Lompat ke isi

Konsep:Tawanan

Dari wikishia

Tawanan mengacu pada individu yang jatuh ke tangan pasukan musuh dalam pertempuran bersenjata. Dalam Fikih, tawanan (asir) mengacu pada laki-laki Kafir atau baghi, sementara wanita dan anak-anak yang ditangkap diidentifikasi dengan istilah "sabi". Al-Qur'an dan teks-teks Islam telah berulang kali menyinggung tentang tawanan dan penawanan, dan dalam ajaran Islam, hak-hak kemanusiaan yang berkaitan dengan tawanan telah dikemukakan sebelum penyusunan hukum internasional modern. Kata tawanan muncul dalam berbagai ayat Al-Qur'an, dan beberapa para nabi dilarang mengambil tawanan.

Dalam fikih Islam, mengambil tawanan diperbolehkan dalam kondisi tertentu, seperti setelah kemenangan total dalam perang, dukungan terhadap musuh, pelanggaran perjanjian damai, dan konspirasi melawan Muslim. Dalam kondisi ini, mengambil tawanan diizinkan. Namun, dalam kasus-kasus seperti sebelum kemenangan total, selama masa perjanjian gencatan senjata, dan pada Bulan-bulan Haram, mengambil tawanan dilarang. Jika aturan-aturan ini dilanggar, Muslim diperbolehkan melakukan muqabalah bi al-mitsl.

Dalam teks-teks agama, disebutkan hak-hak bagi tawanan seperti pemenuhan kebutuhan dasar, penghormatan kepada para pembesar, dan berbuat baik kepada tawanan. Penyediaan makanan dan minuman adalah Wajib bagi pihak penawan, meskipun tawanan tersebut adalah kafir. Mengenai hukum penawanan, tawanan tidak boleh dibunuh kecuali dalam kasus khusus seperti kejahatan atau fitnah. Selain itu, tawanan dapat dibebaskan dengan Fidyah dan beberapa fukaha meyakini bahwa mereka harus dibebaskan tanpa fidyah. Nabi Islam (saw) juga bertugas mengajak tawanan kepada Islam, dan jika terdapat kepura-puraan memeluk Islam untuk tujuan pengkhianatan, maka hal itu harus dicegah.

Terminologi dan Kedudukan

Tawanan mengacu pada individu yang jatuh ke tangan pasukan musuh dalam pertempuran bersenjata.[1] Kata ini dinamakan demikian (asir) karena tawanan biasa diikat dengan tali yang disebut "isar".[2] Beberapa peneliti, seperti Hassan Mustafavi, memperluas konsep tawanan hingga mencakup setiap individu yang mendekam di bawah kekuasaan, seperti hamba sahaya atau narapidana.[3] Dalam terminologi fikih, istilah tawanan lebih banyak ditujukan kepada laki-laki Kafir atau baghi, sementara untuk wanita dan anak-anak yang ditangkap digunakan istilah "sabi".[4] Kata tawanan digunakan beberapa kali dalam Al-Qur'an dan merujuk pada masalah penawanan.

Dalam teks-teks Islam, pembahasan tentang hak-hak tawanan dan hukum penawanan berada di bawah pembahasan Jihad[5] dan dalam buku-buku tafsir di bawah ayat-ayat jihad.[6] Aturan berperilaku terhadap tawanan perang di masa kontemporer merupakan bagian dari hukum humaniter.[7] Menurut para peneliti, prinsip-prinsip kemanusiaan dalam berinteraksi dengan tawanan telah dikemukakan dalam ajaran Islam jauh sebelum hukum internasional baru.[8]

Kata tawanan (asir) dan turunannya digunakan beberapa kali dalam Al-Qur'an di bawah kosakata seperti "usara",[9] "asra",[10] "ta'sirun",[11] dan "asiran",[12] yang merujuk pada masalah penawanan dan mengambil tawanan.[13] Selain itu, ungkapan "fasyuddu al-watsaq"[14] bermakna mengikat tali orang-orang yang ditawan dengan kuat[15] dan kata "khudzuhum"[16] dianggap sebagai kiasan dari mengambil tawanan.[17] Demikian pula, beberapa para nabi dilarang mengambil tawanan, seperti dalam ayat 246 Surah Al-Baqarah.[18]

Kasus Kebolehan Mengambil Tawanan

Mengambil tawanan dalam teks-teks agama diperbolehkan di bawah kondisi tertentu, di antaranya:

