Lompat ke isi

Konsep:Nizam ahsan

Dari wikishia

Nizam Ahsan (bahasa Arab:النظام الأصلح); Bahasa Indonesia: Tatanan Terbaik) bermakna tatanan terbaik yang mungkin bagi alam ciptaan. Para pemikir Islam meyakini bahwa alam semesta diciptakan dalam bentuk yang paling baik dan tidak ada keadaan yang lebih baik dari ini yang dapat dibayangkan. Al-Qur'an dan riwayat juga mengisyaratkan bahwa ciptaan Allah adalah yang terbaik (ahsan). Topik ini dibahas dalam literatur para mutakallim (teolog) dengan istilah "ashlah" (yang paling patut/terbaik) dalam perbuatan-perbuatan Ilahi.

Para filsuf dan mutakallim mengemukakan argumen-argumen seperti ilmu khusus Allah terhadap penciptaan (inayah), cinta Zat Yang Mahasempurna Mutlak kepada Diri-Nya sendiri, Burhan Imkan Asyraf, dan penelaahan terhadap detail-detail makhluk untuk membuktikan Nizam Ahsan.

Sebagian meyakini bahwa kebaikan tatanan (nizam) ini berkaitan dengan keseluruhan tatanan, bukan pada setiap bagian-bagiannya secara terpisah, sementara sebagian lain memberikan peran khusus bagi manusia dan menganggap kebaikan tatanan ini terletak pada keselarasan keseluruhan sistem dalam rangka mencapai tujuan penciptaan manusia atau jenis manusia tertentu.

Dikatakan bahwa Nizam Ahsan berbeda dengan Burhan Nazhm. Burhan Nazhm menggunakan premis-premis akal dan empiris untuk membuktikan keberadaan Tuhan, sedangkan Nizam Ahsan adalah hasil dari pembuktian keberadaan Tuhan dan sifat-sifat-Nya serta dibuktikan dengan dalil-dalil akal yang premis-premisnya sepenuhnya bersifat rasional. Dalam menjawab kesesuaian antara Nizam Ahsan dengan keberadaan kejahatan, para pemikir Islam menyatakan bahwa kejahatan bersifat ketiadaan dan timbul dari ketiadaan sebagian kesempurnaan pada makhluk. Selain itu, kebaikan tatanan berkaitan dengan keseluruhannya, dan karena makhluk memiliki kekurangan dan keterbatasan, keberadaan kejahatan dalam sistem ini adalah hal yang alami.

Pengenalan dan Kedudukan

Nizam Ahsan didefinisikan sebagai tatanan terbaik di antara tatanan-tatanan yang mungkin bagi alam ciptaan.[1] Para filsuf dan mutakallim dalam pembahasan yang berkaitan dengan hikmah dan keadilan Ilahi menggunakan istilah ini untuk menunjukkan bahwa di antara keadaan-keadaan yang mungkin bagi penciptaan, Allah telah menciptakan yang terbaik di antaranya, dan penciptaan yang lebih baik dari apa yang telah diciptakan adalah tidak mungkin.[2]

Nizam Ahsan tidak bermakna bahwa sistem ini tanpa kekurangan sama sekali (dalam artian setara dengan Tuhan). Karena, ditinjau dari sisi bahwa akibat (ma'lul) atau makhluk secara zat lebih tidak sempurna daripada sebabnya, maka dalam setiap sistem yang mungkin (selain Tuhan), pasti akan terdapat kekurangan.[3]

Menurut Murtadha Muthahhari, pemikir Syiah, Al-Qur'an al-Karim memperkenalkan penciptaan sebagai sesuatu yang tanpa cacat dan dalam keadaan yang paling sempurna.[4] Ayat 7 As-Sajdah, 50 Thaha, dan 88 An-Naml mengisyaratkan tentang kebaikan (ahsan) dan ketiadaan cacat dalam tatanan penciptaan.[5] Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an, telah diajukan berbagai argumen bagi kebaikan penciptaan.[6]

