Konsep:Al-Nashir li-Dinillah
| Nama | Ahmad bin al-Mustadhi' |
|---|---|
| Lakab | Al-Nashir li-Dinillah |
| Lahir | 553/1158 (Baghdad) |
| Mati | 622/1225 (Baghdad) |
| Ayah | Al-Mustadhi' bi-Amrillah |
| Ibu | Seorang budak Turki bernama Zumurrud |
| Anak-anak | Al-Zahir bi-Amrillah |
| Istri/Istri-istri | Saljuk Khatun |
| Agama | Islam |
| Tempat dikuburkan | Baghdad |
| Jabatan | Khalifah Bani Abbasiyah ke-34 |
| Mulai pemerintahan | 575/1180 |
| Akhir pemerintahan | 622/1225 |
| Semasa dengan | Seljuk dan Khawarizmi |
| Pusat pemerintahan | Baghdad |
| Aktivitas penting | Menghormati dan memperhatikan tempat-tempat suci Syiah |
| Sebelum | Al-Mustadhi' bi-Amrillah |
| Sesudah | Al-Zahir bi-Amrillah |
Al-Nashir li-Dinillah (bahasa Arab: الناصر لدین الله; l. 553/1158 – w. 622/1225) atau Nashir Abbasi adalah khalifah Bani Abbasiyah ke-34 dan salah satu figur paling terkemuka dari Bani Abbasiyah. Mayoritas sejarawan meyakini bahwa Al-Nashir memiliki kecenderungan kuat terhadap mazhab Imamiyah, sebuah pandangan yang tercermin jelas dalam kebijakan-kebijakan serta syair-syair yang dinisbatkan kepadanya. Masa pemerintahannya yang membentang selama 47 tahun menjadikannya periode kekhalifahan terpanjang dalam sejarah Bani Abbasiyah.
Dukungan dan perhatian Al-Nashir terhadap syiar-syiar kaum Syiah mendorong meluasnya ajaran Tasyayyu dan memperkuat eksistensi mereka di berbagai wilayah Islam. Ia menetapkan Haram Kazimain sebagai zona suaka yang aman bagi para pelarian, serta secara aktif memakmurkan Haram Askariyain beserta Sardab Suci Imam Mahdi (as) di Samarra. Dengan mengangkat sebagian besar menterinya dari kalangan Syiah, Al-Nashir sukses memulihkan otoritas dan stabilitas Bani Abbasiyah yang sempat memudar, serta menjalankan pemerintahan secara berdaulat dan independen.
Era kepemimpinan Al-Nashir diwarnai oleh keruntuhan Seljuk dan menguatnya supremasi Khawarizmi. Pada masa yang sama, Ayyubiyah berkuasa di Mesir dan Syam, tetap mengakui kedaulatan kekhalifahan Abbasiyah sembari memimpin peperangan melawan Tentara Salib. Catatan sejarah mengungkapkan adanya ketegangan dan konflik militer antara Al-Nashir dengan Khawarizmi. Sang Khalifah dikenal menerapkan strategi pecah belah guna melemahkan kekuatan-kekuatan pesaingnya. Menurut sejumlah laporan, ia bahkan memprovokasi Kekaisaran Mongol untuk menginvasi Khawarizmi. Akibat manuver politik ini, sebagian sejarawan mengecamnya sebagai biang keladi masuknya bangsa asing ke wilayah Islam, yang pada gilirannya memicu kehancuran budaya dan peradaban Islam.
Di luar ranah politik, Al-Nashir juga mumpuni dalam keilmuan; selain meriwayatkan hadis, ia menguasai fikih dan kesusastraan (syair). Ia menaruh kepedulian tinggi terhadap kesejahteraan sosial-ekonomi rakyatnya dan menggagas banyak pembangunan infrastruktur publik (amal jariyah). Sepeninggalnya, tampuk kekuasaan diwariskan kepada putranya, Al-Zahir bi-Amrillah.
