Lompat ke isi

Konsep:Ikhtiar Manusia

Dari wikishia

Templat:Artikel Terkait Templat:Masalah-masalah Keadilan Ilahi Templat:Akidah Syiah

Ikhtiar Manusia dalam perbuatannya sendiri, merupakan salah satu keyakinan kaum Syiah dan sebagian Muslim lainnya, yang berlawanan dengan teori Jebregara'i. Para penganut ikhtiar percaya bahwa manusia berpengaruh dalam perilaku yang disengaja dan disadari, serta perbuatannya dinisbatkan kepada dirinya sendiri, dan ilmu, kehendak, serta kehendak (masyiat) Ilahi tidak menghalangi perbuatan ikhtiar manusia. Pembahasan mengenai ikhtiar manusia bergantung pada topik-topik seperti kehendak Ilahi, ilmu pra-pengetahuan Ilahi, Keadilan Ilahi, dan Hadis Thinat, dan dalam buku-buku kalam, pembahasan mengenai Jebre wa Ikhtiar dibahas di bawah bab perbuatan Tuhan.

Para penganut ikhtiar diklasifikasikan setidaknya ke dalam empat mazhab: Tafwidh Mu'tazilah, eksistensialis, penganut teori kasab, dan penganut teori Amr Bayn al-Amrayn. Syiah Imamiyah berdasarkan hadis-hadis para Imam Syiah termasuk di antara penganut teori Amr Bayn al-Amrayn.

Para penganut ikhtiar manusia menganggap keyakinan ini sebagai sesuatu yang aksiomatis (badihi) dan tidak memerlukan argumen. Menurut mereka, perhatian manusia pada hal-hal tertentu seperti rasa malu dan bangga, tanggung jawab, celaan dan pujian, serta keraguan dan pemikiran untuk mengambil keputusan menunjukkan adanya ikhtiar manusia. Mereka juga bersandar pada ayat-ayat Al-Qur'an dan banyak hadis untuk membuktikan ikhtiar.

Tantangan terpenting bagi keyakinan terhadap ikhtiar adalah peran ilmu dzati dan pra-pengetahuan Tuhan terhadap perilaku manusia, serta hadis-hadis thinat yang menganggap kebahagiaan dan kesengsaraan manusia bergantung pada fitrah yang telah ditetapkan bagi mereka sebelum penciptaan manusia. Ulama Syiah percaya bahwa ilmu pra-pengetahuan Tuhan terhadap perilaku manusia berkaitan dengan sifat ikhtiar dan bukan secara deterministik, dan mereka juga menyebutkan makna-makna takwil untuk hadis-hadis thinat agar selaras dengan keyakinan utama Imamiyah, yaitu keadilan Ilahi dan ikhtiar manusia.

Apa itu Ikhtiar dan Mengapa itu Penting?

Tidak ditemukan satu definisi tunggal mengenai definisi ikhtiar, dan para pemikir telah mengidentifikasinya dari berbagai sudut pandang. Qadardan Qaramaleki dalam penelitiannya telah mengumpulkan 12 definisi dari penulis Muslim dan non-Muslim.[1] Namun Ja'far Subhani, teolog Syiah, menganggap konsep ikhtiar tidak memerlukan definisi dan melewatinya dengan membandingkan gerakan tangan yang gemetar (tremor) dan gerakan tangan yang sehat.[2]

Ikhtiar manusia berarti tidak adanya keterpaksaan (jebre) dalam perbuatan-perbuatan yang disadarinya. Teori ikhtiar berada di hadapan teori determinisme dan dibahas dalam topik-topik teologis dalam mengukur rasio perbuatan manusia dengan kekuatan dan kehendak Ilahi.[3] Penganut ikhtiar percaya bahwa manusia bebas dari sisi Tuhan dalam memilih dan melakukan perilaku mereka, serta kehendak, ilmu, dan qadha dan qadar Ilahi tidak menghalangi pilihan dan ikhtiar manusia, dan individu memiliki pengaruh nyata dalam menciptakan perbuatan mereka.