Dikatakan bahwa dalam kitab-kitab hadis terdapat banyak riwayat yang memperkenalkan sistem penciptaan sebagai keadaan terbaik.[7] Sebagai contoh, Imam Shadiq as berdasarkan laporan yang dinukil dalam kitab Tauhid al-Mufadhdhal, memperkenalkan nama dunia ini dalam bahasa Yunani sebagai "Kosmos". Nama ini bermakna perhiasan, dan menurut beliau, dunia dinamakan demikian untuk menunjukkan bahwa apa yang ada di dunia ini diciptakan dalam bentuk terbaik dan terindah.[8]

Kriteria Nizam Ahsan

Imam Ali as

Dia tidak menciptakan segala sesuatu dari materi azali ataupun dari contoh-contoh abadi (yang sudah ada sebelumnya), melainkan Dia menciptakan apa yang Dia ciptakan dan menentukan ukurannya, serta memberikan bentuk kepada apa yang Dia beri bentuk, dan Dia melukis bentuk tersebut dengan sebaik-baik bentuk.[9]

Salah satu pembahasan yang dikemukakan terkait Nizam Ahsan adalah penentuan kriteria dan tolak ukur yang menjadi dasar penilaian kebaikan sistem tersebut.[10] Menurut sebagian filsuf, kebaikan tatanan didasarkan pada keselarasan keseluruhan sistem dan tatanan, dan dalam hal ini tidak boleh melihat pada kemaslahatan makhluk khusus seperti manusia semata.[11]

Sebaliknya, dikatakan bahwa berdasarkan ayat dan riwayat, para mufasir berkeyakinan bahwa manusia tidak seperti makhluk lainnya yang hanya menjadi bagian dari penciptaan, melainkan diperkenalkan sebagai tujuan penciptaan bagi makhluk-makhluk lainnya.[12] Mulla Shadra, filsuf Syiah, juga meyakini bahwa tujuan penciptaan bukanlah semua manusia, melainkan manusia khusus yang melampaui alam jasmani (Manusia Sempurna).[13] Berdasarkan hal ini, kriteria Nizam Ahsan adalah manusia, di mana seluruh ciptaan diciptakan dalam rangka sampainya manusia pada tujuan-tujuannya.[14]


Perbedaan Burhan Nazhm dan Nizam Ahsan

Terdapat beberapa perbedaan antara Nizam Ahsan dan Burhan Nazhm. Perhatian Burhan Nazhm tertuju pada keteraturan alam materi, sedangkan Nizam Ahsan mencakup seluruh wujud; adanya premis empiris dalam Burhan Nazhm, sedangkan Nizam Ahsan dimungkinkan dengan argumen akal murni; Burhan Nazhm diajukan untuk membuktikan Tuhan, sedangkan Nizam Ahsan mengasumsikan keberadaan Tuhan dan sebagian sifat-Nya (sebagai premis); kecukupan keteraturan minimal bagi Burhan Nazhm, sedangkan Nizam Ahsan membuktikan keteraturan maksimal; kaitan Nizam Ahsan dalam menjawab masalah kejahatan, sedangkan Burhan Nazhm digunakan untuk prinsip teisme; serta sifat Inni (bergerak dari akibat ke sebab) pada argumen Burhan Nazhm dan sifat Limmi (bergerak dari sebab ke akibat) pada pembuktian Nizam Ahsan, serta kemungkinan penggunaan Dalil Naqli untuk membuktikan Nizam Ahsan yang berbeda dengan Burhan Nazhm, adalah di antara perbedaan-perbedaan tersebut.[15]

Sejarah Pembahasan

Masalah Nizam Ahsan memiliki kedudukan khusus dalam filsafat dan teologi Islam serta pembahasan filsafat dan teologi Barat.[16] Ibnu Sina, Syekh Isyraq, dan Mulla Shadra adalah di antara filsuf Islam yang mengajukan berbagai argumen untuk membuktikan Nizam Ahsan.[17]