Pengenalan Singkat
Ahmad bin al-Mustadhi', yang mahsyur dengan gelar Al-Nashir li-Dinillah[1], adalah khalifah Bani Abbasiyah ke-34.[2] Ia diakui sebagai salah satu khalifah Abbasiyah yang paling menonjol[3] dan terkenal.[4] Kunyahnya adalah Abul Abbas.[5] Masa kekuasaan Al-Nashir dikenang sebagai salah satu periode paling aman dan stabil dalam rangkaian sejarah khalifah Abbasiyah.[6]
Nashir Abbasi lahir di Baghdad pada tahun 553/1158[7] dan naik takhta kekhalifahan pada tahun 575/1180 setelah kematian ayahnya, pada usia 23 tahun.[8] Ia mangkat karena sakit pada tahun 622/1225[9] atau 623/1226[10] di usia 70 tahun.[11] Kekhalifahan Al-Nashir, yang membentang hingga 47 tahun[12], adalah yang terpanjang dalam dinasti tersebut.[13] Setelahnya, putranya Muhammad, yang bergelar Al-Zahir bi-Amrillah, dibaiat.[14] Al-Nashir pada mulanya mengangkat putra sulungnya, Muhammad, sebagai putra mahkota; namun setelah beberapa waktu, ia mengalihkannya kepada putra bungsunya, Ali. Pasca-wafatnya Ali pada tahun 612/1215-16, ia kembali menunjuk Muhammad sebagai pewaris takhta.[15]
Al-Nashir li-Dinillah diakui sebagai sosok yang berbudi luhur, cerdas,[16] politikus ulung, cakap, dan pemberani.[17] Diriwayatkan bahwa ia memberikan perhatian besar pada kesejahteraan sosial dan ekonomi warganya[18] serta gigih menyebarkan nilai-nilai syariat sekaligus menghapus perbuatan tercela yang melanggar hukum syara' di Baghdad.[19] Kepedulian pribadinya terhadap kondisi rakyat dan inisiatifnya melakukan inspeksi pada malam hari terekam kuat dalam berbagai sumber sejarah.[20] Al-Nashir sangat giat mendanai pembangunan masjid, madrasah, dan infrastruktur jalan;[21] sedemikian rupa sehingga karya amal jariyahnya dinilai tak terhitung jumlahnya.[22] Syarif Abu Ja'far Yahya bin Muhammad Alawi Husaini, Naqib kaum Thalibi di Basrah, tercatat sebagai salah satu sahabat karib Al-Nashir.[23]
Kedudukan Ilmiah
Nashir Abbasi dikenal luas sebagai sastrawan yang fasih (baligh),[24] ilmuwan, penulis, perawi hadis, dan penyair terpandang.[25][26] Diklaim bahwa ia menguasai beragam disiplin ilmu[27] dan membuahkan berbagai karya tulis keilmuan.[28] Ia juga memiliki penguasaan menyeluruh di bidang fikih dan kerap berdiskusi mendalam dengan para fukaha.[29] Kapasitas ilmiah Al-Nashir menjadikan sebagian ulama memandangnya sebagai salah satu khalifah Abbasiyah yang paling utama.[30]
Salah satu mahakarya Al-Nashir adalah kitab Ruh al-'Arifin[31] yang sukses menarik perhatian para pengikut empat mazhab besar.[32] Kitab yang mendalami kajian hadis ini[33] diajarkan di lebih dari 100 pusat pendidikan di seantero wilayah Islam.[34] Ia turut menulis risalah mengenai keutamaan Imam Ali (as) dengan tajuk yang serupa.[35]
Nashir Abbasi mendirikan sebuah perpustakaan megah di samping Madrasah Nizamiyah Baghdad, yang menghimpun manuskrip-manuskrip berharga.[36] Ia menunjukkan apresiasi mendalam kepada para ulama dan forum-forum ilmiah, serta menunjuk Syihabuddin Abu Hafash Umar Suhrawardi, seorang Sufi termasyhur dan penulis kitab Awarif al-Ma'arif, sebagai perwakilan politiknya.[37] Sang khalifah menerima ijazah periwayatan hadis dari sejumlah ulama, sekaligus memberikan ijazah keilmuan kepada ilmuwan lainnya.[38] Al-Nashir bahkan mengizinkan seorang ulama Syiah, Abu Ja'far Alawi, untuk mengajarkan karya-karyanya.[39]
Mazhab
Diriwayatkan bahwa Nashir Abbasi, berbeda halnya dengan para pendahulunya, adalah seorang penganut Syiah[40] dengan kecenderungan spesifik terhadap mazhab Imamiyah.[41] Mengingat Baghdad pada eranya merupakan sentral penganut Syiah Imamiyah, ke-Syiah-annya identik dengan ajaran Syiah Imamiyah.[42] Sejumlah literatur Syiah menorehkan namanya di jajaran tokoh besar Syiah[43] dan memanjatkan doa kebaikan untuknya atas kepercayaannya terhadap wilayah (kepemimpinan ilahiah) para Imam (as).[44] Shan'ani, sembari memujinya, mengurai kecenderungan mazhabnya dan menyebut ke-Syiah-an sang khalifah sebagai sebuah keajaiban sejarah.[45] Ia berasumsi bahwa Al-Nashir memandang dirinya sendiri sebagai wakil dari Imam yang Dinanti.[46]
