Dialog Imam Kazhim as

Dari wikishia

Dalam banyak sumber-sumber referensi sejarah dan hadis disebutkan dialog Imam Kazhim as dengan para penguasa dinasti bani Abbasiah serta tokoh-tokoh agama dan aliran yang lain. Dialog antara Imam Kazhim as dan para ulama Yahudi dan Kristen lebih fokus pada usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Setelah dialog usai, mereka lantas menerima dan memeluk agama Islam. Dalam dialog dengan Mahdi Abbasi, Imam Kazhim as menuntut tanah Fadak. Dalam menanggapi klaim Harun Abbasi yang menyebut Rasulullah saw sebagai anak paman, Imam Kazhim as menyebut beliau sebagai ayah.

Dialog dengan Abu Hanifah

Menurut sebuah riwayat, Abu Hanifah datang berjumpa dengan Imam Shadiq as. Ia datang untuk menanyakan sebuah masalah. Ia tidak sengaja berjumpa dengan Imam Musa Kazhim as yang kala itu masih berusia lima tahun. Abu Hanifah menanyakan pertanyaan yang telah disiapkan untuk Imam Shadiq as kepada Imam Kazhim as. Abu Hanifah bertanya, "Apakah dosa dilakukan oleh Allah ataukah oleh hamba?" Imam Kazhim as menjawab, "Banyak kemungkinan. (a) Dosa dilakukan oleh Allah, dan hamba sama sekali tidak memiliki peran. Dalam kondisi ini, Allah tidak akan menyiksa hamba lantaran sebuah tindakan yang tidak berperan dalam melakukannya. (b) Dosa dilakukan oleh Allah dan hamba. Dalam kondisi ini, Allah merupakan sekutu yang lebih kuat, dan sekutu terkuat tidak berhak menyiksa sekutu terlemah lantaran perbuatan yang mereka lakukan bersama. (c) Dosa dilakukan oleh hamba dan Allah sama sekali tidak memiliki peran. Dalam kondisi ini, jika berkehendak, Allah akan mengampuni, dan jika tidak berkehendak, Dia pasti akan menghukum. Allah adalah Zat yang bantuan-Nya diharapkan dalam setiap kondisi.”

Menurut riwayat, setelah mendengar jawaban tersebut, Abu Hanifah meninggalkan rumah Imam Shadiq as seraya mengakui, jawaban ini sudah mencukupi.[1]

Dalam sebuah kesempatan, Abu Hanifah mengadukan Imam Kazhim as kepada Imam Shadiq as. Ia berkata, "Saya melihat anakmu sedang mengerjakan salat, sedangkan banyak orang berlalu-lalang di hadapannya. Ia tidak mencegah mereka." Ketika Imam Shadiq as menanyakan kepada Imam Kazhim as apakah ucapan Abu Hanifah ini benar. Imam Kazhim as menjawab; "Benar. Zat yang aku maksud dalam salat lebih dekat kepadaku dari orang-orang yang sedang berlalu-lalang itu." Imam Kazhim as menjadikan ayat نَحْنُ أَقْرَ‌بُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِ‌يدِ; "Kami lebih dekat kepada manusia dari urat nadi," (QS. Qaf 50:16) sebagai sandaran.[2]

Dialog dengan Para Ulama Yahudi dan Kristen

Dialog dengan Para Ulama Yahudi

Menurut sebuah riwayat yang sangat panjang yang disebutkan dalam kitab Qurb al-Isnad, sekelompok pengikut agama Yahudi datang menjumpai Imam Shadiq as seraya berkata: "Pengganti dan washi-washi para nabi memiliki ilmu pengetahuan yang tidak bisa digapai dengan cara belajar mengajar. Apakah Anda juga memiliki ilmu semacam ini?" Imam Shadiq as memanggil putra beliau, Musa bin Ja’far as, yang kala itu masih berusia lima tahun. Beliau mengusapkan tangan ke dadanya dan lantas berdoa untuknya. Setelah itu, beliau berkata kepada orang-orang Yahudi itu, "Tanyakanlah setiap pertanyaan kalian kepadanya." Mereka menanyakan kepada Imam Kazhim as tentang mukjizat-mukjizat Rasulullah saw. Imam Kazhim as menyebutkan aneka ragam mukjizat yang pernah dimiliki oleh Rasulullah saw. Mereka berkata, "Dari mana kita bisa yakin bahwa Rasulullah memiliki mukjizat-mukjizat seperti yang kamu sebutkan itu?" Imam Kazhim as balik bertanya: "Dari mana kita yakin bahwa Nabi Musa as memiliki mukjizat-mukjizat seperti yang kalian sebutkan itu?" Mereka menjawab: "Kami mengetahui semua mukjizat itu dari orang-orang yang jujur." Imam Kazhim as menimpali: "Yakinilah kebenaran seluruh ucapanku itu lantaran diungkapkan oleh seorang anak kecil yang tidak pernah belajar kepada siapa pun dan juga tidak mendengar dari para perawi. Allahlah yang telah menganugerahkan ilmu tersebut kepadanya." Orang-orang Yahudi itu mengucapkan dua kalimat syahadat dan bersaksi atas kebenaran para imam Mazhab Syiah. Lalu, Imam Shadiq as mencium kening Imam Kazhim as seraya berkata: "Kamu adalah pengganti setelahku." [3]

