Konsep:Salat Jumat di masa ghaib
Templat:Artikel Terkait Templat:Ahkam Templat:Tentang 2 Salat Jumat di masa ghaib adalah salah satu topik yang kontroversial di kalangan pakar fikih Syiah. Pertanyaan utama dalam hal ini adalah apa hukum penegakan Salat Jumat pada masa keghaiban para Imam? Dan apakah kehadiran atau izin Imam Maksum diperlukan untuk menyelenggarakan salat Jumat? Pandangan para pakar fikih Syiah telah diklasifikasikan oleh Borujerdi ke dalam empat teori dan oleh Murtadha Ha'iri Yazdi ke dalam tujuh teori. Sekelompok pakar fikih berpendapat pada hukum Haram, sekelompok pada Wajib Ta'yini, dan sekelompok lainnya pada Wajib Takhyiri.
Teori wajib takhyiri memperoleh akseptabilitas lebih besar sejak abad ke-13 Hijriah dan seterusnya dan dianggap sebagai teori yang lazim. Berdasarkan teori ini, pada hari Jumat, mengerjakan salah satu dari dua salat, yaitu salat Jumat atau salat Zuhur, sudah mencukupi.
Perselisihan tentang Hukum Salat Jumat di Masa Ghaib
Penegakan salat Jumat pada masa keghaiban Imam Maksum merupakan salah satu topik yang diperdebatkan di antara pakar fikih Syiah, di mana sekelompok menyatakan keharamannya, sekelompok menyatakan kewajiban ta'yini-nya, dan sekelompok lainnya menyatakan kewajiban takhyiri-nya.[1]
Pandangan Pakar Fikih Syiah tentang Salat Jumat di Masa Ghaib
Ayatullah Borujerdi menukil empat pendapat berbeda dalam hal ini:
- Bagi seluruh Muslim, menegakkan salat Jumat adalah boleh bahkan merupakan Wajib Kifayah.
- Keberadaan Imam atau orang yang diangkat olehnya adalah syarat penegakan salat Jumat, oleh karena itu salat Jumat di masa ghaib adalah Haram.
- Izin Imam Maksum adalah syarat, dan izin ini telah diberikan kepada para pakar fikih.
- Izin Imam Maksum adalah syarat, dan izin ini telah diberikan kepada seluruh Mukmin.[2]
Murtadha Ha'iri Yazdi (w. 1364 HS) telah mengumpulkan tujuh teori dari para pakar fikih Syiah.[3] Ketujuh teori tersebut adalah:
- Salat Jumat pada masa ghaib Imam tidak disyariatkan dan salatnya pun batil.[4]
- Salat Jumat adalah Wajib Takhyiri, namun jika salat tersebut ditegakkan, maka ikut serta di dalamnya adalah wajib.[5]
- Menegakkan salat Jumat adalah wajib takhyiri, namun ikut serta di dalamnya tidak wajib dan mukallaf dapat mengerjakan Salat Zuhur.[6]
- Menegakkan salat Jumat bagi para Mujtahid memiliki hukum wajib takhyiri.[7]
- Menegakkan salat Jumat adalah wajib bagi fakih dan haram bagi orang lain.[8]
- Jika ada imam Jumat yang adil, maka salat Jumat atas semuanya adalah Wajib Ta'yini.[9]
- Menegakkan salat Jumat di masa ghaib adalah haram dan salatnya pun batil.[10]
Muhaqqiq al-Karaki pada tahun 921 H menulis sebuah buku untuk membuktikan kebolehan penegakan salat Jumat di masa ghaib Imam Maksum, yang pada hakikatnya dianggap sebagai risalah dalam tema Wilayah Faqih. Beberapa ulama sezaman dan murid Karaki menulis risalah-risalah dalam mengkritik teorinya dan untuk membuktikan keharaman atau menolak kewajiban 'aini salat Jumat di masa ghaib.[11]
Mirza Javad Tabrizi dalam pelajaran kharij-nya menekankan bahwa dalam pembahasan ini harus dibedakan antara dua hal; pertama, apa hukum menegakkan salat Jumat yang wajib? Kedua, apa kewajiban umum Muslimin jika salat Jumat ditegakkan?[12]
