Lompat ke isi

Konsep:Kitab Mubin

Dari wikishia

Kitab Mubin (bahasa Arab:كتاب مبين) adalah istilah Al-Qur'an yang digunakan dengan makna Al-Qur'an yang tertulis, Ilmu Ilahi, Lauhulmahfuz, dan Ummul Kitab. Istilah ini juga terdapat dalam ucapan Ahlulbait as dan mereka menafsirkan Kitab Mubin sebagai Ummul Kitab, Imam Mubin, dan Imam Ali as. Dalam sebuah hadis dari Imam Musa al-Kazhim as, Ahlulbait as diperkenalkan sebagai pewaris Kitab Mubin.

Menurut Allamah Thabathaba'i, Kitab Mubin bukan berjenis materi; melainkan pada saat turun kepada Nabi Muhammad saw, ia mengenakan pakaian lafaz-lafaz Arab dalam bentuk Al-Qur'an agar masyarakat dapat memahami ayat-ayatnya. Tetap, tidak dapat diubah, serta tidak terikat oleh ruang dan waktu dianggap sebagai sebagian dari karakteristik Kitab Mubin. Istilah ini dibahas dalam pembahasan filsafat dan teologi Islam di bawah masalah ilmu Allah, Ilmu Gaib, dan Lauhulmahfuz.

Kedudukan dan Pentingnya

Kitab Mubin adalah istilah Al-Qur'an[1] yang disebutkan sebanyak 12 kali dalam Al-Qur'an.[2] Kulaini (W. 329 H) dalam kitab Al-Kafi menukil sebuah hadis dari para Imam as di mana Ahlulbait as memperkenalkan diri mereka sebagai pewaris Kitab Mubin.[3] Bahrani (W. 1107 atau 1109 H) dalam kitab Al-Burhan, dalam beberapa riwayat dari para Imam as, menyebutkan Kitab Mubin dengan makna Imam Mubin[4] dan juga yang dimaksud dengan Imam Mubin dalam riwayat-riwayat dan hadis-hadis kitab Al-Amali dianggap sebagai Imam Ali as.[5]

Kitab Mubin dalam pembahasan filsafat dan teologi, dibahas di bawah masalah Ilmu Gaib Imam,[6] Ilmu Allah, dan Lauhulmahfuz.[7]

Definisi

Kata Kitab Mubin muncul di dalam Al-Qur'an baik di awal surah[8] yang menurut sebagian besar mufasir dalam hal ini bermakna Al-Qur'an yang tertulis (Mushaf), atau disebutkan di tengah-tengah surah[9] yang ditafsirkan sebagai Lauh Mahfuz atau Ummul Kitab, Ilmu Ilahi, Al-Qur'an tertulis, dan makna-makna lainnya.

Al-Qur'an Tertulis

Menurut pendapat sebagian besar mufasir, kata Kitab Mubin di awal surah-surah ditafsirkan sebagai Al-Qur'an tertulis.[10] Allamah Thabathaba'i (W. 1360 HS) dalam Tafsir Al-Mizan[11] dan Husaini Hamadani (W. 1375 HS) dalam kitab Anwar-e Derakhsyan[12] termasuk di antara mereka yang menafsirkan ayat 1 Surah Yusuf: 'Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) yang nyata (dari Allah).' dengan makna tersebut. Menurut pandangan Makarim Syirazi (L. 1305 HS), istilah ini dalam ayat 2 Surah Al-Qashash 'Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) yang nyata (dari Allah).' juga bermakna Al-Qur'an[13] dan Mubin adalah sifat bagi Al-Qur'an.[14] Mubin dalam ayat ini bermakna jelas/nyata dan juga yang menjelaskan/memperjelas,[15] dan dengan memperhatikan makna leksikal ini, Al-Qur'an dengan kandungannya yang terang memperjelas yang hak dari yang batil.[16] Sebagaimana Allamah Thabathaba'i dalam tafsir ayat 1 Surah Yusuf juga mengisyaratkan pandangan yang sama.[17]

Kata Kitab Mubin di tengah surah-surah juga menurut sebagian mufasir bermakna Al-Qur'an tertulis. Syekh Thusi dalam Al-Tibyan (W. 460 H),[18] Syaikh Thabarsi (W. 548 H) dalam Majma' al-Bayan,[19] Muhammad Sabzewari Najafi (W. 1409 H) dalam Irsyad al-Adzhan,[20] Allamah Thabathaba'i dalam Al-Mizan,[21] dan Makarim Syirazi dalam Tafsir Namuneh[22] mengisyaratkan bahwa yang dimaksud dengan Kitab Mubin dalam tafsir ayat 15 Surah Al-Ma'idah 'Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.' adalah Al-Qur'an.

