Lompat ke isi

Konsep:Khattabiyyah

Dari wikishia

Templat:Infobox sekte Khattabiyyah, adalah sebuah sekte dari kaum Ghalian pada masa Imam Shadiq (as) di bawah kepemimpinan Abu al-Khattab. Abu al-Khattab pada awalnya merupakan penghubung Imam Shadiq (as) dan para pengikut beliau diperintahkan untuk menjalin persahabatan dengannya, namun karena keyakinan ekstremnya (ghuluw), ia menjadi sasaran laknat dan pengafiran oleh Imam. Ia awalnya mengaku sebagai washi (penerima wasiat) dan telah diajarkan Ismul A'zham, kemudian ia melontarkan gagasan kenabian para imam, dan akhirnya menyebut para imam (as) sebagai Tuhan. Setelah dikucilkan, ia menyebut dirinya sendiri sebagai tuhan. Menurut para sejarawan, Abu al-Khattab ditangkap dan dihukum gantung setelah kalah dalam perang melawan Isa bin Musa. Sebagian pengikutnya meyakini bahwa ia menghilang dan telah menjadi bagian dari para malaikat.

Keyakinan ekstrem para pengikut Abu al-Khattab mencakup kepercayaan bahwa ketuhanan adalah cahaya dalam kenabian dan kenabian adalah cahaya dalam imamah, serta cahaya Ilahi tersebut diwariskan di dalam tubuh para imam. Mereka juga meyakini bahwa para imam adalah hujah-hujah Allah dan pemilik pengetahuan mutlak, serta telah menerima kitab Jafr dari Imam Shadiq (as) yang memberikan mereka ilmu mutlak. Mereka menganggap Abu Bakar, Umar, Utsman, dan mayoritas sahabat sebagai kafir, serta meyakini adanya hulul (inkarnasi tuhan) dan takwil batin terhadap kewajiban serta larangan. Selain itu, berdasarkan Surah Al-Mu'minun Ayat 44, mereka meyakini keberadaan Imam Shamit (diam) dan Nathiq (berbicara) di setiap zaman; setelah Imam Shadiq (as) (sebagai Imam Nathiq), mereka menganggap Abu al-Khattab sebagai Imam Shamit.

Sebagai akibat dari pengucilan dan kematian Abu al-Khattab, berbagai sekte baru muncul darinya, di mana sebagian tetap berpegang pada keyakinan semula (Khattabiyyah Muthlaqah), sebagian bergabung dengan sekte lain (Mubarakiyyah), dan sebagian lainnya mengembangkan keyakinan yang lebih menyimpang seperti uluhiyah Imam Shadiq (as) (Bazi'iyyah, Umariyyah/Ujaliyyah), atau meyakini kenabian utusan dari pihak Imam Shadiq (as) (pengikut Sari Aqsham) serta hulul dan reinkarnasi (Ma'mariyyah). Selain itu, terbentuk pula sekte Gharabiyyah yang meyakini bahwa Jibril salah dalam menyampaikan risalah kepada Muhammad (saw).

Abu al-Khattab Pendiri Sekte Khattabiyyah

Templat:Utama Abu al-Khattab pada awalnya termasuk dalam jajaran sahabat dan orang dekat Imam Shadiq (as). Menurut penukilan al-Kulaini, Abu al-Khattab merupakan penghubung antara Imam (as) dengan para sahabat beliau lainnya[1] dan Imam (as) memerintahkan para sahabatnya untuk menjalin persahabatan dengannya.[2] Sebelum tahun 130 H, ia telah dilaknat dan dikafirkan oleh Imam Shadiq (as) karena keyakinan ekstremnya.[3]

Menurut laporan para penulis kitab milal wa nihal, klaim-klaim Abu al-Khattab terus mengalami perubahan. Ia mula-mula mengklaim bahwa Imam Shadiq (as) telah menjadikannya sebagai wasi (penerima wasiat) beliau dan telah mengajarkan Ismul A'zham Ilahi kepadanya.[4] Kemudian ia berbicara tentang nubuwwah para imam,[5] di mana kesalahan ini menurut ungkapan Imam Jawad (as) bersumber dari kerancuan antara posisi Muhaddis dan Nabi.[6] Setelah itu, ia menyebut Nabi Muhammad (saw), Ali (as), dan para imam lainnya sebagai Tuhan, dan setelah Imam Shadiq (as) mengucilkan serta melaknatnya, ia menyebut dirinya sendiri sebagai tuhan.[7]

Ia ditangkap dan dihukum gantung setelah kalah dalam perang melawan Isa bin Musa.[8] Menurut keyakinan sebagian pengikut Abu al-Khattab, ia dan para pengikutnya menghilang dari pandangan mata dan setelah peristiwa tersebut, Abu al-Khattab menjadi bagian dari para malaikat.[9]

