Lompat ke isi

Konsep:Ayat 30 Surah Fussilat

Dari wikishia
Ayat 30 Surah Fussilat
Informasi Ayat
NamaAyat Istiqamah atas Iman
SurahFussilat
Ayat30
Juz24
Informasi Konten
Tempat
Turun
Mekkah
TentangMasa depan yang baik bagi orang-orang mukmin yang teguh dalam iman
DeskripsiIndikator istiqamah di atas Iman
Ayat-ayat terkaitAyat 13 Surah Al-Ahqaf


Ayat 30 Surah Fussilat atau Ayat Istiqamah mengabarkan tentang masa depan baik yang menanti para orang mukmin yang teguh, dan para malaikat memberikan ketenangan kepada mereka dengan dua berita gembira; pertama, ketiadaan rasa sedih dan duka terhadap masa depan, dan kedua, masuk ke dalam Surga. Ayat ini diturunkan sebagai kebalikan dari ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang buruknya keadaan kaum kafir di Akhirat.

Karakteristik orang-orang mukmin yang teguh dalam Iman menurut pandangan para mufasir adalah perkara-perkara seperti: keselarasan perilaku dengan kesaksian atas Rububiyah dan keesaan Allah, tidak menyimpang dari Shirathal Mustaqim, menunaikan kewajiban Ilahi, beribadah kepada Tuhan, dan menjauhi hawa nafsu. Sebagai kebalikan dari mukmin yang teguh, dibicarakan tentang orang-orang yang lemah imannya yang kehilangan iman mereka saat kepentingan mereka terancam dan mendekat pada Syirik.

Dalam tafsir-tafsir riwayi Syiah, wilayah Ahlulbait as dan keteguhan di jalannya dianggap sebagai simbol istiqamah di atas iman. Juga dalam riwayat-riwayat ini, dengan bersandar pada ayat 30 Surah Fussilat, dibicarakan tentang turunnya malaikat kepada para Imam Syiah as. Menurut para mufasir, berita gembira tentang ketiadaan duka dan sedih bagi orang mukmin sejati adalah karena pengampunan dosa-dosa yang mereka lakukan karena lalai, atau karena ketertinggalan mereka dalam melakukan amal kebajikan akibat keteledoran.

Poin-poin Umum

Ayat 30 Surah Fussilat berbicara tentang turunnya para malaikat kepada orang-orang mukmin yang teguh dan bahwa kepada mereka diberikan dua berita gembira; pertama, ketiadaan rasa sedih dan takut akan azab akhirat, dan kedua, masuk ke dalam surga yang dijanjikan.[1] Mohammad Sadeqi Tehrani dalam Tafsir al-Furqan, menyebut ayat 30 Fussilat dan Ayat 13 Surah Al-Ahqaf dengan nama Ayat Istiqamah.[2]

Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya dengan berkata: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang betul, akan turunlah malaikat kepada mereka dari semasa ke semasa (dengan memberi ilham): "Janganlah kamu bimbang (dari berlakunya kejadian yang tidak baik terhadap kamu) dan janganlah kamu berdukacita, dan terimalah berita gembira bahawa kamu akan beroleh syurga yang telah dijanjikan kepada kamu.


Berdasarkan apa yang tercantum dalam tafsir-tafsir Syiah di bawah ayat ini, manusia di bawah naungan Iman dan istiqamah dapat mencapai kedudukan di mana malaikat-malaikat Ilahi turun kepadanya[3] dan memberi kabar gembira kepada mereka bahwa Allah rida atas amal mereka dan telah menyiapkan tempat yang membanggakan bagi mereka.[4] Dalam Tafsir al-Mizan dan Tafsir Majma' al-Bayan diisyaratkan pada poin ini bahwa turunnya malaikat dan pemberian kabar gembira oleh mereka kepada orang mukmin tidak terjadi dalam kehidupan dunia,[5] melainkan akan terjadi saat maut, saat keluar dari alam kubur, atau saat Kiamat.[6] Tentu saja, menurut apa yang ada dalam Tafsir Nemuneh, isyarat turunnya malaikat pada saat kematian kepada orang mukmin dalam riwayat dan tafsir adalah sebagai salah satu misdaq yang jelas dari konsep luas ini, sementara berdasarkan ayat-ayat lain, malaikat tidak hanya turun setelah kehidupan duniawi, melainkan secara permanen di dunia ini pun turun kepada orang-orang mukmin dan memberikan mereka ketenangan serta keteguhan langkah, bukan dengan lisan dan kata-kata melainkan dengan berita-berita gembira yang mereka dengar dengan telinga jiwa.[7]

Dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain dinukil sebuah riwayat bahwa seseorang bernama Humran bin A'yan bertanya kepada Imam Muhammad al-Baqir as bahwa ia mendengar para malaikat turun kepada kalian (para Imam as), apakah berita tersebut benar? Beliau kemudian membenarkan berita tersebut dengan membacakan ayat 30 Surah Fussilat.[8]

Metode Al-Qur'an dalam Menjelaskan Kedudukan Mukmin dan Kafir

Menurut Allamah Thabathabai, ayat 30 Surah Fussilat bersama ayat berikutnya mengabarkan tentang masa depan baik yang menanti para mukmin yang teguh. Ia menganggap ayat-ayat ini sebagai kebalikan dari ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang buruknya keadaan kaum kafir di Akhirat.[9] Nashir Makarim Syirazi, mufasir Syiah, juga meyakini bahwa metode Al-Qur'an untuk menjelaskan materi dengan lebih baik adalah dengan meletakkan perkara-perkara kontradiktif secara berhadapan dan membandingkannya satu sama lain; karena alasan itulah sebelum menjelaskan masa depan cerah kaum mukmin yang teguh dan nikmat-nikmat tujuh lapis yang telah Allah siapkan bagi mereka dalam ayat 30 hingga 32 Surah Fussilat, Al-Qur'an terlebih dahulu menggambarkan kondisi orang-orang yang karena keras kepala di atas kekufuran mereka, akan tertimpa berbagai macam azab.[10]

Istiqamah dalam Iman

Templat:Kotak kutipan

Menurut para mufasir, karakteristik terpenting orang-orang mukmin yang ditekankan oleh ayat 30 Surah Fussilat adalah komitmen mereka atas ucapan yang telah mereka katakan, yaitu pengakuan atas keesaan dan rububiyah "Allah".[11] Mereka menganggap ketiadaan penyimpangan dari jalan lurus yang menuju kepada Tuhan Yang Esa[12] dan keselarasan antara ucapan serta perbuatan sebagai konsekuensi dari iman yang teguh.[13]

Thabarsi menukil dari Ibnu Abbas dan beberapa Tabiin bahwa istiqamah dalam iman adalah menunaikan kewajiban Ilahi dan beribadah kepada Tuhan.[14] Menurut keyakinan Sadeqi Tehrani, istiqamah dalam iman berarti bergerak di atas Shirathal Mustaqim berdasarkan ilmu, iman, dan amal saleh.[15] Nashir Makarim Syirazi juga menganggap penggalan "Inna alladzina qalu rabbuna Allah tsumma istaqamu" dalam ayat ini mencakup seluruh kebaikan dan sifat-sifat unggul; karena pertama-tama berbicara tentang menambatkan hati kepada Allah, kemudian iman yang kokoh kepada-Nya, dan pada akhirnya menjadikan iman sebagai poros dalam seluruh kehidupan.[16]

Berhadapan dengan mukmin yang teguh dalam iman, di bawah ayat ini dibicarakan tentang orang-orang yang lemah imannya yang berbicara tentang cinta kepada Tuhan, namun ketika berhadapan dengan hawa nafsu atau saat kepentingan mereka terancam, mereka kehilangan imannya dan dalam perbuatannya menjadi musyrik;[17] sebagaimana dalam sebuah riwayat dari Nabi Islam saw disebutkan bahwa beliau membacakan ayat ini kemudian bersabda: "Sekelompok orang mengatakan ucapan ini; namun banyak dari mereka yang menjadi kafir."[18]