Menurut mufasir Ahlusunah seperti Fakhrurrazi (W. 606 H) dalam Al-Tafsir al-Kabir,[23] Abdullah bin Umar Baidhawi (W. 695 H) dalam Anwar al-Tanzil,[24] dalam tafsir ayat 1 Surah Yusuf, Kitab Mubin diartikan sebagai Al-Qur'an. Mahmud bin Abdullah al-Alusi (W. 1270 H), ulama Ahlusunah lainnya, dalam menafsirkan ayat ini menolak kemungkinan makna Lauh Mahfuz dan kitab-kitab suci lainnya seperti Injil dan Taurat, serta meyakini bahwa Kitab Mubin di sini bermakna Al-Qur'an.[25]

Selain Al-Qur'an Tertulis

Menurut sebagian mufasir, kata Kitab Mubin ketika disebutkan di tengah-tengah surah tidak bermakna Al-Qur'an tertulis, melainkan memiliki makna lain seperti Lauh Mahfuz, Ilmu Ilahi, dan Imam Mubin.

Lauh Mahfuz atau Ummul Kitab

Menurut sebagian peneliti Al-Qur'an, pada sebagian besar ayat di mana kata Kitab Mubin muncul di tengah surah, itu bermakna Lauhulmahfuz.[26] Sumber pertama yang menafsirkan kata ini sebagai Lauh Mahfuz dianggap adalah kitab Tafsir Muqatil bin Sulaiman.[27] Syaikh Thabarsi dalam Majma' al-Bayan[28] dan Makarim Syirazi dalam Tafsir Namuneh[29] dalam tafsir ayat 61 Surah Yunus: ...tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit, tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).', serta Sulthan Ali Syah Gonabadi (W. 1327 H) dalam Bayan al-Sa'adah[30] dalam tafsir ayat 6 Surah Hud: 'Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuz).' termasuk di antara yang berpendapat demikian.

Mufasir seperti Ali Haeri Tehrani (W. 1300 HS) dalam Muqtaniyat al-Durar,[31] menafsirkan maksud istilah ini dalam ayat 59 Surah Al-An'am ...dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)' sebagai Ummul Kitab. Kulaini dalam Al-Kafi menukil sebuah hadis dari Imam Musa al-Kazhim as, di mana Imam as dalam tafsir ayat 75 Surah An-Naml 'Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).' menganggap Ummul Kitab dan Kitab Mubin memiliki satu makna, dan memperkenalkan Ahlulbait as sebagai pemilik kitab ini.[32]

Haeri dalam kelanjutan tafsir ayat ini dan Syaikh Thusi,[33] Syaikh Thabarsi,[34] serta Makarim Syirazi[35] dalam tafsir ayat 2 Surah Az-Zukhruf 'Demi Kitab yang menerangkan', menganggap makna Ummul Kitab dan Lauh Mahfuz adalah satu. Mulla Sadra (W. 1050 H) juga dalam kitab Asfar pada masalah Lauhulmahfuz, menyebutkan ayat 59 Surah Al-An'am dan membagi Kitab Mubin menjadi dua bagian. Pertama, Lauh Mahfuz yang tidak ada perubahan di dalamnya dan ia menganggapnya sebagai Jiwa Universal (Nafs-e Kulli-ye Falaki) yang diungkapkan sebagai Ummul Kitab. Bagian kedua adalah Kitab Mahw wa Itsbat (Penghapusan dan Penetapan) yang ia yakini keduanya ada dalam Kitab Mubin.[36]