Beberapa Keyakinan Mereka

Abu al-Khattab menganggap ketuhanan sebagai cahaya dalam nubuwwah dan nubuwwah sebagai cahaya dalam imamah, serta meyakini bahwa bumi tidak akan pernah kosong dari cahaya-cahaya ini.[10] Menurut keyakinannya, cahaya atau ruh Ilahi diwariskan di dalam tubuh para imam. Ia dan para pengikutnya menganggap puasa bulan Syaban sebagai hal yang wajib dan menganggap meninggalkannya meniscayakan kewajiban kafarat.[11]

  1. Imamah: Kaum Khattabiyyah menyebut anak-anak dan pengikut Imam Husain (as) sebagai anak-anak dan kekasih Allah. Mereka dengan melakukan takwil atas Ayat 72 Surah Shad, menganggap ibadah dan ketaatan kepada para imam adalah wajib.[12] Menurut keyakinan mereka, para imam adalah hujah Allah atas makhluk dan mengetahui segala ilmu.[13] Para pengikut Abu al-Khattab meskipun meyakini uluhiyah Imam Shadiq (as), namun mereka menganggap Abu al-Khattab lebih unggul daripada beliau dan Ali (as).[14] Mereka juga mengklaim bahwa Imam Shadiq telah memberikan kitab bernama Jafr yang mengandung seluruh ilmu kepada mereka, sehingga mereka mengetahui segala sesuatu karenanya.[15]
  2. Imam Shamit dan Nathiq: Khattabiyyah, berdasarkan Surah Al-Mu'minun Ayat 44, meyakini eksistensi dua imam di setiap zaman, yang satu nathiq (berbicara) dan yang lainnya shamit (diam); dengan aturan bahwa pada masa hidup Muhammad (saw), mereka menganggap Imam Ali (as) sebagai Imam Shamit dan Nabi sebagai Imam Nathiq, lalu setelah wafatnya Nabi, Ali menjadi Imam Nathiq.[16] Demikian pula imam-imam lainnya hingga masa Imam Shadiq (as), di mana mereka menganggap beliau sebagai Imam Nathiq dan Abu al-Khattab sebagai Imam Shamit, serta meyakini bahwa setelah Imam Shadiq (as), Abu al-Khattab adalah Imam Nathiq.[17]
  3. Pandangan Khattabiyyah terhadap Sahabat: Khattabiyyah menganggap Abu Bakar, Umar, Utsman, dan mayoritas sahabat sebagai kafir karena menghalangi imamah Imam Ali (as), dan menyebut sejumlah dari mereka seperti Mu'awiyah dan Amru bin Ash sebagai manifestasi dari beberapa istilah Qur'ani seperti khamr, maisir, jibt, dan taghut.[18]
  4. Hulul: Pendapat sekte ini mengenai Imamah, nubuwwah, dan uluhiyah para imam dan Abu al-Khattab, serta klaim Abu al-Khattab yang mengaku sebagai malaikat dan sebagai Jafar Shadiq serta dapat menjelma dalam bentuk apa pun yang ia kehendaki, menunjukkan keyakinan mereka pada hulul (inkarnasi tuhan).[19]
  5. Bada': Menurut penukilan Nawbakhti, meskipun Abu al-Khattab menjanjikan kemenangan dalam perang melawan Isa bin Musa, namun para pengikutnya terbunuh kecuali satu orang, dan ia sendiri pun tertangkap. Ia menjustifikasi kekalahan ini dengan menyandarkannya pada terjadinya Bada' dalam ilmu Ilahi.[20]
  6. Esoterisisme dan Takwil: Khattabiyyah menganggap kewajiban dan larangan bukanlah perbuatan tertentu, melainkan maksud darinya adalah manusia-manusia tertentu yang mana persahabatan harus diberikan kepada kelompok pertama (kewajiban) dan permusuhan kepada kelompok kedua (larangan).[21] Imam Shadiq (as) dalam sebuah surat kepada Abu al-Khattab menyatakan perkataan tersebut batil.[22] Menurut keyakinan mereka, apa yang Allah wajibkan kepada para hamba melalui Nabi-Nya memiliki aspek lahir dan batin. Ibadah yang terdapat dalam kitab dan Sunnah adalah lahiriah ibadah, sementara keselamatan dan kebahagiaan bergantung pada pengamalan batinnya.[23]

