Konsep:Mushaf Masyhad Razavi
Citra satu halaman dari naskah asli Mushaf Masyhad Razavi. | |
| Bahasa | Arab |
|---|---|
| Subyek | Al-Qur'an |
| Tahun Disusun | Abad 1 Hijriah |
Mushaf Masyhad Razavi merupakan salah satu manuskrip Al-Qur'an terlengkap peninggalan abad pertama Hijriah yang memuat lebih dari 90% teks Al-Qur'an. Para pakar, seperti Morteza Karimi-Nia dan Michael Cook, berdasarkan analisis terhadap karakteristik tekstual, ortografi (rasm), variasi qiraat, serta susunan surah, menyimpulkan bahwa manuskrip ini berasal dari periode awal Islam. Mushaf ini dipandang sebagai dokumen krusial untuk membantah teori-teori revisionis Barat yang mengklaim bahwa kodifikasi Al-Qur'an terjadi pada masa yang lebih belakangan. Meskipun teksnya selaras dengan Mushaf Utsmani, para peneliti meyakini bahwa susunan awal surah-surahnya didasarkan pada riwayat Ibnu Mas'ud, yang di kemudian hari dimodifikasi agar sesuai dengan versi Utsmani. Saat ini, manuskrip tersebut dikonservasi di Perpustakaan Astan Quds Razavi.
Karakteristik mushaf ini mengindikasikan kesesuaian umum dengan qiraat Madinah. Lebih lanjut, para peneliti meyakini bahwa pada mulanya, naskah ini tidak dilengkapi dengan tanda titik (nuktah) maupun vokalisasi (i'rab). Akademisi Barat, di antaranya Nicolai Sinai dan François Déroche, turut menilai mushaf ini sebagai spesimen berharga yang merepresentasikan tahapan awal evolusi Penulisan Al-Qur'an.
Pengenalan dan Urgensi Naskah
Mushaf Masyhad Razavi adalah naskah Al-Qur'an terlengkap yang tersisa dari abad pertama Hijriah.[1] Naskah ini mencakup lebih dari 90% teks Al-Qur'an secara keseluruhan.[2] Para Islamolog dan peneliti, seperti Morteza Karimi-Nia dan Michael Cook, bersandar pada karakteristik khusus seperti gaya teks, kaidah ortografi, ragam qiraat, serta urutan surah, meyakini bahwa mushaf ini berasal dari era awal Islam (abad ke-1 H).[3] Mushaf ini dinilai sebagai bukti paling otentik untuk menolak teori revisionisme Barat yang mendalilkan bahwa teks Al-Qur'an baru dikodifikasi secara matang pada abad kedua dan ketiga Hijriah.[4]
Teks dalam mushaf ini merujuk pada kerangka Mushaf Utsmani, akan tetapi susunan surahnya mengikuti tata urutan Ibnu Mas'ud (w. 32/652-653 M).[5] Mushaf Masyhad merupakan satu-satunya manuskrip kuno beraksara Hijazi di Iran yang ditulis dalam format vertikal.[6] Manuskrip ini kini tersimpan di Perpustakaan Astan Quds Razavi.[7] Pewakaf (wakif) naskah ini diketahui bernama "Ali bin Abil Qasim al-Muqri al-Sarawi".[8] Diperkirakan, mushaf ini telah berada di wilayah Khorasan sejak abad kelima Hijriah dan kemungkinan diwakafkan kepada Haram Imam Ridha as pada penghujung abad yang sama.[9] Menurut Karimi-Nia, manuskrip ini secara keliru kerap dinisbatkan sebagai tulisan tangan Imam Ali as.[10]
Karakteristik Mushaf Masyhad Razavi
Berdasarkan sebuah kajian, Mushaf Masyhad Razavi memiliki kedekatan yang amat kuat dengan karakteristik khas mushaf Madinah dan Makkah, dengan pengecualian pada dua bagian (Ayat 100 Surah At-Taubah dan Ayat 95 Surah Al-Kahf) yang secara spesifik mengikuti mushaf Makkah, serta satu bagian (Ayat 64 Surah Az-Zumar) yang merujuk pada mushaf Syam.[11]
Karakteristik Tekstual dan Ortografi
Menurut para pakar studi Al-Qur'an, karakteristik tekstual Mushaf Masyhad—yang mencakup variasi qiraat, perbedaan masahif al-amshar, serta keunikan ortografisnya—menunjukkan afinitas yang kental dengan naskah-naskah Hijazi.[12] Menurut pengamatan Karimi-Nia, naskah ini pada awalnya murni tanpa tanda titik, di mana nuktah serta i'rab baru ditambahkan pada masa-masa berikutnya.[13] Dalam manuskrip ini, mayoritas kata yang mestinya mengandung huruf alif panjang ditulis tanpa menggunakan alif (alif khanjariyah).[14] Selain itu, sistem pembagian ayat di dalamnya tidak berafiliasi dengan tujuh sistem penomoran ayat klasik yang umum dikenal (seperti sistem Kufi, Bashri, atau Makki).[15]
Manipulasi dalam Urutan Surah