Ikhtiar manusia berhubungan langsung dengan ayat-ayat takdir dalam Al-Qur'an, ajal manusia, penetapan rezeki, dan ilmu pra-pengetahuan Tuhan.[4]

Alasan-alasan Ikhtiar Manusia

Teori ikhtiar manusia dianggap sebagai teori yang lahir bersamaan dengan kecerdasan manusia, yang mana titik awalnya tidak dapat diperkenalkan.[5] Di antara umat Islam, kaum Adliyah, khususnya Syiah, dengan meyakini dua prinsip keadilan dan hikmah Ilahi, meyakini adanya ikhtiar manusia dalam perbuatan yang berada dalam orbit taklif syar'i, di mana manusia dipuji atau dicela karenanya; sebab memberikan beban (taklif) kepada manusia yang terpaksa dan memuji atau mencelanya atas perbuatan yang dilakukan darinya adalah buruk dan tidak pantas.[6]

Aksiomatisnya Ikhtiar Manusia

Alasan pertama ikhtiar manusia dianggap sebagai aksiomatisnya teori ini yang dapat dipahami dengan memperhatikan fitrah manusia.[7] Sebagaimana Khaja Nashiruddin Thusi dalam Kasyaf al-Murad,[8] Thabathaba'i dan Muthahhari dalam Ushul al-Falsafah wa Rawisy-e Realism,[9] dan Subhani dalam "Jebre wa Ikhtiyar" telah menegaskan poin ini.[10]

Sandaran pada Al-Qur'an

Para penganut ikhtiar untuk membuktikan klaim mereka mengenai penisbatan perbuatan manusia kepada dirinya sendiri telah bersandar pada ayat-ayat Al-Qur'an. Muhammad Taqi Ja'fari, filsuf dan teolog Syiah, telah mengklasifikasikan ayat-ayat Al-Qur'an dalam topik ini ke dalam beberapa kelompok: sebagian ayat menganggap azab dan musibah duniawi sebagai hasil dari perilaku manusia, sebagian lainnya menisbatkan perbuatan manusia kepada dirinya sendiri seperti ayat "Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya" (Ayat 38 Surah Al-Muddatstsir), sekitar 80 ayat yang menisbatkan kezaliman kepada manusia itu sendiri, seperti ayat 70 Surah At-Taubah, dan ayat-ayat yang secara eksplisit mengatakan bahwa manusia bebas dalam memilih, sebagaimana ayat 3 Surah Al-Insan yang mengatakan bahwa Kami telah menunjuki manusia jalan yang lurus dan ia bisa menjadi orang yang bersyukur atau kufur.[11]

Berdasarkan penelitian Ja'fari, dalam Al-Qur'an kata kehendak (iradah) dinisbatkan kepada Tuhan sebanyak 43 kali dan kepada manusia sebanyak 94 kali, dan tidak ada satu ayat pun yang menggunakan kehendak Tuhan untuk mengawasi perbuatan ikhtiar manusia.[12] Ia juga menunjuk pada ayat-ayat yang memperkenalkan hasil kehendak manusia sebagai objek kehendak Tuhan seperti ayat 18 dan 19 Surah Al-Isra'.[13]

Sandaran pada Hadis

Para penganut ikhtiar juga bersandar pada hadis-hadis dari Ahlulbait (as) di mana dalam riwayat-riwayat tersebut ditegaskan dan ditekankan adanya pertentangan antara jebregara'i dengan keadilan dan hikmah Tuhan, serta dengan taklif, janji, ancaman (wa'id), pahala, dan hukuman Ilahi.

Imam Ali (as) dalam menolak pemikiran mereka yang menganggap Qadha dan Qadar Ilahi mengharuskan manusia terpaksa, bersabda: "Jika demikian, niscaya pahala dan siksa, perintah dan larangan serta peringatan akan batil, dan janji serta ancaman tidak berdasar, dan tidak ada celaan bagi pelaku keburukan dan pujian bagi pelaku kebaikan."[14] Muhammad bin Ajlan bertanya kepada Imam Shadiq (as): Apakah Tuhan memaksa hamba-hamba untuk melakukan perbuatan? Imam (as) menjawab: "Tuhan lebih adil dari itu sehingga memaksa seorang hamba atas suatu perbuatan kemudian menghukumnya."[15] Sebagaimana jawaban yang sama juga dinukil dari Imam Ridha (as) kepada Hasan bin Ali Wasysya.[16]

Argumen Akal dan Wujdan

Para teolog Adliyah juga menganggap teori jebregara'i bertentangan dengan Keadilan Ilahi dan dengan bersandar pada keadilan dan hikmah Tuhan, mereka berargumen atas ikhtiar manusia,[17] sebagaimana Washil bin Atha berkata: Tuhan itu Adil dan Bijaksana dan tidak mungkin menginginkan dari hamba-hamba-Nya sesuatu yang bertentangan dengan apa yang Dia perintahkan, dan memaksa mereka atas suatu perbuatan kemudian menghukum mereka.[18]

