Lompat ke isi

Konsep:Isfahan

Dari wikishia
Isfahan
Alun-alun dan Masjid Imam (Isfahan)
Alun-alun dan Masjid Imam (Isfahan)
NegaraIran
ProvinsiIsfahan
BahasaPersia
Agama-agamaIslam
MazhabSyiah
Sejarah IslamAbad ke-1/ke-7
Sejarah SyiahAbad ke-3/ke-9
PemakamanTakht-e Foulad
Hauzah ilmiahHawzah Ilmiah IsfahanMadrasah ChaharbaghMadrasah Jaddah Bozorg
Masjid-masjidMasjid Syekh LuthfullahMasjid Jami IsfahanMasjid Imam Isfahan



Isfahan adalah sebuah kota besar di pusat Iran dengan latar belakang sejarah dan peradaban yang kuat dalam Islam dan Tasyayyu'. Status Isfahan sebagai ibu kota pada era Safawiyah menyebabkan berkumpulnya para ulama Syiah dan terbentuknya Hawzah Ilmiah Isfahan di sana. Selain itu, berbagai bangunan keagamaan termasuk masjid-masjid dan madrasah-madrasah ilmiah dibangun di kota ini. Ulama terkemuka seperti Majlisi Senior dan Allamah al-Majlisi, Syekh Bahai, Sayid Hasan Mudarris, dan Sayid Husain Burujirdi pernah menetap di sini. Hawzah ilmiahnya hingga kini tetap menjadi salah satu pusat studi agama utama di Iran yang saat ini dipimpin oleh Hossein Mazaheri, salah satu Marja' Taklid Syiah.

Setelah penaklukan oleh Muslim, setidaknya hingga abad ke-4/ke-10, Isfahan dikenal sebagai pusat Ahlusunah bahkan cenderung Nashibi. Namun, setelah kemunculan Bani Buyid pada paruh pertama abad ke-4/ke-10, secara bertahap kota ini berubah menjadi kota Syiah seiring dengan migrasi para Sadaat dan penganut Syiah. Pada abad ke-8/ke-14 dan ke-9/ke-15, mulai tercipta semacam kesepahaman antara penganut Ahlusunah dan Syiah di Isfahan.

Dengan berdirinya kerajaan Safawiyah pada tahun 907/1501-02, Tasyayyu' menjadi mazhab resmi Iran, dan Syah Abbas I memindahkan ibu kota dari Qazvin ke Isfahan pada tahun 1006/1597-98. Hawzah ilmiah Syiah di Isfahan terbentuk pada paruh kedua abad ke-10/ke-16 dengan dukungan para ulama seperti Muhaqqiq al-Karaki yang datang dari wilayah Jabal Amil di Lebanon saat ini. Kedatangan mereka mengubah kota ini menjadi pusat ilmu pengetahuan dan seni keagamaan Syiah. Banyak masjid dan madrasah ilmiah terkenal Isfahan dibangun pada periode ini, termasuk Masjid Syekh Luthfullah dan Masjid Hakim.

Isfahan telah menjadi salah satu pusat utama Hawzah Ilmiah Syiah di Iran; sedemikian hingga dikatakan bahwa pada abad ke-11/ke-17, terkadang terdapat 60 Mujtahid Jami' al-Syara'ith yang hadir dalam satu majelis. Dari kota inilah muncul Mazhab Filsafat Isfahan yang dikenal melalui Mir Damad dan murid-muridnya. Kitab-kitab penting seperti Bihar al-Anwar karya Muhammad Baqir al-Majlisi dan Qabasat karya Mir Damad ditulis di Isfahan. Para ulama Isfahan juga menjadi pelopor penulisan karya-karya Syiah dalam bahasa Persia. Isfahan juga pernah menjadi pangkalan utama aliran Akhbariyah, di mana ulama seperti Muhammad Taqi al-Majlisi, Faidh Kasyani, dan Fadhil al-Tuni memiliki kecenderungan Akhbari.

Para ulama Syiah Isfahan selalu memainkan peran dalam peristiwa politik dan keagamaan penting, seperti Gerakan Tembakau pada masa Nashiruddin Syah Qajar, mempromosikan penggunaan produk lokal Iran pada periode pra-Konstitusi, peran dalam Gerakan Konstitusi Iran, gerakan nasionalisasi industri minyak, serta kehadiran serius dalam arus Revolusi Islam 1979.

Banyak bangunan keagamaan Syiah yang didirikan di berbagai periode di Isfahan, termasuk setidaknya 25 makam Imamzadeh, 800 Masjid, lebih dari 185 madrasah ilmiah, serta khanaqah-khanaqah dan tekiyeh kaum Sufi. Selain itu, Takht-e Foulad merupakan salah satu pemakaman paling terkenal dan terbesar di Dunia Islam yang terletak di Isfahan, di mana terdapat makam yang dinisbatkan kepada Nabi Yusya' as serta banyak tekiyeh dan kubah (buq'ah) yang dibangun di sana.