Meski teks Mushaf Masyhad Razavi diakui selaras dengan Mushaf Utsmani, susunan surah pada bentuk asalnya berakar pada tata urutan yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas'ud. Susunan ini pada masa selanjutnya direvisi,[16] dan dalam beberapa kasus, sejumlah halaman bahkan ditulis ulang secara menyeluruh.[17] Walaupun teks dasarnya adalah versi Utsmani, tata letak surah-surah awalnya sangat bertolak belakang dengan urutan naskah Utsmani standar. Modifikasinya begitu masif sehingga seorang penyalin di era belakangan, yang mahir dalam Kaligrafi Kufi, harus melakukan pemotongan, penempelan ulang secara ekstensif, dan menulis ulang hampir seluruh bagian juz ke-30.[18] Kedua bagian mushaf tersebut telah direstorasi, dengan beberapa segmen yang dikoreksi menggunakan khat Kufi.[19] Para peneliti menarik kesimpulan bahwa manipulasi ini secara sengaja dilakukan untuk merekonsiliasi urutan surahnya dengan versi resmi Utsmani.[20]
Hipotesis Mengenai Sejarah dan Asal-usul Mushaf
Morteza Karimi-Nia mengajukan tiga hipotesis akademis terkait sejarah dan asal-usul Mushaf Masyhad Razavi:
- Hipotesis Pertama: Mushaf ini diproduksi di Kufah oleh para pengikut Ibnu Mas'ud. Walaupun menggunakan teks Utsmani, mereka mempertahankan urutan surah versi Ibnu Mas'ud. Namun, hipotesis ini terbantahkan oleh kuatnya karakteristik Madani pada mushaf serta minimnya kemiripan dengan tradisi penulisan Kufi.[21]
- Hipotesis Kedua: Mushaf ini diproduksi pasca-abad pertama Hijriah, di mana para penyalin dengan sengaja mempertahankan urutan Ibnu Mas'ud berdasarkan literatur dan laporan sejarah. Hipotesis ini dinilai lemah karena tidak sejalan dengan langgam ortografi naskah yang terbukti sangat kuno.[22]
- Hipotesis Ketiga (Pilihan): Mushaf disalin oleh para pendukung Utsman atau representasi kekhalifahan saat itu. Mengingat kuatnya hegemoni urutan Ibnu Mas'ud di wilayah Kufah pada masa tersebut, para penyalin menulis Al-Qur'an berteks Utsmani namun menyajikannya dengan urutan Ibnu Mas'ud agar lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat. Hipotesis ini memberikan penjelasan paling rasional terhadap fenomena hibridisasi antara teks Utsmani dan susunan surah Ibnu Mas'ud.[23]
Pandangan Peneliti Barat
Nicolai Sinai, Profesor Studi Islam di Universitas Oxford, memosisikan mushaf ini sebagai salah satu bukti empiris paling berharga dalam membedah sejarah pembentukan teks Al-Qur'an. Melalui tinjauan mendalam atas gaya kaligrafi, karakteristik fisik, dan susunan surah, ia berkesimpulan bahwa manuskrip ini disalin pada suatu fase dalam sejarah Islam di mana tata urutan surah Al-Qur'an masih memperlihatkan keberagaman.[24] François Déroche, seorang ahli kodikologi terkemuka asal Prancis, memusatkan studinya pada karakteristik inskripsi naskah dan mengategorikannya sebagai representasi autentik dari fase perintisan tradisi penyalinan Al-Qur'an.[25] Ia menegaskan bahwa absennya vokalisasi dan tanda baca merupakan ciri purba Al-Qur'an masa awal.[26] Michael Cook, Profesor dari Universitas Princeton, Amerika Serikat, setelah menelaah isi Mushaf Masyhad secara komprehensif, menyoroti dikotomi antara naskah-naskah awal Al-Qur'an dengan versi kodifikasi resminya, serta menobatkan mushaf ini sebagai dokumen fundamental untuk memetakan pluralitas awal dalam tradisi transmisi Al-Qur'an.[27]
Edisi Faksimili
Teks lengkap Mushaf Masyhad Razavi telah direproduksi dan diterbitkan oleh Morteza Karimi-Nia dalam format faksimiliTemplat:Yad dwibahasa (Arab dan Inggris).[28] Jilid pertama menyuguhkan cetak ulang faksimili dari naskah fisik beserta hasil penyuntingan teks yang mutakhir, lengkap dengan anotasi pinggir yang komprehensif.[29] Jilid kedua memuat pengantar akademis mendalam dalam bahasa Arab dan Inggris yang mengkaji Mushaf Masyhad Razavi melalui kacamata kodikologi, kritik tekstual, dan historiografi.[30] Proyek penerbitan edisi faksimili ini dimandatkan oleh Astan Quds Razavi kepada lembaga Alulbait as yang berbasis di Qom melalui sebuah nota kesepakatan.[31]