Cabang-cabang Khattabiyyah

Beberapa sumber menyebutkan cabang-cabang yang muncul dari Khattabiyyah sejak masa kematian Abu al-Khattab dan sebagian sejak masa ia dikucilkan oleh Imam Shadiq (as).[24] Maqrizi menghitung cabang-cabang yang muncul dari mereka hingga lima puluh sekte.[25]

  • Khattabiyyah Muthlaqah: Mereka tetap berpegang pada keyakinan semula setelah kematian Abu al-Khattab dan mengingkari adanya penerus bagi Abu al-Khattab.[26]
  • Mubarakiyyah: Sebagian kaum Khattabiyyah setelah Abu al-Khattab bergabung dengan Muhammad bin Ismail dan masuk ke dalam sekte Mubarakiyyah dari sekte-sekte Ismailiyah.[27]
  • Bazi'iyyah: Pengikut Bazi' atau Bazi' bin Musa yang meyakini bahwa Imam Shadiq (as) adalah tuhan yang telah mengutus Bazi' sebagai nabi sebagaimana Abu al-Khattab.[28]
  • Umariyyah atau Ujaliyyah: Pengikut Umair bin Bayan al-'Ujali, yang seperti halnya Bazi'iyyah menganggap Imam Shadiq (as) sebagai tuhan dan menyembah beliau.[29]
  • Pengikut Sari Aqsham: Pengikut Sari Aqsham yang meyakini bahwa Imam Shadiq (as) telah mengutusnya sebagai rasul yang kuat dan terpercaya.[30] Ia berkali-kali menjadi sasaran laknat Imam Shadiq (as).[31]
  • Ma'mariyyah: Pengikut Ma'mar bin Ahmar yang meyakini hulul, reinkarnasi, surga duniawi, dan lain-lain.[32] Nama lain sekte ini adalah Ya'mumiyyah.[33]
  • Mufadhdhaliyyah: Pengikut Mufadhdhal bin Umar al-Ju'fi yang berlepas diri dari Abu al-Khattab demi mengikuti Imam Shadiq (as).[34] Riwayat-riwayat mengenai dukungan dan pengafiran Mufadhdhal beragam.[35]
  • Gharabiyyah: Pendiri sekte ini tidak diketahui. Mereka meyakini bahwa karena kemiripan yang sangat besar antara Ali dengan Nabi saw, maka Jibril salah dalam menyampaikan risalah Ilahi kepada Nabi Muhammad (saw). Oleh karena itu, mereka melaknat Jibril serta menganggap Ali dan anak-anaknya sebagai nabi.[36]
  • Mukhammisa: Sebagian dari pengikut Abu al-Khattab bernama Mukhammisa. Asy'ari dalam kitabnya menjelaskan tentang mereka dan keyakinannya secara mendalam.[37]

Catatan Kaki

  1. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 15.
  2. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 418; Qadhi Nu'man, Da'aim al-Islam, 1963 M, jld. 1, hlm. 49; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 66, hlm. 219-220.
  3. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 66, hlm. 219-220.
  4. Asy'ari, Kitab al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 51.
  5. Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo, hlm. 247.
  6. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 270; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 67.
  7. Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo, hlm. 247.
  8. Nawbakhti, Firaq al-Syiah, 1963 M, hlm. 70.
  9. Nawbakhti, Firaq al-Syiah, 1963 M, hlm. 70-71.
  10. Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, 1367 HS, jld. 1, hlm. 300.
  11. Syeikh Thusi, al-Istibshar, 1390 HS, jld. 2, hlm. 138.
  12. Asy'ari, Kitab Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, 1361 HS, hlm. 10-11; Himyari, al-Hur al-'In, 1972 M, hlm. 166.
  13. Asy'ari, Kitab Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, 1361 HS, hlm. 10.
  14. Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo, hlm. 247; Razi, Tabshirah al-'Awam, 1364 HS, hlm. 170-171.
  15. Maqrizi, Kitab al-Mawa'izh, 1970 M, jld. 2, hlm. 352.
  16. Asy'ari, Kitab al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 51.
  17. Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo, hlm. 248.
  18. Malthi Syafi'i, at-Tanbih wa al-Radd 'ala Ahl al-Ahwa' wa al-Bida', 1369 H, hlm. 154; Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo, hlm. 250; Maqrizi, Kitab al-Mawa'izh, Kairo, jld. 2, hlm. 352.
  19. Asy'ari, Kitab al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 51.
  20. Nawbakhti, Firaq al-Syiah, 1963 M, hlm. 70.
  21. Asy'ari, Kitab al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 51-52.
  22. Kasy-syi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1404 H, hlm. 291.
  23. Nawbakhti, Firaq al-Syiah, 1963 M, hlm. 57.
  24. Nawbakhti, Firaq al-Syiah, 1963 M, hlm. 71; Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo, hlm. 248.
  25. Maqrizi, Kitab al-Mawa'izh, 1970 M, jld. 2, hlm. 352.
  26. Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo, hlm. 250.
  27. Himyari, al-Hur al-'In, 1972 M, hlm. 168.
  28. Kasy-syi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1404 H, hlm. 304-305; Asy'ari, Kitab Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, 1400 H, hlm. 12; Asy'ari, Kitab al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 52.
  29. Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo, hlm. 249; Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, 1367 HS, jld. 1, hlm. 302; Himyari, al-Hur al-'In, 1972 M, hlm. 167.
  30. Asy'ari, Kitab al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 52; Nawbakhti, Firaq al-Syiah, 1963 M, hlm. 43-44.
  31. Kasy-syi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1404 H, hlm. 304-305.
  32. Asy'ari, Kitab al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 53; Asy'ari, Kitab Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, 1400 H, hlm. 11; Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo, hlm. 248; Himyari, al-Hur al-'In, 1972 M, hlm. 167; Nawbakhti, Firaq al-Syiah, 1963 M, hlm. 44.
  33. Asy'ari, Kitab Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, 1400 H, hlm. 11.
  34. Lih: Ali bin Isma'il al-Asy'ari, Kitab Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, hlm. 13; Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, hlm. 249-250.
  35. Kasy-syi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1404 H, hlm. 321-329.
  36. Ibnu Hazm, al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa' wa al-Nihal, 1403 H, jld. 4, hlm. 183; Himyari, al-Hur al-'In, 1972 M, hlm. 155; Razi, Tabshirah al-'Awam, 1364 HS, hlm. 171.
  37. Asy'ari, Kitab al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 56-59.

