Konsep:Ayat 65 Surah Al-Anfal
Templat:Infobox Ayat Ayat 65 Surah Al-Anfal memerintahkan Nabi (saw) untuk memotivasi orang-orang mukmin agar berjihad melawan kaum musyrikin dan orang-orang kafir.[1] Dalam ayat ini disebutkan bahwa dengan kesabaran dan keteguhan kaum muslimin, mereka akan mampu menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak.[2]
Menurut ulama Syiah, ayat 65 Surah Al-Anfal meskipun secara lahiriah berupa berita (informatif); namun berdasarkan qarinah ayat 66 (yang mewajibkan perlawanan terhadap dua orang), memiliki makna perintah dan berdasarkan hal itu, kaum muslimin wajib bertahan melawan sepuluh orang.[3]
Menurut sebagian sumber tafsir, ayat 65 Surah Al-Anfal turun sebelum Perang Badar.[4] Sebagian mufasir menganggap kemenangan kaum muslimin disebabkan oleh Iman mereka kepada Allah.[5] Menurut keyakinan mereka, seorang muslim dengan keyakinan akan pahala ukhrawi dalam kondisi kemenangan atau kesyahidan, akan berperang dengan keberanian yang lebih besar.[6] Sebaliknya, orang-orang kafir, tidak memiliki iman[7] dan kesadaran akan kekuatan spiritual iman, kesabaran dan kerinduan terhadap surga[8] dan lebih bersandar pada sarana duniawi dan hawa nafsu;[9] oleh karena itu mereka tidak bertahan hingga titik darah penghabisan.[10]
Menurut Muhammad Taqi Mudarrisi, mufasir Syiah, Allah dalam ayat ini menjadikan 20 orang setara dengan 200 orang, bukan berarti setiap orang setara dengan sepuluh orang; karena menurut keyakinannya, di antara 20 orang mukmin terdapat semacam persatuan dan kerja sama khusus yang memberikan kekuatan kepada mereka, sedangkan kekuatan semacam itu tidak ada di antara 200 orang kafir.[11] Selain itu, sebagian mufasir Syiah meyakini bahwa sebelum perang, para pejuang harus disiapkan dengan dorongan dan pahala-pahala spiritual jihad agar mereka berjihad dengan semangat yang lebih tinggi.[12]
Ayat 65 Surah Al-Anfal dijadikan sandaran dalam berbagai kasus dari ilmu fikih. Sebagian fukaha Syiah, dengan bersandar pada ayat ini, menganggap Jihad adalah Wajib.[13] Juga dikatakan bahwa kesabaran dan keteguhan dalam perang adalah wajib.[14] Menurut Syeikh Thusi,[15] pada masa awal Islam, wajib bagi setiap muslim untuk berperang melawan sepuluh orang musuh. Sebagian ulama Syiah seperti Ali bin Ibrahim[16] dan Muhammad Taqi Syusytari[17] juga berdasarkan ayat ini, menganggap tidak berperang dan melarikan diri di hadapan sepuluh orang kafir sebagai bagian dari misdak (contoh) Lari dari perang dan termasuk dosa-dosa besar.[18]
Syeikh Thusi dan Muhammad Taqi Syusytari meyakini bahwa Ayat 66 Surah Al-Anfal telah menasakh ayat 65 Surah Al-Anfal dan berdasarkan hal itu, kaum muslimin wajib bertahan melawan dua orang dari musuh.[19]
Catatan Kaki
- ↑ Syeikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, jld. 5, hlm. 153.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 236.
- ↑ Syeikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, jld. 5, hlm. 153; Allamah Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 14, hlm. 78.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 122.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 122.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 122.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 123.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 4, hlm. 94.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 123.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 123.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 4, hlm. 93.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 236; Ridha'i, Tafsir-e Qur'an-e Mehr, 1387 HS, jld. 8, hlm. 119.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 21, hlm. 8; Fadhil Kazhimi, Masalik al-Afham, Murtadhavi, jld. 2, hlm. 330; Khui, Minhaj al-Shalihin, 1410 H, jld. 1, hlm. 360 dan 370; Tabrizi, Minhaj al-Shalihin, 1426 H, jld. 1, hlm. 369.
- ↑ Syeikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, jld. 5, hlm. 153; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 856; Jawadi Amuli, "Tafsir Surah Al-Anfal Sesi 77", Portal Isra.
- ↑ Syeikh Thusi, Al-Mabsuth, 1387 H, jld. 2, hlm. 10.
- ↑ Qumi, Tafsir al-Qummi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 279.
- ↑ Syusytari, Al-Nuj'ah fi Syarh al-Lum'ah, 1406 H, jld. 6, hlm. 165.
- ↑ Syeikh Thusi, Al-Mabsuth, 1387 H, jld. 2, hlm. 10.
- ↑ Syeikh Thusi, Al-Tibyan, jld. 5, hlm. 154; Syusytari, Al-Nuj'ah fi Syarh al-Lum'ah, 1406 H, jld. 6, hlm. 165.
Daftar Pustaka
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Muntaha al-Mathlab fi Tahqiq al-Madzhab. Tahqiq: Bakhsy-e Feqh dar Jame'eh Pazhuhesy-haye Eslami. Masyhad, Majma' al-Buhuts al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1412 H.
- Fadhil Kazhimi, Jawad bin Sa'ad. Masalik al-Afham ila Ayat al-Ahkam. Penerbit Murtadhavi, Tanpa Tempat, Tanpa Tahun.
- Hairi Thabathaba'i, Sayid Ali. Riyadh al-Masail fi Tahqiq al-Ahkam bi al-Dalail. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as), Cetakan pertama, Tanpa Tahun.
- Jawadi Amuli, Abdullah. "Tafsir Surah Al-Anfal Sesi 77", Portal Isra, Tanggal posting: 25 Khurdad 1379 HS, Tanggal kunjungan: 25 Dey 1404 HS.
- Khui, Sayid Abul Qasim Musawi. Minhaj al-Shalihin. Qom, Madinah al-'Ilm, 1410 H.
- Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1374 HS.
- Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, Cetakan pertama, 1419 H.
- Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarai' al-Islam. Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, Beirut, Cetakan ketujuh, 1404 H.
- Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Tahqiq: Thayib Musavi Jazayiri. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan ketiga, 1363 HS.
- Ridha'i Isfahani, Muhammad Ali. Tafsir-e Qur'an-e Mehr. Qom, Pazhuhesy-haye Tafsir va Olum-e Qur'an, 1387 HS.
- Sabzewari, Sayid Abdul A'la. Muhadzdzab al-Ahkam fi Bayan al-Halal wa al-Haram. Tahqiq: Muassasah al-Manar. Qom, Muassasah al-Manar, Cetakan keempat, 1413 H.
- Syusytari, Muhammad Taqi. Al-Nuj'ah fi Syarh al-Lum'ah. Teheran, Kitabfurusyi Shaduq, Cetakan pertama, 1406 H.
- Syeikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyah. Tahqiq: Sayid Muhammad Taqi Kasyfi. Teheran, Al-Maktabah al-Murtadhawiyah li-Ihya al-Atsar al-Ja'fariyah, Cetakan ketiga, 1387 H.
- Syeikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Tahqiq: Ahmad Qashir Amili. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, Cetakan pertama, Tanpa Tahun.
- Tabrizi, Jawad. Minhaj al-Shalihin. Qom, Majma' al-Imam al-Mahdi (as), Cetakan pertama, 1426 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Intisharat-e Eslami, Cetakan kelima, 1417 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tahqiq: Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Nashir Khusro, Cetakan ketiga, 1372 HS.