  1. Setelah Kemenangan Total: Allamah Thabathabai dalam tafsir ayat 4 Surah Muhammad menunjukkan bahwa mengambil tawanan harus dilakukan setelah berakhirnya perang dan kemenangan Muslim.[19] Nashir Makarem Syirazi juga berdasarkan ayat 67 Surah Al-Anfal meyakini bahwa mengambil tawanan hanya diperbolehkan setelah kemenangan pasti[20] dan harus menghindari membunuh musuh setelah kekalahan mereka, kecuali jika beberapa tawanan menjadi ancaman bagi Muslim.[21]
  2. Dukungan terhadap Musuh: Menurut ayat 26 Surah Al-Ahzab, Muslim dapat menawan mereka yang membantu musuh dalam perang, meskipun mereka sendiri tidak terlibat langsung dalam pertempuran.[22]
  3. Pelanggaran Perjanjian Damai: Berdasarkan ayat 5 Surah At-Taubah, Muslim berhak menawan musuh atau menerapkan hukuman lain seperti membunuh atau mengepung jika mereka melanggar perjanjian damai.[23]
  4. Konspirasi: Menurut ayat 91 Surah An-Nisa', orang munafik yang berkonspirasi melawan Muslim, jika terus melanjutkan perilakunya, maka harus ditawan atau dibunuh.[24]

Kasus Pelarangan Mengambil Tawanan

Menurut para fukaha, mengambil tawanan dilarang dalam kondisi tertentu:

  1. Sebelum Kemenangan Total atas Musuh: Para fukaha meyakini bahwa mengambil tawanan sebelum berakhirnya perang mungkin saja[25] menyebabkan berkurangnya kekuatan tempur Muslim dan kekalahan mereka.[26]
  2. Selama Masa Perjanjian: Ketika Muslim telah menjalin perjanjian gencatan senjata dengan musuh, mengambil tawanan tidak diperbolehkan.[27]
  3. Pada Bulan-bulan Haram: Perang dan mengambil tawanan pada bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab, dianggap Haram.[28] Kecuali jika musuh menyerang pada hari-hari ini, maka dalam hal ini pembalasan setimpal diizinkan.[29]

Hak-Hak Tawanan

Dalam teks-teks agama, disebutkan hak-hak bagi tawanan seperti pemenuhan kebutuhan dasar, menjaga keamanan, dan penghormatan kepada para pembesar tawanan:

  1. Pemenuhan Kebutuhan Dasar dan Berbuat Baik kepada Tawanan: Berdasarkan riwayat Imam Shadiq (as), memenuhi kebutuhan dasar tawanan (makanan dan minuman) adalah Wajib bagi penawan, meskipun tawanan tersebut adalah Kafir atau hukum bunuh telah dikeluarkan atasnya.[30] Berbuat baik kepada tawanan dianggap perlu dalam Islam[31] hingga berdasarkan ayat kelima hingga kedelapan Surah Al-Insan, berbuat baik kepada tawanan diperkenalkan sebagai salah satu sifat al-abrar (orang-orang baik).[32]
  2. Penghormatan kepada Pemimpin dan Pembesar Tawanan: Imam Ali (as) dalam menghadapi tindakan seperti menjual tawanan atau menggunakan mereka untuk pekerjaan berat, menekankan penghormatan kepada para pembesar tawanan. Menurut laporan, Imam Ali (as) dalam menanggapi keputusan Umar bin Khattab yang bermaksud menjual tawanan dan mempekerjakan mereka untuk melakukan pekerjaan berat; memerintahkan agar putri-putri Kisra, Raja Iran, dihormati dan diperlakukan dengan benar.[33]

Hukum-Hukum Penawanan

Dalam teks-teks agama, disebutkan beberapa hukum bagi tawanan yang tertangkap di akhir perang:

