Prioritas: c, Kualitas: b
tanpa referensi

Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an (buku)

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Al-Burhan fi Tafsir al-Quranhttp://en.wikishia.net
Judul Asli البرهان في تفسير القرآن
Pengarang Sayid Hasyim al-Bahrani
Bahasa Arab
Subyek Tafsir Alquran
Genre Riwayat
Cetakan Muasasah al-'Alami


Al-Burhan fi Tafsir al-Quran (bahasa Arab: البرهان في تفسير القرآن) adalah salah satu kitab-kitab tafsir Syiah dan tafsir dengan corak riwayat Alquran, karya Sayid Hasyim Bahrani. Penulis kitab ini mengisyaratkan tentang kajian-kajian dalam tema-tema: Fikih, kisah-kisah, hadis-hadis Nabawi dan keutamaan-keutamaan Ahlulbait as berdasarkan ayat-ayat yang sedang dibahas. Bahrani adalah seorang bermadzhab Syiah Akhbari. Tafsir yang ia tulis berdasarkan pendekatan aliran Akhbari. Banyak para mufassir dan peneliti memberikan kritikan atas pembahasan-pembahasan yang ia tuliskan. Kitab tafsir ini hanya berisi riwayat-riwayat tafsir atas ayat-ayat Alquran dan pengarang tidak memberikan analisa tentang makna-makna ayat sebagaimana yang ada dalam kitab-kitab tafsir seperti al-Tibyan.

Tentang pengarang dan Tujuan Penulisan

Sayid Hasyim Bahrani terkenal dengan Allamah Bahrani adalah seorang fakih, muhaddits dan mufassir Syiah pada abad ke-11 H/17 dan permulaan abad 12 H/18. Ia dalam mukadimah kitabnya, menulis bahwa tujuan penulisannya adalah untuk memahami tafsir-tafsir Ahlulbait as dari ayat-ayat Alquran dan pentingnya pengenalan terhadap pendapat-pendapatnya untuk memahami kitab samawi ini. [1]

Ilmu Tafsir
Tafsir-tafsir Penting

Syi'ah:


Sunni:


Genre-genre Tafsir


Metode-metode Tafsir


Klasifikasi Tafsir
Terma-terma Ilmu Tafsir

Susunan dan Metode Penulisan

Allamah Bahrani dalam Tafsir al-Burhan, mengumpulkan hadis-hadis dari Ahlulbait as dalam tafsir Alquran. [2]

Pengarang dalam mukadimah kitab menulis: Kitab al-Burhan akan memberikan pengetahuan kepada Anda tentang rahasia-rahasia Ulumul Quran. Kami akan menjelaskan sebagian permasalahan-permasalahan ilmu keagamaan, kisah-kisah, sejarah kehidupan para Nabi dan keutamaan-keutamaan Ahlulbait as. Aku memilih riwayat-riwayat dari kitab-kitab yang muktabar, dapat dipercaya dan menjadi rujukan bagi kebanyakan orang dimana pengarangnya adalah para syaikh muktabar dan ulama-ulama terpilih. Kebanyakan riwayat aku nukil dari jalur Imamiyah, namun terkait riwayat-riwayat Ahlusunah yang sejalan dengan riwayat-riwayat Syiah mengenai keutamaan-keutamaan Ahlulbait as, maka aku juga menukilkannya. Aku juga menukilkan beberapa tafsir dari ayat-ayat Alquran yang berasal dari Ibnu Abbas karena ia adalah murid Imam Ali as. [3] Metode dalam penulisan kitab tafsir ini pada awalnya mengisyaratkan nama surah, tempat turun, fadhilah surah dan jumlah ayat, kemudian menjelaskan ayat-ayat yang memiliki riwayat tafsir dan menukilkan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan setiap ayat Alquran. [4]

Allamah Bahrani dalam kitab Al-Burhan hanya mencukupkan dengan menyebutkan riwayat-riwayat dan hadis-hadis saja. Silsilah sanad berbagai hadis dan menulis hadis-hadis Ahlusunah secara terpisah. Ia menilai bahwa kitab tafsirnya merupakan penjelasan atas pentakwilan ayat-ayat Alquran. [5] Yang dimaksud dengan pentakwilan hadis-hadis menurut keyakinannya adalah bahwa hadis-hadis itu dinukilkan dari para Imam Maksum dan dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka. Ia disela-sela tafsirnya, ia tidak menambahkan tambahan penjelasan-penjelasan bagi tema-tema yang ia bawakan, namun mukadimah yang ia tuliskan secara mendetail sebelum memulai penafsiran, menjelaskan tentang pandangan, analisa dan metode-metode yang ia gunakan. [6] Mukadimah lain atas kitab ini ditulis oleh Abul Hasan Syarif Amili Isfahani (1138-1140) dengan judul Mirah al-Anwar wa Misykat al-Asrar.