Dalam pembahasan para mutakallim, topik ini dikemukakan dalam batasan perbuatan-perbuatan Ilahi mengenai manusia.[18] Istilah para mutakallim dalam hal ini adalah "ashlah" (yang paling patut/terbaik) dalam perbuatan Ilahi, yang sering kali diajukan sebagai cabang dari pembahasan rezeki.[19] Awal mula pembahasan ini dalam teologi dianggap berasal dari Mu'tazilah.[20] Dalam teologi Imamiyah, dikatakan bahwa pembahasan terbanyak mengenai masalah ini dikemukakan oleh Muhaqqiq Lahiji (W. 1072 H) dalam dua kitabnya, Gauhar-e Murad dan Sarmaye-ye Iman.[21] Dalam kitab-kitab tafsir, pembahasan ini juga disinggung sesuai dengan konteks materi dan ayat.[22]

Menurut laporan Mullah Mahdi Naraqi, seorang filsuf Syiah, seluruh pemikir Islam baik filsuf, mutakallim, maupun muhadditsin mengakui kebaikan (ahsan) tatanan penciptaan. Menurutnya, dalam masalah ini hanya Syafi'i yang menentang dan berkeyakinan bahwa mungkin ada penciptaan yang lebih sempurna dari apa yang telah terjadi. Naraqi menganggap pendapat Syafi'i dalam hal ini tidak perlu digubris karena ia asing dan bukan ahli dalam ilmu teologi (ilahiyat).[23]

Nizam Ahsan dan Kejahatan

Menurut Murtadha Muthahhari, masalah Nizam Ahsan dan kejahatan di alam semesta merupakan salah satu masalah filosofis terpenting yang menjadi akar dari paham-paham seperti Dualisme (menyakini dua sumber bagi kebaikan dan kejahatan di alam), Materialisme, dan pesimisme.[24] Berdasarkan masalah ini, jika tatanan penciptaan adalah tatanan terbaik, mengapa terlihat kejahatan di alam semesta, yang jika tidak ada, kita akan menyaksikan penciptaan yang lebih sempurna.[25]

Terkait pemecahan masalah ini dan hubungannya dengan Nizam Ahsan, beberapa jawaban telah diajukan oleh para pemikir Islam:

  • Kejahatan bersifat ketiadaan (adami) dan muncul dari aspek ketiadaan kesempurnaan. Berdasarkan hal ini, apa pun yang keluar dari Allah adalah kebaikan (khair), dan munculnya kejahatan di alam semesta bukan disebabkan oleh keberadaan dan kesempurnaan makhluk, melainkan karena ketiadaan sebagian kesempurnaan pada makhluk yang merupakan hal-hal yang bersifat aksidental ('aradhi).[26]
  • Kebaikan tatanan (Nizam Ahsan) tidak bermakna bahwa setiap bagian secara parsial tidak dapat lebih sempurna dari kondisinya saat ini. Melainkan maksudnya adalah sistem keseluruhan dan hubungan-hubungan yang mengaturnya tidak mungkin lebih baik dari ini. Akibatnya, keberadaan kekurangan dan kejahatan relatif pada tingkatan penciptaan yang memiliki keterbatasan adalah hal yang alami dan tidak membatalkan kebaikan tatanan tersebut.[27]

Dalil-dalil Pembuktian Nizam Ahsan

Para pemikir Islam menyebutkan beberapa dalil untuk membuktikan Nizam Ahsan:

Burhan Inayah

Allah dalam Zat-Nya memiliki pengetahuan yang sempurna dan utuh mengenai bagaimana penciptaan itu seharusnya. Ilmu Ilahi terhadap makhluk ini disebut dengan "Inayah". Keberadaan eksternal makhluk terwujud sesuai dengan ilmu inayah Allah. Karena ilmu Allah itu utuh dan Dia mengetahui bentuk terbaik bagi penciptaan, maka alam penciptaan terwujud dalam bentuk terbaik dan tidak mungkin ada yang lebih baik dari ini.[28] Dikatakan bahwa jenis ilmu Ilahi ini dinamakan inayah karena inayah (perhatian/kepedulian) terhadap sesuatu bermakna bahwa pelaku berusaha semaksimal mungkin agar sesuatu tersebut terlaksana dalam keadaan yang paling sempurna dan terbaik.[29]

