Konsep:Ghazwah Dhat al-Riqa'
Templat:Kotak info perang Ghazwah Dhat al-Riqa' adalah salah satu Ghazwah Nabi saw dengan Kaum Musyrik pada tahun keempat Hijriah. Nabi saw ketika mendapat kabar bahwa kabilah Bani Anmar dan Bani Tsa'labah berencana menyerang Kaum Muslimin, beliau bergerak menuju musuh bersama sejumlah kaum Muslimin. Dengan sampainya kaum Muslimin di wilayah perang, para musuh melarikan diri ke atas gunung karena takut, dan tanpa terjadi peperangan, harta rampasan jatuh ke tangan kaum Muslimin dan mereka pun kembali ke Madinah.
Berdasarkan laporan sumber-sumber sejarah, dalam Ghazwah ini mengalir banjir dan memisahkan antara Nabi saw dan para sahabatnya. Pada saat ini, salah seorang musyrik berniat membunuh Nabi saw namun ia gagal karena mukjizat ilahi.
Kepopuleran Ghazwah ini dengan nama Dhat al-Riqa' adalah karena terjadinya di samping gunung dengan puncak-puncak berwarna merah, hitam, dan putih. Ghazwah ini juga dinamai dengan nama-nama Ghazwah A'ajib, Ghazwah Muharib, dan Bani Tsa'labah serta Bani Anmar dalam sumber-sumber sejarah.
Kisah Perang
Ghazwah Dhat al-Riqa' terjadi pada tahun 4 Hijriah untuk menghadapi Kaum Musyrik dari kabilah Bani Anmar dan Bani Sa'ad yang berencana menyerang kaum Muslimin.
Berdasarkan laporan-laporan sejarah, seseorang yang pergi dari daerah Najd ke Madinah untuk menjual barang dagangannya, melihat sekelompok orang dari Bani Anmar dan Bani Sa'ad yang mengumpulkan orang-orang untuk melawan kaum Muslimin dan berencana menyerang mereka, sementara kaum Muslimin tidak mengetahui pergerakan musuh ini.[1] Ketika berita ini sampai kepada Nabi saw, beliau menunjuk Utsman[2] dan menurut satu riwayat Abu Dzar sebagai penggantinya di Madinah[3] dan keluar dari Madinah untuk berperang bersama 400 orang, dan menurut satu pendapat 700 atau 800 orang dari kalangan sahabat.[4] Ketika pasukan Islam sampai di lokasi musuh, mereka tidak melihat seorang pun; karena kaum musyrik telah melarikan diri ke atas gunung[5] dan mengawasi pasukan Islam dari sana.[6] Kaum Muslimin yang merasa khawatir akan serangan mendadak kaum musyrik[7] melakukan Salat Khauf bersama Nabi saw pada waktu salat.[8] Dalam Ghazwah ini, Nabi saw kembali ke Madinah setelah 15 hari[9] dengan membawa harta rampasan[10] tanpa melakukan pertempuran.[11]
Waktu Ghazwah
Para sejarawan berbeda pendapat mengenai waktu terjadinya Ghazwah ini.[12] Waqidi menyebutkan waktu Ghazwah ini pada bulan Muharram tahun keempat,[13] Baladzuri pada bulan Muharram tahun kelima,[14] Halabi pada bulan Rabi'ul Awwal setelah Ghazwah Bani Nadhir,[15] dan Diyar Bakri menyebutkannya setelah Ghazwah Badr Shughra.[16]
Penyelamatan Mukjizat Nabi
Dalam Ghazwah ini, mengalirnya banjir memisahkan antara Nabi saw dan para sahabatnya. Salah seorang musyrik melihat beliau saw dari jauh dan berkata: "Aku sekarang akan membunuh Muhammad." Dengan pedang di tangan ia mendatangi Nabi saw dan berkata: "Wahai Muhammad! Sekarang siapa yang akan menyelamatkanmu dari tanganku?" Beliau saw bersabda: "Celakalah engkau, Allah akan menyelamatkanku." Pada saat itu tiba-tiba penyerang itu jatuh tersungkur dan Nabi saw mengambil pedangnya darinya lalu duduk di atas dadanya dan bersabda: "Sekarang siapa yang akan menyelamatkanmu dari tanganku?" Ia berkata: "Kemuliaan dan Kedermawanan Anda." Nabi saw pun bangkit dari dadanya dan pria itu berkata: "Demi Allah, Engkau lebih baik dan lebih mulia dariku."[17]
Penamaan
Ghazwah Dhat al-Riqa' disebutkan dalam sumber sejarah dengan nama-nama lain seperti Ghazwah A'ajib,[18] Ghazwah Muharib,[19] Ghazwah Bani Tsa'labah[20] dan Ghazwah Bani Anmar.[21]
Para sejarawan menyampaikan beberapa pendapat mengenai penamaan Ghazwah ini dengan Dhat al-Riqa':
- Lokasi Ghazwah ini berada di samping gunung yang memiliki puncak-puncak berwarna merah, hitam, dan putih.[22]
- Terluka kaki para prajurit Islam akibat sengatan dan panasnya bumi sehingga mereka terpaksa membalut kaki mereka dengan kain perca (Riqa' adalah bentuk jamak dari Ruq'ah yang berarti kain dan perca).[23]
- Dalam Ghazwah ini dilakukan Salat Khauf.[24]
- Penggunaan kuda-kuda berwarna hitam dan putih dalam Ghazwah ini.[25]
Catatan Kaki
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 395; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1409 H, jld. 2, hlm. 246.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 402; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 340.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, jld. 4, hlm. 83.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 395; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1409 H, jld. 2, hlm. 246.