Dialog dengan Rahib

Rahib: Bagaimana mungkin pohon Thuba memiliki akar di rumah Isa, dan menurutmu di rumah Muhammad, dan seluruh rantingnya menyebar ke seluruh rumah?

Imam Kazhim: Seperti matahari yang bercahaya menerangi seluruh tempat. Padahal ia sendiri berada di langit.

Rahib: Bagaimana mungkin buah-buahan dan makanan surgawi tidak pernah habis dan juga tidak pernah berkurang?

Imam Kazhim: Seperti api di sebuah lampu. Sekalipun lampu-lampu lain dinyalakan dengan nyala api lampu tersebut, nyalanya tidak pernah berkurang.

Rahib: Apakah surga dibentangi oleh naungan yang terbentang luas?

Imam Kazhim: Sebelum matahari terbit, seluruh surga berada di bawah naungan yang terbentang luas. Ayat أَلَمْ تر إِلی رَبِّک کیفَ مَدَّ الظِّلَّ mengisyaratkan hal ini.

Rahib: Apakah makanan dan minuman penghuni surga sehingga mereka tidak buang air kecil maupun air besar?

Imam Kazhim: Seperti bayi dalam perut ibu. Ia mengonsumsi makanan dan minuman, tetapi tidak buang air besar maupun air kecil.

Rahib: Para penghuni surga memiliki para pembantu yang selalu siap membawakan apa yang mereka inginkan tanpa mereka mengeluarkan perintah.

Imam Kazhim: Setiap kali seseorang memerlukan sesuatu, anggota tubuh yang bersangkutan memahami kebutuhan tersebut dan bertindak sesuai kebutuhan itu tanpa perlu ia mengeluarkan perintah.

Rahib: Apakah kunci surga terbuat dari emas atau perak?

Imam Kazhim: Kunci surga adalah lisan manusia yang mengucapkan لا اله الا الله.[4]

Debat dengan Buraihah

Syekh Shaduq dan para ulama yang lain meriwayatkan dari Hisyam bin Hakam. Buraihah, seorang pemuka Kristen, mendatangi Hisyam untuk berdebat. Hisyam berhasil mengalahkannyha dalam debat ini. Buraihah akhirnya pergi ke Madinah dan Iraq bersama Hisyam untuk berjumpa dengan Imam Shadiq as. Mereka berjumpa dengan Imam Musa Kazhim as di depan pintu gerbang. Menurut sebagian riwayat, Hisyam menceritakan kisah Buraihah kepada Imam Kazhim as. Lalu, terjadilah dialog antara Imam Kazhim as dan Buraihah. Setelah dialog ini, Buraihah dan pembantu wanita yang datang bersamanya menyatakan masuk Islam.[5] Hisyam menceritakan kisah ini kepada Imam Shadiq as. Beliau membacakan ayat ذُرِّيَّةً بَعْضُها مِن بَعْضٍ وَاللهُ سَميعُ عَليمُ; "Anak keturunan yang sebagian dari mereka berasal dari sebagian yang lain, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui," (QS. Al-'Imran 3:34).[6]

Imam Kazhim as bertanya kepada Buraihah, "Hai Buraihah! Seberapa banyak kamu mengetahui kitabmu?" Buraihah menjawab; "Saya mengetahui kitabku." Imam Kazhim as bertanya; "Seberapa banyak kamu mengenal takwilnya?" Buraihah menjawab, "Saya percaya diri sebesar pengetahuanku." Imam Kazhim as membacakan beberapa frasa ayat dari Kitab Injil. Buraihah berkata; "Nabi Isa membacakan Kitab Injil sebagaimana Anda membacakan tadi. Bacaan seperti ini tidak bisa dibacakan kecuali oleh Nabi Isa as. Sudah lima tahun saya mencari-cari Anda atau orang yang seperti Anda."[7]