Sejarah dan Transmisi Mushaf
Merujuk pada data historis yang dirilis oleh situs resmi Mushaf Masyhad Razavi, rentetan kronologis terkait eksistensi manuskrip ini dapat dipetakan sebagai berikut:
| Kronologi Mushaf Masyhad Razavi | ||||||
| Tanggal | Garis Besar Peristiwa | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Abad pertama Hijriah (paruh kedua) | Ditulis menggunakan aksara Hijazi kuno, kemungkinan di Madinah atau Kufah, naskah ini awalnya mengikuti tata urutan surah Ibnu Mas'ud, sementara teks utamanya telah selaras dengan riwayat Utsmani. Manuskrip ini terdiri atas lebih dari 250 lembar folio dan mencakup sekitar 95% dari keseluruhan teks Al-Qur'an. Hasil uji paleografi dan ortografi mengukuhkan usianya sebagai peninggalan abad pertama Hijriah. | |||||
| Sekitar 100–300/718–913 | Asumsi awal keberadaan mushaf ini di Kufah diperkuat oleh afinitas qiraat dan gaya penulisannya dengan manuskrip-manuskrip Al-Qur'an yang lazim beredar di kawasan tersebut. | |||||
| Abad-abad berikutnya (pasca-abad pertama) | Susunan awal surah-surah yang berpijak pada tradisi Ibnu Mas'ud mulai direkonstruksi dan disesuaikan agar konforman dengan tata urutan resmi Utsmani. | |||||
| Abad ketiga hingga kelima Hijriah | Nisyapur, sebagai salah satu kutub intelektual terkemuka pada periode ini, disinyalir kuat menjadi episentrum penyimpanan mushaf tersebut. | |||||
| Akhir abad kelima Hijriah | Mengacu pada akta wakaf yang terlampir, kepemilikan mushaf pada kurun waktu ini berada di tangan Ali bin Abil Qasim al-Muqri al-Sarawi. | |||||
| Sekitar 490/1097 | Wajih bin Thahir al-Syahhami, seorang ulama mumpuni asal Khorasan, mengambil inisiatif untuk menulis ulang teks Surah Al-Fatihah pada lembar pembuka mushaf. | |||||
| Akhir abad kelima atau awal abad keenam Hijriah | Inskripsi akta wakaf yang tertera di bagian awal naskah MSS 18 serta di penghujung Surah Al-Kahf memberikan justifikasi formal atas wakaf mushaf ini ke Haram Imam Ridha as. | |||||
| 996–1006/1588–1598 (Era Safawi) | Pada era Safawi, kota Masyhad berulang kali menghadapi invasi dan aneksasi dari bangsa Uzbek. Diduga kuat para pengurus Haram Razavi menyembunyikan sejumlah naskah Al-Qur'an dan benda-benda pusaka di balik struktur dinding haram sebagai upaya penyelamatan. | |||||
| Sekitar 1250/1834 | Pada era Dinasti Qajar, naskah MSS 18 melewati fase restorasi menggunakan pita kertas penguat, terbukti dari pembubuhan stempel yang berangka tahun 1267 H (1850-1851 M) dan 1286 H (1869-1870 M). | |||||
| 1969 | Terjadi penemuan spektakuler lembaran-lembaran Al-Qur'an kuno yang lama tersembunyi di balik partisi dinding di sekitar zarih suci (termasuk penemuan naskah 4116). | |||||
| 2011 | Naskah MSS 4116 menjalani proses pemugaran teknis oleh tim restorasi ahli di Perpustakaan Astan Quds Razavi. | |||||
| 2014–2016 | Morteza Karimi-Nia berhasil mengidentifikasi orisinalitas naskah MSS 18 dan mengafiliasikannya dengan naskah MSS 4116. Atas dasar temuan inilah, terminologi "Mushaf Masyhad Razavi" diusulkan untuk merepresentasikan kesatuan koleksi tersebut. | |||||
| 2016–2021 | Tahapan riset mendalam serta penyuntingan teks mushaf dikebut di bawah naungan kerja sama dengan lembaga Alulbait as, yang berujung pada penyelesaian studi komprehensif di tahun 2021. | |||||
| 2022–2023 | Edisi faksimili dari mushaf ini akhirnya dicetak massal, lengkap dengan elaborasi desain grafis, pengerjaan bingkai, dan penjilidan presisi tinggi. | |||||
| 16 November 2023 | Digelarnya seremonial peresmian Mushaf Masyhad Razavi di lingkungan Haram Imam Ridha as, yang turut dihadiri jajaran ulama dan intelektual budaya ternama. | |||||
| 25 Februari 2025 | Mushaf Masyhad Razavi dianugerahi posisi terhormat sebagai karya paling terkemuka dalam kategori apresiasi "Penghargaan Buku Tahun Ini" (Book of the Year Award) Republik Islam Iran.[32] | |||||
Catatan Kaki
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 352.
