Konsep:Turunnya Al-Qur'an
Turunnya Al-Qur'an (Nazulul Qur'an) adalah dikirimkannya ayat-ayat Al-Qur'an melalui Wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Penurunan (nazul) dalam artian turun secara materi tidaklah bermakna bagi Al-Qur'an; oleh karena itu, para pemikir Islam menggunakan istilah-istilah seperti turun secara ruhani, turun secara hakiki, dan turun secara maqami (kedudukan) terkait Al-Qur'an. Di dalam Al-Qur'an, kata-kata seperti "anzalna", "nazzalna", "auhaina", "sanulqi", "sanuqri'uka", "natluha", dan "rattalnahu" digunakan untuk merujuk pada turunnya Al-Qur'an. Jawadi Amoli menganggap pembahasan turunnya Al-Qur'an mengacu pada lahiriahnya, bukan batin Al-Qur'an.
Sekelompok peneliti Al-Qur'an berpendapat bahwa turunnya Al-Qur'an bersamaan dengan permulaan kenabian (bi'tsat), sementara sebagian lainnya meyakini adanya penundaan tiga tahun setelah bi'tsat dan menganggap awalnya terjadi pada bulan Ramadan, sehingga Al-Qur'an turun selama 20 tahun. Sebagaimana banyak pihak termasuk Allamah Thabathaba'i dan Abdullah Jawadi Amoli meyakini bahwa Al-Qur'an pertama kali turun kepada Nabi secara sekaligus (daf'i) dan kemudian turun secara bertahap, sementara beberapa lainnya seperti Mohammad Hadi Ma'rifat hanya menerima penurunan secara bertahap (tadriji).
Kedudukan Pembahasan Turunnya Al-Qur'an
Pembahasan mengenai turunnya Al-Qur'an dalam arti dikirimkannya ayat-ayat Al-Qur'an melalui Wahyu dari pihak Tuhan kepada Nabi Muhammad saw,[1] pembahasan mengenai waktu awal turunnya, cara turunnya, durasi turunnya, serta apakah turunnya Al-Qur'an terjadi secara sekaligus atau bertahap dan pembahasan lain terkait hal ini secara disiplin ilmu berada dalam lingkup Ilmu Al-Qur'an.[2] Abdullah Jawadi Amoli, mufasir Syiah, menganggap turunnya Al-Qur'an merujuk pada lahiriahnya saja, karena ia berkeyakinan bahwa Batin Al-Qur'an tidak dapat diturunkan dan didegradasi, dan Nabi melalui pendakian ruhani mencapai kedudukan di mana beliau dapat memahami batin Al-Qur'an.[3]
Mohammad Hadi Ma'rifat, peneliti Al-Qur'an dan faqih, dalam buku-buku Ilmu Al-Qur'an miliknya mencantumkan pembahasan seperti awal turunnya, durasi turunnya, ayat dan surah pertama serta terakhir yang diturunkan, perbedaan Surah Makkiyyah dan Madaniyyah, urutan turunnya, Asbabunnuzul, dan sejenisnya sebagai bagian dari pembahasan yang berkaitan dengan turunnya Al-Qur'an.[4]
Konsep
Menurut para peneliti Al-Qur'an, dikarenakan Al-Qur'an bukanlah benda materi dan tidak bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, maka turunnya Al-Qur'an dalam arti leksikalnya tidaklah tepat. Titik awal turunnya Al-Qur'an adalah Allah yang Mahasuci dari tempat dan rupa, dan tempat turunnya Al-Qur'an pun menurut ayat 194 dan 195 surah Asy-Syu'ara[5] adalah hati Nabi saw.[6] Oleh karena itu, yang dimaksud dengan turunnya Al-Qur'an adalah munculnya wahyu kepada Nabi, yang di sini diibaratkan sebagai turun (nazul) secara majasi.[7] Beberapa orang menggunakan kata ini dalam arti majasi dan menyebutnya sebagai penyerupaan hal makul (rasional) kepada hal mahsus (inderawi).[8]
Dalam hal ini, para pemikir Islam telah menggunakan ungkapan-ungkapan seperti turun secara ruhani, turun secara maqami (derajat), dan turun secara hakiki untuk penurunan Al-Qur'an. Hassan Mustafawi menggunakan istilah turun secara ruhani,[9] Allamah Thabathaba'i menggunakan istilah turun secara maqami,[10] dan Mohammad Taqi Misbah Yazdi menggunakan istilah turun secara hakiki[11] untuk merujuk pada turunnya Al-Qur'an. Menurut pandangan ini, turunnya Al-Qur'an bermakna degradasi dari kedudukan ilmu ilahi ke tahap lafaz dan konsep manusiawi, dan penggunaan ungkapan turun secara hakiki untuk makna ini adalah tepat.[12]
Dalam ayat-ayat Al-Qur'an, untuk menyebut turunnya Al-Qur'an terkadang digunakan bentukan dari kata nazul seperti "anzalna" dan "nazzalna", dan dalam ayat lainnya menggunakan kosakata seperti "auhaina", "sanulqi", "sanuqri'uka", "natluha", "rattalnahu", dan lain-lain.[13]
Cara Turunnya Al-Qur'an
Para pemikir Islam menyebutkan dua keadaan mengenai kualitas turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad saw:
- Kenaikan Malakuti Ruh Nabi dari alam lahiriah ke alam batiniah.