Haram
Beberapa pakar fikih terdahulu Syiah termasuk Sallar al-Dailami[13] dan Ibnu Idris al-Hilli[14] serta mengikuti mereka banyak pakar fikih yang lebih belakangan termasuk Fadhil Hindi, menganggap legitimasi salat Jumat disyaratkan dengan kehadiran Imam Maksum atau kehadiran orang yang diangkat olehnya.[15] Para pengikut Fatwa keharaman salat Jumat dengan argumen bahwa kehadiran atau izin Imam adalah syarat keabsahannya, dan di masa ghaib izin semacam itu tidak ada, maka mereka tidak membolehkan penegakan salat Jumat di masa ini.[16] Mulla Khalil bin Ghazi Qazwini (w. 1089 H) dan putranya Mulla Salman bin Khalil Qazwini serta saudaranya Mohammad Baqir bin Ghazi juga berpendapat pada pengharaman salat Jumat pada masa ghaib dan telah menulis risalah-risalah dalam bidang ini.[17]
Selain itu, beberapa orang mengatakan bahwa Wali Faqih dalam pekerjaan-pekerjaan seperti menegakkan salat Jumat dan perintah Jihad, yang membutuhkan otoritas luas (basthul yad), tidak memiliki mandat dari Maksum.[18] Di antara dalil-dalil yang dijadikan sandaran para penganut keharaman adalah hadis-hadis yang di dalamnya terdapat ungkapan seperti "Imam" dan "Imam 'Adlin Taqiyy" (Imam yang adil lagi bertakwa) dan dikatakan bahwa menentang Imam dalam masalah salat Jumat menyebabkan kebinasaan, atau menegakkan salat Jumat tidak sah kecuali dengan kehadiran Imam yang adil dan bertakwa.[19] Imam Sajjad (as) juga dalam Shahifah Sajjadiyah[20] menganggap imamah Jumat sebagai kedudukan khusus bagi para pilihan Allah. Beberapa pakar fikih yang lebih belakangan menafsirkan maksud dari ungkapan-ungkapan tersebut dalam hadis-hadis ini bukan sebagai Imam Maksum dan menafsirkannya dengan konsep-konsep yang lebih umum yang juga mencakup Imam jemaah. Menurut pendapat mereka, dalam hadis-hadis tersebut penekanan utamanya adalah pada keharusan penyelenggaraan secara berjemaah.[21]
Wajib Ta'yini
Teori lainnya mengenai salat Jumat di masa ghaib adalah kewajiban ta'yini salat Jumat. Menurut pendapat sebagian pakar fikih, kapan pun syarat-syarat penegakan salat Jumat seperti masa kehadiran Imam terpenuhi, maka menegakkannya adalah wajib dan hal ini tidak membutuhkan pengangkatan umum atau khusus dari Imam Maksum. Selain itu dikatakan bahwa salat Jumat sebagaimana memberi Fatwa dan mengadili termasuk dari tugas dan urusan para pakar fikih pada masa ghaib.[22] Mayoritas penganut kewajiban penegakan salat Jumat di masa ghaib memiliki kecenderungan Akhbari, meskipun Syahid Tsani dan sejumlah Ushuli terkemuka lainnya juga mengikuti pendapat ini.[23]
Dalam kebanyakan sumber fikih awal Syiah yang tersedia, meskipun berdasarkan hadis-hadis ditekankan atas kewajiban salat Jumat, namun imamah dari Imam Maksum atau wakilnya tidak disyaratkan secara eksplisit.[24] Meskipun demikian, para pakar fikih Imamiyah pada abad-abad berikutnya menyebutkan kehadiran atau izin penguasa yang adil[25] atau Imam yang adil[26] sebagai bagian dari syarat penegakan salat Jumat. Syarat keadilan bagi imam Jumat hanya dikemukakan oleh para pakar fikih Syiah, sementara Ahlusunah tidak berpendapat demikian.[27]