Burhan Hikmah

Menurut Mishbah Yazdi, filsuf Syiah, Allah pertama-tama memiliki cinta (hubb) pada Zat-Nya sendiri. Karena Allah adalah Sempurna Mutlak, konsekuensi dari cinta Zat Allah adalah cinta kepada makhluk yang paling sempurna yang mungkin ada. Inilah makna hikmah mutlak Allah. Akibatnya, karena Allah Mahabijaksana, tatanan yang keluar dari-Nya adalah tatanan yang secara keseluruhan memiliki kesempurnaan terbanyak.[30]

Burhan Imkan Asyraf

Menurut Mullah Mahdi Naraqi, salah satu argumen yang diajukan untuk Nizam Ahsan didasarkan pada kaidah Imkan Asyraf dan Kaidah al-Wahid. Menurut argumen ini, satu makhluk keluar dari Allah tanpa perantara, dan dalam rangkaian sebab-akibat juga, setiap makhluk yang terwujud adalah makhluk yang paling sempurna yang mungkin ada. Oleh karena itu, sistem yang terwujud adalah sistem yang paling sempurna yang mungkin ada. Karena tidak mungkin ada wujud sempurna yang diasumsikan di mana pun dalam rangkaian tersebut namun tidak terwujud.[31]

Burhan Ketidaterbatasan Hak Taa'la

Berdasarkan penjelasan Abdullah Jawadi Amuli, filsuf Syiah, kebaikan tatanan (Nizam Ahsan) kembali pada karakteristik dan hubungan-hubungan fail (pelaku), internal, dan ghai (tujuan) mereka. Jika tatanan penciptaan tidak berada dalam keadaan terbaiknya, itu berarti adanya keterbatasan pada sumbernya (Pencipta). Padahal Allah tidak terbatas. Maka, seluruh dimensi beragam dari tatanan wujud berada dalam keadaan terbaik yang dapat dibayangkan.[32]

Dalil Inni

Dikatakan bahwa di samping argumen-argumen Limmi (bergerak dari sebab ke akibat) yang diajukan untuk membuktikan Nizam Ahsan, seseorang dapat mengetahui kebaikan tatanan penciptaan dengan menelaah makhluk-makhluk dan memahami rahasia serta hikmah-hikmahnya (gerak dari akibat ke sebab = argumen Inni). Dan semakin bertambah ilmu manusia, semakin terbentuk pengetahuan yang lebih besar dalam dirinya mengenai hikmah-hikmah penciptaan.[33] Ghulam Ridha Fayyadhi, pemikir Syiah, meyakini bahwa argumen ini memiliki premis-premis yang terbentuk berdasarkan induksi yang tidak lengkap (menelaah sebagian makhluk). Dan karena induksi tidak lengkap tidak menghasilkan keyakinan (yakin), maka ini tidak dapat disebut sebagai argumen (burhan) yang independen, melainkan sebagai penguat bagi argumen-argumen Limmi.[34]