Posisi dan Urgensi

Isfahan adalah sebuah kota di wilayah pusat Iran yang memiliki latar belakang sejarah dan peradaban dalam Islam, khususnya Tasyayyu'. Kota ini merupakan salah satu ibu kota Safawiyah yang menjadikan Tasyayyu' sebagai mazhab resmi Iran. Sentralitas ini menyebabkan konsentrasi para ulama Syiah dan terbentuknya hawzah ilmiah, pembangunan gedung-gedung keagamaan, serta masjid-masjid monumental yang membentuk peradaban dan budaya Safawi.

Ulama besar seperti Majlisi Senior dan Majlisi Junior, Syekh Bahai, Mulla Sadra, Jahangir Khan Qashqai, serta Rahim Arbab pernah hidup di Isfahan. Isfahan merupakan pusat bagi salah satu kecenderungan hadis dan fikih Syiah yang disebut Akhbariyah. Kitab-kitab yang sangat berpengaruh seperti Bihar al-Anwar disusun di Isfahan. Hawzah Ilmiah Isfahan adalah salah satu dari tiga hawzah ilmiah pusat di Iran.

Takht-e Foulad Isfahan adalah salah satu pemakaman tertua dan terbesar di dunia Islam tempat banyak tokoh ternama dimakamkan. Masjid Imam, Masjid Syekh Luthfullah, Madrasah Chaharbagh, dan Madrasah Sadr merupakan karya arsitektur Syiah yang terkenal di Isfahan. Ulama Isfahan hadir secara aktif dalam Revolusi Konstitusi Iran. Dalam peristiwa-peristiwa yang berujung pada kemenangan Revolusi Islam tahun 1979, masyarakat dan hawzah ilmiah Isfahan termasuk di antara kota-kota yang sangat berpengaruh.

Masuknya Islam; dari Isfahan Sunni menuju Isfahan Syiah

Sejarah Isfahan pra-Islam diliputi ketidakjelasan dan bercampur dengan mitos serta riwayat legenda-sejarah, sehingga pendiri aslinya tidak diketahui secara pasti.[1] Diduga kota ini telah berpenghuni sejak tiga ribu tahun sebelum Masehi,[2] namun dikatakan bahwa hingga abad-abad awal periode Islam—bahkan menurut Lockhart, sejarawan Inggris—tidak ada kota tunggal yang terpadu bernama Isfahan hingga abad ke-4/ke-10.[3] Sebelum Isfahan mengemuka, kota Jay adalah kota utama di wilayah Isfahan, sebagaimana Al-Biruni juga menganggap Jay sebagai salah satu kota di Isfahan.[4]

Masuknya Islam ke Isfahan

Wilayah Isfahan saat ini ditaklukkan oleh kaum Muslim Arab pada sekitar tahun 20/640-41 di masa Khalifah Kedua, dan beberapa kabilah Arab mulai menetap di sana.[5]

Pada masa pemerintahan Imam Ali as, Yazid bin Qais al-Arhabi dan Mikhnaf bin Sulaim al-Azdi menjabat sebagai gubernur di kota tersebut.[6] Kaum Abdul Qais yang dikenal dalam sejarah sebagai "Abdi", merupakan kabilah dari Madain yang memiliki kecintaan mendalam pada Tasyayyu' dan menyertai Imam Ali as dalam Perang Jamal. Kaum Abdul Qais menjadikan Madain sebagai salah satu kota Syiah tertua, dan kemudian sekelompok dari mereka pindah ke Isfahan dan Qazvin.[7]

Setelah era Imam Ali as, Bani Umayyah menguasai wilayah-wilayah Islam. Pada periode ini, Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi menempatkan sekelompok orang Kurdi untuk menguasai Isfahan yang sering menindas kaum Syiah.[8]

Kondisi Tasyayyu' dan Kaum Syiah hingga Sebelum Era Bani Buyid

Selama berabad-abad setelah dikuasai Muslim di masa Khalifah Kedua, Isfahan dikenal sangat fanatik terhadap Sunnisme dan bahkan Nashibi-isme.[9] Abubakar al-Khwarizmi pada abad ke-4/ke-10 menyebut Isfahan masyhur dengan Nashibi-isme.[10] Gerakan Syiah tertua di Isfahan berkaitan dengan akhir era Umayyah; Abdullah bin Mu'awiyah, keturunan Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib yang bangkit dari Kufah, menjadikan Isfahan sebagai pusat kegiatannya untuk beberapa waktu.[11]

