Konsep:Ayat 76 Surah An-Nisa
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Surah An-Nisa |
| Ayat | 76 |
| Juz | 5 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Jihad di jalan Allah |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 74 dan 75 Surah An-Nisa |
Ayat 76 Surah An-Nisa (bahasa Arab:آیة ۷۶ سورة النساء) menyatakan bahwa orang-orang mukmin berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang Kafir berperang di jalan Taghut.[1] Menurut ayat ini, musuh-musuh orang mukmin meminta bantuan dari kekuatan setan dan iblis[2] serta tidak memiliki pelindung dan pendukung selain Setan.[3] Di akhir ayat ini, Allah berfirman, "Perangilah kawan-kawan setan itu," karena tipu daya setan itu lemah.[4]
"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut. Karena itu, perangilah kawan-kawan (sekutu) setan itu. Sungguh, tipu daya setan itu lemah." (QS. An-Nisa: 76)
Dalam ayat ini, Allah mendorong kaum Muslimin untuk berjihad di jalan-Nya.[5] Menurut Allamah Thabathaba'i, ayat ini membandingkan cara berperang orang-orang mukmin dan orang-orang kafir untuk memperjelas kemuliaan dan keunggulan gaya hidup orang-orang mukmin di atas orang-orang kafir.[6]
Sebagian mufasir menyebutkan alasan keunggulan orang-orang mukmin atas kaum taghut adalah bahwa orang-orang mukmin melangkah di jalur tujuan-tujuan seperti membebaskan manusia dan memusnahkan kezaliman yang selaras dengan hukum penciptaan.[7] Selain itu, dengan bersandar pada kekuatan spiritual, orang-orang mukmin menemukan ketenangan yang memudahkan kemenangan mereka; namun kaum taghut melangkah di jalur penjajahan, ekspansi wilayah, balas dendam, syahwat, dan perusakan masyarakat, serta tidak memiliki sandaran yang kokoh.[8]
Thabarsi (W. tahun 548 H) dalam Tafsir Jawami' al-Jami' mengatakan bahwa penggunaan kata "kana" di akhir ayat setelah kata "inna" adalah untuk menjelaskan poin bahwa kelemahan para pengikut setan di hadapan orang-orang mukmin merupakan hal yang tetap dan berlaku untuk semua keadaan dan zaman.[9]
Ja'far Kasyif al-Ghita (W. tahun 1228 H) menganggap ayat ini, bersama dengan ayat 74 dan 75 Surah An-Nisa, sebagai ayat-ayat yang menunjukkan kewajiban jihad.[10] Kasyif al-Ghita meyakini bahwa ayat-ayat ini menunjukkan bahwa jihad termasuk hal-hal yang urgen dalam agama.[11]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 11.
- ↑ Rezaei Isfahani, Tafsir-e Qur'an-e Mehr, 1387 HS, jld. 4, hlm. 206.
- ↑ Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 1, hlm. 271.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 11.
- ↑ Faizh Kasyani, Tafsir al-Shafi, jld. 1, hlm. 471.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 4, hlm. 420.
- ↑ Rezaei Isfahani, Tafsir-e Qur'an-e Mehr, 1387 HS, jld. 4, hlm. 206.
- ↑ Rezaei Isfahani, Tafsir-e Qur'an-e Mehr, 1387 HS, jld. 4, hlm. 206; Qara'ati, Tafsir-e Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 108.
- ↑ Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 1, hlm. 271.
- ↑ Kasyif al-Ghita, Kasyf al-Ghitha, Maktab al-I'lam al-Islami, jld. 4, hlm. 294.
- ↑ Kasyif al-Ghita, Kasyf al-Ghitha, Maktab al-I'lam al-Islami, jld. 4, hlm. 294.
Daftar Pustaka
- Faizh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Tafsir al-Shafi. Teheran, Maktabah al-Shadr, 1373 HS/1415 H.
- Kasyif al-Ghita, Ja'far. Kasyf al-Ghitha 'an Mubhamat al-Syari'ah al-Gharra. Teheran, Maktab al-I'lam al-Islami, t.t.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
- Qara'ati, Muhsin. Tafsir-e Nur. Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Dars-hai az Qur'an, 1388 HS.
- Rezaei Isfahani, Muhammad Ali. Tafsir-e Qur'an-e Mehr. Qom, Markaz-e Pajuhesy-haye Tafsir va Ulum-e Qur'an, 1387 HS.
- Thabathaba'i, Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1352 HS/1393 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Jawami' al-Jami'. Qom, Hauzah Ilmiah Qom, 1412 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.