- Turunnya Malaikat dari alam batiniah ke alam lahiriah di mana dalam keadaan ini malaikat menjelma dalam rupa manusia.[14]
Mulla Sadra, filsuf Syiah, dalam kitab Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ketika ruh Nabi saw naik ke alam wahyu, beliau menerima firman Allah baik dari kedudukan "qaba qausaini au adna" (jarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi) maupun mendengar suara pena dan penyampaian firman para Malaikat. Ia juga meyakini bahwa dalam keadaan kedua, saat turunnya wahyu, malaikat pembawa wahyu menampakkan diri dalam bentuk yang dapat diindera bagi Nabi agar Nabi memiliki kemampuan untuk menanggung penglihatannya, dan malaikat dalam keadaan ini mengambil rupa selain rupa aslinya.[15]
Permulaan dan Durasi Turunnya Al-Qur'an
Mengenai sinkronisasi atau penundaan turunnya Al-Qur'an dengan awal kenabian Nabi saw, beberapa pandangan telah dikemukakan:
- Pandangan Mohammad Hadi Ma'rifat: Menurut pendapat ini, turunnya Al-Qur'an dimulai tiga tahun setelah bi'tsat.[16] Pada tiga tahun pertama, dakwah Nabi bersifat rahasia (sirri) dan Al-Qur'an tidak turun. Kemudian dengan turunnya ayat "Fashda' bima tu'mar", Nabi memulai dakwah terangnya dan turunnya Al-Qur'an dimulai sejak saat ini.[17]
- Sinkronisasi Bi'tsat dan Turunnya Al-Qur'an: Pandangan ini berkeyakinan bahwa turunnya Al-Qur'an dimulai bersamaan dengan bi'tsat Nabi saw dan pada bulan Ramadan. Beberapa pihak meyakini bahwa Jibril turun kepada Nabi pada hari ketujuh belas Ramadan atau Malam Qadar dan Al-Qur'an dimulai pada saat yang sama.[18]
- Bi'tsat Dua Tahap: Beberapa pihak juga meyakini bahwa permulaan bi'tsat Nabi terjadi tanpa wahyu Al-Qur'an. Menurut mereka, Nabi memiliki dua bi'tsat; satu di bulan Rajab tanpa wahyu Al-Qur'an dan yang lainnya di bulan Ramadan disertai perintah dakwah umum dan turunnya ayat-ayat Al-Qur'an.[19]
Turun secara Sekaligus atau Bertahap
Templat:Utama Masalah turunnya Al-Qur'an dalam dua tahap sekaligus (daf'i) dan bertahap (tadriji) termasuk dalam pembahasan yang diperselisihkan.[20] Mohammad Hadi Ma'rifat meyakini Al-Qur'an turun secara bertahap mulai dari Malam Qadar,[21] dan pendapat ini diterima oleh mayoritas peneliti.[22] Sebaliknya, beberapa mufasir seperti Allamah Thabathaba'i,[23] Ibnu Arabi[24] dan Abdullah Jawadi Amoli[25] berkeyakinan bahwa Al-Qur'an turun baik secara sekaligus maupun bertahap; dalam arti Al-Qur'an awalnya turun secara batin dan takwil tanpa perantara ke dalam hati Nabi dan kemudian secara bertahap dalam bentuk lafaz melalui Jibril disampaikan kepada Nabi saw.[26]
Syekh Saduq[27] dan beberapa ulama Ahlusunah[28] juga meyakini bahwa Al-Qur'an awalnya turun secara sempurna pada Malam Qadar ke Baitul Ma'mur dan kemudian selama masa kenabian turun secara bertahap kepada Nabi. Namun beberapa peneliti menolak pendapat ini dengan melemahkan dokumen-dokumennya dan menganggapnya sebagai hasil pemikiran para Sahabat.[29]