Adanya makam beberapa imamzadeh dan keberadaan kuburan mereka,[12] serta asal-usul Isfahan dari beberapa sahabat Imam Syiah, menunjukkan kehadiran kaum Syiah pada akhir abad ke-2/ke-8 dan abad ke-3/ke-9 di kota ini.[13] Ibrahim bin Qutaibah, Sari bin Salamah dari sahabat Imam Hadi as, Abdurrahman al-Isfahani, Ali bin Muhammad bin Syirah, dan Abdullah bin Muhammad bin Isfahani adalah di antara sahabat para Imam asal Isfahan.[14] Begitu pula Ahmad bin Alawiyah yang dikenal sebagai Abu al-Aswad al-Katib yang banyak menukil riwayat,[15] serta Abul Faraj al-Isfahani (wafat 369/979-80) yang menulis kitab tentang keutamaan Amirul Mukminin dan berpaham Syiah Zaidiyah, keduanya berasal dari Isfahan.[16]

Penganut Sunni yang mencintai Ahlulbait berperan dalam memoderasi Sunnisme ekstrem di Isfahan.[17] Kehadiran Ibrahim bin Muhammad al-Tsaqafi al-Kufi (wafat 283/896-97), penulis kitab Al-Gharat, dan ilmuwan asal Irak lainnya di Isfahan untuk melawan pandangan Utsmani dan anti-Ahlulbait di kota ini, sangat penting dalam penyebaran mazhab Syiah.[18] Penulis artikel "Muhadditsan-e Isfahani dar Kutub-e Imamiyah" menyebutkan 54 Perawi Hadis hingga akhir abad ke-4/ke-10 yang lahir atau tinggal di Isfahan.[19]

Isfahan pada Era Bani Buyid

Bani Buyid yang merupakan penguasa Syiah, menaklukkan Isfahan sebelum tahun 334/945-46.[20] Pada era Bani Buyid, suasana menjadi kondusif bagi migrasi para Sadaat dan kaum Syiah ke Isfahan.[21] Faktor utama meluasnya kecintaan pada Ahlulbait dan kecenderungan Syiah di Isfahan serta wilayah pusat Iran pada periode ini dianggap karena peran Shahib bin 'Abbad, menteri berpengaruh Bani Buyid.[22] Ia memiliki banyak syair yang menyebarkan keutamaan Ahlulbait.[23]

Kehadiran sejumlah besar Sadaat di Isfahan dipandang sebagai salah satu faktor berkurangnya fanatisme Sunni dan meluasnya kecintaan kepada Ahlulbait.[24] Dalam kitab Muntaqilah al-Thalibiyah terdapat daftar 33 orang Sadaat yang bermigrasi ke Isfahan.[25] Menurut Jafarian, kitab ini yang ditulis pada abad ke-5/ke-11 hanya mencantumkan nama-nama Sadaat yang masyhur, bukan seluruhnya.[26]

Meskipun kecenderungan Hambali yang keras sempat marak di Isfahan, secara bertahap muncul para perawi dan ahli hadis yang tertarik menukil riwayat tentang keutamaan Ahlulbait as.[27] Rasul Jafarian menunjuk tiga nukilan sejarah dari abad ke-4/ke-10 yang menunjukkan kehadiran beberapa pecinta Ahlulbait serta ulama Syiah di Isfahan.[28] Kisah-kisah ini dinukil dari Raghib al-Isfahani, Damiri, dan Abu Nu'aim al-Isfahani. Abu Nu'aim dalam kitabnya "Akhbar Isfahan" memuat laporan diskusi Abdullah bin Muhammad al-Kinani (Syiah) dengan ulama Sunni kota tersebut.[29] Abu Mas'ud al-Razi yang merupakan seorang Sunni namun anti-ekstremisme, melakukan upaya besar agar permusuhan terhadap Ahlulbait di Isfahan sirna.[30]

Dari Bani Buyid hingga Serangan Mongol

Setelah era Bani Buyid, Bani Kakuyah menguasai wilayah pusat Iran yang mereka juga berpaham Syiah.[31] Mereka memerintah Isfahan dari akhir abad ke-4/ke-10 hingga tahun 443/1051-52 ketika ditumbangkan oleh Tughril Seljuk.[32]

Pada abad ke-6/ke-12, Isfahan masih menjadi basis bagi penentang Syiah, sementara kaum Syiah merupakan minoritas yang aktif.[33] Menurut laporan Jafarian, Muntajabuddin al-Razi dalam kitab Fihrist-nya menyebutkan nama beberapa ulama Syiah asal Isfahan yang hidup pada abad ke-6/ke-12.[34] Meskipun demikian, penulis kitab Al-Naqd pada abad ke-6/ke-12 mencatat bahwa ulama Syafi'i Isfahan seperti Bumanshur Masyaadzah (wafat 536/1141-42) menyelenggarakan acara duka pada Hari Asyura.[35]

Ulama Syiah juga tercatat ada di kota ini pada abad ke-7/ke-13.[36] Sebelum serangan Mongol dan di awal abad ke-7/ke-13, Abul Sa'adat al-Isfahani diingat sebagai salah satu ulama Syiah di Isfahan.

