as.[9] Ia tidak memiliki keturunan.[10] Berdasarkan riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Faraj Isfahani, penulis Maqatil at-Talibiyyin, Nabi saw dan Imam Shadiq as telah meramalkan terbunuhnya Husain bin Ali di Fakh dan memberikan kabar gembira bahwa ia akan masuk surga.[11] Menurut riwayat dari Imam Jawad as, setelah peristiwa Karbala, peristiwa Fakh adalah cobaan terberat bagi Ahlulbait as.[12]

Menurut laporan Baihaqi dalam kitab Lubab al-Ansab, setelah wafatnya Sahib Fakh, Imam Kazhim as mensalati jenazah atas jasadnya.[13] Imam as menangis atas syuhada Fakh dan memohon kepada Allah agar menjatuhkan kematian dan siksa berat atas pembunuh mereka.[14] Menurut riwayat Abu al-Faraj Isfahani, setelah Husain bin Ali terbunuh dan kepalanya terpenggal, Imam Kazhim membaca ayat istirja' dan memuji kebaikannya serta menyebutnya sebagai seorang yang jujur.[15] Selain itu, Imam Kazhim as juga mengambil tanggungjawab untuk memelihara anak-anak yatim dan janda dari kaum Alawiyyin yang terbunuh di Fakh.[16] Peristiwa Fakh juga tercermin dalam puisi-puisi beberapa penyair, termasuk puisi tā'iyyah yang ditulis oleh Di'bil Khuza'i.[17]

Posisi Imamiyah Mengenai Husain

Allamah Majlisi, pengarang buku Bihar al-Anwar memuji sosok Husain Fakhkhi, tetapi ia juga berpendapat bahwa terdapat kritikan-kritikan terhadapnya.[18] Beberapa penelaah berpendapat bahwa meskipun ada riwayat-riwayat yang mendukung kepribadian Shahib Fakh, tidak ada bukti pasti yang menunjukkan bahwa kebangkitannya mendapat dukungan dari para Imam Syiah.[19] Rasul Ja'farian, seorang sejarawan, juga menilai kebangkitan Fakh sebagai salah satu pemberontakan Alawiyyin terhadap Abbasiyah yang paling bersih, namun ia menulis bahwa tidak ada kepastian bahwa kebangkitan ini dilakukan atas perintah Imam Kazhim as. Malah, dapat dikatakan bahwa orang-orang Syiah Imamiyah tidak setuju dengan kebangkitan-kebangkitan tersebut, di mana dalam masalah ini mereka terlibat perselisihan dengan kelompok Alawiyyin.[20]

Aktifitas-aktifitas Politik

Menurut beberapa penelaah, aktivitas politik Husain sebelum tahun 169 H tidak terlalu jelas.[21] Namun, untuk pergerakan politiknya sebelum peristiwa Fakh, mereka menyebutkan bukti-bukti berikut: Husain bin Ali dipanggil ke Baghdad pada masa pemerintahan Mahdi Abbasi karena kekhawatiran rezim khalifah atas aktivitasnya, kekerasan yang dilakukan Hadi Abbasi dan wakilnya di Madinah terhadap kaum Alawiyyin serta tuduhan bahwa Husain memiliki ambisi untuk berkuasa.[22]

Menurut laporan Abu al-Faraj Isfahani, Sahib Fakh juga turut serta dalam kebangkitan Nafs Zakiyyah, tetapi Nafs Zakiyyah melarangnya untuk bergabung, dengan harapan agar Shahib Fakh dapat melanjutkan perjuangannya di masa mendatang.[23] Berdasarkan riwayat Ibnu Taghribirdi, seorang sejarawan abad kesembilan Hihriah, menyebutkan bahwa Husain juga pernah melakukan kebangkitan sebelum tahun 169 Hihriah.[24] Beberapa laporan menyatakan bahwa beberapa saat sebelum kebangkitannya, sejumlah Syiah Kufah telah berbaiat kepada Husain agar mereka dapat melakukan kebangkitan bersama-sama selama musim haji dan menguasai Makkah.[25]

Peristiwa Fakh

Husain Fakhkhi melakukan kebangkitan di Madinah pada bulan Dzulqa'dah tahun 169 Hijriah.[26] Upaya pihak pemerintah di Madinah untuk menghadapi Husain Fakh tidak membuahkan hasil dan berakhir dengan kekalahan serta terbunuhnya beberapa orang dari mereka.[27] Menurut nukilan Thabari, penguasaan pemberontak atas Madinah hanya berlangsung selama sebelas hari.[28] Shahib Fakh mengangkat seorang bernama Dinar Khuza'i sebagai gubernur Madinah dan kemudian ia sendiri berangkat bersama 300 orang pengikutnya[29] menuju Makkah pada tanggal 24 Zulqa'dah.[30]