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 352.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 292.
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 349.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 292.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 295.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 296.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 296.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 296.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 296.
- ↑ Qiraat dalam Mushaf Masyhad Razavi, Situs Resmi Mushaf Masyhad Razavi.
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 347.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 301.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 303.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 311.
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 349-351.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 314-319.
- ↑ Gudarzi, Urgensi Mushaf Masyhad Razavi dalam Penelitian Al-Qur'an, Situs Resmi Mushaf Masyhad Razavi.
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 345-346.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 314.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 322.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 323.
- ↑ Karimi-Nia, A New Document in the Early History of the Qurʾān, hlm. 323.
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 348.
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 348.
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 348-349.
- ↑ Cook, Mushaf Masyhad Razavi Memiliki Banyak Poin yang Membangkitkan Keingintahuan Kami, Kantor Berita ANA.
- ↑ Riyahi-Mehr, "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi...", hlm. 343.
- ↑ Gudarzi, Urgensi Mushaf Masyhad Razavi dalam Penelitian Al-Qur'an Kontemporer", Situs Resmi Mushaf Masyhad Razavi.
- ↑ Gudarzi, Urgensi Mushaf Masyhad Razavi dalam Penelitian Al-Qur'an Kontemporer", Situs Resmi Mushaf Masyhad Razavi.
- ↑ Pengenalan Edisi Faksimili Mushaf Masyhad Razavi, Situs Resmi Mushaf Masyhad Razavi.
- ↑ Sejarah Mushaf Masyhad Razavi, Situs Resmi Mushaf Masyhad Razavi.
Catatan
Daftar Pustaka
- Cook, Michael. "Mushaf Masyhad Razavi نکات فراوانی دارد که کنجکاوی ما را برمیانگیزد" (Mushaf Masyhad Razavi Memiliki Banyak Poin yang Membangkitkan Keingintahuan Kami). Kantor Berita ANA, tanggal rilis: 24 Dey 1402 HS, tanggal akses: 12 Mordad 1404 HS.
- Gudarzi, Mohsen. اهمیت مصحف مشهد رضوی در تحقیقات قرآنی (Urgensi Mushaf Masyhad Razavi dalam Penelitian Al-Qur'an). Situs Resmi Mushaf Masyhad Razavi, tanggal akses: 12 Mordad 1404 HS.
- Karimi-Nia, Morteza. A New Document in the Early History of the Qurʾān: Codex Mashhad, an ʿUthmānic Text of the Qurʾān in Ibn Masʿūd’s Arrangement of Sūras. Journal of Islamic Manuscripts 10.3, 2019.
- Riyahi-Mehr, Baqer. "Muru-ri bar Mushaf-e Masyhad Razavi as va Ara'-e Qur'an-pazhuhan-e Gharbi dar-bareh-ye Ashalat va Ahimmiyat-e An". Dwiwulanan Ilmiah Qur'an-pazhuhi-ye Khavarsyenasan, nomor 37, tahun ke-19, musim gugur dan dingin 1403 HS.
- "Sejarah Mushaf Masyhad Razavi". Situs Resmi Mushaf Masyhad Razavi, tanggal akses: 12 Mordad 1404 HS.
- "Pengenalan Edisi Faksimili Mushaf Masyhad Razavi". Situs Resmi Mushaf Masyhad Razavi, tanggal akses: 12 Mordad 1404 HS.