Absennya pembahasan mengenai mazhab Al-Nashir di beberapa literatur Ahlussunnah kerap dinilai sebagai indikasi kuat ke-Syiah-annya; mengingat pengenalan tokoh besar biasanya diiringi pencantuman mazhab mereka.[47] Riwayat yang memuat dialog Nashir Abbasi dengan Ibnu Jauzi—mengenai figur paling utama pasca-kenabian Nabi Muhammad (saw)—dan keengganan Ibnu Jauzi untuk menjawab tegas karena takut kepada sang khalifah, dianggap sebagai bukti pendukung lain atas orientasi Syiah-nya.[48] Di sisi lain, Ibnu Atsir (penulis Al-Kamil fi al-Tarikh), setelah mengafirmasi bahwa Al-Nashir adalah penganut Syiah, mendeskripsikannya sebagai penguasa yang tiran. Ibnu Atsir menuding bahwa di bawah komandonya, wilayah Islam porak-poranda dan kekayaan rakyat dirampas.[49] Menyikapi hal ini, Sayid Muhsin Amin berargumen bahwa upaya menyembunyikan sisi positif dan mengeksploitasi kelemahan Al-Nashir hanyalah imbas dari tendensi anti-Imamiyah sang sejarawan.[50] Adapun pandangan yang mengklaim bahwa Al-Nashir hanya mempolitisasi identitas Syiah guna menghadapi rival-rivalnya dianggap keliru; pasalnya, komitmen dan dukungan Al-Nashir terhadap kelompok Syiah bersifat konsisten, dan mengingat otoritas kekhalifahannya yang absolut, ia sejatinya tidak bergantung pada sokongan politik Syiah.[51]
Refleksi Kecenderungan Mazhab dalam Syair-syair Al-Nashir
Bait-bait puisi karya Al-Nashir li-Dinillah diyakini sebagai manifestasi dari keyakinan Syiah-nya.[52] Gubahannya untuk membungkam kritik para penguasa sezaman atas afiliasi ke-Syiah-annya dipandang sebagai dalil autentik atas akidahnya.[53]
Pada lantunan syair lain yang dikirimkan sebagai tanggapan atas putra Salahuddin Ayyubi, Al-Nashir secara gamblang menyinggung insiden perampasan kekhalifahan Imam Ali (as).[55] Ubaidullah, tokoh kaum Thalibi di Mosul, dalam sepucuk suratnya sempat menyoal desas-desus konversi mazhab sang khalifah ke Ahlussunnah. Dalam balasannya, Al-Nashir kembali merangkai bait syair yang menyanjung Ahlulbait (as) sekaligus menepis rumor tersebut.[56]
Kecenderungan pada Ajaran Futuwwah
Menurut berbagai sumber sejarah, Al-Nashir li-Dinillah menaruh minat besar pada ajaran Futuwwah (keksatriaan/kedermawanan) dan secara seremonial mengenakan jubah kebesaran Futuwwah.[57] Teladannya memicu euforia di kalangan para elite penguasa[58] maupun rakyat awam lintas wilayah untuk turut mengenakan simbol tersebut.[59] Pasca-wafatnya Malik bin Abdul Jabbar, yang merupakan pimpinan tarekat Fityan (Futuwwah), Al-Nashir langsung mengukuhkan diri sebagai pucuk pimpinan tertinggi kelompok ini.[60] Muncul anggapan bahwa manuver ideologisnya tersebut bertujuan memobilisasi basis pengaruh komunal mereka, sekaligus mendayagunakannya sebagai pranata penyatuan solidaritas umat Muslim.[61]
Tindakan Al-Nashir untuk Kepentingan Syiah
Al-Nashir li-Dinillah memberikan dedikasi tinggi terhadap preservasi dan pengembangan syiar-syiar Syiah,[62] yang berimplikasi pada masa kejayaan penyebaran ajaran Syiah di era pemerintahannya.[63] Paradigma dan regulasi Al-Nashir berkontribusi signifikan dalam mendongkrak rasa percaya diri penganut Syiah untuk mengambil peran sentral di tengah masyarakat.[64] Ditegaskan bahwa diskriminasi atas kaum Syiah musnah pada masanya,[65] bahkan sang khalifah menggelontorkan anggaran khusus bagi kantong-kantong Syiah, seperti distrik Karkh di Baghdad, guna pembangunan fasilitas kesehatan dan sentra Darul Qur'an.[66] Al-Nashir turut membiayai konstruksi kompleks Khalathiyah yang bersebelahan dengan pusara Aun dan Mu'in (dari nasab Imam Ali (as)), yang kelak menjadi persemayaman istrinya, Saljuk Khatun.[67]
Perhatian dan Penghormatan terhadap Tempat Suci Syiah
Nashir Abbasi sangat mengagungkan situs-situs suci Syiah, dengan atensi penuh pada otoritas spiritual Haram Kazimain. Ia mendeklarasikan wilayah suci tersebut sebagai otonomi suaka absolut bagi siapa pun yang meminta perlindungan.[68] Atas titahnya, berbagai sudut ruang di Haram Kazimain direvitalisasi menjadi bilik-bilik pendidikan bagi para intelektual.[69] Sebuah kebijakan berani diterapkan tatkala ia menginstruksikan seorang pakar fikih Syiah untuk mendaras kitab Musnad Ahmad bin Hanbal di Haram Kazimain, dengan mengawali silabus melalui pembedahan komprehensif atas Peristiwa Fadak.[70] Sang khalifah dikabarkan memesan agar liang lahatnya digali mendampingi pusara suci Imam Kazim (as),[71] sebuah wasiat yang merepresentasikan loyalitas teologisnya secara paripurna.[72] Tindakan ini bersifat radikal mengingat tradisi kekhalifahan Abbasiyah yang memusatkan area pemakaman dinasti mereka di Rusafah, Baghdad. Kendati demikian, pasca-kematian Al-Nashir, putranya menganulir dekrit tersebut dan mengebumikan sang ayah bersama jasad para pendahulunya.[73]
Di wilayah lain, Al-Nashir menyumbangkan jaring ukiran kayu mahakarya yang didedikasikan bagi Haram Askariyain.[74] Rancang bangun struktur pilar Sardab Suci di Samarra juga dipersembahkan atas namanya.[75] Sebuah daun pintu megah berbahan kayu jati yang ia sumbangkan terpasang di Sardab tersebut[76], dengan guratan kaligrafi pembuka yang menorehkan lafaz Ayat Mawaddah.[77] Syaikh Abbas Qomi dalam adikaryanya, Tatimmah al-Muntaha, merinci persaksian pribadinya atas pintu beserta prasasti bersejarah itu pada warsa 1325/1907-08.[78]