Abbasiyah dengan pasukan empat ribu pasukan pada tanggal 8 Zulhijjah (hari Tarwiyah) berhadap-hadapan dengan pasukan Husain di tempat yang bernama "Fakh".[31] Komandan Abbasiyah memberikan ampunan kepada Husain, tetapi Husain tidak menerimanya dan dalam pertempuran yang terjadi, Husain dan sebangian besar pengikutnya tewas.[32] Selain itu, sekelompok pengikut Husain ditawan dan sebagian lainnya melarikan diri.[33] Bani Abbas membunuh beberapa tawanan[34] dan mengirim sejumlah lainnya bersama dengan kepala syuhada ke Bagdad kepada Hadi Abbasi.[35]

Wilayah Fakh

Wilayah Fakh atau daerah Syuhada Makkah terletak di bagian utara Makkah, sekitar empat kilometer dari Masjidil Haram.[36] Wilayah ini merupakan makam beberapa orang Muhajirin.[37] Menurut para penelaah, makam syuhada Fakh di daerah Syuhada Makkah terbagi menjadi dua bagian:[38] Sebagian syuhada Fakh dikuburkan di tempat yang terkurung, yang di dinding kuburannya terdapat papan bertuliskan "Makam Abdullah bin Umar No.2". Kuburan sejumlah lainnya terletak di lereng Gunung Fakh ("Gunung Al-Barûd" atau "Gunung Syahid")[39] yang berhadapan dengan lokasi tersebut.[40] Pada tahun 601 H, sebuah bangunan didirikan di atas makam Shahib Fakh.[41] Di samping Gunung Fakh, terdapat suatu dataran bernama "Dzî Tuwâ" yang disebutkan sebagai tempat diadakannya pertemuan suku Quraisy dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.[42]

Monografi

Beberapa buku yang ditulis dengan tema peristiwa Fakh, antara lain:

  • Mahiyat-e Qiyam Syahid-e Fakh (Esensi Kebangkitan Syahid Fakh), karya Abu Fadhil Razawi Ardakani: Penulis mengulas kepribadian Husain bin Ali dan substansi serta proses kebangkitannya dalam sebelas bab.[43] Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Daftar Tablighat-e Islami pada tahun 1375 S dalam 280 halaman.[44]
  • Bathalun Fakh (Pahlawan Fakh), karya Muhammad Hadi Amini: Buku ini diterbitkan pada tahun 1388 H atas upaya Penerbit Al-Mathba'ah Al-Haydariyyah di Najaf, dalam 206 halaman.[45]

Catatan Kaki

  1. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 364.
  2. Haruni, al-Ifadah fi Tarikh al-Aimmah al-Sadah, hlm. 26-28.
  3. Razi, Akhbar Fakh, hlm. 44; Gulestani dan Mir Abu al-Qasimi, Shahib Fakh, hlm. 109.
  4. Baihaqi, Lubab al-Ansab, jld. 1, hlm. 412.
  5. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 364; al-Muhalli, al-Hadaiq al-Wardiyah, jld. 1, hlm. 317.
  6. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 176.
  7. Ibnu Atsir, al-Kamil, jld. 6, hlm. 94; Haruni, al-Ifadah fi Tarikh al-Aimmah al-Sadah, hlm. 26.
  8. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 368-371.
  9. Thusi, Rijal al-Thusi, hlm. 182.
  10. Bukhari, Sirru al-Silsilah al-'Alawiyah, hlm. 15.
  11. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 366-367.
  12. Bukhari, Sirru al-Silsilah al-'Alawiyah, hlm. 14-15.
  13. Baihaqi, Lubab al-Ansab, jld. 1, hlm. 412.
  14. Amini, Bathala Fakh, hlm. 139.
  15. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 380.
  16. Amini, Bathala Fakh, hlm. 139.
  17. Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah, jld. 2, hlm. 322.
  18. Majlisi, al-Wajizah fi al-Rijal, hlm. 64.
  19. Syarifi, Aimmah wa Qiyamuha Syi'i, hlm. 89-90.
  20. Ja'farian, Hayat-e Fikri va Siyasi-e Emaman-e Syieh, hlm. 389.
  21. Razi, Akhbar Fakh, hlm. 44; Gulestani dan Mir Abu al-Qasimi, Shahib Fakh, hlm. 109.
  22. Gulestani dan Mir Abu al-Qasimi, Shahib Fakh, hlm. 109.
  23. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 246.
  24. Ibnu Tagri, al-Nujum al-Zahirah, jld. 2, hlm. 59.
  25. Husaini, al-Mashabih, hlm. 468.
  26. Husaini, al-Mashabih, hlm. 466; Haruni, al-Ifadah fi Tarikh al-Aimmah al-Sadah, hlm. 26
  27. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 8, hlm. 194.
  28. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 8, hlm. 195.
  29. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 377.
  30. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 8, hlm. 195.
  31. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, jld. 3, hlm. 326.
  32. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 8, hlm. 195-200; Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 377-379.
  33. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 8, hlm. 195-200; Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 377-379.
  34. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, jld. 3, hlm. 327.
  35. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 380.
  36. Askari, Az Qiyam-e Fakh va Syuda-e ān dar Makkeh Ce Midanid?, site hajj.ir.
  37. Ibnu Atsir, Usud al-Ghabah, jld. 5, hlm. 325.
  38. Lihyani, Hayyu al-Syuhada Ardh Ma'rakah Fakkhi al-Tarikhiyah, site makkahnewspaper.com, Askari, Az Qiyam-e Fakh va Syuda-e ān dar Makkeh Ce Midanid?, site hajj.ir.
  39. Lihyani, Hayyu al-Syuhada Ardh Ma'rakah Fakkhi al-Tarikhiyah, site makkahnewspaper.com.
  40. Askari, Az Qiyam-e Fakh va Syuda-e ān dar Makkeh Ce Midanid?, site hajj.ir.
  41. Al-Muhalli, al-Hadaiq al-Wardiyah, jld. 1, hlm. 328.
  42. Askari, Az Qiyam-e Fakh va Syuda-e ān dar Makkeh Ce Midanid?, site hajj.ir.
  43. Razawi Ardakani, Mahiyat-e Qiyam Syahid-e Fakh.
  44. Razawi Ardakani, Mahiyat-e Qiyam Syahid-e Fakh.
  45. Amini, Bathalun Fakh.