Daftar Pustaka

  • Al-Asy'ari, Ali bin Isma'il. Kitab Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. Cetakan Helmut Ritter. Wiesbaden, 1400 H.
  • Al-Asy'ari, Sa'd bin Abdullah. Kitab al-Maqalat wa al-Firaq. Tehran, cetakan Mohammad Javad Mashkour, 1361 HS.
  • Al-Baghdadi, Abd al-Qahir bin Tahir. al-Farq bain al-Firaq. Kairo, cetakan Muhammad Muhiyuddin Abdul Hamid, tanpa tahun.
  • Al-Himyari, Nashwan bin Sa'id. al-Hur al-'In. Cetakan Kamal Mushthafa. Tehran, cetakan offset, 1972 M.
  • Al-Kasy-syi, Muhammad bin Umar. Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal (dikenal sebagai Rijal al-Kasy-syi). Koreksi: Muhammad Baqir bin Muhammad Mirdamad. Qom, Muassasah Al al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1404 H.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Koreksi: Ali-Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Al-Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-A'immah al-Athar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Al-Nawbakhti, Hasan bin Musa. Firaq al-Syiah. Najaf, cetakan Muhammad Shadiq Al Bahrul Ulum, 1963 M.
  • Al-Razi, Sayid Murtadha bin Da'i Hasani. Tabshirah al-'Awam fi Ma'rifah Maqalat al-Anam. Cetakan Abbas Iqbal Ashtiani. Tehran, Asathir, 1364 HS.
  • Al-Syahrastani, Muhammad bin Abd al-Karim. al-Milal wa al-Nihal. Cetakan Ahmad Fahmi Muhammad. Kairo, 1367-1368 HS.
  • Ibnu Hazm. al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa' wa al-Nihal. Beirut, tanpa penerbit, 1403 H.
  • Malthi Syafi'i, Muhammad bin Ahmad. at-Tanbih wa al-Radd 'ala Ahl al-Ahwa' wa al-Bida'. Kairo, cetakan Muhammad Zahid Kautsari, 1369 H.
  • Maqdisi, Mutahhar bin Tahir. Kitab al-Bad' wa al-Tarikh. Paris, cetakan Clément Huart, 1899-1919 M.
  • Maqrizi, Ahmad bin Ali. Kitab al-Mawa'izh wa al-I'tibar bi Dzikr al-Khithath wa al-Atsar (dikenal sebagai al-Khithath al-Maqriziyah). Bagdad, tanpa penerbit, 1970 M.
  • Qadhi Nu'man, Nu'man bin Muhammad. Da'aim al-Islam wa Dzikr al-Halal wa al-Haram wa al-Qadhaya wa al-Ahkam. Cetakan Asaf bin Ali Asghar Faidzi. Kairo, 1963-1965 M.
  • Syeikh Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Istibshar. Tehran, cetakan Hasan Musawi Khorasan, 1390 HS.
  • EL2, "Khattabiyya" (oleh W. Madelung).

Templat:Firqah-firqah Syiah