Wilayah Ahlulbait as Simbol Istiqamah dalam Iman

Dalam tafsir-tafsir Syiah diisyaratkan pada beberapa riwayat di bawah ayat 30 Surah Fussilat yang menafsirkan istiqamah dalam iman sebagai keteguhan di atas wilayah Ahlulbait as.[19] Ali bin Ibrahim al-Qumi dalam tafsirnya, dengan bersandarkan pada riwayat-riwayat, menafsirkan istiqamah di atas iman sebagai istiqamah di atas wilayah Amirul Mukminin Ali as.[20] Juga kokohnya para Syiah di atas wilayah Ahlulbait as sebagai simbol istiqamah dalam iman merupakan kandungan dari dua riwayat yang dinukil dalam Tafsir Majma' al-Bayan dari Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan dari Imam Ridha as[21] dan dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain dari Abi Bashir dari Imam Muhammad al-Baqir as.[22] Majlisi juga dalam kitab Mir'at al-'Uqul saat menyyarah sebuah riwayat dari Imam Shadiq as di bawah ayat ini, menafsirkan penggalan "Istaqamu 'ala al-aimmati wahidan ba'da wahidin" (mereka istiqamah di atas para imam as satu demi satu)[23] dalam riwayat tersebut sebagai keteguhan di atas keyakinan pada wilayah seluruh para Imam as.[24]

Keamanan Mukmin dari Rasa Takut dan Duka serta Masuknya Mereka ke Surga

Berita gembira pertama para malaikat kepada mukmin yang teguh dalam iman adalah keamanan dari rasa takut dan duka. Menurut para mufasir, orang-orang mukmin mungkin saja karena dosa-dosa yang mereka lakukan akibat lalai atau amal-amal baik yang mereka tinggalkan karena keteledoran, mengalami ketakutan akan azab Ilahi dan kedukaan karena terhalang dari Surga; karena alasan itulah para malaikat menghibur mereka bahwa mereka aman dari rasa takut dan duka tersebut; karena dosa-dosa mereka akan diampuni dan azab akan diangkat dari mereka. Nikmat kedua Allah bagi mukmin sejati yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah berita gembira masuk ke dalam surga.[25]

Catatan Kaki

  1. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 17, hal. 389; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 20, hal. 272.
  2. Sadeqi Tehrani, al-Furqan, 1406 H, jld. 26, hal. 72.
  3. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 20, hal. 272.
  4. Mughniyah, al-Kasyif, 1424 H, jld. 6, hal. 491.
  5. Thabathabai, al-Mizan, 1390 H, jld. 17, hal. 390.
  6. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 9, hal. 21.
  7. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 20, hal. 273-274.
  8. Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 4, hal. 545.
  9. Thabathabai, al-Mizan, 1390 HS, jld. 17, hal. 389.
  10. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 20, hal. 269-270.
  11. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 9, hal. 20; Thabathabai, al-Mizan, 1390 H, jld. 17, hal. 389.
  12. Thabathabai, al-Mizan, 1390 H, jld. 17, hal. 380.
  13. Mughniyah, al-Kasyif, 1424 H, jld. 6, hal. 490; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 20, hal. 270.
  14. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 9, hal. 20.
  15. Sadeqi Tehrani, al-Furqan, 1406 H, jld. 26, hal. 73.
  16. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 20, hal. 270.
  17. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 20, hal. 270.
  18. Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 4, hal. 547.
  19. Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 4, hal. 546-547.
  20. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hal. 265.
  21. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 9, hal. 21.
  22. Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 4, hal. 547.
  23. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hal. 420.
  24. Majlisi, Mir'at al-'Uqul, 1404 H, jld. 5, hal. 44.
  25. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 9, hal. 21; Thabathabai, al-Mizan, 1390 H, jld. 17, hal. 389-390.

Daftar Pustaka

  • Huwaizi, Abd Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Koreksi: Sayid Hashem Rasuli Mahallati. Qom, Penerbit Isma'iliyan, 1415 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'at al-'Uqul fi Syarh Akhbar Alu al-Rasul. Koreksi: Sayid Hashem Rasuli Mahallati. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1404 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. al-Kasyif fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Koreksi: Thayyib Musawi Jazairi. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Sadeqi Tehrani, Mohammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Penerbit Farhang-e Eslami, 1406 H.
  • Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah (versi Subhi Shalih). Qom, Penerbit Hijrat, Cetakan Pertama, 1414 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1415 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390 H.