Baidhawi dari mufasir Ahlusunah juga dalam tafsir ayat 2 Surah Az-Zukhruf, mengambil makna Ummul Kitab dan Lauh Mahfuz sebagai satu makna.[37]

Ilmu Ilahi

Beberapa mufasir dalam menafsirkan ayat 59 Surah Al-An'am seperti Muhammad bin Ali Syarif Lahiji (W. 1088 H) dalam Tafsir-nya,[38] Faidh Kasyani (W. 1091 H) dalam Tafsir Al-Shafi,[39] dan Husaini Syirazi (1307-1380 HS) dalam Tabyin al-Qur'an,[40] menyebutkan bahwa Kitab Mubin adalah Ilmu Ilahi itu sendiri. Oleh karena itu, Kitab Mubin dalam hal ini didefinisikan sebagai peliputan, pengaturan penciptaan alam semesta, dan takdir bagi makhluk.[41] Zamakhsyari (W. 538 H) dari mufasir Ahlusunah juga dalam Kasyyaf pada tafsir ayat 59 Surah Al-An'am, memaknai Kitab Mubin sebagai Ilmu Ilahi.[42]

Imam Mubin

Al-Ayasyi dalam tafsirnya menukil sebuah riwayat dari Husain bin Khalid di mana Imam Ridha as dalam menjelaskan Kitab Mubin menafsirkannya sebagai Imam Mubin.[43] Menurut pandangan beberapa peneliti, yang dimaksud dengan Imam Mubin adalah didahulukannya kitab ini dalam mengetahui, memberitahukan, dan ilmu sebelum terjadinya sesuatu.[44] Ahmad bin Ali Thabarsi (W. 588 H) dalam kitab Al-Ihtijaj mengisyaratkan kepada Khotbah al-Ghadir Nabi Muhammad saw di mana Imam Ali as diperkenalkan sebagai Imam Mubin dan Imam orang-orang bertakwa yang padanya terkumpul semua ilmu Nabi Islam.[45] Sayid Hasyim Bahrani (W. 1107 atau 1109 H) dalam Al-Burhan, dalam beberapa riwayat, menafsirkan maksud Imam Mubin dalam ayat 12 Surah Yasin '...dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuz).' sebagai Imam Ali as.[46] Beberapa mufasir Syiah juga menerima makna ini.[47]

Imam Zahir atau Imam Ali as

Muhammad bin Ali Syarif Lahiji dalam tafsir-nya menukil riwayat dari Abu Rabi' Syami bahwa Imam Shadiq as dalam tafsir ayat 59 Surah Al-An'am memaknai Kitab Mubin sebagai Imam Zahir.[48] Allamah Majlisi (W. 1110 H) dalam kitab Bihar al-Anwar menyebutkan riwayat dari Ya'qub bin Ja'far bin Ibrahim bahwa Musa bin Ja'far as dalam menjawab seorang Nasrani, menafsirkan Kitab Mubin dalam 'Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan'[49] sebagai Imam Ali as.[50] Nabathi juga dalam Al-Shirath al-Mustaqim menukil riwayat dari Ibnu Abi Umair bahwa Imam Shadiq as dalam tafsir ayat 59 Surah Al-An'am menganggap yang dimaksud dengan Kitab Mubin adalah Imam Ali as.[51]

Makna Lainnya

Kitab Ilahi,[52] Nabi Islam saw,[53] Pena,[54] dan alam penciptaan[55] atau dunia eksistensi[56] adalah makna-makna lain yang disebutkan oleh beberapa mufasir dan peneliti untuk Kitab Mubin.