Ibn Maitsam al-Bahrani, teolog Syiah, setelah menunjukkan bahwa ikhtiar manusia adalah perkara yang aksiomatis dan tidak memerlukan argumen, mengingatkan dua poin untuk menarik perhatian pada perkara ini yaitu bahwa setiap orang berakal membenarkan pujian atas kebaikan dan celaan atas permusuhan, dan jika manusia bukan pelaku perbuatannya sendiri maka pujian dan celaan ini tidak bermakna, dan ia juga menegaskan bahwa kita menemukan dengan persepsi wujdan bahwa perbuatan kita mengikuti motivasi kita dan ikhtiar tidak memiliki makna selain ini.[19]

Ja'fari dalam bukunya Jabr wa Ikhtiyar memperkenalkan beberapa fenomena dalam kehidupan manusia sebagai alasan atas ikhtiar yang terdiri dari penyesalan, rasa tanggung jawab, rasa malu, perbedaan motivasi dalam menjalankan taklif, dan akhirnya akhlak.[20] Dalam sumber-sumber lain juga hal-hal seperti berpikir dan memutuskan, keraguan dalam keputusan, tanggung jawab dan janji, rasa bangga, serta dorongan dan hukuman disebutkan sebagai tanda-tanda ikhtiar.[21]

Dengan pandangan agama juga pengutusan para nabi dan taklif bagi manusia hanya mungkin dengan asumsi ikhtiar manusia, dan tanpa ikhtiar, ajakan manusia untuk memperbaiki diri dan menjalankan kewajiban akan menjadi sia-sia.[22] Sekelompok fisikawan juga dengan bersandar pada prinsip ketidakpastian dalam fisika kuantum berlawanan dengan determinisme Newton menekankan pada kemungkinan ikhtiar manusia.[23]

Pandangan Para Teolog dalam Menafsirkan Ikhtiar

Dalam menafsirkan ikhtiar, terdapat tiga pandangan yang diajukan yaitu: 1. Pandangan Tafwidh Mu'tazilah; 2. Pandangan Amr Bayn al-Amrayn yang merupakan teori kaum Syiah; 3. Pandangan Eksistensialisme.[24] 4. Pandangan Kasab juga diajukan oleh kaum Asy'ariyah di hadapan teori determinisme dan dalam membela ikhtiar;[25] namun karena ketidakmampuan dalam menjelaskan fenomena ikhtiar, oleh para ulama Syiah diklasifikasikan dalam kelompok teori-teori determinisme.[26]

Teori Tafwidh

Templat:Utama Teori tafwidh adalah salah satu teori yang diajukan oleh sebagian teolog bermazhab Mu'tazilah[27] untuk menjelaskan ikhtiar manusia.[28] Berdasarkan teori tafwidh, perbuatan ikhtiar manusia hanya muncul darinya dan bukan makhluk Tuhan. Penisbatan perbuatan manusia kepada Tuhan bukanlah penisbatan hakiki, melainkan karena Tuhan telah menciptakan manusia dan memberinya kekuatan untuk melakukan perbuatan, namun Dia tidak ikut campur dalam melakukan atau meninggalkan perbuatannya, artinya perbuatan manusia secara takwini diserahkan kepada dirinya sendiri.[29]

Qadhi Abdul Jabbar berargumen bahwa perbuatan manusia mengikuti maksud dan kehendaknya, apa pun yang ia kehendaki maka ia lakukan, dan apa pun yang tidak ia kehendaki maka tidak ia lakukan, oleh karena itu manusia sendiri yang mewujudkan perbuatannya dan bukan Tuhan.[30] Dan di sisi lain dalam perbuatan manusia terdapat kezaliman dan penindasan, dan Tuhan suci dari kezaliman dan penindasan.[31] Ia juga bersandar pada banyak ayat Al-Qur'an termasuk ayat 29 Surah Al-Kahf yang menyerahkan kekafiran dan keimanan kepada manusia itu sendiri.[32]

Penentang Teori Tafwidh

Selain penganut determinisme dan Asy'ariyah, kaum Syiah dan juga banyak ulama Mu'tazilah menentang teori tafwidh.[33] Syekh Shaduq, ahli hadis Imamiyah abad keempat Hijriah dalam buku al-Tauhid mendedikasikan satu bab untuk hadis-hadis penafian jebre (paksaan) dan tafwidh dan menukil 12 hadis di dalamnya.[34]

Menurut Muthahhari, teolog Syiah, keyakinan ini tidak selaras dengan Tauhid Af'ali maupun Tauhid Dzati.[35] Subhani, teolog Syiah lainnya juga berkeyakinan bahwa pemikiran tafwidh adalah pemikiran dualistik dan tsanawi dan tidak ada seorang Muslim pun yang bisa meyakininya.[36] Sebagaimana Mulla Sadra, filsuf terkemuka Syiah juga menganggap tafwidh bertentangan dengan prinsip tauhid dalam penciptaan dan pengaturan.[37]