Dari Serangan Mongol hingga Munculnya Safawiyah

Isfahan jatuh ke tangan Mongol pada tahun 633/1235-36 dan setelah beberapa waktu berada di bawah kekuasaan Ilkhanat. Di Isfahan periode Ilkhani (abad ke-7/ke-13 dan ke-8/ke-14), minoritas aktif mempromosikan ajaran Syiah.[37] Gubernur Isfahan pada periode ini adalah Bahauddin Muhammad Juwayni yang memiliki kecenderungan Syiah.[38] Ia mendukung Imaduddin al-Thabari, ulama Syiah, dan mengundangnya dari Qom ke Isfahan.[39] Imaduddin al-Thabari menulis banyak buku untuk menyebarkan Tasyayyu' di Isfahan, termasuk kitab Kamil-e Baha'i yang ia persembahkan atas nama Bahauddin.[40] Namun pada abad ke-8/ke-14, saat Uljaitu menyatakan penerimaan mazhab Syiah dan mencetak koin Syiah, penduduk Isfahan dan beberapa kota Sunni lainnya di Iran menentangnya hingga berujung pada tindakan hukuman terhadap mereka.[41]

Pada abad ke-8/ke-14 dan ke-9/ke-15, nampak adanya kesepahaman antara Sunni dan Syiah di Isfahan yang oleh Rasul Jafarian disebut dengan fenomena Sunni Dua Belas Imam.[42] Kesepahaman ini terlihat pada prasasti-prasasti periode tersebut di mana nama Dua Belas Imam dicantumkan berdampingan dengan Tiga Khalifah; seperti pada Buq'ah Baba Qasim dan prasasti di mihrab Uljaitu di Masjid Jami Isfahan. Contoh lainnya adalah Buq'ah Pir Bakran yang berjarak 30 km dari Isfahan yang juga mencantumkan nama 12 Imam.[43] Sebagian bangunan ini dibangun oleh penguasa Dinasti Muzaffariyah yang meskipun mereka berpaham Sunni Syafi'i, namun mereka menghormati tokoh-tokoh Syiah dan menjaga kedudukan para Sadaat.[44]

Pada abad ke-9/ke-15 di masa Qara Qoyunlu, bangunan bersejarah Darb-e Imam (857/1453) dibangun di Isfahan.[45] Pembangunan makam dua imamzadeh di kompleks Darb-e Isfahan atas perintah gubernur Isfahan pada periode ini bisa menjadi bukti kecenderungan Syiah sang penguasa.[46] Juga di masa Aq Qoyunlu, gerbang Zawiyah Darb-e Kousyk Isfahan dibangun yang berisi syiar-syiar Syiah termasuk Hadis Ana Madinatul Ilmi wa Aliyyun Babuha dan syair tentang kewajiban mencintai Imam Ali as.[47]

Keluarga Syiah penting seperti Al-e Turkah hadir di Isfahan pada abad ke-9/ke-15.[48] Karya-karya Allamah al-Hilli seperti Irsyad al-Adzhan dan Qawa'id al-Ahkam juga disalin di kota ini, menunjukkan suasana yang sangat siap untuk menyambut era Safawiyah.[49]

Safawiyah dan Transformasi Isfahan Menjadi Ibu Kota Tasyayyu'

Dinasti Safawiyah meraih kekuasaan di Iran pada tahun 907/1501-02 dan dengan pembacaan khotbah atas nama para Imam Syiah di Tabriz, Tasyayyu' resmi menjadi mazhab negara.[50] Saat Syah Ismail I memasuki Isfahan, pengaruh Sunnisme di wilayah ini benar-benar sirna.[51] Berkat perubahan selama dua-tiga abad sebelumnya, Isfahan siap menerima Tasyayyu' dan tidak tercatat adanya perlawanan terhadap Safawiyah di sana.[52] Syah Abbas I memindahkan ibu kota dari Qazvin ke Isfahan pada 1006/1597-98.[53] Jean Chardin, penjelajah asal Prancis yang mengunjungi Isfahan pada paruh kedua abad ke-11/ke-17, mendeskripsikan kota ini sebagai salah satu kota terbesar di dunia.[54]

Pembentukan Hawzah Ilmiah Syiah

Templat:Utama Pembentukan resmi Hawzah Ilmiah Syiah di Isfahan terjadi pada paruh kedua abad ke-10/ke-16 setelah Tasyayyu' diresmikan di Iran.[55] Dasar hawzah ini diletakkan oleh ulama Syiah yang bermigrasi dari Jabal Amil ke Iran dan Isfahan.[56] Ali bin Hilal Minyar al-Karaki, Husain bin Abdussamad al-Haritsi, dan Syekh Bahai membuka kelas-kelas pengajaran di Isfahan.[57] Pada periode ini, 58 madrasah ilmiah dibangun di Isfahan.[58] Pesatnya perkembangan ilmu agama sedemikian rupa sehingga dikatakan bahwa pada masa Safawiyah, sentralitas seluruh ilmu dan seni keagamaan Syiah berada di Isfahan.[59]