Karakteristik

Menurut klaim beberapa peneliti, Kitab Mubin dalam makna selain Al-Qur'an tertulis menurut pandangan mufasir seperti Makarim Syirazi dan Allamah Thabathaba'i[57] memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Kitab Mubin berada dalam Ummul Kitab atau Lauh Mahfuz itu sendiri[58] yang tidak dapat dibaca dan tidak berbahasa Arab.[59]
  • Kitab Mubin bukan berjenis materi seperti kertas dan papan;[60] melainkan pada saat turun kepada Nabi Muhammad saw, ia mengenakan pakaian lafaz-lafaz Arab dalam bentuk Al-Qur'an agar masyarakat dapat memahami ayat-ayatnya.[61]
  • Perkara-perkara gaib langit dan bumi ada dalam Kitab Mubin. Yang dimaksud dengan gaib dianggap sebagai segala sesuatu yang tersembunyi dari indra manusia, seperti amal perbuatan hamba yang tersembunyi, niat batin, dan rahasia-rahasia yang ada di langit dan bumi.[62]
  • Penciptaan langit dan bumi berdasarkan ilmu Allah dalam Kitab Mubin dan program sebelumnya yang ada dalam Kitab Mubin, telah terlaksana.[63]
  • Ilmu ini ada sebelum penciptaan dan bahkan setelah musnahnya benda-benda, serta tidak terikat pada waktu dan tempat.[64]
  • Ilmu yang ada dalam Kitab Mubin dianggap tetap dan tidak dapat diubah atau diganti.[65]