Teori Kasab

Templat:Utama Teori Kasab yang diyakini oleh mayoritas teolog Asy'ari adalah salah satu penjelasan yang diajukan untuk menjelaskan ikhtiar manusia dan hubungan perbuatan manusia dengan Tuhan.[38] Menurut Sa'duddin Taftazani, untuk menyelaraskan ikhtiar manusia dan faliyah Tuhan, tidak ada pilihan lain selain mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta perbuatan manusia, dan manusia adalah pengusahanya (kasib).[39]

Teori kasab tidak hanya dikritik dan dibatalkan oleh para penentang Asy'ari (teolog Adliyah), namun beberapa peneliti Asy'ari pun tidak menganggapnya cukup dalam menyelesaikan masalah determinisme, sebagaimana Ahmad Amin al-Mishri menganggapnya sebagai ungkapan baru dari teori determinisme,[40] dan Mahmud Syaltut juga berkeyakinan bahwa penafsiran kasab sebagai sinkronisasi biasa antara perbuatan dan kekuatan manusia tanpa kekuatan manusia tersebut berpengaruh dalam terwujudnya perbuatan, tidak mampu menjustifikasi masalah taklif dan prinsip keadilan Ilahi serta tanggung jawab manusia.[41]

Teori Amr Bayn al-Amrayn

Templat:Utama Penjelasan ikhtiar berdasarkan teori "Amr Bayn al-Amrayn" adalah pendekatan yang diikuti oleh kaum Syiah Imamiyah. Teori ini diajukan oleh para Imam Ahlulbait (as) dan diterima oleh para teolog Imamiyah serta para bijak (hukama) Islam.[42]

Berdasarkan teori ini, manusia adalah pemilik perbuatannya dan mampu atasnya, sekaligus perbuatannya adalah milik Tuhan dan berada dalam kekuasaan Ilahi, dan keduanya berada dalam satu garis vertikal (thuli) dan bukan horizontal (ardhi). Dengan kata lain, perbuatan manusia meskipun dinisbatkan kepada manusia, juga dinisbatkan kepada kehendak Tuhan; namun kehendak dan ikhtiar manusia tidak berada sejajar dengan kehendak Ilahi sehingga menjadi sekutu dalam kehendak Ilahi, melainkan berada dalam garis vertikal kehendak Ilahi; artinya kehendak, ikhtiar, dan kekuatan manusia adalah salah satu bagian dari sebab paripurna (illat tammah) perbuatan ikhtiarnya. Maka manusia tidak terpaksa; karena kriteria ikhtiar, yaitu kekuatan dan kehendak ada padanya, dan pada saat yang sama ia juga tidak memiliki ikhtiar mutlak; dan inilah makna dari amr bayn al-amrayn yang berkuasa atas seluruh perbuatan yang keluar dari manusia.[43]

Para teolog Maturidiyah juga menafsirkan kasab sedemikian rupa sehingga merujuk kembali kepada amr bayn al-amrayn, bahkan sebagian dari mereka menegaskan hal ini.[44]

Pertentangan Ikhtiar dengan Ilmu Pra-pengetahuan Ilahi

Salah satu tantangan dalam pembahasan ikhtiar adalah masalah ketidakselarasan antara "ilmu pra-pengetahuan Tuhan" dan "ikhtiar manusia". Dikatakan bahwa berdasarkan keyakinan pada ilmu dzati Tuhan, Tuhan sebelum penciptaan telah mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi, dan konsekuensi dari keyakinan ini adalah bahwa peristiwa-peristiwa alam semesta dan perbuatan-perbuatan manusia terjadi sesuai dengan ilmu Ilahi, akibatnya ikhtiar manusia menjadi tidak bermakna.[45] Terhadap tantangan ini, dua jawaban telah diberikan oleh para filsuf Muslim dan filsuf Barat.