Revitalisasi berlanjut kala Al-Nashir li-Dinillah memugar pusara para Imam Syiah (as) di kompleks pemakaman Baqi'<[79] seraya menegakkan sebuah kubah pelindung yang menaunginya,[80] monumen yang lantas tersohor dengan nomenklatur Kubah Aliyah.[81] Rekonstruksi peninggalan agung Rumah Sayyidah Fatimah (sa) di jantung Madinah turut disempurnakan di bawah payung pemerintahannya.[82]
Penyerahan Jabatan Kementerian kepada Syiah
Periode takhta Al-Nashir li-Dinillah diestimasikan sebagai epos keemasan pelibatan elite Syiah dalam roda birokrasi pemerintahan.[83] Berdasarkan tinjauan akademis, porsi terbesar era kepemimpinannya ditopang oleh kabinet beraliran Syiah, dan kebangkitan marwah Kekhalifahan Abbasiyah lahir berkat kejeniusan para menteri tersebut.[84] Nama-nama cemerlang seperti Muhammad bin Ali bin Ahmad Qashab (populer disapa Ibnu Qashab), Nashiruddin Nashir bin Mahdi Alawi Razi (Ibnu Mahdi), dan sang visioner Muayyaduddin al-Qomi bertengger di jajaran mahapatih Syiah pilihan Al-Nashir.[85] Integritas kepemimpinan mereka mengukuhkan fondasi Tasyayyu dan mengeskalasi jaminan kesejahteraan sosial bagi komunitas Syiah.[86] Para menteri ini dihormati berkat etos kerja mereka yang menapaki garis kejujuran dan penegakan supremasi keadilan, beriringan dengan laku spiritual berupa kesederhanaan (qanaah) yang membumi.[87]
Otoritas Pemerintahan
Awal abad ke-6 H (sekitar abad ke-12 M) menjadi tonggak penting pulihnya kemerdekaan kekhalifahan Abbasiyah, walau bersifat temporer.[88] Era Nashir Abbasi ditahbiskan sebagai zaman kejayaan stabilitas dan otoritas kekhalifahan.[89] Berkat kepiawaiannya, ia merestorasi taring kekhalifahan yang sebelumnya terus terdegradasi sejak turunnya takhta Mu'tashim Abbasi, meski keperkasaan ini meredup seiring dengan wafatnya sang khalifah.[90] Independensi Al-Nashir tercermin pada hegemoni absolut di wilayah kedaulatannya, di mana ia turun tangan mengendalikan jantung administrasi tanpa intervensi eksternal.[91] Strategi makro-politiknya tidak sekadar mengentaskan stagnasi ekonomi dan memajukan peradaban kultural,[92] namun juga melandasi proyeksi unifikasi bangsa-bangsa Muslim, menasbihkannya sebagai arsitek peradaban yang paling dihormati pada zamannya.[93] Mahakarya politisnya dielu-elukan sebagai salah satu kebanggaan luhur historiografi Arab.[94]
Eskalasi imperial Al-Nashir merentang jauh, mengungguli perbatasan ekspansi para khalifah dan sultan era klasik.[95] Kedigdayaannya menggetarkan nyali penguasa tetangga, memaksa setiap elemen pembangkang untuk bertekuk lutut.[96] Di lanskap Irak, hegemoni Sultan Seljuk dilumpuhkan secara definitif, dan gelarnya disingkirkan dari podium-podium khotbah (mimbar jumat).[97] Panji kekuasaannya tidak hanya mengangkasa di Timur Dekat, melainkan diakui otoritasnya hingga ke jazirah Andalusia di Barat dan perbatasan geografis Cina di Timur,[98] sembari namanya didaraskan dengan khidmat di altar khotbah di sepanjang wilayah Maghrib Afrika Utara.[99] Kedahsyatan persona Al-Nashir memancarkan aura ketakutan yang menembus demografi India dan Mesir, memantik kewaspadaan setara dengan warga Baghdad sekalipun.[100]
Metode Pemerintahan
Keahlian Al-Nashir Abbasi dalam memposisikan individu kompeten sesuai instrumen tanggung jawabnya berbuah pada solidnya kerangka regulasi Abbasiyah. Keahlian diplomasi tingkat tinggi ditunjukkannya saat mengintegrasikan secara harmonis dua entitas oposisi radikal, yakni faksi Syiah dan Hanbali—yang secara historis berada pada posisi antagonis antara satu dan lainnya maupun terhadap istana. Manuver brilian ini sukses meredam tegangan sektarianisme struktural, melahirkan ekuilibrium sosiopolitik yang langka dalam pusaran sejarah Islam.[101] Agresivitasnya dalam menghapuskan atribut-atribut visual dan jejak rezim asing yang menginvasi memori kolektif menjadi proklamasi ketahanan dinastinya yang tak tergoyahkan.[102]
Infrastruktur keamanan dimaksimalkan lewat pendirian biro intelijen spionase berteknologi tinggi pada masanya, menjamin stabilitas wilayah teritorial yang sangat masif.[103] Strategi keamanan inilah yang memutus mata rantai anarki komunal, menurunkan level kerusuhan secara spektakuler.[104] Kinerja intelijennya mencapai tingkat perfeksi yang fantastis—kemampuan navigasi informasinya membawahkan kendali sosial mulai dari jelata hingga arsitokratik. Hal ini lantas melahirkan rentetan mitologi tentang interaksinya yang metafisis bersama Alam Gaib[105] dan bangsa tak kasatmata, jin.[106]
Pemerintahan Semasa