Catatan Kaki

  1. Hariri, Farhang-ge Ishthilahat-e Qur'ani, 1384 HS, hlm. 307.
  2. Faqihizadeh dan Isa'i, Negahi Qur'ani be Chisti 'Kitab Mubin' wa Barresi-ye Ertebath-e An ba Qur'an-e Karim ba Tekyeh bar Ara-e Tafsiri-ye Allamah Thabathaba'i, hlm. 195.
  3. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 226.
  4. Bahrani, Al-Burhan, 1375 HS, jld. 2, hlm. 426-427.
  5. Syaikh Shaduq, Al-Amali, t.t., jld. 1, hlm. 235.
  6. Bahadori, Naqd-e Syubhe-ye Ta'arudh-e Ayat-e Elm-e Gheib dar Qur'an, hlm. 39-40.
  7. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 295; Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1380 H, jld. 5, hlm. 338-345.
  8. Lihat: Surah Yusuf, ayat 1; Surah Asy-Syu'ara, ayat 2; Surah Al-Qashash, ayat 2; Surah Az-Zukhruf, ayat 2; Surah Ad-Dukhan, ayat 2; Surah An-Naml, ayat 1.
  9. Lihat: Surah Al-Ma'idah, ayat 15; Surah Al-An'am, ayat 59; Surah Yunus, ayat 61; Surah Hud, ayat 6; Surah An-Naml, ayat 75; Surah Saba', ayat 3.
  10. Faqihizadeh dan Isa'i, Negahi Qur'ani be Chisti 'Kitab Mubin' wa Barresi-ye Ertebath-e An ba Qur'an-e Karim ba Tekyeh bar Ara-e Tafsiri-ye Allamah Thabathaba'i, hlm. 200.
  11. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350 H, jld. 11, hlm. 74.
  12. Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1380 H, jld. 9, hlm. 7.
  13. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 16, hlm. 9.
  14. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 16, hlm. 9.
  15. Musthafawi, Al-Riset, 1368 HS, jld. 1, hlm. 366-368.
  16. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 16, hlm. 9.
  17. Lihat: Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350 H, jld. 11, hlm. 74.
  18. Syaikh Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, t.t., jld. 3, hlm. 75.
  19. Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 3, hlm. 270.
  20. Sabzewari, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 114-115.
  21. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350 H, jld. 5, hlm. 244.
  22. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 321.
  23. Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib), 1411 H, jld. 18, hlm. 67.
  24. Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 54.
  25. Al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415-1416 H, jld. 6, hlm. 363.
  26. Faqihizadeh dan Isa'i, Negahi Qur'ani be Chisti 'Kitab Mubin' wa Barresi-ye Ertebath-e An ba Qur'an-e Karim ba Tekyeh bar Ara-e Tafsiri-ye Allamah Thabathaba'i, hlm. 197.
  27. Faqihizadeh dan Isa'i, Negahi Qur'ani be Chisti 'Kitab Mubin' wa Barresi-ye Ertebath-e An ba Qur'an-e Karim ba Tekyeh bar Ara-e Tafsiri-ye Allamah Thabathaba'i, hlm. 197; Lihat: Balkhi, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 1, hlm. 564; jld. 2, hlm. 243; jld. 2, hlm. 272; jld. 3, hlm. 316; jld. 3, hlm. 523.
  28. Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 5, hlm. 203.
  29. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 16, hlm. 9.
  30. Sulthan Ali Syah Gonabadi, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 2, hlm. 320.
  31. Haeri Tehrani, Muqtaniyat al-Durar, 1337 HS, jld. 4, hlm. 182-183.
  32. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 226.
  33. Syaikh Thusi, Al-Tibyan, t.t., jld. 9, hlm. 179-180.
  34. Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 9, hlm. 67.
  35. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 21, hlm. 9.
  36. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 295.
  37. Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 5, hlm. 86.
  38. Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 1, hlm. 768.
  39. Faidh Kasyani, Tafsir Al-Shafi, 1415 H, hlm. 124-125.
  40. Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 146.
  41. Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1380 H, jld. 5, hlm. 339-343.
  42. Zamakhsyari, Al-Kasyyaf, t.t., jld. 2, hlm. 31.
  43. AyasYi, Tafsir al-AyasYi, t.t., jld. 1, hlm. 361-362.
  44. Qayyumzadeh dan Syaker, Elm-e Imam as be Qur'an wa Chegunegi-ye An, hlm. 162-163.
  45. Thabarsi, Al-Ihtijaj, 1403 H, jld. 1, hlm. 59-60.
  46. Bahrani, Al-Burhan, 1375 HS, jld. 4, hlm. 568-571.
  47. Lihat: Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 1, hlm. 768; Bahrani, Al-Burhan, 1375 HS, jld. 2, hlm. 425-427; Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 1, hlm. 723; Qumi Masyhadi, Tafsir Kanz al-Daqaiq, 1381 HS, jld. 4, hlm. 343-344.
  48. Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 1, hlm. 768.
  49. Surah Ad-Dukhan, ayat 2.
  50. Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1368 HS, jld. 48, hlm. 85-87; Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 479.
  51. Al-Nabathi, Al-Shirath al-Mustaqim, 1384 H, jld. 1, hlm. 211.
  52. Lihat: Syaikh Thusi, Al-Tibyan, t.t., jld. 4, hlm. 155-156; Maibodi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 3, hlm. 379.
  53. Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 3, hlm. 270.
  54. Lihat: Sulthan Ali Syah (W. 1327 H), Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 2, hlm. 134.
  55. Lihat: Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 5, hlm. 272.
  56. Lihat: Sajjadi, Farhang-ge Ma'arif-e Eslami, t.t., jld. 3, hlm. 1567.
  57. Faqihizadeh dan Isa'i, Negahi Qur'ani be Chisti 'Kitab Mubin' wa Barresi-ye Ertebath-e An ba Qur'an-e Karim ba Tekyeh bar Ara-e Tafsiri-ye Allamah Thabathaba'i, hlm. 201.
  58. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 21, hlm. 9.
  59. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350 HS, jld. 2, hlm. 17.
  60. Allamah Thabathaba'i, Tafsir Al-Mizan (Terjemahan), 1378 HS, jld. 7, hlm. 182.
  61. Allamah Thabathaba'i, Tafsir Al-Mizan (Terjemahan), 1378 HS, jld. 11, hlm. 101.
  62. Makarim Syirazi, Tafsir-e Namuneh, 1374 HS, jld. 15, hlm. 534.
  63. Allamah Thabathaba'i, Tafsir Al-Mizan (Terjemahan), 1378 HS, jld. 7, hlm. 182.
  64. Allamah Thabathaba'i, Tafsir Al-Mizan (Terjemahan), 1378 HS, jld. 7, hlm. 182.
  65. Allamah Thabathaba'i, Tafsir Al-Mizan (Terjemahan), 1378 HS, jld. 16, hlm. 538.