Kemungkinan Keselarasan antara Ilmu Azali dan Kehendak Bebas

Para filsuf Islam, termasuk Mir Damad, Thabathaba'i, dan Muthahhari menjawab bahwa Tuhan sebagaimana mengetahui asal terwujudnya suatu perbuatan, Dia juga mengetahui proses terwujudnya. Oleh karena itu jika manusia melakukan suatu pekerjaan dengan ikhtiarnya sendiri, Tuhan mengetahui bahwa pelaku tersebut melakukan perbuatan itu dengan ikhtiarnya sendiri. Dari sini ilmu pra-pengetahuan bukan saja tidak bertentangan dengan ikhtiar, bahkan membuktikannya. Karena Tuhan sejak azali mengetahui bahwa setiap manusia melakukan perbuatan apa saja dengan ikhtiarnya sendiri.[46]

Muhammad Taqi Ja'fari, filsuf dan teolog Syiah, selain jawaban di atas juga menunjukkan dua poin lainnya: pertama bahwa ilmu tidak memiliki peran kausalitas (sebab-akibat) dan tidak dapat menjadi sebab terjadinya peristiwa, melainkan apa yang menjadi sebab terciptanya sesuatu adalah kehendak Tuhan dan bukan ilmu-Nya,[47] dan lainnya bahwa jika ilmu menyebabkan jebre (paksaan) maka Tuhan sendiri pun harus terpaksa karena Dia memiliki ilmu pra-pengetahuan terhadap perbuatan-perbuatan-Nya.[48]

Penafian Ilmu Tuhan terhadap Perbuatan Manusia

Sebagian filsuf Barat berpandangan bahwa ilmu pra-pengetahuan Tuhan hanya mencakup topik-topik yang secara esensial dan logis memungkinkan untuk diketahui. Di sisi lain apa yang akan terwujud di "masa depan" belum ada sehingga menjadi objek pengetahuan Tuhan pada saat "sekarang". Akibatnya ilmu pra-pengetahuan Tuhan tidak berkaitan dengan masa depan yang belum terwujud. Sebagaimana "kekuasaan" Tuhan tidak berkaitan dengan hal yang mustahil dan ini tidak mengharuskan adanya kekurangan pada Tuhan.[49]

Hadis Thinat dan Ikhtiar

Hadis Thinat dan kandungannya adalah kumpulan riwayat yang menganggap materi awal penciptaan manusia tidaklah sama.[50] Masyhur ulama Syiah termasuk Syekh Hurr Amili, Muhaddits Jaza'iri, Sayid Abdullah Syubbar, Aqa Jamal Khansari meyakini adanya kemutawatiran hadis-hadis thinat.[51]

Makna awal dari riwayat-riwayat ini menunjukkan adanya nasib yang telah ditentukan sebelumnya bagi manusia[52] dan para ulama Syiah menganggapnya bertentangan dengan ikhtiar manusia dan Keadilan Ilahi.[53] Hingga para ulama seperti Sayid Murtadha dan Abul Hasan Sya'rani menganggap sanad kelompok riwayat ini lemah karena merupakan Khabar Wahid, dan percaya bahwa karena pertentangan riwayat-riwayat tersebut dengan pembahasan akal yang pasti dan ayat-ayat Al-Qur'an, maka harus ditolak.[54]

Pandangan-pandangan Ulama Syiah dalam Menjelaskan Hadis Thinat

Para ulama Syiah mengadopsi banyak pandangan mengenai penyelarasan riwayat-riwayat ini dengan ajaran agama lainnya; Allamah Majlisi dalam Mir'at al-Uqul[55] menukil lima pendapat dan Sayid Abdullah Syubbar dalam Mashabih al-Anwar[56] menukil sembilan pendapat dalam hal ini.

Banyak ulama Syiah telah melakukan takwil terhadap riwayat-riwayat ini;[57] seperti mereka berkata bahwa Tuhan dengan ilmu pra-pengetahuan-Nya telah mengetahui siapa saja yang dengan ikhtiarnya akan beriman dan siapa saja yang akan menjadi kafir dan oleh karena itu dalam penciptaan pun Dia memperlakukan mereka dengan cara yang sama,[58] atau menganggap perbedaan thinat (tanah asal) sebagai hasil ujian di Alam Dzar dan di bawah pengaruh ketaatan dan kemaksiatan di alam tersebut[59] atau seperti Thabathaba'i yang menganggap pengaruh thinat dalam nasib manusia sebagai hal yang global dan bersifat latar belakang.[60]

Di sisi lain sekelompok orang seperti Abul Hasan Sya'rani berkeyakinan bahwa hadis-hadis thinat bertentangan dengan prinsip-prinsip mazhab Imamiyah dan harus dikesampingkan serta tidak layak untuk dijadikan sandaran.[61] Sebagian orang juga menganggap riwayat-riwayat ini dibuat-buat oleh kaum Ghali,[62] dan sebagian juga menilainya sebagai Taqiyah.[63]

Diam terhadap hadis-hadis ini juga merupakan pandangan yang dipilih oleh orang-orang seperti Majlisi dan berkeyakinan bahwa akal kita tidak mampu melingkupi hakikat berita-berita ini; maka kita menerima isi berita-berita ini secara ta'abbudi (mengikuti) dan menyerahkan analisis dan penafsirannya kepada para Imam (as) sendiri.[64]