Matahari pemerintahan Nashir Abbasi terbit beriringan dengan takhta agung Seljuk, namun merosotnya taji dominasi mereka secara bertahap[107] memicu kebangkitan singgasana Khawarizmi yang segera merebut konstelasi sentral kekuatan militer regional.[108] Sejarah berubah arah ketika padang gurun Timur melahirkan mesin perang mematikan; invasi massal balatentara Mongol menghentak benua pada tahun 606 H/1209-10,[109] menyapu bersih imperium Khawarizmi tanpa sisa.[110] Sementara itu, poros geopolitik dunia Barat Daya didominasi gemerlap panji Ayyubiyah di bawah pedang Salahuddin Ayyubi, menggenggam kendali penuh tasik Mesir hingga dataran tinggi Syam. Menariknya, mereka memelihara loyalitas politik terhadap istana Baghdad seraya mendengungkan nama khalifah pada khotbah Jumat mereka.[111] Invasi balatentara dinasti ini pada era Al-Nashir meraih momentum klimaks lewat penaklukan monumental atas koalisi Tentara Salib, merebut koridor kunci di tapal batas Syam dan merengkuh mahkota Baitulmaqdis.[112] Tak terelakkan pula, sekte ideologis Ismailiah merawat eksistensi pengaruh politik otonom di titik-titik krusial wilayah Islam.[113]
Konflik dengan Seljuk dan Khawarizmi
Perjuangan epik Al-Nashir li-Dinillah dalam mengatrol derajat dan kemerdekaan Kekhalifahan Abbasiyah mewajibkannya melibas barikade hegemonik Seljuk dan Khawarizmi. Sang khalifah tanpa gentar melebarkan sayap kekuasaan komandonya, menyatukan kepingan wilayah metropolitan yang hilang semisal Tikrit, Khuzestan, Isfahan, Ray, dan Hamadan.[114] Strategi tempurnya bertumpu pada formula klasik agitasi, menebar benih permusuhan hierarkis demi menyelamatkan kedudukan takhtanya dari badai agresi asing.[115] Taktik awalnya mendirikan poros persekutuan pragmatis dengan Khawarizmi, bertujuan mencekik ruang gerak Seljuk. Namun, kala konfrontasi beralih menuju pihak Khawarizmi, ia tanpa ampun memantik mesin provokasi pasukan Ghuriyah hingga kekuatan barbar dari wilayah Mongol.[116] Ketimbang menunaikan desakan bantuan aliansi Sultan Jalaluddin Mingburnu saat digempur gelombang Mongol, Khalifah justu mengompori kavaleri regional untuk memberontak kepada kekuasaan Mingburnu.[117]
Kacamata akademis sejarah menyimpulkan bahwa kalkulasi politik gegabah sang Nashir kala membujuk bangsa Mongol menghabisi perisai militer Khawarizmi pada hakikatnya membuka gerbang invasi mematikan atas wilayah Muslim.[118] Narasi yang ada menyebutnya tak ubahnya sebagai figur lalim yang mencederai supremasi budaya karena nafsu pribadi, menyerahkan kunci benteng pada bangsa pembantai yang merepresentasikan senjakala peradaban Islam.[119] Ibnu Atsir dalam literasi Al-Kamil mengamini tuduhan ini sebagai suatu konspirasi nyata, menegaskan laku sang khalifah bukan saja sebagai aib politis melainkan kejahatan brutal yang tak termaafkan sepanjang abad.[120]
Konflik Militer
Manuskrip sejarah melukiskan rentetan perang berdarah di mana Nashir Abbasi berduel secara frontal menghadapi legiun Seljuk[121] sekaligus menabuh genderang perseteruan dengan bala Khawarizmi.[122] Sultan Muhammad Khwarazmshah yang mabuk oleh kedigdayaannya mengeliminasi seruan sanjungan kepada Dinasti Abbasiyah dalam mimbar-mimbar khotbah.[123] Saat badai konflik pecah di tahun 614 H/1217-18, dengan bermodalkan fatwa perlawanan ulama yang menafikan legalitas Bani Abbasiyah, sang Sultan pun membaiat Alaul Mulk Tirmidzi sang pimpinan Alawi. Mengusung bendera resolusi pengembalian pilar kekhalifahan pada "pewaris sejati," kavaleri raksasa bersenjata meluruk tanpa ampun menuju gerbang pertahanan Baghdad. Akan tetapi, takdir berbicara lain; pasca kemenangan prematur mereka menebas sayap militer pendukung Bani Abbasiyah, roda-roda penyerangan Khawarizmi mandek tragis kala ditikam badai salju dan cekikan hawa beku yang membinasakan.[124]
Sementara itu, menilik nasib buruk Khawarizmi yang rontok berkeping-keping digerus kedatangan Mongol, Al-Nashir li-Dinillah mengambil tindakan prevensi darurat dengan menebalkan barikade armada prajurit serta mempersenjatai struktur benteng hingga nyaris tak terkalahkan.[125] Walau diselimuti ketegangan global, masa takhtanya justru bersih dari peperangan konvensional menghadapi laskar Mongol secara fisik.[126] Jejak dokumentasi turut mengungkap persinggungan konfrontatif Nashir Abbasi melawan komando penjelajah Frank (Eropa/Prancis).[127] Ekspedisi pasukan elit yang diusulkan oleh Al-Nashir sebagai bala bantuan bagi misi kepahlawanan Salahuddin Ayyubi dalam menghantam faksi Salib di teritori Syam batal terselenggara, usai Salahuddin elegan menolak intervensi tersebut demi merajut benang perundingan gencatan senjata.[128]
Catatan Kaki
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 15, hlm. 103; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 40, hlm. 36; Ibnu Dubaitsi, Dzail Tarikh Madinah al-Salam, 1427 H, jld. 2, hlm. 232.