Dialog dengan Rahib

Dalam kitab al-Manaqib terdapat sebuah riwayat yang mengisahkan dialog Imam Kazhim as dengan seorang rahib. Menurut riwayat ini, Imam Kazhim as melarikan diri dari cengkeraman penguasa kala itu dan memasuki sebuah desa di kawasan Syam. Rahib mengetahui bahwa beliau adalah seorang Muslim. Untuk itu, ia mengajukan banyak pertanyaan. Setelah mendengarkan jawaban-jawaban Imam Kazhim as, ia membenarkan seluruh ucapan beliau dan menyatakan masuk Islam.[8]

Dialog dengan Para Khalifah Bani Abbasiah

Dialog dengan Mahdi Abbasi

Pernah terjadi dialog antara Imam Musa Kazhim as dan Mahdi Abbasi tentang kebun Fadak dan keharaman khamar dalam Alquran. Untuk membuktikan keharaman khamar, beliau menjadikan ayat 33 surah al-A'raf dan ayat 22 surah al-Baqarah sebagai dalil.[9] Ketika Mahdi Abbasi mengembalikan seluruh harta dan utang yang dimiliki kepada para pemiliknya, Imam Kazhim as menuntut tanah Fadak kepadanya.[10] Fadak adalah sebuah pedesaan yang telah dihadiahkan kepada Sayidah Fatimah as oleh Rasulullah saw sebelum meninggal dunia.[11] Setelah beliau wafat, Khalifah Abu Bakar merampas tanah ini untuk kepentingan negara.[12] Setelah Khalifah Abu Bakar, tanah Fadak dikuasai oleh para khalifah selanjutnya.[13] Mahdi Abbasi meminta Imam Kazhim as supaya menentukan batas-batas tanah Fadak. Imam Kazhim as menentukan sebuah batas yang berukuran seluas batas geografi kekuasaan Mahdi Abbasi.[14] Hanya saja, dalam kitab al-Manaqib, tuntutan untuk mengembalikan Fadak ini dilaporkan terjadi pada saat Harun Abbasi berkuasa. Menurut riwayat ini, Imam Kazhim as menetapkan 'Adn, Samarkand, Afrika, dan Saiful Barr sebagai batas tanah Fadak. Ketika menjawab pernyataan ini, Harun berkata, "Sudah tidak tersisa apa-apa lagi untuk kami." Imam Kazhim as berkata, "Aku tahu bahwa kamu tidak akan mengembalikannya."[15]

Dialog dengan Harun Abbasi

Untuk memamerkan jalur keturunan, ketika berada di sisi Rasulullah saw, Harun memanggil beliau dengan sebutan anak paman. Untuk mereaksi tindakan Harun ini, Imam Kazhim as memanggil Rasulullah saw dengan sebutan ayah.[16]

Menurut sebuah riwayat, Harun Abbasi pernah berkata kepada Imam Kazhim as, "Mengapa Anda mengizinkan masyarakat menyebut Anda sebagai keturunan Rasulullah saw, padahal Anda adalah keturunan Ali, bukan keturunan Rasulullah?" Imam Kazhim as menjawab, "Hai Khalifah! Seandainya Rasulullah masih hidup dan melamar putrimu, apakah engkau akan mengabulkan lamaran itu?" Harun menjawab, "Sudah pasti. Dan aku pasti berbangga diri di hadapan seluruh bangsa Arab dan Ajam." Imam Kazhim as berkata, "Akan tetapi, Rasulullah saw tidak akan pernah melamar putriku, karena beliau adalah kakekku." Harun kembali bertanya, "Bagaimana mungkin masih mengaku sebagai putra Rasulullah, padahal beliau tidak memiliki seorang putra?" Imam Kazhim as menyumpahi Harun demi makam Rasulullah saw supaya diizinkan tidak menjawab pertanyaan ini. Namun, Harun tidak menerima dan bersikeras supaya beliau membuktikan diri sebagai keturunan Rasulullah saw. Imam Kazhim as membacakan ayat وَمِن ذُرِّ‌يَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُ‌ونَ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ * وَزَكَرِ‌يَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ (QS. Al-An'am 6:84-85). Beliau lantas berkata, "Sekalipun tidak memiliki ayah, Allah menetapkan Isa sebagai keturunan Ibrahim melalu jalur Maryam. Kami juga adalah keturunan Rasulullah dari jalur ibunda kami, Fatimah." Lalu, beliau membacakan ayat Mubahalah.[17] Ibnu Syahr Asyub juga melaporkan dialog Imam Kazhim as dengan Harun di kota Makkah. Menurut riwayat ini, Harun berangkat menuju kota Makkah dari Baghdad dalam sebuah kunjungan resmi untuk melaksanakan ibadah haji. Dalam perjalanan ini, tak seorang pun boleh mendahuluinya, dan para pengawal membukakan jalan untuknya. Akan tetapi, seorang Arab Badui berani mendahului Harun dan sudah berdiri di rukun Kakbah, mencium Hajarul Aswad, dan melaksanakan manasik yang lain sebelum Harun. Akhirnya, penjaga Kakbah menegur Badui ini dengan keras, "Hai Badui! Enyahlah dari hadapan Khalifah." Badui itu menjawab, "Allah menjadikan semua orang sama rata di tempat ini dan berfirman, سواءً العاكِفُ فیه و البادِ."

