Lompat ke isi

Konsep:Dābbat al-Ardh

Dari wikishia

|| || || - || || - || || || editorial box Dabbat al-Ardh (bahasa Arab: دابَّةُ الأرض) bermakna binatang (makhluk hidup) dari bumi dan dianggap sebagai salah satu tanda akhir zaman yang disebutkan dalam ayat 82 Surah Al-Naml. Makhluk ini akan keluar dari bumi pada hari kiamat dan berbicara dengan manusia.

Sebagian mufasir mengatakan bahwa makhluk ini membawa cincin Sulaiman dan tongkat Musa, serta memisahkan antara orang mukmin dan kafir. Dalam tafsir-tafsir Syiah, terkadang kemunculannya dikaitkan dengan raj'ah para Imam as.

Thabari, sejarawan dan mufasir Al-Qur'an, meyakini bahwa Dabbat al-Ardh akan muncul ketika amar makruf nahi munkar telah ditinggalkan. Tempat keluarnya disebutkan dalam berbagai sumber berada di Yaman, Hijaz, Najaf, Madinah, Masjidil Haram, dan beberapa wilayah lainnya. Sebagian mufasir berpendapat bahwa ia akan keluar dari bumi sebanyak tiga kali di waktu dan tempat yang berbeda, dan setelah itu tidak ada lagi kesempatan untuk tobat. Saat keluar, Dabbat al-Ardh akan mengeluarkan suara keras yang terdengar oleh penduduk timur dan barat, kemudian ia bergerak menuju Syam dan Yaman. Dikatakan bahwa waktu kemunculannya mungkin terjadi sebelum atau sesudah matahari terbit dari barat, atau pada waktu malam dan siang hari.

Dabbat al-Ardh; Tanda Akhir Zaman dalam Al-Qur'an dan Tafsir Islam

Dabbat al-Ardh yang berarti makhluk bergerak dari bumi, dianggap sebagai salah satu tanda Akhir Zaman dan hari Kiamat.[1] Al-Qur'an dalam ayat 82 Surah Al-Naml mengisyaratkan kisah Dabbat al-Ardh: [catatan 1] Dikatakan berdasarkan ayat ini, Dabbat al-Ardh akan keluar dari bumi saat kiamat dan berbicara dengan manusia.[2]

Para mufasir Syiah dan Ahlusunah telah menjelaskan tentang Dabbat al-Ardh di bawah ayat ini.[3] Sebagian mufasir dan riwayat melaporkan bahwa makhluk ini membawa cincin Sulaiman dan tongkat Musa as.[4] Juga dikatakan bahwa Dabbat al-Ardh memisahkan orang mukmin dan kafir satu sama lain dan memberikan tanda pada mereka.[5] Dalam tafsir Syiah, makhluk ini terkadang dikaitkan dengan topik raj'ah, yaitu hidupnya kembali para Imam as.[6]

Di sisi lain, sebagian berpendapat bahwa riwayat Dabbat al-Ardh diambil dari kisah Jassasah yang dinukil dari Tamim al-Dari dan termasuk dalam sumber-sumber yang secara istilah termasuk Israiliyat yang masuk ke dalam budaya Islam.[7] [catatan 2]

Siapakah Dabbat al-Ardh?

Menurut sebagian ulama Syiah, berdasarkan riwayat, Dabbat al-Ardh dianggap sebagai Imam Ali as atau Imam Mahdi afs.[8] Meskipun demikian, para mufasir seperti Syekh Thusi, Syekh Thabarsi, dan Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i tidak mempercayai riwayat-riwayat ini.[9] Allamah Thabathaba'i berpendapat bahwa Dabbat al-Ardh mungkin manusia atau non-manusia, dan jika ia berupa hewan, maka bicaranya dengan manusia adalah hal yang luar biasa (di luar kebiasaan).[10] Ia juga menegaskan bahwa Dabbat al-Ardh termasuk rahasia Al-Qur'an dan Allah swt bermaksud menyamarkannya dalam hal ini, serta ia tidak menemukan ayat dalam Al-Qur'an yang secara eksplisit dapat digunakan untuk menafsirkan Dabbat al-Ardh.[11]

Di sisi lain, sebagian Ahlusunah menganggap Dabbat al-Ardh sebagai makhluk yang tidak biasa, sangat besar, memiliki ekor, bulu, dan empat kaki.[12] Sebaliknya, mufasir seperti Alusi dan Sayid Qutb menolak anggapan bahwa Dabbat al-Ardh adalah makhluk aneh dan sangat menentang penerapannya (tatbiq) pada Imam Ali as.[13]

Waktu dan Tempat Keluar

Thabari berkeyakinan bahwa Dabbat al-Ardh muncul ketika amar makruf nahi munkar telah ditinggalkan.[14] Tempat keluarnya makhluk ini dalam berbagai sumber rujukan disebutkan di Yaman, Hijaz, Najaf, Madinah, Masjidil Haram antara Safa dan Marwah, Ajyad, dan Tihamah.[15] Sebagian mufasir meyakini bahwa Dabbat al-Ardh keluar dari bumi sebanyak tiga kali pada waktu dan tempat yang berbeda, dan setelah keluarnya dia, tidak ada lagi kesempatan untuk tobat.[16]

Saat keluar, Dabbat al-Ardh berteriak dengan suara keras sehingga orang-orang di timur dan barat mendengar suaranya, lalu ia pergi menuju Syam dan Yaman.[17] Para peneliti mengenai waktu kemunculan makhluk ini juga mengisyaratkan bahwa hal itu mungkin terjadi sebelum matahari terbit dari barat, setelah matahari terbit dari barat, atau pada saat malam dan siang hari.[18]

Catatan

  1. Syeikh Shaduq, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni'mah, 1363 HS, jld. 2, hlm. 527; Husaini Tehrani, Ma'rifat al-Ma'ad, 1416 H, jld. 4, hlm. 63; Abu Ma'asy, Al-Mahdi as fi al-Qur'an wa al-Sunnah, Tanpa Tahun, jld. 2, hlm. 134.
  2. Syeikh Shaduq, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni'mah, 1363 HS, jld. 2, hlm. 527.
  3. Thabathaba'i, al-Mizan, 1390 HS, jld. 15, hlm. 396; Tsa'labi, al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 7, hlm. 224; Thabari, Tafsir Thabari, 1412 H, jld. 20, hlm. 10.
  4. Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 15, hlm. 75; Lahiji, Tafsir Lahiji, 1373 HS, jld. 3, hlm. 442; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 39, hlm. 345.
  5. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1416 H, jld. 6, hlm. 300.
  6. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 15, hlm. 554.
  7. Ahmadi Miyanji, Makatib al-Rasul, 1419 H, jld. 1, hlm. 659; Amili, al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 1, hlm. 124; Hurr al-Amili, Wasail al-Syiah, Muqaddimah, hlm. 27.
  8. Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 15, hlm. 75; Lahiji, Tafsir Lahiji, 1373 HS, jld. 3, hlm. 442.
  9. Syeikh Thusi, al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 8, hlm. 120; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 S, jld. 5, hlm. 365; Thabathaba'i, al-Mizan, 1390 HS, jld. 15, hlm. 396.
  10. Thabathaba'i, al-Mizan, 1390 HS, jld. 15, hlm. 390.
  11. Thabathaba'i, al-Mizan, 1390 HS, jld. 15, hlm. 396.
  12. Suyuthi, al-Dur al-Mantsur, 1404 H, jld. 5, hlm. 116; Tsa'labi, al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 8, hlm. 224; Dzahabi, Mizan al-I'tidal, 1416 H, jld. 5, hlm. 106.
  13. Alusi, Ruh al-Bayan, 1415 H, jld. 2, hlm. 21; Sayid Qutb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 5, hlm. 2667.
  14. Thabari, Tafsir Thabari, 1412 H, jld. 20, hlm. 10.
  15. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 S, jld. 5, hlm. 365; Thayyib, Athib al-Bayan, 1378 HS, jld. 19, hlm. 189; Allahyari Nejad, Barresi wa Naqd-e Riwayat-e Ahl-e Sonnat darbare-ye Dabbat al-Ardh, hlm. 70-77.
  16. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 S, jld. 5, hlm. 365; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 15, hlm. 547.
  17. Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, 1419 H, jld. 9, hlm. 2925.
  18. Allahyari Nejad, Barresi wa Naqd-e Riwayat-e Ahl-e Sonnat darbare-ye Dabbat al-Ardh, hlm. 78-80.

Catatan Kaki

Daftar Pustaka

  • Alusi, Syihabuddin Sayid Mahmud, Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1415 H.
  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali, Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan, Masyhad: Astan Qods Razavi, Cetakan pertama, 1408 H.
  • Abu Ma'asy, Sa'id, Al-Mahdi fi al-Qur'an wa al-Sunnah, tanpa tempat, tanpa tahun.
  • Ibnu Abi Hatim, Abdurrahman bin Muhammad, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, Arab Saudi: Nizar Mustafa al-Baz, 1419 H.
  • Ahmadi Miyanji, Ali, Makatib al-Rasul Shallallahu 'alaihi wa Alihi wa Sallam, Qom: Dar al-Hadits, 1419 H.
  • Allahyari Nejad, Maryam; Zahedi-far; Rezai Kanmui, Barresi wa Naqd-e Riwayat-e Ahl-e Sonnat darbare-ye Dabbat al-Ardh, dalam Jurnal Masyriq-e Mau'ud, Qom: Muassasah Ayandeh Roshan, Musim Semi 1394 HS.
  • Tsa'labi, Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim, al-Kasyf wa al-Bayan, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1422 H.
  • Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan, Wasail al-Syiah, Koreksi: Muassasah Alu al-Bait alaihimussalam, Qom: Muassasah Alu al-Bait alaihimussalam, 1409 H.
  • Husaini Tehrani, Muhammad Husain, Ma'rifat al-Ma'ad, Beirut, Dar al-Mahajjah al-Baidha, 1416 H.
  • Dzahabi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad, Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal, Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Ilmiyah, 1416 H.
  • Sayid Qutb, Ibrahim Husain Syadzili, Fi Zhilal al-Qur'an, Beirut, Kairo: Dar al-Syuruq, Cetakan ketujuh belas, 1412 H.
  • Suyuthi, Jalaluddin, al-Dur al-Mantsur, Qom: Perpustakaan Mar'ashi Najafi, 1404 H.
  • Syeikh Shaduq, Muhammad bin Ali, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni'mah, Qom: Cetakan Ghaffari, 1363 H.
  • Syeikh Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, al-Mizan, Lebanon: Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan kedua, 1390 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran: Nashir Khosro, Cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tafsir Thabari (Jami' al-Bayan), Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Thayyib, Abdul Husain, Athib al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran: Islam, 1378 HS.
  • Amili, Ja'far Murtadha, al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, Qom: Dar al-Hadits, 1426 H.
  • Qusyairi Nisyaburi, Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Riset: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Beirut: Dar al-Fikr, 1398 H.
  • Lahiji, Quthbuddin, Tafsir Syarif Lahiji, Koreksi: Jalaluddin Muhaddits, Teheran: Nashr-e Dad, 1373 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan kedua, 1416 H.

Pranala Luar


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "catatan", tapi tidak ditemukan tag <references group="catatan"/> yang berkaitan