Daftar Pustaka

  • Al-Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma'ani. Peneliti: Ali Abdulbari Athiyyah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415-1416 H.
  • Al-Nabathi, Syaikh Ali. Al-Shirath al-Mustaqim. Peneliti: Mikhail Ramadhan, Najaf: Al-Maktabah al-Haidariyyah, 1384 H.
  • Allamah Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Peneliti: Abdul Zahra Alawi, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1368 HS.
  • Allamah Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1350 HS.
  • Allamah Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Al-Mizan (Terjemahan). Penerjemah: Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, Qom: Daftar-e Intisharat-e Islami, 1378 HS.
  • Ayasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-AyasYi. Peneliti: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati, Qom: Mathba'ah al-Ilmiyyah, t.t.
  • Bahadori, Athena dkk. Naqd-e Syubhe-ye Ta'arudh-e Ayat-e Elm-e Gheib dar Qur'an. Dalam Jurnal Ilmiah-Penelitian Muthala'at-e Tafsiri, No. 13, Musim Semi 1392 HS.
  • Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Dar al-Tafsir, 1375 HS.
  • Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil (Tafsir al-Baidhawi). Riset: Muhammad Abdurrahman Mar'asyli, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
  • Balkhi, Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1423 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir Al-Shafi. Teheran: Maktabah al-Shadr, 1415 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1411 H.
  • Faqihizadeh, Abdulhadi, dan Ahmad Isa'i. Negahi Qur'ani be Chisti 'Kitab Mubin' wa Barresi-ye Ertebath-e An ba Qur'an-e Karim ba Tekyeh bar Ara-e Tafsiri-ye Allamah Thabathaba'i. Dalam Majalah Pajuhesh-nameh-ye Qur'an wa Hadits, No. 27, Musim Gugur dan Musim Dingin 1399 HS.
  • Haeri Tehrani, Ali. Muqtaniyat al-Durar. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1337 HS.
  • Hariri, Muhammad Yusuf. Farhang-ge Ishthilahat-e Qur'ani. Qom: Hijrat, 1384 HS.
  • Husaini Hamadani, Sayid Muhammad. Anwar-e Derakhsyan. Teheran: t.p., 1380 H.
  • Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ulum, 1423 H.
  • Huwaizi, Abd Ali. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Riset: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati, Qom: Ismailiyan, Cetakan keempat, 1415 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Peneliti: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan keempat, 1407 H.
  • Maibodi, Abul Fadhl Rasyiduddin. Kasyf al-Asrar wa 'Uddah al-Abrar (Dikenal sebagai Tafsir Khwajah Abdullah Anshari). Teheran: Amirkabir, 1371 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Namuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan ke-32, 1374 HS.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyah al-Arba'ah. Catatan pinggir: Allamah Thabathaba'i, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan ketiga, 1981 M.
  • Musthafawi, Hasan. Al-Riset fi Kalimat al-Qur'an al-Karim. Teheran: Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, Cetakan pertama, 1368 HS.
  • Qayyumzadeh, Mahmud, dan Muhammad Taqi Syaker. Elm-e Imam as be Qur'an wa Chegunegi-ye An. Dalam Majalah Amuzeh-haye Qur'ani, No. 16, Musim Gugur dan Musim Dingin 1391 HS.
  • Qumi Masyhadi, Muhammad Ridha. Tafsir Kanz al-Daqaiq wa Bahr al-Gharaib. Qom: Dar al-Ghadir, 1381 HS.
  • Sabzewari, Muhammad bin Habibullah. Irsyad al-Adzhan ila Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ta'arif lil Mathbu'at, 1419 H.
  • Sajjadi, Sayid Ja'far. Farhang-ge Ma'arif-e Eslami. Teheran: Penerbit Kumesh, t.t.
  • Sulthan Ali Syah, Muhammad bin Haidar. Bayan al-Sa'adah. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1408 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. t.t., Muassasah al-Bi'tsah, t.t.
  • Syaikh Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
  • Syaikh Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1415 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.t.
  • Syarif Lahiji, Muhammad bin Ali. Tafsir Syarif Lahiji. Teheran: Daftar-e Nasyr-e Dad, 1373 HS.
  • Thabarsi, Ahmad bin Ali. Al-Ihtijaj. Peneliti: Muhammad Baqir Kharsan, Masyhad: Nasyr-e Mortadha, Cetakan pertama, 1403 H.
  • Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasyyaf. t.tp., t.p., t.t.