Catatan Kaki

  1. Qadardan Qaramaleki, Nigah-e Sevvom be Jabr wa Ikhtiyar (Pandangan Ketiga tentang Determinisme dan Kehendak Bebas), 1384 HS, hlm. 71-96.
  2. Subhani, Jabr wa Ikhtiyar, 1381 HS, hlm. 36.
  3. Muthahhari, Catatan Kaki Ushul al-Falsafah wa Rawisy-e Realism, jld. 3, hlm. 177; Khosropanah, Kalam-e Novin-e Islami, 1394 HS, jld. 1, hlm. 178.
  4. Wolfson, Falsafah-e Ilm-e Kalam (Filsafat Kalam), 1368 HS, hlm. 707-713.
  5. Subhani, Jabr wa Ikhtiyar, 1381 HS, hlm. 36-37.
  6. Subhani, Jabr wa Ikhtiyar, 1381 HS, hlm. 37.
  7. Qadardan Qaramaleki, Nigah-e Sevvom be Jabr wa Ikhtiyar, 1384 HS, hlm. 172.
  8. Hilli, Kasyaf al-Murad, 1413 H, hlm. 308.
  9. Thabathaba'i, Ushul al-Falsafah wa Rawisy-e Realism, 1390 HS, jld. 3, hlm. 179.
  10. Subhani, Jabr wa Ikhtiyar, 1381 HS, hlm. 37.
  11. Ja'fari, Jabr wa Ikhtiyar, 1379 HS, hlm. 231-232.
  12. Ja'fari, Jabr wa Ikhtiyar, 1379 HS, hlm. 234.
  13. Ja'fari, Jabr wa Ikhtiyar, 1379 HS, hlm. 234.
  14. Shaduq, al-Tauhid, 1357 HS, hlm. 380.
  15. Shaduq, al-Tauhid, 1357 HS, hlm. 361.
  16. Shaduq, al-Tauhid, 1357 HS, hlm. 362.
  17. Wolfson, Falsafah-e Ilm-e Kalam, 1368 HS, hlm. 663.
  18. Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, 1364 HS, jld. 1, hlm. 61.
  19. Bahrani, Qawa'id al-Maram, 1406 H, hlm. 108.
  20. Ja'fari, Jabr wa Ikhtiyar, 1379 HS, hlm. 171-185.
  21. Qadardan Qaramaleki, Nigah-e Sevvom be Jabr wa Ikhtiyar, 1384 HS, hlm. 78-83.
  22. Subhani, Jabr wa Ikhtiyar, 1381 HS, hlm. 37; Qadardan Qaramaleki, Nigah-e Sevvom be Jabr wa Ikhtiyar, 1384 HS, hlm. 187.
  23. Barbour, Din wa Ilm (Agama dan Sains), 1395 HS, hlm. 423; Qadardan Qaramaleki, Nigah-e Sevvom be Jabr wa Ikhtiyar, 1384 HS, hlm. 186.
  24. Subhani, Jabr wa Ikhtiyar, 1381 HS, hlm. 45; Qadardan Qaramaleki, Nigah-e Sevvom be Jabr wa Ikhtiyar, 1384 HS, hlm. 97.
  25. Wolfson, Falsafah-e Ilm-e Kalam, 1368 HS, hlm. 727-728.
  26. Ja'fari, Jabr wa Ikhtiyar, 1379 HS, hlm. 229; Qadardan Qaramaleki, Nigah-e Sevvom be Jabr wa Ikhtiyar, 1384 HS, hlm. 240-241.
  27. Subhani, Jabr wa Ikhtiyar, 1381 HS, 366.
  28. Subhani, Jabr wa Ikhtiyar, 1381 HS, 357.
  29. Subhani, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, 1412 H, jld. 3, hlm. 301-302.
  30. Qadhi, Syarh al-Ushul al-Khamsah, 1422 H, hlm. 226.
  31. Qadhi, Syarh al-Ushul al-Khamsah, 1422 H, hlm. 231.
  32. Qadhi, Syarh al-Ushul al-Khamsah, 1422 H, hlm. 239-243.
  33. Subhani, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, 1412, jld. 3, hlm. 306.
  34. Shaduq, al-Tauhid, 1416 H. hlm. 359-364.
  35. Muthahhari, Jahan-bini-ye Tauhidi (Pandangan Dunia Tauhid), 1389 HS, hlm. 40.
  36. Subhani, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, 1412 H, jld. 3, hlm. 305.
  37. Mulla Sadra, Asfar, 1981 M, jld. 6, hlm. 370.
  38. Wolfson, Falsafah-e Ilm-e Kalam, 1368 HS, hlm. 727-728.
  39. Khayali, Syarh al-Aqa'id al-Nasafiyah, hlm. 115-117
  40. Amin, Dhuha al-Islam, jld. 3, hlm. 57
  41. Subhani, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, 1412 H, jld. 2, hlm. 198.
  42. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 5, hlm. 12.
  43. Muthahhari, Catatan Kaki Ushul al-Falsafah wa Rawisy-e Realism, jld. 3, hlm. 163-174.
  44. Jalali, Tarikh wa Aqa'id Maturidiyah (Sejarah dan Akidah Maturidiyah), 1390 HS, hlm. 269.
  45. Lih. Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1386 H, jld. 6, hlm. 270–271 dan hlm. 281–283; Plantinga dan lainnya, Kalam-e Falsafi, 1384 HS, hlm. 255–282.
  46. Lih. Muthahhari, Majmu'eh Atsar, 1389 HS, jld. 1, hlm. 423–425; Thabathaba'i, Nihayah al-Hikmah, [t.t.], hlm. 144; Mir Damad, Qabasat, 1356 HS, hlm. 471–472; Muthahhari, Insan wa Sarnevesyt (Manusia dan Takdir), 1374 HS, hlm. 125–130.
  47. Ja'fari, Jabr wa Ikhtiyar, 1379 HS, hlm. 249.
  48. Ja'fari, Jabr wa Ikhtiyar, 1379 HS, hlm. 250.
  49. Lih. Peterson, Aql wa I'tiqad-e Dini (Akal dan Keyakinan Religius), 1390 HS, hlm. 130.
  50. Rezwani dan Dzakeri, "Riwāyāt Thinat wa Ikhtiyār-e Insān", hlm. 47-48.
  51. Fada'i dan Musawi, "Tahlīl-e Ahādīts Thinat wa Rābiteh-ye Ān bā Ikhtiyār-e Insān", hlm. 94-95; Hurr Amili, al-Fushul al-Muhimmah, 1418 H, jld. 1, hlm. 420; Jaza'iri, al-Anwar al-Nu'maniyah, 1429 H, jld. 1, hlm. 212.
  52. Mahmudi dan Husaini, "Didgāh-e Allāmeh Thabāthabā'i pirāmūn-e Ahādīts Thinat dar Tabyīn-e Sa'ādat wa Syaqāwat-e Insān", hlm. 78.
  53. Syubbar, Mashabih al-Anwar, 1371 HS, jld. 1, hlm. 35.
  54. Mazandarani, Syarh Ushul al-Kafi, 1382 HS, jld. 4, hlm. 8; Syubbar, Mashabih al-Anwar, 1371 HS, jld. 1, hlm. 11.
  55. Majlisi, Mir'at al-Uqul, 1404, jld. 7, hlm. 15.
  56. Syubbar, Mashabih al-Anwar, 1371 HS, jld. 1, hlm. 35-39.
  57. Ghulami dan Dzakeri, "Thinat wa Adl-e Ilāhi", hlm. 116.
  58. Mazandarani, Syarh Ushul al-Kafi, 1382 H, jld. 8, hlm. 5; Syubbar, Mashabih al-Anwar, 1371 HS, hlm. 38; Hilli, Mukhtasyar al-Basha'ir, 1421 H, hlm. 384.
  59. Syubbar, Mashabih al-Anwar, 1371 HS, hlm. 38.
  60. Thabathaba'i, al-Mizan, 1390 H, jld. 8, hlm. 98-99.
  61. Mazandarani, Syarh Ushul al-Kafi, 1429 H, jld. 8, hlm. 4-5.
  62. Modarressi Tabataba'i, Maktab dar Farāyand-e Takāmul, 1389 HS, hlm. 70.
  63. Syubbar, Mashabih al-Anwar, 1371 HS, jld. 1, hlm. 36.
  64. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 5, hlm. 260; Mas'udi, Āsīb-shenāsi Hadīts, 1389 HS, hlm. 281.