Meskipun fatwa wajib ta'yini telah dikemukakan sedikit banyak di antara para pakar fikih sejak awal Ghaib Kubra,[28] namun pandangan ini dikemukakan secara serius oleh Syahid Tsani pada abad ke-10 Hijriah.[29] Beberapa pakar fikih termasuk cucu perempuannya, Shahibul Madarik, juga mengikutinya[30] dan pandangan ini menjadi populer pada periode Safawi terutama dengan memperhatikan latar belakang sosial dan politik yang ada.[31]
Wajib Takhyiri
Banyak pakar fikih dari periode pertengahan dan belakangan Syiah penganut kewajiban takhyiri salat Jumat pada masa ghaib. Muhaqqiq al-Hilli,[32] Allamah al-Hilli,[33] Ibnu Fahd al-Hilli,[34] Syahid Awwal,[35] dan Muhaqqiq al-Karaki termasuk di antaranya.[36] Maksud dari kewajiban takhyiri salat Jumat adalah bahwa pada waktu zuhur hari Jumat, yang harus dikerjakan adalah salat Jumat atau Salat Zuhur.[37] Beberapa penganut kewajiban takhyiri berkeyakinan bahwa meskipun penegakan salat bersifat pilihan, namun jika salat Jumat ditegakkan maka ikut serta di dalamnya menjadi wajib. Sebaliknya, dikatakan bahwa secara lahiriah pendapat semua pakar fikih ini adalah bahwa bahkan dengan dibentuknya salat Jumat pun ikut serta di dalamnya tidak wajib.[38]
Teori wajib takhyiri telah memperoleh akseptabilitas di kalangan pakar fikih belakangan (sejak abad ke-13 dan seterusnya)[39] dan secara umum di kalangan pakar fikih Ushuli, kecenderungan pada teori wajib takhyiri salat Jumat lebih marak, meskipun sejumlah darinya menyatakan keharamannya.[40] Dalil-dalil seperti sirah sahabat para Imam (as) serta para pakar fikih terdahulu yang tidak menegakkan salat Jumat termasuk di antara landasan tidak adanya kewajiban ta'yini salat Jumat.[41]
Kebolehan Penegakan Salat Jumat
Teori keempat mengenai salat Jumat pada masa ghaib adalah bahwa menegakkan salat Jumat pada masa ini adalah boleh dan tidak ada masalah, dan orang yang mengerjakan salat Jumat tidak melakukan Bid'ah atau perbuatan haram. Namun salat ini tidak dapat menggantikan salat Zuhur dan orang-orang yang mengerjakan salat Jumat harus juga mengerjakan salat Zuhur.[42]
Fatwa Pakar Fikih Abad ke-14 dan ke-15 Hijriah
Pada abad ke-14 dan ke-15 Hijriah dengan memperhatikan terbentuknya sistem Republik Islam di Iran dan juga jatuhnya pemerintahan Ba'ats di Irak sebagai dua negara penting Syiah, penyelenggaraan salat Jumat mendapat perhatian yang lebih besar.
Kewajiban Ta'yini Salat Jumat
Murtadha Ha'iri Yazdi adalah salah satu dari sedikit pakar fikih masyhur yang pada masa belakangan menganggap salat Jumat sebagai Wajib Ta'yini dan aini.[43] Sayid Muhammad Baqir al-Sadr juga meyakini bahwa dengan kehadiran penguasa yang adil salat Jumat adalah Wajib Ta'yini dan tanpa penguasa yang adil adalah Wajib Takhyiri, namun dalam kondisi ini pun jika seorang imam Jumat yang adil menegakkan salat Jumat, maka wajib bagi para mukallaf untuk ikut serta dalam salat tersebut.[44] Sayid Kadzim al-Ha'iri, murid Muhammad Baqir al-Sadr, juga memiliki pandangan yang selaras dengan gurunya dan menganggap salat Jumat wajib dengan kehadiran penguasa yang adil.[45] Sayid Muhammad al-Sadr meyakini jika Imam Maksum, penguasa yang adil, atau fakih memerintahkan penegakan salat Jumat, maka salat Jumat akan menjadi wajib.[46]