  • Penahanan dan Ketidakbolehan Membunuh: Menurut ayat-ayat Al-Qur'an, membunuh tawanan setelah kemenangan tidak diperbolehkan; kecuali jika mereka memiliki rekam jejak kejahatan atau fitnah; sebagaimana Nabi Islam (saw) setelah Perang Badar, memerintahkan pembunuhan terhadap Uqbah bin Abi Mu'aith dan Nadhr bin al-Harits, dan setelah Perang Uhud memerintahkan pembunuhan terhadap Abu 'Azzah penyair dan Muawiyah bin Nadhr.[34] Menurut ayat 4 Surah Muhammad, Muslim harus mencegah pelarian tawanan dan penggabungan mereka kembali ke musuh serta pelemahan tentara Islam dengan meningkatkan langkah-langkah pencegahan dan mengikat tawanan dengan kuat.[35]
  • Pertukaran dan Pembebasan: Pertukaran tawanan antara Muslim dan ahli baghi diperbolehkan.[36] Pembebasan tawanan dapat dilakukan dengan menerima Fidyah atau tanpa fidyah bergantung pada kemaslahatan penguasa Islam.[37] Beberapa fukaha meyakini tawanan harus diberi kemurahan hati dan dibebaskan tanpa fidyah.[38] Terdapat pula banyak laporan dari Sirah Nabawi bahwa beliau membebaskan tawanan dalam Perang Badar, setelah Perjanjian Hudaibiyah, dan di tempat lainnya tanpa menerima fidyah.[39] Selain itu, dalam sumber sejarah disebutkan bahwa mereka yang tidak memiliki kemampuan membayar fidyah, diwajibkan untuk mengajar baca tulis kepada anak-anak atau kaum Muslimin dan Nabi menjadikan pekerjaan mereka tersebut sebagai fidyah bagi mereka.[40]
  • Masuk Islamnya Tawanan: Jika tawanan memeluk Islam sebelum ditangkap, maka tidak diperbolehkan membunuh atau menjadikannya budak.[41] Jika ia memeluk Islam setelah ditangkap, maka hukuman bunuh atasnya gugur dan Imam dapat memutuskan tentangnya (perbudakan, fidyah, atau pertukaran).[42]
  • Ajakan kepada Islam: Nabi bertugas mengajak tawanan kepada Islam,[43] dan jika terdapat kepura-puraan memeluk Islam untuk pengkhianatan, maka hal itu harus dicegah.[44]

Larangan Menjadi Tawanan

Dalam kumpulan-kumpulan riwayat, dinukil riwayat-riwayat yang melarang penyerahan diri dan menjadi tawanan di tangan musuh tanpa perlawanan. Dalam riwayat-riwayat ini ditekankan bahwa Ahlulbait (as) sejauh mungkin menghindari menjadi tawanan dan hina di hadapan musuh[45] dan menganggap menjadi tawanan sebagai hal tercela jika masih mampu berperang.[46] Selain itu, berdasarkan riwayat dari Imam Ali (as), jika seorang Muslim menjadi tawanan musuh akibat kelalaian dan tidak adanya perlawanan, maka Fidyah pembebasannya tidak dibayar dari Baitulmal, dan keluarganya harus membayar fidyah pembebasannya dari harta mereka sendiri.[47]

Monograf

Gambar buku Nasib Tawanan dalam Islam

Telah ditulis beberapa buku mengenai masalah tawanan dan penawanan dari perspektif ajaran Islam:

  • Buku Sarnevesyt-e Asir dar Islam, Barrasi-ye Tarikhi Feqhi (Nasib Tawanan dalam Islam, Tinjauan Sejarah dan Fikih) karya Sayid Ali Mirsyarifi membahas masalah perang dan jihad, penawanan dan tawanan, budak dan Perbudakan dari sisi sejarah dan fikih dalam agama Islam. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Samt pada tahun 1395 HS dan meraih dua penghargaan "Layak Dipuji" pada Festival Ilmiah Lencana Dehkhoda periode ketiga tahun 1396 HS serta penghargaan "Layak Dipuji" pada Buku Tahun Hawzah periode ke-19 tahun 1396 HS.[48]
  • Al-Asir fil Islam karya Ali Ahmadi Miyanji dalam bahasa Arab membahas pandangan Islam tentang tawanan dan penawanan serta cara berinteraksi dengan tawanan dari sudut pandang Islam. Buku ini diterbitkan oleh Kantor Publikasi Islami yang berafiliasi dengan Lembaga Pengajar Hawzah Ilmiah Qom.[49]