Penyelenggaraan Salat Jumat

Sejak paruh pertama abad ke-11/ke-17, penyelenggaraan Salat Jumat di Isfahan mulai dilakukan secara rutin dan Muhammad Taqi al-Majlisi (wafat 1070/1659-60) secara tetap mengimaminya.[60] Jabatan imam jumat Isfahan setelah beliau tetap dipegang oleh Keluarga Majlisi. Sebelum itu, Mir Damad dan Syekh Bahai menjalankan tugas ini. Berdasarkan tulisan Majlisi Senior, salat jumat Syiah pertama di Isfahan diimami oleh Muhaqqiq al-Karaki (wafat 940/1533-34).[61]

Pada masa Safawiyah, jabatan imam jumat di kota-kota penting biasanya dipegang oleh Syekhul Islam kota tersebut, yang dalam banyak kasus ditetapkan atas konsultasi atau pengangkatan dari Syekhul Islam Isfahan.[62]

Muslihuddin Mahdavi mencatat nama 22 imam jumat Isfahan sejak awal penyelenggaraannya hingga tahun 1395/1975.[63] Sejak tahun 1351/1972-73, Sayid Jalaluddin Taheri Isfahani mengimami salat jumat di Masjid A'zham Hoseinabad Isfahan. Jabatan ini juga ia pegang pada masa Republik Islam Iran berdasarkan mandat dari Imam Khomeini. Setelah beliau, sejak tahun 1381/2002-03, Sayid Yusuf Thabathaba'i Ardistani diangkat memegang jabatan ini.

Pembangunan Bangunan Keagamaan Syiah

Sangat banyak masjid terkenal di Isfahan dibangun pada masa Safawiyah (lebih dari 160 masjid)[64] dan setelahnya. Pada periode ini, bagian-bagian baru ditambahkan pada Masjid Jami Isfahan yang sudah ada sebelumnya. Masjid Imam dibangun atas perintah Syah Abbas. Masjid Syekh Luthfullah juga dibangun pada masa Syah Abbas I dengan tujuan menghormati kedudukan Syekh Luthfullah Maisi. Masjid Hakim juga merupakan peninggalan era Safawiyah.

Madrasah ilmiah Isfahan yang kebanyakan dibangun pada era Safawiyah sangatlah banyak. Dalam kitab Risyeh-ha wa Jelveh-ha-ye Tasyayyu' disebutkan lebih dari 70 madrasah era Safawiyah yang kemudian hancur, namun 24 madrasah dari zaman tersebut masih tetap berdiri hingga kini.[65]

Penurunan Kondisi Isfahan Pasca Safawiyah

Pada tahun 1134/1721-22, Syah Sultan Husain Safawi dikalahkan oleh pasukan Afganistan dan Isfahan jatuh.[66] Pada 1142/1729-30, Nadir Syah Afsyar menguasai Iran, memindahkan ibu kota ke Masyhad, serta memberlakukan pajak yang sangat berat bagi Isfahan sehingga kota ini menderita kerugian besar.[67]

Pada era Qajar, Isfahan semakin hancur akibat kelaparan yang terus menerus; sedemikian hingga populasi kota saat itu diperkirakan hanya 80 ribu jiwa, yang dianggap jumlah terendah sejak pembentukan Isfahan.[68] Posisi komersial Isfahan juga hilang dan digantikan oleh Tabriz.[69]

Menurut laporan awal abad ke-14/ke-20, Isfahan memiliki 169 masjid, padahal menurut penulis buku Nishf-e Jahan, pada periode Qajar terdapat 400 masjid dari berbagai periode di kota ini.[70]

Gerakan Politik dan Keagamaan Syiah di Isfahan

Kehadiran ulama Syiah dan masyarakat religius Isfahan dalam kegiatan politik dan sosial menunjukkan bahwa arus sosial-politik di Isfahan berakar pada agama.[71] Beberapa kegiatan tersebut antara lain:

Isfahan dan Gerakan Tembakau

Gerakan Tembakau tahun 1308-1309/1890-1892 merupakan protes nasional melawan kontrak Reuter. Di Isfahan, protes dimulai bahkan sebelum fatwa Mirza al-Syirazi keluar.[72] Syekh Muhammad Najafi dan Haji Aqa Nurullah telah mengharamkan penggunaan tembakau. Masyarakat berkumpul mendukung fatwa ini di Masjid Mushalla Takht-e Foulad dan salah satu pedagang terkemuka Isfahan membakar seluruh stok tembakaunya.[73]

Ulama Isfahan dan Promosi Produk Lokal

Tahun-tahun sebelum revolusi Konstitusi, seiring meluasnya impor barang asing, sekelompok ulama Isfahan dipimpin Aqa Najafi Isfahani dan Syekh Muhammad Ali Tsiqatul Islam mengeluarkan pernyataan tidak akan menggunakan barang impor seperti kertas dan kain asing. Mereka mendorong pedagang lokal mendirikan perusahaan domestik. Perusahaan yang paling terkenal adalah Syerkat Sahami Islamiyah.[74]