Catatan Kaki

  1. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 6.
  2. Muthahhari, Majmu'eh Atsar-e Ostad Syahid Muthahhari (Jahanbini-ye Tauhidi) (Kumpulan Karya Ustaz Syahid Muthahhari: Pandangan Dunia Tauhid), 1384 HS, jil. 2, hlm. 143.
  3. Ubudiyat dan Mishbah, Khudashenasi (Mengenal Tuhan), 1399 HS, hlm. 288-291.
  4. Muthahhari, Majmu'eh Atsar-e Ostad Syahid Muthahhari (Insanshenasi-ye Qur'an) (Kumpulan Karya Ustaz Syahid Muthahhari: Antropologi Al-Qur'an), 1384 HS, jil. 29, hlm. 158-161.
  5. Muthahhari, Majmu'eh Atsar-e Ostad Syahid Muthahhari (Insanshenasi-ye Qur'an) (Kumpulan Karya Ustaz Syahid Muthahhari: Antropologi Al-Qur'an), 1384 HS, jil. 29, hlm. 160-161; Mishbah Yazdi, Ma'arif Qur'an (Ma'arif Al-Qur'an), 1391 HS, hlm. 151.
  6. Mardani Valandani, Arzeh Nazar-e Bu Ali Sina darbareh Nizam Ahsan bar Ayat va Rivayat (Pemaparan Pandangan Ibnu Sina tentang Nizam Ahsan terhadap Ayat dan Riwayat), 1390 HS, hlm. 75-86.
  7. Mardani Valandani, Arzeh Nazar-e Bu Ali Sina darbareh Nizam Ahsan bar Ayat va Rivayat (Pemaparan Pandangan Ibnu Sina tentang Nizam Ahsan terhadap Ayat dan Riwayat), 1390 HS, hlm. 86.
  8. Mufadhdhal bin Umar, Tauhid al-Mufadhdhal, Penerbit Dawari, hlm. 176.
  9. Syarif Radhi, Nahj al-Balaghah, 1414 H, hlm. 233.
  10. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 11-12.
  11. Jawadi Amuli, Sarchashmeh-ye Andisheh (Sumber Pemikiran), 1386 HS, jil. 3, hlm. 622-623.
  12. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 14.
  13. Shadra, Syarh Ushul Kafi, 1366 HS, jil. 4, hlm. 266.
  14. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 17.
  15. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 17-19.
  16. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 5.
  17. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 5.
  18. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 5.
  19. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 6.
  20. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 6.
  21. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 6.
  22. Purrustayi, Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan), 1392 HS, hlm. 6.
  23. Naraqi, Jami' al-Afkar, 1423 H, jil. 2, hlm. 7.
  24. Muthahhari, Majmu'eh Atsar-e Ostad Syahid Muthahhari (Adl-e Ilahi) (Kumpulan Karya Ustaz Syahid Muthahhari: Keadilan Ilahi), 1384 HS, jil. 1, hlm. 149.
  25. Naraqi, Jami' al-Afkar, 1423 H, jil. 2, hlm. 7.
  26. Ibnu Sina, Al-Ta'liqat, 1404 H, hlm. 355; Ibnu Sina, Al-Najat, 1379 HS, hlm. 554; Naraqi, Jami' al-Afkar, 1423 H, jil. 2, hlm. 7.
  27. Ibnu Sina, Al-Najat, 1379 HS, hlm. 673-681; Naraqi, Jami' al-Afkar, 1423 H, jil. 2, hlm. 9-10; Ubudiyat dan Mishbah, Khudashenasi (Mengenal Tuhan), 1399 HS, hlm. 288-291.
  28. Ibnu Sina, Al-Mabda' wa al-Ma'ad, 1363 HS, hlm. 88; Ibnu Sina dan Khajah Nashiruddin al-Thusi, Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat, 1403 H, jil. 3, hlm. 318; Shadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyyah al-Arba'ah (Perjalanan Empat Akal), 1368 HS, jil. 7, hlm. 57.
  29. Rabbani Golpaygani, Al-Qawa'id al-Kalamiyyah, 1392 HS, hlm. 153.
  30. Mishbah Yazdi, Amuzyesh-e Falsafeh (Pelajaran Filsafat), 1391 HS, jil. 2, hlm. 485-486.
  31. Naraqi, Jami' al-Afkar, 1423 H, jil. 2, hlm. 7-8.
  32. Jawadi Amuli, Sarchashmeh-ye Andisheh (Sumber Pemikiran), 1386 HS, jil. 3, hlm. 621-622.
  33. Mishbah Yazdi, Amuzyesh-e Falsafeh (Pelajaran Filsafat), 1391 HS, jil. 2, hlm. 486.
  34. Thabathaba'i dan Fayyadhi, Nihayah al-Hikmah, 1386 HS, jil. 4, hlm. 1191.