Catatan Kaki

  1. Goyandeh, "Asir-e Jangi".
  2. Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, di bawah entri w-a-z; Raghib Isfahani, Al-Mufradat, di bawah entri a-s-r; Dehkhoda, Loghat-nameh Dehkhoda, di bawah entri; Tim Penulis, Islam wa Asir, Zamzam-e Hedayat, hlm. 13.
  3. Mustafavi, Al-Tahqiq, di bawah entri a-s-r.
  4. Al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1418 H, jil. 8, hlm. 5910; Fadhlullah, Kitab al-Jihad, 1418 H, hlm. 304; Anshari, Al-Mawsu'ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah, 1418 H, jil. 2, hlm. 154 dan 155; Ahmadi Miyanji, Al-Asir fil Islam, 1411 H, hlm. 56.
  5. Najafi, Jawahir al-Kalam, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jil. 21, hlm. 122-126; Al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1418 H, jil. 8, hlm. 5910 dan 5917; Fadhlullah, Kitab al-Jihad, 1418 H, hlm. 304.
  6. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 18, hlm. 225; Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jil. 2, hlm. 611; jil. 3, hlm. 137; Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jil. 28, hlm. 45.
  7. Ziaei Bigdeli, "Hoquq-e Jang wa Raftar ba Asiran", hlm. 159.
  8. Fazaili, "Ushul-e Hakem bar Raftar ba Qorbaniyan-e Mokhasemat-e Mosallahanah...", hlm. 111; Ziaei Bigdeli, "Hoquq-e Jang wa Raftar ba Asiran", hlm. 161; Parvin dan Zarshagi, "Tahlil-e Hoquq-e Asiran-e Jangi az Manzhar-e Islam wa Foqahay-e Mosalman", hlm. 11.
  9. Surah Al-Baqarah, ayat 85.
  10. Surah Al-Anfal, ayat 67 dan 70.
  11. Surah Al-Ahzab, ayat 26.
  12. Surah Al-Insan, ayat 8.
  13. Ahmadi Miyanji, Al-Asir fil Islam, 1411 H, hlm. 56.
  14. Surah Muhammad, ayat 4.
  15. Tim Penulis, Islam wa Asir, Zamzam-e Hedayat, hlm. 13.
  16. Surah An-Nisa', ayat 89-90; Surah At-Taubah, ayat 5.
  17. Shadiqi, "Asarat", hlm. 606.
  18. Shadiqi, "Asarat", hlm. 606.
  19. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 18, hlm. 225.
  20. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil. 7, hlm. 244.
  21. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil. 7, hlm. 247.
  22. Shadiqi, "Asarat", hlm. 607.
  23. Shadiqi, "Asarat", hlm. 607.
  24. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jil. 3, hlm. 137; Shadiqi, "Asarat", hlm. 607.
  25. Allamah Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jil. 14, hlm. 203; Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jil. 3, hlm. 39.
  26. Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1413 H, jil. 28, hlm. 45; Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, jil. 26-27, hlm. 89; Shadiqi, "Asarat", hlm. 608.
  27. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 9, hlm. 151.
  28. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 9, hlm. 269.
  29. Shadiqi, "Asarat", hlm. 609.
  30. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 5, hlm. 35.
  31. Allamah Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jil. 14, hlm. 241.
  32. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jil. 10, hlm. 617; Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 20, hlm. 126-127.
  33. Thabari, Dala'il al-Imamah, 1413 H, hlm. 194.
  34. Shadiqi, "Asarat", hlm. 610.
  35. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jil. 9, hlm. 146-147.
  36. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jil. 9, hlm. 424.
  37. Ibnu Hayyun, Da'a'im al-Islam, 1385 H, jil. 1, hlm. 277.
  38. Fakhrurazi, Tafsir al-Kabir, 1420 H, jil. 28, hlm. 39.
  39. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jil. 9, hlm. 186; Al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1418 H, jil. 8, hlm. 5917.
  40. Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1409 H, jil. 2, hlm. 119-120.
  41. Allamah Hilli, Tahrir al-Ahkam, 1420 H, jil. 2, hlm. 162-163; Tim Penulis, Islam wa Asir, Penerbit Zamzam-e Hedayat, hlm. 16.
  42. Allamah Hilli, Tahrir al-Ahkam, 1420 H, jil. 2, hlm. 162-163; Tim Penulis, Islam wa Asir, Penerbit Zamzam-e Hedayat, hlm. 18.
  43. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jil. 4, hlm. 860.
  44. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jil. 10, hlm. 36.
  45. Syaikh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jil. 2, hlm. 98.
  46. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 5, hlm. 34.
  47. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 5, hlm. 34.
  48. "Ketab-syenasi-ye Sarnevesyt-e Asir dar Islam", situs Organisasi Studi dan Penyusunan Buku Ilmu Humaniora Universitas (Samt).
  49. Ahmadi Miyanji, Al-Asir fil Islam, 1411 H, mukadimah penerbit, hlm. 4.