Isfahan dan Revolusi Konstitusi

Dalam Revolusi Konstitusi Iran, tujuh ulama tingkat pertama Isfahan mengeluarkan fatwa dukungan. Tokoh yang paling menonjol adalah Nurullah Najafi Isfahani. Rumahnya kini menjadi museum "Rumah Konstitusi Isfahan". Kehadiran serius ulama memicu terbentuknya berbagai perserikatan seperti Uni Ulama A'lam, Uni Pelajar, dan Uni Sadaat.[75]

Isfahan dan Gerakan Nasionalisasi Minyak

Dalam Gerakan Nasionalisasi Minyak, sekelompok rohaniwan Isfahan aktif mengajak masyarakat mendukung Kasyani dan Mosaddegh. Ulama Hawzah Isfahan membentuk kelompok "Heiyat Ilmiyah Isfahan" yang dipimpin Sayid Hasan Chaharsuqi untuk mendukung gerakan tersebut melalui fatwa dan penggalangan massa.[76]

Isfahan dan Revolusi Islam Iran

Dalam kemenangan Revolusi Islam 1979, tokoh-tokoh seperti Sayid Husain Khademi, Sayid Jalaluddin Taheri Isfahani, Sayid Muhammad Ali Sadeqi, Hasan Safi Isfahani, Ali Akbar Parvaresh, dan Ahmad Salek memainkan peran penting. Setelah wafatnya Ayatullah Burujirdi, ulama Isfahan mengenalkan Imam Khomeini sebagai marja'. Isfahan menjadi kota pertama yang memberlakukan hukum militer (jam malam) pada Agustus 1978 sebagai reaksi atas protes keras masyarakat.[77] Menurut laporan Yayasan Syahid, sebanyak 76 orang gugur di Isfahan dalam perjuangan melawan rezim Pahlavi hingga Februari 1979.

Bangunan Keagamaan Syiah Isfahan

Bangunan keagamaan Isfahan kebanyakan dibangun setelah kota ini menjadi ibu kota Iran yang beraliran Syiah.

Imamzadeh dan Tempat Ziarah Isfahan

Nama lebih dari 25 Imamzadeh yang dimakamkan di Isfahan dikumpulkan dalam kitab Tarikh-e Tasyayyu'-e Isfahan. Beberapa di antaranya:

  • Imamzadeh Ahmad, di wilayah Hasanabad yang menurut sebagian adalah makam Ahmad bin Isa bin Zaid.
  • Imamzadeh Ismail, yang makamnya diyakini milik Ismail bin Hasan bin Zaid, keturunan Imam Hasan al-Mujtaba as.[78]

Selain Imamzadeh, beberapa kubah di Takht-e Foulad serta tempat pemakaman Majlisi Senior dan Junior yang dikenal sebagai "Sar-e Qabr-e Akhund" di samping Masjid Jami Atiq menjadi tempat ziarah utama masyarakat.[79]

Masjid-masjid

Pada tahun 1391 HS, terdapat 873 masjid di Isfahan. Selain Masjid Imam dan Masjid Syekh Luthfullah, masjid terkenal lainnya meliputi Masjid Aligholi Agha, Masjid Ilchi, Masjid Agha Nur, Masjid Rokn al-Molk, dan Masjid Sa'id bin Jubair.

Hawzah Ilmiah dan Madrasah Agama

Templat:Utama Muslihuddin Mahdavi mencatat 185 madrasah ilmiah di Isfahan. Di antara yang masyhur:

  1. Madrasah Zulfiqar (950/1543-44)
  2. Madrasah Jaddah Bozorg (1050/1640-41)
  3. Madrasah Chaharbagh (1116/1704-05)
  4. Madrasah Sadr Bazar (Periode Qajar)
  5. Madrasah Darul Hikmah (1367/1988-89).

Sejak pertengahan 1370-an/1990-an, madrasah-madrasah ini berada di bawah pengawasan Pusat Manajemen Hawzah Ilmiah Isfahan.

Takht-e Foulad

Templat:Utama Takht-e Foulad adalah salah satu pemakaman terbesar dunia Islam (75 hektar). Terdapat makam dinisbatkan kepada Nabi Yusya' as. Makam tertua kedua setelah Yusya' as adalah milik Baba Foulad (abad ke-5/ke-11). Tempat ini pernah menjadi lokasi riyadhah kaum sufi (memiliki hingga 400 tekiyeh). Tokoh terkemuka yang dimakamkan di sini termasuk Jahangir Khan Qashqai, Aqa Hossein Khonsari, dan Nona Nusrat Amin.[80]