Daftar Pustaka

  • Bahrani, Ibn Maitsam. Qawa'id al-Maram fi Ilm al-Kalam. Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi, 1406 H.
  • Barbour, Ian. Din wa Ilm (Agama dan Sains). Penerjemah: Pirooz Fatoorchi. Tehran, Pazhuheshgah Farhang wa Andisyeh Islami, 1392 HS.
  • Fada'i, Mohammad; Musawi, Sayid Morteza. "Tahlil-e Ahadits Thinat wa Rabiteh-ye An ba Ikhtiyar-e Insan" (Analisis Hadis Thinat dan Hubungannya dengan Ikhtiar Manusia).
  • Ghulami, Mohammad; Dzakeri, Mohammad. "Thinat wa Adl-e Ilahi" (Thinat dan Keadilan Ilahi).
  • Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Al-Fushul al-Muhimmah. Qom, 1418 H.
  • Ibrahimi Dinani, Gholamhossein. Basith al-Haqiqah. Dalam Danisyenameh Jahan-e Islam, jld. 3. Tehran, 1376 HS.
  • Ja'fari, Muhammad Taqi. Jabr wa Ikhtiyar (Determinisme dan Kehendak Bebas). Tehran, 1379 HS.
  • Jalali, Sayid Luthfullah. Tarikh wa Aqa'id Maturidiyah (Sejarah dan Akidah Maturidiyah). Qom, Universitas Adyan, 1390 HS.
  • Jaza'iri, Sayid Ni'matullah. Al-Anwar al-Nu'maniyah. Beirut, 1429 H.
  • Khosropanah, Abdul Husain. Kalam-e Novin-e Islami (Kalam Islam Modern). Qom, Ta'lim wa Tarbiyat Islami, 1394 HS.
  • Khayali, Ahmad bin Musa. Syarh al-Aqa'id al-Nasafiyah. Peshawar, Maktabah Ulum Islamiyah, 1297 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jamiah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'at al-Uqul. Tehran, 1404 H.
  • Mas'udi, Hamid. Asib-shenasi Hadits (Patologi Hadis). 1389 HS.
  • Mazandarani, Muhammad Shalih. Syarh Ushul al-Kafi. Tehran, 1382 HS/ 1429 H.
  • Mir Damad, Mir Muhammad Baqir bin Muhammad. Qabasat. Atas upaya Mohammad Mehdi Mohaqqeq. Tehran, Penerbit Universitas Tehran, 1356 HS.
  • Modarressi Tabataba'i, Hossein. Maktab dar Farayand-e Takamul (Madzhab dalam Proses Evolusi). 1389 HS.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyah al-Arba'ah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1981 M.
  • Muthahhari, Murtadha. Insan wa Sarnevesyt (Manusia dan Takdir). Tehran, Penerbit Sadra, Cetakan ke-14, 1374 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya). Tehran, Sadra, 1389 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Ushul al-Falsafah wa Rawisy-e Realism (Prinsip-prinsip Filsafat dan Metode Realisme). Tehran, Sadra, tanpa tahun.
  • Peterson, Michael dkk. Aql wa I'tiqad-e Dini (Akal dan Keyakinan Religius). Penerjemah: Ahmad Naraqi dan Ebrahim Soltani. Tehran, Nasyr Tarh-e No, 1390 HS.
  • Plantinga, Alvin dkk. Kalam-e Falsafi (Kalam Filosofis). Penerjemah: Ahmad Naraqi dan Ebrahim Soltani. Tehran, Nasyr Shirat, 1384 HS.
  • Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad. Syarh al-Ushul al-Khamsah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1422 H.
  • Qadardan Qaramaleki, Mohammad Hassan. Nigah-e Sevvom be Jabr wa Ikhtiyar (Pandangan Ketiga tentang Determinisme dan Kehendak Bebas). Tehran, Pazhuheshgah Farhang wa Andisyeh Islami, 1384 HS.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Tauhid. Riset: Sayid Hasyim Husaini Tehrani. Qom, Nasyr Islami, tanpa tahun/ 1416 H.
  • Subhani, Ja'far. Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal. Qom, Muassasah al-Imam al-Shadiq as, 1428 H.
  • Subhani, Ja'far. Jabr wa Ikhtiyar (Determinisme dan Kehendak Bebas). 1381 HS.
  • Syahrastani, Muhammad bin Abdul Karim. Al-Milal wa al-Nihal. Qom, al-Syarif al-Radhi, 1364 HS.
  • Syubbar, Sayid Abdullah. Mashabih al-Anwar. 1371 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, 1390 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Nihayah al-Hikmah. Qom, Markaz al-Thiba'ah wa al-Nasyr, tanpa tahun.
  • Thusi, Nashiruddin Muhammad bin Muhammad. Kasyaf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I'tiqad. Qom, Daftare Nasyr Islami, 1413 H.
  • Wolfson, Harry Austryn. Falsafah-e Ilm-e Kalam (Filsafat Kalam). Penerjemah: Ahmad Aram. Tehran, al-Huda, 1368 HS.

Templat:Ketuhanan Templat:Kalam Islam