Urutan Turunnya Surah-surah
Templat:Utama Menurut perkataan Mohammad Hadi Ma'rifat, terdapat riwayat-riwayat mengenai urutan turunnya surah-surah Al-Qur'an yang diterima oleh para pakar ilmu Al-Qur'an.[30] Mayoritas riwayat ini dinukil dari Ibnu Abbas[31] dan terdapat dalam sumber-sumber seperti Fihrist Ibnu Nadim dan Majma' al-Bayan.[32] Ia juga menjelaskan bahwa kriteria penentuan urutan turunnya setiap surah adalah turunnya bagian awal surah tersebut; karena beberapa surah turun secara terpotong-potong dan di sela-sela waktu turunnya, ayat atau surah lain juga diturunkan,[33] seperti surah Al-'Alaq, al-Muddatstsir, dan al-Muzzammil.[34]
Meskipun terdapat kesepakatan umum mengenai urutan turunnya mayoritas surah, Mohammad Hadi Ma'rifat telah mengumpulkan daftar 30 surah yang di dalamnya terdapat perselisihan mengenai waktu turunnya.[35]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Hakim, Ulum al-Qur'an, 1417 H, hlm. 25.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 9; Mir-mohammadi, Tarikh va Ulum-e Qur'an, 1375 HS, hlm. 5.
- ↑ Jawadi Amoli, Qur'an dar Qur'an, 1386 HS, hlm. 44.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 4.
- ↑ "Nazzala bihi al-Ruh al-Amin * 'Ala qalbika li-takuna min al-mundzirin". Roh Kudus (Jibril) telah membawanya (Al-Qur'an) turun * Ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.
- ↑ Ahmadi, Qur'an dar Qur'an, 1374 HS, hlm. 115.
- ↑ Hakim, Ulum al-Qur'an, 1417 H, hlm. 25.
- ↑ Abedini, "Ma'na-syenasi-ye Nazul dar Qur'an...", hlm. 98–99.
- ↑ Mustafawi, al-Tahqiq, 1368 HS, jld. 12, hlm. 88.
- ↑ Thabathaba'i, al-Mizan, 1390 H, jld. 3, hlm. 8.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1385 HS, jld. 1, hlm. 32.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1385 HS, jld. 1, hlm. 32.
- ↑ Abedini, "Ma'na-syenasi-ye Nazul dar Qur'an...", hlm. 112.
- ↑ Suyuthi, al-Itqan, 1421 H, jld. 1, hlm. 165; Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, 1427 H, jld. 1, hlm. 365.
- ↑ Mulla Sadra, Mafatih al-Ghaib, 1363 HS, jld. 1, hlm. 33–36.
- ↑ Ma'rifat, al-Tamhid, 1428 H, jld. 1, hlm. 111.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 63–64.
- ↑ Alavi Mehr, "Aghaz-e Nobovvat va Ciegunegi-ye Nazul-e Qur'an", hlm. 101–103.
- ↑ Alavi Mehr, "Aghaz-e Nobovvat va Ciegunegi-ye Nazul-e Qur'an", hlm. 103–104.
- ↑ Nasehiyan, "Kavusyi No dar Ciegunegi-ye Nazul-e Qur'an", hlm. 59–60.
- ↑ Ma'rifat, al-Tamhid, 1428 H, jld. 1, hlm. 114.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'an, 1388 HS, hlm. 65.
- ↑ Thabathaba'i, al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hlm. 15–18.
- ↑ Ibnu Arabi, al-Futuhat, Dar Shadir, jld. 4, hlm. 402.
- ↑ Jawadi Amoli, Qur'an dar Qur'an, 1386 HS, hlm. 71.
- ↑ Thabathaba'i, al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hlm. 15–18.
- ↑ Shaduq, al-I'tiqadat, 1414 H, hlm. 82.
- ↑ Suyuthi, al-Itqan, 1421 H, jld. 1, hlm. 156.