Hawzah Ilmiah dan Ilmu Agama

Mazhab Filsafat Isfahan

Templat:Utama Judul ini digunakan untuk Mir Damad dan murid-muridnya. Allamah Asytiani menyebut periode ini sebagai era filsafat paling produktif di Iran secara kuantitas dan kualitas. Tokoh kuncinya: Mir Damad, Mulla Sadra, Mir Findiriski, dan Syekh Bahai. Karakteristik utamanya adalah harmonisasi antara prinsip filsafat dan ajaran Syiah, dengan Hikmah Muta'aliyah Mulla Sadra sebagai produk terbesarnya.[81]

Ilmuwan Agama Terkenal

Isfahan memiliki banyak dinasti keilmuan seperti Keluarga Rowdhati, Keluarga Majlisi, Keluarga Kalbasi, dan Keluarga Khatunabadi. Ulama masyhur lainnya: Aqa Jamal Khonsari, Sayid Muhammad Baqir Derchei, Sayid Muhammad Baqir Syafti, Mulla Shalih Mazandarani, Fadhil Hindi, dan Muhammad Taqi Razi Isfahani.

Kitab dan Karya Ilmiah

Karya monumental dari Isfahan antara lain:

Catatan Kaki

  1. Sa'idi, "Isfahan", hlm. 162 dan 169.
  2. Keyhan, Jughrafiya-ye Mufashshal-e Iran, 1310-1311 HS, jld. 2, hlm. 413.
  3. Lockhart, Inqiradh-e Silsileh-ye Safaviyeh, 1343 HS, hlm. 19.
  4. Al-Biruni, Atsar al-Baqiyah, 1386 HS, hlm. 35.
  5. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 193.
  6. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 193.
  7. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 120.
  8. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 128.
  9. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 18.
  10. Jafarian, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1378 HS, hlm. 256.
  11. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 19.
  12. Jafarian, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1378 HS, hlm. 262.
  13. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 195.
  14. Quraisyi Karin, Ash-hab-e Isfahani-ye Aimmah-ye Athar, 1390 HS, hlm. 214-217.
  15. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 22-23.
  16. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 23.
  17. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 195.
  18. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 22.
  19. Baqeri Siyani, "Muhadditsan-e Isfahani dar Kutub-e Imamiyah", hlm. 52-53.
  20. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 227.
  21. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 195.
  22. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 20.
  23. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 195.
  24. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 21-22.
  25. Ibnu Thabathaba, Muntaqilah al-Thalibiyah, 1377 HS, hlm. 19-31.
  26. Jafarian, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1378 HS, hlm. 239.
  27. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 195.
  28. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 19-20.
  29. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 195.
  30. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 20.
  31. Faqih-Imani, Tarikh-e Tasyayyu'-e Isfahan, 1374 HS, hlm. 123.
  32. Faqih-Imani, Tarikh-e Tasyayyu'-e Isfahan, 1374 HS, hlm. 123.
  33. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 195.
  34. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 25.
  35. Razi, Al-Naqd, 1358 HS, hlm. 371.
  36. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 195.
  37. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 259.
  38. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 25.
  39. Amin, A'yan al-Syiah, 1403 H, jld. 5, hlm. 213.
  40. Thabari, Kamil-e Baha'i, 1383 HS, hlm. 28.
  41. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 195.
  42. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 28.
  43. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 198.
  44. Khusrou-beigi dan Sadeqi-fard, "Barresi-ye Bonyan-ha-ye Masyrū'iyat-e Hukumat-e Alu Muzhaffar", hlm. 44.
  45. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 288.
  46. Syahmoradi dan Muntazharal-Qa'im, "Tasyayyu'-e Qara Qoyunlu-ha", hlm. 58.
  47. Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 289.
  48. Muwahhid Abtahi, Risyeh-ha wa Jelveh-ha-ye Tasyayyu', 1418 H, jld. 1, hlm. 402-404.
  49. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 29; Jafarian, Atlas al-Syiah, 1391 HS, hlm. 198.
  50. Mirahmadi, Din wa Mazhab dar Ashr-e Safavi, 1363 HS, hlm. 51.
  51. Jafarian, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1378 HS, hlm. 255.
  52. Jafarian, "Pisyineh-ye Tasyayyu' dar Isfahan", hlm. 29.
  53. Iskandar Beg Munshi, Tarikh-e Alam-ara-ye Abbasi, 1382 HS, hlm. 544.
  54. Chardin, Safarnamah, terjemahan Yaghma'i, jld. 4, hlm. 1390.
  55. Mu'ini, "Hawzah Ilmiyah Isfahan", hlm. 173.
  56. Farhani-Monfared, Hijrat-e Ulama-ye Syi'eh, 1388 HS, hlm. 166-167.
  57. Thabasi, Ulama-ye Jabal Amil wa Tatsbit-e Tasyayyu' dar Iran, 1395 HS, hlm. 118.
  58. Sayyid-Kabari, Hawzah-ha-ye Ilmiyah Syi'eh dar Gostareh-ye Jahan, 1378 HS, hlm. 460-462.
  59. Mahdavi, Mazarat-e Isfahan, 1382 HS, hlm. 16.
  60. Jafarian, Safaviyeh dar Arseh-ye Din, Farhang wa Siyasat, 1379 HS, jld. 1, hlm. 267.
  61. Jafarian, Safaviyeh dar Arseh-ye Din, Farhang wa Siyasat, 1379 HS, jld. 1, hlm. 269.
  62. Jafarian, Safaviyeh dar Arseh-ye Din, Farhang wa Siyasat, 1379 HS, jld. 1, hlm. 237-268.
  63. Mahdavi, Zendeginameh Allamah Majlisi, Husainiyah Imadzadeh, jld. 1, hlm. 311-317.
  64. Mahdavi, Isfahan Darul Ilm-e Syarq, 1386 HS, hlm. 45.
  65. Muwahhid Abtahi, Risyeh-ha wa Jelveh-ha-ye Tasyayyu', 1418 H, jld. 2, hlm. 105-283.
  66. Isfahani, Nishf-e Jahan, 1368 HS, hlm. 205-206.
  67. Isfahani, Nishf-e Jahan, 1368 HS, hlm. 257-259.
  68. Isfahani, Nishf-e Jahan, 1368 HS, hlm. 280-282.
  69. Curzon, Iran wa Qadhiyeh-ye Iran, 1380 HS, jld. 2, hlm. 51.
  70. Isfahani, Nishf-e Jahan, 1368 HS, hlm. 60.
  71. Muntazharal-Qa'im, "Degarguni-ha-ye Hawzah Ilmiyah Isfahan az 1135 Hijri takonun", hlm. 240.
  72. Sufi Niyaraki, "Ushul-e Andisyeh Siyasi Aqa Najafi...", hlm. 163.
  73. Mahdavi, Tarikh Elmi wa Ijtima'i Isfahan dar Do Qarn-e Akhir, 1367 HS, jld. 1, hlm. 440-446.
  74. Mahdavi, Tarikh Elmi wa Ijtima'i Isfahan dar Do Qarn-e Akhir, 1367 HS, jld. 2, hlm. 28-33.
  75. Mu'ini, "Hawzah Ilmiyah Isfahan", hlm. 194.
  76. Jafarian, "Ulama-ye Isfahan wa Melli-syodan-e San'at-e Naft-e Iran", Pemuda Timur, 15 Isfand 1384 HS.
  77. Muntazharal-Qa'im, "Degarguni-ha-ye Hawzah Ilmiyah Isfahan az 1135 Hijri takonun", hlm. 269.
  78. Faqih-Imani, Tarikh-e Tasyayyu'-e Isfahan, 1374 HS, hlm. 380-385.
  79. Mahdavi, Zendeginameh Allamah Majlisi, Husainiyah Imadzadeh, jld. 1, hlm. 28-29.
  80. Mahdavi, Lisan al-Ardh, 1370 HS, hlm. 24-112.
  81. Nasr, "Az Maktab-e Isfahan ta Maktab-e Tehran".