Daftar Pustaka

  • Awhaduddin Kermani, Hamid bin Abi al-Fakhr. Diwan Ruba'iyyat Awhaduddin Kermani. Teheran, Entesharat-e Soroush, 1366 HS.
  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah dan Muhammad bin Muhammad Khajah Nashiruddin al-Thusi. Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat. Qom, Daftar-e Nashr-e Al-Kitab, 1403 H.
  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah. Al-Mabda' wa al-Ma'ad. Teheran, Moassese-ye Motale'at-e Eslami-ye Daneshgah-e Tehran - Daneshgah-e McGill, 1363 HS.
  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah. Al-Najat min al-Gharaq fi Bahr al-Dhalalat. Teheran, Daneshgah-e Tehran. Moassese-ye Entesharat va Chap, 1379 HS.
  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah. Al-Ta'liqat. Qom, Maktab al-I'lam al-Islami. Markaz al-Nasyr, 1404 H.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Sarchashmeh-ye Andisheh (Sumber Pemikiran). Qom, Isra, 1386 HS.
  • Mardani Valandani, Muhammad Mahdi. Arzeh Nazar-e Bu Ali Sina darbareh Nizam Ahsan bar Ayat va Rivayat (Pemaparan Pandangan Ibnu Sina tentang Nizam Ahsan terhadap Ayat dan Riwayat). Tesis Magister jurusan Ilmu Hadis konsentrasi Teologi dan Akidah, Fakultas Ilmu Hadis, 1390 HS.
  • Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzyesh-e Falsafeh (Pelajaran Filsafat). Qom, Entesharat-e Moassese-ye Amuzeshi va Pajuheshi-ye Imam Khomeini, 1391 HS.
  • Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi. Ma'arif Qur'an: Khudashenasi, Keyhanshenasi, Insanshenasi (Ma'arif Al-Qur'an: Teologi, Kosmologi, Antropologi). Qom, Entesharat-e Moassese-ye Amuzeshi va Pajuheshi-ye Imam Khomeini, 1391 HS.
  • Mohtasham Kashani, Kamaluddin Ali. Diwan Maulana Mohtasham Kashani. Koreksi Mehr Ali Gorgani. Tanpa tempat, Ketabforushi-ye Mahmudi, Tanpa tahun.
  • Mufadhdhal bin Umar. Tauhid al-Mufadhdhal. Qom, Nashr-e Davari, Tanpa tahun.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar-e Ostad Syahid Muthahhari (Adl-e Ilahi) (Kumpulan Karya Ustaz Syahid Muthahhari: Keadilan Ilahi). Teheran, Sadra, 1384 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar-e Ostad Syahid Muthahhari (Jahanbini-ye Tauhidi) (Kumpulan Karya Ustaz Syahid Muthahhari: Pandangan Dunia Tauhid). Teheran, Sadra, 1384 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Yaddasht-haye Ostad Muthahhari (Catatan-catatan Ustaz Muthahhari). Teheran, Sadra, 1384 HS.
  • Nahj al-Balaghah. Qom, Hijrat, 1414 H.
  • Naraqi, Muhammad Mahdi bin Abi Dzar. Jami' al-Afkar wa Naqid al-Anzhar. Teheran, Moassese-ye Entesharat-e Hekmat, 1423 H.
  • Purrustayi, Javad. Rahyafti Qur'ani be Nazariyeh Nizam Ahsan (Pendekatan Al-Qur'an terhadap Teori Nizam Ahsan). Qom, Pajuheshgah-e Howzeh va Daneshgah, 1392 HS.
  • Rabbani Golpaygani, Ali. Al-Qawa'id al-Kalamiyyah. Qom, Muassasah al-Imam al-Shadiq as, 1392 HS.
  • Sa'di, Muslihuddin. Kulliyat Sa'di. Koreksi Muhammad Ali Foroughi. Teheran, Chapkhaneh-ye Boroukhim, 1320 HS.
  • Shadra, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyyah al-Arba'ah (Perjalanan Empat Akal). Qom, Maktabah al-Mushthafawi, 1368 HS.
  • Shadra, Muhammad bin Ibrahim. Syarh Ushul Kafi. Teheran, Vezarat-e Farhang va Amuzyesh-e Ali. Moassese-ye Motale'at va Tahqiqat-e Farhangi, 1366 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain dan Ghulam Ridha Fayyadhi. Nihayah al-Hikmah. 1386 HS.
  • Ubudiyat, Abdurrasul dan Mujtaba Mishbah. Khudashenasi (Mengenal Tuhan). Qom, Entesharat-e Moassese-ye Amuzeshi va Pajuheshi-ye Imam Khomeini, 1399 HS.