Daftar Pustaka

  • Ahmadi Miyanji, Ali. Al-Asir fil Islam. Qom, Penerbit Kantor Publikasi Islami, cetakan pertama, 1411 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Qawa'id al-Ahkam fi Ma'rifat al-Halal wa al-Haram. Qom, Penerbit Kantor Publikasi Islami, cetakan pertama, 1413 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Tadzkirat al-Fuqaha. Qom, Muassasah Al al-Bait, 1414 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab al-Imamiyah. Qom, Muassasah al-Imam al-Shadiq as, 1420 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Muntaha al-Mathlab fi Tahqiq al-Madzhab. Masyhad, Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, 1412 H.
  • Anshari, Muhammad Ali. Al-Mawsu'ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah. Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, cetakan pertama, 1418 H.
  • Dehkhoda, Ali Akbar. Loghat-nameh Dehkhoda. Teheran, Penerbit Universitas Teheran, 1377 HS.
  • Delshad Tehrani, Mushthafa. Sawday-e Peyman-syekanan: Tahlil-e Fetneh-ye Jamal ba Tekyeh bar Nahj al-Balaghah. Teheran, Darya, 1394 HS.
  • Dinawari, Abu Hanifah Ahmad bin Daud. Al-Akhbar al-Thiwal. Qom, Mansyurat al-Radhi, 1368 HS.
  • Dzahabi, Syamsuddin Muhammad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masysyahir wal A'lam. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1409 H.
  • Fakhrurazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
  • Fazaili, Mushthafa. "Ushul-e Hakem bar Raftar ba Qorbaniyan-e Mokhasemat-e Mosallahanah az Negah-e Islam wa Hoquq-e Basyar Doustanah...". Jurnal Pazhuhesy-e Tathbiqi-ye Hoquq-e Islam wa Gharb, tahun kedelapan, nomor 1, 1400 HS.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Kitab al-Jihad. Beirut, Dar al-Malak, 1418 H.
  • Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad al-Maghribi. Da'a'im al-Islam. Qom, Muassasah Al al-Bait, 1385 H.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukram. Lisan al-Arab. Riset oleh Jamaluddin Mirdamadi. Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 HS.
  • Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Mustafavi, Hasan. Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim. Teheran, Markaz al-Kitab lil Tarjamah wal Nasyr, 1402 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1404 H.
  • Parvin, Kheirullah dan Mohammad Zarshagi. "Tahlil-e Hoquq-e Asiran-e Jangi az Manzhar-e Islam wa Foqahay-e Mosalman". Jurnal Motale'at-e Defa'-e Moqaddas, nomor 23, 1399 HS.
  • Quthb Rawandi, Sa'id bin Hibatullah. Fiqh al-Qur'an. Qom, Perpustakaan Umum Hazrat Ayatollah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1405 H.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfadz al-Qur'an. Riset oleh Safwan Adnan Dawoudi. Beirut-Damaskus, Dar al-Qalam-al-Dar al-Syamiyyah, 1412 H.
  • Shadiqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Penerbit Farhang-e Islami, 1406 H.
  • Shadiqi Fadaki, Sayid Ja'far. "Asarat". Dalam Da'irat al-Ma'arif-e Qur'an-e Karim. Qom, Bustan-e Ketab, 1382 HS.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham ila Tanqih Syara'i al-Islam. Qom, Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1413 H.
  • Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Irsyad fi Ma'rifat Hujaj Allah 'alal 'Ibad. Qom, Muassasah Al al-Bait, 1413 H.
  • Thabari Amoli Shaghir, Muhammad bin Jarir bin Rustam. Dala'il al-Imamah. Qom, Penerbit Ba'tsat, 1413 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami, cetakan kedua, 1390 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nasir Khosrow, 1372 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Nihayah fi Mujarrad al-Fiqh wal Fatawa. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1400 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Beirut, Dar al-Ta'aruf, 1412 H.
  • Ziaei Bigdeli, Mohammad Reza. "Hoquq-e Jang wa Raftar ba Asiran-e Jangi". Jurnal Hoquqi-ye Beynolmelali, nomor 8, 1366 HS.
  • Al-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Damaskus, Dar al-Fikr, 1418 H.

```