Daftar Pustaka

  • Abu al-Faraj Isfahani, Ali bin Husain. Maqatil al-Thalibi. Beirut: Yayasan al-A'lami li al-Mathbu'at, cet. 3, 1419 H.
  • Al-Muhalli, Hamid bin Ahmd. al-Hadaiq al-Wardiyah fi Manaqib al-Aimmah al-Zaidiyah. San'a: Perpustakaan Badr, 1423 H.
  • Amini, Muhammad Hadi. Bathala Fakh. Beirut: 1388 H.
  • Askari, Muhammad Husain. Az Qiyam-e Fakh va Syuda-e ān dar Makkeh Ce Midanid?. Site hajj.ir, diakses 29 Bahman 1392 HS, dilihat 13 Mehr 1399 HS.
  • Baihaqi, Ali bin Zaid. Lubab al-Ansab wa al-A'qab. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1428 H.
  • Bukhari, Sahl bin Abdullah. Sirru al-Silsilah al-'Alawiyah. Najaf: Perpustakaan al-Haidariyah, 1963 M.
  • Gulestan, Parvin dan Mir Abu al-Qasimi. Sayidah Ruqayah (Shahib Fakh). Dalam Ensiklopedia Eslam, jld. 29. Teheran: Bunyad dairah al-Ma'arif Islami, 1400 HS.
  • Haruni, Yahya bin Hasan. al-Ifadah fi Tarikh al-Aimmah al-Sadah. Teheran: Pusat Penelitian Mirats Maktub, 1387 HS.
  • Husaini, Ahmad bin Ibrahim. al-Mashabih. San'a: Yayasan al-Imam Zaid bin Ali al-Tsaqafiah, 1423 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Dar Shadir, 1385 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usud al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H.
  • Ibnu Tagri Bardi, Yusuf. al-Nujum al-Zahirah fi Muluk Mishr wa al-Qahirah. Qom: Kementrian Kebudayaan dan Pengajaran, 1392 H.
  • Irbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah. Tabriz: Penerbit Bani Hasyimi, 1381 H.
  • Ja'farian, Rasul. Hayat-e Fikri va Siyasi-e Emaman-e Syieh. Qom: Penerbit Ansharian, 1387 HS,
  • Lihyani, Badr. Hayyu al-Syuhada Ardh Ma'rakah Fakkhi al-Tarikhiyah. Site makkahnewspaper.com, Diakses 9 April 2015 M, dilihat 31 Urdibehest 1402 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. al-Wajizah fi al-Rijal. Teheran: Kementrian Kebudayaan dan Pengajaran Islam, 1420 H.
  • Mas'udi, Ali bin Hasain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Qom: Dar al-Hijrah, 1409 H.
  • Razawi Ardakani, Sayid Abu Fadhil. Mahiyat-e Qiyam Syahid-e Fakh. Qom: Kantor Tabligat-e Eslami Hauzah Ilmiah Qom, cet. 2, 1375 HS.
  • Razi, Ahmad bin Sahl. Akhbar Fakh wa Khabar Yahya bin bin Abdullah wa Akhihi Idris bin Abdullah, Riset: Mahir Jarrar. Beirut: Dar al-Garb al-Islami, 1995 M.
  • Syarifi, Muhsin. Aimmah wa Qiyamuha Syi'i. Dalam triwulan Thulu', vol. 17, musim semi, 1385 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Rijal al-Thusi. Qom: Yayasan Penerbit Islami, 1373 HS.