Setelah melaksanakan manasik, Harun memerintahkan supaya Arab Badui itu dipanggil. Akan tetapi, ia enggan datang dan berkata kepada utusan, "Aku tidak memerlukan Khalifah. Jika ia ada perlu, maka ia sendiri harus datang menghadapku." Harun datang menjumpai sang Badui itu, dan terjadilah dialog antara mereka. Harun bertanya, "Bolehkah saya duduk?" Badui menjawab, "Rumah ini bukan rumahku dan juga bukan rumahmu. Jika mau, duduklah, atau enyahlah dari sini." Harun duduk dan lantas bertanya, "Hai Badui! Mengapa kamu berani mendahului Khalifah?" Badui menjawab, "Aku dan Khalifah adalah sama di tempat ini." Harun pun marah. Ia berkata, "Aku akan bertanya. Jika kamu tidak menjawab, aku akan menghukummu." Ia menanyakan jumlah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Badui itu menyebutkan beberapa angka: 1, 5, 17, 34, 94, 135, 1 dari 12, 1 dari 40, 1 dari 250, 1 dari umur, dan 1 dari 1.

Harun berkata, "Semua angka ini adalah simbol apa? Jika engkau tidak bisa menjawab, aku akan perintahkan supaya kamu dipenggal di area antara shafa dan Marwah." Orang dekat Harun berkata, "Wahai Khalifah! Takutlah kepada tempat ini. Jangan sampai Anda memenggalnya di haram ilahi yang penuh keamanan." Badui itu tersenyum. Harun bertanya mengapa ia tersenyum. Badui menjawab, "Aku heran. Dari kalian berdua, manakah yang lebih bodoh? Apakah orang yang memaafkan orang yang belum dipastikan ajalnya, ataukah orang yang terburu-buru menentukan nasib orang, padahal ia sendiri tidak mengetahui nasib orang lain?" "Sekarang jelaskanlah makna semua angka itu," tukas Harun. Badui itu menjawab, "1 adalah agama Islam. Dalam agama ini, terdapat 5 salat wajib dalam 5 waktu yang berjumlah 17 rakaat, 34 sujud, 94 takbir, dan 135 tasbih. 1 dari 12 adalah puasa bulan Ramadan yang hanya diwajibkan dalam 1 bulan dari 12 bulan. 1 dari 40 adalah 1 dinar dari 40 dinar harus dikeluarkan sebagai zakat. 1 dari 250 adalah 1 dirham dari 205 dirham harus dikeluarkan sebagai zakat. 1 dari umur adalah kewajiban ibadah haji hanya satu kali seumur hidup ketika seseorang telah mampu. 1 dari 1 adalah Kisas."

Harun berkata, "Sekarang saya paham benar." Ia memerintahkan supaya Badui itu diberi satu kantong emas. Ia bertanya, "Hai Khalifah! Mengapa kamu memberikan kantong dirham dan dinar ini kepadaku? Karena aku pandai berbicara ataukah karena aku berhasil menjawab pertanyaanmu?" "Karena engkau pandai berbicara manis," jawab Harun.

Badui itu berkata, "Hai Khalifah! Sekarang saya mau bertanya. Jika engkau bisa menjawab, kantong emas ini menjadi milikmu. Jika engkau tidak mampu menjawab, engkau harus memberikan satu kantong emas lagi kepadaku." Harun menerima. Badui itu bertanya, "Apakah kumbang menyusui anaknya melalui puting susu ataukah memberikan makan dengan cara meletakkan biji-bijian di paruhnya?" "Apakah kamu menanyakan pertanyaan seperti ini kepada seorang khalifah sepertiku?" tandas Harun. Badui itu berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa seseorang yang menjadi pemimpin sebuah kaum, akalnya harus seluas seluruh kaum itu. Engkau yang menjabat sebagai khalifah kaum ini harus bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadamu."