Wajib Takhyiri
Marja taklid seperti Imam Khomeini, Araki, Fadhil Lankarani, Javad Tabrizi, Husain Nuri, Nashir Makarem Shirazi,[47] Sayid Ali Khamenei,[48] Sistani[49] dan Husain Mazahari,[50] Javadi Amoli[51] dan Wahid Khorasani[52] menganggap penegakan salat Jumat sebagai wajib takhyiri. Dalam artian bahwa mukallaf dapat memilih antara mengerjakan salat Jumat atau salat Zuhur.[53] Mohammad Taqi Bahjat juga di samping menerima kewajiban takhyiri menekankan bahwa tidak harus imam Jumat seorang fakih, meskipun jika memungkinkan keimaman seorang fakih, maka kehati-hatiannya adalah salat ditegakkan dengan keimaman fakih tersebut.[54]
Kewajiban Ihtiyathi Salat Jumat
Javad Tabrizi menekankan bahwa jika salat Jumat ditegakkan dengan syarat-syaratnya, maka ikut serta di dalamnya adalah wajib secara ihtiyath.[55] Sayid Musa Syubairi Zanjani juga meyakini jika salat Jumat ditegakkan dengan syarat-syaratnya, maka mengerjakan salat Zuhur adalah bertentangan dengan ihtiyath dan juga orang-orang yang ikut serta dalam salat Jumat secara ihtiyath harus juga mengerjakan salat Zuhur.[56] Hossein Ali Montazeri juga meyakini dalam hal tersedianya syarat-syarat, baik menegakkan salat Jumat maupun ikut sertanya orang-orang dalam salat Jumat adalah wajib secara ihtiyath.[57] Hashemi Shahroudi juga memiliki pandangan yang dekat dengan fatwa ini.[58]
Kebolehan Salat Jumat
Sayid Muhammad Ridha Golpayegani dan Luthfullah Safi Golpayegani meyakini penegakan salat Jumat di masa ghaib adalah boleh, namun salat harus ditegakkan dengan izin fakih yang adil dan juga orang-orang yang ikut serta dalam salat harus mengerjakan Salat Zuhur juga berdasarkan Ihtiyath Wajib.[59]
Catatan Kaki
- ↑ Untuk pendapat lainnya lihat: Rezanezhad, Shalat al-Jum'ah, 1415 H, hlm. 28.
- ↑ Borujerdi, Al-Badr al-Zahir, 1362 HS, hlm. 32.
- ↑ Ha'iri, Shalat al-Jum'ah, 1377 HS, hlm. 121-122.
- ↑ Ha'iri, Shalat al-Jum'ah, 1377 HS, hlm. 121.
- ↑ Ha'iri, Shalat al-Jum'ah, 1377 HS, hlm. 122.
- ↑ Ha'iri, Shalat al-Jum'ah, 1377 HS, hlm. 122.
- ↑ Ha'iri, Shalat al-Jum'ah, 1377 HS, hlm. 122.
- ↑ Ha'iri, Shalat al-Jum'ah, 1377 HS, hlm. 122.
- ↑ Ha'iri, Shalat al-Jum'ah, 1377 HS, hlm. 122.
- ↑ Ha'iri, Shalat al-Jum'ah, 1377 HS, hlm. 122.
- ↑ Jafarian, Namaz-e Jom'eh: Zamineh-haye Tarikhi (Salat Jumat: Latar Belakang Sejarah), 1372 HS, hlm. 37-38; Jafarian, Safaviyeh dar Arseh-ye Din (Safawiyah di Ranah Agama), 1379 HS, jld. 3, hlm. 251.
- ↑ Tabrizi, "Hokm-e Namaz-e Jom'eh dar Ashr-e Gheibat" (Hukum Salat Jumat di Masa Ghaib), hlm. 82-83.
- ↑ Rezanezhad, Shalat al-Jum'ah, 1415 H, hlm. 77.
- ↑ Ibnu Idris al-Hilli, Al-Sara'ir, Qom, jld. 1, hlm. 304.
- ↑ Fadhil Hindi, Kasyaf al-Litsam, Tehran, jld. 1, hlm. 246-248; Tabataba'i, Riyadh al-Masail, Beirut, jld. 4, hlm. 73-75; Naraqi, Mustanad al-Syiah, 1415 H, jld. 6, hlm. 60; Khwansari, Jami' al-Madarik, 1355 H, jld. 1, hlm. 524.