Daftar Pustaka

  • Abadhari, Abdurrahim. Ayatullah Burujirdi Ayat-e Ikhlas. Teheran, 1383 HS.
  • Abtahi, Sayid Alireza; Kashti-ara, Kimia. "Waka-yi Seir-e Tahavvolat-e Enqelab-e Islami dar Syahr-e Isfahan...". Jurnal Tarikh-nameh, No. 40, 1394 HS.
  • Asytiani, Sayid Jalaluddin. "Syawareq al-Ilham wa Ashalat-e Wujud...". Jurnal Waqf Miras-e Javidan, No. 2, 1372 HS.
  • Baqeri Siyani, Mehdi. "Muhadditsan-e Isfahani dar Kutub-e Imamiyah". Koleksi Artikel Seminar Pisyineh Tasyayyu' dar Isfahan, 1390 HS.
  • Curzon, George Nathaniel. Iran wa Qadhiyeh-ye Iran. Teheran, 1380 HS.
  • Isfahani, Muhammad Mehdi. Nishf-e Jahan fi Ta'rif al-Isfahan. Teheran, 1368 HS.
  • Jafarian, Rasul. Atlas al-Syiah. Teheran, 1391 HS.
  • Jafarian, Rasul. Safaviyeh dar Arseh-ye Din, Farhang wa Siyasat. Qom, 1379 HS.
  • Mahdavi, Sayid Muslihuddin. Isfahan Darul Ilm-e Syarq. Isfahan, 1386 HS.
  • Mahdavi, Sayid Muslihuddin. Lisan al-Ardh ya Tarikh-e Takht-e Foulad. Isfahan, 1370 HS.
  • Mu'ini, Mohsen. "Hawzah Ilmiyah Isfahan". Dalam buku Hawzah Ilmiyah: Tarikh, Sakhtar, Karkard, Teheran, 1394 HS.
  • Muwahhid Abtahi, Mir Sayid Hujjat. Risyeh-ha wa Jelveh-ha-ye Tasyayyu' wa Hawzah Ilmiyah Isfahan. Isfahan, 1418 H.

```