- ↑ Ansab al-Asyraf, Baladzuri, jld. 1, hlm. 340; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1418 H, jld. 2, hlm. 47.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 396; Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 1, hlm. 197.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 396.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 396; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 2, hlm. 556.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 395; Baihaqi, Dala'il al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 3, hlm. 371.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 340 dan hlm. 515.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, jld. 4, hlm. 83.
- ↑ Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabawi al-A'zham saw, 1427 H, jld. 9, hlm. 319.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 395.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 340.
- ↑ Halabi, Al-Sirah al-Halabiyyah, 1427 H, jld. 2, hlm. 366.
- ↑ Diyar Bakri, Tarikh al-Khamis, Beirut, jld. 1, hlm. 463.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 8, hlm. 127; Thabrasi, I'lam al-Wara, 1417 H, jld. 1, hlm. 189.
- ↑ Halabi, Al-Sirah al-Halabiyyah, 1427 H, jld. 2, hlm. 377.
- ↑ Baihaqi, Dala'il al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 3, hlm. 369.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1363 HS, jld. 17, hlm. 401.
- ↑ Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabawi al-A'zham saw, 1427 H, jld. 9, hlm. 319.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 359; Thabrasi, I'lam al-Wara, 1417 H, jld. 1, hlm. 189.
- ↑ Thabrasi, I'lam al-Wara, 1417 H, jld. 1, hlm. 189; Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 1, hlm. 196; Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabawi al-A'zham saw, 1427 H, jld. 9, hlm. 319.
- ↑ Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabawi al-A'zham saw, 1427 H, jld. 9, hlm. 319.
- ↑ Tamimi, Al-Sirah al-Nabawiyyah wa Akhbar al-Khulafa, Abu Hatim al-Tamimi, 1417 H, jld. 1, hlm. 249.
Daftar Pustaka
- Al-Asykari, Sayyid Murtadha. Al-Shahih min Sirah al-Nabawi al-A'zham saw. Beirut, Penerbit Al-Markaz al-Islami li al-Dirasat, cetakan kelima, 1427 H.
- Al-Baihaqi, Abu Bakar. Dala'il al-Nubuwwah. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1405 H.
- Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1417 H.
- Al-Dzahabi, Syamsuddin. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Beirut, Penerbit Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H.
- Al-Halabi, Abu al-Faraj. Al-Sirah al-Halabiyyah. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan kedua, 1427 H.
- Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
- Al-Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athar. Beirut, Penerbit Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Al-Maqrizi, Taqiuddin Ahmad bin Ali. Imta' al-Asma'. Riset: Muhammad Abdul Hamid. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1420 H.
- Al-Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut, Penerbit Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H.
- Al-Thabrasi, Fadhl bin Hasan. I'lam al-Wara bi A'lam al-Huda. Qom, Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1417 H.
- Al-Tamimi, Abu Hatim. Al-Sirah al-Nabawiyyah wa Akhbar al-Khulafa. Beirut, Penerbit Al-Kutub al-Tsaqafiyyah, cetakan ketiga, 1417 H.
- Al-Waqidi, Muhammad bin Umar. Al-Maghazi. Beirut, Penerbit A'lami, cetakan ketiga, 1409 H.
- Diyar Bakri, Syekh Husain. Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfas al-Nafis. Beirut, Penerbit Dar al-Sadir, tanpa tahun.
- Ibnu Katsir, Hafizh Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Ibnu Sa'ad, Muhammad. Al-Thabaqat al-Kubra. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan kedua, 1418 H.