- ↑ Fadhil Hindi, Kasyaf al-Litsam, Tehran, jld. 1, hlm. 246-248; Tabataba'i, Riyadh al-Masail, Beirut, jld. 4, hlm. 73-75; Naraqi, Mustanad al-Syiah, 1415 H, jld. 6, hlm. 60; Khwansari, Jami' al-Madarik, 1355 H, jld. 1, hlm. 524.
- ↑ Qazwini, Al-Syafi fi Syarh al-Kafi, 1429 H, jld. 1, hlm. 18.
- ↑ Borujerdi, Al-Badr al-Zahir, 1362 HS, hlm. 57-58.
- ↑ Qadhi Nu'man, Da'aim al-Islam, 1416 H, jld. 1, hlm. 234; Nuri, Mustadrak al-Wasa'il, Qom, jld. 6, hlm. 13-14.
- ↑ Al-Shahifah al-Sajjadiyah, 1380 HS, hlm. 474.
- ↑ Sebagai contoh: Hurr Amili, Wasa'il al-Syiah, Qom, jld. 7, hlm. 310.
- ↑ Untuk penganut lainnya dan rincian dalil: Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyah, 1403 H, jld. 1, hlm. 299-301; Faidh Kasyani, Al-Syihab al-Tsaqib fi Wujub Shalat al-Jum'ah al-'Aini, 1401 H, hlm. 47-102; Agha Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, 1403 H, jld. 15, hlm. 63, 67, 73; Jaberi, Shalat al-Jum'ah: Tarikhiyan wa Fiqhiyan, 1376 HS, hlm. 54-55.
- ↑ Untuk penganut lainnya dan rincian dalil: Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyah, 1403 H, jld. 1, hlm. 299-301; Faidh Kasyani, Al-Syihab al-Tsaqib fi Wujub Shalat al-Jum'ah al-'Aini, 1401 H, hlm. 47-102; Agha Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, 1403 H, jld. 15, hlm. 63, 67, 73; Jaberi, Shalat al-Jum'ah: Tarikhiyan wa Fiqhiyan, 1376 HS, hlm. 54-55.
- ↑ Sebagai contoh: Kulaini, Al-Kafi, 1401 H, jld. 3, hlm. 418-419; Syekh Shaduq, Al-Amali, 1417 H, hlm. 573.
- ↑ Syekh Mufid, Al-Muqni'ah, 1410 H, hlm. 676; Sayid Murtadha, Masail al-Nashiriyat, 1417 H, hlm. 265; Syekh Thusi, Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyah, 1387 HS, jld. 1, hlm. 143.
- ↑ Sayid Murtadha, Rasail al-Syarif al-Murtadha, Qom, jld. 1, hlm. 272, jld. 3, hlm. 41.
- ↑ Muhaqqiq al-Hilli, Al-Mu'tabar fi Syarh al-Mukhtashar, 1364 HS, jld. 2, hlm. 279-280.
- ↑ Rezanezhad, Shalat al-Jum'ah, 1415 H, hlm. 29-65.
- ↑ Syahid Tsani, Rasail, Qom, hlm. 197.
- ↑ Musawi Amili, Madarik al-Ahkam fi Syarh Syarayi' al-Islam, 1410 H, jld. 4, hlm. 25.
- ↑ Yazdi, Al-Hujjah fi Wujub Shalat al-Jum'ah, cetakan Javad Modarresi, hlm. 53-54.
- ↑ Muhaqqiq al-Hilli, Syarayi' al-Islam, 1409 H, jld. 1, hlm. 76.
- ↑ Allamah Hilli, Mukhtalif al-Syiah, Qom, jld. 2, hlm. 238-239.
- ↑ Ibnu Fahd al-Hilli, Al-Muhadzdzab al-Bari' fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi', Qom, jld. 1, hlm. 414.
- ↑ Syahid Awwal, Al-Durus al-Syari'iyah, Qom, jld. 1, hlm. 186.
- ↑ Muhaqqiq al-Karaki, Rasail al-Muhaqqiq al-Karaki, Qom, jld. 1 hlm. 158-171.
- ↑ Naraqi, Mustanad al-Syiah, 1415 H, jld. 6, hlm. 59; Taudhih al-Masail Maraji', 1378 HS, jld. 1, hlm. 871-872; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 4, hlm. 27; Muhaqqiq al-Karaki, Rasail al-Muhaqqiq al-Karaki, Qom, hlm. 163; Hosseini Amili, Miftah al-Karamah, Qom, jld. 8, hlm. 216.
- ↑ Borujerdi, Al-Badr al-Zahir, 1362 HS, hlm. 122.
- ↑ Kasyif al-Ghitha, Kasyaf al-Ghitha 'an Mubhamat al-Syari'ah, 1380 HS, jld. 3, hlm. 248; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1981 M, jld. 11, hlm. 151; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Beirut, jld. 1, hlm. 205; untuk mengetahui penganut lainnya lihat: Danesy Pajouh, Fehrest-e Kitabkhaneh-ye Markazi Danesy-gah Tehran, jld. 14, hlm. 3604.
- ↑ Jafarian, Namaz-e Jom'eh: Zamineh-haye Tarikhi, 1372 HS, hlm. 37.
- ↑ Untuk rincian dalil lihat: Moballeghi, "Anasyr-e Ta'tsirgozar dar Wujub-e Ta'yini-ye Namaz-e Jom'eh dar Ravesy-e Akhbariyan", 1383 HS, hlm. 211-216.
- ↑ Tabrizi, "Hokm-e Namaz-e Jom'eh dar Ashr-e Gheibat", hlm. 77.
- ↑ Ha'iri, Shalat al-Jum'ah, 1377 HS, hlm. 155.
- ↑ Sadr, Al-Fatawa al-Wadhihah, 1403 H, hlm. 381.
- ↑ Ha'iri, "Namaz-e Jom'eh dar Hokumat-e Eslami", hlm. 66.
- ↑ Sadr, Ma Wara' al-Fiqh, 1420 H, jld. 1, hlm. 462.
- ↑ Banihashemi, Taudhih al-Masail Maraji', jld. 1, hlm. 842.
- ↑ Banihashemi, Taudhih al-Masail Maraji', jld. 1, hlm. 876.
- ↑ Banihashemi, Taudhih al-Masail Maraji', jld. 1, hlm. 861.
- ↑ Mazahari, Risalah Taudhih al-Masail, 1389 HS, hlm. 183. Masalah 1157.
- ↑ Javadi Amoli, Risalah Taudhih al-Masail, hlm. 548.
- ↑ Wahid Khorasani, Risalah Taudhih al-Masail, 1388 HS, hlm. 136. Masalah 739.
- ↑ Tabrizi, "Hokm-e Namaz-e Jom'eh dar Ashr-e Gheibat", hlm. 76.
- ↑ Banihashemi, Taudhih al-Masail Maraji', jld. 1, hlm. 872.
- ↑ Banihashemi, Taudhih al-Masail Maraji', jld. 1, hlm. 842.
- ↑ Syubairi Zanjani, Risalah Taudhih al-Masail, 1388 HS, hlm. 162, masalah 742.
- ↑ Montazeri, Risalah Taudhih al-Masail, hlm. 239, masalah 1346.
- ↑ Hashemi Shahroudi, Taudhih al-Masail, 1390 HS, hlm. 168.
- ↑ Banihashemi, Taudhih al-Masail Maraji', jld. 1, hlm. 862.
Daftar Pustaka
- Al-Shahifah al-Sajjadiyah, Qom, cetakan Mohammad Javad Hosseini Jalali, 1380 HS.
- Agha Bozorg Tehrani, Mohammad Mohsen, Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, Beirut, cetakan Alinaghi Monzavi dan Ahmad Monzavi, 1403 H/1983 M.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, Beirut, 1407 H-1987 M.
- Borujerdi, Sayid Husain, Al-Badr al-Zahir fi Shalat al-Jum'ah wa al-Musafir, catatan kuliah: Hossein Ali Montazeri, Qom, Kantor Ayatullah Montazeri, 1362 HS.
- Tabrizi, Javad, "Hokm-e Namaz-e Jom'eh dar Ashr-e Gheibat" (Hukum Salat Jumat di Masa Ghaib), dalam Majalah Hokumat-e Eslami, nomor 32, musim panas 1383 HS.
- Banihashemi Khomeini, Mohammad Hasan, Taudhih al-Masail Maraji': Mothabiq ba Fatawa-ye Davazdah Nafar az Maraji' (Taudhih al-Masail Maraji': Sesuai Fatwa Dua Belas Marja), Qom, Daftar Entesharat-e Eslami, 1378 HS.
- Jaberi, Kazim, Shalat al-Jum'ah: Tarikhiyan wa Fiqhiyan, Qom, 1376 HS.
- Jafarian, Rasul, Namaz-e Jom'eh: Zamineh-haye Tarikhi wa Agahi-haye Kitabsyinasi (Salat Jumat: Latar Belakang Sejarah dan Pengetahuan Bibliografi), Tehran, Syora Siyasat-gozari Aimmah-ye Jom'eh, 1372 HS.
- Ha'iri, Sayid Kadzim, "Namaz-e Jom'eh dar Hokumat-e Eslami" (Salat Jumat dalam Pemerintahan Islam), dalam Majalah Hokumat-e Eslami, nomor 32, musim panas 1383 HS.
- Ha'iri Yazdi, Murtadha, Shalat al-Jum'ah, Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1377 HS.
- Hurr Amili, Mohammad bin Hasan, Wasa'il al-Syiah, Qom, 1409-1412 H.
- Hosseini Amili, Mohammad Javad bin Mohammad, Miftah al-Karamah fi Syarh Qawa'id al-'Allamah, Qom, cetakan offset, Muassasah Al al-Bait.
- Ibnu Idris al-Hilli, Mohammad bin Ahmad, Al-Sara'ir al-Hawi li-Tahrir al-Fatawa, Qom, 1410-1411 H.
- Ibnu Fahd al-Hilli, Ahmad bin Mohammad, Al-Muhadzdzab al-Bari' fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi', Qom, cetakan Mojtaba Iraqi, 1407-1413 H.
- Khwansari, Ahmad, Jami' al-Madarik fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi', anotasi Alinaghi Ghaffari, jld. 1, Tehran, 1355 HS.
- Danesy Pajouh, Mohammad Taqi, Fehrest-e Kitabkhaneh-ye Markazi Danesy-gah Tehran, jld. 14, Tehran, 1340 HS.
- Razi Qazwini, Abdul Jalil, Naqdh, riset: Mir Jalaluddin Muhaddits Urmawi, Qom, Dar al-Hadits, 1391 HS.
- Rezanezhad, Ezuddin, Shalat al-Jum'ah: Dirasah Fiqhiyah wa Tarikhiyah, Qom, 1415 H.
- Sallar al-Dailami, Hamzah bin Abdul Aziz, Al-Marasim al-'Alawiyah fi al-Ahkam al-Nabawiyah, Beirut, cetakan Mohsen Hosseini Amini, 1414 H/1994 M.
- Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Rasail al-Syarif al-Murtadha, Qom, cetakan Mahdi Raja'i, 1405-1410 H.
- Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Masail al-Nashiriyat, Tehran, 1417 H/ 1997 M.
- Syubairi Zanjani, Sayid Musa, Risalah Taudhih al-Masail, Qom, Salsabil, 1388 HS.
- Syahid Awwal, Mohammad bin Makki, Al-Durus al-Syari'iyah fi Fiqh al-Imamiyah, Qom, 1412-1414 H.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali, Al-Raudhah al-Bahiyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyah, Beirut, cetakan Mohammad Kalantar, 1403 H/1983 M.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali, Rasail al-Syahid al-Tsani, Qom, 1379-1380 HS.
- Syekh Shaduq, Mohammad bin Ali, Al-Amali, Qom, 1417 H.
- Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyah, jld. 1, Tehran, cetakan Mohammad Taqi Kasyfi, 1387 HS.
- Syekh Mufid, Mohammad bin Mohammad, Al-Muqni'ah, Qom, 1410 H.
- Sadr, Sayid Mohammad, Ma Wara' al-Fiqh, Beirut, Dar al-Adhwa', 1420 H.
- Sadr, Sayid Mohammad Baqir, Al-Fatawa al-Wadhihah وفقاً لمذهب أهل البيت, Beirut, Dar al-Ta'aruf, 1403 H.
- Tabataba'i, Ali bin Mohammad Ali, Riyadh al-Masail fi Bayan al-Ahkam bi al-Dala'il, Beirut, 1412-1414 H/1992-1993 M.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Tadzkirah al-Fuqaha, Qom, 1414 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Mukhtalif al-Syiah fi Ahkam al-Syari'ah, Qom, 1412 H- 1420 H.
- Fadhil Hindi, Mohammad bin Hasan, Kasyaf al-Litsam, Tehran, cetakan batu, 1271 H- 1274 H cetakan offset, Qom, 1405 H.
- Faidh Kasyani, Mohammad bin Syah Murtadha, Al-Syihab al-Tsaqib fi Wujub Shalat al-Jum'ah al-'Aini, Qom, 1401 H.
- Qadhi Nu'man, Nu'man bin Mohammad, Da'aim al-Islam wa Dzikr al-Halal wa al-Haram, Beirut, cetakan Arif Tamer, 1416 H/1995 M.
- Kulaini, Mohammad bin Ya'qub, Al-Kafi, koreksi: Ali Akbar Ghaffari, Beirut, 1401 H.
- Kasyif al-Ghitha, Jafar bin Khidhir, Kasyaf al-Ghitha 'an Mubhamat al-Syari'ah al-Gharra', Qom, Bustan-e Ketab, 1380 HS.
- Moballeghi, Ahmad, "Anasyr-e Ta'tsirgozar dar Wujub-e Ta'yini-ye Namaz-e Jom'eh dar Ravesy-e Akhbariyan" (Elemen-elemen yang Berpengaruh pada Kewajiban Ta'yini Salat Jumat dalam Metode Akhbariyan), dalam Majalah Hokumat-e Eslami, nomor 2, musim panas 1383 HS.
- Muhaqqiq al-Hilli, Jafar bin Hasan, Al-Mu'tabar fi Syarh al-Mukhtashar, Qom, 1364 HS.
- Muhaqqiq al-Hilli, Jafar bin Hasan, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, Tehran, cetakan Shadiq Syirazi, 1409 H.
- Muhaqqiq al-Karaki, Ali bin Husain, Rasail al-Muhaqqiq al-Karaki, riset Mohammad Hassun, Qom, 1409 H.
- Mazahari, Husain, Risalah Taudhih al-Masail, Muassasah Isfahan, Farhang-e al-Zahra, 1389 HS.
- Montazeri, Hossein Ali, Risalah Taudhih al-Masail, Tehran, Penerbit Sara'i, 1381 HS.
- Musawi Amili, Mohammad bin Ali, Madarik al-Ahkam fi Syarh Syarayi' al-Islam, Qom, 1410 H.
- Najafi, Mohammad Hasan, Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarayi' al-Islam, koreksi Abbas Qouchani dan Ali Akhundi, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1918 M.
- Najafi Kazerouni, Sayid Mohammad Baqir, "Moqaddameh-ye Ham-paye Enqelab" (Pengantar Seiring Revolusi), Ham-paye Enqelab: Khotbeh-haye Namaz-e Jom'eh Hazrat Ayatullah al-Uzhma Musawi Ardebili, Qom, Universitas Mufid, 1385 HS.
- Naraqi, Ahmad bin Mohammad Mahdi, Mustanad al-Syiah fi Ahkam al-Syari'ah, Qom, jld. 6, 1415 H.
- Nuri, Husain bin Mohammad Taqi, Mustadrak al-Wasa'il wa Mustanbath al-Masail, Qom, 1407-1408 H.
- Wahid Khorasani, Husain, Risalah Taudhih al-Masail, Qom, Madrasah al-Imam Baqir al-Ulum (as), 1388 HS.
- Hashemi Shahroudi, Sayid Mahmoud, Risalah Taudhih al-Masail, Qom, Bonyad-e Fiqh wa Ma'arif-e Ahl-e Beit, 1390 HS.
- Yazdi, Mohammad Moqim bin Mohammad Ali, Al-Hujjah fi Wujub Shalat al-Jum'ah fi Zaman al-Ghaibah, cetakan Javad Modarresi.