Allamah Bahrani menjelaskan pandangannya dalam 16 bab Mukadimah tentang pembahasan-pembahasan mengenai Alquran dan pandangan-pandangan penafsirannya. Dalam mukadimah ini dijelaskan mengenai kekhususan penafsiran kepada para Imam as dan pada bab 6 secara tegas melarang orang lain untuk menafsirkan Alquran. Bagaimanapun, penjelasannya mengenai tafsir sangat mendekati takwil. Pada bab 16, ia menjelaskan mengenai kesatuan antara Itrah dan Alquran dan menganggap bahwa batin Alquran berada di tangan para Imam as. Pada bab terakhir mukadimah, ia menyebutkan beberapa sumber referensi yang menjadi acuan baginya dan menjelaskan beberapa istilah seperti Nasikh dan Mansukh, Muhkam dan Mutasyabih, 'Am dan Khash, Taqdim wa Takhir dan lainnya. Dengan menjelaskan definisi-definisi ini, ia berharap bahwa penjelasan mengenai definisi-definisi ini akan menjadi pengantar untuk memasuki pembahasan mengenai tafsir ayat-ayat Alquran dan penjelasan hadis-hadis yang berkaitan dengan ayat-ayat Alquran. Pembahasan-pembahasan yang memenuhi Tafsir al-Burhan adalah adanya upaya untuk mempertahankan kebenaran Ahlulbait as secara teologis dan mengenalkan kedudukan mereka.

Sumber-sumber Referensi

Sumber-sumber referensi yang digunakan penulis dalam tafsir ini adalah:

Dalam penulisan kitab al-Burhan juga digunakan beberapa referensi-referensi lain yang telah disebutkan dalam berbagai halaman kitab al-Burhan. [7]

Kritikan-kritikan

Muhammad Mahdi Ashifi menulis:

Meskipun telah banyak upaya ilmiah dalam Tafsir al-Burhan, namun sebagian dari kitab-kitabnya mengandung hadis-hadis yang berisi ghuluw dan unsur tahrif. Nampaknya, pengarang yang terhormat tidak mengupayakan untuk memisahkan antara hadis-hadis yang sahih dan lemah. Ada upayanya untuk melakukan hal itu, namun tindakannya tidak mencukupi. Ia memakai sumber-sumber rujukan yang dhaif (lemah) dan menukilkan hadis dengan sanad yang lemah dan dari sisi teksnya pun mengalami distorsi. Ia menggunakan sumber yang dhaif (lemah), ia juga menukilkan riwayat yang baik dari sisi sanad, memiliki sanad yang dhaif dan dari sisi teks mudztarib (tidak ada kesesuaian antara teks dan sanad). Oleh itu, dapat dikatakan bahwa al-Burhan adalah sebuah upaya ilmiah pendahuluan yang disiapkan oleh pengarangnya bagi para peneliti yang mengetahui tentang nash, arif cenderung ke dhaif, ketidaksesuaian antara teks dan sanad sebuah riwayat dan memiliki kemampuan untuk menentukan hadis-hadis yang sahih dari yang dhaif. Fakta bahwa kitab ini berisi beberapa riwayat dhaif dan mudztharib tidak serta merta membuat kitab ini tidak berharga, namun usaha Sayid Bahrani sebagaimana kitab Bihar al-Anwar yang ditulis Allamah Majlisi yang mengandung riwayat-riwayat dhaif, merupakan bantuan besar kepada perpustakaan Syiah. Akan tetapi, tentu saja pengumpulan hadis adalah langkah pertama, langkah kedua adalah memilih karya-karya tafsir yang diriwayatkan oleh Ahlulbait as dan memisahkan antara riwayat-riwayat yang sahih dari yang dhaif dan langkah ketiga adalah mengeluarkan dan berijthad dengan mengikuti pedoman-pedoman umum metode penafsiran Ahlulbait as. Tanpa melengkapi ketiga langkah tersebut, tidak akan mampu memanfaatkan riwayat-riwayat dari jalur Ahlulbait as secara banyak. [8]


Ayatullah Ma'rifat dalam kitab Tafsir wa al-Mufassirun menulis:

Sayid Hasyim Bahrani termasuk penukil hadis yang mahir dan pengumpul riwayat. Dalam mengumpulkan hadis, ia tidak memberikan pendapat sedikitpun, bahwa sebuah hadis itu apakah: jarh wa ta'dil ) ketsiqahan perawi), ta'wil riwayat yang bertentangan dengan akal, naql secara jelas juga menyatukan antara riwayat-riwayat yang bertentangan. [9]


Sayyid Muhammad 'Ali Ayazi menulis:

"Penulis adalah salah seorang penganut aliran Akhbari yang menafsirkan Alquran hanya dengan bantuan hadis-hadis dari Ahlulbait as. Ia melarang melakukan penafsiran dengan bantuan nalar, ijtihad dan seni penafsiran. Ia juga melarang tafsir riwayat yang dilakukannya sendiri. " [10]

Naskah-naskah

Cetakan Sanggi dan Hurufi Tafsir al-Burhan, selain dicetak oleh percetakan Sanggi pada bentuk yang lama, juga telah mengalami beberapa kali cetak ulang dalam bentuk cetakan baru:

  • Cetakan Hurufi dalam 5 jilid (satu jilid mukadimah dan 4 jilid tafsir) oleh Muasasah Ismailiyan, Qum
  • Muasasah Al-Wafa, Beirut, dalam 4 jilid.
  • Ketab Furusyi Islamiyah, Tehran dalam 5 jilid.
  • Muasasah al-Risalah Beirut pada tahun 1403 H.
  • Cetakan baru pada 5 jilid, cetakan Markaz wa Nasyar Muasasah Bi'tsah Tehran, Mukadimah Syaikh Muhammad Mahdi Asyafi.

Naskah Tulisan Tangan

  • Naskah di Perpustakaan Waziri Yazd dengan nomor 5998.
  • Naskah di Perpustakaan Pusat Universitas Tehran, dengan nomer 844
  • Naskah di Perpustakaan Umum Ayatullah Hakim, Irak dengan nomer 690.
  • Naskah di Perpustakaan Faidziyah Qum (16-40-39 tafsir)
  • Naskah di Perpustakaan Universitas Adabiyat Tehran, dengan nomer 457
  • Naskah di Perpustakaan Universitas Ilahiyat Tehran, dengan nomer B 25 dan B 20
  • Naskah di Perpustakaan Pusat Astan Quds Razawi Masyhad, dengan nomer 83-91.
  • Naskah di Perpustakaan Madrasah Tinggi Syahid Muthahhari Tehran (2057)

Catatan Kaki

  1. Bahrani, Hasyim, Al-Burhān fi Tafsir al-Qurān, jld. 1, hlm. 4.
  2. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, jld. 3, hlm. 93.
  3. Bahrani, Hasyim, Al-Burhān fi Tafsir al-Qurān, jld. 1, hlm. 4.
  4. Khuramsyahi, Dānesynāmeh Qurān wa Qurān Pazuhi, jld. 1, hlm. 4.
  5. Bahrani, Hasyim, Al-Burhān fi Tafsir al-Qurān, jld. 1, hlm. 4.
  6. Bahrani, Hasyim, Al-Burhān fi Tafsir al-Qurān, jld. 1, hlm. 2-5.
  7. Al-Burhan, jld. 1, hlm. 70-73.
  8. Bahrani, Sayid Hasyim, Al-Burhān fi Tafsir al-Qurān, Mukadimah Syaikh Muhammad Mahdi Ashufi.
  9. Ma'rifat, Muhammad Hadi, Al-Tafsir wa al-Mufasirun, hlm. 330-331.
  10. Ayazi, Sayid Muhammad Ali, Al-Mufasirun wa al-Minhajuhum, hlm. 201.

Daftar Pustaka

  • Agha Buzurg Tehrani, Muhammad Muhsin, al-Dzari'ah ila Tashaāif al-Syiah, cet. Ali Naqi Minzawi wa Ahmad Minzawi, Beirut, 1403 H.
  • Ayazi, Sayid Muhammad Ali, Al-Mufassirun Hayātuhum wa Minhajuhum, Tehran, Intisyarat Wezarat Farhang wa Irsyad Islami, 1414 H.
  • Bahrani, Sayid Hasyim, al-Burhan fi Tafsir al-Qurān, cet. Mahmud bin Ja'far Musawi Zarandi, Tehran, 1334 S.
  • Bahrani, Sayid Hasyim, al-Burhān fi Tafsir, Tehran, Bi'tsat.
  • Khurramsyahi, Bahauddin, Dānesynāme Qurān wa Qurān Pazuhi, Tehran, Dustan, Nahid, 1377 S.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, Masyhad, Danesygah Ulum Islami Razawi, 1418 H.