- ↑ Ma'rifat, al-Tamhid, 1428 H, jld. 1, hlm. 117–121; Salehi Najafabadi, "Nazariye-i darbare-ye Keifiyat-e Nazul-e Qur'an", hlm. 82.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 77.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 77.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 77.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 78.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 78.
- ↑ Ma'rifat, Ulum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 80-84.
Daftar Pustaka
- Ahmadi, Mahdi. Qur'an dar Qur'an. Qom, Penerbit Syarq, 1374 HS.
- Alavi Mehr, Hossein. "Nazul-e Qur'an-e Karim". Jurnal Ma'rifat, nomor 83, 1383 HS.
- Al-Halabi, Ali bin Ibrahim. al-Sirah al-Halabiyyah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1427 H.
- Ibnu Arabi, Muhammad bin Ali. al-Futuhat al-Makkiyyah. Beirut, Dar Shadir, tanpa tahun.
- Jawadi Amoli, Abdullah. Qur'an dar Qur'an dari rangkaian Tafsir Tematik Al-Qur'an al-Karim. Qom, Penerbit Esra, 1386 HS.
- Hakim, Mohammad Baqir. Ulum al-Qur'an. Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, 1417 H.
- Dehkhoda, Ali Akbar. Lughatnameh Dehkhoda. Teheran, Universitas Teheran, 1377 HS.
- Rajabi, Mahmoud. "Ahdaf-e Qur'an va Mavane'-e Bahre-bardari az an". Jurnal Ma'rifat, nomor 24, 1377 HS.
- Rezai Esfahani, Mohammad Ali. Tafsir-e Qur'an-e Mehr. Qom, Nasyr-e Pajuhisy-haye Tafsir va Ulum-e Qur'an, 1387 HS.
- Rahbari, Hassan. "Aghaz-e Nobovvat va Ciegunegi-ye Nazul-e Qur'an". Jurnal Pajuhisy-haye Qur'ani, nomor 46–47, 1385 HS.
- Suyuthi, Abdurrahman. al-Itqan fi Ulum al-Qur'an. Beirut, Dar al-Kutub al-Arabi, 1421 H.
- Salehi Najafabadi, Nematullah. "Nazariye-i darbare-ye Keifiyat-e Nazul-e Qur'an". Jurnal Keyhan-e Andisye, nomor 32, 1369 HS.
- Shaduq, Muhammad bin Ali. al-I'tiqadat fi Din al-Imamiyyah. Beirut, Dar al-Mufid, 1414 H.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390 H.
- Abedini, Nasser. "Ma'na-syenasi-ye Nazul dar Qur'an ba Ta'kid bar Vozhgan-e Bayan-gar-e Nazul-e Qur'an". Jurnal Husna (Faslnamah Takhashshusi Tafsir, Ulum-e Qur'an va Hadis), nomor 21, 1393 HS.
- Majlisi, Mohammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Misbah Yazdi, Mohammad Taqi. Qur'an-syenasi. Riset: Gholamali Azizi Kia. Jilid 2. Qom, Penerbit Muassasah Imam Khomeini, 1392 HS.
- Misbah Yazdi, Mohammad Taqi. Qur'an-syenasi. Riset: Mahmoud Rajabi. Jilid 1. Qom, Penerbit Muassasah Imam Khomeini, 1385 HS.
- Mustafawi, Hassan. al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an. Teheran, Nasyr-e Vezarat-e Farhang va Ersyad-e Islami, 1368 HS.
- Ma'rifat, Mohammad Hadi. al-Tamhid fi Ulum al-Qur'an. Qom, Muassasah Farhangi al-Tamhid, 1428 H.
- Ma'rifat, Mohammad Hadi. Ulum-e Qur'ani. Qom, Muassasah Farhangi Tamhid, 1388 HS.
- Mulla Sadra. Mafatih al-Ghaib. Teheran, Vezarat-e Farhang va Anjoman-e Islam Hikmat va Muassasah Motale'at va Tahqiqat-e Farhangi, 1363 HS.
- Mir-mohammadi, Sayyid Abul Fadhl. Tarikh va Ulum-e Qur'an. Qom, Daftare Entesyarat-e Islami, 1375 HS.
- Nasehiyan, Ali Asghar. "Kavusyi No dar Ciegunegi-ye Nazul-e Qur'an". Jurnal Ulum va Ma'arif-e Qur'ani, nomor 6 dan 7, 1377 HS.