- ↑ Mustaufi, Tarikh-e Gazideh, 1364 HS, hlm. 366.
- ↑ Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 5, hlm. 73; Majma' al-Fikr al-Islami, Mausu'ah Muallifi al-Imamiyyah, 1428 H, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 15, hlm. 103; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 530.
- ↑ Mustaufi, Tarikh-e Gazideh, 1364 HS, hlm. 366.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 15, hlm. 103; Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 32.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 15, hlm. 103; Ibnu Dubaitsi, Dzail Tarikh Madinah al-Salam, 1427 H, jld. 2, hlm. 232; Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308; Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 505.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 534; Khwandamir, Tarikh-e Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 327.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 12, hlm. 305.
- ↑ Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 505.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 13, hlm. 106; Asyraf al-Rasuli, Thurfah al-Ash-hab, 1422 H, hlm. 99.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 12, hlm. 305; Diyar al-Bakri, Tarikh al-Khamis, Beirut, jld. 2, hlm. 367; Abu Makhramah, Qiladah al-Nahr, 1428 H, jld. 5, hlm. 105.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 660.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 660-661.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 533; Khwandamir, Tarikh-e Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 327.
- ↑ Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 182.
- ↑ Khwandamir, Tarikh-e Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 327.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308; Khwandamir, Tarikh-e Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 327; Yafi'i, Mir'ah al-Jinan, jld. 4, hlm. 40-41.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 15, hlm. 103; Ibnu Dubaitsi, Dzail Tarikh Madinah al-Salam, 1427 H, jld. 2, hlm. 234.
- ↑ Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 13, hlm. 74.
- ↑ Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308.
- ↑ Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 505.
- ↑ Shan'ani, Nasmah al-Sahar, 1999 M, jld. 1, hlm. 253.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 3, hlm. 660; Syusytari, Majalis al-Mu'minin, 1377 HS, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 3, hlm. 660.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 183.
- ↑ Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308; Syusytari, Majalis al-Mu'minin, 1377 HS, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 11, hlm. 264; Kahalah, Mu'jam al-Muallifin, 1376 HS, jld. 1, hlm. 197.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 11, hlm. 264.
- ↑ Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 507.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 15, hlm. 103; Ibnu Dubaitsi, Dzail Tarikh Madinah al-Salam, 1427 H, jld. 2, hlm. 234.
- ↑ Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 505; Syubbar, Adab al-Thaff, 1409 H, jld. 3, hlm. 235.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 13, hlm. 6.
- ↑ Hamawi, Mu'jam al-Buldan, 1995 M, jld. 3, hlm. 290.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 530.
- ↑ Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 5, hlm. 42-43.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 533; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 45, hlm. 90; Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 505.
- ↑ Jafariyan, Asar-e Eslami-ye Makkeh wa Madineh, 1386 HS, hlm. 345.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 184.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 505.
- ↑ Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 506.
- ↑ Shan'ani, Nasmah al-Sahar, 1999 M, jld. 1, hlm. 252-253.
- ↑ Shan'ani, Nasmah al-Sahar, 1999 M, jld. 1, hlm. 253.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 188.
- ↑ Untuk informasi lebih lanjut lihat: Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 533; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 45, hlm. 90.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 12, hlm. 440.
- ↑ Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 506.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 189-191.
- ↑ Alviri, Zendegi-ye Farhangi wa Andisye-ye Siyasi-ye Syi'ian, 1384 HS, hlm. 317.
- ↑ Syusytari, Majalis al-Mu'minin, 1377 HS, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Syusytari, Majalis al-Mu'minin, 1377 HS, jld. 2, hlm. 283; Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 188.
- ↑ Shan'ani, Nasmah al-Sahar, 1999 M, jld. 1, hlm. 254-255; Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, Beirut, jld. 3, hlm. 420-421; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 5, hlm. 346.
- ↑ Qomi, Al-Kuna wa al-Alqab, 1368 HS, jld. 3, hlm. 234.
- ↑ Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 12, hlm. 440; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 45, hlm. 85.
- ↑ Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 183.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 183.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 184.
- ↑ Majma' al-Fikr al-Islami, Mausu'ah Muallifi al-Imamiyyah, 1428 H, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Alviri, Zendegi-ye Farhangi wa Andisye-ye Siyasi-ye Syi'ian, 1384 HS, hlm. 318.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 204.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 201-202.
- ↑ Ibnu Qanitu, Khulashah al-Dzahab, Baghdad, Maktabah al-Mutsanna, hlm. 281.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 535; Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 505-506.
- ↑ Alviri, Zendegi-ye Farhangi wa Andisye-ye Siyasi-ye Syi'ian, 1384 HS, hlm. 317.
- ↑ Sibth Ibnu Jauzi, Mir'ah al-Zaman, Hyderabad, hlm. 556.
- ↑ Sibth Ibnu Jauzi, Mir'ah al-Zaman, Hyderabad, hlm. 636.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 186.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 186.
- ↑ Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 507; Majma' al-Fikr al-Islami, Mausu'ah Muallifi al-Imamiyyah, 1428 H, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Majma' al-Fikr al-Islami, Mausu'ah Muallifi al-Imamiyyah, 1428 H, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Qomi, Tatimmah al-Muntaha, 1325 HS, hlm. 588-589; Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 507; Majma' al-Fikr al-Islami, Mausu'ah Muallifi al-Imamiyyah, 1428 H, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 507.
- ↑ Qomi, Tatimmah al-Muntaha, 1325 HS, hlm. 588-589.
- ↑ Amini, Baqi' al-Gharqad, Teheran, hlm. 296.
- ↑ Qomi, Tatimmah al-Muntaha, 1325 HS, hlm. 588-589.
- ↑ Jafariyan, Asar-e Eslami-ye Makkeh wa Madineh, 1386 HS, hlm. 334.
- ↑ Yamani, Fathimah Zahra as, 1387 HS, hlm. 27.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 192.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 192.
- ↑ Untuk informasi lebih lanjut lihat: Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 309-312.
- ↑ Untuk informasi lebih lanjut lihat: Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah".
- ↑ Khwandamir, Tarikh-e Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 327.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 31-32, mengutip dari yang lain.
- ↑ Ibnu Imad Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 7, hlm. 173; Siraj, Thabaqat-e Naseri, 1363 HS, jld. 1, hlm. 127.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 532.
- ↑ Abu Makhramah, Qiladah al-Nahr, 1428 H, jld. 5, hlm. 105; Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 506.
- ↑ Syarafi, "Al-Nashir li-Dinillah (Huk: 575-622 H): Khalifeh-ye Husymand wa Mudabbir-e Abbasi", hlm. 117.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 31-32, mengutip dari yang lain.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 31-32, mengutip dari yang lain.
- ↑ Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 2, hlm. 506.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 532.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 32.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 532; Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 36.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 535.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 45, hlm. 89; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 532.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 35.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 35.
- ↑ Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308; Shan'ani, Nasmah al-Sahar, 1999 M, jld. 1, hlm. 254; Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 36.
- ↑ Ya'qubi, "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah", hlm. 182.
- ↑ Shan'ani, Nasmah al-Sahar, 1999 M, jld. 1, hlm. 254; Diyar al-Bakri, Tarikh al-Khamis, Beirut, jld. 2, hlm. 367; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 45, hlm. 86.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 45, hlm. 86; Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 36.
- ↑ Ibnu Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 308; Syubbar, Adab al-Thaff, 1409 H, jld. 3, hlm. 235.
- ↑ Mustaufi, Tarikh-e Gazideh, 1364 HS, hlm. 366.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 538.
- ↑ Khwandamir, Tarikh-e Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 327.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 535-536; Ibnu Qanitu, Khulashah al-Dzahab, Baghdad, hlm. 281.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 535-536; Ibnu Qanitu, Khulashah al-Dzahab, Baghdad, hlm. 281.
- ↑ Mustaufi, Tarikh-e Gazideh, 1364 HS, hlm. 366.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 3, hlm. 654-655.
- ↑ Iqbal Asytiani, Tarikh-e Moghol, 1384 HS, hlm. 98.
- ↑ Iqbal Asytiani, Tarikh-e Moghol, 1384 HS, hlm. 98.
- ↑ Iqbal Asytiani, Tarikh-e Moghol, 1384 HS, hlm. 98-99.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 36.
- ↑ Iqbal Asytiani, Tarikh-e Moghol, 1384 HS, hlm. 14.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 12, hlm. 440.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 3, hlm. 653; Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 36.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 3, hlm. 655.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 531; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 45, hlm. 85.
- ↑ Hamadani, Jami' al-Tawarikh, 1373 HS, jld. 1, hlm. 470-471.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 36.
- ↑ Shan'ani, Nasmah al-Sahar, 1999 M, jld. 1, hlm. 253.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 538-539.
- ↑ Amin, Mustadrakat A'yan al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 36.
Daftar Pustaka
- Agha Buzurg Tehrani, Muhammad Muhsin. Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syi'ah. Beirut, Dar al-Adhwa', cetakan ketiga, 1403 H.
- Al-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1413 H.
- Alviri, Muhsin. Zendegi-ye Farhangi wa Andisye-ye Siyasi-ye Syi'ian az Suquth-e Baghdad ta Zhuhur-e Shafawiyyah 656-907 Q (Kehidupan Budaya dan Pemikiran Politik Syiah dari Jatuhnya Baghdad hingga Munculnya Safawiyah). Teheran, Universitas Imam Shadiq as, 1384 HS.
- Amin, Hasan. Mustadrakat A'yan al-Syi'ah. Beirut, Dar al-Ta'aruf lil Mathbu'at, 1408 H.
- Amin, Muhsin. A'yan al-Syi'ah. Beirut, Dar al-Ta'aruf lil Mathbu'at, 1403 H.
- Amini, Muhammad Amin. Baqi' al-Gharqad fi Dirasah Syamilah. Teheran, Masy'ar, tanpa tahun.
- Asyraf al-Rasuli, Umar bin Yusuf. Thurfah al-Ash-hab fi Ma'rifah al-Ansab. Kairo, Dar al-Afaq al-Arabiyyah, 1422 H.
- Diyar al-Bakri, Syaikh Husain. Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfas al-Nafis. Beirut, Dar Shadir, tanpa tahun.
- Hamadani, Khawajah Rasyiduddin Fadhlullah. Jami' al-Tawarikh. Teheran, Nasyr-e Alborz, 1373 HS.
- Hamawi, Yaqut bin Abdullah. Mu'jam al-Buldan. Beirut, Dar Shadir, cetakan kedua, 1995 M.
- Ibnu Atsir Jazari, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, Dar Beirut, 1385 H.
- Ibnu Dubaitsi, Muhammad bin Sa'id. Dzail Tarikh Madinah al-Salam. Beirut, Dar al-Gharb al-Islami, 1427 H.
- Ibnu Imad Hanbali, Abdul Hay bin Ahmad. Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar Man Dzahab. Damaskus, Dar Ibnu Katsir, 1406 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.
- Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Diwan al-Mubtada' wa al-Khabar fi Tarikh al-Arab wa al-Barbar wa Man 'Asharahum min Dzawi al-Sya'n al-Akbar. Beirut, Dar al-Fikr, cetakan kedua, 1408 H.
- Ibnu Khallikan, Ahmad bin Muhammad. Wafayat al-A'yan wa Anba' Abna' al-Zaman. Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Ibnu Qanitu, Abdurrahman bin Ibrahim. Khulashah al-Dzahab al-Masbuk al-Mukhtashar min Siyar al-Muluk. Baghdad, Maktabah al-Mutsanna, tanpa tahun.
- Ibnu Thiqthaqa, Muhammad bin Ali. Al-Fakhri fi al-Adab al-Sulthaniyyah wa al-Duwal al-Islamiyyah. Tahqiq: Abdul Qadir Muhammad Mayu. Beirut, Dar al-Qalam al-Arabi, 1418 H.
- Iqbal Asytiani, Abbas. Tarikh-e Moghol az Hamle-ye Chengiz ta Tashkil-e Dowlat-e Timuri (Sejarah Mongol dari Serangan Genghis hingga Pembentukan Negara Timuriyah). Teheran, Amirkabir, cetakan kedelapan, 1384 HS.
- Jafariyan, Rasul. Asar-e Eslami-ye Makkeh wa Madineh (Situs-situs Islam Mekkah dan Madinah). Teheran, Nasyr-e Masy'ar, cetakan kedelapan, 1386 HS.
- Kahalah, Umar Ridha. Mu'jam al-Muallifin. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, 1376 H.
- Khathib al-Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1417 H.
- Khwandamir, Ghiyatsuddin. Tarikh-e Habib al-Siyar. Teheran, Khayyam, cetakan keempat, 1380 HS.
- Majma' al-Fikr al-Islami. Mausu'ah Muallifi al-Imamiyyah. Beirut, Majma' al-Fikr al-Islami, 1428 H.
- Makhramah, Abdullah Thayib bin Abdullah. Qiladah al-Nahr fi Wafayat A'yan al-Dahr. Beirut, Dar al-Minhaj, 1428 H.
- Mustaufi Qazwini, Hamdullah bin Abi Bakar. Tarikh-e Gazideh. Teheran, Amirkabir, cetakan ketiga, 1364 HS.
- Qomi, Abbas. Al-Kuna wa al-Alqab. Teheran, Maktabah al-Shadr, cetakan kelima, 1368 HS.
- Qomi, Abbas. Tatimmah al-Muntaha. Teheran, Kitabkhane-ye Markazi, 1325 HS.
- Shafadi, Khalil bin Aibak. Al-Wafi bi al-Wafayat. Beirut, Dar al-Nasyr Franz Steiner, cetakan kedua, 1401 H.
- Shan'ani, Yusuf bin Yahya. Nasmah al-Sahar bi Dzikr Man Tasyayya'a wa Sya'ar. Beirut, Dar al-Muarrikh al-Arabi, 1999 M.
- Sibth Ibnu Jauzi, Yusuf bin Qazaughli. Mir'ah al-Zaman fi Tarikh al-A'yan. Hyderabad, Dairah al-Ma'arif al-Utsmaniyyah, tanpa tahun.
- Siraj, Minhaj. Thabaqat-e Naseri Tarikh-e Iran wa Eslam. Teheran, Dunya-ye Ketab, 1363 HS.
- Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Tarikh al-Khulafa. Damaskus, Dar al-Basyair, 1417 H.
- Syarafi, Mahbubah. "Al-Nashir li-Dinillah (Huk: 575-622 H): Khalifeh-ye Husymand wa Mudabbir-e Abbasi". Tarikh-e Farhang wa Tamaddun-e Eslami, No. 16, Musim Gugur dan Dingin 1391 HS.
- Syubbar, Jawad. Adab al-Thaff. Beirut, Dar al-Murtadha, 1409 H.
- Syusytari, Qadhi Nurullah. Majalis al-Mu'minin. Teheran, Islamiyyah, 1377 HS.
- Yafi'i, Abdullah bin As'ad. Mir'ah al-Jinan wa 'Ibrah al-Yaqzhan fi Ma'rifah Ma Yu'tabaru min Hawadits al-Zaman. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1417 H.
- Yamani, Muhammad Abduh. Fathimah Zahra as. Teheran, Masy'ar, cetakan kedua, 1387 HS.
- Ya'qubi, Muhammad Thahir. "Tasyayyu'-e Khalifeh Al-Nashir li-Dinillah". Tarikh-e Eslam dar Ayene-ye Pajuhes, No. 9, Musim Semi 1385 HS.