Harun berkata, "Aku tidak tahu. Apakah engkau sendiri mengetahui jawaban untuk pertanyaan itu?" Sang Arab Badui itu berkata, "Allah tidak memberikan rezeki kepada sebagian binatang melalui puting susu dan tidak pula melalui biji-bijian. Dia meletakkan rezekinya dalam dirinya sendiri. Ketika keluar dari perut ibunya, ia mengkonsumsi makanan dari dalam dirinya dan berkembang biak. Kehidupan binatang ini dijamin dari tanah, seperti kumbang yang mengasup makanan dari puting susunya sendiri." Harun berkata, "Demi Allah! Aku tidak pernah mendengar masalah seperti ini hingga kini dari siapa pun." Arab Baudi itu pun menerima dua kantong emas dan membagi-bagikannya kepada fakir miskin di sekitar Kakbah.

Harun berkata kepada para pengawalnya, "Cari tahu siapakah orang itu dan tanyakanlah siapakah namanya." Setelah memahami bahwa Arab Badui itu adalah Imam Musa bin Ja'far as, Harun berkata, "Demi Allah! Saya sudah menyangka bahwa orang seperti itu adalah buah dari sebuah pohon yang baik."[18]

Catatan Kaki

  1. Ibn Syu'bah al-Harrani, Tuhaf al-'Uqul, 1404 H, hlm. 411-412; al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 10, hlm. 247.
  2. Al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 3, hlm. 297.
  3. Al-Himyari, Qurb al-Isnad, Muassasah Alulbait as, hlm. 317-330.
  4. Ibnu Syahrasyub, al-Manaqib, 1379 S, hlm. 311-312.
  5. Syekh Shaduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 270-275; al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 180, 183-184.
  6. Al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 227.
  7. Syekh Shaduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 270-275; al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 180, 183-184.
  8. Ibnu Syahrasyub, al-Manaqib, 1379 S, hlm. 311-312.
  9. Al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 6, hlm. 406; al-Hurr al-‘Amili, Wasa’il al-Syi’ah, 1409 H, jld. 25, hlm. 301.
  10. Syaikh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 4, hlm. 149.
  11. Subhani, Forugh-e Abadiyyat, 1380 S, hlm. 219.
  12. Al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 543; Syaikh Mufid, al-Muqni’ah, 1410 H, hlm. 289 dan 290.
  13. Al-Baladzuri, Futuh al-Buldan, 1988 M, hlm. 41.
  14. Al-Qurasyi, Hayat al-Imam Musa bin Ja'far, 1429 H, hlm. 472.
  15. Ibn Syahrasyub, al-Manaqib, jld. 4, hlm. 320-324.
  16. Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 S, jld. 6, hlm. 164.
  17. Syekh Shaduq, 'Uyun Akhbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1, hlm. 84-85.
  18. Ibnu Syahrasyub, al-Manaqib, 1379 S, hlm. 312-313.

Referensi

  • Ibnu al-Atsir, Ali bin Muhammad. (1385 H). Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut: Dar Shadir-Dar Beirut.
  • Ibnu Syu’bah al-Harrani, Hasan bin Ali. (1404 H). Tuhaf al-‘Uqul, revisi Ali Akbari Ghaffari, Qom: Jami’ah al-Mudarrisin.
  • Ibnu Syahrasyub, Muhammad bin Ali. (1379 S). Manaqib Al Abi Thalib, Qom: Allameh.
  • Al-Hurr al-‘Amili, Muhammad bin Hasan. (1409 H). Wasa’il al-Syi’ah, Qom: Muassasah Alulbait li Ihya’ al-Turats.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya. (1988 M). Futuh al-Buldan, Beirut: Dar wa Maktab al-Hilal.
  • Subhani, Ja’far. (1380 S). Forugh-e Abadiyyat: Tarikh-e Tahlili az Zendegi-ye Amirul Mukminin Ali as, Qom: Muassasah Imam Shadiq as.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. (1398 H). Al-Tauhid, revisi Hasyim Husaini, Qom: Jami’ah al-Mudarrisin.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. (1407 H). Tahdzib al-Ahkam, revisi Hasan Musawi Kharsan, Qom: Dar al-Kutub al-Islamiyyah.
  • Al-Qurasyi, Baqir Syarif. (1429 H). Hayat al-Imam Musa bin Ja’far, riset Mahdi Baqir al-Qurasyi, Mehr-e Deldar.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Yaʻqub. (1407 H). Al-Kafi, revisi Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah.
  • Al-Majlisi, Muhammad Baqir. (1403 H). Bihar al-Anwar, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.
  • Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu’man. (1410 H). Al-Muqni’ah, Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami.