Lompat ke isi

Konsep:Penciptaan terpaksa

Dari wikishia

Penciptaan Terpaksa bermakna bahwa manusia diciptakan tanpa kehendak sendiri dan hanya berdasarkan kehendak Allah. Masalah ini merupakan salah satu pertanyaan mendasar manusia: Mengapa manusia lahir ke dunia tanpa ikhtiarnya sendiri? Dalam menganalisis masalah ini, dikatakan bahwa pada dasarnya tidak ada ikhtiar (pilihan bebas) yang dapat dibayangkan bagi manusia sebelum keberadaannya. Selain itu, keberadaan setiap makhluk sepenuhnya bergantung pada sebab-sebabnya, dan keberadaan manusia juga terwujud berdasarkan sebab-sebab tersebut. Oleh karena itu, tidak dapat diasumsikan bahwa manusia muncul dengan kehendaknya sendiri.

Para filosof dengan bersandar pada dalil-dalil akal meyakini bahwa prinsip keberadaan itu sendiri adalah kebaikan, dan Allah berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya yang tak terbatas, menciptakan makhluk dalam keadaan terbaik. Kondisi ini dikenal sebagai Nizam Ahsan (tatanan terbaik); yang bermakna bahwa Allah menciptakan makhluk sedemikian rupa sehingga selaras sebaik mungkin dengan tujuan dan hikmah Ilahi.

Sekelompok ulama berdasarkan riwayat tentang Alam Dzar, meyakini bahwa karakteristik dan kesulitan dunia ini berkaitan dengan pilihan dan ikhtiar manusia di alam tersebut. Menurut mereka, manusia sebelum lahir mengambil keputusan di Alam Dzar yang kemudian termanifestasi di dunia ini. Dikatakan pula bahwa ketidakikhtiaran dalam kelahiran tidak berarti ketidakikhtiaran dalam perbuatan manusia. Manusia bertanggung jawab atas perbuatannya dan di dunia ini harus mempertanggungjawabkan amalnya. Hukuman dan azab juga bukan hal yang kebetulan atau kontraktual; melainkan hakikat dari perbuatan manusia itu sendiri yang menjelma menjadi azab dan merupakan hasil alami dari perilakunya.

Keinginan akan keberadaan manusia dan bunuh diri atau memohon kematian tidaklah bertentangan. Kematian bukanlah pemusnahan, melainkan kelanjutan hidup dalam bentuk lain. Bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang yang bersalah adalah karena anggapan lari dari masalah, sedangkan permohonan kematian oleh orang-orang yang dekat dengan Allah (muqarrabin) dan para Imam bertujuan untuk menunjukkan bahwa kehidupan duniawi tidak memiliki nilai intrinsik dan hanya bernilai jika berada di jalan penghambaan kepada Allah.

Urgensi dan Latar Belakang

Penciptaan terpaksa bermakna bahwa manusia muncul tanpa keinginannya sendiri dan berdasarkan kehendak Allah[1]. Salah satu kekhawatiran utama manusia dalam bidang keadilan Ilahi adalah mengapa manusia diciptakan tanpa ikhtiar dan keinginannya sendiri[2] dan mengapa ia harus menanggung kesulitan dan ujian di dunia ini.[3] Mirzadeh Eshghi (W. 1303 HS/1924 M), penyair modern Iran, bersyair mengenai hal ini:

Penciptaanku di dunia ini adalah tambalan yang tak serasi Aku sendiri tak rela dengan penciptaan ini, apakah ini paksaan?[4]

Ketidakpuasan terhadap keberadaan saat menghadapi kesulitan memiliki akar dalam sejarah manusia. Sebagai contoh, Thabarsi dalam Majma' al-Bayan menukil bahwa Umar bin Khattab setelah mendengar ayat pertama Surah Al-Insan yang berbicara tentang masa ketika manusia belum menjadi sesuatu yang dapat disebut, berharap seandainya manusia tidak dilahirkan dan anak-anaknya tidak mengalami masalah.[5] Sikap serupa juga terlihat dalam ucapan Abu Bakar,[6] Umar bin Khattab,[7] dan Aisyah.[8]

Dikatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak memiliki akar logis dan lebih bersifat psikologis. Akarnya adalah kesulitan yang menimpa manusia dalam hidup. Dan jika manusia memperhatikan apa yang dimilikinya dan memikirkan apa yang dapat dicapainya di balik ujian dan kesulitan ini, pertanyaan-pertanyaan ini akan teratasi.[9]

Analisis Kemungkinan Ikhtiar Manusia dalam Penciptaan

Izin dan ikhtiar manusia dalam penciptaan dirinya adalah mustahil. Karena untuk memiliki ikhtiar, manusia harus ada terlebih dahulu, dan jika ia sudah ada, maka tidak perlu lagi diciptakan. Oleh karena itu, ikhtiar untuk menjadi ada adalah hal yang mustahil, bukan karena Allah menahannya.[10] Maulawi (W. 672 H), penyair dan arif, bersyair dalam hal ini:

Kami tiada dan permintaan kami pun tiada Kebaikan-Mu mendengar apa yang tak kami katakan[11]

Selain itu, keberadaan setiap akibat (ma'lul) bergantung pada sebabnya. Allah dan rangkaian sebab yang diciptakan-Nya menyebabkan keberadaan makhluk. Tidak ada akibat yang berperan dalam keberadaannya sendiri dan sepenuhnya bergantung pada sebab. Oleh karena itu, keberadaan manusia juga merupakan akibat dari sebab-sebab yang kembali kepada Allah, dan tidak dapat dikatakan bahwa keberadaannya bergantung pada kehendaknya sendiri.[12]

Mengapa Manusia Diciptakan

Salah satu pertanyaan penting tentang keberadaan manusia adalah alasan penciptaannya. Mengapa Allah menciptakan manusia dan masalah apa yang akan terjadi jika Dia tidak menciptakannya?[13] Para filosof Islam meyakini bahwa karena Allah memiliki kesempurnaan tak terbatas, keberadaan makhluk secara alami memancar dari-Nya.[14] Namun Allah dari semua kemungkinan yang ada untuk penciptaan, menghendaki sistem yang paling sempurna dan terbaik.[15] Oleh karena itu, Allah dengan ilmu dan hikmah-Nya yang tak terbatas, menciptakan alam semesta dalam bentuk Nizam Ahsan.[16] Jika berdasarkan hikmah Ilahi keberadaan manusia itu perlu, maka Dia menciptakan manusia.[17]

Menurut pandangan para filosof, prinsip keberadaan adalah kebaikan, dan adanya sesuatu lebih baik daripada ketiadaannya. Faidh Kasyani, filosof Syiah, dalam sebuah argumen menunjukkan bahwa keberadaan adalah baik dan ketiadaan adalah buruk.[18] Abdullah Jawadi Amuli juga meyakini bahwa manusia sebelum penciptaan bukanlah apa-apa, hanya sebutir debu. Namun berkat kebaikan Allah, ia mencapai kedudukan di mana ia bisa mencapai derajat Khalifatullah. Ini adalah kedermawanan dan karunia Allah kepada manusia, dan jika manusia dengan ikhtiarnya sendiri tidak menghargai karunia ini dan menyalahgunakan ikhtiarnya, ia sendiri yang bertanggung jawab.[19] Selain itu, penciptaan makhluk adalah hak Allah, bukan hak makhluk, sehingga tidak seorang pun boleh menyangka bahwa dengan keberadaannya ada haknya yang dilanggar.[20]

Upaya Menyelesaikan Masalah Penciptaan Terpaksa dengan Bersandar pada Alam Dzar

Salah satu solusi untuk masalah penciptaan terpaksa adalah bersandar pada Alam Dzar. Sebagian ulama berdasarkan hadis-hadis meyakini bahwa manusia sebelum dunia ini berada di Alam Dzar dan dengan ikhtiar yang dimilikinya di sana, ia memilih karakteristik kehidupan duniawinya.[21] Dalam pandangan ini, manusia di Alam Dzar mendapatkan petunjuk yang sama, namun karena ikhtiar, mereka memiliki pilihan yang berbeda yang pada akhirnya menyebabkan perbedaan yang ada dalam kehidupan duniawi.[22] Oleh karena itu, kondisi sulit atau tidak layak sebagian orang di dunia, kembali pada keinginan mereka sendiri di Alam Dzar.[23]

Jika Keberadaanku Bukan Kehendakku, Mengapa Ada Hisab? Mengapa Ada Azab?

Ketidakselarasan antara penciptaan terpaksa dengan hisab (perhitungan amal) dan azab manusia adalah masalah lain yang dikemukakan dalam pembahasan penciptaan terpaksa. Berdasarkan hal ini, klaimnya adalah jika Allah menciptakan manusia tanpa keinginannya, maka Dia tidak seharusnya mengazabnya karena dosa-dosanya.[24] Sebaliknya, dikatakan bahwa meskipun manusia tidak memiliki peran dalam prinsip keberadaannya, namun ini tidak berarti ia tidak memiliki ikhtiar dalam hidup dan tanggung jawab dicabut darinya.[25] Selain itu, apa yang dimintai pertanggungjawaban dari manusia bukanlah kehidupan alami dan non-voluntarenya. Melainkan ia harus bertanggung jawab atas perilaku yang dipilihnya dengan kehendaknya sendiri.[26] Mohsin Qara'ati, mufasir Syiah, dalam sebuah contoh mengatakan bahwa sebagaimana sumber air kota dan perpipaan jalur dan lain-lain tidak berada di bawah kendali warga, tetapi tanggung jawab konsumsi air dan biayanya ada pada mereka, ketidakikhtiaran dan ketidakpilihan kelahiran manusia serta karakteristiknya juga tidak menghalangi tanggung jawabnya terhadap perilaku ikhtiarnya.[27]

Jawadi Amuli juga dengan bersandar pada ajaran Tajassum A'mal (penjelmaan amal) mengatakan bahwa hukuman Ilahi bukan untuk menenangkan hati orang-orang yang dizalimi, atau untuk keamanan masyarakat; melainkan mirip dengan hubungan pasien dan dokter. Jika pasien tidak mengikuti perintah dokter dan akibatnya dokter meresepkan obat pahit untuknya, ini bukan balas dendam dokter, melainkan hasil alami dari tindakan pasien yang tidak mengikuti anjuran dokter. Menurutnya, Al-Qur'an juga dalam Ayat 10 Surah An-Nisa memperkenalkan hakikat azab sebagai penjelmaan dosa.[28]

Kebaikan Wujud dan Permintaan Kematian

Dikatakan bahwa jika keberadaan itu baik dan setiap orang menginginkan kehidupan, mungkin saja beberapa orang seperti mereka yang bunuh diri tidak akan mengambil keputusan demikian. Juga dalam sejarah terdapat contoh manusia-manusia yang dekat dengan Allah seperti Maryam sa[29], Fatimah Zahra sa,[30] Imam Ridha as[31] dan sebagian wali Allah yang memohon kematian, yang mana kasus-kasus ini mungkin tampak tidak selaras dengan kebaikan keberadaan.[32] Dalam menjawab masalah ini dikatakan bahwa Kematian bukan berarti ketiadaan, melainkan perpindahan dari satu tingkat kehidupan ke tingkat lainnya. Mereka yang bunuh diri membayangkan bahwa dengan melakukan hal itu mereka akan terbebas dari masalah yang ada. Demikian pula orang-orang yang memohon kematian, mencari kelepasan dari kesulitan yang menimpa mereka akibat pilihan yang salah dari diri mereka sendiri atau orang lain.[33]

Namun permohonan kematian dari orang-orang yang dekat dengan Allah (muqarrabin) adalah karena alasan untuk menunjukkan bahwa kehidupan hanya bernilai jika berada di jalan ibadah dan penghambaan kepada Allah. Jika jalan ini tidak ada, dunia tidak layak untuk ditinggali dan kematian lebih disukai darinya.[34] Imam Sajjad as dalam doa Makarimul Akhlak memohon kepada Allah agar menjadikan umurnya hanya di jalan ketaatan kepada-Nya dan jika hidupnya berubah menjadi jalan Setan, maka cabutlah nyawanya.[35] Muhammad Baqir Majlisi juga dalam menjelaskan riwayat dari Imam Ridha as mengatakan bahwa dalam kondisi tertentu, memohon kematian diperbolehkan. Kemungkinan Imam Ridha as dengan permohonan ini ingin meluruskan persepsi salah sebagian orang bodoh yang mengira beliau senang dengan jabatan putra mahkota.[36]

Catatan Kaki

  1. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 24.
  2. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 23; Muhammadpur, "Khelqat-e Ijbari va Duzakh-e Ekhtiari-ye Ensan-ha" (Penciptaan Terpaksa dan Neraka Pilihan Manusia), Situs Kayhan.
  3. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 38; Syuja'i, Hadaf-e Afarinesh-e Ensan (Tujuan Penciptaan Manusia), 1397 HS, hlm. 118.
  4. Mirzadeh Eshghi, Kulliyat-e Mosavvar-e Mirzadeh Eshghi, 1357 HS, hlm. 337.
  5. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jil. 10, hlm. 615.
  6. Syekh Shaduq, Ilal al-Syarayi', Maktabah al-Dawari, jil. 1, hlm. 187.
  7. Abu Ubaid, Gharib al-Hadits, 1396 H, jil. 4, hlm. 110.
  8. Abu Ubaid, Gharib al-Hadits, 1396 H, jil. 4, hlm. 110.
  9. "Afarinesh-e Ijbari-ye Ensan, ba Tahmil-e Takalif dar Syarayet-e Dasyvar" (Penciptaan Terpaksa Manusia, dengan Pembebanan Tugas dalam Kondisi Sulit), Situs Kantor Ayatullah Makarim Syirazi.
  10. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 38-39; "Khelqat-e Ijbari" (Penciptaan Terpaksa), Markaz Melli Pasokhgui be Soalat Dini; "Afarinesh-e Ijbari-ye Ensan, ba Tahmil-e Takalif dar Syarayet-e Dasyvar" (Penciptaan Terpaksa Manusia, dengan Pembebanan Tugas dalam Kondisi Sulit), Situs Kantor Ayatullah Makarim Syirazi.
  11. Maulawi, Matsnawi Ma'nawi, 1393 HS, jil. 1, hlm. 71.
  12. "Khelqat-e Ijbari" (Penciptaan Terpaksa), Markaz Melli Pasokhgui be Soalat Dini.
  13. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 24.
  14. Shadra, Asfar, 1368 HS, jil. 7, hlm. 106; Sabzawari, Asrar al-Hikam fi al-Muftatah wa al-Mukhtatam, 1383 HS, hlm. 176.
  15. Ubudiyat dan Mishbah, Khudashenasi (Teologi), 1399 HS, hlm. 270-272.
  16. Ibnu Sina, Al-Mabda' wa al-Ma'ad, 1363 HS, hlm. 88; Ibnu Sina dan Khajah Nashiruddin al-Thusi, Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat, 1403 H, jil. 3, hlm. 318; Shadra, Asfar Arba'ah, 1368 HS, jil. 7, hlm. 57.
  17. Ilahi Rad, Insanshenasi (Antropologi), 1399 HS, hlm. 112-113.
  18. Faidh Kasyani, Ain al-Yaqin, 1432 H, hlm. 61.
  19. Jawadi Amuli, Tousie-ha, Porsyesy-ha va Pasokh-ha (Nasihat, Pertanyaan dan Jawaban), 1389 HS, hlm. 132.
  20. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 39.
  21. Sebagai contoh lihat: Mazandarani, Syarh Ushul al-Kafi, 1429 H, jil. 8, hlm. 17-19.
  22. Akbari, Alam-e Dzar: Aghaz-e Shegeft-angiz-e Zendegi-ye Ensan (Alam Dzar: Awal Menakjubkan Kehidupan Manusia), 1387 HS, hlm. 135-136.
  23. Akbari, Alam-e Dzar: Aghaz-e Shegeft-angiz-e Zendegi-ye Ensan (Alam Dzar: Awal Menakjubkan Kehidupan Manusia), 1387 HS, hlm. 141-151.
  24. Jawadi Amuli, Tousie-ha, Porsyesy-ha va Pasokh-ha (Nasihat, Pertanyaan dan Jawaban), 1389 HS, hlm. 132.
  25. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 39.
  26. "Khelqat-e Ijbari" (Penciptaan Terpaksa), Markaz Melli Pasokhgui be Soalat Dini.
  27. Qara'ati, Dars-hai az Qur'an (Pelajaran dari Al-Qur'an), 1387 HS, jil. 1, hlm. 1087.
  28. Jawadi Amuli, Tousie-ha, Porsyesy-ha va Pasokh-ha (Nasihat, Pertanyaan dan Jawaban), 1389 HS, hlm. 132-133.
  29. Surah Maryam, ayat 23.
  30. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 43, hlm. 177.
  31. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 79, hlm. 177.
  32. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 26.
  33. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 26-28.
  34. Syuja'i, "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia), hlm. 27-28.
  35. Imam Sajjad as, Shahifah Sajjadiyah, 1378 HS, hlm. 94.
  36. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 79, hlm. 177.

Daftar Pustaka

  • Abu Ubaid, Qasim bin Salam. Gharib al-Hadits. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1396 H.
  • Akbari, Muhammad Ridha. Alam-e Dzar: Aghaz-e Shegeft-angiz-e Zendegi-ye Ensan (Alam Dzar: Awal Menakjubkan Kehidupan Manusia). Qom, Entesharat-e Masjed-e Jamkaran, 1387 HS.
  • "Afarinesh-e Ijbari-ye Ensan, ba Tahmil-e Takalif dar Syarayet-e Dasyvar" (Penciptaan Terpaksa Manusia, dengan Pembebanan Tugas dalam Kondisi Sulit). Situs Web Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, Tanggal kunjungan: 11 Syahrivar 1403 HS.
  • Faidh Kasyani, Muhammad Muhsin bin Murtadha. Ain al-Yaqin. Beirut, Dar al-Mahajjah al-Baidha, 1432 H.
  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah dan Muhammad bin Muhammad Khajah Nashiruddin al-Thusi. Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat. Qom, Daftar-e Nashr-e Al-Kitab, 1403 H.
  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah. Al-Mabda' wa al-Ma'ad. Teheran, Moassese-ye Motale'at-e Eslami-ye Daneshgah-e Tehran - Daneshgah-e McGill, 1363 HS.
  • Ilahi Rad, Shafdar. Insanshenasi (Antropologi). Qom, Moassese-ye Amuzeshi Pajuheshi-ye Imam Khomeini (ra), 1399 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tousie-ha, Porsyesy-ha va Pasokh-ha dar Mahzar-e Hazrat-e Ayatullah Jawadi Amuli (Nasihat, Pertanyaan dan Jawaban di Hadapan Ayatullah Jawadi Amuli). Qom, Nashr-e Ma'arif, 1389 HS.
  • "Khelqat-e Ijbari" (Penciptaan Terpaksa). Markaz Melli Pasokhgui be Soalat Dini, Tanggal posting: 27 Syahrivar 1389 HS, Tanggal kunjungan: 11 Syahrivar 1403 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Mazandarani, Muhammad Shalih bin Ahmad. Syarh Ushul al-Kafi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1429 H.
  • Maulawi, Muhammad bin Muhammad. Matsnawi Ma'nawi. Koreksi Hasan Lahooti. Teheran, Markaz-e Pajuhesyi-ye Miras-e Maktub, 1393 HS.
  • Mirzadeh Eshghi, Sayid Muhammad Ridha. Kulliyat-e Mosavvar-e Mirzadeh Eshghi. Teheran, Sepehr, 1357 HS.
  • Muhammadpur, Behnam. "Khelqat-e Ijbari va Duzakh-e Ekhtiari-ye Ensan-ha" (Penciptaan Terpaksa dan Neraka Pilihan Manusia). Situs Web Kayhan, Tanggal posting: 5 Syahrivar 1400 HS, Tanggal kunjungan: 11 Syahrivar 1403 HS.
  • Qara'ati, Muhsin. "Dars-hai az Qur'an" (Pelajaran dari Al-Qur'an) (Teks transkrip dari program televisi). Tanggal posting: 6 Mehr 1387 HS.
  • Sabzawari, Hadi bin Mahdi. Asrar al-Hikam fi al-Muftatah wa al-Mukhtatam. Qom, Mathbu'at-e Dini, 1383 HS.
  • Shahifah Sajjadiyah. Qom, Nashr-e Al-Hadi, 1378 HS.
  • Shadra, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyyah al-Arba'ah. Qom, Maktabah al-Mushthafawi, 1368 HS.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Ilal al-Syarayi'. Qom, Maktabah al-Dawari, Tanpa Tahun.
  • Syuja'i, Ahmad. Hadaf-e Afarinesh-e Ensan (Tujuan Penciptaan Manusia). Qom, Entesharat-e Markaz-e Modiriyat-e Howzeh-ye Elmiyeh-ye Qom, 1397 HS.
  • Syuja'i, Ahmad. "Afarinesh-e Ijbari va Ekhtiar-e Ensan" (Penciptaan Terpaksa dan Ikhtiar Manusia). Dalam Majalah Kalam-e Eslami, No. 92, Esfand 1393 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
  • Ubudiyat, Abdurrasul dan Mujtaba Mishbah. Khudashenasi (Teologi). Qom, Moassese-ye Amuzeshi Pajuheshi-ye Imam Khomeini (ra), 1399 HS.